Showing posts with label Sekolah. Show all posts
Showing posts with label Sekolah. Show all posts

Durasi Pembelajaran Tatap Muka Tak Lebih Dari Tiga Jam, Tanpa Istirahat

One Be 7/15/2020
Durasi Pembelajaran Tatap Muka Tak Lebih Dari Tiga Jam, Tanpa Istirahat

BlogPendidikan.net
- Proses kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri I Slawi mendapat perhatian dari dewan guru dan komite sekolah. Selain menerapkan protokol kesehatan ketat, pihak sekolah juga membentuk Tim Gugus Tugas Covid-19 tingkat sekolah.

Kepala SMP Negeri I Slawi Alfatah, Selasa (14/7) mengatakan, SMP Negeri I Slawi telah menyiapkan 18 ruang kelas untuk proses kegiatan belajar mengajar kelas 7. Agar para siswa belajar dengan tenang, pihak sekolah melalui Tim Gugus Tugas Covid-19 tingkat sekolah telah menjalin kerja sama dengan dinas kesehatan melalui Puskesmas Slawi.

"Meski durasi waktu pembelajaran tatap muka di tingkat SMP tidak lebih dari tiga jam, tanpa jeda istirahat tapi telah kami persiapkan secara matang," katanya.

Sesuai Surat Edaran Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tegal Nomor 800/04/60185 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Belajar Mengajar Tatap Muka Tahun Pelajaran 2020/2021, pembelajaran tatap muka tingkat SMP dimulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 10.00 WIB.

Pihak sekolah membuat pedoman teknis kegiatan belajar mengajar selama enam hari ke depan. Tak berbeda dengan MPLS SD, kegiatan siswa baru di hari pertama masuk sekolah ini dimanfaatkan untuk perkenalan guru dan siswa, di samping penyampaian wawasan wiyata mandala. 

Guna mencegah terjadinya penularan Covid-19, pihaknya sudah menerapkan protokol kesehatan. Sejak dari gerbang masuk sekolah, setiap siswa wajib melakukan pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer tembak. Siswa kemudian diarahkan untuk mencuci tangannya dengan sabun dan air mengalir sebelum masuk ke kelas.

“Di sini, kami sudah membentuk satuan tugas khusus penanganan Covid-19 tingkat sekolah. Anggotanya terdiri dari guru, tenaga pendidik dan komite sekolah,” tambahnya.

Bahkan setiap hari, lanjut Alfatah, seluruh ruang kelas setelah selesai untuk proses kegiatan belajar dilakukan penyemprotan disinfektan. Siswa pulang secara bergantian perkelas, sehingga siswa tidak menumpuk. Pihak sekolah juga sudah menyampaikan ke orang tua siswa, untuk melakukan antar jemput pada anaknya.

Selama proses ini berlangsung, pihak puskesmas memberikan pendampingan penegakan protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah juga menerapkan kebijakan penjarangan dengan mengisi setiap kelasnya maksimal separuh dari kapasitas normal.

Saat ini ada 18 ruang kelas yang dibuka untuk menampung siswa kelas tujuh. Dari 292 siswa baru kelas tujuh, seluruhnya berangkat sekolah. Meski demikian, pihak sekolah memberikan kelonggaran atau bahkan prioritas bagi peserta didik yang sakit untuk belajar dari rumah, termasuk siswa yang tidak diizinkan orang tuanya berangkat sekolah.

Pihak sekolah tidak akan memaksakan mereka untuk hadir, semua demi keselamatan bersama.
Mengingat ini hal baru, pihak sekolah masih terus melakukan penyesuaian atau adaptasi pada kebiasaan baru. Bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, pihaknya akan mengevaluasi penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolahnya dan berharap semuanya bisa segera menyesuaikan.

(Sumber: radartegal.com)

Emak-emak Demo di Depan Sekolah, Jika Sekolah Masih Diliburkan, Kami Pindahkan ke Sekolah Lain

One Be 7/15/2020

Emak-emak Demo di Depan Sekolah, Jika Sekolah Masih Diliburkan, Kami Pindahkan ke Sekolah Lain


BlogPendidikan.net - Sebuah video memperlihatkan sejumlah ibu-ibu dan anaknya, menggelar unjuk rasa di sebuah sekolah dasar (SD) di  Desa Tebul Barat, Kecamatan Pengantenan, Kabupaten Pamekasan, viral di media sosial.

Dalam video itu, ibu-ibu membawa anak mereka yang mengenakan seragam lengkap dan menyandang tas.

