Showing posts with label Kelas Rendah. Show all posts
Showing posts with label Kelas Rendah. Show all posts

5 Metode Membaca dan Menulis Permulaan Pada Kelas Rendah

5 Metode Membaca dan Menulis Permulaan Pada Kelas Rendah

BlogPendidikan.net
- Keterampilan menulis dan membaca merupakan keterampilan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Keterampilan ini menjadi sarana untuk merekam atau mengungkapkan pikiran, perasaan atau informasi yang ada. 

Menulis merupakan ekspresi/ungkapan dari bahasa lisan ke dalam suatu bentuk goresan/coretan. Pada setiap manusia, kepemilikan keterampilan dasar ini diawali dari ketika anak pura-pura menulis di atas kertas, pasir atau media lainnya dalam bentuk coretan-coretan sampai anak mampu menirukan bentuk tulisan yang sesungguhnya.

Berikut Metode pembelajaran bahasa Membaca dan menulis  Permulaan di kelas rendah adalah sebagai berikut:

1. Metode Eja/Abjad 

Metode ini merupakan metode yang sudah sangat tua. Pelajaran pertama dimulai dengan pengenalan abjad “a”, “be”, “ce”, “de”, dan seterusnya. Guru sering mengajarkannya melalui lagu ABC.

Penggunaan metode ini kerap kali menimbulkan kecenderungan mengeja, yaitu membaca huruf demi huruf. Kecenderungan ini menghambat proses penguasaan kemampuan membaca permulaan.

2. Metode Bunyi

Metode ini juga merupakan metode yang sudah sangat tua. Pelaksanaannya hampir sama dengan metode abjad. Namun, huruf-huruf tidak disebut dengan nama abjadnya, melainkan nama bunyinya. Jadi, huruf “m” tidak diucapkan sebagai [em] atau [em] melainkan [m]. Bunyi-bunyi konsonan dirangkai dengan bunyi vokal sehingga membentuk suku kata

3. Metode suku kata dan metode kata

Metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti ba, bi, bu, be, bo, ca, ci, cu, ce, co, dan seterusnya. Suku kata tersebut kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna

4. Metode Global

Global memiliki arti secara utuh atau bulat. Yang disajikan pertama kali dalam metode global kepada murid adalah kalimat seutuhnya. Kalimat tersebut dituliskan di bawah gambar yang sesuai dengan isi kalimatnya. Gambar itu ditujukkan untuk mengingatkan siswa kepada kalimat yang ada di bawahnya. Setelah berkali-kali membaca, murid dapat membaca kalimat-kalimat itu secara global tanpa gambar.

5. Metode Struktural Analisis Sintesis (SAS)

Metode SAS diawali dengan perkenalan struktur kalimat pada anak. Kemudian anak diajak untuk melakukan proses analitik untuk mengenal konsep kata. kalimat utuh yang diperkenalkan pada anak untuk pertama kali akan diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil di sebut kata hingga sampai pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi yakni huruf.

Berbagai Jenis Metode Pembelajaran Menulis Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

Jenis Metode Pembelajaran Menulis Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

BlogPendidikan.net
- Keterampilan menulis merupakan keterampilan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Keterampilan ini menjadi sarana untuk merekam atau mengungkapkan pikiran, perasaan atau informasi yang ada. 

Menulis merupakan ekspresi/ungkapan dari bahasa lisan ke dalam suatu bentuk goresan/coretan. Pada setiap manusia, kepemilikan keterampilan dasar ini diawali dari ketika anak pura-pura menulis di atas kertas, pasir atau media lainnya dalam bentuk coretan-coretan sampai anak mampu menirukan bentuk tulisan yang sesungguhnya.

Berikut jenis-jenis metode pembelajaran menulis yang diterapkan pada kelas rendah dan kelas tingg :

Metode Pembelajaran Menulis Yang Diterapkan Pada Kelas Randah :

1. Metode Eja

Metode eja di dasarkan pada pendekatan harfiah, artinya belajar membaca dan menulis dimulai dari huruf-huruf yang dirangkaikan menjadi suku kata. Oleh karena itu pengajaran dimulai dari pengenalan hurufhuruf.

