Showing posts with label Materi Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Materi Pembelajaran. Show all posts

Yakin Banyak Materi Yang Akan Tertinggal Jika Belajar di Sekolah 2 Hari dan 2 Jam

Yakin Banyak Materi Yang Akan Tertinggal Jika Belajar di Sekolah 2 Hari dan 2 Jam

BlogPendidikan.net
- Yakin Banyak Materi Yang Akan Tertinggal Jika Belajar di Sekolah 2 Hari dan 2 Jam.

Keinginan Presiden Joko Widodo agar kegiatan belajar di sekolah diminimalisir menjadi dua jam per hari dan dilakukan dua hari seminggu di masa pandemi Covid-19 dinilai tidak akan efektif bagi pembelajaran. Sekolah pun mengkhawatirkan akan banyak materi yang tertinggal akibat keterbatasan waktu.

Kepala SMA Negeri 3 Kabupaten Seluma, Bengkulu, Nihan mengatakan sejak Januari 2021, sekolahnya menerapkan kebijakan belajar tatap muka 4 jam sehari secara selang-seling. Ketika tanggal ganjil, siswa dengan absen ganjil masuk dan siswa absen genap belajar di rumah.

Karena kendala sulit sinyal, sekolah tempat Nihan bekerja tidak bisa menerapkan pembelajaran campuran antara online atau dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring). Akibatnya, pembelajaran dilakukan sepenuhnya luring dengan tatap muka atau pemberian tugas.

Dengan jadwal masuk 4 jam per hari selama 2-3 kali seminggu saja, Nihan mengaku banyak materi pembelajaran yang harus terpangkas. Ia ragu pembelajaran bisa dilakukan dengan baik.

"Keterbatasan waktu itu membuat materi jadi enggak kekejar. Sekarang saja sudah ada bahasan-bahasan yang mau tidak mau harus ditinggalkan," kata Nihan kepada CNNIndonesia.com.

Ia berharap pemerintah bisa memberikan keleluasaan waktu belajar yang lebih besar. Menurutnya, kebijakan tersebut memungkinkan selama sekolah bisa memastikan protokol kesehatan dilakukan dengan ketat. Pengalaman serupa juga dialami guru SMA Negeri 1 Teupah Selatan, Kabupaten Simeulue, Aceh, Soha.

Sekolah tempat Soha mengajar sudah sempat membuka pembelajaran tatap muka (PTM) sepenuhnya sejak September hingga pertengahan Mei. Namun kini pembelajaran dilakukan secara kombinasi, antara tatap muka dan via online karena peningkatan kasus Covid-19.

Soha menjelaskan kegiatan belajar tatap muka dilakukan hanya beberapa kali seminggu dan dengan waktu yang singkat. Karena keterbatasan waktu, PTM akhirnya hanya digunakan guru untuk memberikan soal secara fisik kepada siswa.

"Pembelajaran pasti masih bertumpu pada pemberian tugas. Kalau penjelasan hanya via WA atau telegram. Kalau tatap muka karena dibatasi, jadi kita enggak mau sembrono. Kita jaga-jaga untuk kesehatan," tuturnya kepada CNNIndonesia.com.

Ia mengaku dengan sistem belajar seperti ini, interaksi tatap muka guru dan siswa untuk menyampaikan materi masih minim karena dibatasi waktu. Pada akhirnya, interaksi hanya sebatas lewat pesan singkat.

Soha sendiri memahami pembatasan waktu tatap muka dibutuhkan untuk meminimalisir bahaya virus sembari menekan ketertinggalan materi. Namun menurutnya kebijakan itu tak akan efektif penerapannya bagi pembelajaran.

"Tapi kita sebagai guru kan mengikuti kebijakan yang dilakukan pemerintah. Otomatis kita sesuaikan dengan strategi yang dilakukan guru," kata dia.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan Presiden Joko Widodo meminta pembukaan sekolah dilakukan dengan hati-hati. Ia mengatakan Jokowi meminta PTM dijalankan maksimal dua jam setiap hari dan digelar dua hari per minggu.

"Terutama guru-guru ini harus sudah divaksinasi sebelum tatap muka terbatas yang tadi kami sampaikan dilaksanakan," kata Budi, Senin (7/6). Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi setelah vaksinasi guru dan tenaga kependidikan rampung. Ia menyebut tak ada tawar-menawar yang bisa dilakukan untuk pendidikan.

