Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

23 Teknik Penilaian Formatif

23 Teknik Penilaian Formatif

BlogPendidikan.net
- Penilaian formatif merupakan bagian dari kegiatan belajar mengajar. Penilaian formatif bahkan merupakan bagian dari langkah-langkah pembelajaran yang efektif. (Angelo) menyebutkan bahwa melalui penilaian formatif pendidik memperoleh umpan balik dalam hal apa, seberapa banyak, dan seberapa baik peserta didik belajar. 

Pendidik selanjutnya menggunakan informasi tersebut untuk memperbaiki proses pembelajarannya sehingga lebih efektif dan efisien. Berbagai penelitian mengenai keefektifan pendidik menunjukkan bahwa penilaian yang dilaksanakan untuk membantu peserta didik membuat kemajuan dalam proses pembelajarannya merupakan ciri utama dari pembelajaran yang efektif  (Hall dan Burke).

Berikut 23 teknik dalam penilaian formatif yaitu :

1. Observasi (Pengamatan)

Saat proses kegiatan belajar mengajar berlangsung, observasi dapat dilakukan oleh pendidik untuk mengetahui apa yang sudah dan belum dikuasai oleh peserta didik dalam hal sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Menurut Bell dan Cowie (2002), pendidik dapat mengetahui apa yang telah dan/atau belum dikuasai oleh peserta didik melalui apa yang dikatakan, dilakukan, dan dihasilkan oleh peserta didik.

Terdapat beberapa bentuk instrumen yang dapat digunakan oleh para pendidik untuk mendapatkan data mengenai kemajuan peserta didik: (a) Catatan Anekdot, (b) Buku Catatan Anekdot, (c) Kartu Catatan Anekdot, dan (d) Label atau Catatan Tempel (Sticky Notes).

2. Bertanya (Questioning)

Jawaban peserta didik terhadap pertanyaan pendidik dapat memberikan gambaran yang baik tentang kemajuan penguasaan kompetensi mereka. Pertanyaan harus dirumuskan dan disampaikan dengan baik oleh pendidik kepada peserta didik secara lisan. Peserta didik diberi waktu yang cukup untuk berpikir, mengingat apa yang telah dipelajari. Pertanyaan pendidik tidak saja menjadikan pendidik mengetahui sampai di mana peserta didik telah menguasai kompetensi yang dituju, tetapi juga membantu peserta didik belajar. Pertanyaan biasanya disampaikan secara lisan pada awal, tengah, atau akhir pelajaran. Tingkat kesulitan dan/atau jenis pertanyaan yang diberikan hendaknya bervariasi, dan menyertakan pertanyaan yang tidak sekedar menuntut ingatan akan sekumpulan fakta atau angka, tetapi pertanyaan yang mendorong pelibatan proses kognitif tingkat tinggi (higher order thinking skills).

3. Diskusi 

Diskusi di kelas bisa memberikan banyak informasi mengenai penguasaan peserta didik terhadap konsep-konsep yang dipelajari. Diskusi membangun pengetahuan dan mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Diskusi memungkinkan peserta didik untuk meningkatkan wawasan dan kedalaman pemahaman mereka sekaligus meluruskan informasi yang salah (Black dan Wiliam ). Pendidik dapat memulai diskusi dengan memberikan pertanyaan terbuka untuk para peserta didik, kemudian menilai pemahaman peserta didik dengan mendengarkan jawaban mereka dan dengan membuat catatan anekdot. 

4. Exit/Admit Slips

a. Exit Slips
Exit Slips adalah jawaban tertulis atas pertanyaan yang diberikan pendidik pada akhir pelajaran untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap konsep-konsep inti. Pertanyaan biasanya hanya membutuhkan maksimal 5 menit untuk diselesaikan dan dikumpulkan saat peserta didik meninggalkan ruangan. Pendidik dapat dengan cepat mengetahui mana peserta didik yang sudah paham, yang membutuhkan sedikit bantuan, dan yang akan membutuhkan pembelajaran yang lebih banyak mengenai konsep tersebut.

b. Admit Slips
Admit Slips hampir sama dengan Exit Slips, perbedaannya Admit Slips dilakukan sebelum pembelajaran di kelas dimulai. Peserta didik dapat diminta untuk menuliskan komentar pada sebuah kartu di awal pembelajaran. Kartu-kartu ini dikumpulkan sebagai syarat untuk masuk ke kelas dan biasanya tidak dinilai serta tidak diberi nama. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui tanggapan peserta didik tentang apa yang mereka pelajari atau yang akan ditemui di dalam kelas, serta mengaktifkan pengetahuan awal mereka atau menghubungkan apa yang telah mereka ketahui dan pelajari. Exit Slips dan Admit Slips dapat digunakan pada semua mata pelajaran.

