Showing posts with label Penilaian. Show all posts
Showing posts with label Penilaian. Show all posts

Mengenal Perbedaan Pengukuran, Penilaian, Assesment dan Evaluasi

Perbedaan Pengukuran, Penilaian, Assesment dan Evaluasi

BlogPendidikan.net
- Melihat sepintas dari judul artikel diatas, terlihat tidak jauh perbedaannya, namun dari masing-masing hal diatas memiliki pengertian yang berbeda-beda dan cara penempatan penggunaan istilah Pengukuran, Penilaian, Assesment dan Evaluasi serta instrumen yang digunakan. Mari kita bahas satu persatu dari empat istilah tersebut.

Pengukuran

Istilah pengukuran sering kita dengar dan dilakukan dalam aktivitas sehari-hari di berbagai aspek kehidupan. Contohnya ketika seseorang akan membuat pakaian maka penjahit akan mengukur berapa tinggi badan, lingkar pinggang, lebar bahu, dan sebagainya. Begitu juga ketika seseorang sakit dan pergi ke dokter, maka perlu pengukuran tensi darah, berat badan, atau tinggi badan untuk mendiagnosa penyakitnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengukuran adalah proses, cara, perbuatan mengukur. Sedangkan mengukur adalah menghitung ukurannya (panjangnya, luasnya, lebarnya, besarnya, dsb.) dengan alat tertentu. 

Contohnya mengukur massa dengan timbangan, mengukur waktu dengan stopwatch/jam, mengukur kecepatan dengan spidometer, mengukur suhu dengan termometer, mengukur kuat arus listrik dengan ampere meter, dan lain sebagainya, dimana pengukuran ini bersifat kuantitatif yaitu berupa angka atau bilangan.

Sementara pengukuran dalam pendidikan adalah kegiatan menentukan kuantitas suatu objek, menggunakan alat ukur dengan standar dan aturan tertentu. Objek disini bisa mengandung arti guru, peserta didik, papan tulis, gedung sekolah, meja belajar dll. 

Beberapa objek pengukuran dalam bidang pendidikan antara lain:
  1. Prestasi hasil belajar siswa diukur menggunakan tes.
  2. Sikap diukur dengan instrument skala likert, skala thurstone, dan semantik diferensial.
  3. Motivasi diukur dengan instrument berbentuk skala yang dikembangkan dari berbagai teori motivasi.
  4. Intelegensi diukur dengan tes Binet Simon, tes Stanford Binet, tes intelegensi multiple, dan tes Wechsler.
  5. Kecerdasan Emosional dapat diukur dengan instrumen yang dikembangkan dari teori emosional.
  6. Minat diukur dengan instrumen minat.
  7. Kepribadian diukur menggunakan tes Q-sort.
Penilaian

Penilaian berkaitan dengan pengambilan keputusan berdasarkan pada nilai. Nilai tidak terlepas dari skor, dimana skor merupakan jumlah jawaban yang benar dalam mengerjakan soal. Sedangkan nilai menurut Arikunto merupakan ‘ubahan dari skor hasil pengukuran menurut acuan dan skala tertentu’.

Misalnya: Doni siswa SDN 1 Tasikmalaya dapat mengerjakan soal dengan benar sebanyak 22 butir soal dari 30 butir soal yang diujikan dengan skala penilaian 0-100 dan acuan standar minimal adalah 60. Maka nilai siswa tersebut adalah (22/30) X 100= 73. Karena nilainya lebih besar dari acuan yang telah ditentukan, maka penilaiannya dinyatakan lulus. 
Berdasarkan contoh di atas, acuan merupakan batas lulus atau standar kriteria kelulusan. Sedangkan skala merupakan batasan nilai terendah sampai tertinggi. Maka dari itu penilaian merupakan suatu keputusan “lulus-tidak lulus”, “baik-buruk”, “memuaskan-tidak memuaskan”, dan “berhasil-gagal”.

Penilaian proses belajar merupakan suatu kegiatan menilai kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam rangka mencapai tujuan-tujuan pengajaran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penilaian dalam kaitannya dengan proses pembelajaran merupakan suatu proses pemberian nilai berdasarkan kriteria tertentu yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan ketercapaian tujuan intruksional yang telah ditentukan.

Assesment

Istilah evaluasi dan assessment sering kali dipertukarkan, namun pada dasarnya dari kedua istilah tersebut terdapat perbedaan yang esensial. Dalam hal ini assessment dinyatakan sebagai suatu cara untuk mengungkap proses dan kemajuan belajar siswa. Sedangkan evaluasi dinyatakan sebagai pemberian nilai (judgement) terhadap hasil belajar berdasarkan data yang diperoleh melalui assessment.(Wahyudin, dkk)

Pada hakikatnya assessment menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. Berkaitan dengan hal tersebut, (Marzano et all) menyatakan bahwa dalam mengungkap penguasaan konsep, assessment tidak hanya mengungkap konsep yang telah dicapai siswa tetapi juga perkembangan bagaimana suatu konsep itu diperoleh. Oleh karena itu, assessment tidak hanya menilai proses dan hasil belajar siswa tetapi juga kemajuan belajarnya.

Assessment pada dasarnya merupakan alat (the means) dan bukan merupakan tujuan (the end), sehingga assessment merupakan sarana yang digunakan sebagai alat untuk melihat dan menganalisis apakah siswa telah mencapai hasil belajar yang diharapkan serta untuk mengetahui apakah proses pembelajaran telah sesuai dengan tujuan atau masih memerlukan pengembangan dan perbaikan. 

