Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

Kemendikbud: Skema Rerkrutmen PPPK Untuk 700 Ribu Guru Akan Dibahas Sore Ini

Admin 8/06/2020
Kemendikbud: Skema Rerkrutmen PPPK Untuk 700 Ribu Guru Akan Dibahas Sore Ini
BlogPendidikan.net
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan skema untuk pemenuhan kebutuhan guru dari Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). 

Sekretaris Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Nunuk Suryani, mengatakan skema tersebut saat ini masih dibahas dengan kementerian/lembaga lain.

"Skema sudah ada, tapi baru mau dibahas nanti sore dengan Menpan-RB dan BKN. Nanti sore kita mengundang deputi kementerian terkait," kata Nunuk, kepada Republika, Kamis (6/8).


Menpan-RB Tjahjo Kumolo sebelumnya mengatakan kebutuhan guru di Indonesia sebanyak 700 ribu. Terkait memenuhi kebutuhan guru tersebut, Nunuk berharap skema bisa segera diselesaikan dalam waktu dekat sehingga bisa dilakukan seleksi.

"Dalam tahun anggaran ini diharapkan seleksi dimulai," kata dia lagi.

Sebelumnya, Dirjen GTK Kemendikbud, Iwan Syahril dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi X DPR awal Juli 2020 lalu mengatakan perekrutan tenaga pengajar tidak boleh sembarangan. Guru yang mengajar perlu berstatus kepegawaian yang jelas serta kualitas yang baik.

"Guru honorer akan kami beri kesempatan mengikuti tes CPNS maupun PPPK. Mereka yang terdaftar di dapodik dan lulusan PPG yang berminat boleh ujian ini, dan kita bantu dengan bahan persiapan ujian. Ada kesempatan mengulang hingga tiga kali juga belum berhasil," kata Iwan.

Iwan juga menjelaskan, pihaknya melakukan penyusunan formasi bersama pemerintah daerah. Susunan formasi ini nantinya juga akan dikoordinasikan bersama dengan Kemenpan-RB. (*)

(Sumber; republika.co.id)

Mata Najwa: Nadiem Semakin Menegaskan Orang Tua Boleh Minta Pulsa di Sekolah

Admin 8/06/2020
Mata Najwa: Nadiem Semakin Menegaskan Orang Tua Boleh Minta Pulsa di Sekolah

BlogPendidikan.net
- Proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19 pun terus menuai pro dan kontra.

Banyak keluhan dari orangtua peserta didik atas penerapan PJJ yang sudah berlangsung sejak Maret 2020.

Keluhan utama adalah beban pembelian kuota pulsa internet untuk menunjang agar proses pembelajaran dari rumah tetap berjalan.

Lantas bagaimana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menjawab semua keluhan dari orangtua, peserta didik, termasuk para guru?


Di Mata Najwa bertajuk 'Kontroversi Mas Menteri', Rabu (5/8/2020) tadi malam, ketika ditanya Najwa Shihab berbagai keluhan masyarakat atas pembelajaran jarak jauh, Nadiem Makarim mengakui situasi yang dihadapi saat ini sangat menantang.

Ia pun menerima semua keluhan-keluhan tersebut dan merasa bersimpati dan berempati kepada orangtua, murid-murid, guru-guru, dan kepala sekolah.

"Harus dalam sekejap mereka terpaksa beradaptasi terhadap suatu format yang berbeda total dengan anggaran yang mungkin pas-pasan dan harus segera melaksanakannya secara cepat. Pada saat saya dapat menerima banyak kritik mengenai PJJ, pertama saya harus mengklarifikasi bahwa ini bukan kebijakan yang kami inginkan. Kami terpaksa melakukan PJJ,"kata mantan CEO GoJek ini.

Menurutnya, dengan adanya kondisi pandemi yang mengakibatkan krisis kesehatan memberikan dua pilihan, yakni masih ada pembelajaran walaupun diakui tidak optimal atau tidak ada pembelajaran sama sekali.

