Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Durasi Pembelajaran Tatap Muka Tak Lebih Dari Tiga Jam, Tanpa Istirahat

One Be 7/15/2020
Durasi Pembelajaran Tatap Muka Tak Lebih Dari Tiga Jam, Tanpa Istirahat

BlogPendidikan.net
- Proses kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri I Slawi mendapat perhatian dari dewan guru dan komite sekolah. Selain menerapkan protokol kesehatan ketat, pihak sekolah juga membentuk Tim Gugus Tugas Covid-19 tingkat sekolah.

Kepala SMP Negeri I Slawi Alfatah, Selasa (14/7) mengatakan, SMP Negeri I Slawi telah menyiapkan 18 ruang kelas untuk proses kegiatan belajar mengajar kelas 7. Agar para siswa belajar dengan tenang, pihak sekolah melalui Tim Gugus Tugas Covid-19 tingkat sekolah telah menjalin kerja sama dengan dinas kesehatan melalui Puskesmas Slawi.

"Meski durasi waktu pembelajaran tatap muka di tingkat SMP tidak lebih dari tiga jam, tanpa jeda istirahat tapi telah kami persiapkan secara matang," katanya.

Sesuai Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Nomor 800/04/60185 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka Tahun Pelajaran 2020/2021, pembelajaran tatap muka tingkat SMP dimulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB.

Pihak sekolah membuat pedoman teknis kegiatan belajar mengajar selama enam hari ke depan. Tak berbeda dengan MPLS SD, kegiatan siswa baru di hari pertama masuk sekolah ini dimanfaatkan untuk perkenalan guru dan siswa, di samping penyampaian wawasan wiyata mandala. 

Guna mencegah terjadinya penularan Covid-19, pihaknya sudah menerapkan protokol kesehatan. Sejak dari gerbang masuk sekolah, setiap siswa wajib melakukan pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer tembak. Siswa kemudian diarahkan untuk mencuci tangannya dengan sabun dan air mengalir sebelum masuk ke kelas.

“Di sini, kami sudah membentuk satuan tugas khusus penanganan Covid-19 tingkat sekolah. Anggotanya terdiri dari guru, tenaga pendidik dan komite sekolah,” tambahnya.

Bahkan setiap hari, lanjut Alfatah, seluruh ruang kelas setelah selesai untuk proses kegiatan belajar dilakukan penyemprotan disinfektan. Siswa pulang secara bergantian perkelas, sehingga siswa tidak menumpuk. Pihak sekolah juga sudah menyampaikan ke orang tua siswa, untuk melakukan antar jemput pada anaknya.

Selama proses ini berlangsung, pihak puskesmas memberikan pendampingan penegakan protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah juga menerapkan kebijakan penjarangan dengan mengisi setiap kelasnya maksimal separuh dari kapasitas normal.

Saat ini ada 18 ruang kelas yang dibuka untuk menampung siswa kelas tujuh. Dari 292 siswa baru kelas tujuh, seluruhnya berangkat sekolah. Meski demikian, pihak sekolah memberikan kelonggaran atau bahkan prioritas bagi peserta didik yang sakit untuk belajar dari rumah, termasuk siswa yang tidak diizinkan orang tuanya berangkat sekolah.

Pihak sekolah tidak akan memaksakan mereka untuk hadir, semua demi keselamatan bersama.
Mengingat ini hal baru, pihak sekolah masih terus melakukan penyesuaian atau adaptasi pada kebiasaan baru. Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, pihaknya akan mengevaluasi penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolahnya dan berharap semuanya bisa segera menyesuaikan.

(Sumber: radartegal.com)

Emak-emak Demo di Depan Sekolah, Jika Sekolah Masih Diliburkan, Kami Pindahkan ke Sekolah Lain

One Be 7/15/2020

Emak-emak Demo di Depan Sekolah, Jika Sekolah Masih Diliburkan, Kami Pindahkan ke Sekolah Lain


BlogPendidikan.net - Sebuah video memperlihatkan sejumlah ibu-ibu dan anaknya, menggelar unjuk rasa di sebuah sekolah dasar (SD) di  Desa Tebul Barat, Kecamatan Pengantenan, Kabupaten Pamekasan, viral di media sosial.

Dalam video itu, ibu-ibu membawa anak mereka yang mengenakan seragam lengkap dan menyandang tas.

Ibu-ibu itu mendesak kepala sekolah memulai aktivitas belajar mengajar di sekolah di tengah pandemi virus corona baru atau Covid-19.

Mereka tak ingin sekolah diliburkan terus menerus. Sejumlah ibu-ibu yang menggelar demonstrasi terlihat ditemui salah satu guru dari sekolah tersebut.

Salah satu ibu bahkan mengancam akan mengeluarkan anaknya jika sekolah tak memulai aktivitas belajar mengajar.

Ia akan memindahkan anaknya ke sekolah yang siap menggelar aktivitas belajar mengajar.

"Jika sekolah ini diliburkan, kami akan memindahkan anak kami ke sekolah lain." kata salah seorang ibu yang mengenakan kerudung merah.

Protes ibu-ibu bukan tanpa alasan. Selama sekolah diliburkan, anak-anak mereka sibuk bermain.

Pendidikan jarak jauh yang diprogramkan pemerintah juga tak pernah dilakukan.

"Kalau tetap diliburkan, anak-anak kami terampas pendidikannya. Kami takut anak kami bodoh," imbuhnya disertai sorakan ibu-ibu lainnya.

Salah satu warga Desa Tebul Barat, Mustofa membenarkan demonstrasi yang dilakukan puluhan ibu-ibu itu.

Mustofa mengatakan, aksi itu dilakukan pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2020). Wali murid sudah tak tahan karena sekolah diliburkan selama empat bulan terakhir.

Selama empat bulan itu, anak-anak hanya sibuk bermain.

"Wali murid kesal karena libur sekolah terlalu lama. Mereka mendesak agar sekolah diaktifkan kembali," ungkap Mustofa.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Fatimatuz Zahrah mengaku telah mendengar informasi tentang unjuk rasa itu.

Tapi, pihaknya belum mendapatkan laporan dari kepala sekolah SD tersebut.

Menurutnya, sekolah belum bisa dibuka seperti semula untuk mencegah siswa terpapar dari virus corona baru.

Selain itu, belum ada kebijakan dari Menteri Pendidikan untuk membuka kembali pendidikan tatap muka.

“Tetap tidak bisa dibuka lagi karena kalau dibuka bisa melanggar SKB Menteri,” ujar Fatimatus Zahrah ketika dikonfirmasi.

(Sumber; kompas.com)

Tidak Punya Smartphone dan Tidak Mampu, KBM Tatap Muka Berlangsung Meski di Zona Kuning

One Be 7/13/2020
Tidak Punya Smartphone dan Tidak Mampu, KBM Tatap Muka Berlangsung Meski di Zona Kuning

BlogPendidikan.net
- Aktivitas belajar di kelas tetap berlangsung untuk mengakomodir siswa yang orang tuanya tidak memiliki smartphone, meksipun masih dikategori zona kuning. 

Hal ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Jambi yang tetap membuka sekolah tatap muka untuk SD dan SMP meskipun berada di zona kuning.

Pelanggaran terhadap panduan Kemendikbud ini bertujuan agar anak-anak miskin tidak tertinggal pelajaran.

"Kita buka sekolah dengan dua metode, yakni tatap muka dan online. Yang mampu online dan tidak muka.

Tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Abu Bakar, juru bicara Gugus Tugas Kota Jambi, Senin (13/7/2020).

Dia mengatakan Pemkot Jambi sedang melakukan relaksasi pada sektor pendidikan.

Ada dua metode pembelajaran yaitu online (daring) dan offline (tatap muka).

Pembelajaran secara tatap muka, sambung Abu Bakar untuk mengakomodasi sekitar 500 siswa kurang mampu.

Mereka selama ini tidak bisa sekolah secara online.

Sebabnya, kata Abu Bakar mereka tidak memiliki fasilitas internet dan ponsel pintar.

Dengan demikian, sekolah wajib memfasilitasi dua model pembelajaran baik online maupun tatap muka.

Tidak hanya sekolah, orangtua juga diberikan pilihan, apakah anaknya akan masuk sekolah atau tetap membiarkan anaknya belajar di rumah dahulu.

Relaksasi pendidikan ini agar anak-anak tidak mampu tetap bisa mengikuti pembelajaran.

Ada pun ketentuannya, pertama dilakukan siswa SD kelas 4,5 dan 6.

