Showing posts with label Guru Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Guru Mengajar. Show all posts

Menjelang PTM : Kemendikbud Serahkan ke Pemda Siapa Saja Guru Yang Boleh Mengajar Tatap Muka di Sekolah


Menjelang PTM : Kemendikbud Serahkan ke Pemda Siapa Saja Guru Yang Boleh Mengajar Tatap Muka di Sekolah.

BlogPendidikan.net
- Menjelang PTM : Kemendikbud Serahkan ke Pemda Siapa Saja Guru Yang Boleh Mengajar Tatap Muka di Sekolah.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menyerahkan kepada pemerintah daerah untuk mengatur siapa saja guru yang dapat mengajar pada pembelajaran tatap muka terbatas.

Hal ini menyusul permintaan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar semua guru divaksin sebelum sekolah tatap muka. Hal ini menyusul permintaan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar semua guru divaksin sebelum sekolah tatap muka.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Dasar, dan Menengah (Sesditjen Pauddasmen) Kemendikbud Sutanto mengatakan pihaknya tidak bisa mengatur secara langsung apakah guru yang belum divaksin tetap dapat mengajar atau tidak.

"Tentunya nanti itu kebijakan Pemda, bukan dari Kemendikbud. Itu yang akan memutuskan satuan pendidikan boleh tatap muka atau tidak itu adalah setelah dievaluasi pemda dan Satgas Covid daerah," ujar Sutanto di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (10/6).

Sutanto mengatakan pihaknya tetap berharap seluruh guru dan tenaga pendidik sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19 sebelum Juli 2021. Namun, kecepatan vaksinasi kepada guru-guru tergantung pihak Kementerian Kesehatan dan pemerintah daerah masing-masing.

"Karena guru itu kan pegawainya pemda, nanti kecepatan pemda untuk melakukan vaksin ke guru," tuturnya.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sebelumnya menegaskan pelaksanaan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah yang dijadwalkan pada Juli 2021 harus didahului penyuntikan vaksin terhadap seluruh guru dan tenaga pendidik.

Menurutnya itu penting guna meminimalisasi potensi penularan virus corona di lingkungan sekolah. Budi mengatakan Presiden Joko Widodo telah meminta agar pembukaan sekolah mesti diiringi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Sekolah hanya boleh mengadakan pembelajaran tatap muka dengan maksimal kehadiran siswa sebanyak 25 persen dari kapasitas maksimal. Sementara itu, vaksinasi guru dan tenaga kependidikan yang ditetapkan Kemendikbud Ristek molor dari target.

Mulanya, Mendikbud Ristek Nadiem Makarim menargetkan vaksinasi guru rampung pada pekan kedua Juni hingga jenjang pendidikan tinggi. Namun kini Nadiem menetapkan vaksinasi paling telat selesai Agustus 2021.

8 Kesalahan Yang Dilakukan Guru Saat Mengajar Tanpa Disadari

8 Kesalahan Yang Dilakukan Guru Saat Mengajar Tanpa Disadari

BlogPendidikan.net
- Sejatinya, kegagalan teman-teman pendidik dalam melatih di kelas diakibatkan karena kekeliruan mendasar yang tidak disadari, bahkan masih tidak sedikit diantara anda yang memandang urusan yang telah dilaksanakan adalah sesuatu yang biasa. Padahal sekecil apapun kekeliruan yang dilaksanakan oleh teman-teman pendidik, terutama dalam pembelajaran, akan dominan  negatif terhadap pertumbuhan peserta didik. Setuju?

Teman-teman pendidik mesti dapat mengendalikan diri dan mengetahui kondisi supaya terhindar dari kesalahan-kesalahan saat mengajar di kelas. Kita hanyalah insan biasa, yang tidak luput dari kekurangan dan kekeliruan ketika sedang di depan peserta didik. Namun, bukan berarti kekeliruan teman-teman pendidik mesti tidak dipedulikan dan tidak terdapat jalan keluarnya.


