56 Model Pembelajaran Yang Cocok Diterapkan di Sekolah

56 Model Pembelajaran Yang Cocok Diterapkan di Sekolah

BlogPendidikan.net
- Dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran tentunya harus mempersiapkan bahan ajar yang akan diajarkan saat itu, merancang materi pembelajaran haruslah terarah dengan konsep materi yang akan diajarkan dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat pada karakteristik materi ajar.

Model pembelajaran tidak akan pernah lepas dari proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, untuk mempercepat pemahaman siswa terhadap materi dengan menggunakan model pembelajaran yang tepat.

Model pembelajaran secara umum adalah suatu cara atau teknik penyajian sistematis yang digunakan oleh guru dalam mengorganisasikan pengalaman proses pembelajaran agar tercapai tujuan dari sebuah pembelajaran.


Definisi model pembelajaran yang lebih singkat merupakan suatu pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Model pembelajaran bisa juga diartikan sebagai seluruh rangkaian penyajian materi yang meliputi segala aspek sebelum, sedang dan sesudah pembelajaran yang dilakukan guru serta segala fasilitas yang terkait yang digunakan secara langsung atau tidak langsung dalam proses belajar mengajar.

Berikut 56 Model Pembelajaran Terbaru Yang Cocok Diterapkan di Sekolah antara lain:

1. Koperatif (CL, Cooperative Learning)

Model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, dan memahami materi secara mendalam.
Alur pembelajaran koperatif adalah : informasi, pengarahan strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan membuat laporan.

2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan.


3. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung.  Alurnya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

4. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)

Masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, atau algoritma). Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi.

5. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)

Mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematics, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip, algoritma, aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi  matematik melalui proses dalam dunia rasio, pengembangan
matematika). Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas
(kebermaknaan proses-aplikasi), pemahaman (menemukan informal dalam konteks melalui refleksi, informal ke formal), inter internment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep), interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari guru dalam penemuan).

6. Team Work

Sebuah model pembelajaran terpadu yang memfokuskan diri pada pengembangan karakter kerja-sama, saling percaya, dan kolaborasi antar individu. Guru sebagai pembina wajib untuk menekankan pentingnya
aspek dan cara bekerja sama yang baik demi mencapai tujuan bersama.

7. Problem Posing

Bentuk lain dari problem solving adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simpel sehingga mudah dipahami. Alurnya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan, cari alternatif, menyusun soal-pertanyaan.

8. Problem Terbuka (OE, Open Ended)

Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi.
Siswa dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut.


9. Probing Prompting

Mode pembelajaran Probing Prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.

10. Pembelajaran Bersiklus (Cycle Learning)

Pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan, eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternatif pemecahan, dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. 

11. Examples Non Examples

Persiapkan gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru sebagai fasilitator pendidikan peserta didik mencermati sajian, diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

12. Numbered Heads Together

NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran kooperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen dan tiap peserta didik memiliki nomor tertentu, berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap peserta didik tidak sama sesuai dengan nomor peserta didik, tiap peserta didik dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomor peserta didik yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap peserta didik, umumkan hasil kuis dan beri reward.

13. Cooperative Script

Metode belajar dimana peserta didik bekerja berpasangan dan bergantian secara lisan mengikhtisarkan, bagian-bagian dari materi yang dipelajari.

14. Time Token

Model ini digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar peserta didik tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali.

15. Keliling Kelompok

Maksudnya agar masing-masing anggota kelompok mendapat kesempatan untuk memberikan kontribusi mereka dan mendengarkan pandangan dan pemikiran anggota lainnya

16. Two Stay Two Stray

Ini adalah salah satu model pembelajaran yang cukup terkenal. Cara melakukannya adalah sebagai berikut : Peserta didik bekerja sama dalam kelompok yang berjumlah 4 (empat) orang. Setelah selesai, dua orang dari masing-masing menjadi tamu kedua kelompok yang lain Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi ke tamu mereka. Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain Kelompok mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka.