Kedua, untuk siswa SMP itu kelas 1,2 dan 3 dibagi menjadi tiga shif kegiatan belajar mengajar (KBM).

Ketiga, jam pembelajaran sangat efektif yakni 3 jam tanpa istirahat.

Keempat, siswa dan sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan.

Lalu kelima, siswa wajib membawa masker sendiri, menggunakan sarung tangan dan membawa handsanitizer serta disarankan orangtua siswa antar jemput.

Disayangkan

Sebaliknya, juru bicara Gugus Tugas Provinsi Jambi, Johansyah menyayangkan ada sekolah yang dibuka pada zona kuning.

Pembukaan sekolah hanya boleh dilakukan untuk kabupaten/kota dengan zona hijau, kecuali Kabupaten Kerinci karena ada penambahan kasus dan kematian akibat corona.

Daerah dengan status zona hijau di Jambi, antara lain Kabupaten Bungo, Tebo, Merangin dan Tanjung Jabung (Tanjab) Timur.

Keempat kabupaten tersebut diperbolehkan membuka sektor pendidikan atau kegiatan lainnya dengan dampak ekonomi rendah.

Menurutnya, kegiatan terdampak ekonomi sedang dan tinggi sebagaimana tertera pada matriks rekomendasi di atas, disesuaikan dengan kondisi zonasi wilayah masing-masing kabupaten/kota di Jambi.

Jika Kota Jambi sebagai daerah yang dinilai cukup siap dalam penerapan new normal, namun masih dengan status zona kuning, dapat melakukan uji coba penerapan adaptasi kebiasaan baru ini dengan pemetaan risiko tingkat kecamatan.

Daerah tersebut dapat melaksanakan pembukaan sektor pendidikan pada kecamatan dengan zona hijau, menggunakan pemetaan risiko menggunakan 15 indikator Gugus Tugas Nasional oleh Tim Pakar dan Analisis Gugus Tugas Provinsi Jambi dan Gugus Tugas Kota Jambi.

Evaluasi mingguan zonasi dilakukan dengan penyediaan data update dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan Covid-19, setiap 7 hari dengan data kondisi harian.

Siap-siap, Pemerintah Berencana Akan Membuka Sekolah di Zona Kuning

One Be 7/13/2020
Siap-siap, Pemerintah Berencana Akan Membuka Sekolah di Zona Kuning
 Sumber: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/Pool/wsj.(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

BlogPendidikan.net - Pemerintah mempertimbangkan membuka sekolah yang berada di zona kuning penyebaran pandemi virus corona (Covid-19). Pertimbangan tersebut atas permintaan sejumlah pihak agar sekolah yang berada zona kuning juga dibuka selain di zona hijau.

Kepala Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengatakan, pihaknya hanya mengusulkan sekolah dapat dibuka di zona hijau. Meski begitu, jika nantinya sekolah di zona kuning diizinkan dibuka, Gugus Tugas sudah memikirkan beberapa ketentuan yang akan ditetapkan.

"Kalau toh misalnya disetujui maka maksimal setiap pelajar itu hanya dua kali saja mengikuti kegiatan. Kemudian persentase pelajar yang di ruangan tidak boleh lebih dari 30 persen atau 25 persen. Ini dalam topik pembahasan," katanya.

Hal itu disampaikan Doni usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (13/7/2020). Namun sekali lagi dia menegaskan hal tersebut belum menjadi keputusan.

Doni juga menekankan jika disetujui maka hanya dua zona saja yang bisa menyelenggarakan pendidikan yakni hijau dan kuning. Menurut dia, salah satu alasan sekolah dibuka adalah adanya permintaan dari sejumlah orang tua dan para pimpinan sekolah yang mengatakan sudah lama tidak ada aktivitas.

"Tetapi kalau toh ini jadi maka hanya di zona kuning. Zona hijau sudah diberikan rekomendasi tambahannya adalah zona kuning. Tetapi ini masih dalam topik pembahasan," ujarnya.

Dia mengatakan, pihaknya akan membahas lebih lanjut permintaan tersebut dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

"Kami sedang memikirkan permintaan dari sejumlah masyarakat agar zona kuning pun diizinkan untuk sekolah. Kami sedang membahas ini," katanya.

(Sumber; inews.id)

Belajar Tatap Muka di Tangan Kepala Daerah, Mendikbud: Tetap BDR Jika Orang Tua Menolak

One Be 7/12/2020
Belajar Tatap Muka di Tangan Kepala Daerah, Mendikbud: Tetap BDR Jika Orang Tua Menolak

BlogPendidikan.net
- Pandemi Covid-19 membuat pembelajaran yang sedianya dilakukan secara tatap muka beralih menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ), baik secara dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Agama (Kemenag) telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Panduan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran Baru dan Tahun Akademi Baru di Masa Pandemi COVID-19.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, dalam wawancara telekonferensi menyebutkan bahwa terdapat Beberapa kabupaten/kota yang merupakan zona hijau menurut Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional, dengan demikian dimungkinkan memulai pembelajaran tatap muka dengan persyaratan protokol kesehatan yang ketat. Kendati demikian, prosesnya dilakukan secara bertahap, yakni dimulai dari jenjang SMP dan SMA/SMK terlebih dahulu. 

"Ini mengenai kenyamanan, mengenai kepercayaan kita kepada institusi sekolah yang bisa melakukan protokol kesehatan yang baik. Itu kuncinya," kata Mendikbud, seperti keterangan yang Netralnews terima, Minggu (12/7/2020).

Kebijakan membuka sekolah kembali untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka berada di tangan kepala daerah. Selain kepala daerah, kepala sekolah dan orang tua juga punya hak untuk menentukan apakah memang sekolah tersebut sudah siap untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka kembali. 

"Jadinya, sekolah-sekolah kalau mau membuka kembali pembelajaran tatap muka harus benar-benar meyakinkan semua orang tua bahwa protokol kesehatan di sekolahnya itu sudah sangat mapan," kata Mendikbud.  

Kemudian, apabila ada orang tua yang merasa tidak siap jika anaknya harus kembali bersekolah maka ia berhak untuk menolak dan anak tetap melanjutkan pembelajaran dari rumah. 

"Jadi, kita benar-benar harus memegang prinsip kebebasan memilih. Karena ini kan mengenai kesehatan masing-masing. Menurut kami, prinsip dasar itu adalah haknya orang tua,” kata Mendikbud. 

Saat ini, Kemendikbud sedang melakukan monitoring untuk memeriksa kesiapan beberapa wilayah zona hijau yang akan menerapkan pembelajaran tatap muka kembali.

“Jadi harapan kami adalah pemda dan kepala dinas itu bisa benar-benar mendukung proses ini, dan tentunya Kemendikbud di sini siap mendukung dan salah satu caranya adalah tentunya sumber dayanya kita jadikan fleksibel," tutur Mendikbud. 

Dijelaskan Nadiem, Kemendikbud telah merelaksasi penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk mendukung sekolah menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan.

"BOS yang sudah sampai ke rekening sekolah itu boleh digunakan secara fleksibel untuk persiapan protokol kesehatan ini. Ini benar-benar kita berikan kebebasan anggaran bagi kepala sekolah,” ujar dia.

(Sumber; netralnews.com)

Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK

One Be 7/12/2020
Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMASMK

BlogPendidikan.net
Kemendikbud telah merilis panduan dan jadwal Belajarr dari rumah TVRI minggu pertama di bulan juli.

Adapun daftar soal dan materi belajar dari rumah TVRI minggu pertama 13-19 Juli untuk SD, SMP, dan SMA/SMK bisa anda lihat pada akhir tulisan ini.

Program Belajar dari Rumah (selanjutnya disebut BDR) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan alternatif kegiatan pembelajaran selama anak belajar di rumah karena terdampak masa pandemik COVID-19.

Tayangan dalam program BDR meliputi tayangan untuk anak usia PAUD dan sederajat, SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA/SMK dan sederajat, dan program keluarga dan kebudayaan.

Pembelajaran dalam BDR ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi.

Selain untuk memperkuat kompetensi literasi dan numerasi. 

Tujuan lain program BDR adalah untuk membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.

Program belajar dari rumah TVRI yang tayang sejak 13 April 2020 yang diprogramkan berlangsung selama pandemi. 

Berikut Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK.