2. Metode kata lembaga

Metode kata lembaga di mulai mengajar dengan langkah- langkah sebagai berikut:
1) Mengenalkan kata
2) Merangkaikan kata antar suku kata
3) Menguraikan suku kata atas huruf-hurufnya
4) Menggabungkan huruf menjadi kata (Djauzak, 1996:5)

3. Metode Global

Metode global memulai pengajaran membaca dan menulis permulaan dengan membaca kalimat secara utuh yang ada di bawah gambar. Menguraikan kalimat dengan kata-kata, menguraikan kata-kata menjadi suku kata.

4. Metode SAS

Menurut (Supriyadi, 1996: 334-335) pengertian metode SAS adalah suatu pendekatan cerita di sertai dengan gambar yang di dalamnya terkandung unsur analitik sintetik. 

Metode SAS menurut (Djuzak,1996:8) adalah suatu pembelajaran menulis permulaan yang didasarkan atas pendekatan cerita yakni cara memulai mengajar menulis dengan menampil cerita yang diambil dari dialog siswa dan guru atau siswa dengan siswa.

Metode Pembelajaran Menulis Yang Diterapkan Pada Kelas Tinggi:

1. Metode langsung

Metode pengajaran langsung dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah. Dalam metode langsung, terdapat lima fase yang penting: fase persiapan dan motivasi, fase demonstrasi, fase pembimbingan, fase pengecekan, dan fase pelatihan lanjutan.  Sebagai contoh: guru menunjukkan gambar banjir yang melanda suatu sebuah desa atau melihat langsung peristiwa banjir di sebuah desa.  Dari gambar tersebut, siswa dapat membuat tulisan secara runtut dan logis berdasarkan gambar.

2. Metode Komunikatif

Desain yang bermuatan metode komunkatif harus mencakup semua keterampilan berbahasa.  Setiap tujuan diorganisasikan ke dalam pembelajaran. Setiap pembelajaran dispesifikasikan ke dalam tujuan kongkret yang merupakan produk akhir.  Sebagai contoh: metode komunikatif dapat dilakukan dengan teknik menulis dialog.  Siswa menulis dialog tentang yang mereka lakukan dalam sebuah aktivitas.  Kegiatan ini dapat dilaksanakan perseorangan ataupun kelompok.

3. Metode Integratif

Integratif berarti menyatukan beberapa aspek ke dalam satu proses.  Integrtif terbagi menjadi dua bagian: interbidang studi dan antarbidang studi.  Interbidang studi artinya beberapa aspek dalam satu bidang studi diintegrasikan.  Sebagai contoh: menulis diintegrasikan  dengan berbicara dan membaca.  Adapun antarbidang studi artinya pengintegrasian bahan dari beberapa bidang studi.  Sebagai contoh: antara bahasa Indonesia  dengan matematika atau dengan bidang studi lain.

4. Metode Tematik

Dalam metode tematik, semua komponen materi pembelajaran diintegrasikan ke dalam tema yang sama dalam satu unit pertemuan.  Tema yang telah ditentukan harus diolah sesuai dengan perkembangan dan lingkungan siswa.   Siswa berangkat dari konsep ke analisis atau dari analisis ke konsep kebahasaan, penggunaan, dan pemahaman.

5. Metode Konstruktivistik

Asumsi sentral metode konstruktivistik adalah belajar itu menemukan.  Artinya, meskipun guru menyampaikan sesuatu kepada siswa, mereka melakukan proses mental atau kerja otak atas informasi itu agar informasi tersebut masuk ke dalam pemahaman mereka.  Konstruktivistik dimulai dari masalah yang sering muncul dari siswa sendiri dan selanjutnya membantu siswa menyelesaikan dan menemukan langkah-langkah pemecahan masalah tersebut.

