Showing posts with label Belajar Efektif. Show all posts
Showing posts with label Belajar Efektif. Show all posts

Siswa Jenuh Belajar Apa Penyebabnya ?

Siswa Jenuh Belajar Apa Penyebabnya ?

BlogPendidikan.net
- Kejenuhan belajar adalah suatu kondisi mental seseorang saat mengalami rasa bosan dan lelah yang amat sangat sehingga mengakibatkan timbulnya rasa lesu tidak bersemangat atau hidup tidak bergairah untuk melakukan aktivitas belajar.

Kejenuhan berarti padat atau penuh sehingga menyebabkan kapasitas yang hendak diterima atau dimasukkan sudah tidak mencukupi. Selain itu, jenuh dapat diartikan sebagai sikap yang menjemukan atau membosankan. Kejenuhan belajar mengakibatkan siswa tidak mampu menerima pelajaran bahkan tidak dapat memuat inti sari dari pembelajaran tersebut.

Kejenuhan belajar merupakan salah satu bentuk kesulitan belajar yang biasa dialami oleh siswa. Kesulitan belajar adalah keadaan di mana sistem akal tidak dapat bekerja secara optimal dalam mengolah item-item informasi sehingga kemajuan belajar siswa nyaris tidak tampak dan bahkan tidak bertambah.

Kesulitan belajar nampak pada siswa dengan ditandai prestasi belajar yang lebih rendah dibandingkan dengan siswa yang  lainnya bahkan prestasi belajar saat ini jauh lebih rendah daripada sebelumnya.

Penyebab siswa jenuh belajar

Adapun faktor utama penyebab kejenuhan belajar siswa diakibatkan oleh :
  1. Terlalu lama waktu untuk belajar tanpa atau kurang istirahat.
  2. Belajar secara rutin atau monoton tanpa variasi
  3. Lingkungan belajar yang buruk atau tidak mendukung
  4. Lingkungan yang mendukung dapat meningkatkan motivasi belajar begitu pula dengan lingkungan yang kurang mendukung dapat menyebabkan kejenuhan belajar. Salah satu bentuk lingkungan yang kurang mendukung adalah suara bising yang dapat mengganggu konsentrasi, di mana konsentrasi merupakan sesuatu yang penting dalam proses belajar
  5. Lingkungan yang baik menimbulkan suasana belajar yang baik, sehingga kejenuhan dalam belajar akan berkurang.
  6. Adanya konflik dalam lingkungan belajar anak baik itu konflik dengan guru atau teman.
  7. Tidak adanya umpan balik positif terhadap belajar.
  8. Gaya belajar yang berpusat pada guru atau siswa tidak diberi kesempatan dalam menjelaskan maka siswa dapat merasa jenuh.
  9. Mengerjakan sesuatu karena terpaksa. Tidak adanya minat siswa dalam belajar dapat menyebabkan kejenuhan belajar.
  10. Berdasarkan teori di atas disebutkan bahwa lingkungan belajar dapat menyebabkan kejenuhan belajar khususnya lingkungan bising yang dapat mengganggu konsentrasi siswa saat belajar.
Berikut kiat-kiat mengatasi kejenuhan belajar siswa :
  1. Melakukan istirahat dan mengonsumsi makanan serta minuman bergizi dengan takaran yang ideal.
  2. Penjadwalan ulang hari dan waktu belajar yang dianggap lebih memungkinkan siswa lebih giat belajar.
  3. Penataan ulang lingkungan belajar siswa meliputi meja tulis, lemari, rak buku dan alat belajar lainnya sampai  siswa menemukan kamar baru yang nyaman untuk belajar
  4. Memotivasi dan menstimulus siswa agar mereka terdorong untuk belajar lebih giat dari sebelumnya
  5. Siswa harus berniat nyata, tidak menyerah dengan cara mencoba belajar terus menerus.
Demikian, semoga artikel ini bermanfaat sehingga kejenuhan belajar yang ada pada diri siswa bisa teratasi. Terima kasih dan jangan lupa tuk berbagi.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

6 Cara Memberikan Penguatan Kepada Siswa, Jangan Sampai Keliru

6 Cara Memberikan Penguatan Kepada Siswa, Jangan Sampai Keliru

BlogPendidikan.net
- Dalam proses pembelajaran dikelas pasti menemukan bebrapa siswa yang memiliki kemampuan di bawah dari teman-temanya yang sudah mampu dalam hal kognitif. Siswa yang kurang tersebut menjadi perhatian penuh guru, bagaimana memberikan penguatan agar siswa tersebut terus termotivasi dan tidak merasa tersisihkan dengan temannya yang lain.