Kurikulum Baru: Sejarah Bukan Mata Pelajaran Wajib Untuk SMA

Kurikulum Baru: Sejarah Bukan Mata Pelajaran Wajib Untuk SMA

BlogPendidikan.net
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berencana membuat mata pelajaran sejarah menjadi tidak wajib dipelajari siswa SMA dan sederajat. Di kelas 10, sejarah digabung dengan mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS). Sementara Bagi kelas 11 dan 12 mata pelajaran sejarah hanya masuk dalam kelompok peminatan yang tak bersifat wajib.

Hal itu tertuang dalam rencana penyederhanaan kurikulum yang akan diterapkan Maret 2021. CNNIndonesia.com memperoleh file sosialisasi Kemendikbud tentang penyederhanaan kurikulum dan asesmen nasional.

Dalam file tersebut dijelaskan bahwa mata pelajaran sejarah Indonesia tidak lagi menjadi mata pelajaran wajib bagi siswa SMA/sederajat kelas 10. Melainkan digabung di mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Padahal, dalam kurikulum 2013 yang diterapkan selama ini, mata pelajaran Sejarah Indonesia harus dipelajari dan terpisah dari mata pelajaran lainnya.

Berikut mata pelajaran wajib bagi siswa SMA kelas 10 dalam kurikulum yang disederhanakan.

1. Pendidikan Agama
2. PPKn
3. Bahasa Indonesia
4. Matematika
5. IPA
6. IPS
7. Bahasa Inggris
8. Seni dan Prakarya
9. Pendidikan Jasmani
10. Informatika
11. Program Pengembangan Karakter

Kemudian untuk siswa kelas 11 dan 12 SMA/sederajat, mata pelajaran sejarah juga tidak wajib dipelajari. Berikut mata pelajaran wajib bagi siswa kelas 11 dan 12 kelompok IPA, IPS, bahasa dan vokasi.

1. Agama dan Kepercayaan kepada Tuhan YME
2. PPKN
3. Bahasa Indonesia
4. Matematika
5. Bahasa Inggris
6. Seni dan Prakarya
7. Pendidikan Jasmani

Mata pelajaran sejarah bisa dipelajari siswa kelompok peminatan IPA, IPS, bahasa dan vokasi. Namun, tidak bersifat wajib.

Siswa kelompok peminatan IPS akan diberi pilihan 5 mata pelajaran tambahan, yakni Geografi, Sejarah, Sosiologi, Ekonomi dan Antropologi. Siswa hanya akan diminta memilih 3 dari 5 mata pelajaran tersebut.

Dengan kata lain, siswa diperkenankan untuk tidak memilih mata pelajaran sejarah untuk dipelajari. Misal, siswa boleh memilih geografi, sosiologi, dan ekonomi.

Di kelompok siswa peminatan IPA, sejarah juga tidak termasuk mata pelajaran wajib. Siswa bisa memilih untuk mempelajari atau tidak mempelajari sejarah. Siswa kelompok peminatan IPA diberi pilihan 7 mata pelajaran tambahan, yaitu Biologi, Fisika, Kimia, Informatika Lanjutan, Ilmu Kesehatan, Matematika Lanjutan, dan Matematika Terapan.

Kelompok siswa peminatan IPA harus mengambil salah satu mata pelajaran pilihan yang ada di kelompok IPS. Sejarah bisa dipilih, namun tidak bersifat wajib. Ada pilihan mata pelajaran IPS lainnya yang bisa dipilih siswa.

Dengan kata lain, siswa kelompok IPA bisa mengambil 2 mata pelajaran IPA plus 1 mata pelajaran IPS. Siswa juga bisa mengambil 1 mata pelajaran IPA plus 2 mata pelajaran IPS.

"Di kelas 11 dan 12, siswa diwajibkan untuk mengambil minimal 3 mata pelajaran pilihan dengan syarat minimal 1 mapel kelompok MIPA dan 1 mapel kelompok IPS, 1 mapel kelompok bahasa dan satu vokasi," mengutip data paparan Kemendikbud.

Di kelompok siswa peminatan bahasa dan vokasi. Kelompok siswa peminatan bahasa diberi pilihan 3 mata pelajaran tambahan, yaitu Bahasa dan Sastra Indonesia, Bahasa dan Sastra Inggris, dan Bahasa dan Sastra Asing.

Kemudian untuk pendidikan kecakapan hidup dan vokasi terdapat tiga mata pelajaran, yakni Pengalaman Dunia Kerja, Mata Pelajaran Vokasional, dan Kewirausahaan.

Kelompok siswa peminatan bahasa dan vokasi harus memilih 1 pelajaran IPA dan 1 pelajaran IPS.

