Showing posts with label Penilaian Otentik. Show all posts
Showing posts with label Penilaian Otentik. Show all posts

12 Model Penilaian Otentik dan Langkah-langkah Penyusunan Penilaian

12 Model Penilaian Otentik dan Langkah-langkah Penyususnan Penilaian

BlogPendidikan.net
- Model penilaian yang dapat dikembangkan untuk kegiatan penilaian otentik antara lain penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio, penilaian diri, penilaian antar teman, jurnal, penilaian tertulis, eksperimen atau demonstrasi, pertanyaan terbuka, pengamatan, menceriakan kembali teks, dan menulis sampel teks.

Tentang Penilaian Otentik

Penilaian otentik adalah merupakan salah satu bentuk penilaian hasil belajar peserta didik yang didasarkan atas kemampuannya menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan yang nyata di sekitarnya. Makna otentik adalah kondisi yang sesungguhnya berkaitan dengan kemampuan peserta didik.

Dalam kaitan ini, peserta didik dilibatkan secara aktif dan realisitis dalam menilai kemampuan atau prestasi mereka sendiri. Dengan demikian, pada penilaian otentik lebih ditekankan pada proses belajar yang disesuaikan dengan situasi dan keadaan sebenarnya, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas.

Berikut 12 model penilaian Otentik yang diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas :

1. Penilaian Kinerja

Penilaian kinerja sering disebut sebagai penilaian unjuk kerja (performance assessment). Bentuk penilaian ini digunakan untuk mengukur status kemampuan belajar peserta didik berdasarkan hasil kerja dari suatu tugas. Pada penilaian kinerja peserta didik diminta untuk mendemonstrasikan tugas belajar tertentu dengan maksud agar peerta didik mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Instrumen yang dapat digunakan untuk merekam hasil belajar pada penilaian kinerja ini antara lain: daftar cek (check list), catatan anekdot/narasi, skala penilaian ( rating scale).
2. Penilaian Proyek

Penilaian proyek (project assessment)adalah bentuk penilaian yang diujudkan dalam bentuk pemberian tugas kepada peserta didik secara berkelompok. Penilaian ini difokuskan pada penilaian terhadap tugas belajar yang harus diselesaikan oleh peserta didik dalam periode/waktu tertentu. Penilaian proyek dapat juga dikatakan sebagai penilaian berbentuk penugasan yang bertujuan untuk mengukur kemampuan peserta didik menghasilkan karya tertentu yang dilakukan secara berkelompok.

3. Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio merupakan salah satu penilaian otentik yang dikenakan pada sekumpulan karya peserta didik yang diambil selama proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu. Karya-karya ini berkaitan dengan mata pelajaran dan disusun secara sistematis dan terorganisir.

Proses penilaian portofolio dilakukan secara bersama antara antara peserta didik dan guru. Hal ini dimaksudkan untuk menentukan fakta-fakta peserta didik dan proses bagaimana fakta-fakta tersebut diperoleh sebagai salah satu bukti bahwa peserta didik telah memiliki kompetensi dasar dan indikator hasil belajar sesuai dengan yang telah ditetapkan.

4. Jurnal

Jurnal belajar merupakan rekaman tertulis tentang apa yang dilakukan peserta didik berkaitan dengan apa-apa yang telah dipelajari. Jurnal belajar ini dapat digunakan untuk merekam atau meringkas aspek-aspek yang berhubungan dengan topik-topik kunci yang dipelajari. 
Misalnya, perasaan siswa terhadap suatu pelajaran, kesulitan yang dialami, atau keberhasilan di dalam memecahkan masalah atau topik tertentu atau berbagai macam catatan dan komentar yang dibuat siswa. 

Jurnal merupakan tulisan yang dibuat peserta didik untuk menunjukkan segala sesuatu yang telah dipelajari atau diperoleh dalam proses pembelajaran. Jadi, jurnal dapat juga diartikan sebagai catatan pribadi siswa tentang materi yang disampaikan oleh guru di kelas maupun kondisi proses pembelajaran di kelas.