Setiap guru pasti mempunyai potensi untuk sukses menjalankan tugasnya sebagai agen pembelajaran yang handal. Keberhasilan guru ini secara nyata dapat disaksikan dari keberhasilan peserta didik saat mengikuti proses dan menjangkau tujuan pembelajaran.

Berikut, delapan kekeliruan/kesalahan guru saat mengajar yang menyebabkan kegagalan peserta didik menjangkau tujuan pembelajaran secara optimal:

1. Tidak Ada Persiapan Ketika Mengajar

Adakah diantara teman-teman pendidik yang merasa melatih dengan baik diruang belajar walaupun tanpa persiapan sama sekali? Tentu tidak. Seharusnya, teman-teman pendidik tidak jarang kali mempersiapkan segala urusan sebelum mengajar, mulai dari RPP (Rencana Persiapan Pengajaran),perlengkapan atau media pembelajaran., hingga bahan-bahan penilaian materi. Teman-teman pendidik mesti tidak jarang kali ingat bahwa melatih tampa persiapan adalah tindakan yang bisa merugikan pertumbuhan siswa.

Tentu solusinya ialah buatlah persiapan yang matang sebelum teman-teman pendidik melatih di kelas. Seorang guru dalam merancang pembelajaran pun harus semakin terampil dalam mengelola ruang belajar sesuai dengan ciri khas peserta didik untuk menjangkau akhir dari destinasi materi yang diajarkan. Ingatlah bahwa dalam proses pembelajaran, tidak terdapat pembelajaran yang sukses tanpa persiapan yang benar.


Tipsnya, teman-teman pendidik bisa merancang pekerjaan pembelajaran borongan secara weekly saat teman-teman sedang tidak melatih (hari minggu). Semoga tidak merepotkan ya! Nah, caranya ialah membuat perancangan yang paling mudah, yaitu menciptakan RPP melulu satu halaman saja. RPP satu halaman saja semacam RPP guna diri anda sendiri yang terdiri dari destinasi pembelajaran, apersepsi, rancangan evaluasi, media yang digunakan, alur pembelajaran, dan ilham yang dibagikan. RPP satu halaman sangatlah simple dan semoga saja sangat menolong teman-teman pendidik mempersiapkan diri sebelum melatih di kelas.

Yuk, jadikan pekerjaan perancangan secara weekly sebagai sebuah sistem yang andai tidak digarap akan paling mengganggu komponen lainnya dari borongan sistem pembelajaran. Penulis telah mencobanya, dan perancangan pembelajaran secara weekly sangat menolong sekali lho. Semoga teman-teman pendidik tidak jarang kali istiqomah ya!

2. Mamaksa Peserta Didik Harus Bisa Memahami Materi yang Kita Ajarkan

Sejujurnya, pengarang pernah mengeluh laksana itu. Penulis pernah beranggapan egosentris terhadap peserta didik yang tidak paham pelajaran yang diajarkan. Dan ketika itu, rasanya jengkel sekali. Rasa kejengkelan tersebut dapat berimbas untuk peserta didik lainnya lho. Target pelajaran menjadi tidak tercapai sebab keegoisan guru untuk menciptakan satu atau dua peserta didik itu harus paham pelajaran yang diajarkan. Tentu ini kekeliruan paling fundamental tetapi tidak cukup disadari oleh kita. Adakah diantara teman-teman pendidik merasakan hal yang sama dengan penulis?


Diantara teman-teman pendidik barangkali pernah memaksa peserta didikguna benar-benar paham dengan pelajaran yang anda ajarkan, padahal kenangan peserta didik tidak terlampau besar guna menampung seluruh materi pelajaran. Dan sejujurnya, anda pun mempunyai keterbatasan dalam menguasai latihan yang anda ajarkan. Nah, bagaimana barangkali kita memaksa peserta didik guna menguasai masing-masing mata pelajaran? Perlu teman-teman pendidik ketahui, tentu masing-masing peserta didik mempunyai perbedaan ciri khas tentang gaya belajarnya. Nah, anda tidak dapat memaksa gaya melatih guru mesti acceptable untuk peserta didik.