6. Metode Kontekstual

Pembelajaran dengan menggunakan metode ini akan mempermudah dalam pembelajaran menulis, yakni konsepsi pembelajaran yang membantu guru menghubungkan mata pelajaran dengan situasi dunia nyata dengan kehidupan pembelajaran yang memotivasi siswa agar menghubungkan pengetahuan dan penerapannya dengan kehidupan sehari-hari.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Jenis Metode Pambelajaran Membaca Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

Jenis Metode Pambelajaran Membaca Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

BlogPendidikan.net
- Membaca merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki setiap manusia. Keterampilan ini tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Karena itu, keterampilan membaca merupakan keterampilan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia. 

Keterampilan ini menjadi sarana untuk menangkap informasi yang ada di tulisan. Keterampilan ini disebut sebagai keterampilan berbahasa reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, ilmu, pengetahuan, dan pengalaman-pengalaman baru.
Berikut ini jenis-jenis metode pembelajaran membaca yang diterapkan baik dikelas tinggi atau kelas rendah pada jenjang Sekolah Dasar (SD) :

Metode pembelajaran membaca yang diterapkan pada Kelas Rendah :

1. Metode Eja

Pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode ini diawali dengan memperkenalkan huruf-huruf secara alphabetis. Pengenalan huruf ini bisa diawali dengan menyanyi tentang huruf (abc). Tahapan berikutnya huruf –huruf itu dihafalkan dan dilafalkan sesuai bunyi huruf tersebut dalam urutan alphabet.

Sebagai contoh : a, b, c, d, e, f, g, h, i, j, k, l,m, n, o, p, dan seterusnya. Dilafalkan sebagai: (a), (be), (ce), (de),(ef), (ge), (ha), (i), (je), dan seterusnya. Tahapan berikutnya huruf-huruf dirangkaikan dengan cara mengeja, sehingga menghasilkan suku kata misalnya m-a ma (em–a ma) p-a pa (dibaca pe-a pa) dan seterusnya.
2. Metode Suku Kata

Metode Suku Kata biasa juga disebut dengan metode silabi. Proses pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode suku kata diawali dengan memperkenalkan suku kata

3. Metode Kata Lembaga

Proses pembelajaran membaca permulaan dengan menggunakan metode kata lembaga diawali dengan memperkenalkan sebuah kata tertentu yang dianggap sebagai lembaganya.

4. Metode Global

Sebagian orang mengistilahkan metode ini sebagai ‟Metode Kalimat‟. Dikatakan demikian, karena proses pembelajaran membaca permulaan diawali dengan memperkenalkan beberapa kalimat secara global. Setelah anak dapat membaca beberapa kalimat, diambillah sebuah kalimat untuk diuraikan menjadi kata, kemudian kata diuraikan menjadi suku kata dan suku kata menjadi huruf.

5. Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)

Metode SAS merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan. Prinsip-prinsip metode SAS disusun berdasarkan landasan psikologis, landasan pedagogis dan landasan ilmu bahasa (linguistik). 

Metode SAS pada dasarnya dapat diterapkan dalam pembelajaran berbagai mata pelajaran. Untuk pembelajaran bahasa Indonesia yang paling populer penggunaan metode SAS dalam pembelajaran membaca dan menulis permulaan.
Tes Membaca

Bertujuan untuk menilai kemampuan siswa untuk mengenal, merangkaikan huruf, dan membacanya menjadi satuan yang serta memahami maksudnya. 

Tes awal yang dapat dilakukan adalah :

a. Membaca nyaring.
b. Menjawab dan mengajukan pertanyaan dari wacana tulis.
c. Mengisi wacana rumpang (klos).

Metode pembelajaran membaca yang diterapkan pada Kelas Tinggi :

1. Metode Membaca Dasar

Metode membaca dasar umumnya menggunakan pendekatan eklektik yang  menggabungkan berbagai prosedur untuk mengajarkan kesiapan, perbendaharaan kata, mengenal kata, pemahaman, dan kesenangan membaca.

