Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Plus Minus Saat Sekolah Dibuka Kembali di Tengah Pandemi

One Be 5/30/2020
Plus Minus Saat Sekolah Dibuka Kembali di Tengah Pandemi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan jadwal tahun ajaran baru tahun 2020/2021 yakni pada 13 Juli 2020. Meski jadwal tahun ajaran baru 2020/2021 sudah ditentukan, namun Menteri Nadiem Makarim membantah jika siswa akan mulai masuk sekolah pada bulan Juli mendatang. 

Berikut adalah beberapa daftar plus dan minus jika sekolah kembali dibuka di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 yang masih melanda Indonesia. 

Sebelumnya sempat beredar kabar jika jadwal tahun ajaran baru 2020 akan dimulai pada pertengahan bulan Juli 2020. 

Namun, Menteri Nadiem Makarim membantah jika siswa dan siswi akan mulai masuk sekolah pada bulan Juli mendatang. 

Semua skenario telah dipersiapkan untuk menentukan jadwal Tahun Ajaran Baru 2020. 

Kewenangan kapan masuk sekolah bagi murid sekolah ternyata bukan kewenangan mutlak Nadiem Makarim. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan telah menyiapkan berbagai skenario terkait permulaan tahun ajaran baru 2020/2021.

Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang belum mereda di Tanah Air.

"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah siap dengan semua skenario," kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, Rabu (20/5/2020), dikutip dari Kompas.com dalam berita berjudul, "Mendikbud Siapkan Skenario Memulai Tahun Ajaran Baru di Tengah Pandemi".

Nadiem mengatakan, Kemdikbud terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Keputusan Kemendikbud terkait pelaksanaan tahun ajaran baru akan merujuk pada kajian Gugus Tugas.

Menteri Nadiem Makarim dengan tegas membantah soal informasi yang beredar bahwa tahun ajaran baru akan dimulai 15 Juni 2020 mendatang.

"Mohon menunggu dan saya belum bisa memberikan statement apapun untuk keputusan itu. Karena dipusatkan di gugus tugas. 

Mohon kesabaran. Kalau ada hoax-hoax dan apa sampai akhir tahun, itu tidak benar," kata Nadiem Makarim saat melakukan rapat kerja virtual dengan Komisi X DPR RI Jumat (22/5/2020).

Sementara itu, banyak wacara yang menyebutkan jika kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai kembali di tengah pandemi Covid-19. 

Kabar tersebut menimbulkan banyak kekhawatiran yang datang terutama dari pada orang tua murid.  Kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia masih belum stabil. Hal ini membuat berbagai kebijakan terus dikaji ulang.

Termasuk menggunakan masker dan pola hidup sehat yang harus selalu dilakukan. Namun di tengah pandemi ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan tahun ajaran baru.

Tahun ajaran 2020/2021 akan dimulai pada 13 Juli 2020.

Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan keputusan tersebut diambil lantaran kalender pendidikan dimulai pada minggu ketiga bulan Juli dan berakhir pada Juni.

"Itu setiap tahun begitu," katanya dalam konferensi di Jakarta, Kamis (28/5/2020) seperti dikutip dari Kompas.com dalam berita berjudul, "Plus Minus Wacana Pembukaan Sekolah di Tengah Pandemi Corona".

Namun tahun ajaran baru yang dimulai pada 13 Juli 2020 ini bukan berarti siswa belajar di sekolah. Keputusan kapan siswa akan belajar di sekolah ini akan terus dikaji.

Keputusan finalnya juga akan menunggu rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Meski belum ada keputusan, namun wacana tahun ajaran baru ini cukup ramai dibicarakan.

Apalagi jumlah kasus virus corona belum juga menunjukkan tanda penurunan. Hingga Sabtu (30/5/2020) jumlah kasus di Indonesia mencapai 25.216 kasus pasien positifvirus corona atau Covid-19. 

Berikut ini, plus minus sekolah di tengah pandemi dikutip dari Kompas.com:

Plus Minus Sekolah di Tengah Pandemi

Konsultan Pendidikan dan Karier sekaligus CEO Jurusanku.com, Ina Liem menjelaskan pemberlakuan KBM di sekolah di tengah pandemi tidak bisa diberlakukan di seluruh Indonesia.

Menurutnya, masih ada sejumlah wilayah di Indonesia yang masih dalam kondisi zona merah dan zona hijau.

"Dalam membuat kebijakan pendidikan di Indonesia, sebetulnya tidak bisa seragam secara nasional, mengingat kondisi sarana prasarana tiap daerah berbeda-beda," ujar Ina, Kamis (28/5/2020).

Ia menambahkan, sejauh ini belum ada keputusan resmi dari pemerintah terkait pembukaan sekolah di Juli nanti.

Sementara itu, masih ada sejumlah pelajar yang tinggal di daerah tertinggal, terpencil, dan terpelosok (3T) di mana koneksi internet bahkan saluran TVRI belum terjangkau.

Adapun kondisi ini dinilai tidak apa-apa jika proses belajar mengajar ditiadakan di sekolah , asalkan tetap mengikuti protokol kesehatan.

"Tidak ada salahnya sekolah dibuka bulan Juli, tetapi tetap dengan mengikuti protokol kesehatan," ujar Ina.

Di sisi lain, ada juga pelajar yang tinggal dengan fasilitas penunjang kegiatan belajar yang mumpuni, seperti koneksi internet yang lancar, namun terletak di zona merah.

Kondisi inilah yang memungkinkan sekolah tidak harus kembali dibuka pada Juli 2020.

"Apabila kondisinya seperti ini, bisa melanjutkan online learning, sambil perlahan-lahan ada jadwal masuk sekolah yang hanya untuk social interaction anak, agar mereka tidak stres, karena butuh social interaction tersebut," lanjut dia.

Kondisi Ideal

Kurva pasien virus corona di Indonesia belum masuk ke fase landai.

Ina menambahkan soal kondisi ideal, seharusnya sekolah dibuka menunggu kasus covid-19 hilang agar penyebaran virus tak makin luas.

"Faktanya, kondisi ideal ini tidak selalu bisa dicapai dalam hidup kita, karena banyak faktor kalau menyangkut banyak orang, apalagi ratusan juta jumlahnya.

Kita sudah lihat sendiri banyak orang tidak memikirkan kepentingan publik sehingga tetap melanggar aturan-aturan PSBB," kata dia.

Jika berdasar analisisnya, Covid-19 belum akan hilang dalam waktu dekat.

Hal ini dikarenakan, meski negara sudah nol kasus positif virus corona, namun manusia tetap pulang-pergi, sehingga penyebaran Covid-19 menjadi seperti bola pingpong.