Berikut Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK; >>> LIHAT DISINI

Daftar Daerah Kabupaten dan Kota Zona Hijau Yang Diizinkan Gugus Tugas dan Kemendikbud Membuka Sekolah Aceh Hingga Papua

One Be 7/12/2020
Daftar Daerah Kabupaten dan Kota Zona Hijau Yang Diizinkan Gugus Tugas dan Kemendikbud Membuka Sekolah Aceh Hingga Papua

BlogPendidikan.net
 - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makariem telah menyatakan bahwa pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bertahap di sekolah yang berada dalam zona hijau.  

Pernyataan ini disampaikan secara daring dalam acara Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19.

Adapun zona hijau yang dimaksud adalah merupakan daerah kasus angka penyebaran Covid-19 yang sudah menurun. Sementara, sekolah yang berada di daerah zona merah, oranye dan kuning masih belum diperbolehkan membuka pembelajaran tatap muka. 

Kebijakan klasifikasi wilayah ini penting dan perlu dilakukan untuk mencegah risiko terjadinya penularan virus corona.

Untuk teknisnya, jenjang SMP ke atas, termasuk SMA dan SMK, merupakan jenjang sekolah yang akan dibuka pertama kali. Sementara, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) diperkirakan baru akan dibuka sekitar 5 bulan lagi. 


Untuk peserta didik yang berada pada zona merah sendiri masih harus melakukan pembelajaran dari rumah. Nadiem Makarim menjelaskan pembukaan sekolah di tengah pandemi virus corona ini akan dilakukan secara bertahap.

Berdasarkan update data per 7 juni sebaran zona hijau Covid-19 ada 92 daerah kabupaten/kota dan pada 21 juni bertambah menjadi 112 daerah zona hijau covid-19, dan update per tanggal 5 juli menjadi 104 daerah zona hijau.

Dengan bertambahnya daerah kabupaten/kota zona hijau ada kemungkinan sekolah akan dibuka kembali dan tentunya harus memiliki izin dari pemda, memenuhi syarat cek list kesiapan sekolah dengan sarana kesehatan yang menunjang bagi kesehatan peserta didik serta mendapatkan izin dari warga sekolah dalam hal ini orang tua siswa apakah sekolah boleh dibuka atau tidak.

Sebanyak 94% sekolah di Indonesia hingga saat ini masih masuk dalam daftar zona merah, kuning, dan orange Covid-19.

94% masih belajar dari rumah sedangkan 6% di zona hijau diperbolehkan seizin Pemerintah Daerah untuk melakukan belajar tatap muka tapi dengan protokol sangat ketat.

4 syarat sekolah zona hijau boleh dibuka

Pertama: Keputusan zona hijau suatu daerah berdasarkan rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.
 
Kedua: Jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah/Kantor Kementerian Agama memberi izin pembukaan sekolah. Pemerintah daerah harus memberikan izin untuk membuka kegiatan belajar dan mengajar.

Ketiga: Pembukaan kegiatan belajar secara tatap buka bisa dilaksanakan jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka. Saat ketiga langkah pertama (persyaratan) tatap muka, sekolah bisa mulai tatap muka.

Keempat: Orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di sekolah. Meskipun sekolah telah memenuhi ketiga syarat pembukaan sekolah, orangtua berhak memutuskan anaknya akan ikut belajar tatap muka di sekolah atau tidak.

Berikut daftar 104 daerah yang masuk kategori zona hijau update hingga hari ini:

Provinsi Aceh

Aceh Barat Daya
Pidie Jaya
Nagan Raya
Kota Subulussalam
Aceh Singkil
Pidie
Bireuen
Aceh Jaya
Aceh Tenggara
Aceh Tengah
Aceh Timur
Simelue
Gayo Lues
Bener Meriah

Provinsi Sumatera Utara

Labuhan Batu
Nias Barat
Pakpak Bharat
Nias
Tapanuli Selatan
Mandailing Natal
Padang Lawas
Nias Utara
Nias Selatan
Humbang Hasudutan
Toba Samosir

Provinsi Sumatera Barat

Kota Sawahlunto
Kota Pariaman
Kota Solok
Pasaman Barat
Lima Puluh Kota
Kota Payakumbuah

Provinsi Sulawesi Tenggara

Muna Barat
Konawe Kepulauan

Provinsi Sulawesi Tengah

Banggai Kepualauan
Tojo Una-una

Provinsi Sulawesi Barat

Mamuji Utara
Majene

Provinsi Sulawesi Utara

Bolaang Mongondow Timur
Kep. Siau Tagulandang Biaro

Provinsi Riau

Kepulauan Meranti
Siak
Rokan Hilir

Provinsi NTT

Kupang
Timor Tengah Selatan
Belu
Ngada
Sumba Tengah
Sabu Raijua
Malaka
Alor
Sumba Barat
Lembata
Rote Ndao
Manggarai Timur
Timor Tengah Utara

Provinsi NTB

Kota Bima

Provinsi Maluku

Buru Selatan
Maluku Tenggara Barat
Maluku Tenggara
Kepulauan Aru

Provinsi Maluku Utara

Pulau Taliabu

Provinsi Lampung

Tulang Bawang
Tulang Bawang Barat
Kota Metro
Way Kanan
Lampung Timur
Mesuji

Provinsi Kalimantan Tengah

Sukamara

Provinsi Kalimantan Timur

Mahakam Ulu

Provinsi Jambi

Bungo
Tebo
Kerinci

Provinsi Sumatera Selatan

Musi Rawsa Utara
Ogan Komering Ulu Selatan

Provinsi Bengkulu

Bengkulu Selatan
Kaur
Muko Muko
Seluma
Lebong

Provinsi Papua

Mamberamo Tengah
Yahukimo
Mappi
Dogiyai
Paniai
Tolikara
Yalimo
Deiyai
Asmat
Lanny Jaya
Puncak
Mamberamo Raya
Nduga
Pegunungan Bintang
Intan Jaya
Supiori

Provinsi Papua Barat

Tambrauw
Maybrat
Pegunungan Arfak
Sorong Selatan
Manokwari Selatan
Teluk Wondama

Provinsi Kepulauan Riau

Natuna
Lingga
Kepulauan Anambas

Jeritan Guru dan Kebijakan Nadiem Yang Tak Sampai ke Daerah

One Be 7/11/2020
Jeritan Guru dan Kebijakan Nadiem Yang Tak Sampai ke Daerah

BlogPendidikan.net
- Guru di daerah terpencil mengaku tak mendapat arus informasi yang utuh soal kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Salah satunya, mereka kehilangan kesempatan mendapat kabar pelatihan dari pemerintah soal kemampuan mengajar di tengah pandemi virus corona.

Padahal mereka menilai pembelajaran tahun ajaran baru di tengah corona lebih banyak kendala di daerah terpencil. Kurang akses internet dan fasilitas penunjang menjadi kendala terberat.

"Kita masih bingung ini gimana cara ngajar dengan keterbatasan yang kami miliki," ujar Adimo, Guru SD Negeri 08 Benua di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon, Jumat (10/7).

Ia bercerita, tahun ajaran baru ini pihak sekolah memutuskan untuk mengajar dengan cara guru berkunjung ke rumah siswa. Ini karena ketika pembelajaran dilakukan daring selama tiga bulan kemarin, banyak kendala.

Beberapa di antaranya terkait jaringan yang kerap putus ketika sedang belajar. Komunikasi ke siswa juga minim karena tak semua siswa punya telepon genggam.

Pada akhirnya, Adimo harus membagi siswa menjadi 4 orang per kelompok. Pada hari yang ditentukan, siswa akan berkumpul di rumah salah satu anggota kelompok dan guru berkunjung untuk mengajar.

Hal ini jadi satu-satunya solusi yang dianggap solutif bagi guru dan tenaga pendidik di Konawe Selatan. Terlebih karena pelatihan atau bantuan dari pemerintah masih minim diterima tenaga pendidik di sini.

Kebingungan serupa juga didapati di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Ridwan, seorang guru di SD Negeri 015 Muara Muntai mengatakan Dinas Pendidikan setempat sebenarnya sudah membuat video edukasi cara mengajar di tengah pandemi.

Namun video tersebut diunggah dan disebarkan secara daring. Sedangkan ia mengatakan tidak semua guru bisa mengakses internet secara maksimal, sehingga sosialisasi pun tidak sampai.

"Soal Alokasi anggaran untuk kuota dari dana BOS saja tidak jalan. Karena banyak yang enggak tahu ada kebijakan itu. Sosialisasi minim sekali," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.

Hal ini mengacu pada kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim yang mengizinkan pemakaian dana BOS untuk kuota dan pembiayaan pembelajaran jarak jauh.

