Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Plus Minus Saat Sekolah Dibuka Kembali di Tengah Pandemi

One Be 5/30/2020
Plus Minus Saat Sekolah Dibuka Kembali di Tengah Pandemi

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menetapkan jadwal tahun ajaran baru tahun 2020/2021 yakni pada 13 Juli 2020. Meski jadwal tahun ajaran baru 2020/2021 sudah ditentukan, namun Menteri Nadiem Makarim membantah jika siswa akan mulai masuk sekolah pada bulan Juli mendatang. 

Berikut adalah beberapa daftar plus dan minus jika sekolah kembali dibuka di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 yang masih melanda Indonesia. 

Sebelumnya sempat beredar kabar jika jadwal tahun ajaran baru 2020 akan dimulai pada pertengahan bulan Juli 2020. 

Namun, Menteri Nadiem Makarim membantah jika siswa dan siswi akan mulai masuk sekolah pada bulan Juli mendatang. 

Semua skenario telah dipersiapkan untuk menentukan jadwal Tahun Ajaran Baru 2020. 

Kewenangan kapan masuk sekolah bagi murid sekolah ternyata bukan kewenangan mutlak Nadiem Makarim. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan telah menyiapkan berbagai skenario terkait permulaan tahun ajaran baru 2020/2021.

Hal ini disebabkan pandemi Covid-19 yang belum mereda di Tanah Air.

"Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sudah siap dengan semua skenario," kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, Rabu (20/5/2020), dikutip dari Kompas.com dalam berita berjudul, "Mendikbud Siapkan Skenario Memulai Tahun Ajaran Baru di Tengah Pandemi".

Nadiem mengatakan, Kemdikbud terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Keputusan Kemendikbud terkait pelaksanaan tahun ajaran baru akan merujuk pada kajian Gugus Tugas.

Menteri Nadiem Makarim dengan tegas membantah soal informasi yang beredar bahwa tahun ajaran baru akan dimulai 15 Juni 2020 mendatang.

"Mohon menunggu dan saya belum bisa memberikan statement apapun untuk keputusan itu. Karena dipusatkan di gugus tugas. 

Mohon kesabaran. Kalau ada hoax-hoax dan apa sampai akhir tahun, itu tidak benar," kata Nadiem Makarim saat melakukan rapat kerja virtual dengan Komisi X DPR RI Jumat (22/5/2020).

Sementara itu, banyak wacara yang menyebutkan jika kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai kembali di tengah pandemi Covid-19. 

Kabar tersebut menimbulkan banyak kekhawatiran yang datang terutama dari pada orang tua murid.  Kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia masih belum stabil. Hal ini membuat berbagai kebijakan terus dikaji ulang.

Termasuk menggunakan masker dan pola hidup sehat yang harus selalu dilakukan. Namun di tengah pandemi ini pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan tahun ajaran baru.

Tahun ajaran 2020/2021 akan dimulai pada 13 Juli 2020.

Plt. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan keputusan tersebut diambil lantaran kalender pendidikan dimulai pada minggu ketiga bulan Juli dan berakhir pada Juni.

"Itu setiap tahun begitu," katanya dalam konferensi di Jakarta, Kamis (28/5/2020) seperti dikutip dari Kompas.com dalam berita berjudul, "Plus Minus Wacana Pembukaan Sekolah di Tengah Pandemi Corona".

Namun tahun ajaran baru yang dimulai pada 13 Juli 2020 ini bukan berarti siswa belajar di sekolah. Keputusan kapan siswa akan belajar di sekolah ini akan terus dikaji.

Keputusan finalnya juga akan menunggu rekomendasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Meski belum ada keputusan, namun wacana tahun ajaran baru ini cukup ramai dibicarakan.

Apalagi jumlah kasus virus corona belum juga menunjukkan tanda penurunan. Hingga Sabtu (30/5/2020) jumlah kasus di Indonesia mencapai 25.216 kasus pasien positifvirus corona atau Covid-19. 

Berikut ini, plus minus sekolah di tengah pandemi dikutip dari Kompas.com:

Plus Minus Sekolah di Tengah Pandemi

Konsultan Pendidikan dan Karier sekaligus CEO Jurusanku.com, Ina Liem menjelaskan pemberlakuan KBM di sekolah di tengah pandemi tidak bisa diberlakukan di seluruh Indonesia.

Menurutnya, masih ada sejumlah wilayah di Indonesia yang masih dalam kondisi zona merah dan zona hijau.