Ingatlah bahwa masing-masing peserta didik memiliki kemahiran yang berbeda-beda dalam menguasai pelajaran. Bagi itu, teman-teman pendidik paling perlu menyerahkan motivasi dan ilham kepada semua peserta didik guna memperdalam latihan yang dikuasai dan disukai. Jika anda memaksa,bisa jadi besar keterampilan peserta didik melulu berada di tengah-tengah tanpa kemahiran pasti. Amanah anda sebagai pendidik ialah mendidik mereka guna menjadi seseorang yang berguna untuk bangsa dan negara.

3. Merasa Diri Paling Pandai Saat di Kelas

Kalau boleh jujur, adakah diantara teman-teman pendidik yang pernah merasa sangat pandai saat mengajar di kelas? Atau, adakah diantara teman-teman pendidik yang memandang peserta didik ialah sebuah “tong kosong” yang mesti dipenuhi dengan sesuatu yang paling penting?

Terutama peserta didik di kota-kota besar, pasti mereka dengan paling mudah merasakan internet dan berlangganan koran atau majalah. Tak bisa dipungkiri media pembelajaran ketika ini sangatlah luas dan up to date. Jika teman-teman pendidik tidak meng-upgrade diri terus menerus, bukan tidak mungkin andai peserta didik anda lebih pandai daripada gurunya. Dan bahkan kita dapat belajar dari peserta didik sekalipun, atau saling membelajarkan.

Namun apa yang terjadi andai peserta didik bertanya mengenai sesuatu urusan yang belum anda ketahui? Maka akui sajalah bahwa anda belum memahami jawaban yang ditanyakan. Tapi teman-teman pendidik mesti berjanji untuk menggali tahunya, dan menyatakan kembali di pertemuan selanjutnya. Kuncinya ialah seorang guru juga harus tidak jarang kali belajar sebab kita yang diamanahkan untuk menolong peserta didik membuka gerbang inspirasinya.


Nah, untuk menanggulangi hal ini, teman-teman pendidik mesti menjadi pembelajar yang terus menyesuaikan ilmu pengetahuan dipunyai dengan pertumbuhan yang terjadi di masyarakat. Dengan kata lain, bahwa guru mesti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Tipsnya ialah kita dapat menyusun jadwal teratur berapa kitab yang mesti dibaca dalam satu hari atau satu minggu untuk meningkatkan wawasan kita. Di samping itu, kitapun harus sering mengerjakan penelitian atau mencatat sebuah artikel supaya kita dapat lebih tidak sedikit mengamati dan menganalisa kejadian-kejadian di sekitar, serta rajin menggali solusi dari setiap persoalan yang ada. Yuk, jadi pendidik hebat!

4. Tidak Peka dengan Perilaku Peserta Didik yang Membanggakan Ketika Sedang Belajar

Dalam pembelajaran di kelas, teman-teman pendidik berhadapan dengan sebanyak peserta didik yang semuanya hendak diperhatikan. Mereka senang andai mendapat pujian dari guru dan merasa kecewa andai kurang diperhatikan. Betul? Namun, sayangnya banyak sekali diantara anda sering melalaikan perkembangan jati diri peserta didik, serta lupa menyerahkan pujian untuk mereka yang melakukan baik dan tidak menciptakan masalah saat sedang belajar di kelas.

Biasanya guru lebih sering menyerahkan perhatian untuk peserta didik saat ribut, istirahat di kelas, ataupun tidak menyimak pelajaran. Kondisi tersebut tidak jarang kali menemukan tanggapan yang salah dari peserta didik. Mereka berpikir bahwa guna mendapatkan perhatian dari guru, maka peserta didik mesti melakukan salah, burbuat gaduh, menganggu atau mengerjakan tindakan tidak disiplin lainnya.