Namun Ridwan mengatakan masih banyak sekolah yang tidak menjalankan kebijakan tersebut. Banyak yang justru kebingungan menggunakan dana tersebut.

Tahun ajaran baru nanti, pemerintah daerah setempat belum bisa mengizinkan sekolah di daerah tempatnya mengajar dibuka kembali. Karena wilayah Muara Muntai masih berada di zona oranye.

Untuk itu pembelajaran di SD Negeri 015 Muara Mantai terpaksa dilakukan dengan metode berbeda-beda. Yakni 50 persen dengan luar jaringan (luring), 30 persen tatap muka dengan kunjungan guru, dan 20 persen secara daring.

"Karena tidak semua murid bisa belajar daring maksimal. Karena infrastruktur, fasilitas, jaringan bermasalah. Apalagi di pedalaman Kalimantan," ungkapnya.

Tahun ajaran baru bakal dimulai pekan depan tepatnya 13 Juli 2020. Mendikbud Nadiem mengatakan 94 persen sekolah masih harus belajar jarak jauh.

Namun berkaca pada PJJ tiga bulan berlangsung, banyak kendala yang didapati terlebih di daerah terpencil. Mulai dari kendala jaringan sampai keterbatasan fasilitas.

(Sumber: CNNIndonesia.com)

Mendikbud Akan Ubah Kepala Sekolah Menjadi Super Mentor

One Be 7/11/2020
Mendikbud Akan Ubah Kepala Sekolah Menjadi Super Mentor

BlogPendidikan.net
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan konsep kepala sekolah di Indonesia bakal berubah. Hal ini dalam rangka meningkatkan kualitas para guru.

"Konsep kepala sekolah baru kami adalah bukan kepala logistik atau operasi, tapi kepala peningkatan kualitas mutu guru. Dia adalah super mentor di masing-masing sekolah," katanya Nadiem Makarim dalam program Ini Budi: Reformasi Pendidikan Mas Menteri di Masa Pandemi yang ditayangkan di akun YouTube Tempodotco, Sabtu, 11 Juli 2020.

Kepala sekolah dengan kualifikasi super mentor ini bisa didapatkan lewat program Guru Penggerak. Program ini akan mencari bibit-bibit guru berkualitas yang memiliki jiwa kepemimpinan dan mentoring. Mereka yang terpilih akan disiapkan untuk menjadi kepala sekolah, pengawas sekolah, dan pengajar di sekolah pelatihan guru di masa depan.

Nadiem menuturkan konsep ini belum terjadi di Indonesia dan banyak negara lain. Namun di negara-negara dengan kualitas pendidikannya yang lebih baik, tugas utama kepala sekolah adalah membina guru bukan sekadar mengurusi masalah keuangan atau administratif.

Ia menjelaskan untuk meningkatkan kualitas guru Indonesia tidak bisa menggunakan cara lama yang hanya mengumpulkan mereka di satu tempat, diberikan seminar, lalu pulang ke rumah masing-masing. Satu-satunya cara untuk mengangkat kualitas guru harus ada sosok pemimpin yang bisa membimbing dan menginspirasi di sekolah.

Nadiem Makarim mengatakan Kemendikbud akan melakukan rekrutmen nasional dengan skala besar untuk menemukan bibit-bibit guru berkualitas ini. Program Guru Penggerak terbuka untuk semua guru baik yang berstatus PNS, guru swasta, maupun honorer.

"Kami gak melihat dari umur, status, PNS atau apa saja, yang penting adalah kualitas dan passion-nya dia apa. Minat di dalam hati dia apa, apakah akan selalu mengutamakan anak," kata Nadiem Makarim.

(Sumber; nasional.tempo.co)

Hal Yang Perlu Diperhatikan KBM Tatap Muka Sebelum dan Sesudah Proses Pembelajaran

One Be 7/11/2020
Hal Yang Perlu Diperhatikan KBM Tatap Muka Sebelum dan Sesuda Proses Pembelajaran

BlogPendidikan.net
- Hampir enam bulan sudah kegiatan belajar mengajar di sekolah terhenti akibat wabah virus corona. Memasuki ajaran baru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim akhirnya mengumumkan jadwal masuk sekolah tahun 2020/2021.

Meski kini virus corona masih mewabah di Indonesia, Nadiem Makarim mengungkapkan proses belajar di sekolah harus segera berjalan. Ada pun jadwal masuk sekolah di tengah pandemi virus corona ini akan dilaksanakan mulai Juli 2020.

Sementara itu pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah akan dilakukan secara bertahap untuk setiap jenjang pendidikan. SMA dan SMP sederajat akan menjadi jenjang pendidikan pertama yang akan memulai kegitan belajar secara tatap muka di sekolah.

Dalam siaran pers Kemendikbud, Nadiem mengumumkan hasil keputusan Kemendikbud bersama Gugus Tugas Percepatan penanganan Covid-19, Kemenko PMK, Kemenag, Kemenkes, Kemendagri, BNPB dan Komisi X DPR RI pada webinar Senin (15/6/2020).

Webinar yang diselenggarakan tersebut, terkait rencana penyusunan Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19.

Dijelaskan, panduan yang disusun dari hasil kerjasama dan sinergi antar kementerian ini bertujuan mempersiapkan satuan pendidikan saat menjalani masa kebiasaan baru.

“Prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa Pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat," jelasnya.

Syarat Sekolah Bisa Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Nadiem menegaskan, proses pengambilan keputusan dimulainya pembelajaran tatap muka bagi satuan pendidikan di kabupaten/kota dalam zona hijau dilakukan secara sangat ketat dengan persyaratan berlapis.

Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama dan utama yang wajib dipenuhi bagi satuan pendidikan yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.
  • Persyaratan kedua, adalah jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah/Kantor Kementerian Agama memberi izin.
  • Ketiga, jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka.
  • Keempat, orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.
“Jika salah satu dari empat syarat tersebut tidak terpenuhi, peserta didik melanjutkan Belajar dari Rumah secara penuh,” tegas Mendikbud.

Rincian tahapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau adalah:

* Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B: paling cepat Juli 2020
* Tahap II: SD, MI, Paket A dan SLB: paling cepat September 2020
* Tahap III: PAUD formal (TK, RA, dan TKLB) dan non formal: paling cepat November 2020

Hal Yang Perlu Diperhatikan KBM Tatap Muka Sebelum dan Sesudah Proses Pembelajaran

Sebelum Proses Pembelajaran:

1. Melakukan disinfeksi sarana prasarana dan lingkungan satuan pendidikan
2. Memastikan kecukupan cairan disinfektan, sabun cuci tangan, air bersih di setiap fasilitas CTPS, dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer)
3. Memastikan ketersediaan masker, dan/atau masker tembus pandang cadangan
4. Memastikan thermogun (pengukur suhu tubuh tembak) berfungsl dengan baik
5. Melakukan pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan: suhu tubuh dan menanyakan adanya gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak nafas

Sesudah Proses Pembelajaran:

1. Melakukan disinfeksi sarana prasarana dan lingkungan satuan pendidikan
2. Memeriksa ketersediaan sisa cairan disinfektan, sabun cuci tangan, dan cairan pembersih tangan (hand sanitizer)
3. Memeriksa ketersediaan sisa masker dan/atau masker tembus pandang cadangan
4. Memastikan thermogun (pengukur suhu tubuh tembak) berfungsi dengan baik
5. Melaporkan hasil pemantauan kesehatan warga satuan pendidikan harian kepada dinas pendidikan, kantor wilayah Kementerian Agama provinsi, dan kantor Kementerian Agama kabupaten/kota sesuai dengan kewenangannya.

Selama Kegiatan Belajar Mengajar:

1. Menggunakan masker dan menerapkan jaga jarak minimal 1,5 (satu koma lima) meter
2. Menggunakaa alat belajar, alat musik, dan alat makan minum pribadi
3. Dilarang pinjam-meminjam peralatan
4. Memberikan pengumuman di seluruh area satuan pendidikan secara berulalg dan intensif terkait penggunaaan masker, CTPS, dan jaga jarak
5. Melakukan pengamatan visual kesehatan warga satuan pendidikan, jika ada yang memiliki gejala gangguan kesehatan maka harus ikuti protokol kesehatan satuan pendidikan.

Selesai Kegiatan Belajar Mengajar:

1. Tetap menggunakan masker dan melakukan CTPS sebelum meninggalkan ruang kelas
2. Keluar rangan kelas dal satuan pendidikan dengan berbaris sambil menerapkan jaga jarak
3. Penjemput peserta didik menunggu di lokasi yang sudah disediakan dan melakukan jaga jarak sesuai dengan tempat duduk dan/atau jarak antri yang sudah ditandai.