Ibu-ibu itu mendesak kepala sekolah memulai aktivitas belajar mengajar di sekolah di tengah pandemi virus corona baru atau Covid-19.

Mereka tak ingin sekolah diliburkan terus menerus. Sejumlah ibu-ibu yang menggelar demonstrasi terlihat ditemui salah satu guru dari sekolah tersebut.

Salah satu ibu bahkan mengancam akan mengeluarkan anaknya jika sekolah tak memulai aktivitas belajar mengajar.

Ia akan memindahkan anaknya ke sekolah yang siap menggelar aktivitas belajar mengajar.

"Jika sekolah ini diliburkan, kami akan memindahkan anak kami ke sekolah lain." kata salah seorang ibu yang mengenakan kerudung merah.

Protes ibu-ibu bukan tanpa alasan. Selama sekolah diliburkan, anak-anak mereka sibuk bermain.

Pendidikan jarak jauh yang diprogramkan pemerintah juga tak pernah dilakukan.

"Kalau tetap diliburkan, anak-anak kami terampas pendidikannya. Kami takut anak kami bodoh," imbuhnya disertai sorakan ibu-ibu lainnya.

Salah satu warga Desa Tebul Barat, Mustofa membenarkan demonstrasi yang dilakukan puluhan ibu-ibu itu.

Mustofa mengatakan, aksi itu dilakukan pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2020). Wali murid sudah tak tahan karena sekolah diliburkan selama empat bulan terakhir.

Selama empat bulan itu, anak-anak hanya sibuk bermain.

"Wali murid kesal karena libur sekolah terlalu lama. Mereka mendesak agar sekolah diaktifkan kembali," ungkap Mustofa.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kabupaten Pamekasan, Fatimatuz Zahrah mengaku telah mendengar informasi tentang unjuk rasa itu.

Tapi, pihaknya belum mendapatkan laporan dari kepala sekolah SD tersebut.

Menurutnya, sekolah belum bisa dibuka seperti semula untuk mencegah siswa terpapar dari virus corona baru.

Selain itu, belum ada kebijakan dari Menteri Pendidikan untuk membuka kembali pendidikan tatap muka.

“Tetap tidak bisa dibuka lagi karena kalau dibuka bisa melanggar SKB Menteri,” ujar Fatimatus Zahrah ketika dikonfirmasi.

(Sumber; kompas.com)

Tidak Punya Smartphone dan Tidak Mampu, KBM Tatap Muka Berlangsung Meski di Zona Kuning

One Be 7/13/2020
Tidak Punya Smartphone dan Tidak Mampu, KBM Tatap Muka Berlangsung Meski di Zona Kuning

BlogPendidikan.net
- Aktivitas belajar di kelas tetap berlangsung untuk mengakomodir siswa yang orang tuanya tidak memiliki smartphone, meksipun masih dikategori zona kuning. 

Hal ini dilakukan oleh Pemerintah Kota Jambi yang tetap membuka sekolah tatap muka untuk SD dan SMP meskipun berada di zona kuning.

Pelanggaran terhadap panduan Kemendikbud ini bertujuan agar anak-anak miskin tidak tertinggal pelajaran.

"Kita buka sekolah dengan dua metode, yakni tatap muka dan online. Yang mampu online dan tidak muka.

Tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Abu Bakar, juru bicara Gugus Tugas Kota Jambi, Senin (13/7/2020).

Dia mengatakan Pemkot Jambi sedang melakukan relaksasi pada sektor pendidikan.

Ada dua metode pembelajaran yaitu online (daring) dan offline (tatap muka).

Pembelajaran secara tatap muka, sambung Abu Bakar untuk mengakomodasi sekitar 500 siswa kurang mampu.

Mereka selama ini tidak bisa sekolah secara online.

Sebabnya, kata Abu Bakar mereka tidak memiliki fasilitas internet dan ponsel pintar.

Dengan demikian, sekolah wajib memfasilitasi dua model pembelajaran baik online maupun tatap muka.

Tidak hanya sekolah, orangtua juga diberikan pilihan, apakah anaknya akan masuk sekolah atau tetap membiarkan anaknya belajar di rumah dahulu.

Relaksasi pendidikan ini agar anak-anak tidak mampu tetap bisa mengikuti pembelajaran.

Ada pun ketentuannya, pertama dilakukan siswa SD kelas 4,5 dan 6.