17. Student Teams Achievement Divisions (STAD)

STAD adalah salah suatu model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual dan buat skor perkembangan tiap peserta didik atau kelompok, umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. 

18. Jigsaw

Model pembelajaran ini termasuk koperatif dengan sintaks seperti berikut ini : Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari  beberapa bagian sesuai dengan banyak peserta didik dalam kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu, tiap kelompok bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok asal, pelaksanaan tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

19. Quiz

Model pembelajaran dengan memberikan quiz kepada siswa, baik berkelompok maupun individu. Cara ini sangat baik untuk menumbuhkan semangat bersaing dengan sehat.

20. Artikulasi

Artikulasi adalah mode pembelajaran dengan alur: penyampaian kompetensi, sajian materi, bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu peserta didik menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil diskusinya, guru sebagai fasilitator pendidikan membimbing peserta didik untuk menyimpulkan.

21. Mind Mapping

Pembelajaran ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal murid. Tahapannya adalah: informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, murid berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban, presentasi hasil diskusi kelompok, murid membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan refleksi.

22. Make a Match Mencari Pasangan

Guru sebagai fasilitator pendidikan menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya, setiap murid mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya, setiap murid mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya murid yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk badak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

23. Reciprocal Learning

Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal, yaitu bagaimana murid belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik (1999) mengatakan bahwa belajar efektif dengan cara membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis. Untuk mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSDmodul, membaca-merangkum.

24. SAVI

Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menanggapi; Visualization yang
bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media dan alat peraga; Intellectual yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) dan belajar haruslah dengan konsentrasi pikiran
dan berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan masalah, dan menerapkan.


25. TGT (Teams Games Tournament)

Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan murid heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamikia kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok,
suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru sebagai fasilitator pendidikan bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian guyonan.

26. TAI (Team Assisted Individual)

Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (Bidak) dengan karateristirk bahwa tanggung jawab belajar adalah pada murid. Oleh karena itu murid harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru. Pola komunikasi guru-murid adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. Tahapan Bidak menurut Slavin adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul, (2) murid belajar kelompok dengan dibantu oleh murid pandai anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif.

27. Demonstrative Model

Pembelajaran ini khusus untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk murid atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

28. Explicit Instruction

Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah demi langkah bertahap. Tahapannya adalah: sajian informasi kompetensi, mendemontrasikan pengetahuan dan keterampilan prosedural,
membimbing pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

29. Scramble

Tahapannya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban, murid berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok.

30. Flipped Classroom

Guru menyiapkan bahan dan materi pelajaran untuk dipelajari siswa sebelum hari H. Pada saat pertemuan, guru hanya memberikan refleksi dan penguatan.

31. Picture and Picture

Sajian informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi, murid (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

32. Cooperative Script

Buat kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, murid mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.

33. LAPS Heuristik

Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. LAPS (Logan Avenue Problem Solving) dengan kata lain apa masalahnya : adakah alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. Tahapan: pemahaman masalah,
rencana, solusi, dan pengecekan.

34. Improve

Improve singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing, Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment. Tahapannya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan
konsep, murid latian dan bertanya, balikan-perbnaikanpengayaan-interaksi.

35. Treffinger

Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Tahapan: keterbukaan-urun ide-penguatan, penggunaan ide kreatif konflik internal skill, proses rasapikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui
pemanasan minat kuriositi tanya, kelompok kerjasama,
kebebasan-terbuka, reward.

36. VAK (Visualization, Auditory, Kinetics)

Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic.

37. AIR (Auditory, Intellectual, Repetition)

Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama, perluasan, pemantapan dengan cara murid dilatih melalui pemberian tugas atau quis.

38. Kumon 

Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. Tahapansnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap murid selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung
dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.

39. Quantum

Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha murid
diberi reward. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat , alamidengan dunia realitas murid, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab latihan rangkuman, dan rayakan dengan reward dengan senyum tawa ramah sejuk nilai harapan.

40. Think Pair and Share

Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan tahapan: Guru menyajikan materi klasikal, berikan persoalan kepada murid dan murid bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi
kelompok (share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap murid, umumkan hasil kuis dan berikan reward.