5. Lembar Catatan Belajar Peserta didik

a. Lembar refleksi
Lembar refleksi digunakan oleh peserta didik untuk mencatat proses yang mereka lalui dalam mempelajari sesuatu dan apa yang mereka peroleh, sekaligus mencatat pertanyaan-pertanyaan yang perlu mereka temukan jawabannya. Refleksi memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk membuat hubungan antara apa yang mereka  sudah pelajari, menentukan tujuan, dan melakukan refleksi terhadap proses belajar mereka.

b. Lembar Tanggapan Peserta didik
Lembar tanggapan peserta didik merupakan lembar isian bagi peserta didik untuk menuliskan respons pribadi mereka untuk mengajukan pertanyaan, meramalkan hasil, melakukan refleksi atau perenungan, mengumpulkan kosakata, dan untuk menyatakan pikiran atau pendapat mereka mengenai bacaan tertentu. Pendidik dapat menggunakan  lembar tanggapan peserta didik sebagai penilaian formatif

6. Penilaian Diri dan Penilaian Antarteman (Self- dan Peer-Assessment)

Penilaian Diri dan Penilaian Antarteman menjadikan peserta didik mengevaluasi dirinya sendiri atau teman sekelasnya mengenai kemajuan belajarnya dan melakukan refleksi atas proses pembelajaran mereka. Pendidik dapat memeriksa hasil penilaian diri peserta didik maupun penilaian antar teman untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan peserta didik. 

7. Latihan Presentasi

Latihan presentasi sebaiknya dilakukan beberapa hari sebelum tanggal presentasi yang sesungguhnya. Peserta didik berlatih presentasi di depan teman-teman sekelas mereka. Dengan mendengarkan peserta didik latihan presentasi, pendidik dapat dengan mudah menentukan tingkat pemahaman peserta didik mengenai konsep-konsep yang penting sekaligus mengetahui perkembangan keterampilan menyajikan gagasan mereka berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Pendidik memberikan komentar mengenai aspek positif dari presentasi dan menyarankan perbaikan yang dapat dilakukan guna meningkatkan kualitas dari presentasinya. 

8. Peta Konsep

Penilaian formatif dapat dilakukan dengan meminta peserta didik membuat representasi visual, misalnya peta konsep. Dari representasi visual yang dibuat peserta didik, pendidik dapat menilai seberapa baik pemahaman peserta didik mengenai konsep tertentu.

9. Penilaian Kinestetik

Penilaian Kinestetik adalah penilaian yang memasukkan unsur gerak untuk menunjukkan pemahaman mereka mengenai sebuah topik atau konsep. Meskipun biasanya jenis penilaian ini berhubungan dengan bidang seni, misalnya menari dan memainkan alat music atau PJOK, misalnya dribbling bola basket dan memberikan serve bola voli, penilaian kinestetik juga bisa digunakan dalam bidang pelajaran lainnya untuk memberikan gambaran kepada pendidik mengenai pemahaman dan kesalahpahaman peserta didik mengenai sebuah konsep. Penilaian kinestetik merupakan cara yang baik untuk menambah keragaman pada penilaian terhadap pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.

10. Papan Bicara

Pendidik dapat meminta peserta didik menuliskan jawaban atas pertanyaan lisan atau tertulis pada papan kecil/kertas karton berukuran sekitar 35x50 cm dengan spidol. Ketika peserta didik telah menuliskan jawabannya, mereka diminta untuk mengangkat papan kecil/kertas karton mereka. Pendidik dapat menentukan siapa yang dapat menjawab dengan tepat dan yang masih membutuhkan bantuan. Pendidik bisa langsung memberikan perbaikan (umpan balik) pada peserta didik yang jawabannya belum tepat.

11. Kuis Konstruktif

Untuk menilai perkembangan peserta didik dalam penguasaan kompetensi, pendidik dapat memberikan kuis konstruktif. Kuis ini diberikan selama proses pembelajaran berlangsung. Kuis konstruktif tidak hanya memberikan umpan balik bagi pendidik, tapi juga bisa membantu peserta didik merefleksikan penguasaan mereka atas kompetensi yang dipelajari.

12. Penugasan

Penilaian formatif dapat dilakukan pendidik dengan cara memberi tugas yang dapat dikerjakan peserta didik sebagai pekerjaan rumah (PR). Tugas tersebut dapat dikerjakan secara individu atau kelompok. Dari hasil pekerjaan yang telah diselesaikan oleh peserta didik, pendidik dapat mengetahui perkembangan peserta didik dalam menguasai materi/kompetensi secara kelompok atau individu. Selanjutnya pendidik memberi umpan balik dan merancang pembelajaran yang tepat untuk memfasilitasi peserta didik mencapai tujuan pembelajaran yang optimal.

13. Daftar cek

Daftar cek kelas merupakan salah satu teknik untuk mengumpulkan informasi mengenai pemahaman peserta didik selama satu bab pembelajaran. Sebelum memulai satu bab baru, pendidik membuat daftar semua keterampilan yang perlu dikuasai oleh peserta didik. Dalam tabel, daftar nama peserta didik ditulis di sebelah kiri dan keterampilan pada bagian atas. Tabel dipasang pada papan dan di letakkan di tempat yang mudah dijangkau. Selama peserta didik mengikuti kegiatan pembelajaran, pendidik mengamati dan memberi tanda centang pada keterampilan yang ditunjukkan oleh peserta didik dengan tingkat kemahiran yang diinginkan.

14. Jawaban Bersama

Pendidik dapat meminta peserta didik untuk menjawab serangkaian pertanyaan secara bersama-sama. Apabila pendidik ingin mengetahui tingkat pemahaman peserta didik secara cepat. Dengan memperhatikan jumlah dan isi jawaban peserta didik dengan seksama, pendidik akan mendapat gambaran apakah peserta didik telah memahami dengan baik apa yang peserta didik pelajari di kelas. Selain itu, jawaban bersama mendorong semua peserta didik untuk aktif terlibat dalam proses penilaian. 