"Dalam membuat kebijakan pendidikan di Indonesia, sebetulnya tidak bisa seragam secara nasional, mengingat kondisi sarana prasarana tiap daerah berbeda-beda," ujar Ina, Kamis (28/5/2020).

Ia menambahkan, sejauh ini belum ada keputusan resmi dari pemerintah terkait pembukaan sekolah di Juli nanti.

Sementara itu, masih ada sejumlah pelajar yang tinggal di daerah tertinggal, terpencil, dan terpelosok (3T) di mana koneksi internet bahkan saluran TVRI belum terjangkau.

Adapun kondisi ini dinilai tidak apa-apa jika proses belajar mengajar ditiadakan di sekolah , asalkan tetap mengikuti protokol kesehatan.

"Tidak ada salahnya sekolah dibuka bulan Juli, tetapi tetap dengan mengikuti protokol kesehatan," ujar Ina.

Di sisi lain, ada juga pelajar yang tinggal dengan fasilitas penunjang kegiatan belajar yang mumpuni, seperti koneksi internet yang lancar, namun terletak di zona merah.

Kondisi inilah yang memungkinkan sekolah tidak harus kembali dibuka pada Juli 2020.

"Apabila kondisinya seperti ini, bisa melanjutkan online learning, sambil perlahan-lahan ada jadwal masuk sekolah yang hanya untuk social interaction anak, agar mereka tidak stres, karena butuh social interaction tersebut," lanjut dia.

Kondisi Ideal

Kurva pasien virus corona di Indonesia belum masuk ke fase landai.

Ina menambahkan soal kondisi ideal, seharusnya sekolah dibuka menunggu kasus covid-19 hilang agar penyebaran virus tak makin luas.

"Faktanya, kondisi ideal ini tidak selalu bisa dicapai dalam hidup kita, karena banyak faktor kalau menyangkut banyak orang, apalagi ratusan juta jumlahnya.

Kita sudah lihat sendiri banyak orang tidak memikirkan kepentingan publik sehingga tetap melanggar aturan-aturan PSBB," kata dia.

Jika berdasar analisisnya, Covid-19 belum akan hilang dalam waktu dekat.

Hal ini dikarenakan, meski negara sudah nol kasus positif virus corona, namun manusia tetap pulang-pergi, sehingga penyebaran Covid-19 menjadi seperti bola pingpong.

Oleh karena itu, setidaknya Indonesia harus bersiap pada 2-3 tahun ke depan.

Namun jika membahas kemungkinan terburuk covid-19 baru akan hilang 2-3 tahun mendatang, tak mungkin kegiatan sekolah dihentikan sama sekali.

"Jadi, mau tidak mau pasti anak harus kembali ke sekolah. Pilihannya Juli ini atau tahun ajaran baru digeser ke Januari 2021, masing-masing pilihan ada plus minusnya," terang Ina.

Ia menjelaskan, faktor plus yang mendukung terselenggaranya pembukaan kembali sekolah pada Juli 2020 adalah sekolah di daerah tertinggal yang menjadikan kegiatan belajar menjadi sulit, karena keterbatasan akses internet.

Sehingga ada juga guru yang rela berkeliling rumah muridnya di desa untuk memberi ilmu kepada mereka.

"Untuk sekolah-sekolah yang punya fasilitas, tapi belum siap sepenuhnya home learning, plusnya, anak-anak jadi tidak terlalu stres dengan beban tugas yang banyak dari guru, ketidakjelasan materi yang disampaikan secara online, dan ada social interaction yang memang dibutuhkan oleh anak-anak," katanya lagi.

Risiko Penyebaran

Di sisi lain, wacana pembukaan sekolah di Juli, semisal benar dilakukan memunculkan faktor risiko penyebaran Covid-19 yang tidak kunjung selesai.

"Saya ikut berempati terhadap pembuat kebijakan negeri ini, karena dihadapkan pada keputusan sulit saat ini. Yang bisa kita lakukan hanya meminimalkan risiko tersebut," ujar Ina.

"Kita harus terima kenyataan pahit, menunggu kondisi ideal sepertinya kecil sekali kemungkinannya. Kalaupun menunggu hingga Januari 2021, saya yakin kekhawatiran orangtua tidak akan hilang juga," lanjut dia.

Artikel ini telah tayang di tribunnews.com

New Normal Sekolah: Kapasitas Kelas dan Jam Belajar Tatap Muka Dikurangi

One Be 5/30/2020
New Normal Sekolah: Kapasitas Kelas dan Jam Belajar Tatap Muka Dikurangi

Sejumlah protokol atau pengaturan untuk mencegah merebaknya virus Corona (COVID-19) sedang dimatangkan Pemkot Bekasi 
untuk persiapan penerapan kenormalan baru atau new normal di sekolah pada Juni mendatang.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bekasi Inayatullah menjelaskan bahwa akan ada perubahan dibandingkan masa sebelum pandemi Corona.