41. Debat

Debat adalah model pembelajaran dengan sintaks: bagi kelas menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, murid membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya
begitu setrusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu.

42. Role Playing

Tahapan dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan skenario pembelajaran, menunjuk beberapa murid untuk mempelajari scenario tersebut, pembentukan kelompok murid, penyampaian kompetensi, menunjuk murid untuk
melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok murid membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penimpoulan dan refleksi.

43. Talking Stick

Tahapan pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, murid mebaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada murid dan murid yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru, tongkat diberikan kepad murid lain dan guru memberikan
petanyaan lagi dan seterusnya, guru membimbing kesimpulanrefleksi-evaluasi.

44. Snowball Throwing

Tahapannya adalah: Informasi materi secara umum,  membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain menjawab secara bergantian, penyuimpulan,
refleksi dan evaluasi. 

45. Student Facilitator and Explaining

Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian materi, murid mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke murid lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi. Murid mempresentasikan ide/pendapat pada rekan peserta lainnya. 

46. Course Review

Langkah-langkahnya: informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, murid atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak, murid yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru
berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan murid menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward, penyimpulan dan evaluasi, refleksi.

47. MDR (Multi Discourse Representation)

DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Tahapannya adalah: persiapan, pendahuluan, pengemabangan, penerapan, dan penutup. 

48. Inside-Outside-Circle

IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan, 1993) di mana murid saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Tahapannya adalah: Separuh dari jumlah murid membentuk lingkaran kecil
menghadap keluar, separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, murid yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan, murid yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan seterusnya.

49. Tebak Kata

Langkah-langkah :
a. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai atau materi ± 45 menit.
b. Guru menyuruh murid berdiri berpasangan di depan kelas
c. Seorang murid diberi kartu yang berukuran 10 x 10 cm yang nanti dibacakan pada pasangannya. Seorang murid yang lainnya diberi kartu yang berukuran 5 x 2 cm yang isinya tidak boleh dibaca (dilipat) kemudian ditempelkan di dahi atau diselipkan ditelinga. Murid yang membawa kartu 10 x 10 cm membacakan kata-kata yang tertulis didalamnya sementara pasangannya menebak apa yang
dimaksud dalam kartu 10 x 10 cm. Jawaban tepat bila sesuai dengan isi kartu yang ditempelkan tsb.
d. Apabila jawabannya tepat (sesuai yang tertulis di kartu) maka pasangan itu boleh duduk. Bila belum tepat pada waktu yang telah ditetapkan, murid boleh mengarahkan dengan kata-kata lain asal jangan langsung memberi jawabannya.

50. MEA (Means-Ends Analysis)

Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan tahapan: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristik, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana,
identifikasi perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas, pilih strategi solusi

51. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)

Tahapannya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E) mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.

52. SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)

Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif murid, yaitu dengan menugaskan murid untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat, dengan tahapan: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata kunci, Question dengan membuat
pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya, Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (catat-bahas bersama), dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh

53. MID (Meaningful Instructional Design)

Model ini adalah pembelajaran yang mengutamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif-konstruktivis. Tahapannya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman, analisi pengalaman, dan konsepide; (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar; (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep

54. KUASAI

Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan (mengetahui memahami, menggunakan, memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan
Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar.

55. DLPS (Double Loop Problem Solving)

DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecaha masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama dari timbulnya masalah, jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. Selanjutnya menyelesaikan masalah tersebut dengan cara menghilangkan gap yang menyebabkan munculnya masalah tersebut.

56. Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)

Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif – kelompok. Tahapannya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, murid bekerja sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok, refleksi.

Demikian tentang 56 Model Pembelajaran Terbaru Yang Cocok Diterapkan di Sekolah, semoga bermanfaat dan terima kasih.

Rujukan : Model-model pembelajaran di sekolah dasar Penerbit Samudra Biru (Anggota IKAPI)

Share this

Artikel Terkait

Previous
Next Post »
Comments