15. Contoh dan Bukan Contoh

Pendidik meminta peserta didik untuk memberikan contoh dan bukan contoh dari sebuah topik yang sedang dibahas. Contoh dan bukan contoh memberikan pendidik informasi mengenai tingkat pemahaman peserta didik. Misalnya, selama pembelajaran  tentang sumber-sumber energi, peserta didik diminta memberi contoh sumber energi terbarukan dan contoh bukan energi terbarukan. Selama peserta didik mempelajari suatu bab tentang campuran dan senyawa dalam pelajaran IPA, peserta didik diminta untuk memberi contoh dan bukan contoh campuran, serta menjelaskan alasan mereka untuk mengkategorikan setiap contoh dan bukan contoh.

16. Tunjuk Lima Jari

Ketika pendidik ingin segera mengetahui kemajuan penguasaan peserta didik di tengah-tengah pelajaran, tunjuk lima jari adalah salah satu teknik yang dapat digunakan. Berikan sebuah pertanyaan kepada peserta didik dan mintalah mereka menunjukkan tingkat kepahaman mereka dengan menggunakan isyarat jari. Peserta didik menunjukkan satu jari jika mereka masih tidak yakin apakah mereka memahami suatu materi dan memerlukan tambahan penjelasan. Jika mereka merasa sudah mulai memahami materi tersebut, mereka bisa menunjukkan tiga atau empat jari. Peserta didik yang sepenuhnya telah memahami materi menunjukkan lima jari. Dengan cara ini pendidik memperoleh informasi mengenai kemajuan penguasaan peserta didik terhadap materi dan memungkinkan pendidik untuk menyesuaikan kegiatan pembelajaran.

17.Menyebutkan hal-hal yang sudah dipelajari

Pada pertengahan pembelajaran suatu bab, pendidik dapat meminta peserta didik membuat daftar materi yang telah mereka pelajari dalam bab tersebut. Pendidik kemudian mengumpulkan dan membaca daftar-daftar tersebut untuk mendapatkan gambaran tentang sampai mana peserta didik menguasai materi tersebut. Pendidik dapat mencermati bagian-bagian yang masih belum dipahami sehingga dapat diperbaiki secara langsung atau pada pertemuan berikutnya.

18. Uraian Singkat

Uraian Singkat adalah teknik penilaian formatif yang cepat dan memungkinkan pendidik untuk menyimpulkan tingkat penguasaan peserta didik dalam suatu topik pembelajaran. Pendidik memberikan sebuah pertanyaan kepada peserta didik dan meminta mereka menjawabnya. Kemudian pendidik menjelaskan bahwa mereka mempunyai waktu yang sangat singkat (biasanya satu menit) untuk menuliskan jawaban mereka. Untuk itu, pendidik harus memastikan bahwa pertanyaan yang disampaikan dapat dijawab dalam waktu singkat. Pertanyaan-pertanyaan yang digunakan dapat membuat peserta didik merefleksikan penguasaan materi dan menghubungkannya dengan kehidupan mereka masing-masing. Pertanyaan-pertanyaan  yang diberikan dapat meliputi pertanyaan-pertanyaan yang menghendaki proses kognitif baik tingkat rendah maupun tingkat tinggi.

19. Ringkasan Singkat

Pendidik meminta peserta didik untuk membuat ringkasan singkat dari materi yang telah mereka pelajari akan memberikan informasi mengenai pemahaman peserta didik mengenai materi tersebut. Kedalaman ringkasan-ringkasan yang dibuat peserta didik akan menunjukkan tingkat pemahaman mereka mengenai materi tersebut dan memberikan arah untuk rencana pembelajaran selanjutnya.

20. Pertanyaan dengan Jawaban Terbuka

Pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban terbuka memungkinkan pendidik untuk menentukan perkembangan capaian belajar peserta didik. Pendidik memberi pertanyaan yang tidak bisa dijawab hanya dengan ‘ya’ atau ‘tidak’ atau jawaban satu kata lainnya. Pertanyaan terbuka mengharuskan peserta didik berpikir tentang jawaban mereka dan menggunakan pengetahuan dan pemahaman mereka mengenai sebuah topik dalam jawaban mereka. Pertanyaan-pertanyaan dengan kata ‘mengapa’ sering mendorong pemikiran yang lebih mendalam.

21. Memecahkan Masalah

Pendidik menunjukkan sebuah masalah kepada peserta didik secara individu atau kelompok dan meminta mereka memecahkannya. Peserta didik dapat menyatakan jawaban/solusi terhadap masalah secara lisan atau tertulis. Jawaban/solusi mereka dapat menunjukkan tingkat penguasaan mereka terhadap materi yang sedang dipelajari. Jawaban/solusi yang dikemukakan peserta didik memberikan petunjuk tentang jenis kegiatan pembelajaran yang dibutuhkan pada pelajaran selanjutnya.

22. Kartu Jawaban

Ada banyak kegunaan kartu jawaban di dalam kelas. Pendidik memberikan sebuah pertanyaan dan meminta peserta didik untuk menjawab dengan mengangkat kartu jawaban mereka. Kartu jawaban yang paling umum adalah pertanyaan dengan jawaban ‘YA’ atau ‘TIDAK’. Peserta didik diberi dua macam kartu jawaban. Satu kartu dengan kata ‘YA’ dan lainnya dengan kata ‘TIDAK’. Setelah diberikan satu pertanyaan, peserta didik menjawab dengan mengangkat kartu jawaban mereka. Pendidik mencermati seluruh kelas dengan singkat, dan memberikan penilaian terhadap pemahaman mereka.