Metode membaca dasar umumnya dilengkapi dengan suatu rangkaian buku dan sarana penunjang lain, yang disusun dari taraf yang sederhana ke taraf
yang lebih sukar sesuai dengan kemampuan atau tingkat kelas anak-anak. Metode ini biasanya digunakan secara bersinambung, dari kelas satu hingga kelas enam SD

2. Metode Fonik

Metode fonik menekankan pada pengenalan kata melalui proses mendengarkan bunyi huruf. Dengan demikian, metode fonik lebih sintetis daripada analitis. Pada mulanya anak diajak mengenal bunyi-bunyi huruf, kemudian mensintesiskan huruf-huruf tersebut menjadi suku kata dan kata.

Untuk memperkenalkan bunyi berbagai huruf biasanya mengaitkan huruf-huruf tersebut dengan huruf depan berbagai nama benda yang sudah dikenal anak seperti huruf a dengan gambar ayam, huruf b dengan gambar buku, dan sebagainya.

3. Metode Linguistik

Metode linguistik didasarkan atas pandangan bahwa membaca pada dasarnya adalah suatu proses memecahkan kode atau sandi berbentuk tulisan menjadi bunyi yang sesuai dengan percakapan. Pandangan ini berasumsi bahwa pada saat anak masuk kelas satu SD, mereka telah menguasai bahasa ujaran. Dengan demikian, membaca adalah memecahkan sandi hubungan bunyi-tulisan. 

Metode ini menyajikan kepada anak bentuk kata-kata yang terdiri dari konsonan-vokal atau konsonan-vokal-konsonan seperti “bapak”, “lampu”, dan sebagainya. Berdasarkan kata-kata tersebut anak diajak memecahkan kode tulisan tersebut menjadi sebuah percakapan. Dengan demikian, metode ini lebih analitik daripada sintetik.

4. Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)

Metode ini pada dasarnya merupakan perpaduan antara metode fonik dengan metode linguistik. Meskipun demikian, ada perbedaan antara kode tulisan yang dianalisis dalam metode linguistik dengan metode SAS. Dalam metode linguistik kode tulisan yang dianalisis adalah kode tulisan berbentuk kalimat pendek yang utuh. 

Metode SAS didasarkan atas asumsi bahwa pengamatan anak mulai dari keseluruhan (gestalt) dan kemudian ke bagianbagian. Oleh karena itu, anak diajak memecahkan kode tulisan kalimat pendek yang dianggap sebagai unit bahasa utuh. Selanjutnya diajak menganalisis menjadi kata, suku kata, dan huruf, kemudian mensintesiskan kembali dari huruf ke suku kata, kata dan akhirnya kembali menjadi kalimat

5. Metode Alfabetik

Metode ini menggunakan dua langkah, yaitu memperkenalkan kepada anak-anak berbagai huruf alfabetik dan kemudian merangkaikan huruf-huruf tersebut menjadi suku kata, kata dan kalimat. Metode ini bila digunakan dalam bahasa Indonesia tidak terlalu sulit bila dibandingkan dengan kalau digunakan dalam bahasa Inggris karena hampir semua huruf mewakili bunyi yang sama. Metode ini sering menimbulkan kesulitan bagi anak berkesulitan belajar. Anak berkesulitan belajar sering menjadi bingung mengapa tulisan “bapak” tidak dibaca ”beapeka”

6. Metode Pengalaman Bahasa

Metode ini terintegrasi dengan perkembangan anak dalam keterampilan mendengarkan, bercakap-cakap, dan menulis Berdasarkan pengalaman anak, guru mengembangkan keterampilan anak untuk membaca. Pada mulanya anak diminta untuk menceritakan pengalaman kepada guru, dan guru menuliskan pengalaman anak tersebut pada papan tulis atau kertas. 