Kedua, untuk siswa SMP itu kelas 1,2 dan 3 dibagi menjadi tiga shif kegiatan belajar mengajar (KBM).

Ketiga, jam pembelajaran sangat efektif yakni 3 jam tanpa istirahat.

Keempat, siswa dan sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan.

Lalu kelima, siswa wajib membawa masker sendiri, menggunakan sarung tangan dan membawa handsanitizer serta disarankan orangtua siswa antar jemput.

Disayangkan

Sebaliknya, juru bicara Gugus Tugas Provinsi Jambi, Johansyah menyayangkan ada sekolah yang dibuka pada zona kuning.

Pembukaan sekolah hanya boleh dilakukan untuk kabupaten/kota dengan zona hijau, kecuali Kabupaten Kerinci karena ada penambahan kasus dan kematian akibat corona.

Daerah dengan status zona hijau di Jambi, antara lain Kabupaten Bungo, Tebo, Merangin dan Tanjung Jabung (Tanjab) Timur.

Keempat kabupaten tersebut diperbolehkan membuka sektor pendidikan atau kegiatan lainnya dengan dampak ekonomi rendah.

Menurutnya, kegiatan terdampak ekonomi sedang dan tinggi sebagaimana tertera pada matriks rekomendasi di atas, disesuaikan dengan kondisi zonasi wilayah masing-masing kabupaten/kota di Jambi.

Jika Kota Jambi sebagai daerah yang dinilai cukup siap dalam penerapan new normal, namun masih dengan status zona kuning, dapat melakukan uji coba penerapan adaptasi kebiasaan baru ini dengan pemetaan risiko tingkat kecamatan.

Daerah tersebut dapat melaksanakan pembukaan sektor pendidikan pada kecamatan dengan zona hijau, menggunakan pemetaan risiko menggunakan 15 indikator Gugus Tugas Nasional oleh Tim Pakar dan Analisis Gugus Tugas Provinsi Jambi dan Gugus Tugas Kota Jambi.

Evaluasi mingguan zonasi dilakukan dengan penyediaan data update dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jambi berkoordinasi dengan rumah sakit rujukan Covid-19, setiap 7 hari dengan data kondisi harian.

Siap-siap, Pemerintah Berencana Akan Membuka Sekolah di Zona Kuning

One Be 7/13/2020
Siap-siap, Pemerintah Berencana Akan Membuka Sekolah di Zona Kuning
 Sumber: ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/Pool/wsj.(ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN)

BlogPendidikan.net - Pemerintah mempertimbangkan membuka sekolah yang berada di zona kuning penyebaran pandemi virus corona (Covid-19). Pertimbangan tersebut atas permintaan sejumlah pihak agar sekolah yang berada zona kuning juga dibuka selain di zona hijau.

Kepala Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 Letnan Jenderal TNI Doni Monardo mengatakan, pihaknya hanya mengusulkan sekolah dapat dibuka di zona hijau. Meski begitu, jika nantinya sekolah di zona kuning diizinkan dibuka, Gugus Tugas sudah memikirkan beberapa ketentuan yang akan ditetapkan.

"Kalau toh misalnya disetujui maka maksimal setiap pelajar itu hanya dua kali saja mengikuti kegiatan. Kemudian persentase pelajar yang di ruangan tidak boleh lebih dari 30 persen atau 25 persen. Ini dalam topik pembahasan," katanya.

Hal itu disampaikan Doni usai rapat terbatas bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Komplek Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (13/7/2020). Namun sekali lagi dia menegaskan hal tersebut belum menjadi keputusan.

Doni juga menekankan jika disetujui maka hanya dua zona saja yang bisa menyelenggarakan pendidikan yakni hijau dan kuning. Menurut dia, salah satu alasan sekolah dibuka adalah adanya permintaan dari sejumlah orang tua dan para pimpinan sekolah yang mengatakan sudah lama tidak ada aktivitas.

"Tetapi kalau toh ini jadi maka hanya di zona kuning. Zona hijau sudah diberikan rekomendasi tambahannya adalah zona kuning. Tetapi ini masih dalam topik pembahasan," ujarnya.

Dia mengatakan, pihaknya akan membahas lebih lanjut permintaan tersebut dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

"Kami sedang memikirkan permintaan dari sejumlah masyarakat agar zona kuning pun diizinkan untuk sekolah. Kami sedang membahas ini," katanya.