23. Pertanyaan-pertanyaan yang Dibuat oleh Peserta didik

Peserta didik diminta untuk membuat pertanyaan dan menuliskan kemungkinan jawabannya. Peserta didik harus memikirkan pertanyaan apa yang akan menunjukkan pemahaman mendalam mengenai suatu topik. Ketika peserta didik telah selesai membuat pertanyaan dan menulis jawaban, pendidik meminta mereka mengumpulkannya, kemudian pendidik membaca pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban tersebut untuk mendapatkan gambaran tentang sejauh mana peserta didik menguasai sebuah topik. Pendidik menggunakan pertanyaan pemulai sebagai pembuka diskusi kelas atau mintalah peserta didik bertukar lembar pertanyaan yang mereka buat. Peserta didik kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mengembalikannya kepada peserta didik pembuat pertanyaan yang dinilai. Peserta didik umumnya senang berperan sebagai pendidik. Doronglah peserta didik untuk memberikan masukan yang positif dan deskriptif kepada temannya yang telah menjawab pertanyaan-pertanyan yang mereka buat. 

Semua teknik penilaian formatif di atas, sebetulnya merupakan teknik-teknik penilaian berbasis kelas yang dapat dimasukkan dalam kategori penilaian tertulis, penilaian lisan, penilaian sikap, atau penilaian kinerja (praktik, produk, proyek, dan portofolio) yang sifatnya lebih sederhana, tidak harus dilakukan secara formal dengan alat ukur atau instrumen yang standar.

Rujukan : Model Penilaian Formatif Pada Pembelajaran Abad ke 21 Untuk Sekolah Dasar. Tim Pusat Penilaian Pendidikan Kemendikbud tahun 2019.

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

Berikut 13 Kata-kata Mutiara dan bijak khusus untuk guru untuk membangkitkan motivasi dan derajat seorang guru. Sososk Yang Dicintai dan Dihormati
 :

"Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah- celah tanamannya." (Imam Al Ghazali)

"Seorang majikan dapat memberitahumu apa yang ia harapkan darimu, Tapi seorang Guru membangkitkan pengharapanmu sendir." (Patricia Neal)

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Perananmu sebagai pemimpin itu jauh lebih penting dari apa yang kau bayangkan. Kau (guru) memiliki kekuasaan untuk membantu orang menjadi juara." (Ken Blanchard)

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Aku bukan seoarang Guru hanya sesama musafir yang kau tanyai arah, Aku menujuk ke arah depan kedepan diriku sendiri dan ke depan dirimu." (George Bernard Shaw)

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Guru yang baik tidak pernah Mengatakan muridnya bodoh; tapi guru yang baik selalu mengatakan 'Muridku belum menguasai."

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Apa yang ingin dipelajari murid, Sama pentingnya dengan apa yang ingin diajarkan Guru." (Lois E.LeBar)

"Teknologi hanya sebuah alat. Dalam hal membuat murid bekerja sama dan menjadikan mereka bermotivasi, gurulah yang paling utama." (Bill Gates)

"Saya percaya bahwa guru terhebat adalah seniman terhebat dan saya percaya hanya sedikit sekali seniman yang hebat. Mengajar mungkin adalah seni terhebat karena medianya adalah jiwa dan akal manusian." (John Steinback)

"Salah satu hal terpenting yang boleh dilakukan seorang guru adalah mengirim pulang seorang murid di siang hari  dalam keadaan sedikit lebih menyukai dirinya sendiri daripada ketika ia datang di pagi hari." (Ernest Melby)

"If kids come to us from strong, healthy functioning families, it makes our job easier.If they do not come to us from strong, healthy, functioning families, it makes our job more important." (Barbara Colorose )

"Teachers affect eternity; no one can tell where their influence stops." (Henry Brooks Adams)

"Students don't care how much you know until they know how much you care." (Nonymous)

"The test of a good teacher is not how many questions he can ask his pupils that they will answer readily, but how many questions he inspires them to ask him which he finds it hard to answer." (Alice Wellington Rollins)

Demikian semoga bisa menambah motivasi buat Bapak/Ibu Guru di sekolah saat PTM Terbatas.

10 Cara Mengajar Yang Baik Agar Siswa Betah dan Perhatian


Blogpendidikan.net - Seiring berkembangnya zaman berbagai model mengajar tercipta, bagi guru sangat mudah mengakses media dan bahan pembelajaran yang akan di sampaikan. Bagaimana cara mengajar agar anak-anak betah dan perhatian..?

Guru sebaiknya tahu cara mengajar yang baik kepada murid-muridnya. Ketika di dalam kelas, seorang guru mengambil kendali atas kegiatan yang akan dilakukan saat belajar dengan murid-muridnya. Jika respon murid ternyata merasa senang belajar bersama guru yang yang bersangkutan, bisa dipastikan guru tersebut menggunakan metode mengajar yang baik dan tidak monoton. 

Sebagian guru masih ada yang mengajar dengan menggunakan metode lama, yang seolah-olah hanya guru saja yang boleh aktif sementara murid-muridnya hanya mendengarkan. Sekarang ini, anak-anak dituntut untuk lebih aktif, sehingga cara mengajar guru juga harus berubah menjadi lebih baik dan maksimal.