Demikian artikel tentang Jenis Metode Pambelajaran Membaca Kelas Rendah dan Kelas Tinggi, semoga bermanfaat, dan jangan lupa tuk berbagi. Terima kasih.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Jenis Metode Pembelajaran Berbicara di Kelas Tinggi dan Kelas Rendah

Jenis Metode Pembelajaran Berbicara di Kelas Tinggi dan Kelas Rendah

BlogPendidikan.net
- Berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa, yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Berbicara adalah suatu keterampilan menyatakan pesan melalui bahasa lisan. Hubungan antar pesan dan bahasa lisan sangat erat.

Di dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa
yang menjadi sasaran pokok, yaitu menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keterampilan menyimak dan berbicara dikategorikan dalam keterampilan berbahasa lisan, sedangkan keterampilan menulis dan membaca dikategorikan dalam keterampilan berbahasa tulisan. Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan berbahasa lisan yang biasa kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemampuan tersebut masih perlu untuk terus dikembangkan di kelas-kelas tinggi.

Peningkatan kemampuan berbahasa lisan dimaksudkan agar anak-anak sekolah dasar mampu memahami pembicaraan orang lain baik langsung maupun lewat media, misalnya radio, televisi, dan pita rekaman. Tujuan yang lain adalah agar siswa mampu mengungkapkan pikiran dan perasaan mereka secara lisan.

Berikut akan di jelaskan jenis-jenis metode pembelajaran berbicara pada kelas tinggi dan kelas rendah jenjang Sekolah Dasar (SD) :

Metode Pembelajaran Berbicara di Kelas Rendah :

1. Metode Ulang Ucap

Kegiatan ini dapat dimulai dari kegiatan sederhana terutama untuk kelas awal SD yaitu dengan menugaskan siswa mengulang kata yang diucapkan oleh guru.

2. Metode Lihat Ucap

Siswa ditugaskan untuk mengucapkan sesuatu kata atau kalimat yang berhubungan dengan benda yang diperlihatkan oleh guru

3. Metode Memberikan Deskripsi

Dengan metode ini siswa diberikan tugas untuk untuk mendeskripsikan suatu benda yang diperlihatkan oleh guru. Keterampilan yang dilatih selain kemampuan pokok yaitu mengungkapkan pendapat adalah megamati benda, memilih dan mencocokkan sehingga sangat cocok diterapkan pada siswa kelas awal sampai menengah di Sekolah Dasar.

4. Metode Menjawab Pertanyaan

Metode ini sudah sangat umum sehingga dapat diterapkan pada kondisi dan jenis sembarang bahan ajar. Pertanyaan dapat dikondisikan sedemkian rupa oleh guru untuk merangsang kreatifitas berfikir dan menyampaikan tanggapan terhadap suatu masalah yang diajukan.

5. Metode Bertanya

Metode bertanya juga sangat layak digunakan pada sembarang bahan ajar. Dengan menyajikan bahan ajar telebih dahulu kemudian siswa ditugaskan untuk membuat pertanyaan tentang sesuatu yang tidak dipahami oleh siswa atau bahkan dalam tataran menguji materi ajar itu sendiri. Dengan bertanya mereka akan mendapat jawaban dan tanggapan tersebut. 

Tanggapan dan jawaban tersebut yang diterima oleh siswa akan masuk dalam suatu kondisi benar dan tidak. Apabila siswa memang dasarnya adalah murni bertanya maka setelah mendengarkan jawaban/tanggapan dan menganalisanya akan menanggapi benar atau salah.

Dan apabila siswa bermaksud menguji sudah barang tentu mereka sudah memiliki jawaban dan hal itu adalah proses berfikir yang selangkah lebih maju. Sehingga siswa ini tergolong memiliki kecerdasan lebih dan layak mendapatkan penghargaan yang lebih pula. Kondisi-kondisi unik lainnya dapat ditemui secara langsung dilapangan dengan tingkat variasi dan kompleksitas yang lebih tinggi.