Namun, jika pembelajaran dihentikan akan memberikan risiko yang sangat besar untuk negara.

Najwa Shihab kemudian menimpali, kalau awal pandemi Covid-19, mungkin saja kebijakan PJJ bisa mendapat pemakluman.

Namun, jika sudah berlangsung berbulan-bulan, tentu akan menjadi pertanyaan apa yang telah dilakukan pemerintah dalam hal ini Kemendikbud untuk mengatasi masalah ini.

"Yang pertama kita lakukan adalah Dana BOS yang dikirim langsung pemerintah pusat ke masing-masing rekening sekolah untuk pertama kalinya dibebaskan untuk memberikan fleksibilitas khusus untuk PJJ. Jadinya boleh tanpa batas digunakan untuk alat TIK dan pulsanya bukan hanya pulsa guru, pulsa murid artinya pulsa orangtua. 


Jadi mohon ditekankan lagi banyak orang yang tidak tahu semua dana BOS diberikan kewenangan untuk kepala sekolah menggunakan anggarannya untuk pulsa murid, peralatan TIK seperti tablet ataupun laptop,"jelas Nadiem.

Diskresi Kepala Sekolah

Najwa Shihab pun mengungkapkan di lapangan, banyak kepala sekolah yang takut menggunakan Dana BOS untuk keperluan PJJ karena takut dianggap korupsi, namun ada juga yang tidak terkontrol.

Nadiem Makarim juga mengakui hal itu. Menurutnya, banyak kepala sekolah yang was-was dalam penggunaan Dana BOS.

Ia pun berkoordinasi dengan seluruh kepala dinas pendidikan untuk mensosialisasikan kebijakan tersebut.

Tak hanya untuk keperluan TIK ataupun pulsa, Nadiem Makarim juga menyebut Dana BOS bisa digunakan untuk guru honorer tanpa pembatasan anggaran, yang dulunya dibatasi maksimal 50 persen.

"Tapi ini adalah diskresi kepala sekolah sebagai pemimpin unit pendidikan yang mengetahui sebenarnya kebutuhan sekolah apa,"katanya.

Najwa Shihab pun menuntut jawaban konkrit Nadiem Makarim, apakah saat ini orangtua meminta pulsa kepada kepala sekolah?

"Bisa, tentunya sesuai dengan kebutuhan kepala sekolah. Mohon semua kepala sekolah, guru, dan orangtua tahu Dana BOS boleh digunakan untuk pulsa murid dan pelajaran PJJ.

Rp 3 Triliun untuk Sekolah Swasta

Pada kesempatan tersebut, Nadiem Makarim juga mengungkapkan, Kemendikbud juga mengeluarkan anggaran sekira Rp 3 triliun dari Dana BOS afirmasi dan BOS Kinerja untuk 'mensubsidi' sekolah swasta.

"Kami mendengar jeritan sekolah-sekolah swasta di seluruh Indonesia. Selama ini kan, sekolah swasta itu dengan banyak orangtua tidak mampu membayar SPP karena kondisi ekonomi,"katanya.

Nadiem Makarim mengaku, anggaran Dana BOS afirmasi dan kinerja yang semula hanya untuk sekolah negeri, untuk pertama kalinya juga digunakan untuk sekolah swasta.

Siswa Kurang Mampu

Dikutip dari Kompas.tv, penggunanaan dana BOS tergantung ketentuan pihak sekolah.

Penggunaan dana BOS untuk keperluan pembelian kouta internet  sudah mulai diterapkan di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hal ini setidaknya berlaku di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 9 Banjarmasin.

Namun, tidak semua siswa mendapatkannya.

Dana bos untuk pembelian kuota internet ini diperuntukkan bagi siswa kurang mampu sesuai kategori yang telah ditentukan oleh sekolah.

Sebanyak 15  mendapatkan bantuan sebanyak Rp 75.000 perbulan untuk pengadaan kuota internet.

Sementara masih ada siswa  lainnya yang dalam tahap pendataan.