Oleh karena itu, setidaknya Indonesia harus bersiap pada 2-3 tahun ke depan.

Namun jika membahas kemungkinan terburuk covid-19 baru akan hilang 2-3 tahun mendatang, tak mungkin kegiatan sekolah dihentikan sama sekali.

"Jadi, mau tidak mau pasti anak harus kembali ke sekolah. Pilihannya Juli ini atau tahun ajaran baru digeser ke Januari 2021, masing-masing pilihan ada plus minusnya," terang Ina.

Ia menjelaskan, faktor plus yang mendukung terselenggaranya pembukaan kembali sekolah pada Juli 2020 adalah sekolah di daerah tertinggal yang menjadikan kegiatan belajar menjadi sulit, karena keterbatasan akses internet.

Sehingga ada juga guru yang rela berkeliling rumah muridnya di desa untuk memberi ilmu kepada mereka.

"Untuk sekolah-sekolah yang punya fasilitas, tapi belum siap sepenuhnya home learning, plusnya, anak-anak jadi tidak terlalu stres dengan beban tugas yang banyak dari guru, ketidakjelasan materi yang disampaikan secara online, dan ada social interaction yang memang dibutuhkan oleh anak-anak," katanya lagi.

Risiko Penyebaran

Di sisi lain, wacana pembukaan sekolah di Juli, semisal benar dilakukan memunculkan faktor risiko penyebaran Covid-19 yang tidak kunjung selesai.

"Saya ikut berempati terhadap pembuat kebijakan negeri ini, karena dihadapkan pada keputusan sulit saat ini. Yang bisa kita lakukan hanya meminimalkan risiko tersebut," ujar Ina.

"Kita harus terima kenyataan pahit, menunggu kondisi ideal sepertinya kecil sekali kemungkinannya. Kalaupun menunggu hingga Januari 2021, saya yakin kekhawatiran orangtua tidak akan hilang juga," lanjut dia.

Artikel ini telah tayang di tribunnews.com

New Normal Sekolah: Kapasitas Kelas dan Jam Belajar Tatap Muka Dikurangi

One Be 5/30/2020
New Normal Sekolah: Kapasitas Kelas dan Jam Belajar Tatap Muka Dikurangi

Sejumlah protokol atau pengaturan untuk mencegah merebaknya virus Corona (COVID-19) sedang dimatangkan Pemkot Bekasi 
untuk persiapan penerapan kenormalan baru atau new normal di sekolah pada Juni mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi Inayatullah menjelaskan bahwa akan ada perubahan dibandingkan masa sebelum pandemi Corona.

Misalnya, tempat duduk antar siswa diatur dengan jarak tertentu sehingga kapasitas kelas berkurang hingga lama waktu kegiatan belajar mengajar yang kemungkinan akan lebih pendek.

Meskipun begitu, sebelum benar-benar diterapkan, akan dilakukan sosialisasi dan adaptasi baik pada guru, siswa, juga wali murid.

”Nanti waktu belajarnya juga akan dikurangi, tidak seperti dulu. Namanya juga adaptasi," kata Inayatullah pada Jumat (29/5/2020).

Menurut dia, pengurangan waktu belajar ini terbagi ke dalam dua sesi, yakni pagi dan siang. Hal tersebut terkait dengan pembatasan kapasitas kelas.

“Pastinya kami akan terapkan aturan yang mengedepankan protokol kesehatan yang berlaku seperti jaga jarak dan menggunakan masker," ujarnya.

Saat ini, kata dia, Dinas Pendidikan Kota Bekasi sedang menyusun standard of procedure (SOP) kegiatan belajar mengajar pada masa new normal yang diharapkan dapat memenuhi kaidah kesehatan di masa pandemi COVID-19."Secepatnya kami akan rilis (SOP new normal),” paparnya.

Seperti diketahui, Kota Bekasi bersama wilayah lainnya di Indonesia terpaksa meliburkan siswa dalam proses kegiatan belajar di sekolah. Namun, siswa tersebut tetap belajar di rumah untuk mencegah penularan virus Corona di lingkungan tempat tinggalnya.

Kebijakan ini berlaku untuk semua siswa dari tingkat Paud/TK/RA/SD/MI/SMP/MTS dan lembaga pendidikan non formal lainya. Surat edaran itu dikeluarkan pemerintah melalui Dinas Pendidikan yang mana masa pandemi corona kegiatan belajar siswa dilakukan di rumah.

Artikel ini telah tayang di sindonews.com

New Normal Sekolah: Tahap Awal Masuk Sekolah Sehari dalam Seminggu

One Be 5/30/2020
New Normal Sekolah: Tahap Awal Masuk Sekolah Sehari dalam Seminggu

Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, mengaku telah menyiapkan model pembelajaran baru tatap muka di sekolah, selama masa kehidupan normal baru (new normal) Pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangsel Taryono menerangkan, pola belajar dalam tatanan baru di masa Pandemi Covid-19 ini akan dimulai pada (13/7) mendatang. Kebijakan itu, berlaku untuk seluruh sekolah swasta dan negeri di Tangsel.

Dalam masa transisi kembali sekolah di masa Pandemi nanti, pihaknya menyiapkan aturan kembali belajar di sekolah selama dua minggu.

"Pada dua minggu pertama itu, siswa hanya akan belajar tatap muka di kelas hanya sehari dalam setiap minggunya," terang Kepala Disdik Tangsel, Taryono, Jumat (29/5).

Selanjutnya, untuk tahap berikutnya dilakukan selama empat minggu. Pada masa itu, setiap minggu siswa hanya belajar di sekolah hanya 2 hari pada setiap minggunya.

"Dan pada tahap berikutnya lagi, dilakukan selama 2 minggu dengan anak-anak belajar di sekolah 4 hari per minggu. 

Intinya pada masa transisi ini kita juga menerapkan ketat belajar di sekolah dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Sambil itu terus kita lakukan evaluasi," ungkapnya. (Sumber; merdeka.com)

Khawatir, Orang Tua Tidak Rela Anak Masuk Sekolah Saat Corona

One Be 5/29/2020
Khawatir, Orang Tua Tidak Rela Anak Masuk Sekolah Saat Corona

Respons sejumlah orang tua terkait wacana pemerintah membuka kembali sekolah diselimuti kekhawatiran anak terpapar virus corona (Covid-19).

Para orang tua mengaku mau mengizinkan anak sekolah jika pemerintah memutuskan menerapkan new normal atau kehidupan baru di lingkungan pendidikan.