(Sumber; inews.id)

Belajar Tatap Muka di Tangan Kepala Daerah, Mendikbud: Tetap BDR Jika Orang Tua Menolak

One Be 7/12/2020
Belajar Tatap Muka di Tangan Kepala Daerah, Mendikbud: Tetap BDR Jika Orang Tua Menolak

BlogPendidikan.net
- Pandemi Covid-19 membuat pembelajaran yang sedianya dilakukan secara tatap muka beralih menjadi pembelajaran jarak jauh (PJJ), baik secara dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring). 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Agama (Kemenag) telah mengeluarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Panduan Pembelajaran Pada Tahun Ajaran Baru dan Tahun Akademi Baru di Masa Pandemi COVID-19.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim, dalam wawancara telekonferensi menyebutkan bahwa terdapat Beberapa kabupaten/kota yang merupakan zona hijau menurut Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Nasional, dengan demikian dimungkinkan memulai pembelajaran tatap muka dengan persyaratan protokol kesehatan yang ketat. Kendati demikian, prosesnya dilakukan secara bertahap, yakni dimulai dari jenjang SMP dan SMA/SMK terlebih dahulu. 

"Ini mengenai kenyamanan, mengenai kepercayaan kita kepada institusi sekolah yang bisa melakukan protokol kesehatan yang baik. Itu kuncinya," kata Mendikbud, seperti keterangan yang Netralnews terima, Minggu (12/7/2020).

Kebijakan membuka sekolah kembali untuk dapat menyelenggarakan pembelajaran tatap muka berada di tangan kepala daerah. Selain kepala daerah, kepala sekolah dan orang tua juga punya hak untuk menentukan apakah memang sekolah tersebut sudah siap untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka kembali. 

"Jadinya, sekolah-sekolah kalau mau membuka kembali pembelajaran tatap muka harus benar-benar meyakinkan semua orang tua bahwa protokol kesehatan di sekolahnya itu sudah sangat mapan," kata Mendikbud.  

Kemudian, apabila ada orang tua yang merasa tidak siap jika anaknya harus kembali bersekolah maka ia berhak untuk menolak dan anak tetap melanjutkan pembelajaran dari rumah. 

"Jadi, kita benar-benar harus memegang prinsip kebebasan memilih. Karena ini kan mengenai kesehatan masing-masing. Menurut kami, prinsip dasar itu adalah haknya orang tua,” kata Mendikbud. 

Saat ini, Kemendikbud sedang melakukan monitoring untuk memeriksa kesiapan beberapa wilayah zona hijau yang akan menerapkan pembelajaran tatap muka kembali.

“Jadi harapan kami adalah pemda dan kepala dinas itu bisa benar-benar mendukung proses ini, dan tentunya Kemendikbud di sini siap mendukung dan salah satu caranya adalah tentunya sumber dayanya kita jadikan fleksibel," tutur Mendikbud. 

Dijelaskan Nadiem, Kemendikbud telah merelaksasi penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk mendukung sekolah menyiapkan sarana dan prasarana yang diperlukan.

"BOS yang sudah sampai ke rekening sekolah itu boleh digunakan secara fleksibel untuk persiapan protokol kesehatan ini. Ini benar-benar kita berikan kebebasan anggaran bagi kepala sekolah,” ujar dia.

(Sumber; netralnews.com)

Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK

One Be 7/12/2020
Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMASMK

BlogPendidikan.net
Kemendikbud telah merilis panduan dan jadwal Belajarr dari rumah TVRI minggu pertama di bulan juli.

Adapun daftar soal dan materi belajar dari rumah TVRI minggu pertama 13-19 Juli untuk SD, SMP, dan SMA/SMK bisa anda lihat pada akhir tulisan ini.

Program Belajar dari Rumah (selanjutnya disebut BDR) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan alternatif kegiatan pembelajaran selama anak belajar di rumah karena terdampak masa pandemik COVID-19.

Tayangan dalam program BDR meliputi tayangan untuk anak usia PAUD dan sederajat, SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA/SMK dan sederajat, dan program keluarga dan kebudayaan.

Pembelajaran dalam BDR ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi.

Selain untuk memperkuat kompetensi literasi dan numerasi. 

Tujuan lain program BDR adalah untuk membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.

Program belajar dari rumah TVRI yang tayang sejak 13 April 2020 yang diprogramkan berlangsung selama pandemi. 

Berikut Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK.

Berikut Daftar Soal dan Materi Belajar Dari Rumah TVRI Minggu Pertama 13-19 Juli Untuk SD, SMP, dan SMA/SMK; >>> LIHAT DISINI