Kita butuh sekali belajar untuk menciduk perilaku positif yang ditunjukan oleh semua peserta didik, kemudian segera memberi hadiah atas perilaku itu dengan pujian dan perhatian. Kedengarannya urusan ini sederhana. tetapi membutuhkan upaya betul-betul untuk tetap menggali dan memberi hadiah atas perilaku-perilaku positif peserta didik, baik secara kumpulan maupun individual.

Disisi lain, teman-teman pendidik pun harus menyimak perilaku-perilaku peserta didik yang negatif dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut supaya tidak terulang kembali. Teman-teman pendidik dapat mencontohkan sekian banyak  perilaku peserta negatif, misalnya melewati ceritera dan ilustrasi, serta menyerahkan pujian untuk mereka sebab tidak mengerjakan perilaku negatif tersebut. Kita pun usahakan memutuskan rules yang jelas dalam proses pembelajaran. Agar suasana ruang belajar menjadi kondusif dan peserta didik ikut belajar guna disiplin, komitmen, dan bertanggung jawab terhadap proses pembejaran di kelas.

5. Mengabaikan Perbedaan Peserta Didik

Setiap peserta didik mempunyai perbedaan yang unik, mereka mempunyai kekuatan, kelemahan, minat, dan perhatian yang berbeda-beda. Latar belakang keluarga, latar belakang sosial ekonomi, dan lingkungan,menciptakan peserta didik bertolak belakang dalam aktifitas, kreatifitas, intlegensi, dan kompetensinya. Dalam urusan ini, teman-teman pendidik pun harus mengetahui ciri-ciri peserta didik yang mesti dikembangkan dan yang mesti ditunjukkan kembali.

Dalam proses pembelajaran, barangkali teman-teman pendidik pernah melalaikan perbedaan peserta didiknya di kelas. Hal ini bisa diterlihat dari pemakaian metode pembelajaran yang tidak cukup bervariasi. Anak didik yang anda hadapi, setiap mempunyai tingkat keterampilan dan kompetensi yang bertolak belakang dalam menyerap pelajaran. Oleh karena itu, pemakaian metode pembelajaran yang bervariasi sangatlah dianjurkan.

Aspek-aspek peserta didik yang peru dicerna teman-teman pendidik antara lain, kemampuan, potensi, minat, kebiasaan, hobi, sikap, kepribadian, hasil belajar, daftar kesehatan, latar belakang sekolah dan kegiatannya disekolah. Informasi itu dapat dieroleh dan dipelajari dari laporan atau daftar sekolah, informasi dari peserta didik beda (teman dekat), observasi langsung dalam kondisi kelas, dan dalam sekian banyak  kegiatan beda di luar kelas, serta informasi dari peserta didik tersebut sendiri melewati wawancara, percakapan, dan autobiografi.

Di samping itu, teman-teman pendidik dapat berangjangsana ke lokasi tinggal peserta didik yang sedang memerlukan perhatian terutama untuk peserta didik yang bermasalah di sekolah, mungkin perlu diterapkan sampai-sampai terjalin komunikasi terbuka, dan kita dapat memahami ciri khas peserta didik tersebut. Penulis pernah melakukan sejumlah kunjungan ke lokasi tinggal peserta didik, dan hasilnya ialah sangat mengolah persepsi yang sekitar ini belum terpecahkan, di samping itu ilham sangat tersingkap luas guna mengatasi sekian banyak  problem kependidikan di sekolah.

6. Memperlakukan Peserta Didik Secara Tidak Adil

Pembelajaran yang baik dan efektif ialah yang dapat memberi fasilitas belajar secara adil dan merata (tidak diskriminatif), sampai-sampai peserta didik bisa mengembangkan potensinya secara optimal. Keadilan dalam pembelajaran merupakan keharusan guru dan hak peserta didik guna memperolehnya.

Dalam praktiknya, mungkin tidak sedikit diantara teman-teman pendidik yang tidak adil, sampai-sampai merugikan pertumbuhan peserta didik, dan ini merupakan kekeliruan yang tidak jarang kita lakukan, khususnya dalam evaluasi peserta didik sekitar proses pembelajaran. Oleh sebab itu, dalam menyerahkan penilaian mesti dilaksanakan secara adil, dan benar-benar adalah cermin dari perilaku peserta didik.