Sumber CNNIndonesia.com, pegiat pendidikan yang enggan disebutkan namanya mengatakan bahwa Kemendikbud sudah menyampaikan rencana penyederhanaan kurikulum itu dalam pertemuan dengan guru dan para pegiat edukasi.

CNNIndonesia.com telah berupaya mengkonfirmasi paparan tersebut kepada Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud Maman Fathurrahman dan Kepala Biro Humas dan Kerjasama Kemendikbud Evy Mulyani. Namun belum mendapat jawaban.

Artikel ini juga telah tayang di CNNIndonesia.com

Modul Pembelajaran Kurikulum Darurat Untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6

Modul Pembelajaran Kurikulum Darurat Untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6
BlogPendidikan.net
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) telah menerbitkan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) tingkan SD, SMP, dan SMA sederajat, dalam kurikulum darurat tersebut memaparkan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dapat di gunakan oleh guru serta mudul pembelajaran kurikulum darurat untuk proses pembelajaran dimasa pandemi Covid-19.

Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) yang disiapkan oleh Kemendikbud merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum tersebut dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.


Kemendikbud juga menyediakan modul-modul pembelajaran untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) yang diharapkan dapat membantu proses belajar dari rumah dengan mencakup uraian pembelajaran berbasis aktivitas untuk guru, orang tua, dan peserta didik. “Dari opsi kurikulum yang dipilih, catatannya adalah siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, dan pelaksanaan kurikulum berlaku sampai akhir tahun ajaran,” tegas Mendikbud.

Untuk jenjang pendidikan SD modul belajar mencakup rencana pembelajaran yang mudah dilakukan secara mandiri oleh pendamping baik orang tua maupun wali. “Modul tersebut diharapkan akan mempermudah guru untuk memfasilitasi dan memantau pembelajaran siswa di rumah dan membantu orang tua dalam mendapatkan tips dan strategi dalam mendampingi anak belajar dari rumah,” ucap Mendikbud.


Untuk membantu siswa yang terdampak pandemi dan berpotensi tertinggal, Mendikbud mengimbau guru perlu melakukan asesmen diagnostik. Asesmen dilakukan di semua kelas secara berkala untuk mendiagnosis kondisi kognitif dan non-kognitif siswa sebagai dampak pembelajaran jarak jauh.

Asesmen non-kognitif ditujukan untuk mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional siswa, seperti kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa, kesenangan siswa selama belajar dari rumah, serta kondisi keluarga siswa.


Asesmen kognitif ditujukan untuk menguji kemampuan dan capaian pembelajaran siswa. Hasil asesmen digunakan sebagai dasar pemilihan strategi pembelajaran dan pemberian remedial atau pelajaran tambahan untuk peserta didik yang paling tertinggal.

Berikut Modul Pembelajaran Kurikulum Darurat Untuk SD Bisa Anda Dapatkan Disini:

Modul SD kelas 1: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 2: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 3: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 13- Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 4: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 5: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 6: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 5 >>> DISINI

Daftar Materi dan Soal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Kedelapan Paud, SD, SMP dan SMA Sederajat

Daftar Materi dan Soal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Kedelapan Paud, SD, SMP dan SMA Sederajat

Program Belajar dari Rumah (selanjutnya disebut BDR) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan alternatif kegiatan pembelajaran selama anak belajar di rumah karena terdampak masa pandemik COVID-19.

Tayangan dalam program BDR meliputi tayangan untuk anak usia PAUD dan sederajat, SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA/SMK dan sederajat, dan program keluarga dan kebudayaan.

Pembelajaran dalam BDR ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi.
Baca Juga; Panduan dan Jadwal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Kedelapan PAUD, SD, SMP dan SMA Sederajat
Selain untuk memperkuat kompetensi literasi dan numerasi, tujuan lain program BDR adalah untuk membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.

Program belajar dari rumah TVRI yang tayang sejak 13 April 2020 yang diprogramkan berlangsung selama 90 hari. Berikut Daftar Pertanyaan/Soal Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Kedelapan Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK.

Berikut Daftar Soal atau Pertanyaan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Kedelapan Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK; >>> LIHAT DISINI

Panduan, Tata Cara dan Teknik Penulisan Soal HOTS

Blogpendidikan.net - Berpikir merupakan suatu kegiatan mental yang terjadi ketika seseorang dihadapkan pada situasi atau suatu permasalahan yang harus diselesaikan. Kegiatan mental atau kegiatan berpikir yang terjadi dapat berbeda-beda tingkatannya tergantung pada situasi atau kompleksitas masalah yang dihadapi. Suatu masalah mungkin dapat diselesaikan dengan tingkat berpikir yang lebih rendah seperti mengingat dan memahami. Masalah lain yang lebih kompleks memerlukan keterampilan berpikir yang lebih tinggi, seperti menganalisis dan mengevaluasi. Proses berpikir dan klasifikasinya telah banyak dibahas para ahli. 