Misalnya, tempat duduk antar siswa diatur dengan jarak tertentu sehingga kapasitas kelas berkurang hingga lama waktu kegiatan belajar mengajar yang kemungkinan akan lebih pendek.

Meskipun begitu, sebelum benar-benar diterapkan, akan dilakukan sosialisasi dan adaptasi baik pada guru, siswa, juga wali murid.

”Nanti waktu belajarnya juga akan dikurangi, tidak seperti dulu. Namanya juga adaptasi," kata Inayatullah pada Jumat (29/5/2020).

Menurut dia, pengurangan waktu belajar ini terbagi ke dalam dua sesi, yakni pagi dan siang. Hal tersebut terkait dengan pembatasan kapasitas kelas.

“Pastinya kami akan terapkan aturan yang mengedepankan protokol kesehatan yang berlaku seperti jaga jarak dan menggunakan masker," ujarnya.

Saat ini, kata dia, Dinas Pendidikan Kota Bekasi sedang menyusun standard of procedure (SOP) kegiatan belajar mengajar pada masa new normal yang diharapkan dapat memenuhi kaidah kesehatan di masa pandemi COVID-19."Secepatnya kami akan rilis (SOP new normal),” paparnya.

Seperti diketahui, Kota Bekasi bersama wilayah lainnya di Indonesia terpaksa meliburkan siswa dalam proses kegiatan belajar di sekolah. Namun, siswa tersebut tetap belajar di rumah untuk mencegah penularan virus Corona di lingkungan tempat tinggalnya.

Kebijakan ini berlaku untuk semua siswa dari tingkat Paud/TK/RA/SD/MI/SMP/MTS dan lembaga pendidikan non formal lainya. Surat edaran itu dikeluarkan pemerintah melalui Dinas Pendidikan yang mana masa pandemi corona kegiatan belajar siswa dilakukan di rumah.

Artikel ini telah tayang di sindonews.com

New Normal Sekolah: Tahap Awal Masuk Sekolah Sehari dalam Seminggu

One Be 5/30/2020
New Normal Sekolah: Tahap Awal Masuk Sekolah Sehari dalam Seminggu

Dinas Pendidikan Kota Tangerang Selatan, mengaku telah menyiapkan model pembelajaran baru tatap muka di sekolah, selama masa kehidupan normal baru (new normal) Pandemi Covid-19.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Tangsel Taryono menerangkan, pola belajar dalam tatanan baru di masa Pandemi Covid-19 ini akan dimulai pada (13/7) mendatang. Kebijakan itu, berlaku untuk seluruh sekolah swasta dan negeri di Tangsel.

Dalam masa transisi kembali sekolah di masa Pandemi nanti, pihaknya menyiapkan aturan kembali belajar di sekolah selama dua minggu.

"Pada dua minggu pertama itu, siswa hanya akan belajar tatap muka di kelas hanya sehari dalam setiap minggunya," terang Kepala Disdik Tangsel, Taryono, Jumat (29/5).

Selanjutnya, untuk tahap berikutnya dilakukan selama empat minggu. Pada masa itu, setiap minggu siswa hanya belajar di sekolah hanya 2 hari pada setiap minggunya.

"Dan pada tahap berikutnya lagi, dilakukan selama 2 minggu dengan anak-anak belajar di sekolah 4 hari per minggu. 

Intinya pada masa transisi ini kita juga menerapkan ketat belajar di sekolah dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Sambil itu terus kita lakukan evaluasi," ungkapnya. (Sumber; merdeka.com)

Cek Daftar Sekolah Penerima Dana BOS Tahap 2 Gelombang 2 Tahun 2020

One Be 5/29/2020
Cek Daftar Sekolah Penerima Dana BOS Tahap 2 Gelombang 2 Tahun 2020

Penyaluran dana BOS Tahap 2 gelombang 2 telah selesai di salurkan dan bagi sekolah yang belum menerima penyaluran dana BOS Tahap 2 gelombang ke 1 silahkan untuk mengecek daftar sekolahnya untuk penerimaan dana BOS Tahap 2.

Pada kamis, 29 Mei 2020 Kemendikbud telah menyalurkan Dana BOS tahap 2 gelombang Ke 2 melalui laman resmi BOS kemendikbud; https://bos.kemdikbud.go.id/

Bagi sekolah yang belum menerima dana BOS tahap 2 di gelombang ke 1, silahkan untuk mengecek pada link dibawah ini.