Perjalanan pulang ke rumah:

1. Menggunakan masker dan tetap jagajarak minimal 1,5 (satu koma lima) meter
2. Hindari menyentuh permukaan bendabenda, tidak menyentuh hidung, mata, dan mulut, serta menerapkal etika batuk dan bersin
3. Membersihkan tangan sebelum dan sesudah menggunakan transportasi publik/ antar jemput. (*)

Belum Zona Hijau, 8 Daerah Ini Diizinkan Membuka Sekolah dan Belajar Tatap Muka

One Be 7/11/2020
Belum Zona Hijau, 8 Daerah Ini Diizinkan Membuka Sekolah dan Belajar Tatap Muka

BlogPendidikan.net
- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Jawa Tengah mengizinkan pembelajaran tatap muka di 8 kabupaten/kota di Jateng untuk Tahun Ajaran baru 2020-2021 yang akan dimulai pada Senin (13/7/2020). 

Kedelapan wilayah tersebut diklaim mempunyai risiko rendah penularan virus corona (COVID-19) di Jawa Tengah.

1. Penetapan wilayah pembelajaran dari hasil evaluasi Gugus Tugas COVID-19

Hal tersebut disampaikan oleh Kabid Pembinaan SMA Disdikbud Jateng, Syamsudin Isnaeni. Klasifikasi atau penetapan kedelapan daerah tersebut berdasarkan evaluasi yang dilakukan Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) COVID-19.


Dari evaluasi tersebut, ada tiga kategori wilayah persebaran virus corona di Jawa Tengah. Yakni zona merah atau dengan risiko tinggi terdiri dari enam wilayah (Kota Semarang, Kabupaten Magelang, Demak, Kudus, Jepara dan Temanggung). Sementara zona oranye  (risiki sedang) terdiri dari 21 wilayah (Rembang, Cilacap, Sragen, Grobogan, Kabupaten Pekalongan, Kota Magelang, Kabupaten Semarang, Sukoharjo, Salatiga, Banyumas, Kota Pekalongan, Wonogiri, Batang, Purbalingga, Boyolali, Pemalang, Karanganyar, Pati, Kebumen, Kabupaten Tegal, dan Wonosobo).

2. Ada 8 daerah di Jateng diklaim sebagai zona hijau

Adapun, zona dengan risiko rendah penularan terdiri dari delapan wilayah, meliputi Kabupaten Blora, Kabupaten Kendal, Kota Surakarta, Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Klaten, Kabupaten Purworejo, Kabupaten Brebes, dan Kota Tegal.


“Kami dari dinas sudah mengeluarkan petunjuk teknis tentang kegiatan belajar mengajar (KBM). Sudah ada panduannya, bagi wilayah di zona hijau boleh melakukan tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat. Daerah dengan zona kuning atau oranye dibatasi pesertanya (dipadu) dengan pembelajaran jarak jauh. (Zona merah) daring full (pembelajaran jarak jauh),” ujar dilansir IDN Times dari laman resmi Pemprov Jateng, Jumat (10/7/2020).

3. Pembukaan sekolah dikoordinasikan dengan bupati/ wali kota setempat

Syamsudin menyatakan pembukaan tersebut tidak bersifat menyeluruh. Pada hari pertama masuk sekolah, yang masuk adalah mereka siswa baru. Hal tersebut digunakan sebagai ajang pengenalan lingkungan sekolah. Itupun, dengan kurun waktu terbatas dan wajib menerapkan protokol kesehatan COVID-19. Sementara itu, bagi siswa kelas dua dan tiga dianjurkan untuk tetap melakukan pembelajaran daring atau online.

Meski demikian, pembukaan operasional sekolah harus dikoordinasikan dengan Ketua GTPP setempat, yakni bupati atau wali kota, sebagai rujukan utama.

“Secara makro, kita kebijakannya pelajaran jarak jauh (daring). Namun ada kebijakan yang zona hijau dimungkinkan boleh tatap muka. Itupun tak boleh masuk semua, tapi bertahap. Yang utama untuk siswa baru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Misalnya diizinkan, akan tetapi baru dua hari (masuk sekolah) ada terpapar COVID-19, ya harus berhenti,” imbuhnya.

4. Tidak ada daerah di Jawa Tengah yang masuk zona hijau

Dari delapan wilayah yang diizinkan secara bertahap melakukan pertemuan tatap muka, empat diantaranya saat ini malah masuk ke dalam zona dengan risiko sedang. Seperti Kabupaten Blora, Kabupaten Kendal, Kota Surakarta, dan Kota Tegal sebagaimana dilansir dalam laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 per 5 Juli 2020.

SIsanya, yaitu Kabupaten Banjarnegara, Kabupaten Klaten, Kabupaten Brebes, dan Kabupaten Purworejo masuk dalam zona risiko rendah. Hingga saat ini di Jawa Tengah belum terdapat daerah yang masuk dalam zona hijau, baik yang tak terdampak atau tak ditemukan kasus positif. Atau dengan kata lain, terdapat kasus positif di 35 kabupaten/kota Jateng.

“Kita dapat melihat pergerakan yang begitu cepat. Kasus positif berubah menjadi sembuh, kemudian orang yang sebelumnya ODP (atau) PDP kemudian terkonfirmasi menjadi positif. Sebuah daerah dengan cepat juga terjadi perubahan, dari zona risiko tinggi turun menjadi sedang, atau dari rendah naik menjadi sedang, dan lain sebagainya,” ucap Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional, Dewi Nur Aisyah menukil laman resmi covid19.go.id.

(Sumber; jateng.idntimes.com)

Ayah dan Bunda Tahun Ajaran Baru Telah di Tetapkan, Syarat dan Tahapan KBM Tatap Muka SD, SMP dan SMA Dari Mendikbud

One Be 7/10/2020
Ayah dan Bunda Tahun Ajaran Baru Telah di Tetapkan, Syarat dan Tahapan KBM Tatap Muka SD, SMP dan SMA Dari Mendikbud

BlogPendidikan.net
 - Akhirnya Mendikbud Nadiem Makarim merilis jadwal hari pertama masuk sekolah SD, SMP, SMA tahun ajaran baru 2020/2021. Perhatikan syarat-syarat ketat belajar tatap muka dari Mendikbud agar terhindari penularan virus corona atau Covid-19. 

Hampir enam bulan sudah kegiatan belajar mengajar di sekolah terhenti akibat wabah virus corona. Memasuki ajaran baru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim akhirnya mengumumkan jadwal masuk sekolah tahun 2020/2021.

Meski kini virus corona masih mewabah di Indonesia, Nadiem Makarim mengungkapkan proses belajar di sekolah harus segera berjalan. Ada pun jadwal masuk sekolah di tengah pandemi virus corona ini akan dilaksanakan mulai Juli 2020.

Sementara itu pelaksanaan pembelajaran tatap muka di sekolah akan dilakukan secara bertahap untuk setiap jenjang pendidikan. SMA dan SMP sederajat akan menjadi jenjang pendidikan pertama yang akan memulai kegitan belajar secara tatap muka di sekolah.

Dalam siaran pers Kemendikbud, Nadiem mengumumkan hasil keputusan Kemendikbud bersama Gugus Tugas Percepatan penanganan Covid-19, Kemenko PMK, Kemenag, Kemenkes, Kemendagri, BNPB dan Komisi X DPR RI pada webinar Senin (15/6/2020).

Webinar yang diselenggarakan tersebut, terkait rencana penyusunan Keputusan Bersama Empat Kementerian tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran pada Tahun Ajaran dan Tahun Akademik Baru di Masa Pandemi Covid-19.

Dijelaskan, panduan yang disusun dari hasil kerjasama dan sinergi antar kementerian ini bertujuan mempersiapkan satuan pendidikan saat menjalani masa kebiasaan baru.

“Prinsip dikeluarkannya kebijakan pendidikan di masa Pandemi Covid-19 adalah dengan memprioritaskan kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, keluarga, dan masyarakat," jelasnya.

Inilah poin-poin penting pengumuman Mendikbud Nadiem Makarim terkait Tahun Ajaran Baru 2020/2021 dan jadwal masuk sekolah dikutip dari siaran pers Kemendikbud:

1. Tahun Ajaran Baru 2020/2021

Tahun ajaran baru bagi pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar, dan pendidikan menengah di tahun ajaran 2020/2021 tetap dimulai pada Juli 2020.