Dalam pelaksanaannya, assessment pembelajaran merupakan kegiatan yang berkaitan dengan mengukur dan menilai aspek psikis yang berupa proses dan hasil belajar yang bersifat abstrak, karena itu assessment hendaknya dilakukan dengan cermat. (Matondang).

Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan assessment adalah proses pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dalam menentukan pencapaian hasil belajar siswa.

Evaluasi

Arikunto, menyatakan bahwa “Evaluasi merupakan sebuah proses pengumpulan data untuk menentukan sejauh mana, dalam hal apa, dan bagian mana tujuan pendidikan sudah tercapai”. Menurut Groundlund dan Linn, mengatakan bahwa ” Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi secara sistematik untuk menetapkan sejauh mana ketercapaian tujuan pembelajaran.” 

Evaluasi merupakan proses memahami, memberi arti, mendapatkan dan mengomunikasikan suatu informasi bagi keperluan pengambil keputusan.

Dari pendapat-pendapat diatas dapat saya simpulkan bahwa Evaluasi memiliki beberapa kata kunci, diantaranya :
  1. Suatu kegiatan atau suatu proses
  2. Pengumpulan data
  3. Pelaksanaannya sistematis
  4. Sebagai tolak ukur
  5. Penentu tercapai atau tidaknya suatu tujuan
  6. Penarik kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa hakekat Evaluasi adalah suatu kegiatan yang didalamnya terdapat proses pengumpulan data sampai pengolahan data yang hasilnya sebagai tolak ukur dalam menentukan kondisi dimana suatu tujuan telah tercapai.

Dapat disimpulkan secara singkat dari masing-masing pengertian diatas, jelas berbeda antara Pengukuran, Penilaian, Assesment dan Evaluasi dari segi pengertian dan cara penggunaan istilah pada proses pembelajaran.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan). Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menggunakan Portofolio Siswa

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menggunakan Portofolio Siswa

BlogPendidikan.net 
- Penilaian dengan memanfaatkan Portofolio merupakan penilaian melalui sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. 

Portofolio digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau secara terus menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam bidang tertentu. Dengan demikian penilaian portofolio memberikan gambaran secara menyeluruh tentang proses & pencapaian hasil belajar peserta didik.

Penilaian Portofolio

Portofolio merupakan bagian terpadu dari pembelajaran sehingga guru mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam menguasai kompetensi pada suatu tema. Misalnya kompetensi pada tema “selalu berhemat energy”. Contoh kompetensi membuat laporan hasil percobaan.
Kemampuan membuat laporan hasil percobaan tentu tidak seketika dikuasai peserta didik, tetapi membutuhkan proses panjang, dimulai dari penulisan draf, perbaikan draf, sampai laporan akhir yang siap disajikan. 

Selama proses ini diperlukan bimbingan guru melalui catatan-catatan tentang karya peserta didik sebagai masukan perbaikan lebih lanjut.

Kumpulan karya anak sejak draf sampai laporan akhir berserta catatan catatan sebagai masukan guru inilah, yang menjadi portofolio. 

Di samping memuat karya-karya anak beserta catatan guru, terkait kompetensi membuat laporan hasil percobaan tersebut di atas, portofolio juga bisa memuat catatan hasil penilaian diri dan teman sejawat tentang kompetensi yang sama serta sikap dan perilaku sehari hari peserta didik yang bersangkutan.
Agar penilaian portofolio berjalan efektif guru beserta peserta didik perlu menentukan hal-hal yang harus dilakukan dalam menggunakan portofolio Sebagai berikut :
  1. Masing-masing peserta didik memiliki porto folio sendiri yang di dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau setiap kompetensi.
  2. Menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulkan/disimpan. 
  3. Sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan sikap.
  4. Peserta didik dengan kesadaran sendiri menindaklanjuti catatan guru.
  5. Catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar peserta didik dapat terlihat. 
Demikian artikel tentang Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Menggunakan Portofolio Siswa. terima kasih semoga bermanfaat.

Arti Simbol Angka dan Huruf Dalam Memberi Nilai Pada Siswa

Arti Simbol Angka dan Huruf Dalam Memberi Nilai Pada Siswa

BlogPendidikan.net
- Yang dimaksud dengan menilai ialah kegiatan membandingkan hasil pengukuran (skor) sifat suatu objek dengan acuan yang relevan sedemikian rupa sehingga diperoleh suatu kualitas yang bersifat kuantitatif.

Sebagai hasil penilaian sifat suatu objek berupa kualitas yang bersifat kuantitatif yang diberi simbol agar lebih dipahami. Simbol yang dipakai dalam penilaian untuk menyatakan nilai tersebut dapat berupa angka dan huruf.
Pemberian nilai terhadap siswa dari hasil ujian baik ulangan harian ataupun ulangan semester, ada yang memberikan nila capaian 10 jika jawaban benar semua, dan ada juga yang memberikan nilai 100 jika benar semua. 