Cara Cek Sekolah Penerima Dana BOS Tahap 2 Gelombang 2 Tahun 2020

Klik pada link dibawah, pilih provinsi, kab/kota asal sekolah, selanjutnya cari sekolah anda apakah suda di salurkan atau belum dana BOS tahap 2. 

Jika sekolah belum tertera pada link penyaluran dan pencairan dana BOS itu berarti menunggu untuk gelombang ke 3.

Berikut Daftar Sekolah Penerima DANA BOS Tahap 2 Gelombang 2;

* Penyaluran Dana BOS
; LIHAT DISINI

* Laporan Pencairan ; LIHAT DISINI

Baca Juga; Guru Harus Siap Dalam Proses Pembelajaran Dikelas Saat New Normal

Baca Juga; New Normal Berlaku Bagi Guru dan Siswa Saat Sekolah Kembali di Buka Juli

Demikian informasi ini semoga bermanfaat... dan jangan lupa berbagi. Salam Pendidikan.

*Jika link diatas tidak dapat membuka, server dalam keadaan sibuk.

Khawatir, Orang Tua Tidak Rela Anak Masuk Sekolah Saat Corona

One Be 5/29/2020
Khawatir, Orang Tua Tidak Rela Anak Masuk Sekolah Saat Corona

Respons sejumlah orang tua terkait wacana pemerintah membuka kembali sekolah diselimuti kekhawatiran anak terpapar virus corona (Covid-19).

Para orang tua mengaku mau mengizinkan anak sekolah jika pemerintah memutuskan menerapkan new normal atau kehidupan baru di lingkungan pendidikan.

Lisa (bukan nama sebenarnya), seorang ibu dari dua anak laki-laki berusia 11 tahun dan 4 tahun di Tangerang, Banten, bahkan belum bisa membayangkan harus merelakan anaknya pergi ke sekolah.

"Enggak rela sama sekali. Khawatir pasti dan masih belum rela. Anak kecil, anak SD disuruh pakai masker. Siapa yang tahu tanpa sepengetahuan gurunya, mereka tukar-tukaran masker?" ujarnya kepada CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon.

Meskipun anaknya yang pertama sudah duduk di bangku kelas 4 SD, ia yakin sang anak belum bisa menerapkan protokol kesehatan tanpa pengawasan.

Ia khawatir dengan banyaknya jumlah murid dalam satu kelas yang tak berbanding lurus dengan jumlah guru, aktivitas siswa akhirnya tak bisa dikontrol.

Lisa bahkan rela membiarkan anaknya yang kedua telat masuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) karena takut pandemi membawa petaka. Berdasarkan umurnya, sang anak seharusnya mulai PAUD tahun ini.

Jika sekolah harus dibuka kembali, lanjutnya, ia mengatakan pemerintah harus memastikan kegiatan siswa di sekolah terkontrol. Ini termasuk siswa di jenjang pendidikan awal.

Hal serupa diungkapkan Nindi (38), ibu rumah tangga dengan dua anak berusia 10 tahun dan 7 tahun di Bekasi, Jawa Barat. Anaknya yang pertama duduk di kelas 4 SD dan yang kedua kelas 1 SD. 

Meskipun rajin menyampaikan ke kedua anak bahwa pandemi mengharuskan orang memakai masker dan mencuci tangan, ia tak yakin kedua anaknya bisa menjalankan hal tersebut di sekolah.

"Ya ngerti di rumah, tapi kalau sudah masuk sekolah ya namanya anak kecil pasti enggak betah. Mau bercanda sama teman," ujarnya.

Kendati demikian, ia sendiri mengaku ingin sekolah kembali dibuka. Hal ini karena kedua anaknya terlihat lebih efektif belajar di sekolah.

Namun ia baru bakal mengizinkan kembali sekolah jika situasi corona di lingkungannya mereda. Ia mengingatkan protokol kesehatan di sekolah juga harus diperketat.

"Sekolah atau pemerintah mungkin harus nyediain untuk rapid tes. Mau nggak mau lah harus korban uang pemerintah," tuturnya.

Pihak sekolah, lanjut Nindi, juga harus memantau ketat orang yang keluar-masuk sekolah. Pantauan tersebut termasuk kepada siswa, pendidik, penjual makanan di kantin sampai tamu.

Henry (41), ayah dari dua anak berusia 14 tahun dan 10 tahun di Tangerang Selatan, Banten, mengatakan penetapan jaga jarak bisa jadi syarat pembukaan sekolah. Ini untuk menjamin anak-anaknya tak menjadi pembawa virus ke rumah.