Lisa (bukan nama sebenarnya), seorang ibu dari dua anak laki-laki berusia 11 tahun dan 4 tahun di Tangerang, Banten, bahkan belum bisa membayangkan harus merelakan anaknya pergi ke sekolah.

"Enggak rela sama sekali. Khawatir pasti dan masih belum rela. Anak kecil, anak SD disuruh pakai masker. Siapa yang tahu tanpa sepengetahuan gurunya, mereka tukar-tukaran masker?" ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Meskipun anaknya yang pertama sudah duduk di bangku kelas 4 SD, ia yakin sang anak belum bisa menerapkan protokol kesehatan tanpa pengawasan.

Ia khawatir dengan banyaknya jumlah murid dalam satu kelas yang tak berbanding lurus dengan jumlah guru, aktivitas siswa akhirnya tak bisa dikontrol.

Lisa bahkan rela membiarkan anaknya yang kedua telat masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) karena takut pandemi membawa petaka. Berdasarkan umurnya, sang anak seharusnya mulai PAUD tahun ini.

Jika sekolah harus dibuka kembali, lanjutnya, ia mengatakan pemerintah harus memastikan kegiatan siswa di sekolah terkontrol. Ini termasuk siswa di jenjang pendidikan awal.

Hal serupa diungkapkan Nindi (38), ibu rumah tangga dengan dua anak berusia 10 tahun dan 7 tahun di Bekasi, Jawa Barat. Anaknya yang pertama duduk di kelas 4 SD dan yang kedua kelas 1 SD. 

Meskipun rajin menyampaikan ke kedua anak bahwa pandemi mengharuskan orang memakai masker dan mencuci tangan, ia tak yakin kedua anaknya bisa menjalankan hal tersebut di sekolah.

"Ya ngerti di rumah, tapi kalau sudah masuk sekolah ya namanya anak kecil pasti enggak betah. Mau bercanda sama teman," ujarnya.

Kendati demikian, ia sendiri mengaku ingin sekolah kembali dibuka. Hal ini karena kedua anaknya terlihat lebih efektif belajar di sekolah.

Namun ia baru bakal mengizinkan kembali sekolah jika situasi corona di lingkungannya mereda. Ia mengingatkan protokol kesehatan di sekolah juga harus diperketat.

"Sekolah atau pemerintah mungkin harus nyediain untuk rapid tes. Mau nggak mau lah harus korban uang pemerintah," tuturnya.

Pihak sekolah, lanjut Nindi, juga harus memantau ketat orang yang keluar-masuk sekolah. Pantauan tersebut termasuk kepada siswa, pendidik, penjual makanan di kantin sampai tamu.

Henry (41), ayah dari dua anak berusia 14 tahun dan 10 tahun di Tangerang Selatan, Banten, mengatakan penetapan jaga jarak bisa jadi syarat pembukaan sekolah. Ini untuk menjamin anak-anaknya tak menjadi pembawa virus ke rumah.

"Mungkin kelas yang biasa diisi 30 dibagi dua. 15 anak Senin masuk, 15 anak Selasa masuk. Jadi mereka terbiasa. Lebih muda mengontrol orang yang sedikit daripada banyak," pungkasnya.

Ia sendiri rajin memantau situs resmi pemerintah terkait informasi corona. Dia menilai pembukaan sekolah harus diintegrasikan dengan data kasus corona di tiap daerah.

Jika pemerintah memutuskan sekolah dibuka, lanjutnya, harus dipastikan daerah di wilayah tersebut bukan zona merah.

"Jadi aku akan pastikan dulu itu zonanya, karena kenapa? Mungkin buat anak-anak mereka lebih tahan. Tapi ketika pulang ke rumah bisa jadi membahayakan," ujarnya.

Sedangkan Yani (38), seorang ibu dari anak berusia 14 tahun di Jakarta Selatan meminta sekolah memeriksa betul keadaan kesehatan siswa jika sekolah dibuka. Ia pun mengaku guru di sekolah anaknya sudah mulai mengutarakan rencana melakukan pengecekan suhu jika new normal diterapkan.

"Harus disediakan alat cek suhu, masker buat cuci tangan mereka masuk. Pemerintah harus siapkan, karena kan sekolah pasti butuh," tuturya.

Kendati khawatir dengan jumlah siswa di kelas anaknya yang bisa mencapai 36 orang, ia pun sadar virus tak bisa pergi dengan cepat. Dia sudah menekankan ke anaknya agar menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Asupan gizi dan vitamin untuk anak pun kini jadi prioritas utama.

Diketahui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan wacana pembukaan sekolah pada juli 2020, namun ini hanya bagi daerah yang sudah dinyatakan aman.

Mendikbud Nadiem Makarim pun menekankan keputusan ini ada di tangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Pihaknya hanya jadi eksekutor dalam penerapan kebijakan tersebut.

Artikel ini telah tayang di cnnindonesia.com

Guru Harus Siap Dalam Proses Pembelajaran Dikelas Saat New Normal

One Be 5/29/2020
Guru Harus Siap Dalam Proses Pembelajaran Dikelas Saat New Normal

Sesuai dengan keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menegaskan bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 yang akan dimulai 13 Juli 2020, maka dari itu Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 juga harus disiapkan dan diperhatikan dalam penerapan New Normal.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Sumarwati mengatakan bahwa dalam menyambut tahun ajaran baru dalam masa pandemi ini, Dindik sudah melaksanakan rapat koordinasi untuk panduan new normal di sekolah.

“Kita sudah rapatkan dengan kepala sekolah, kita edukasi dan kita sampaikan bahwa sesuai peraturan kemendikbud no. 8 tahun 2014 terkait dengan poin yang bisa digunakan untuk mendomani COVID-19,” terangnya, Jumat (29/5/2020).

Persiapan yang dilakukan pada tahun ajaran baru yakni mengharuskan agar anak-anak didik wajib menggunakan masker, sekolah harus menyiapkan tempat cuci tangan dan sabun yang layak dan menyediakan handsanitizer.

“Fasilitas dan edukasi dalam penerapan new normal disekolah harus diperhatikan. Kebiasaan PHBS harus diterapkan seperti rajin mencuci tangan dan juga menggunakan masker sesuai protokol kesehatan,” jelasnya.

Tidak kalah penting, tempat duduk juga harus diatur agar sendiri-sendiri dan juga tidak berdekatan. Interaksi anak-anak didik juga harus diperhatikan agar sesuai protokol kesehatan. Sekolah juga harus disemprot disinfektan sebelum dimulai tahun ajaran baru.

Untuk para guru, Sumarwati berharap agar para guru mempersiapkan diri dalam menyambut new normal di sekolah.