Perlu Anda tahu bahwa pemberian nilai berdasarkan skala penilaian juga menentukan motivasi siswa, mengambil skala penilaian 1-10 berbeda yang dirasakan siswa dengan skala penilaian 10-100.
Berikut ini akan dijelaskan Arti Simbol Angka dan Huruf Dalam Memberi Nilai Pada Siswa:

Angka 1-10:

1 = amat buruk
2 = buruk
3 = amat kurang
4 = kurang
5 = tidak cukup
6 = cukup
7 = lebih cukup
8 = baik
9 = amat baik
10 = istimewa

Angka 10-100:

10 = amat buruk
20 = buruk
30 = amat kurang
40 = kurang
50 = tidak cukup
60 = cukup
70 = lebih cukup
80 = baik
90 = amat baik
100 = istimewa
Simbol Huruf:

Arti simbol huruf antara lain :
E = gagal
D = kurang/meragukan
C = cukup
B = baik
A = amat baik 

Berdasarkan rentang nilai

Ada cara yang digunakan untuk mengambil rata-rata dari huruf, yaitu dengan mentransfer nilai huruf tersebut menjadi nilai angka dahulu. Yang sering digunakan, satu nilai huruf itu mewakili satu rentangan nilai angka. Contohnya adalah sebagai berikut :

Arti simbol angka penilaian Angket Minat Siswa:

1 = sangat tidak setuju
2 = tidak setuju
3 = ragu-ragu
4 = setuju
5 = sangat setuju

Arti simbol angka penilaian Kinarja Siswa:

5 = baik sekali 
4 = baik
3 = cukup
2 = kurang
1 = kurang sekali

Arti simbol angka penilaian sikap Siswa:

4 = selalu, apabila selalu melakukan sesuai pernyataan
3 = sering, apabila sering melakukan sesuai pernyataan dan kadang-kadang tidak melakukan
2 = kadang-kadang, apabila kadang-kadang melakukan dan sering tidak melakukan
1 = tidak pernah, apabila tidak pernah melakukan

Dalam penjelasan tentang Arti Simbol Angka dan Huruf Dalam Memberi Nilai Pada Siswa, mungkin belum mewakili semua tiga aspek penilaian, yang dijelaskan diatas adalah yang mendominasi dalam penilaian yang dilakukan oleh guru dalam proses pembelajaran.

Untuk arti simbol huruf dan angka akan dijelaskan lebih detail lagi pada artikel berikutnya. Semoga artikel ini bermanfaat

5 Karakteristik Penilaian Hasil Belajar Siswa Kurikulum 2013

5 Karakteristik Penilaian Hasil Belajar Siswa Kurikulum 2013

BlogPendidikan.net
- Standar Penilaian Pendidikan adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta  didik. Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Standar Penilaian Pendidikan ini disusun sebagai acuan penilaian bagi pendidik, satuan pendidikan, dan Pemerintah pada satuan pendidikan untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Dalam penilaian untuk menentukan hasil belajar siswa tentunya memiliki karakteristik sesuai standar penilaian yang ditetapkan dalam kurikulum 2013. Karakteristik penilaian tersebut akan dijelaskan dibawah ini.

Berikut 5 Karakteristik Penilaian Hasil Belajar Siswa Kurikulum 2013:

1. Belajar Tuntas

Untuk KI-3 dan KI-4, peserta didik tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik sesuai dengan KKM yang ditentukan sekolah.

2. Autentik

a. Memandang penilaian dan pembelajaran secara terpadu.
b. Mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah.
c. Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap).
3. Berkesinambungan

Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar peserta didik, memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk penilaian proses, dan berbagai jenis ulangan secara berkelanjutan (ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, atau ulangan kenaikan kelas).

4. Berdasarkan acuan kriteria

Kemampuan peserta didik tidak dibandingkan terhadap kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap kriteria yang ditetapkan, misalnya ketuntasan minimal, yang ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing
5. Menggunakan teknik penilaian yang bervariasi

Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, projek, pengamatan, dan penilaian diri.

Demikian artikel tentang 5 Karakteristik Penilaian Hasil Belajar Siswa Kurikulum 2013, semoga bermanfaat.

Sasaran Penilaian Siswa Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan

Sasaran Penilaian Siswa Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan - www.blogpendidikan.net

BlogPendidikan.net
- Penilaian otentik adalah merupakan salah satu bentuk penilaian hasil belajar peserta didik yang didasarkan atas kemampuannya menerapkan ilmu pengetahuan yang dimiliki dalam kehidupan yang nyata di sekitarnya. Makna otentik adalah kondisi yang sesungguhnya berkaitan dengan kemampuan peserta didik.

Dalam kaitan ini, peserta didik dilibatkan secara aktif dan realisitis dalam menilai kemampuan atau prestasi mereka sendiri. Dengan demikian, pada penilaian otentik lebih ditekankan pada proses belajar yang disesuaikan dengan situasi dan keadaan sebenarnya, baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas. 
Pada penilaian otentik, peserta didik diarahkan untuk melakukan sesuatu dan bukan sekedar hanya mengetahui sesuatu, disesuaikan dengan kompetensi mata pelajaran yang diajarkan. Di samping itu, pada penilaian otentik, penilaian hasil belajar peserta didik tidak hanya difokuskan pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik.

Berikut Sasaran Penilaian Siswa Terhadap Pengetahuan, Sikap dan Keterampilan:

1. Sasaran Penilaian Aspek Pengetahuan

Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)

Kemampuan peserta didik untuk mengingat-ingat kembali (recall) istilah, fakta- fakta, metode, prosedur, proses, prinsip-prinsip, pola, struktur atau susunan. Contoh beberapa kata kerja operasional adalah: mengutip, meniru, mencontoh, membuat label, membuat daftar, menjodohkan, menghafal, menyebutkan , mengenal, mengingat, menghubungkan, membaca, menulis, mencatat, mentabulasi, mengulang, menggambar, memilih dan memberi kode. 
Pemahaman (comprehension)

Kemampuan seseorang dalam: menafsirkan suatu informasi, menentukan implikasi-implikasi, akibat-akibat maupun pengaruh-pengaruh. Beberapa kata kerja operasional adalah memperkirakan, mencirikan, merinci, mambahas, menjelaskan, menyatakan, mengenali, menunjukkan, melaporkan, mengulas, memilah, menceritakan, menerjemahkan, mengubah, mempertahankan, mempolakan, mengemukakan, menyipulkan, meramalkan, dan merangkum.