Berikut 10 Cara Mengajar yang Baik kepada siswa agar mereka mampu menyerap pelajaran yang diberikan dengan efektif dan efisien:

1. Jangan Berdiri Seperti Patung

Maksud tidak berdiri seperti Patung adalah seorang guru sebaiknya bergerak ketika sedang mengajar, tidak hanya berdiri di depan kelas saja, atau hanya duduk di meja guru. lakukan teknik mobile teaching dengan cara guru mencoba untuk mengajar secara lebih dekat dengan muridnya, dan berkeliling untuk mengetahui situasi kelas dan murid-muridnya ketika sedang belajar. jika memang pelajaran hitungan sedang diberikan, cobalah guru untuk mendekati murid di setiap baris tempat duduknya dan lihat perkembangan mereka ketika sedang mengerjakan hitungan tersebut. jika saja ada murid yang sedang melamun, atau merasa bingung, maka guru akan dengan mudah mengetahuinya.

2. Buat Mereka Merespon Perhatian

Untuk mengetahui apakah murid-murid kita ini memperhatikan kita saat mengajar pelajaran tertentu atau tidak, guru bisa melakukan diskusi atau debat argumen supaya mereka mau mengeluarkan pendapatnya. memang tidak semua murid kita akan bisa berpendapat dengan baik, beberapa ada yang terkendala masalah komunikasi. namun, apapun respon mereka, pancing terus mereka untuk berpendapat dan hargai setiap pendapat yang mereka lontarkan. selain materi pembelajaran dapat mudah mereka fahami, kita juga mengajarkan mereka untuk berani berbicara dan menerima pendapat orang lain. hal ini merupakan dasar komunikasi yang baik untuk bekal murid-murid kita di masa depan.

3. Lakukan Variasi

Melakukan variasi dalam metode mengajar ternyata akan berpengaruh positif terhadap pemahaman murid-murid kita. bisa dibayangkan jika yang terjadi di kelas adalah hanya berbicara saja, dan mendengarkan tanpa ada yang bertanya, maka pemahaman pelajaran akan terasa lebih sulit. cobalah untuk membuat variasi ketika mengajar. sebelum masuk ke inti pelajaran, di awal cobalah untuk lebih rilexs dengan menyanyikan lagu yel-yel kelasnya, agar belajar tetap semangat. guru juga bisa menyisipkan games dalam setiap pelajaran yang sedang diberikan, asalkan games ini berhubungan dengan mata pelajarannya. lakukan lebih banyak diskusi dengan murid-murid kita, agar mereka aktif dan lebih memahami subjek pelajarannya.

4. Berikan Perhatian

Mengajar bukan saja memberikan materi pelajaran untuk murid-murid kita agar mereka mengetahui dan mempelajarinya. mengajar juga harus memperhatikan keadaan murid-muridnya. jika kembali ke masa sekolah dulu, biasanya sang guru akan memperhatikan siswa-siswa tertentu saja, seperti siswa yang paling sering bolos, yang paling pintar, paling cantik dan lain sebagainya. predikat inilah yang bisa membuat guru sangat mudah mengenali satu persatu muridnya. sebaiknya berikan perhatian kepada seluruh murid. tiap murid memiliki talenta dan karakter yang berbeda, maka ketahuilah satu persatu dan dukung mereka agar bisa berkembang menjadi lebih baik.

5. Maksimalkan Teknologi

Sekarang sudah serba canggih, metode mengajar kita juga harus disesuaikan dengan teknologi yang ada agar mengajar semakin mudah. manfaatkan komputer, Laptop, tablet dan lainya untuk digunakan murid-murid dalam mempelajari sesuatu subjek. agar tidak bosan, ubahlah text book pelajaran menjadi bentuk gambar atau audio, dengan begini murid akan menemukan sesuatu yang dianggap baru dan menyenangkan. memanfaatkan teknologi tentunya akan selalu berkaitan dengan internet. saat ini ada banyak website edukasi yang akan memberikan pengetahuan tentang mata pelajaran yang sedang murid-murid bahas bersama gurunya ini. mereka bisa mengakses video pembelajaran atau membaca artikel terkait, untuk membuat mereka lebih faham.

6. Interaktif

Cobalah untuk menggunakan metode belajar yang interaktif dengan murid-murid kita. seorang guru memang menguasai materi pelajaran yang akan diberikan kepada anak muridnya, namun perkembangan anak juga harus kita fikirkan. mereka akan banyak memiliki rasa ingin tahu tentang sesuatu, terhadap tentang issu yang mungkin sedang dibahas pada mata pelajaran tertentu. berikan kesempatan mereka untuk bertanya seputar pelajaran yang dibahas. guru bisa mengawali dengan menceritakan kisah pendek terkait pelajaran tersebut. buat mereka menjadi bertanya-tanya agar mereka lebih mudah mengerti dan memahami sebenarnya bagaimana menyelesaikan pertanyaan dalam suatu pelajaran tertentu.

7. Sesekali Belajar di Luar Kelas

Beberapa guru ada yang suka menggunakan metode ini, dimana murid-muridnya digiring ke luar kelas pada pagi hari, dan mereka belajar di luar kelas. metode seperti ini dianggap akan kembali merefresh keadaan otak murid-murid kita yang sudah sering menerima pelajaran setiap harinya. lakukan pembelajaran yang cenderung menyenangkan, seperti membuat pasangan kata pada sebuah kertas dan menyuruh mereka untuk mencari maksud dari padanan kata tersebut, sesuai dengan buku pelajaran. coba perhatikan, murid-murid akan merasa lebih refresh dan lebih mudah untuk menyerap pelajaran. mereka akan lebih konsenstrasi, terlebih keadaan diluar masih di jam pagi hari.