Proses Pembelajaran mungkin agak sedikit berbeda dengan biasanya dan juga memastikan agar anak-anak didik mematuhi setiap panduan yang sudah diterapkan guna mencegah penyebaran COVID-19.

“Intinya semua tenaga pendidik baik itu para guru dan kepala sekolah harus mengerti apa itu new normal dan bagaimana penerapannya di sekolah. 

Hal itu wajib dilakukan agar membuat nyaman para orang tua siswa dan juga siswa sendiri saat mengikuti kegiatan belajar disekolah,” tandasnya. (Sumber; radarpekalongan.co.id)

Kemendikbud: Update Pedoman Belajar Dari Rumah Dimasa Pandemi COVID-19

One Be 5/29/2020
Update: Pedoman Belajar Dari Rumah Dimasa Pandemi COVID-19

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19. Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Regulasi, Chatarina Muliana Girsang menyampaikan Surat Edaran Nomor 15 ini untuk memperkuat Surat Edaran Mendikbud Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (Covid-19).

“Saat ini layanan pembelajaran masih mengikuti SE Mendikbud nomor 4 tahun 2020 yang diperkuat dengan SE Sesjen nomor 15 tahun 2020 tentang Pedoman Pelaksanaan BDR selama darurat Covid-19,” disampaikan Chatarina pada Bincang Sore secara daring, di Jakarta, pada Kamis (28/05/2020).

Dalam surat edaran ini disebutkan bahwa tujuan dari pelaksanaan Belajar Dari Rumah (BDR) adalah memastikan pemenuhan hak peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan selama darurat Covid-19, melindungi warga satuan pendidikan dari dampak buruk Covid-19, mencegah penyebaran dan penularan Covid-19 di satuan pendidikan dan memastikan pemenuhan dukungan psikososial bagi pendidik, peserta didik, dan orang tua.

“Pilihannya saat ini yang utama adalah memutus mata rantai Covid-19 dengan kondisi yang ada semaksimal mungkin, dengan tetap berupaya memenuhi layanan pendidikan. Prinsipnya keselamatan dan kesehatan lahir batin peserta didik, pendidik, kepala sekolah, dan seluruh warga satuan pendidikan adalah menjadi pertimbangan yang utama dalam pelaksanaan belajar dari rumah,” ungkap Chatarina.

Kembali Chatarina mengingatkan bahwa, kegiatan BDR dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum serta difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup, antara lain mengenai pandemi Covid-19. “Materi pembelajaran bersifat inklusif sesuai dengan usia dan jenjang pendidikan, konteks budaya, karakter dan jenis kekhususan peserta didik,” katanya.

Chatarina menambahkan aktivitas dan penugasan BDR dapat bervariasi antar daerah, satuan pendidikan dan peserta didik sesuai minat dan kondisi masing-masing, termasuk mempertimbangkan kesenjangan akses terhadap fasilitas BDR. 

“Hasil belajar peserta didik selama BDR diberi umpan balik yang bersifat kualitatif dan berguna dari guru tanpa diharuskan memberi skor/nilai kuantitatif, serta mengedapankan pola interaksi dan komunikasi yang positif antara guru dengan orang tua,” terangnya.

Tahun Ajaran Baru Tidak Harus Tatap Muka

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Plt. Dirjen PAUD Dikdasmen) Hamid Muhammad menerangkan bahwa lazimnya, kalender pendidikan untuk jenjang PAUD Dikdasmen ditetukan pada minggu ketiga di bulan Juli. 

Ditegaskan Hamid, mengingat saat ini tengah terjadi pandemi Covid-19, tahun ajaran baru tidak sama dengan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah.

Metode dan media pelaksanaan BDR dilaksanakan dengan dengan Pembelajaran Jarak Jauh yang dibagi kedalam dua pendekatan yaitu pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring). "PJJ ada yang daring, ada yang semi daring, dan ada yang luring," kata Hamid.

Untuk media pembelajaran jarak jauh daring, Kemendikbud merekomendasikan 23 laman yang bisa digunakan peserta didik sebagai sumber belajar. Selain itu, warga satuan pendidikan juga dapat memperoleh informasi mengenai Covid-19 di https://covid19.go.id serta di laman https://bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id.

Kemudian, untuk metode pembelajaran jarak jauh secara luring, warga satuan pendidikan khususnya peserta didik dapat memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan oleh Kemendikbud antara lain program belajar dari rumah melalui TVRI, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak serta alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan sekitar.

"Ketika tahun ajaran baru sebagian besar sekolah menggunakan PJJ maka ini yang akan diperkuat. Kami akan support melalui Rumah Belajar, TV Edukasi, kerja sama dengan TVRI akan diperpanjang, kemudian penyediaan kuota murah oleh para penyedia telekomunikasi," pungkas Hamid Muhammad. (Sumber: kemdikbud.go.id)

Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dimasa Pandemi COVID-19 Berdasarkan SE Sesjen Nomor 15 Tahun 2020; LIHAT DISINI

Kemendikbud: Daerah Zona Merah dan Kuning Tidak Boleh Menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka

One Be 5/29/2020
Kemendikbud: Daerah Zona Merah dan Kuning Tidak Boleh Menyelenggarakan Pembelajaran Tatap Muka

Mekanismenya (pembukaan sekolah) menunggu pengumuman dari Pak Menteri (Nadiem Makarim) minggu depan. Syaratnya seperti apa, kata Hamid melalui telekonferensi, Kamis (28/5/2020).

Menurutnya, pembukaan sekolah di daerah bisa dilakukan oleh pemerintah daerah atas daerah rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Hamid menambahkan, saat ini Kemendikbud tengah menggodok mekanisme dan syarat pembukaan kegiatan di sekolah bersama para ahli. 

"Sehingga kita tak bisa serta merta mengatakan buka atau tidak. Jadi mohon bersabar. yang disampaikan Menteri (Nadiem) itu betul, boleh atau tidaknya (buka sekolah) menunggu gugus tugas," kata Hamid.

Hamid mengatakan sebagian besar daerah masih akan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) terutama di daerah zona merah dan kuning. Sementara, kegiatan belajar tatap muka mungkin dilakukan di zona hijau Covid-19.

"Siapa yang menetapkan itu (zona) ya Gugus Tugas dan Kemenkes.Tahapannya agak ketat. mekanismenya menunggu pengumuman dari pak menteri dari minggu depan. Syaratnya seperti apa," ujarnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada tanggal 13 Juli 2020.