Penerapan (application)

Kemampuan menerapkan abstraksi-abstraksi: hukum, aturan, metoda, prosedur, prinsip, teori yang bersifat umum dalam situasi yang khusus. Beberapa kata kerja operasional adalah menyesuaikan, menentukan, mencegah, memecahkan, menerapkan, mendemonstrasikan, mendramatisasikan, menggunakan, menggambarkan, menafsirkan, menjalankan, menyiapkan, mempraktekkan, menjadwalkan, membuat gambar, mensimulasikan, mengoperasikan, memproduksi, mengkalkulasi, dan menyelesaikan (masalah).
Analisis (analysis)

Kemampuan menguraikan informasi ke dalam bagianbagian, unsur-unsur, sehingga jelas: urutan ide-idenya, hubungan dan interaksi diantara bagian-bagian atau unsur-unsur tersebut. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah menganalisis, menghitung, mengelompokkan, membandingkan, membuat diagram, meneliti, melakukan percobaan, mengkorelasikan, menguji, mengkorelasikan, merasionalkan, menginventarisasikan, menanyakan, mentransfer, menelaah, mendiagnosis, mengaitkan, dan menguji.

Evaluasi/penghargaan/evaluasi (evaluation)

Kemampuan untuk menilai ketepatan: teori, prinsip, metoda, prosedur untuk menyelesaikan masalah tertentu. Beberapa kata operasional yang menunjukkan kemampuan pada tingkat analisis ini antara lain adalah mendebat, menilai, mengkritik, membandingkan, mempertahankan, membuktikan, memprediksi, memperjelas, memutuskan, memproyeksikan, menafsirkan, mempertimbangkan, meramalkan, memilih, dan menyokong. 
Kreatif

Kemampuan mengambil informasi yang telah dipelajari dan melakukan sesuatu atau membuat sesuatu yang berbeda dengan informasi itu. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah membangun, mengkompilasi, menciptakan, mengabstraksi, mengarang, mengkategorikan, merekonstruksi, memproduksi, memadukan, mereparasi, menanggulangi, menganimasi, mengoreksi, memfasilitasi, menampilkan, menyiapkan, mengatur, merencanakan, meningkatkan, merubah, mendesain, menyusun, memodifikasi, menguraikan, menggabungkan, mengembangkan, menemukan, dan membuat.

2. Sasaran Penilaian Aspek Sikap

Menerima (receiving) 

Kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah memilih, mempertanyakan, mengikuti, memberi, menganut, mematuhi, meminati.
Menanggapi (responding)

Kemampuan seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah menjawab, membantu, mengajukan, mengompromikan, menyenangi, menyambut, menampilkan, mendukung, menyetujui, menampilkan, mepalorkan, mengatakan, menolak.

Menilai (valuing)

Kemampuan seseorang untuk menghargaiatau menilai sesuatu. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengasumsikan, meyakini, melengkapi, meyakinkan, memperjelas, memprakarsai, mengimani, mengundang, menggabungkan, memperjelas, mengusulkan, menekankan, menyumbang.
Mengelola/mengatur (organization)

Kemampuan seseorang untuk mengatur atau mengelola perbedaan nilai menjadi nilai baru yang universal. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengubah, menata, mengklasifikasi, mengkombinasikan, mempertahankan, membangun, membentuk pendapat, memadukan, mengelola,
mengorganisasi, menegosiasi, merembuk.

Menghayati (characterization)

Kemampuan seseorang untuk memiliki sistem nilai yang telah mengontrol tingkah lakunya dalam waktu yang cukup lama dan menjadi suatu pilosofi hidup yang mapan. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengubah perilaku, barakhlak mulia, mempengaruhi, mendengarkan, mengkualifikasi, melayani, menunjukkan, membuktikan, memecahkan.
3. Sasaran Penilaian Aspek Keterampilan

Persepsi (perception) 

Mencakup kemampuan mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua atau lebih perangsang menurut ciri-ciri fisiknya.Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengidentifikasi, mempersiapkan, menunjukkan, memilih, membedakan, menyisihkan, dan menghubungkan.

Kesiapan (set) 

Yakni menempatkan diri dalam keadaan akan memulai suatu gerakan. Beberapa kata kerja opersional antara lain menunjukkan, menafsirkan, menerjemahkan, memberi contoh, mengklasifikasikan, merangkum, memetakan menginterpolasikan, mengekstrapolasikan, membandingkan, dan mengkontraskan,
Gerakan terbimbing (guided response)

Kemampuan untuk melakukan serangkaian gerak sesuai contoh. Contoh kata kerja operasional antara adalah mendemonstrasikan, melengkapi, menunjukkan, menerapkan, dan mengimplementasikan.

Gerakan terbiasa (mechanical response)

Kemampuan melakukan gerakan dengan lancar karena latihan cukup. Contoh kata kerja operasional antara lain menguraikan, menghubungkan, memilih, mengorganisasikan, membuat pola, dan menyusun.

Gerakan kompleks (complex response)

Kemampuan melaksanakan keterampilan yang meliputi beberapa komponen dengan lancar, tepat, urut, dan efisien. Contoh kata kerja operasional antara lain membuat hipotesis, merencanakan, mendesain, menghasilkan, mengkonstruksi, menciptakan, dan mengarang.
Penyesuaian pola gerakan(adjusment)

Kemampuan mengadakan perubahan dan penyesuaian pola gerakan sesuai kondisi yang dihadapi. Beberapa contoh kata kerja operasional adalah mengubah, mengadaptasikan, mengatur kembali, dan membuat variasi.