Mengingat pentingnya pemberian penguatan ini, maka para guru atau pun
tenaga kependidikan lainnya harus memahami serta melatih diri secara teratur
dan terarah, agar terampil dalam menerapkan keterampilan dasar mengajar
memberi penguatan tersebut, sehingga proses pembelajaran dapat ditingkatkan
kualitasnya.


Memberikan penguatan dalam proses pembelajaran dapat dilakukan dengan
berbagai cara. Misalnya, dengan memberikan persetujuan atau pengakuan terhadap tingkah laku murid yang positif (berhasil), yang diwujudkan dalam bentuk kata-kata membenarkan, pujian, senyuman, angguk-angguk. Tampaknya hal ini sangat sederhana, akan tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap murid-murid yang bersangkutan.

Berikut 6 Cara Memberikan Penguatan Kepada Siswa :

1. Penguatan cara verbal (verbal reinforcement)

Penguatan ini dapat berbentuk komentar pendek, pujian, pengakuan atau dukungan yang dapat membesarkan hati murid dan merupakan respon langsung terhadap urun pendapat, hasil pekerjaan atau tingkah laku positif dari murid-murid. Komentar ini merupakan balikan atau informasi mengenai penghargaan terhadap penampilan atau tingkah laku murid. Penguatan verbal dapat diungkapkan dengan kata-kata seperti: “terima kasih”, “bagus”, “baik sekali”, “ya, saya setuju”, “benar pendapatmu/jawabanmu”, dan sebagainya. Dapat pula diungkapkan dalam bentuk kalimat, misalnya: “Itu sebuah pertanyaan yang baik sekali”, ”lukisanmu indah sekali”, “pekerjaanmu baik sekali”, dan sebagainya.


2. Penguatan berupa mimik dan gerakan badan (gestural reinforcement)

Penguatan ini diberikan dalam bentuk mimik, gerakan wajah, gerakan anggota badan dan sebagainya, yang dapat memberikan kesan khusus bagi murid-murid yang bersangkutan. Penguatan dalam bentuk mimik atau gerak wajah misalnya: senyum, anggukan menyetujui, dan sebagainya. Sementara itu, dalam bentuk gerakan anggota badan misalnya: acungan ibu jari, tepuk tangan, gelengan kepala, mengangkat bahu dan sebagainya.

3. Penguatan dengan cara mendekati (proximity reinforcement)

Guru mendekati murid untuk menyatakan adanya perhatian dan kegembiraan terhadap hasil pekerjaan yang dicapainya. Hal ini dapat dilakukan dengan berdiri disamping murid, berjalan menuju ke arah murid, duduk dekat seorang atau kelompok murid, berjalan di sisi murid yang bersangkutan dan sebagainya.

4. Penguatan dengan sentuhan (contact reinforcement)

Guru dapat menyatakan penghargaan atau persetujuan kepada murid dengan cara menepuk pundak, menjabat tangannya atau mengangkat tangan murid yang menang (berhasil) dalam suatu pertandingan/perlombaan atau yang berprestasi di kelas. Penggunaan penguatan dengan sentuhan harus bijaksana, artinya harus mempertimbangkan latar belakang kebudayaan setempat, usia, jenis kelamin murid dan sebagainya.

5. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan (activity reinforcement)

Guru dapat menggunakan kegiatankegiatan atau tugas-tugas tertentu yang disenangi murid. Misalnya: murid yang lebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dapat diminta untuk membantu teman-temannya dalam pekerjaan tersebut. Guru dapat memberikan kesempatan bermain atau melakukan kegiatan lain yang menyenangkan. Murid yang menunjukkan kemajuan dalam mata pelajaran seni musik (suara) misalnya, dapat diberi kepercayaan untuk memimpin paduan suara sekolah, atau menggunakan peralatan musik pada jam istirahat. Murid yang lebih dahulu menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dalam mata pelajaran Matematika dapat diminta untuk membantu teman-temannya yang mengalami kesulitan dalam mata pelajaran tersebut, dan sebagainya.