Dimulainya tahun ajaran baru tanggal 13 Juli 2020 bukan berarti siswa belajar di sekolah. Keputusan belajar di sekolah akan terus dikaji berdasarkan rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Siapkan sarana kesehatan

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengatakan wacana pembukaan sekolah pada pertengahan Juli 2020 harus dipikirkan matang-matang, tidak tergesa-gesa, dan harus memperhatikan data terkait penanganan Covid-19 di tiap wilayah.

Ia menambahkan rencana pembukaan sekolah menuntut koordinasi, komunikasi, dan validitas data yang ditunjukkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. "Jika kondisi penyebaran Covid-19 masih tinggi, sebaiknya opsi memperpanjang metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah yang terbaik," kata Satriwan dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Jika komunikasi, koordinasi, dan pendataan sudah benar-benar valid dan meyakinkan sehingga pemerintah membuka sekolah pada pertengahan Juli di Zona Hijau, maka FSGI meminta dinas pendidikan dan sekolah harus menyiapkan berbagai sarana kesehatan pendukung.

" Sekolah harus menyiapkan: hand sanitizer di tiap ruangan; sabun cuci tangan; perbanyak keran cuci tangan; semua warga sekolah wajib mengenakan masker; penyediaan APD di UKS/klinik sekolah; dan menerapkan Protokol Kesehatan secara ketat," tambah Satriawan.

Selain itu, Kemendikbud harus segera membuat Pedoman Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dikombinasikan dengan Protokol Kesehatan. Sebab MPLS kali ini akan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

New Normal di Sekolah: Belajar Cuman 4 Jam, Hilangkan Jam Istirahat

One Be 5/29/2020
New Normal di Sekolah: Belajar Cuman 4 Jam, Hilangkan Jam Istirahat

Seperti yang kita tahu, protokol New Normal bakalan jadi hal yang lumrah setelah PSBB berakhir. Tujuannya adalah untuk menghindari penyebaran virus Corona yang enggak mungkin menghilang dari dunia ini.

Nah peraturan New Normal ini juga bakalan diberlakukan di sekolah-sekolah.

Salah satu idenya yaitu menghilangkan jam istirahat dan jam belajar yang dikurangi jadi cuma 4 jam sehari.

Dikutip dari Kompas.com, ide New Normal di sekolah ini direkomendasikan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA).

"Namun yang sedang kami rekomendasikan adalah menghilangkan jam istirahat dan memperpendek jam pelajaran, yang sedang didiskusikan masuk 4 jam sehari tanpa jam istirahat," kata Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kemen PPPA Ciput Eka Purwianti dalam webinar, Kamis (28/5)

Kenapa milih menghilangkan jam istirahat dan cuma belajar 4 jam aja di sekolah?

Hal ini semata-mata buat mencegah adanya kepadatan anak-anak pada saat masuk dan keluar sekolah.

Rekomendasi lain

Ada rekomendasi lain protokol New Normal di sekolah, yaitu memberlakukan perbedaan jam masuk dan pulang antarkelas, biar enggak ada murid yang berkerumun di gerbang sekolah.

Ciput berkaca dari Australia yang para muridnya sudah mulai sekolah seperti biasa, dengan cara enggak membuat semua kelas langsung kembali bersekolah. 

Saat ini Australia sendiri hanya membuat dua kelas masuk untuk uji coba, termasuk menyiapkan murid, guru, dan tenaga pendidik dengan protokol New Normal.

"Kalau di Indonesia saya pikir bisa disiasati dengan diberi jeda masuknya, satu jam. Jadi masuk dan pulang tidak bersamaan sehingga tidak bertumpuk saat keluar masuk gerbang," kata Ciput.

Selain itu, fasilitas untuk mencuci tangan dengan sabun juga harus diperbanyak oleh sekolah biar enggak ada antrean murid yang akan mencuci tangan.

Artikel ini telah tayang di kompas.com

MENDIKBUD Akan Mengumumkan Mekanisme dan Syarat Pembukaan Sekolah Minggu Depan

One Be 5/28/2020
MENDIKBUD Akan Mengumumkan Mekanisme dan Syarat Pembukaan Sekolah Minggu Depan

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim akan mengumumkan mekanisme dan syarat pembukaan kegiatan belajar mengajar di sekolah selama masa wabah pandemi Covid-19 pada minggu depan.

Hal itu disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad.

"Mekanismenya (pembukaan sekolah) menunggu pengumuman dari Pak Menteri (Nadiem Makarim) minggu depan. Syaratnya seperti apa," kata Hamid melalui telekonferensi, Kamis (28/5/2020).

Menurutnya, pembukaan sekolah di daerah bisa dilakukan oleh pemerintah daerah atas daerah rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Hamid menambahkan, saat ini Kemendikbud tengah menggodok mekanisme dan syarat pembukaan kegiatan di sekolah bersama para ahli. 

"Sehingga kita tak bisa serta merta mengatakan buka atau tidak. Jadi mohon bersabar. yang disampaikan Menteri (Nadiem) itu betul, boleh atau tidaknya (buka sekolah) menunggu gugus tugas," kata Hamid.

Hamid mengatakan sebagian besar daerah masih akan melakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) terutama di daerah zona merah dan kuning. Sementara, kegiatan belajar tatap muka mungkin dilakukan di zona hijau Covid-19.

"Siapa yang menetapkan itu (zona) ya Gugus Tugas dan Kemenkes.Tahapannya agak ketat. mekanismenya menunggu pengumuman dari pak menteri dari minggu depan. Syaratnya seperti apa," ujarnya. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan tahun ajaran baru 2020/2021 akan tetap dimulai pada tanggal 13 Juli 2020.

Dimulainya tahun ajaran baru tanggal 13 Juli 2020 bukan berarti siswa belajar di sekolah. Keputusan belajar di sekolah akan terus dikaji berdasarkan rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Siapkan sarana kesehatan

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Satriwan Salim mengatakan wacana pembukaan sekolah pada pertengahan Juli 2020 harus dipikirkan matang-matang, tidak tergesa-gesa, dan harus memperhatikan data terkait penanganan Covid-19 di tiap wilayah.

Ia menambahkan rencana pembukaan sekolah menuntut koordinasi, komunikasi, dan validitas data yang ditunjukkan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. "Jika kondisi penyebaran Covid-19 masih tinggi, sebaiknya opsi memperpanjang metode Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) adalah yang terbaik," kata Satriwan dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

Jika komunikasi, koordinasi, dan pendataan sudah benar-benar valid dan meyakinkan sehingga pemerintah membuka sekolah pada pertengahan Juli di Zona Hijau, maka FSGI meminta dinas pendidikan dan sekolah harus menyiapkan berbagai sarana kesehatan pendukung.