Kreativitas(creativity)

Berupa kemampuan untuk menciptakan pola gerakan baru berdasarkan inisiatif dan prakarsa sendiri. Contoh kata kerja operasional adalah merancang, menyusun, menciptakan, mengkombinasikan, dan merencanakan. 

Contoh Format Penilaian Sikap Siswa dan Bentuk Penilaiannya

BlogPendidikan.net - Salah satu komponen penilaian terhadap peserta didik adalah penilaian sikap, yang sudah termasuk dalam tiga komponen penilaian siswa. Penilaian sikap sangatlah penting untuk menanamkan karakter baik terhadap siswa.

Penilaian sikap dalam pembelajaran merupakan serangkaian kegiatan yang dirancang untuk mengukur sikap peserta didik sebagai hasil dari suatu program pembelajaran. Penilaian sikap juga merupakan aplikasi suatu standar atau sistem pengambilan keputusan terhadap sikap.
Baca Juga: Contoh Jurnal Kegiatan Harian Guru
Kegunaan utama penilaian sikap sebagai bagian dari pembelajaran adalah refleksi (cerminan) pemahaman dan kemajuan sikap peserta didik secara individual.

Contoh Format Penilaian Sikap Siswa dan Bentuk Penilaiannya

Teknik dan Bentuk Penilaian Sikap Yang Terdiri Atas :

1. Observasi

Observasi merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan instrumen yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Observasi langsung dilaksanakan oleh guru secara langsung tanpa perantara orang lain. Sedangkan observasi tidak langsung dengan bantuan orang lain, seperti guru lain, orang tua, peserta didik, dan karyawan sekolah.
Instrumen yang digunakan dalam observasi berupa lembar observasi atau jurnal. Lembar observasi atau jurnal tersebut berisi kolom catatan perilaku yang diisi oleh guru mata pelajaran, wali kelas, dan guru BK berdasarkan pengamatan dari perilaku siswa yang muncul secara alami selama satu semester. Perilaku siswa
yang dicatat di dalam jurnal pada dasarnya adalah perilaku yang sangat baik dan/atau kurang baik yang berkaitan dengan indikator dari sikap spiritual dan sikap sosial. Setiap catatan memuat deskripsi perilaku yang dilengkapi dengan waktu dan tempat teramatinya perilaku tersebut. Catatan tersebut disusun berdasarkan waktu kejadian.

Bentuk instrumen yang digunakan untuk observasi adalah pedoman observasi yang berupa daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang disertai rubrik. Daftar cek digunakan untuk mengamati ada tidaknya suatu sikap atau perilaku. Sedangkan skala penilaian menentukan posisi sikap atau perilaku peserta didik dalam suatu rentangan sikap.
2. Penilaian Diri (self assessment)

Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri menggunakan daftar cek atau skala penilaian (rating scale) yang
disertai rubrik.

Skala penilaian dapat disusun dalam bentuk skala Likert atau skala semantic differential. Skala Likert adalah skala yang dapat dipergunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang mengenai suatu gejala atau fenomena. Sedangkan skala semantic differential yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya.
3. Penilaian Antar Peserta Didik

Penilaian antar peserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan untuk penilaian antar peserta didik adalah daftar cek dan skala penilaian (rating scale) dengan teknik sosiometri berbasis kelas. Guru dapat menggunakan salah satu dari keduanya atau menggunakan dua-duanya.

4. Jurnal

Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Kelebihan yang ada pada jurnal adalah peristiwa/kejadian dicatat dengan segera. Dengan demikian, jurnal bersifat asli dan objektif dan dapat digunakan untuk memahami peserta didik dengan lebih tepat. sementara itu, kelemahan yang ada pada jurnal  adalah reliabilitas yang dimiliki rendah, menuntut waktu yang banyak, perlu kesabaran dalam menanti munculnya peristiwa sehingga dapat mengganggu perhatian dan tugas guru, apabila pencatatan tidak dilakukan dengan segera, maka objektivitasnya berkurang.
Untuk lebih memahami silahkan Anda unduh contoh format Penilaian Sikap Siswa pada link >>> DISINI

Demikian penjelasan dalam artikel ini semoga bermanfaat buat Anda sebagai bahan acuan dalam penyusunan Penilaian Sikap Siswa. Terimakasih dan jangan lupa berbagi.

Perhatikan 5 Hal Ini Dalam Memberikan Nilai Kepada Siswa

Perhatikan 5 Hal Ini Dalam Memberikan  Nilai Kepada Siswa

BlogPendidikan.net
- Setiap pelaksanaan proses pembelajaran di kelas yang dilaksanakan setiap hari tentunya Guru tidak luput dari penilaian terhadap siswa baik itu penilaian sikap, pengetahuan dan keterampilan. Dalam pemberian nilai biasanya guru terkendala dengan capaian siswa yang tidak memenuhi kriteria yang ditetapkan, hal inilah yang membuat guru mempertimbangkan dalam pemberian nilai siswa.
Pemberian nilai terhadap siswa dari hasil ujian baik ulangan harian ataupun ulangan semester, ada yang memberikan nila capaian 10 jika jawaban benar semua, dan ada juga yang memberikan nilai 100 jika benar semua. Perlu Anda tahu bahwa pemberian nilai berdasarkan skala penilaian juga menentukan motivasi siswa, mengambil skala penilaian 1-10 berbeda yang dirasakan siswa dengan skala penilaian 10-100.