"Mungkin kelas yang biasa diisi 30 dibagi dua. 15 anak Senin masuk, 15 anak Selasa masuk. Jadi mereka terbiasa. Lebih muda mengontrol orang yang sedikit daripada banyak," pungkasnya.

Ia sendiri rajin memantau situs resmi pemerintah terkait informasi corona. Dia menilai pembukaan sekolah harus diintegrasikan dengan data kasus corona di tiap daerah.

Jika pemerintah memutuskan sekolah dibuka, lanjutnya, harus dipastikan daerah di wilayah tersebut bukan zona merah.

"Jadi aku akan pastikan dulu itu zonanya, karena kenapa? Mungkin buat anak-anak mereka lebih tahan. Tapi ketika pulang ke rumah bisa jadi membahayakan," ujarnya.

Sedangkan Yani (38), seorang ibu dari anak berusia 14 tahun di Jakarta Selatan meminta sekolah memeriksa betul keadaan kesehatan siswa jika sekolah dibuka. Ia pun mengaku guru di sekolah anaknya sudah mulai mengutarakan rencana melakukan pengecekan suhu jika new normal diterapkan.

"Harus disediakan alat cek suhu, masker buat cuci tangan mereka masuk. Pemerintah harus siapkan, karena kan sekolah pasti butuh," tuturya.

Kendati khawatir dengan jumlah siswa di kelas anaknya yang bisa mencapai 36 orang, ia pun sadar virus tak bisa pergi dengan cepat. Dia sudah menekankan ke anaknya agar menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Asupan gizi dan vitamin untuk anak pun kini jadi prioritas utama.

Diketahui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan wacana pembukaan sekolah pada juli 2020, namun ini hanya bagi daerah yang sudah dinyatakan aman.

Mendikbud Nadiem Makarim pun menekankan keputusan ini ada di tangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Pihaknya hanya jadi eksekutor dalam penerapan kebijakan tersebut.

Artikel ini telah tayang di cnnindonesia.com

Guru Harus Siap Dalam Proses Pembelajaran Dikelas Saat New Normal

One Be 5/29/2020
Guru Harus Siap Dalam Proses Pembelajaran Dikelas Saat New Normal

Sesuai dengan keputusan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang menegaskan bahwa tahun ajaran baru 2020/2021 yang akan dimulai 13 Juli 2020, maka dari itu Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19 juga harus disiapkan dan diperhatikan dalam penerapan New Normal.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan, Sumarwati mengatakan bahwa dalam menyambut tahun ajaran baru dalam masa pandemi ini, Dindik sudah melaksanakan rapat koordinasi untuk panduan new normal di sekolah.

“Kita sudah rapatkan dengan kepala sekolah, kita edukasi dan kita sampaikan bahwa sesuai peraturan kemendikbud no. 8 tahun 2014 terkait dengan poin yang bisa digunakan untuk mendomani COVID-19,” terangnya, Jumat (29/5/2020).

Persiapan yang dilakukan pada tahun ajaran baru yakni mengharuskan agar anak-anak didik wajib menggunakan masker, sekolah harus menyiapkan tempat cuci tangan dan sabun yang layak dan menyediakan handsanitizer.

“Fasilitas dan edukasi dalam penerapan new normal disekolah harus diperhatikan. Kebiasaan PHBS harus diterapkan seperti rajin mencuci tangan dan juga menggunakan masker sesuai protokol kesehatan,” jelasnya.

Tidak kalah penting, tempat duduk juga harus diatur agar sendiri-sendiri dan juga tidak berdekatan. Interaksi anak-anak didik juga harus diperhatikan agar sesuai protokol kesehatan. Sekolah juga harus disemprot disinfektan sebelum dimulai tahun ajaran baru.

Untuk para guru, Sumarwati berharap agar para guru mempersiapkan diri dalam menyambut new normal di sekolah.

Proses Pembelajaran mungkin agak sedikit berbeda dengan biasanya dan juga memastikan agar anak-anak didik mematuhi setiap panduan yang sudah diterapkan guna mencegah penyebaran COVID-19.

“Intinya semua tenaga pendidik baik itu para guru dan kepala sekolah harus mengerti apa itu new normal dan bagaimana penerapannya di sekolah. 

Hal itu wajib dilakukan agar membuat nyaman para orang tua siswa dan juga siswa sendiri saat mengikuti kegiatan belajar disekolah,” tandasnya. (Sumber; radarpekalongan.co.id)