Pihak sekolah   menganggarkan penggunaan dana bos tersebut untuk kouta gratis selama tiga bulan kedepan, menyesuaikan keberlangsungan pandemi covid 19 di Kota Banjarmasin. 

Penggunaan dana bos untuk pembelian kuota internet   selama pandemi mengacu pada surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang penggunaan dana bos untuk penanggulangan covid 19.

Penyaluran  dana bos untuk keperluan pembelian kouta internet  diharapkan menunjang   kelancaran para siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh datau dalam jejaring  yang   diterapkan  akibat masa pandemi. (*)


Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com

Tips Agar Proses Belajar Dari Rumah Bisa Maksimal Dilaksanakan Oleh Siswa dan Guru

Admin 8/05/2020
Tips Agar Proses Belajar Dari Rumah Bisa Maksimal Dilaksanakan Oleh Siswa dan Guru

BlogPendidikan.net
- Pandemi corona memaksa para siswa bersekolah secara online dari rumah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun menyiapkan tiga tips agar kegiatan pembelajaran jarak jauh (PPJ) lebih maksimal. 

Pertama, orang tua perlu memantau siswa selama kegiatan PJJ berlangsung dan membangun interaksi yang positif dengan para guru. Hal itu tercantum dalam Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.


Para orang tua dapat memanfaatkan aplikasi pesan singkat WhatsApp agar tetap terkoneksi dengan guru dan para orang tua siswa lainnya. Orang tua siswa dan guru bisa berdiskusi terkait penyampaian progres pembelajaran online siswa di rumah.

Pada kegiatan PJJ, peranan orang tua menjadi penting untuk memastikan proses berjalan dengan baik sehingga adaptive learning bisa menjadi optimal.

Kedua, orang tua harus membimbing para siswa untuk menggunakan berbagai fitur teknologi pada platform atau aplikasi yang digunakan selama PJJ. 

Aplikasi pembelajaran maupun video meeting biasanya memiliki fitur kamera, microphone, kolom komentar, hingga merekam proses diskusi belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa. 

Namun, tak semua siswa mahir menggunakan fitur-fitur tersebut. "Bapak dan ibu (siswa) harus membiasakan anak untuk berbicara di depan kamera, cara menggunakan fitur mute, dan sebagainya. Itu harus dipelajari bersama-sama," ujar Yasser. 

Ketiga, para guru perlu mendorong kegiatan belajar yang menyenangkan bagi siswanya. Konsultan Psikologi & Coach Trainer Achsinfina H. Sinta mengatakan salah satu permasalahan dalam PPJ yaitu suasana yang tidak kondusif karena belajar dari rumah. 

"Peran guru sangat penting untuk menciptakan suasana yang kondusif melalui inovasi ataupun metode pembelajaran yang baru, misalnya lewat kegiatan belajar sambil bermain," ujar Achsinfina. 


Seperti diketahui, pandemi Covid-19 menyebabkan kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan dari rumah dengan dibantu aplikasi digital. Setidaknya terdapat 4.183.591 guru/dosen yang mengajar melalui metode pembelajaran jarak jauh. 

Dari jumlah tersebut, para guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiah paling banyak mengajar dari rumah. Jumlahnya mencapai 1.702.377 guru. 

Kemudian pengajar Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah diikuti dengan 895.799 guru. Pembelajaran jarak jauh menekankan pada tatap muka virtual antara pengajar dengan murid. (Sumber; katadata.co.id)

Guru SMP Meninggal Positif Covid-19, Sempat Datang ke Sekolah Menyusun Materi Belajar Online

Admin 8/04/2020
Guru SMP Meninggal Positif Covid-19, Sempat Datang ke Sekolah Menyusun Materi Belajar Online
ILUSTRASI Ruang isolasi pasien Covid-19

BlogPendidikan.net
- Seorang guru SMP berinisial PR (59) meninggal karena terinfeksi virus corona. 
PR adalah guru SMPN 1 Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Kepala SMPN 1 Dolopo, Arif Wardoyo mengatakan, awalnya PR dirawat di Rumah Sakit Sogaten Kota Madiun lantaran gangguan jantung, Kamis (30/7/2020).