Seperti dikutip dari primaindisoft.com, menjelaskan beberapa hal agar guru perlu memperhatikan dalam pemberian nilai siswa. 
Berikut ada 5 Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian nilai siswa yaitu :

1. Susun kebijakan penilaian yang jadi patokan dalam pemberian nilai

Agar penilaian siswa tidak dipengaruhi oleh subjektivitas si penilai, maka perlu disusun standar yang tepat dalam pelaksanaannya. Pertama, cobalah untuk menetapkan prosedur evaluasi yang sesuai dengan kurikulum sekolah. Kedua, apabila Anda memiliki sebuah tim mengajar, ajak mereka untuk menyusun jenis metode evaluasi apa yang akan digunakan di kelas.
2. Pastikan bahwa siswa tahu kebijakan penilaian yang telah Anda susun

Sangat penting untuk membuat siswa tahu apa kebijakan penilaian yang dianut oleh guru mereka. Dengan begitu, siswa pun tahu apa yang perlu mereka lakukan untuk bisa meraih nilai maksimal di kelas. Pun, sebaiknya beri tahu siswa tentang apa saja kompetensi yang Anda harapkan mereka penuhi, serta bagaimana guru akan mengukur kemajuan siswa dalam prosesnya.

3. Siapkan catatan penilaian yang lengkap dan akurat

Sediakan sebuah catatan khusus untuk mengevaluasi kinerja setiap siswa sepanjang semester. Catatan semacam ini akan memudahkan Anda untuk mengevaluasi kembali nilai akhir siswa jika diperlukan. Selain itu, catatan khusus ini akan sangat membantu Anda untuk menentukan nilai akhir siswa, terutama ketika dia tidak bisa merampungkan beberapa tugas yang diberikan di kelas.
4. Buat grafik distribusi nilai

Jika kelas yang Anda ajar memiliki siswa tidak lebih dari 20 orang, ada baiknya untuk membuat sebuah grafik distribusi nilai. Anda bisa membuatnya setiap memberikan kuis atau tugas. Dengan begitu, Anda bisa tahu sekilas bagaimana kinerja siswa di kelas.

5. Jadilah konsisten

Terakhir, jadilah konsisten dengan kebijakan yang sudah Anda susun. Hindari pengujian materi yang tidak sesuai dengan apa yang Anda ajarkan atau menggunakan metode penilaian selain yang dinyatakan dalam silabus.
Demikian artikel tentang Perhatikan 5 Hal Ini Dalam Memberikan  Nilai Kepada Siswa, semoga bermanfaat

7 Model Penilaian Berdasarkan Jenis dan Teknik Penilaiannya

Model Penilaian Berdasarkan Jenis dan Teknik Penilaiaannya

BlogPendidikan.net
- Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. 

Dengan diberlakukannya kurikulum 2013 yang menekankan pada pembelajaran berbasis aktivitas, maka penilaiannya lebih menekankan pada penilaian proses baik pada aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Model Penilaian Berdasarkan Jenis

Penilaian pendidikan sebagai proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik mencakup penilaian otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan, ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir semester yang diuraikan sebagai berikut :

1. Penilaian otentik merupakan penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai aspek sikap, pengetahuan, keterampilan mulai dari masukan (input), proses, sampai keluaran (output) pembelajaran. Penilaian otentik bersifat alami, apa adanya, tidak dalam suasana tertekan.

2. Penilaian diri merupakan penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan.

3. Penilaian berbasis portofolio merupakan penilaian yang dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas dalam kurun waktu tertentu.

4. Ulangan merupakan proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik.

5. Ulangan harian merupakan kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk menilai kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu sub-tema. Ulangan harian terintegrasi dengan proses pembelajaran lebih untuk mengukur aspek pengetahuan, dalam bentuk tes tulis, tes lisan, dan penugasan.

6. Ulangan tengah semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8-9 minggu kegiatan pembelajaran.

7. Ulangan akhir semester merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester.

Teknik Penilaian
 
Penilaian di SD dilakukan dalam berbagai teknik untuk semua kompetensi dasar yang dikategorikan dalam tiga aspek, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan

1. Teknik Penilaian Sikap

a. Contoh muatan KI-1 (sikap spiritual) antara lain:
  • Ketaatan beribadah
  • Berperilaku syukur
  • Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan
  • Toleransi dalam beribadah
b. Contoh muatan KI-2 (sikap sosial) antara lain:
  • Jujur
  • Disiplin
  • Tanggung jawab
  • Santun
  • Peduli
  • Percaya diri 
  • Bisa ditambahkan lagi sikap-sikap yang lain sesuai kompetensi dalam pembelajaran, misal : kerja sama, ketelitian, ketekunan, dll.
Penilaian apek sikap dilakukan melalui observasi, penilaian diri, penilaian
antar teman, dan jurnal Antara lain :

a. Observasi

Merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Hal ini dilakukan saat pembelajaran maupun diluar pembelajaran

b. Penilaian Diri 

Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.

c. Penilaian Antarteman

Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antar peserta didik.

d. Jurnal Catatan Guru

Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi
hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang
berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal bisa dikatakan sebagai catatan
yang berkesinambungan dari hasil observasi.

2. Teknik Penilaian Pengetahuan

Aspek Pengetahuan dapat dinilai dengan cara berikut:

A. Tes tulis

Tes tulis adalah tes yang soal dan jawabannya tertulis berupa pilihan ganda,
isian, Benar-salah, menjodohkan, dan uraian.