8. Siapkan Materi dengan Animasi

Dalam menyampaikan pelajaran kepada murid-murid kita, sebaiknya kita tidak menghabiskan waktu dengan membahas point yang kurang penting untuk disampaikan. siapkan poin-poin dari materi pelajaran utama dalam bentuk yang lebih animasi. jika memang bisa disampaikan dengan poin, kita bisa gunakan slide presentasi lewat power poin. buatlah beberapa slide tampilan materi pembelajaran dengan menyisipkan animasi lucu dan bergerak di dalamnya. hal ini akan berguna agar penyampaian materi tidak membosankan. penjelasan poin seperti ini juga lebih jelas dalam mengarahkan tujuan pembelajaran itu sendiri. sesekali sarankan juga murid-murid untuk belajar membuat presentasi lewat power point. selain itu, kita juga bisa gunakan Video pembelajaran agar suasana belajar lebih baru.

9. Lebih Sabar dan Berikan Reward

Sebagai guru, kita juga harus bisa lebih sabar untuk menghadapi berbagai respon anak murid kita, baik sabar dalam pemahaman pembelajaran, maupun sabar dalam mendorong mereka untuk terus semangat belajar. respon anak murid kita akan berbeda-beda terhadap pelajaran, sekalipun berbagai strategi yang unik sudah coba kita lakukan untuk membuat suasana belajar lebih seru. untuk lebih menyemangati anak murid kita, tidak ada salahnya jika kita memberikan reward atau hadiah setiap anak murid kita berhasil menjawab pertanyaan kuis atau test harian saat di kelas. hadiah juga merupakan salah satu motivasi untuk anak-anak murid kita agar lebih semangat belajar.

10. Perhatikan Closing Mengajar

Saat pelajaran akan segera berakhir waktunya, maka terapkan teknik closing belajar yang benar, agar murid-murid tidak mudah melupakan poin apa saja yang telah mereka pelajari hari ini. ulangi kembali poin pembelajaran tadi, secara garis besar agar murid-murid kita tetap mengingatnya dan juga mulai memahaminya. setelah itu, coba untuk menarik kesimpulan dari pembelajaran tersebut agar bisa melanjutkan ke materi selanjutnya secara teratur, murid akan tetap mengingat materi sebelumnya, jika teknik closingnya seperti ini. beritahukan tentang materi yang akan dibahas selanjutnya di pertemuan berikutnya. sarankan murid-murid untuk membaca poin penting pelajaran berikutnya sebelum kelas dimulai.

Menjadi Guru yang baik tidak mudah, karena kita memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan materi pelajaran kepada murid-murid kita, serta kewajiban kita selanjutnya adalah membuat mereka memahami tujuan pembelajaran tadi agar mereka lebih cepat memahaminya. 

Respon murid terhadap pelajaran tentu berbeda-beda, oleh karena itu kita harus menggunakan metode belajar yang lebih baru dan modern agar murid-murid betah karena gurunya melakukan cara mengajar yang baik. 10 Cara Mengajar yang Baik dan Benar untuk Guru di Sekolah semoga bisa memberi pencerahan untuk metode belajar baru yang lebih menyenangkan. Happy Teaching!

Salam pendidikan.

5 Metode Membaca dan Menulis Permulaan Pada Kelas Rendah

5 Metode Membaca dan Menulis Permulaan Pada Kelas Rendah

BlogPendidikan.net
- Keterampilan menulis dan membaca merupakan keterampilan dasar yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Keterampilan ini menjadi sarana untuk merekam atau mengungkapkan pikiran, perasaan atau informasi yang ada. 

Menulis merupakan ekspresi/ungkapan dari bahasa lisan ke dalam suatu bentuk goresan/coretan. Pada setiap manusia, kepemilikan keterampilan dasar ini diawali dari ketika anak pura-pura menulis di atas kertas, pasir atau media lainnya dalam bentuk coretan-coretan sampai anak mampu menirukan bentuk tulisan yang sesungguhnya.

Berikut Metode pembelajaran bahasa Membaca dan menulis  Permulaan di kelas rendah adalah sebagai berikut:

1. Metode Eja/Abjad 

Metode ini merupakan metode yang sudah sangat tua. Pelajaran pertama dimulai dengan pengenalan abjad “a”, “be”, “ce”, “de”, dan seterusnya. Guru sering mengajarkannya melalui lagu ABC.

Penggunaan metode ini kerap kali menimbulkan kecenderungan mengeja, yaitu membaca huruf demi huruf. Kecenderungan ini menghambat proses penguasaan kemampuan membaca permulaan.