Namun daerah di zona kuning, oranye, dan merah, dilarang melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.

“Satuan pendidikan pada zona-zona tersebut tetap melanjutkan Belajar dari Rumah,” terang Mendikbud Nadiem Anwar Makarim, pada webinar tersebut.

Terkait jumlah peserta didik, hingga 15 Juni 2020, terdapat 94 persen peserta didik yang berada di zona kuning, oranye, dan merah dalam 429 kabupaten/kota sehingga mereka harus tetap Belajar dari Rumah.

Adapun peserta didik yang saat ini berada di zona hijau hanya berkisar 6 persen.

2. Syarat Sekolah Bisa Gelar Pembelajaran Tatap Muka

Nadiem menegaskan, proses pengambilan keputusan dimulainya pembelajaran tatap muka bagi satuan pendidikan di kabupaten/kota dalam zona hijau dilakukan secara sangat ketat dengan persyaratan berlapis.

Keberadaan satuan pendidikan di zona hijau menjadi syarat pertama dan utama yang wajib dipenuhi bagi satuan pendidikan yang akan melakukan pembelajaran tatap muka.
  • Persyaratan kedua, adalah jika pemerintah daerah atau Kantor Wilayah/Kantor Kementerian Agama memberi izin.
  • Ketiga, jika satuan pendidikan sudah memenuhi semua daftar periksa dan siap melakukan pembelajaran tatap muka.
  • Keempat, orang tua/wali murid menyetujui putra/putrinya melakukan pembelajaran tatap muka di satuan pendidikan.
“Jika salah satu dari empat syarat tersebut tidak terpenuhi, peserta didik melanjutkan Belajar dari Rumah secara penuh,” tegas Mendikbud.

3. Jadwal Masuk Sekolah SD sampai SMA

Di luar pelarangan yang berlaku di zona kuning, oranye, dan merah, tahapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau dilaksanakan berdasarkan pertimbangan kemampuan peserta didik dalam menerapkan protokol kesehatan.

Dengan demikian, urutan pertama yang diperbolehkan pembelajaran tatap muka adalah pendidikan tingkat atas dan sederajat, tahap kedua pendidikan tingkat menengah dan sederajat, lalu tahap ketiga tingkat dasar dan sederajat.

Itupun harus dilakukan sesuai dengan tahapan waktu yang telah ditentukan.
“Namun, begitu ada penambahan kasus atau level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali,” terang Mendikbud.

Rincian tahapan pembelajaran tatap muka satuan pendidikan di zona hijau adalah:

* Tahap I: SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, Paket B: paling cepat Juli 2020
* Tahap II: SD, MI, Paket A dan SLB: paling cepat September 2020
* Tahap III: PAUD formal (TK, RA, dan TKLB) dan non formal: paling cepat November 2020

Adapun sekolah dan madrasah berasrama pada zona hijau harus melaksanakan Belajar dari Rumah serta dilarang membuka asrama dan pembelajaran tatap muka selama masa transisi (dua bulan pertama).

Pembukaan asrama dan pembelajaran tatap muka dilakukan secara bertahap pada masa kebiasaan baru dengan mengikuti ketentuan pengisian kapasitas asrama.Selanjutnya untuk satuan pendidikan di zona hijau, kepala satuan pendidikan wajib melakukan pengisian daftar periksa kesiapan sesuai protokol kesehatan Kementerian Kesehatan.

Kemendikbud akan menerbitkan berbagai materi panduan seperti program khusus di TVRI, infografik, poster, buku saku, dan materi lain mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan pada fase pembelajaran tatap muka di zona hijau.

Mendikbud Nadiem: Kantin Serta Kegiatan Olahraga dan Ekskul Belum Boleh di Masa Transisi Ini

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim tidak memperbolehkan kegiatan yang mengundang kerumunan saat sekolah dibuka.

Langkah ini dilakukan untuk memutus mata rantai penyebaran virus corona atau Covid-19 di lingkungan sekolah.

"Pada saat masa transisi ini semua aktivitas di mana anak-anak itu bercampur, interaksi antarkelas tidak boleh. Jadi hanya boleh masuk kelas lalu pulang," kata Nadiem Makarim dalam konferensi pers secara daring, Senin (15/6/2020).

Larangan tersebut meliputi aktivitas di kantin, olahraga, hingga kegiatan ekstra kurikuler.

"Jadi seperti kantin itu tidak boleh. Juga kegiatan olahraga dan ekskul juga belum boleh. Jadi apa pun aktivitas yang perkumpulan sifatnya itu belum boleh di masa transisi ini," kata Nadiem Makarim.

Dalam pembelajaran tatap muka, Nadiem Makarim mewajibkan sekolah menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Para siswa diwajibkan mengenakan masker, mencuci tangan, serta menjaga jarak.

Seperti diketahui, pemerintah akhirnya memutuskan untuk memperbolehkan kegiatan pembelajaran tatap muka atau pembukaan sekolah di wilayah zona hijau

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan wilayah yang masuk zona hijau merepresentasikan enam persen populasi peserta didik.

Pemerintah daerah wilayah zona hijau dipersilakan untuk menggelar pembelajaran tatap muka.

Protokol Jaga Jarak Dapat Turunkan Risiko Penularan Covid-19 Hingga 85 Persen

 Tim Komunikasi Publik, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Dokter Reisa Broto Asmoro mengatakan berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan jurnal ilmiah Lancet protokol jaga jarak atau physical distancing dapat menurunkan risiko penularan Covid-19 hingga 85 persen.

Dalam jurnal tersebut menurut dokter Reisa disebutkan bahwa jarak yang aman adalah 1 meter dari satu orang dengan orang lain.

"Ini merupakan langkah pencegahan terbaik bisa menurunkan risiko sampai dengan 85 persen," kata Dokter Reisa di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Rabu (10/6/2020).

Menurutnya, protokol jaga jarak sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19 paling efektif menurunkan transmission rate atau angka penularan.

Terutama, ketika berada di ruang publik, seperti transportasi umum.

Sebagaimana diketahui virus SARS-CoV-2 menular atau ditularkan melalui droplet atau percikan air liur.

Maka dalam hal ini, dokter Reisa juga menyarankan agar masyarakat tetap menggunakan masker saat harus keluar rumah, terutama apabila menggunakan layanan transportasi publik.

"Virus corona jenis baru penyebab Covid-19 menular melalui droplet atau percikkan air liur, maka wajib semua orang menggunakan masker, terutama ketika menggunakan transportasi," jelasnya.

Selanjutnya apabila terpaksa menggunakan transportasi umum, dokter Reisa mengimbau masyarakat agar menghindari memegang gagang pintu, tombol lift, pegangan tangga, atau barang-barang yang disentuh orang banyak.

Kalau terpaksa, maka harus langsung cuci tangan.

"Apabila tidak memungkinkan, menggunakan air dan sabun, maka dapat menggunakan hand rub dengan kadar alkohol minimal 70 persen," katanya.

Kemudian, dia juga mengingatkan agar masyarakat tidak meletakkan barang-barang bawaan atau tas di kursi atau lantai transportasi umum.

Selain itu, mengkonsumsi makanan atau minuman di transportasi umum juga sebaiknya tidak dilakukan, sebab dapat terkontaminasi.

"Hindari menggunakan telepon genggam di tempat umum, terutama apabila berdesakan dengan orang lain, sehingga tidak bisa menjaga jarak aman," jelasnya.

"Hindari makan dan minum, ketika berada di dalam transportasi umum. Hal ini bertujuan untuk menghindari kontaminasi, apalagi kalau menggunakan tangan yang tidak bersih," tambah dokter Reisa. (*)

Simulasi dan Sekolah Percontohan Nasional KBM Tatap Muka di Masa COVID-19

One Be 7/09/2020

BlogPendidikan.net
- Senin pekan depan (13/7), tahun pelajaran baru resmi dimulai. Wakil Presiden Ma’ruf Amin kemarin (8/7) mengunjungi SMAN 4 Sukabumi yang siap mengawali pembelajaran secara tatap muka. Dia berpesan, pemda atau kepala sekolah untuk melakukan inovasi protokol kesehatan di sekolah.

Dalam kunjungan itu, Ma’ruf Amin didampingi Mendikbud, Nadiem Makarim dan Menag Fachrul Razi. Turut hadir juga Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil dan Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi.

Kota Sukabumi adalah satu diantara seratus kabupaten dan kota yang berstatus zona hijau wabah Covid-19. Sehingga, bisa menjalankan pendidikan tatap muka. Namun sekolah belum bisa menentukan, karena harus komunikasi dahulu dengan para orang tua murid.