B. Tes Lisan

Tes lisan berupa pertanyaan- pertanyaan yang diberikan guru secara ucap
(oral) sehingga peserta didik merespon pertanyaan tersebut secara ucap
juga, sehingga menimbulkan keberanian. Jawaban dapat berupa kata, frase,
kalimat maupun faragraf yang diucapkan.

C. Penugasan

Penugasan adalah penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang dapat
berupa pekerjaan rumah baik secara individu ataupun kelompok sesuai
dengan karakteristik tugasnya.

3. Teknik Penilaian Keterampilan

Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut:

a. Kinerja atau Performance

Adalah suatu penilaian yang meminta siswa untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. Misalnya tugas memainkan alat musik, menggunakan mikroskop, menyanyi, bermain peran, menari. Contoh penilaian tes performance atau kinerja akan diberikan pada bab Implementasi pada bab selanjutnya.

b. Projek

Penilaian Projek merupakan penilaian terhadap tugas yang mengandung investigasi dan harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan. Projek juga akan
memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan siswa pada
pembelajaran tertentu, kemampuan siswa dalam mengaplikasikan
pengetahuan, dan kemampuan siswa untuk mengomunikasikan informasi.

Penilaian projek sangat dianjurkan karena membantu mengembangkan
ketrampilan berpikir tinggi (berpikir kritis, pemecahan masalah, berpikir
kreatif) peserta didik . misalnya membuat laporan pemanfaatan energy di
dalam kehidupan, membuat laporan hasil pengamatan pertumbuhan
tanaman. 

c. Portofolio

Penilaian dengan memanfaatkan Portofolio merupakan penilaian melalui
sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan
terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. Portofolio
digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau secara terus
menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam
bidang tertentu. Dengan demikian penilaian portofolio memberikan
gambaran secara menyeluruh tentang proses & pencapaian hasil belajar
peserta didik.

Portofolio merupakan bagian terpadu dari pembelajaran sehingga guru
mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam
menguasai kompetensi pada suatu tema. 

Misalnya kompetensi pada tema “selalu berhemat energy”.Contoh kompetensi membuat laporan hasil percobaan. Kemampuan membuat laporan hasil percobaan tentu tidak seketika dikuasai peserta didik, tetapi membutuhkan proses panjang, dimulai dari penulisan draf, perbaikan draf, sampai laporan akhir yang siap
disajikan. 

Selama proses ini diperlukan bimbingan guru melalui catatancatatan tentang karya peserta didik sebagai masukan perbaikan lebih lanjut. Kumpulan karya anak sejak draf sampai laporan akhir berserta catatan catatan sebagai masukan guru inilah, yang menjadi potofolio.

Di samping memuat karya-karya anak beserta catatan guru, terkait kompetensi membuat laporan hasil percobaan tersebut di atas, portofolio juga bisa memuat catatan hasil penilaian diri dan teman sejawat tentang kompetensi yang sama serta sikap dan perilaku sehari hari peserta didik yang bersangkutan.

Agar penilaian portofolio berjalan efektif guru beserta peserta didik perlu
menentukan hal-hal yang harus dilakukan dalam menggunakan portofolio
Sebagai berikut:
  1. masing-masing peserta didik memiliki porto folio sendiri yang di dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau setiap kompetensi.
  2. menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulan/disimpan.
  3. sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan sikap
  4. peserta didik dengan kesadaran sendiri menindaklanjuti catatan guru
  5. catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar peserta didik dapat terlihat. 
Demikian tentang Model Penilaian Berdasarkan Jenis dan Teknik Penilaiaannya semoga bermanfaat dan terima kasih.

Bagaimana Melakukan Penilaian Portofolio Yang Tepat ?

Bagaimana Melakukan Penilaian Portofolio Yang Tepat ?

BlogPendidikan.net
- Penilaian dengan memanfaatkan Portofolio merupakan penilaian melalui sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. 

Portofolio digunakan oleh guru dan peserta didik untuk memantau secara terus menerus perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam bidang tertentu. Dengan demikian penilaian portofolio memberikan gambaran secara menyeluruh tentang proses & pencapaian hasil belajar peserta didik.

Penilaian Portofolio

Portofolio merupakan bagian terpadu dari pembelajaran sehingga guru mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam menguasai kompetensi pada suatu tema. Misalnya kompetensi pada tema “selalu berhemat energy”. Contoh kompetensi membuat laporan hasil percobaan.

Kemampuan membuat laporan hasil percobaan tentu tidak seketika dikuasai peserta didik, tetapi membutuhkan proses panjang, dimulai dari penulisan draf, perbaikan draf, sampai laporan akhir yang siap disajikan. Selama proses ini diperlukan bimbingan guru melalui catatan-catatan tentang karya peserta didik sebagai masukan perbaikan lebih lanjut.

Kumpulan karya anak sejak draf sampai laporan akhir berserta catatan catatan sebagai masukan guru inilah, yang menjadi portofolio. Di samping memuat karya-karya anak beserta catatan guru, terkait kompetensi membuat laporan hasil percobaan tersebut di atas, portofolio juga bisa memuat catatan hasil penilaian diri dan teman sejawat tentang kompetensi yang sama serta sikap dan perilaku sehari hari peserta didik yang bersangkutan.

Agar penilaian portofolio berjalan efektif guru beserta peserta didik perlu menentukan hal-hal yang harus dilakukan dalam menggunakan portofolio Sebagai berikut :
  1. Masing-masing peserta didik memiliki porto folio sendiri yang di dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau setiap kompetensi.
  2. Menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulkan/disimpan. 
  3. Sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan sikap.
  4. Peserta didik dengan kesadaran sendiri menindaklanjuti catatan guru.
  5. Catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar peserta didik dapat terlihat. 
Demikian tentang Bagaimana Melakukan Penilaian Portofolio Yang Tepat agar penilaian berjalan maksimal sesuai tahapannya. terima kasih semoga artikel ini bermanfaat.