2. Metode Bunyi

Metode ini juga merupakan metode yang sudah sangat tua. Pelaksanaannya hampir sama dengan metode abjad. Namun, huruf-huruf tidak disebut dengan nama abjadnya, melainkan nama bunyinya. Jadi, huruf “m” tidak diucapkan sebagai [em] atau [em] melainkan [m]. Bunyi-bunyi konsonan dirangkai dengan bunyi vokal sehingga membentuk suku kata

3. Metode suku kata dan metode kata

Metode ini diawali dengan pengenalan suku kata, seperti ba, bi, bu, be, bo, ca, ci, cu, ce, co, dan seterusnya. Suku kata tersebut kemudian dirangkaikan menjadi kata-kata bermakna. Sebagai contoh, dari daftar suku kata tadi, guru dapat membuat berbagai variasi paduan suku kata menjadi kata-kata bermakna

4. Metode Global

Global memiliki arti secara utuh atau bulat. Yang disajikan pertama kali dalam metode global kepada murid adalah kalimat seutuhnya. Kalimat tersebut dituliskan di bawah gambar yang sesuai dengan isi kalimatnya. Gambar itu ditujukkan untuk mengingatkan siswa kepada kalimat yang ada di bawahnya. Setelah berkali-kali membaca, murid dapat membaca kalimat-kalimat itu secara global tanpa gambar.

5. Metode Struktural Analisis Sintesis (SAS)

Metode SAS diawali dengan perkenalan struktur kalimat pada anak. Kemudian anak diajak untuk melakukan proses analitik untuk mengenal konsep kata. kalimat utuh yang diperkenalkan pada anak untuk pertama kali akan diuraikan ke dalam satuan-satuan bahasa yang lebih kecil di sebut kata hingga sampai pada wujud satuan bahasa terkecil yang tidak bisa diuraikan lagi yakni huruf.

5 Akibat Yang Akan Dialami Siswa Jika Menekan Dengan Kata-kata Merendahkan

Ingat! Jangan Menekan Siswa Dengan Kata BODOH

BlogPendidikan.net
- Memang tidak bisa dipungkiri, seorang guru pasti lebih mengenal siswanya antara satu dan lainnya, ada klasifikasi antara siswa yang mampu dalam hal kognitif dan yang tidak. Hal ini wajar ada pada diri siswa. Bodoh dan pintar adalah hanya kata khiasan untuk membedakan siswa yang mampu dengan kata 'Pintar' dan yang tidak mampu dengan kata 'Bodoh'.

Selama ini mungkin guru sering membedakan siswa-siswa yang ada di sekolah dalam dua hal tersebut, yaitu "siswa yang bodoh atau pintar". Pendapat kita tentang hal ini memang bukanlah sebuah kesalahan, namun hal itu sangat perlu diluruskan. Karena sejatinya tak ada kata bodoh dalam diri seorang siswa.


Dari pernyataan di atas, kita bisa berfikir bahwasannya tidak ada kata "bodoh" yang melekat pada diri siswa. Melainkan siswa tersebut tidak bisa memanfaatkan apa yang telah dianugrahkan  Salah satu buktinya yaitu adanya rasa malas yang selalu melekat dalam diri siswa. Hal inilah yang membuat klasifikasi siswa itu bodoh.

Terlebihnya bagi seorang pendidik sangat berhati-hati sekali jika menekan siswa, apalagi dengan mengeluarkan kata-kata 'Bodoh' , tanpa disadari tekanan tersebut akan berdampak psikologis pada siswa, dan yang lebih parahnya lagi siswa tersebut akan merasa dibedakan dan asing bagi teman-teman lainnya.

Dalam situasi dimana siswa tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan sesuatu hal atau menjawab pertanyaan secara tepat, guru sering mengungkapkan kekecewaannya atas situasi tersebut dengan melontarkan kata-kata seperti ‘Kamu Bodoh’, atau kata-kata sejenis. Ada guru yang tidak merasa bersalah ketika mengatakan demikian. 


Fenomena semacam ini pada umumnya disebabkan oleh ketidaktahuan akan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kata-kata tersebut. Ada juga karena telah ada kesepakatan sebelumnya dengan siswa, manakala mereka tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan, atau tidak bisa menjawab, maka mereka akan dikatakan bodoh.

Apa akibat yang ditimbulkan menekan siswa dengan kata Bodoh :

1. Kepercayaan diri akan menurun

Kata-kata yang dikeluarkan oleh guru membuat siswa merasa bahwa itu adalah dirinya. Contoh sederhana saja, ketika guru berkata bodoh pada siswa tentu ia sakit hati dan berpikir bahwa hal itu mencerminkan dirinya. Tapi di sisi lain, alasan guru mengatakan itu karena kesal atau emosi. 

Hal tersebut membuat rasa percaya diri siswa menurun. Ia merasa bahwa hanya kekurangan saja yang ada dalam dirinya. Padahal seharusnya, guru yang lebih bijaksana dalam memilih kata untuk siswa. Jangan asal ucap tapi beri dia sedikit pengertian. 


2. Takut akan penolakan

Seorang siswa akan yang mendapat didikan yang buruk jika, guru tidak mampu bersikap dan berkata-kata dengan baik. Hal sederhana yang guru lakukan yaitu, berkata kasar pada siswa dan berdampak pada karakternya. 

Dan hasilnya, ia menjadi anak yang takut akan penolakan. Tapi ketika penolakan terjadi pada siswa maka, ia dapat melukai dirinya sendiri akibat merasa tidak layak untuk hidup. Jadi sebelum terjadi guru sebaiknya lebih dahulu mencegah. 