Klasifikasi atau taksonomi yang paling dikenal dalam dunia pendidikan ialah Taksonomi Bloom. Taksonomi tersebut digagas oleh Benyamin Bloom dan dipublikasikan bersama koleganya pada tahun 1956. Setelah 40 tahun, Taksonomi tersebut direvisi, terutama oleh Lorin Anderson dan David Krathwol dan dipublikasi tahun 2001. Dalam Taksonomi Bloom yang direvisi tersebut, dirumuskan 6 level proses berpikir, yaitu mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), dan mengkreasi (creating).
Susan Brookhart mengkategorikan tiga proses kognitif paling atas pada taksonomi Bloom, yaitu menganalisis, mengevaluasi, dan mengkreasi sebagai proses berpikir tingkat tinggi. Susan menjelaskan tiga proses kognitif tersebut sebagai berikut.

Selain menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi dari Taxonomi Bloom tersebut, dikenal juga istilah lain untuk menunjukkan proses berpikir tingkat tinggi seperti judgement dan berpikir kritis, menyelesaikan masalah, kreativitas dan berpikir kreatif. Dalam tataran operasional, proses berpikir tersebut seringkali overlap. Sebagai contoh ketika mengkreasi, berpikir kritis dan berpikir kreatif juga terlibat. Demikian pula ketika menyelesaikan masalah, analisis, evaluasi, berpikir kreatif juga dapat terlibat. Sebagian istilah yang berbeda juga bermakna hampir sama misalnya antara judgment dan mengevaluasi. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, berpikir tingkat tinggi dapat ditunjukkan ketika individu menerapkan pengetahuan dan keterampilan ke konteks yang baru atau cara yang lebih kompleks (transfer). 

Transfer dapat dilakukan karena adanya retensi, yaitu menyimpan atau mengingat apa yang telah dipelajari. Hal ini menunjukkan berpikir tingkat tinggi tidak dapat lepas dari berpikir tingkat rendah. Berpikir tingkat rendah merupakan landasan untuk berpikir tingkat tinggi
.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa cakupan berpikir tingkat tinggi cukup luas dan level proses berpikir dapat dikategorikan sampai 6 level seperti Taxonomy Bloom.

Untuk kepentingan penilaian tingkat nasional, dengan prinsip bermanfaat dan sederhana, Pusat Penilaian Pendidikan mengkategorikan proses berpikir menjadi 3 level kognitif, yakni :
a. Level 1 (Pengetahuan dan Pemahaman) mengukur kemampuan untuk mengingat dan memahami pengetahuan yang telah dipelajari.
b. Level 2 (Aplikasi) mengukur kemampuan menerapkan pengetahuan dalam konteks atau situasi yang familier atau rutin.
c. Level 3 (Penalaran) mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yang tidak hanya sekedar mengingat dan memahami.

Proses berpikir yang termasuk dalam level ini seperti menganalisis, mengevaluasi, mengkreasi, berpikir logis, berpikir kritis, berpikir kreatif, menyelesaikan masalah pada konteks baru atau non rutin.

Untuk lebih jelasnya tentang Panduan dan Tata Cara Penulisan Soal HOTS silahkan Anda download pada link berikut; DOWNLOAD

Demikian informasi ini semoga bermanfaat dan jangan lupa berbagi. Salam pendidikan

Contoh Jadwal Pelajaran Sekolah Lima Hari


Blogpendidikan.net - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melansir contoh jadwal pelajaran program sekolah lima hari.  Diharapkan dengan contoh jadwal ini, sekolah memiliki gambaran jelas terkait pelaksanaan sekolah lima hari.  Yang menarik dari contoh jadwal pelajaran itu adalah untuk siswa kelas I-III SD. Bagi anak kelas bawah itu, jadwal pelajaran tematik atau kurikuler, berjalan sampai pukul 10.45. Khusus untuk hari Jumat sampai pukul 11.35. Setelah itu disusul kegiatan ekstra kurikuler sampai anak-anak pulang pukul 15.00. 