" Sekolah harus menyiapkan: hand sanitizer di tiap ruangan; sabun cuci tangan; perbanyak keran cuci tangan; semua warga sekolah wajib mengenakan masker; penyediaan APD di UKS/klinik sekolah; dan menerapkan Protokol Kesehatan secara ketat," tambah Satriawan.

Selain itu, Kemendikbud harus segera membuat Pedoman Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang dikombinasikan dengan Protokol Kesehatan. Sebab MPLS kali ini akan sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.

Artikel ini telah tayang di kompas.com

Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Dimulai 13 Juli dan Setiap Provinsi Bisa Menentukan Kapan Dimulainya Tahun Ajaran Baru

One Be 5/28/2020
Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Dimulai 13 Juli dan Setiap Provinsi Bisa Menentukan Kapan Dimulainya Tahun Ajaran Baru

Plt. Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, menegaskan tidak ada pengunduran jadwal kalender pendidikan di masa pandemi virus korona (covid-19).Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan tahun ajaran baru 2020/2021 akan dimulai 13 Juli 2020.

"Kalender pendidikan ditentukan minggu ke-3 bulan Juli. Nanti itu jatuhnya tanggal 13 Juli di hari Senin minggu ketiga," kata Hamid dalam Konferensi Video PPDB 2020, Kamis, 28 Mei 2020.


Namun, setiap provinsi akan diberikan keleluasaan dalam menentukan dimulainya tahun ajaran baru tersebut. Dengan catatan hanya dipercepat satu minggu atau ditunda satu minggu dari tanggal 13 Juli 2020.

"Yang membuat kalender pendidikan itu secara detail pemerintah provinsi masing-masing. Bisa jadi kalender pendidikan masuknya tidak bersamaan. Bisa jadi DKI Jakarta misalnya 13 Juli, daerah lain satu minggu sebelumnya atau sesudahnya," jelasnya.

Ditegaskan Hamid, makna dimulainya tahun ajaran baru, bukan serta merta berarti sekolah dibuka untuk kegiatan tatap muka. Hamid menyebut pembukaan sekolah untuk kegiatan belajar tatap muka akan ditentukan oleh status wilayah yang ditetapkan Gugus Tugas (Gugas) Percepatan Penanganan Covid-19 bersama Kementerian Kesehatan.

"Yang ingin saya pastikan, sekolah-sekolah di zona-zona merah, sama zona kuning kemungkinan masih akan menerapkan pembelajaran jarak jauh," ungkapnya.

Hamid mengatakan, hanya zona hijau yang dimungkinkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka. Namun dia masih belum membeberkan syarat dan bagaimana regulasi detail pembelajaran tatap muka yang akan digelar di sekolah zona hijau.

"Tapi nanti penjelasan detailnya mohon bersabar menunggu minggu depan. Kemungkinan diumumkan sendiri oleh Pak Mendikbud (Nadiem Makarim) koordinasi dengan Gugas, jadi tiap daerah tidak bisa membuat keputusan sepihak," terang Hamid. (Sumber; medcom.id)

Ini Alasan Kemendikbud Tidak Memundurkan Jadwal Tahun Ajaran Baru

One Be 5/28/2020
Ini Alasan Kemendikbud Tidak Memundurkan Jadwal Tahun Ajaran Baru

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tak memundurkan jadwal tahun ajaran baru 2020/2021. Pelaksana tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Hamid Muhammad, menyebut pemunduran jadwal bisa mengganggu kalender pendidikan.

"Kita tidak memundurkan kalender pendidikan itu ke Januari (2021). Kenapa tidak memundurkan, karena kalau dimundurkan ada beberapa konsekuensi yang harus kita sinkronkan," ujar Hamid dalam konferensi video Kamis, 25 Mei 2020.

Menurut Hamid, memundurkan jadwal tahun ajaran baru akan mempengaruhi masa jenjang antar sekolah. Ia menuturkan saat ini kelulusan siswa SMA dan SMP sudah diumumkan, sedangkan kelulusan tingkat SD akan diumumkan dalam waktu dekat.

"Jika digeser menjadi Januari, siswa yang sudah lulus tidak memiliki kejelasan. Artinya kalau sudah lulus kemudian diperpanjang anak yang lulus ini mau ke mana?," terangnya.

Hamid menambahkan perguruan tinggi juga telah melakukan seleksi, mulai dari Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), dan Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN) pada Juli mendatang, ada juga seleksi jalur mandiri kampus. Dia pun menegaskan pembuatan kalender pendidikan secara detail adalah pemerintah provinsi masing-masing.

"Bisa jadi kalender pendidikan masuknya tidak bersamaan. Bisa jadi DKI Jakarta misalnya 13 juli, daerah lain satu minggu sebelumnya atau sesudahnya. Dari Kemendikbud hanya menetapkan kapan mulai dan berakhirnya," jelas Hamid.

Kemendikbud memastikan tahun ajaran baru 2020/2021 bakal dimulai 13 Juli 2020. Setiap provinsi akan diberikan keleluasaan dalam menentukan dimulainya tahun ajaran baru tersebut. Dengan catatan, hanya dipercepat atau ditunda satu pekan dari tanggal 13 Juli 2020. (Sumber; medcom.id)

Update Terbaru Kapan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Akan Dimulai

One Be 5/28/2020
Update Terbaru Kapan Tahun Ajaran Baru 2020/2021 Akan Dimulai

Kabar terbaru permulan tahun ajaran baru 2020/2021 di tengah pandemi Covid-19 atau Virus Corona di Indonesia.

Ikatan Guru Indonesia (IGI) pun mendesak pemerintah untuk menggeser tahun ajaran baru ke Januari 2021. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim dengan sejumlah alasan penggeseran tahun ajaran 2020/2021 dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com.

"Mengapa? Pertama, memberikan kepastian tahun ajaran baru bergeser ke Januari akan membuat dunia pendidikan memiliki langkah-langkah yang jelas terutama terkait minimnya jumlah guru yang memiliki kemampuan tinggi dalam menjalankan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Online," kata Ramli.

Dengan menggeser tahun ajaran baru, Ramli menyebutkan Kemendikbud bisa fokus meningkatkan kompetensi guru selama 6 bulan. Dengan demikian, di bulan Januari para guru sudah bisa menyelenggarakan PJJ berkualitas dan menyenangkan jika ternyata Covid-19 belum tuntas.

"Kedua, menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dan orang tua dari stress berkepanjangan," lanjutnya. Siswa dan orangtua bisa terancam stress jika tahun ajaran baru tak digeser. Hal itu bisa terjadi karena orangtua yang stress memikirkan anaknya pergi sekolah dengan risiko terancam tertular Covid-19.