6. Metode Pertanyaan Menggali

Metode ini sangat baik digunakan jika kondisi siswa yang stagnan dan dengan rata-rata tingkat pemahaman bahkan IQ biasa-biasa saja. Karna untuk mengantarkan mereka kepada suatu pemahaman yang menjadi tujuan pembelajaran diperlukan langkah-langkah yang menggiring siswa sehingga sampai pada suatu keadaan paham kepada tema atau permasalahan yang ingin kita sampaikan. Terkadang usaha ini agak sulit dan membuat kita jengkel karna harus berputar-putar mencari pengandaian dan logika lain, akan tetapi disinilah letak seni kita sebagai guru. Akhirnya siswa akan dapat berbicara untuk menyampaikan gagasan, ide dan pendapat mereka.

7. Metode Melanjutkan

Pada kegiatan ini siswa secara bergilir ditugaskan untuk membuat ide cerita dan siswa yang lainnya melanjutkan cerita tersebut. Dalam keadaan tertentu dapat dikondisikan suatu bentuk permainan dalam kegiatan ini.

Metode Pembelajaran Berbicara di Kelas Tinggi :

1. Menceritakan Kembali

Kegiatan ini sudah sangat umum dilaksanakan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan bahan ajar cerita baik fiksi maupun non fiksi. Di mana siswa ditugaskan untuk membaca atau mendengar cerita untuk kemudian menceritakan kembali isi cerita tersebut secara lisan di depan teman-teman mereka yang berperan sebagai audien. Dengan kegiatan ini maka siswa akan tertantang untuk berlomba memahami cerita yang sudah pernah mereka dengar atau basa.

2. Metode Percakapan atau Bermain Peran

Kegiatan ini sangat baik dilaksanakan untuk pemahaman tingkat lanjut tentang suatu cerita di mana dengan memerankan siswa akan lebih memahami bukan hanya kepada alur cerita akan tetapi akan lebih kepada penjiwaan karakter masing-masing tokoh. Dalam keadaan ini pemahaman siswa terhadap cerita akan utuh karna dengan berbicara mengucapkan naskah cerita atau drama, mereka akan sangat menghayati setiap adegan dan untaian kata percakapan yang diucapkan.

3. Metode Parafrase

Metode ini dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar menggunakan bahan ajar puisi yang selanjutnya diubah menjadi prossa yang kemudian siswa ditugaskan menceritakan secara lisan hasil paraprase tersebut.

4. Metode Reka Cerita Gambar

Metode ini sangat kreatif dan layak untuk dicoba karna dengan menyajikan gambar acak siswa akan mereka kembali dengan susunan yang benar urutan gambar tersebut. Dalam kegiatan tersebut dengan sudah sangat pasti mereka akan berbicara setelah guru bertanya, “Anak anak, Bagaimanakah susunan yang benar dai gambar tersebut ?” 

5. Metode Memberi Petunjuk

Metode ini layak juga untuk dicoba terutama untuk mempelajari bahan ajar tentang denah, petunjuk penggunaan obat dan alat tertentu. Dengan penugasan untuk menyampaikan hal tersebut siswa akan tertantang untuk berbicara dan menyampaikan penjelasan berdasarkan ide dan pendapat masing-masing melalui bahasa sederhana dan sesederhanapun penyampaian layak mendapat penghargaan.

6. Metode Pelaporan

Melalui pengamatan terhadap obyek pada kegiatan tertentu siswa kemudian melaporkan hasil pengamatan dengan penyampaian lisan yang didahului oleh konsep tulisan. Dalam hal ini terjadi proses mirip dengan proses pada metode identifikasi akan tetapi memiliki tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Sehingga sesederhana apapun penyampaian siswa layak dihargai karna sebagai awal mula yang baik untuk proses penelitian dan pelaporan dalam kegiatan ilmiah yang sangat mendukung proses meningkatkan kreatifitas siswa.