5. Penilaian Tertulis

Penilaian tertulis mensuplai jawaban isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek dan uraian. Penilaian tertulis yang termasuk dalam model penilaian otentik adalah penilaian yang berbentuk uraian atau esai yang menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi dan sebagainya atas materi yang telah dipelajari. 

6. Penilaian Diri

Penilaian diri(self assessment)adalah suatu teknik penilaian di mana peserta didik diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan proses dan tingkat pencapaian kompetensi yang diperolehnya dalam pelajaran tertentu. Dalam proses penilaian diri, bukan berarti tugas pendidik untuk menilai dilimpahkan kepada peserta didik semata dan terbebas dari kegiatan melakukan penilaian. Dengan penilaian diri, diharapkan dapat melengkapi dan menambah penilaian yang telah dilakukan pendidik.

7. Penilaian Antar Teman

Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai temannya terkait dengan pencapain kompetensi, sikap, dan perilaku keseharian peserta didik. Penilaian ini dapat dilakukan secara berkelompok untuk mendapatkan informasi sekitar kompetensi peserta didik dalam kelompok. Informasi ini dapat dijadikan sebagai bahan menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik.

8. Pertanyaan Terbuka

Penilaian otentik juga dilakukan dengan cara meminta peserta didik membaca materi pelajaran, kemudian merespon pertanyaan terbuka. Penilaian ini lebih difokuskan terhadap bagaimana peserta didik mengaplikasikan informasi daripada seberapa banyak peserta didik memanggil kembali apa yang telah diajarkan. Pertanyaan terbuka tersebut harus dibatasi supaya jawabannya tidak terlalu luas dan bermakna sesuai dengan tujuannya.
9. Menceritakan Kembali Teks atau Cerita

Menceritakan kembali teks atau cerita merupakan model penilaian otentik yang meminta peserta didik membaca atau mendengarkan suatu teks kemudian menceritakan kembali ide pokok atau bagian yang dipilihnya. Penilaian model ini dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan peserta didik dalam mengungkapkan kembali apa yang sudah dibaca tidak sebatas pada apa yang didengar. 

10. Menulis Sampel Teks

Menulis sampel teks adalah bentuk penilaian yang meminta peserta didik untuk menulis teks narasi, ekspositori, persuasi, atau kombinasi berbeda dari teks-teks tersebut. Penggunaan model penilaian ini disarankan menggunakan rubrik yang dapat menilai secara analitis dan menyeluruh dalam ranah penulisan, seperti kosakata, komposisi, gaya bahasa, konstruksi kalimat, dan proses penulisan.

11. Ekperimen atau Demonstrasi

Pada penilaian melalui eksperimen atau demonstrasi peserta didik diminta melakukan eksperimen dengan bahan sebenarnya atau mengilustrasikan bagaimana sesuatu bekerja. Peserta didik dapat dinilai dengan menggunakan rubrik berdasarkan semua aspek yang dilakukan sesuai dengan karakteristik materi yang dieksperimenkan.

12. Pengamatan

Pada penilaian dengan pengamatan pendidik mengamati perhatian peserta didik dalam mengerjakan tugas, responnya terhadap berbagai jenis tugas, atau interaksi dengan peserta didik lain ketika sedang bekerja kelompok. Pengamatan dapat dilakukan dalam pembelajaran secara spontan maupun dengan perencanaan sebelumnya.