Ketiga, menggeser tahun ajaran baru menghindarkan siswa dari penularan Covid-19, ujar Ramli.

Keempat, portal layanan pendidikan tak mampu menggantikan guru.

Menurut Ramli, portal-portal pendidikan berbayar maupun gratis hanya disiapkan untuk menghadapi ujian atau seleksi tertentu, bukan memenuhi capaian kurikulum.

"Kelima, menggeser tahun ajaran menjadikan tahun anggaran selaras dengan tahun ajaran. Fakta lapangan menunjukkan berbedanya tahun anggaran dan tahun ajaran mengakibatkan kepsek harus berutang ke mana-mana agar bisa menyelenggarakan ujian nasional karena dana Bos belum cair," ujarnya.

Keenam, pergeseran tahun ajaran bisa membantu orang tua mengatasi masalah ekonomi. Dengan anak didik kembali ke sekolah, bukan hanya kecemasan akan kesehatan yang datang tetapi juga biaya transportasi, biaya jajan dan biaya lainnya.

Ketujuh, enam bulan ini bisa digunakan untuk mendorong lahirnya ide-ide baru atau kreativitas-kreativitas baru dari anak didik. Hal ini perlu difasilitasi oleh pemerintah terutama kemdikbud.

Kedelapan, selama enam bulan ini Kemendikbud bisa berupaya maksimal memastikan seluruh sekolah di Indonesia terlayani jaringan internet dengan berbagai cara.

Kesembilan, Kemendikbud bisa segera menjalankan program digitalisasi sekolah dengan membagikan tablet terutama bagi sekolah yang paling banyak siswanya tak memiliki gadget.

"Jika Kemendikbud tetap ngotot untuk tidak menggeser tahun ajaran baru maka semua masalah diatas harus bisa diatasi," ujarnya.

Skenario Mendikbud Nadiem Makarim

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan telah menyiapkan berbagai skenario terkait permulaan tahun ajaran baru 2020/2021. Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang belum mereda di Tanah Air.

"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah siap dengan semua skenario," kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, Rabu (20/5/2020).

Nadiem menuturkan Kemendikbud terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Menurutnya, keputusan Kemendikbud terkait format pelaksanaan tahun ajaran baru akan merujuk pada kajian Gugus Tugas.

"Mohon menunggu, saya pun tidak bisa memberikan statement apapun keputusan itu, karena itu dipusatkan di Gugus Tugas. Tapi kami tentu terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas," jelasnya. Sementara itu, sebelumnya telah disampaikan bahwa Kemendikbud memutuskan tidak mengubah kalender akademik pendidikan pada masa pandemi Covid-19 ini.

Tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pertengahan Juli 2020

Sedangkan pembukaan kembali sekolah menunggu kondisi aman dari dampak Covid-19 sesuai dengan keputusan Gugus Tugas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan.

Karena itu, estimasi optimistis sekolah dibuka pada pertengahan Juli sesuai kalender pendidikan, dengan tetap mengacu protokol kesehatan.

Jika pada pertengahan Juli kasus Covid-19 masih tinggi dan pembatasan sosial berskala besar masih diberlakukan, pembelajaran jarak jauh untuk pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (PAUD Dikdasmen) tetap dilanjutkan.

”Sekolah dibuka kembali paling cepat pertengahan Juli 2020, tetapi harus dilihat kondisi pandemi Covid-19 ini. Kami hanya menyiapkan syarat dan prosedur. Terkait kondisi kesehatan dan keamanan terkait pandemi ini, itu ada di Satgas Covid-19 dan Kementerian Kesehatan,” kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal PAUD Dikdasmen Kemdikbud Hamid Muhammad, dilansir Kompas.id, Selasa (12/5/2020).

Skenario kedua, kata Hamid, pembukaan sekolah dilakukan secara parsial sesuai kondisi tiap-tiap daerah. Jika suatu daerah sudah dinyatakan aman dari Covid-19, sekolah bisa dibuka meski di daerah lain belum aman.

Namun, harus ada kepastian yang didukung data bahwa daerah tersebut betul-betul aman Covid-19, keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama. Sedangkan daerah yang belum aman tetap melanjutkan pembelajaran jarak jauh.

Hamid mengakui, pembelajaran jarak jauh yang diselenggarakan sejak pertengah Maret 2020 masih jauh dari sempurna, tetapi itu satu-satunya jalan agar pendidikan tetap berlanjut pada masa pandemi ini.

Karena itu, jika PSBB diperpanjang, perlu ada strategi khusus agar pembelajaran jarak jauh dapat berlangsung lebih efektif, terutama bagi siswa baru.

”Untuk siswa baru, harus ada pertemuan awal untuk memudahkan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, mengingat siswa dan guru belum saling kenal. Pertemuan awal ini tidak harus satu kelas bersama-sama, tetapi bisa bergantian dengan mengacu protokol kesehatan. Memang harus ada ekstra usaha dari sekolah dan guru,” ujar Hamid.

Artikel ini juga telah tayang di tribunnews.com

New Normal Dunia Pendidikan, Shift Kelas Bakal Diterapkan

One Be 5/28/2020
New Normal Dunia Pendidikan, Shift Kelas Bakal Diterapkan

Wacana penerapan new normal pastinya berdampak pada pelaksanaan Kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Penerapan sistem shift sesuai jumlah kelas tampaknya akan diterapkan dalam masa baru menghadapi pandemi Corona.

Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur, Prof Akhmad Muzakki berpendapat jika wacana kebijakan tersebut patut diapresiasi. Pasalnya, format kebijakan diambil di tengah kedaruratan pandemi Covid-19.

Tetapi model shift ini merupakan kerangka besarnya harus berdasarkan peningkatan skill dan strategi pembelajaran guru-guru. Agar shift dan kerangka besar ini bisa diisi secara variatif.

"Ini kebijakan yang harus ditunaikan paska dikeluarkannya kebijakan ini. Bagaimana proses pembelajaran tetap berlangsung di tengah pandemi, ini ikhtiar yang maksimal yang bisa dilakukan. Dibanding umpama pembelajaran di off hingga Januari. Sementara landainya data kurva epidemiologis Covid-19 belum tahu kapan berakhir," ungkapnya.

Di lain sisi, kekhawatiran orang tua jika anak-anak harus masuk seperti situasi normal sulit direalisasikan. Karena itu, menurut Prof Muzakki, kebijakan yang diambil pemerintah dalam penerapan sistem shift tepat untuk membuat suasana belajar tetap aman dan nyaman. 