Beberapa jam kemudian, PR dilarikan ke RSUD dr Soedono dan langsung dimasukkan ke ruang isolasi. Namun, Jumat (31/7/2020), PR meninggal dunia.

Pihak sekolah baru mengetahui bahwa PR terjangkit Covid-19 pada Sabtu (1/8/2020).

Sebelum meninggal PR pernah datang ke sekolah. Dia bertemu dengan beberapa guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.


PR juga sempat berkomunikasi dengan salah satu guru yang menguasai aplikasi pembalajaran online .

“Kebetulan saat itu korban datang ke sekolah karena ada jadwal pembelajaran daring mata pelajaran Bahasa Indonesia,” ungkap Arif saat dihubungi, Senin (3/8/2020).

Karena itu seluruh seluruh guru dan karyawan SMPN 1 Dolopo menjalani rapid test.

Dari 67 pegawai yang menjalani rapid test, tidak ada satupun yang hasilnya reaktif, termasuk empat guru yang sempat melayat PR.

"Semua pegawai SMPN 1 Dolopo dinyatakan non-reaktif. Namun, seluruh pegawai sekolah tetap harus karantina mandiri di rumah masing-masing," kata Arif.


Arif meminta seluruh karyawan SMPN 1 Dolopo untuk tidak takziah sampai mendapatkan kejelasan penyebab meninggalnya PR.

Petugas dari BPBD Kabupaten Madiun juga sudah menyemprot disinfektan untuk sterilisasi seluruh ruangan SMPN 1 Dolopo.

Artikel ini juga telah tayang di kompas.com

Kuota Murah 10 GB Cuma Rp 40.000, Telkomsel, Indosat, XL dan Tri Sampai 31 Desember Untuk Madrasah

Admin 8/03/2020
Kuota Murah 10 GB Cuma Rp 40.000, Telkomsel, Indosat, XL dan Tri Sampai 31 Desember Untuk Madrasah

BlogPendidikan.net
- Kementerian Agama (Kemenag) bersinergi dengan empat provider pulsa yakni Telkomsel, XL, Indosat, dan Tri untuk menyediakan kouta internet dengan harga terjangkau bagi madrasah.

Program ini bertujuan meringankan beban orangtua saat siswa belajar daring saat pandemi Covid-19 ini.

Kuota dengan harga terjangkau tersebut tersedia bagi lebih dari 80 ribu madrasah di seluruh Indonesia.

Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah A Umar, di Jakarta mengatakan, program tersebut diperpanjang hingga akhir tahun.


Mengingat, para siswa madrasah masih akan belajar dengan sistem pembelajaran jarak jauh ( PJJ).

“Program yang awalnya berlangsung hanya untuk bulan Juli, diperpanjang hingga 31 Desember 2020,” terang Umar seperti dilansir dari laman Kemenag.

Semua tingkat madrasah, kata dia, dapat menerima manfaat dari program tersebut, mulai dari tingkatan Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), hingga Madrasah Aliyah (MA).

Ia mengatakan, dari hasil evaluasi satu bulan pertama, program kuota murah ini cukup mendukung institusi madrasah dalam mengimplementasikan kegiatan belajar mengajar secara online.

"Perpanjangan sinergi strategis ini diharapkan dapat terus memudahkan akses pembelajaran siswa sekaligus meringankan beban orang tua dalam menghadapi dampak ekonomi pandemi Covid-19," imbuhnya.

Ada sejumlah pilihan besaran kuota yang dapat dipilih, mulai dari 10 GB seharga Rp 40.000 hingga 50GB seharga Rp 100ribu dengan masa aktif 30 hari.

Khusus untuk Tri, ada pilihan dari 6GB sampai 117 GB dengan rentang harga 39ribu sampai 117ribu.