Langkah-Langkah Penyusunan Penilaian Otentik

Untuk dapat melaksanakan penilaian otentik secara tepat dan benar perlu diperhatikan beberapa langkah seperti berikut :
  1. Identifikasi dan Penentuan Standar yang akan dicapai. Tentukan kriteria keberhasilan belajar yang harus dikuasai oleh peserta didik secara jelas dan terukur.
  2. Penentuan Tugas Otentik. Tentukan tugas-tugas belajar yang harus dikerjakan oleh peserta didik dengan memperhatikan keterkaitan antara kompetensi belajar dan dunia nyata.
  3. Pembuatan Kriteria Tugas Otentik. Kriteria dalam penilaian otentik digunakan untuk menilai seberapa baik peserta didik menyelesaikan tugas dan seberapa baik mereka telah memenuhi standar. Kemampuan peserta didik pada suatu tugas ditentukan dengan mencocokkan kinerja peserta didik terhadap seperangkat kriteria untuk menentukan sejauh mana kinerja peserta didik memenuhi kriteria untuk tugas tersebut.
  4. Pembuatan Rubrik. Rubrik digunakan sebagai patokan untuk menentukan tingkat pencapaian peserta didik. Rubrik biasanya dibuat dengan berisi kriteria penting dan tingkat capaian kriteria yang bertujuan untuk mengukur kinerja peserta didik. Kriteria dirumuskan dengan kata-kata tertentu yang menunjukkan apa yang harus dicapai peserta didik. Tingkat capaian kinerja ditunjukkan dalam bentuk angka-angka, besar kecilnya angka tersebut bermakna tinggi rendahnya capaian hasil belajar peserta didik.
  5. Pengolahan Skor Penilaian Otentik. Hasil belajar peserta didik pada penilaian otentik berujud sekor. Sekor ini merupakan jumlah jawaban benar peserta didik yang merupakan hasil koreksi dari pendidik terhadap pekerjaan peserta didik. Proses penyekoran dapat dilakukan secara langsung, namun demikian lebih baik jika proses penilaian menggunakan rubrik. Sekor hasil belajar otentik ini selanjutnya dianalisis dan diolah menjadi nilai. Nilai ini menunjukkan bentuk kualitatif capaian hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran.
Demikian artikel ini tentang 12 Model Penilaian Otentik dan Langkah-langkah Penyususnan Penilaian, semoga bermanfaat dan terima kasih.

Rujukan :
Modul PPG Daring. Kegiatan Belajar. Penilaian Otentik Tahun 2019.

Sasaran Penilaian Siswa Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan

Sasaran Penilaian Siswa Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan - www.blogpendidikan.net

BlogPendidikan.net
- Penilaian otentik adalah merupakan salah satu bentuk penilaian hasil belajar peserta didik yang didasarkan atas kemampuannya menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan yang nyata di sekitarnya. Makna otentik adalah kondisi yang sesungguhnya berkaitan dengan kemampuan peserta didik.

Dalam kaitan ini, peserta didik dilibatkan secara aktif dan realisitis dalam menilai kemampuan atau prestasi mereka sendiri. Dengan demikian, pada penilaian otentik lebih ditekankan pada proses belajar yang disesuaikan dengan situasi dan keadaan sebenarnya, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas. 
Pada penilaian otentik, peserta didik diarahkan untuk melakukan sesuatu dan bukan sekedar hanya mengetahui sesuatu, disesuaikan dengan kompetensi mata pelajaran yang diajarkan. Di samping itu, pada penilaian otentik, penilaian hasil belajar peserta didik tidak hanya difokuskan pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik.

Berikut Sasaran Penilaian Siswa Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan:

1. Sasaran Penilaian Aspek Pengetahuan

Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)

Kemampuan peserta didik untuk mengingat-ingat kembali (recall) istilah, fakta- fakta, metode, prosedur, proses, prinsip-prinsip, pola, struktur atau susunan. Contoh beberapa kata kerja operasional adalah: mengutip, meniru, mencontoh, membuat label, membuat daftar, menjodohkan, menghafal, menyebutkan , mengenal, mengingat, menghubungkan, membaca, menulis, mencatat, mentabulasi, mengulang, menggambar, memilih dan memberi kode. 
Pemahaman (comprehension)

Kemampuan seseorang dalam: menafsirkan suatu informasi, menentukan implikasi-implikasi, akibat-akibat maupun pengaruh-pengaruh. Beberapa kata kerja operasional adalah memperkirakan, mencirikan, merinci, mambahas, menjelaskan, menyatakan, mengenali, menunjukkan, melaporkan, mengulas, memilah, menceritakan, menerjemahkan, mengubah, mempertahankan, mempolakan, mengemukakan, menyipulkan, meramalkan, dan merangkum.