Dengan kebijakan seperti ini pasti akan mempengaruhi kualitas pendidikan. Karena situasi normal dan darurat akan berbeda. Karena kita sedang menuju new normal. Di ruang seperti itu, di masa transisi penyesuaian harus ada. Sementara di lain sisi harus memperhatikan kedaruratan kesehatan," paparnya.

Dikatakan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (Uinsa) Surabaya ini, ada dua isu penting yang juga harus diperhatikan oleh pemerintah.

Pertama kejenuhan yang terjadi tidak hanya dirasakan oleh siswa namun juga orangtua yang penting untuk diantisipasi. Sebab, selama hampir dua bulan lebih para siswa diajak untuk melakukan proses pembelajaran dari rumah.

Sedangkan tanggungjawab guru juga tidak kalah berat di tengah masa pandemi Covid-19.

"Masyarakat belum terbiasa dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan menggunakan internet. Jika dulu pembelajaran bisa dilakukan jauh-jauh hari. Sekarang mereka (akan) dipacu (di masa New Normal). Dan Ini (kebijakan) paling rasional yang bisa diambil," jelas dia.

Namun, dengan situasi tersebut Prof Muzakki menuturkan akan berdampak pada kepentingan pembangunan karakter. Masa belajar juga akan berpengruh pada kedalaman pemahan pada pembelajaran yang diperoleh.

"Jadi guru harus berpikir, mencari sesuatu yang inovatif. Agar anak-anak (dalam masa penyesuaian ini) tidak jenuh. Sebab ancaman kejenuhan akan tinggi. Inovasi strategi guru akan dituntut," kata Prof Muzakki.

Sementara itu, Kepala SMKN 6 Surabaya, Bahrun menuturkan formulasi sistem shift KBM akan dibahas pada Rabu (27/5). Paling tidak, ada solusi untuk meminimalisir kejenuhan siswa selama masa belajar dari rumah sejak pertengahan Maret lalu.

"Ini masih rancangan dan mencari bentuk (formulasi) dan hasilnya akan dirapatkan dengan dewan guru. Yang jelas masukan guru-guru akan kami tampung. (Pastinya) nanti akan kita lakukan pysichal distancing. Dalam satu kelas sehari bisa digilir. Kami akan buat seminggu separoh (kelas). Atau dalam sehari bisa dibuat kelas pagi dan siang," katanya.

Dikatakan Bahrun, untuk jam praktikum siswanya tidak ada masalah. Hanya saja untuk jurusan perhotel, ada sedikit kendala pasalnya mereka ada kurikulum making bath.

"Yang biasanya mereka menggunakan lab. Jadi dengan adanya masa pandemi kemarin pada mapel making bath mereka menggunakan bath nya masing-masing. Kemudian divideokan dikirim dan dinilai oleh para guru," paparnya.

Artikel ini telah tayang di tribunnews.com

Surat Terbuka Untuk Mendikbud, Orang Tua Siswa Berutang Demi Belajar Online

One Be 5/28/2020
Surat Terbuka Untuk Mendikbud, Orang Tua Siswa Berutang Demi Belajar Online
Surat Terbuka untuk Mendikbud Nadiem Makarim dari Alfiatus Sholehah (Instagram)

Alfiatus Sholehah, siswi kelas 5 SDN Pademawu Barat 1, Pamekasan, Madura, Jawa Timur menulis surat terbuka kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim.

Ia mengeluhkan proses belajar di rumah dengan sistem daring atau online. Sebab, orang tua Alfiatus sampai berhutang untuk membeli kuota internet.

Surat Alfiatus Sholehah ini memenangkan Lomba Menulis Surat untuk Mendikbud. Suratnya diunggah ke akun media sosial Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada Rabu (27/5/2020).

Dalam surat itu Alfiatus mengatakan kepada Nadiem bahwa orang tuanya bekerja sebagai buruh tani.

"Bapak menteri..saya dilahirkan dari keluarga yang kurang mampu orang tua saya hanya buruh tani, dengan adanya corona saya jadi bingung karena belajarnya harus pake HP Android, sedangkan saya tidak punya. Saya juga merasa kasihan karena ibu saya harus cari hutangan untuk membeli paket internetnya agar saya bisa belajar di rumah, tapi saya ingin segera masuk sekolah, ingin ketemu guru dan teman-teman saya, apalagi sekarang bulan ramadhan. Biasanya di sekolah diadakan kegiatan pondok ramadhan karena corona semua itu tidak ada," tulis Alfiatus dalam suratnya.

Alfiatus juga mengharapkan bantuan paket internet agar dapat belajar di rumah sehingga orang tuanya tidak perlu berhutang.

"Tanggal 13 Mei 2020 menulis surat untuk mas Menteri Nadiem Makarim. Tanggal 17 Mei 2020 ditelepon dari Kementerian Pendidikan bahwa menang sebagai juara III. Juga persiapan video call dengan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim," tutur Alfiatus Sholehah dikutip dari suaraindonesia.co.id -- jaringan Suara.com, Kamis (28/5/2020).

Lalu pada tanggal 18 Mei 2020, Alfiatus dan pemenang lomba lainnya melakukan video call dengan Mendikbud Nadiem.

"Tanggal 18 Mei 2020 saya video call dengan mas Menteri Nadiem Makarim. Dipesankan harus lebih semangat dalam belajar meskipun dalam masa pandemi Covid-19," ujar Alfiatus.

Surat ini viral di media sosial hingga membuat Kapolres Pamekasan AKBP Djoko Lestari turun tangan memberikan bantuan.

AKBP Djoko juga mendukung agar Alfiatus Sholehah terus rajin belajar secara online di masa pandemi Covid-19. Ia memberikan bantuan handphone Android dan biaya paket internet kepada siswi tersebut.

"Kami bantu handphone Android dan biaya paket internet supaya Alfiatus belajarnya lancar dan cita-citanya tercapai ingin menjadi dokter," ucap Kapolres Pamekasan.

Ia pun berpesan agar Alfiatus terus semangat dalam belajar untuk mencapai cita-cita.

"Jangan patah semangat meskipun orang tua pekerjaan sebagai buruh tani, Alfiatus harus lebih tekun belajar supaya tercapai cita citanya. Sesuai pesan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, harus lebih semangat belajar meskipun masa pandemi Covid-19," ujarnya.

AKBP Djoko berharap, bahwa handphone dan paket internet yang diberikan dapat menambah semangat Alfiatus dalam belajar.

"Ini sebagai bentuk kepedulian saya agar Alfiatus lebih semangat belajar dan gunakan handphone untuk mendukung proses belajar jarak jauh selama masa pandemi Covid-19. Semangat belajar supaya tercapai cita-citanya menjadi dokter," pungkasnya.

Artikel ini telah tayang di jatim.suara.com