Sedangkan untuk sejumlah madrasah yang mengalami kendala server dan kesulitan menggunakan aplikasi e-learning madrasah, Umar mengatakan Kemenag sudah memiliki solusi.


“Sebagai solusi, kita telah menggandeng Telkomsigma untuk memberikan layanan cloud server sehingga madrasah dapat dengan mudah mengoptimalkan pembelajaran daring yang lebih sistematis dan menyenangkan,” tuturnya.

Layanan e-learning, lanjut dia, saat ini juga sudah dilengkapi dengan fitur video conference.

Bagi pengelola madrasah yang ingin mendapatkan manfaat dari program Penyediaan Kuota Terjangkau ini, baik untuk pengajar, tenaga pendidikan maupun pelajar.

Untuk dapat mengakses, informasi lebih lanjut dan mengajukan pendaftaran melalui https://madrasah.kemenag.go.id/bantuankuotaterjangkau/

Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id

Karena Orang Tua Murid Tidak Memiliki Handphone, Terpaksa Belajar Tatap Muka di Sekolah

Admin 8/03/2020
SD Negeri Sumber Kulon 1, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka mulai melakukan pembelajaran tatap muka di ruang kelas, hal itu terpaksa dilakukan karena orang tua murid tidak memiliki sarana yang dibutuhkan yakni telepon pintar android.*/TATI PURNAWATI /

BlogPendidikan.net
- Sekolah Dasar Negeri Sumber Kulon 1, Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka mulai melakukan pembelajaran tatap muka di ruang kelas. Hal itu terpaksa dilakukan karena orang tua murid tidak memiliki HP android serta hampir semua murid dan orang tua memilih belajar di sekolah.

Alasan lainnya, minimnya orang tua yang mampu mengajari anaknya di rumah karena berbagai persoalan, serta belajar tatap muka dinilai lebih berhasil bila dibandingkan belajar daring atau berkelompok di satu tempat seperti yang dilakukan hampir semua Sekolah Dasar di Kabupaten Majalengka.


Karena banyaknya dorongan orang tua menurut Kepala Sekolah SD Sumber Kulon 1, Durahim, akhirnya pihak sekolah berupaya memenuhi keinginan orang tua serta murid-murid yang mengaku sudah jenuh belajar dengan cara kelompok.

“Pembelajaran tatap muka mulai kami laksanakan pada Senin (3 Agustus 2020) ini, namun tentu kami berupaya mengedepankan protokol kesehatan Covid seperti yang disayaratkan pemerintah setidaknya kami berupaya menyediakan tenpat cuci tangan di depan kelas, murid dan guru juga mengenakan masker serta jarak duduk juga diatur,“ ungkap Durahim.

Sebelum memulai pembelajaran tatap muka, Durahim juga telah meminta orang tua murid agar tidak bepergian ke luar kota agar tidak menjadi persoalan bagi mrid-muridnya.

Saat ini menurut Durahim, pihaknya membagi dua sif pembelajaran yakni pagi dan siang. Karena satu kelas jumlah muridnya hampir mencapai 20 orang. Sehingga sif pagi semua kelas hanya maksimal 10 orang demikian juga sore hari, itupun tidak semua kelas belajar dalam satu hari namun di bagi dua agar murid tidak banyak berkerumun.

Sementara itu dua orang murid keas Imas dan Elang keduanya murid kelas IV mengaku seang sudah bisa belajar di sekolah. Mereka mengaku sudah lama ingin belajar di sekolah karena selama ini jenuh terus berada di rumah.


“Seneng di sekolah bisa main bersama teman-teman banyakan, lagi belajar di rumah kan ngga ada yang mengajarnya. Di kelompok juga rame terus, kurang konsentrasi,” kata Imas.

Elang mengaku ketika ada pemberitahuan masuk sekolah dirinya sudah datang ke sekolah sejak pagi bersama temannya kemudian mengapu ruangan kelas karena banyak debu. Dan menyediakan air sesuai perintah gurunya. (*)