Penerapan (application)

Kemampuan menerapkan abstraksi-abstraksi: hukum, aturan, metoda, prosedur, prinsip, teori yang bersifat umum dalam situasi yang khusus. Beberapa kata kerja operasional adalah menyesuaikan, menentukan, mencegah, memecahkan, menerapkan, mendemonstrasikan, mendramatisasikan, menggunakan, menggambarkan, menafsirkan, menjalankan, menyiapkan, mempraktekkan, menjadwalkan, membuat gambar, mensimulasikan, mengoperasikan, memproduksi, mengkalkulasi, dan menyelesaikan (masalah).
Analisis (analysis)

Kemampuan menguraikan informasi ke dalam bagianbagian, unsur-unsur, sehingga jelas: urutan ide-idenya, hubungan dan interaksi diantara bagian-bagian atau unsur-unsur tersebut. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah menganalisis, menghitung, mengelompokkan, membandingkan, membuat diagram, meneliti, melakukan percobaan, mengkorelasikan, menguji, mengkorelasikan, merasionalkan, menginventarisasikan, menanyakan, mentransfer, menelaah, mendiagnosis, mengaitkan, dan menguji.

Evaluasi/penghargaan/evaluasi (evaluation)

Kemampuan untuk menilai ketepatan: teori, prinsip, metoda, prosedur untuk menyelesaikan masalah tertentu. Beberapa kata operasional yang menunjukkan kemampuan pada tingkat analisis ini antara lain adalah mendebat, menilai, mengkritik, membandingkan, mempertahankan, membuktikan, memprediksi, memperjelas, memutuskan, memproyeksikan, menafsirkan, mempertimbangkan, meramalkan, memilih, dan menyokong. 
Kreatif

Kemampuan mengambil informasi yang telah dipelajari dan melakukan sesuatu atau membuat sesuatu yang berbeda dengan informasi itu. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah membangun, mengkompilasi, menciptakan, mengabstraksi, mengarang, mengkategorikan, merekonstruksi, memproduksi, memadukan, mereparasi, menanggulangi, menganimasi, mengoreksi, memfasilitasi, menampilkan, menyiapkan, mengatur, merencanakan, meningkatkan, merubah, mendesain, menyusun, memodifikasi, menguraikan, menggabungkan, mengembangkan, menemukan, dan membuat.

2. Sasaran Penilaian Aspek Sikap

Menerima (receiving) 

Kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah memilih, mempertanyakan, mengikuti, memberi, menganut, mematuhi, meminati.
Menanggapi (responding)

Kemampuan seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah menjawab, membantu, mengajukan, mengompromikan, menyenangi, menyambut, menampilkan, mendukung, menyetujui, menampilkan, mepalorkan, mengatakan, menolak.

Menilai (valuing)

Kemampuan seseorang untuk menghargaiatau menilai sesuatu. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengasumsikan, meyakini, melengkapi, meyakinkan, memperjelas, memprakarsai, mengimani, mengundang, menggabungkan, memperjelas, mengusulkan, menekankan, menyumbang.
Mengelola/mengatur (organization)

Kemampuan seseorang untuk mengatur atau mengelola perbedaan nilai menjadi nilai baru yang universal. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengubah, menata, mengklasifikasi, mengkombinasikan, mempertahankan, membangun, membentuk pendapat, memadukan, mengelola,
mengorganisasi, menegosiasi, merembuk.

Menghayati (characterization)

Kemampuan seseorang untuk memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya dalam waktu yang cukup lama dan menjadi suatu pilosofi hidup yang mapan. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengubah perilaku, barakhlak mulia, mempengaruhi, mendengarkan, mengkualifikasi, melayani, menunjukkan, membuktikan, memecahkan.
3. Sasaran Penilaian Aspek Keterampilan

Persepsi (perception) 

Mencakup kemampuan mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua atau lebih perangsang menurut ciri-ciri fisiknya.Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengidentifikasi, mempersiapkan, menunjukkan, memilih, membedakan, menyisihkan, dan menghubungkan.