Saat dikunjungi Wapres bersama sejumlah menteri, diperagakan simulasi protokol kesehatan di kelas. Diantaranya adalah jarak antara bangku siswa. Kemudian di setiap bangku siswa diberikan boks plastik bening. Siswa juga menggunakan masker serta face shield.

Ma’ruf mengatakan, saat ini di Provinsi Jawa Barat masuk fase adaptasi kebiasaan baru (AKB). Sebelumnya ketika diberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), kegiatan sekolah dialihkan di rumah masing-masing. ’’Pendidikan online tidak optimal. Bahkan di sejumlah daerah tidak bisa dilakukan,’’ kata dia.

Simulasi dan Sekolah Percontohan Nasional KBM Tatap Muka di Masa COVID-19

Untuk itu, Ma’ruf mengapresiasi rencana dimulainya pembelajaran tatap muka atau di kelas kembali. Dia berpesan supaya pemda dan sekolah melakukan inovasi-inovasi pencegahan Covid-19. Dia menyambut baik inovasi seperti adanya boks plastik di setiap bangku siswa.

Sehingga, bisa mencegah terjadinya penularan virus korona di kelas. Kemudian, penambahan dari dua sift menjadi tiga sift pembelajaran, juga bisa mencegah terjadinya kerumunan.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu mengatakan, kondisi Kota Sukabumi yang berada di zona hijau harus dijaga. Dia mengakui bahwa menjadikan daerah zona hijau cukup sulit. Apalagi mempertahankannya juga tidak mudah.

’’Saya berharap dan ikut berdoa, mudah-mudahan sekali hijau tetapi hijau. Jangan jadi kuning, biru, bahkan merah,’’ tuturnya.

Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara tatap muka di Kota Sukabumi ternyata tak hanya menjadi percontohan di tingkat Provinsi Jawa Barat, tapi juga nasional. Hal ini disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim saat mendampingi kunjungan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin ke SMA Negeri 4 Kota Sukabumi, Rabu (8/7).

Menurut Nadiem, kesiapan sekolah tatap muka didasarkan pada keputusan kepala sekolah dan orangtua bebas tidak menyekolahkan anaknya dan tidak ada diksrikiminasi.

”SMA 4 Sukabumi bisa menjadi percontohan untuk nasional. Bahkan tidak hanya SMA, tapi lainnya. Kuncinya pola pikir kepala sekolah, guru, pengawas, dan kepala dinas seperti apa mengutamakan pendidikan dengan berbagai inovasi,” jelasnya saat memberikan sambutannya di SMA N 4 Kota Sukabumi.

Nadiem mengatakan, SMA 4 Sukabumi misalnya luar biasa membuat 3 shift padahal 2 shif cukup. Langkah ini karena ingin benar-benar menerapkan protokol kesehatan.

“Kemampuan kreativitas dan mindset pola pikir mereka akan mengajari kita dalam menemuka strategi terbaik, SMA 4 Sukabumi bisa menjadi percontohan untuk nasional dan bahkan tidak hanya SMA, tapi lainnya,” tutupnya.

Sementara itu, Walikota Sukabumi, Achmad Fahmi mengaku terus berupaya dalam hal pencegahan, penanganan Covid-19. Sehingga, secara bertahap mulai dari zona merah, biru hinga kini zona hijau.

“Hampir seluruh kasus Covid-19 di Kota Sukabumi adalah OTG. Di Kota Sukabumi ada dua klaster, yakni klaster yang di tangani kami dan klaster institusi negera. Tapi, berkat dukungan semua pihak, termasuk Provinsi Jabar, akhirnya kami bisa menuju zona hijau,” tambahnya.

Pada zona hijau ini, pihaknya terus melakukan tracking dan tracing. Pemeriksan, baik itu PCR dan rapid tes terus dilakukan. Sehingga, indek PCR di Jawa Barat, Kota Sukabumi paling tinggi.

“Meski kami zona hijau, akan terus perkuat dari sisi pemeriksaan rapid ataupun swab. Kemudian, keunggulan dari sisi pencegahan, kami tugaskan satu dinas bertanggung jawab kepada satu Kelurahan,” pungkasnya.

Terpisah, Kepala Sekolah SMAN 4 Kota Sukabumi, Rachmat Mulyana menambahkan, menjelang dibukanya kembali KBM di SMAN 4 Kota Sukabumi, berbagai sarana dan prasarana protokol kesehatan telah disiapkan.

Mulai dari alat pengukur suhu, wastafel, sterilisasi dengan disinfektan dan penyediaan hansanitizer. “Nantinya para siswa akan dilakukan pengecekan suhu sebelum memasuki area sekolah. Para siswa juga wajib menggunakan masker. Kami menyediakan watafel di beberapa titik,” ucapnya. (radarsukabumi.com)


Kelas akan terbagi atas 3 sif sehari

Wapres juga memuji kebijakan sekolah terkait pembagian sif pembelajaran menjadi tiga waktu dengan jumlah 12 siswa per pembelajaran. "Meski diizinkan dua sif, tetapi dengan memilih membagi tiga sif (pembelajaran) adalah langkah yang (lebih) hati-hati," ungkap Ma'ruf. 

Ma'ruf mendorong para pemangku kebijakan agar terus berinovasi menjalani adaptasi kebiasaan baru (AKB) dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. "Bukan hanya di sekolah. Di pasar, terminal, dan tempat orang berkumpul banyak juga perlu ada inovasi upaya pencegahan penularan (Covid-19)," imbaunya.

Wapres dan Kemendikbud berharap SMAN 4 Sukabumi bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Mulai Senin 13 - 18 Juli Peserta Didik Baru Wajib Masuk Sekolah

One Be 7/09/2020
Mulai Senin 13 - 18 Juli Peserta Didik Baru Wajib Masuk Sekolah

BlogPendidikan.net
- Mulai tanggal 13 Juli nanti, siswa baru akan kembali beraktivitas menjalani proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Tegal Akhmad Was’ari.

Kata Was'ari, Kamis (9/7), mulai tanggal 13 Juli 2020, siswa baru diwajibkan masuk sekolah. Hal tersebut dilakukan sebagai masa orientasi atau pengenalan siswa di lingkungan sekolah. Karena siswa baru perlu menyesuaikan kondisi lingkungan sekolah seperti pengenalan dengan guru maupun antarsiswa lainnya.

"Untuk SD berarti hanya kelas satu yang masuk, sedangkan SMP itu hanya kelas tujuh. Selain masa pengenalan, siswa baru juga harus mengurus administrasi yang ada," katanya. 

Masa pengenalan, tambah  Akhmad Was'ari, dilakukan dengan pedoman protokol kesehatan yang ketat. Seperti apa yang telah diterapkan di masing-masing sekolah. Terkait hal tersebut, masa pengenalan hanya berlangsung satu minggu, setelah itu siswa akan diliburkan kembali dan belajar di rumah. 

“Jadi siswa baru hanya berangkat satu minggu mulai tanggal 13 sampai 18 Juli 2020. Setelah itu, siswa kembali libur sampai ada pengumuman selanjutnya,” tambahnya.

Terkait banyaknya pertanyaan masyarakat melalui media sosial, lanjut Akhmad Was'ari, dinas telah memiliki skenario, siswa masuk dengan sistem bergilir atau shift. Rencananya, Dikbud Kabupaten Tegal akan mulai memberlakukan skenario tersebut pada bulan Agustus. Namun dengan catatan, masing-masing sekolah harus memiliki izin dari pihak komite. 

Pada tingkat SD, siswa masuk secara bergantian. Misal dalam satu kelas terdapat 30 siswa, maka di hari pertama hanya nomor absen 1 sampai 15 yang masuk, kemudian nomor absen 16 sampai 30 masuk di hari berikutnya. Sedangkan pada tingkat SMP dilakukan sistem shift tingkat kelas. 

Artinya SMP tidak mengacu pada nomor urut absen, tetapi kelas. Kelas tujuh masuk di minggu pertama, kelas delapan masuk minggu kedua, sedangkan kelas sembilan di minggu berikutnya. 

Berkenaan dengan hal itu, dikbud tidak memaksa jika para orang tua murid tidak mengizinkan anaknya masuk sekolah dan pembelajaran masih dapat dilakukan melalui daring atau jarak jauh.