3. Pergaulan tidak akan terarah

Kunci utama siswa akan sukses dan memiliki karakter yang baik dimulai dari keluarga. Didikan orangtua sangat penting dalam membentuk perilaku dan pola pikir anak, selanjutnya pendidikan di sekolah juga sangat menentukan. Tapi jika orangtua atau guru sering berkata kasar pada anak, pasti ia akan mencari kesenangan di luar rumah. Sehingga, ia akan masuk dalam pergaulan yang salah dan mendidiknya menjadi orang yang sulit diatur.

4. Melatih memiliki sifat dendam

Ketika orangtua atau guru merasa bahwa anak terluka lebih baik segera minta maaf. Tapi tidak dengan maksud memanjakan anak dan tetap beritahu kesalahannya. Ini bertujuan agar hubungan orangtua dan anak akan semakin baik dan tidak ada rasa dendam. 

Pasalnya, terkadang orangtua atau guru sulit meminta maaf dan menganggap semua baik-baik saja. Padahal anak sudah menyimpan dendam akibat sakit hati. Jika sudah menjadi kebiasaan maka, anak akan sulit memaafkan orang sekitarnya.


5. Menjadi pendiam dan tertutup

Anak yang berubah menjadi pendiam dan tertutup bisa jadi karena orangtua atau guru sering berkata kasar padanya. Hal ini justru membuat anak tidak dekat dengan orangtua maupun gurunya dan merasa hidup sendiri. Sehingga, kita tidak dapat mendidik anak dengan baik. Sebelum hal ini berlanjut hingga sampai ia dewasa maka, cari tahu akar permasalahannya dan berusaha untuk dekat pada anak.

Semoga anak didik kita, bisa terjaga dengan baik dengan membentuk karakter mereka menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta membahagiakan kedua orang tua dan gurunya. 

Berbagai Metode Menyimak Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Berbagai Metode Menyimak Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

BlogPendidikan.net
- Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia ada berbagai metode yang digunakan khususnya pada materi menyimak, metode dibawah ini digunakan oleh guru pada materi-materi tertentu dalam menyimak suatu tes atau cerita.

Berikut Berbagai Metode Menyimak Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia :

1. Metode Simak-Ulang Ucap(Metode Integratif)

Guru sebagai model pembelajaran membacakan atau memutar rekaman bunyi bahasa tersebu, seperti fonem, kata mutiara, puisi pendek dengan perlahan-lahan serta intonasi yang jelas dan tepat. sedangkan tugas siswa meniru ucapan guru. peniruan ini dapat dilakukan secara individu, kelompok atau klasikal.

2. Simak Terka

Dapat masuk dalam bahasa dan sastra, Langkah–langkahnya:

a. guru mempersiapkan deskripsi sesuatu benda tanpa menyebut namanya.
b. deskripsi tersebut dikomunikasikan kepada siswa mendengarkan serta menerka benda apa yang di maksud oleh guru

3. Metode Simak Tulis

Metode simak tulis. guru mempersiapkan bahan-bahan yang akan didiktekan kepada siswa-siswanya. siswa menulis apa yang di ucapkan guru.

4. Metode Memperluas Kalimat

Guru mengucapkan kalimat sederhana. siswa menirukan ucapan guru. guru mengucapkan kata atau kelompok kata. siswa menirukan ucapan guru. selanjutnya siswa disuruh menghubungkan ucapan yang pertama dan kedua sekaligus, sehingga menjadi kalimat yang panjang

5. Metode Bisik Berantai

Guru membisikan kalimat kepada seseorang siswi. siswi tersebut membisikan kalimat tersebut kepada siswa kedua, sampai seterusnya sampai anak terakhir. guru memeriksa apakah kalimat pesan tersebut sampai kepada siswa terakhir dengan benar.

6. Metode Menjawab Pertanyaan

Siswa-siswa merasa malu untuk membicarakan atau bercerita dapat di bimbing dengan pertanyaan guru. pertanyaan yang di ajukan berupa berbagai jenis pertanyaan sesuai dengan tema yang di ajarkan. misalnya, untuk memperkenalkan diri siswa guru dapat mengajukan sejumlah pertanyaan  mengenai nama orang tua, jumlah, umur, jumlah keluarga dan sebagainya.

7. Metode Identifikasi Tema/Kalimat Topik/Kata Kunci

Metode identifikasi tema, kalimat topik, kata kunci pada dasarnya sama. perbedaannya terletak pada materi yang harus diidentifikasi. identifikasi tema untuk sebuah wacana/cerita. siswa di suruh menerka tema/topik judulnya.

8. Metode Parafase

Parafase berarti ahli bentuk, dalam pembelajaran bahasa, parafase bisanya diwujudkan dalam bentuk pengalihan bentuk puisi ke prosa atau memprosakan sebuah puisi. Guru mempersiapkan puisi sederhana  yang sekiranya sesuai dengan karakteristik kelas yang dibelajarkan. puisi tersebut dibacakan kepada siswa dan siswi menyimak dengan seksama. pembacaan puisi tersebut hendaknya dengan jeda yang jelas dan intonasi yang tepat. setelah siswa selesai di suruh bercerita isi puisi dengan bahasanya sendiri dalam bentuk prosa.

9. Metode Merangkum

Merangkum berarti menyingkat atau meringkas dari bahan yang telah disimak. dengan kata-katanya sendiri. Siswa mencari intisari bahan yang disimaknya. Bahan yang di simak sebaiknya wacana yang pendek dan sederhana sesuai dengan tingkat kematangan anak.

Demikian artikel tentang Berbagai Metode Menyimak Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia semoga bermanfaat.