11 Teknik Penilaian Yang Digunakan Dalam Proses Pembelajaran

11 Teknik Penilaian Yang Digunakan Dalam Proses Pembelajaran

BlogPendidikan.net
- Berbagai teknik penilaian dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi kemajuan belajar peserta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar maupun hasil belajar, sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai. Penilaian kompetensi dilakukan melalui pengukuran indikator-indikator pada setiap kompetensi dasar. 

Dalam penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat digunakan berbagai teknik penilaian di antaranya adalah: tes (tertulis, tes lisan, tes kinerja/tes praktik), observasi dan penugasan baik perorangan maupun kelompok dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek, produk dan portofolio.

Berikut ini 11 Teknik Penilaian Yang Digunakan Dalam Proses Pembelajaran di Kelas yaitu :

1. Tes

Tes adalah pemberian sejumlah pertanyaan yang jawabannya dapat benar atau salah. Tes dapat berupa tes tertulis, tes lisan, dan tes praktik atau tes kinerja. Tes tertulis adalah tes yang menuntut peserta tes memberi jawaban secara tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Tes yang jawabannya berupa pilihan meliputi pilihan ganda, benar-salah, dan menjodohkan. Sedangkan tes yang jawabannya berupa isian dapat berbentuk isian singkat dan/atau uraian. 

Tes lisan adalah tes yang dilaksanakan melalui komunikasi langsung (tatap muka) antara peserta didik dengan pendidik. Pertanyaan dan jawaban diberikan secara lisan. Tes praktik (kinerja) adalah tes yang meminta peserta didik melakukan perbuatan/mendemonstrasikan/ menampilkan keterampilan. 

Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian nasional dan ujian sekolah.

2. Ulangan

Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik. Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetensi dasar (KD) atau lebih.

Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.

Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan ulangan akhir semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.

Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester genap.

Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.

Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.

Ujian sekolah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. 

Mata pelajaran yang diujikan pada ujian sekolah adalah mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan pada ujian nasional, dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.

3. Observasi

Observasi adalah penilaian yang dilakukan melalui pengamatan terhadap peserta didik selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar kegiatan pembelajaran. Observasi dilakukan untuk mengumpulkan data kualitatif dan kuantitatif sesuai dengan kompetensi yang dinilai, dan dapat dilakukan baik secara formal maupun informal. 

Penilaian observasi dilakukan antara lain sebagai penilaian akhir kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, serta kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan.

4. Penugasan

Penugasan adalah pemberian tugas kepada peserta didik baik secara perorangan maupun kelompok. Penilaian penugasan diberikan untuk penugasan terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur, dan dapat berupa praktik di laboratorium, tugas rumah, portofolio, projek, dan/atau produk.

5. Portofolio

Portofolio adalah kumpulan dokumen dan karya-karya peserta didik dalam bidang tertentu yang diorganisasikan untuk mengetahui minat, perkembangan prestasi, dan kreativitas siswa. Bentuk ini cocok untuk mengetahui perkembangan unjuk kerja peserta didik dengan menilai bersama karya-karya atau tugas-tugas yang dikerjakannya. 

Peserta didik dan pendidik perlu melakukan diskusi untuk menentukan skor. Pada penilaian portofolio, peserta didik dapat menentukan karya-karya yang akan dinilai, melakukan penilaian sendiri kemudian hasilnya dibahas. Perkembangan kemampuan peserta didik dapat dilihat pada hasil penilaian portofolio. Teknik ini dapat dilakukan dengan baik apabila jumlah peserta didik yang dinilai sedikit.

6.Projek

Projek adalah tugas yang diberikan kepada peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Peserta didik dapat melakukan penelitian melalui pengumpulan, pengorganisasian, dan analisis data, serta pelaporan hasil kerjanya. Penilaian projek dilaksanakan terhadap persiapan, pelaksanaan, dan hasil.

7. Produk

Produk (hasil karya) adalah penilaian yang meminta peserta didik menghasilkan suatu hasil karya. Penilaian produk dilakukan terhadap persiapan, pelaksanaan/proses pembuatan, dan hasil.

8. Inventori

Inventori merupakan teknik penilaian melalui skala psikologis yang dipakai untuk mengungkapkan sikap, minat, dan persepsi peserta didik terhadap objek psikologis.

9. Jurnal

Jurnal merupakan catatan pendidik selama proses pembelajaran yang berisi informasi hasil pengamatan terhadap kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkait dengan kinerja ataupun sikap dan perilaku peserta didik yang dipaparkan secara deskriptif.

10. Penilaian Diri

Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk menilai dirinya sendiri mengenai berbagai hal. Dalam penilaian diri, setiap peserta didik harus mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya secara jujur.

11. Penilaian Antar Teman

Penilaian antarteman merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik mengemukakan kelebihan dan kekurangan temannya dalam berbagai hal secara jujur. Kombinasi penggunaan berbagai teknik penilaian di atas akan memberikan informasi yang lebih akurat tentang kemajuan belajar peserta didik.

Demikian tentang 11 Teknik Penilaian Yang Digunakan Dalam Proses Pembelajaran di Kelas, semoga artikel ini memberikan manfaat dan terima kasih.

Rujukan : Buku Penilaian Kelas Oleh Prof. Dr. Yetti Supriyati, M.Pd.