Artikel ini juga telah tayang di radartegal.com

Senin Hari Pertama Masuk Sekolah Kemendikbud Resmi Keluarkan Aturan Sekolah Tatap Muka, 104 Daerah Zona Hijau

One Be 7/09/2020
Senin Hari Pertama Masuk Sekolah Kemendikbud Resmi Keluarkan Aturan Sekolah Tatap Muka, 104 Daerah Zona Hijau

BlogPendidikan.net
- Senin adalah hari pertama sekolah tahun ajaran baru dimulai. 
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menetapkan hari pertama tahun ajaran baru mulai 13 Juli 2020.

Walaupun telah ditetapkan masuk sekolah tanggal 13 Juli, tidak semua sekolah dibolehkan buka atau gelar tatap muka.

Tidak diperbolehkannya semua sekolah untuk menggelar tatap muka lantaran menghindari penularan dan klaster baru dari Covid-19.

Daerah yang diperbolehkan untuk tatap muka dalah zona hijau atau yang tidak terdampak Covid-19.

Namun dengan berbagai pertimbangan dan persetujuan pemerintah daerah setempat.


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan alasan mengapa tetap membuat aturan masuk sekolah tanggal 13 Juli 2020.

Semula diisukan sekolah mulai awal tahun 2021.

Plt Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, mengungkapkan alasan dimulainya kegiatan belajar pada bulan Juli 2020.


“Kenapa Juli? Memang kalender pendidikan kita dimulai minggu ketiga bulan Juli dan berakhir Juni. Itu setiap tahun begitu," kata Hamid dikutip Kompas.com.

Pelaksanaan sekolah dimulai pada tanggal 13 Juli ini akan diikuti oleh beberapa kabupaten atau kota.

Kabupaten kota yang dibolehkan dalam membuka sekolah untuk tatap muka adalah daerah zona hijau.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, sebelumnya juga telah memastikan proses KBM tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai pada Juli 2020.

Namun, apakah masuk sekolah dilakukan dengan tatap muka atau tidak, Nadiem menjawab sekolah yang berada di zona hijau sudah boleh melakukan tatap muka.


"Yang di zona hijau, kami mempersilakan pemerintah daerah melakukan pembelajaran tatap muka," ujar Nadiem Makarim dikutip dari laman kemdikbud.go.id.

"Untuk daerah dengan zona kuning, oranye, dan merah, itu dilarang untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka.”

Namun, Nadiem menegaskan ada beberapa syarat yang harus dilalui sekolah jika ingin melakukan KBM dengan tatap muka.

Itu antara lain Kabupaten/kota harus zona hijau, pemerintah daerah harus setuju, sekolah harus memenuhi semua daftar periksa dan siap pembelajaran tatap muka dan terakhir orang tua murid setuju pembelajaran tatap muka.

“Jika salah satu dari empat syarat tersebut tidak terpenuhi, peserta didik melanjutkan belajar dari Rumah secara penuh,” ujar Mendikbud.

Kemudian, Mendikbud juga menegaskan ada pengecualian siswa yang bisa masuk sekolah.

Tahapannya yang boleh melaksanakan sekolah tatap muka, yakni jenjang SMP ke atas.

Artinya, jenjang SD ke bawah belum bisa mengikuti pembelajaran tatap muka di sekolah meski berada di zona hijau.

"Kita telah mengambil keputusan bahwa zona hijau yang boleh menyelenggarakan pembelajaran tatap muka," ujar Nadiem Makarim.

Untuk tahap pertama, siswa yang bisa mengikuti pembelajaran tatap muka ialah siswa jenjang SMA, SMK, MA, MAK, SMTK, SMAK, Paket C, SMP, MTs, paket B.

Tahap kedua bagi jenjang SD, MI, Paket A dan SLB akan dilaksanakan dua bulan setelah tahap pertama.

Terakhir, tahap ketiga bagi jenjang PAUD formal (TK, RA, TKLB) dan non formal dilaksanakan dua bulan setelah tahap kedua.

"Jadi, siswa PAUD akan bisa masuk sekolah jika sudah lima bulan dari sekarang. Itu juga syaratnya harus berada di zona hijau," ujar Nadiem.

Saat ini berdasarkan update zona yang dilakukan Gugus Tugas Covid-19 BNPB Selasa (7/7/2020) ada 104 daerah zona hijau.

Ada tambahan 43 daerah yang dinyatakan masuk zona hijau dari awalnya cuma 61 daerah.

Keempat puluh tiga wilayah administrasi di tingkat kabupaten dan kota tersebut, antara lain:

Provinsi Aceh - Aceh Barat Daya, Pidie, Simeleu, Gayo Lues dan Bener Meriah.
Provinsi Sumatera Utara - Labuhan Batu.
Provinsi Jambi - Bungo, Tanjung Jabung Timur, Tebo dan Merangin.
Provinsi Sumatera Barat - Kota Sawahlunto, Kota Pariaman, Kota Solok, Pasaman Barat, Lima Puluh Kota, dan Kota Payakumbuh.
Provinsi Bengkulu - Bengkulu Selatan, Kaur, Mukomuko dan Seluma.
Provinsi Lampung - Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Way Kanan dan Pesawaran.
Provinsi Riau - Kepeluauan Meranti dan Siak.
Provinsi Sumatera Selatan - Musi Rawsa Utara dan Ogan Komering Ulu Selatan.
Provinsi Kalimantan Tengah - Sukamara.
Provinsi Kalimantan Barat - Kapuas Hulu dan Kayong Selatan.
Provinsi Sulawesi Tenggara - Muna Barat.
Provinsi Sulawesi Tengah - Banggai Kepulauan.
Provinsi Sulawesi Barat - Mamuju Utara dan Majene.
Provinsi Nusa Tenggara Timur - Flores Timur, Rote Ndao dan Timor Tengah Selatan
Provinsi Nusa Tenggara Barat - Bima.
Provinsi Maluku - Buru Selatan.
Provinsi Maluku Utara - Pulau Taliabu.
Provinsi Papua Barat - Manokwari Selatan.
Provinsi Papua - Mamberami Tengah.

Selanjutnya Dewi yang juga pakar epidemiologi menjelaskan terdapat enam puluh satu daerah yang hingga Minggu lalu (5/7/2020) tidak terdampak COVID-19.

Selain 43 daerah baru masuk zona hijau, ada 61 daerah yang tidak ditemukan kasus positif Covid-19.

Enam puluh satu daerah itu terdiri dari:

Provinsi Aceh - Pidie Jaya, Kota Sabang, Kota Langsa, Aceh Singkil, Bireuen, Aceh Jaya, Nagan Raya, Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Barat, Aceh Timur dan Kota Subulussalam.

Provinsi Sumatera Utara - Pakpak Bharat, Nias Barat, Mandailing Natal, Padang Lawas, Nias, Nias Utara, Selatan, Humbang Hasundutan dan Nias Selatan.

Provinsi Riau - Rokan Hilir.

Provinsi Kepulauan Riau - Natuna, Lingga dan Kepulauan Anambas.

Provinsi Jambi - Kerinci.

Provinsi Bengkulu - Lebong.

Provinsi Lampung - Lampung Timur dan Mesuji.

Provinsi Kalimantan Timur - Mahakam Ulu.

Provinsi Sulawesi Tengah - Tojo Una-una.

Provinsi Sulawesi Utara - Bolaang Mongodow Timur dan Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Provinsi Sulawesi Tenggara - Konawe Kepulauan.

Provinsi Nusa Tenggara Timur - Sumba Tengah, Ngada, Sabu Raijua, Lembata, Malaka, Alor, Timor Tengah Utara, Manggarai Timur, Kupang, dan Belu.

Provinsi Maluku - Maluku Tenggara Barat, Maluku Tenggara, dan Kepulauan Aru.

Provinsi Papua - Yahukimo, Mappi, Dogiyai, Paniai, Tolikara, Yalimo, Deiyai, Mamberamo Raya, Nduga, Pegunungan Bintang, Asmat, Puncak, dan Intan Jaya.

Provinsi Papua Barat - Maybrat, Pegunungan Arfak, Tambrauw, dan Sorong Selatan.

Itulah perkembangan terbaru untuk daerah yang masuk kategori zona hijau.

Sisi lain, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim beberapa hari sebelumnya telah mengumumkan jadwal masuk sekolah tahun ajaran baru.

Semua daerah zona hijau dibolehkan untuk tatap muka dengan berbagai persyaratan yang telah ditemtapkan.

Masuk sekolah tahun ajaran baru dimulai 13 Juli 2020.

Saat ini ada 104 daerah zona hijau diseluruh Indonesia.