6. Penguatan berupa simbol atau benda (token reinforcement)

Penggunaan penguatan ini dalam berbagai macam simbol atau benda. Berupa simbol misalnya, komentar tertulis pada buku murid; sedangkan yang berupa benda dalam bentuk kartu bergambar, bintang, lencana dan benda-benda yang murah harganya tetapi memiliki arti simbolis. Penguatan ini dapat digunakan sebagai insentif namun jangan terlalu sering digunakan, terutama berupa benda, agar tidak menjadi menjadi kebiasaan untuk mengharapkan memperoleh benda tertentu sebagai imbalan terhadap penampilannya. Komentar tertulis pada buku pekerjaan murid, yang berarti pengakuan keberhasilan dan pemberian saran yang positif dan konstruktif akan tetap besar nilainya dalam membelajarkan murid.

Jangan Salah, Ini Cara Belajar Yang Efektif Agar Mudah Paham

Jangan Salah, Ini Cara Belajar Yang Efektif Agar Mudah Paham

BlogPendidikan.net
- Bila seseorang sudah memahami dirinya, maka ia tinggal melaksanakan usaha pencapaian tujuan belajarnya sesuai dengan kondisi diri yang telah dipahaminya, sehingga kegiatan belajarnya akan mencapai tujuan yang ditetapkan, atau dengan perkataan lain, kegiatan belajarnya bisa berlangsung efektif.

Biasanya seseorang sudah menentukan tujuan belajarnya, misalnya ingin hafal suatu pokok bahasan tertentu atau ingin memahaminya. Bisa juga tujuan sudah ditentukan oleh pengajar (contoh: TIK). Dengan berdasarkan tujuan tersebut, seseorang tinggal merencanakan langkah-langkah apa yang akan dilakukannya agar tujuan tersebut tercapai.

Berikut cara belajar yang efektif agar mudah paham :

1. Mengumpulkan dan mengelompokkan bahan yang harus dipelajari.

Seseorang akan belajar dengan efektif kalau ia membuat suatu persiapan belajar yang akan dilakukannya. Persiapan yang dilakukan dengan baik akan membantu menyelesaikan tugas-tugas belajar. Misalnya, tugas mana yang perlu diselesaikan terlebih dahulu, buku-buku/bahan-bahan mana yang harus disiapkan, materi mana yang harus dipelajari atau bab mana yang harus dicicil untuk persiapan ujian, dan sebagainya.

2. Membagi waktu/membuat jadwal belajar.

Banyaknya informasi yang dapat diproses oleh sistem ingatan manusia pada saat tertentu itu terbatas, sehingga perlu adanya kesiapan mental demi efisiensi dan tercapainya tujuan belajar. Karena itu, buatlah jadwal kerja/belajar. Dengan jadwal kerja tersebut kita dapat membagi waktu antara mempelajari materi, mengerjakan tugas serta kegiatan-kegiatan lain sehingga waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan seefisien mungkin. Pembagian waktu ini harus mempertimbangkan banyak dan beratnya materi yang harus dipelajari serta kemampuan kita mencerna materi tersebut. Makin banyak atau berat materi yang harus dipelajari, makin banyak waktu yang harus disediakan. Tentu saja juga harus disediakan waktu untuk istirahat, akan tetapi pada waktunya belajar, perhatian harus dicurahkan pada pelajaran atau tugas yang dihadapi.

3. Bersikap optimis dan berpikir positif

Sikap optimis berarti belajar dengan tekun dengan harapan bahwa hasilnya akan lebih baik daripada belajar dengan sembarangan. Berpikir positif dalam hal ini berarti berprinsip bahwa hasil yang baik hanya akan didapatkan dari usaha yang optimal; usaha yang kuat bukan tanda ketidakmampuan mencerna materi, tetapi justru menunjukkan kesungguhan.