Kesiapan (set) 

Yakni menempatkan diri dalam keadaan akan memulai suatu gerakan. Beberapa kata kerja opersional antara lain menunjukkan, menafsirkan, menerjemahkan, memberi contoh, mengklasifikasikan, merangkum, memetakan menginterpolasikan, mengekstrapolasikan, membandingkan, dan mengkontraskan,
Gerakan terbimbing (guided response)

Kemampuan untuk melakukan serangkaian gerak sesuai contoh. Contoh kata kerja operasional antara adalah mendemonstrasikan, melengkapi, menunjukkan, menerapkan, dan mengimplementasikan.

Gerakan terbiasa (mechanical response)

Kemampuan melakukan gerakan dengan lancar karena latihan cukup. Contoh kata kerja operasional antara lain menguraikan, menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, membuat pola, dan menyusun.

Gerakan kompleks (complex response)

Kemampuan melaksanakan keterampilan yang meliputi beberapa komponen dengan lancar, tepat, urut, dan efisien. Contoh kata kerja operasional antara lain membuat hipotesis, merencanakan, mendesain, menghasilkan, mengkonstruksi, menciptakan, dan mengarang.
Penyesuaian pola gerakan(adjusment)

Kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerakan sesuai kondisi yang dihadapi. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengubah, mengadaptasikan, mengatur kembali, dan membuat variasi.

Kreativitas(creativity)

Berupa kemampuan untuk menciptakan pola gerakan baru berdasarkan inisiatif dan prakarsa sendiri. Contoh kata kerja operasional adalah merancang, menyusun, menciptakan, mengkombinasikan, dan merencanakan. 

Penilaian Otentik dan Perbedaannya Dengan Penilaian Biasa (Tradsional)

Penilaian Otentik dan Perbedaannya Dengan Penilaian Biasa (Tradsional)

BlogPendidikan.net
- Sebagian besar guru tidak tertarik dan tidak mau menggunakan penilaian otentik atau penilaian berbasis kinerja. Pada umumnya mereka berpendapat bahwa melakukan penilaian otentik itu membuang waktu dan energi serta terlalu mahal. Apalagi penilaian otentik perlu dirancang dengan baik. 

Pendapat tersebut tentunya tidak benar. Menilai kinerja dengan tes tertulis tentu tidak valid, karena tidak mengukur apa yang ingin dinilai. Kinerja perlu dinilai pada saat kegiatannya sedang berlangsung. 

Kalau penilaian kinerja dilakukan terhadap sejumlah siswa dan tidak dirancang dulu atau dilakukan asal-asalan, tentu hasilnya tidak dapat dipertanggung-jawabkan karena tidak konsisten. Dengan demikian kita mungkin berlaku tidak adil terhadap sejumlah siswa dalam menilai kinerja mereka. 

Penilaian Otentik

Penilaian otentik merupakan penilaian langsung dan ukuran langsung. Ketika melakukan penilaian, banyak kegiatan yang akan lebih jelas apabila dinilai langsung, umpamanya kemampuan berargumentasi atau berdebat, keterampilan menggunakan komputer dan keterampilan melaksanakan percobaan. Begitu pula menilai sikap atau perilaku siswa terhadap sesuatu atau pada saat melakukan sesuatu.

Menurut Jon Mueller, penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna. 