Nah bagi siswa yang masih kelas I-III kegiatan wajib disekolahnya hanya sampai pukul 13.10 saja. Yakni setelah jam pelajaran tematik, ditambah dua kali jam pelajaran ekstra kurikuler.  ’’Antara pukul 13.10 sampai 15.00 itu tidak wajib diikuti siswa,’’ kata Mendikbud Muhadjir Effendy.  Artinya siswa sudah bisa dipulangkan pada pukul 13.10 setelah istirahat. Namun sekolah juga bisa memulangkan siswa pukul 15.00 WIB atau sesuai dengan ketentuan sekolah delapan jam dalam sehari. Muhadjir menegaskan keputusan itu disesuaikan dengan kondisi sekolah masing-masing. 

Sementara itu untuk anak kelas IV sampai VI SD tidak ada opsi pulang siang. Artinya seluruh siswa kelas IV sampai VI di sekolah yang menjalankan sekolah lima hari wajib pulang pukul 15.00. Meskipun begitu jam pelajaran tematik bagi siswa SD ’’kelas atas’’ ini hanya berjalan sampai pukul 12.10. Setelah itu diisi kegiatan ekstra kurikuler. Yang menarik adalah untuk jenjang SMP. Dari contoh jadwal pelajaran yang dikeluarkan Kemendikbud, tanpa ada kegiatan ekstra kurikuler, jam sekolah sudah selesai pukul 15.00. 

Dalam lima hari sekolah dalam sepekan, hanya ada satu hari saja yang bisa diisi kegiatan ekstra kurikuler pilihan siswa. Secara keseluruhan untuk semua jenjang pendidikan, siswa yang menjalankan sekolah lima hari, pulangnya pukul 15.00. Kalaupun untuk kegiatan diniyah, masih bisa dilakukan sekitar pukul 16.00. 
Namun Kemendikbud bersama Kementerian Agama (Kemenag) sedang menggodok petunjuk teknis (juknis) supaya pendidikan diniyah bisa dijalankan di dalam sekolah. Kemendikbud menargetkan ada 9 ribu lebih sekolah menerapkan sekolah lima hari dalam sepekan. 

Wakil Ketua Komisi X DPR Ferdiansyah mengatakan pemerintah harus memegang komitmen dalam menjalankan sekolah lima hari dalam sepekan itu. ’’Kalau memang tujuan utamanya untuk membangun karakter siswa, dalam regulasinya harus dipertegas urusan karakter itu,’’ tuturnya. 

Dia mengkritisi penerbitan Permendikbud 23/2017 tentang Hari Sekolah. Menurut Ferdiansyah di dalam Permendikbud itu tidak terangkum dengan cukup urusan penanaman karakter untuk siswa. Sehingga akhirnya muncul polemik di tengah masyarakat. Politisi Partai Demokrat itu berharap Kemendikbud bersama lembaga lain serius dalam membuat Peraturan Presiden tentang sekolah lima hari. 
Ferdiansyah berharap di dalam Peraturan Presiden itu dituangkan dengan tegas indikasi keberhasilan penanaman karakter kepada siswa. ’’Sehingga nanti mudah saat dievaluasi,’’ tuturnya.

Contoh Jadwal Pelajaran Lima Hari sekolah

1. SD
Kelas I – III
- Pelajaran tematik : 07.00 – 10.45 (Khusus Jumat sampai 11.35)
- Ekstra kurikuler : 11.00 – 15.00
- Siswa bisa dipulangkan pukul : 13.10 (tidak perlu sampai pukul 15.00)

Kelas IV – VI
- Pelajaran tematik : 07.00 – 12.10 (Khusus Jumat sampai 11.35)
- Ekstra kurikuler : 13.10 – 15.00

2. SMP
- Pelajaran : 07.00 – 13.20 (Khusus Jumat ada jeda untuk salat Jumat)
- Kegiatan kokurikuler : 13.20 – 14.00 (bisa berupa pendalaman pelajaran)
- Kegiatan ekstra kurikuler : 14.00 – 15.00
- Ekstra kruikuler wajib : Pramuka di hari Jumat (14.30 – 15.30)

3. SMA
- Jam pelajaran : 07.00 – 15.00
- Ekstra kurikuler pilihan : sehari dalam sepekan (13.30 – 15.00)
- Ekstra kurikuler wajib : Pramuka (Jumat : 12.45 – 15.00)

4. SMK
- Jam pelajaran : 07.00 – 15.15
- Eskul wajib : Pramuka (15.30 – 16.15)
- Ekstra kurikuler diniyah atau pilihan : 15.30 – 16.15
Sumber : Kemdikbud