7. Metode Wawancara

Kegiatan ini adalah kegiatan tingkat tinggi dari bertanya hingga menganalisa jawaban audiens kemudian mengajukan pertanyaan berikutnya yang diikuti oleh proses pelaporan layaknya seorang wartawan. Proses berbicara dari kegiatan ini adalah awal dari membentuk pribadi yang kritis dan santun 

8. Metode Diskusi

Kegiatan ini adalah proses interaksi tingkat tertinggi yang merangsang daya fikir, logika, kritis dan santun. Dalam kegiatan ini sejelek apapun pendapat, sanggahan dan klarifikasi siswa adalah hal yang maha baik dalam memulai suatu sikap peka terhadap lingkungan dan isu-isu tertentu dalam mencari jalan keluar. Dimana sudah barang tentu merupakan kreatifitas yang sangat layak mendapat penghargaan.

9. Metode Bertelpon

Seiring dengan teknologi informasi yang kian maju maka keterampilan bertelpon sangat penting dalam membentuk sikap cepat, efektif dan sopan dalam berkomunikasi. Karna berbicara melalaui telpon tanpa hadirnya lawan bicara secara langsung memerlukan tingkat kepekaan yang tinggi dalam tata cara pergaulan sehari-hari dalam kegiatan bertelpon

10. Metode Dramatisasi

Metode ini adalah kelanjutan dari kegiatan bermain peran yang dilengkapi dengan tema, seting, perwatakan, seting dan naskah drama yang ditampilkan secara utuh. Kegiatan ini penuh dengan kegiatan berbicara sesuai dengan tuntunan naskah yang runtut.

Demikian artikel ini semoga bermanfaat dan jangan lupa berbagi. Terima kasih.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

di SD Ada Kelas Rendah dan Kelas Tinggi, Bagaimana Perbedaan Karakteristiknya

di SD Ada Kelas Rendah dan Kelas Tinggi, Bagaimana Perbedaan Karakteristiknya !

BlogPendidikan.net
- Pembelajaran merupakan interaksi antara antar siswa, antara siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Interaksi tersebut berfungsi untuk mengembangkan seluruh potensi, kecakapan, dan karakteristik siswa di antaranya karakteristik fisik, motorik, intelektual, sosial, emosional, moral, dan spiritual.
Untuk itu, hal yang pertama harus dilakukan oleh guru ketika mengajar adalah mengenali dan memahami karakteristik siswa. Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru akan mudah dipahami siswa jika disampaikan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar siswa. 
Usia siswa SD berada dalam akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari usia 6 sampai 12 tahun (Yusuf). Menurutnya, perkembangan individu sejak lahir sampai masa kematangan terdiri dari:
  • Masa usia pra sekolah (0 – 6 ) tahun
  • Masa usia sekolah dasar (6 – 12) tahun
  • Masa sekolah menengah (12 – 18) tahun
  • Masa usia mahasiswa (18 – 25) tahun. 
Masa usia Sekolah Dasar (SD) dibagi ke dalam dua jenjang yaitu masa kelas rendah dan masa kelas tinggi dengan karakteristik sebagai berikut:

Masa Kelas Rendah

Masa usia siswa pada jenjang ini adalah 6 – 10 tahun memiliki karakteristik:
  1. Kondisi jasmani dan prestasi sangat berhubungan
  2. Sikap mematuhi aturan-aturan permainan tradisional menguat
  3. Kecenderungan memuji diri sendiri
  4. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain
  5. Cenderung mengabaikan soal yang dianggap sulit karena merasa tidak penting
  6. Menginginkan nilai yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya pantas diberi nilai baik atau tidak.
Masa Kelas Tinggi

Masa usia siswa pada jenjang ini adalah 10 – 13 tahun memiliki karakteristik:
  1. Adanya minat terhadap aktivitas yang melibatkan sesuatu yang konkret
  2. Cenderung membandingkan aktivitas-aktivitas praktis
  3. Sangat realistis
  4. Rasa ingin tahu tinggi
  5. Kemauan belajar tinggi
  6. Menjelang akhir masa ini, sudah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus
  7. Sampai sekitar umur 11 tahun memerlukan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya
  8. Memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajar di sekolah
  9. Senang membentuk kelompok sebaya umumnya agar dapat bermain bersama.
Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.