Pendapat serupa dikemukakan oleh Richard J. Stiggins, bahkan Stiggins menekankan keterampilan dan kompetensi spesifik, untuk menerapkan keterampilan dan pengetahuan yang sudah dikuasai. Hal itu terungkap dalam cuplikan kalimat berikut ini: “performance assessments call upon the examinee to demonstrate specific skills and competencies, that is, to apply the skills and knowledge they have mastered” (Stiggins)

Grant Wiggins, menekankan hal yang lebih unik lagi. Beliau menekankan perlunya kinerja ditampilkan secara efektif dan kreatif. Selain itu tugas yang diberikan dapat berupa pengulangan tugas atau masalah yang analog dengan masalah yang dihadapi orang dewasa (warganegara, konsumen, professional) di bidangnya.

Perbedaan Penilaian Otentik dengan Penilaian Biasa (Tradisional)

Perbandingan/Perbedaan berikut ini sangat disederhanakan, tetapi diharapkan dapat menggambarkan perbedaan pandangan dan asumsi dari kedua pendekatan penilaian tersebut. Penilaian tradisional merujuk pada ukuran-ukuran yang dipaksakan seperti tes pilihan ganda, isian, benar salah, menjodohkan dan bentuk-bentuk serupa lainnya yang biasa digunakan dalam pendidikan. 

Biasanya siswa memilih satu jawaban atau memanggil informasi untuk dilengkapi. Bentuk- bentuk semacam itu mungkin yang dibakukan atau buatan guru, dan dilaksanakan pada tingkat lokal, regional, nasional atau bahkan internasional.

Dibalik penilaian tradisional dan penilaian otentik ada suatu keyakinan bahwa misi utama sekolah adalah membantu warga nagara produktif. Esensi dari kedua pandangan tersebut berbeda. Berikut akan disampaikan perbedaannya yang esensi.

Menurut pandangan penilaian tradisional (biasa) untuk menjadi warga yang produktif seseorang harus memiliki sejumlah pengetahuan dan keterampilan tertentu. Oleh sebab itu sekolah harus membekali siswa sejumlah keterampilan dan pengetahuan tersebut. 

Untuk menetapkan berhasil tidaknya, sekolah seyogianya mengetes para siswanya apakah mereka menguasai pengetahuan dan keterampilan tersebut. Jadi, dalam penilaian tradisional sejumlah pengetahuan ditetapkan terlebih dahulu. 

Dengan demikian jadilah pengetahuan tersebut kurikulum yang perlu dicapai atau disampaikan. Akibatnya penilaian (asesmen) dikembangkan dan dilaksanakan untuk menentukan apakah terjadi pencapaian kurikulum tersebut atau tidak.

Sebaliknya penilaian otentik berangkat dari alasan dan praksis sebagai berikut. Salah satu misi sekolah adalah mengembangkan warganegara produktif. Untuk menjadi seorang warganegara yang produktif, seseorang harus mampu menampilkan sejumlah task yang bermakna di dunia sesungguhnya. 

Akibatnya, sekolah harus membantu para siswanya menjadi mahir dalam menampilkan sejumlah tugas yang akan dikuasai saat mereka lulus. Untuk menentukan apakah berhasil atau tidak, sekolah seyogianya meminta siswa menampilkan tugas-tugas bermakna yang menyerupai tantangan dunia sesungguhnya untuk melihat apakah siswa-siswa tersebut mampu melakukannya.

Jadi, dalam penilaian otentik, penilaian menggiring kurikulum, yang berarti bahwa guru mestinya pertama-tama menetapkan sejumlah tugas yang harus ditampilkan oleh para siswa tentang hal-hal yang telah dikuasainya. 

Selanjutnya dikembangkan sebuah kurikulum yang memungkinkan siswa menampilkan kinerjanya dengan baik, yang dengan sendirinya melibatkan penguasaan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang esensi. Hal ini berarti merancang dengan langkah mundur.

Penilaian otentik merupakan pelengkap dari penilaian tradisional. Dengan demikian mestinya perlu ditetapkan atribut-atribut yang cocok untuk kedua bentuk penilaian yang saling melengkapi tersebut.

Rujukan : Penilaian Otentik (Authentic Assessment) dan Penerapannya Dalam Pendidikan Sains Oleh : Nuryani Y. Rustaman, FPMIPA & Sekolah Pascasarjana UPI