4. Segera memulai belajar, tidak menunda-nunda.

Kelebihan beban informasi akan menimbulkan kecemasan dan mengurangi keefektifan pemrosesan informasi. Oleh karena itu, janganlah menunda- nunda belajar. Disamping itu, tugas atau pekerjaan yang selalu ditunda, cenderung untuk tidak dikerjakan. Apa yang menurut rencana harus diselesaikan, maka kerjakanlah sesuai dengan rencana semula. Pada mulanya kadang-kadang kita enggan untuk mengerjakan sesuatu, akan tetapi kalau kita timbulkan niat untuk segera memulai, seberapapun hasilnya, maka kalau sudah dimulai kita akan berusaha dan terpacu untuk menyelesaikannya.

5. Mempelajari buku secara efektif.

Untuk mempelajari buku, yang pertama-tama kita lihat ialah daftar isi. Dalam daftar isi akan diketahui adakah bab yang akan dipelajari dari buku tersebut. Bila ada, dapat dibaca terlebih dahulu kata pengantar atau pendahuluan yang di dalamnya terdapat gambaran garis besar isi buku. Jika kita sudah tetapkan bahwa buku tersebut yang akan kita pelajari, maka kita tinjau judul-judul atau sub judul dari bab yang akan dipelajari. Akhirnya pelajarilah bagian yang diperlukan. Pelajari pula sumber lain (catatan/buku) yang membahas hal yang sama.

6. Membuat “chunking”, jangan menumpuk pekerjaan.

Kelompokkan lalu pelajari bahan berdasarkan kesamaan topik bahasan (atau bisa per bab), sehingga akan mudah memahami ide utamanya. Jangan sampai terjadi, pelajaran ditumpuk tanpa disinggung sedikitpun sampai sehari sebelum ujian. Kebiasaan menumpuk pelajaran/pekerjaan akan menyebabkan kita makin malas mengerjakan, juga akan terburu-buru karena khawatir belum terselesaikan bila sampai saatnya tiba. Selain itu,  menumpuk pekerjaan menyebabkan beban kerja otak lebih berat karena dipaksa mencerna materi yang banyak dalam waktu yang singkat. Akibatnya, materi yang tersimpan dalam memori pun lebih sedikit.

7. Membuat catatan/rangkuman

Rangkuman yang dibuat dengan menggunakan kata-kata sendiri akan banyak membantu pada saat akan mengulangi pelajaran karena secara garis besar sudah tercatat di situ. Gunakan singkatan-singkatan/istilah-istilah yang akan memudahkan kita mengingat materi tertentu serta memberikan efisiensi dalam mencatat, sehingga waktu kita tidak habis untuk mencatat tetapi dapat digunakan untuk mempelajari materi.

Dari penelitian diketahui bahwa lebih dari 60% informasi diproses secara visual. Oleh karena itu, buatlah catatan semenarik mungkin, rapi, sistematis, beri warna pada bagian-bagian materi yang dianggap penting, bila perlu gunakan grafik, tabel, matriks, atau bagan (tapi jangan berlebihan).

8. Kerjakan latihan soal, diskusi dengan orang lain.

Mengasosiasikan/menghubungkan materi yang dipelajari dengan sesuatu yang bermakna atau hal-hal nyata akan sangat membantu untuk mengingat atau memahami materi tersebut. Selain itu, waktu merupakan faktor yang berperan penting dalam terjadinya proses lupa. Oleh karena itu, informasi yang masuk kedalam ingatan akan lebih lama diingat dan mudah dipahami bila setelah informasi tersebut masuk segera dilatih untuk diingat kembali. Salah satu caranya adalah dengan mengerjakan latihan-latihan soal atau berdiskusi dengan orang lain.

9. Jauhkan variabel-variabel pengganggu konsentrasi.

Manusia secara sadar hanya dapat memikirkan mengenai satu hal pada satu saat, artinya informasi diproses satu persatu, tidak sekaligus. Karena konsentrasi merupakan faktor penting untuk tercapainya tujuan belajar, maka perlu adanya lingkungan belajar yang mendukung terhadap tugas-tugas belajar, misalnya tidak belajar sambil mendengarkan musik atau sambil menonton televisi, sambil membaca novel/komik/bacaan lain, sambil makan- makan, mengobrol, dan sebagainya. Hindarilah atau jauhkan hal-hal yang menarik minat bila hal tersebut bertentangan dengan tujuan belajar.