Ketidakadilan dalam proses pembelajaran akan menimbulkan persaingan yang tidak sehat pada peserta didik. Disisi lain, beberapa peserta didik mungkin energik dalam belajarnya, namun disisi beda pula terdapat peserta didik yang merasa tersisihkan. Perhatian meyeluruh dan sarat rasa cinta pada masing-masing peserta didik mesti tidak jarang kali ditumbuh kembangkan pada diri seorang guru untuk menanggulangi ketidakadilan tersebut.

7. Tidak Sadar Memberikan Contoh Tindakan Kurang Tepat Pada Peserta Didik

Teman-teman pendidik merupakan misal dan panutan untuk peserta didik. Tanpa disadari, perbuatan guru ialah doktrin yang melekat pada peserta didik. Perlu teman-teman pendidik ketahui, peserta didik ialah penyontoh sangat andal. Mereka dapat menyontoh gaya guru mengucapkan materi dan bagaimana alur pikir guru dalam mengetahui materi.

Untuk itu, tidak boleh pernah mengerjakan tindakan yang tidak cukup tepat pada peserta didik, seperti menerbitkan kata keras dan kotor, menghina peserta didik di depan kelas, memerintah pada sesuatu yang tidak dilaksanakan oleh anda sendiri, tidak jarang terlambat masuk ke kelas, merokok, dan lain-lainnya. Wibawa anda sebagai seorang guru bakal hilang dimata peserta didik. Dan urusan tersebut lumayan menyulitkan kita saat mengajar di dalam kelas.

“Yang sangat hebat untuk seorang guru ialah mendidik, dan rekreasi yang sangat indah ialah mengajar. Ketika menyaksikan murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, tetapi hadirkanlah cerminan bahwa diantara satu dari mereka besok akan unik tangan kita mengarah ke surga”. –kh. Maimun zubair

Ingatlah bahwa anda sebagai guru bakal diminta pertanggungjawaban di akhirat. Di dunia gaji memang tidak seberapa, tidak boleh kotori deviden akhirat dengan menodai profesi mulia ini. Niatkan menjadi guru sebagai ibadah. Jadikan kegiatan guru sebagai ladang amal yang bakal dipanen hasilnya besok di akhirat. Selamat berusaha wahai semua pahlawan ilmu! Semoga dari tanganmu bakal lahir generasi tangguh, berilmu, dan berakhlak yang dapat memimpin bangsa dan negara ini.

8. Mengambil Jalan Pintas Dalam Pembelajaran

Tugas guru sangat utama ialah mengajar, dalam pengertian mengatur lingkungan supaya terjadi pekerjaan belajar pada peserta didik. Berbagaipermasalahan menunjukan bahwa diatara semua guru tidak sedikit yang merasa dirinya telah dapat melatih dengan baik, meskipun tidak bisa menunjukan dalil yang mendasari asumsi itu.

Asumsi keliru tersebut biasanya menyesatkan dan menurunkan kreatifitas, sehinga tidak sedikit guru yang suka memungut jalan pintas dalam pembelajaran, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi.

Agar tidak tergiur untuk memungut jalan pintas dalam pembelajaran, guru hendaknya memandang pembelajaran sebagai sebuah system, yang andai salah satu komponennya terganggu, maka bakal menggangu semua system tersebut. Sebagai contoh, guru mesti selalu menciptakan dan menyaksikan persiapan masing-masing mau melakukan pekerjaan pembelajaran., serta merevisi cocok dengan keperluan peserta didik, dan pertumbuhan zamannya.

Harus selalu dikenang mengajar tampa persiapan adalah jalan pintas, dan perbuatan yang berbahaya, yang bisa merugikan pertumbuhan peserta didik, dan menakut-nakuti kenyamanan guru.