Showing posts with label Siswa. Show all posts
Showing posts with label Siswa. Show all posts

Sekolah Dilarang Meminta Tanda Tangan Orang Tua Surat Pernyataan Bersedia Menanggung Resiko Vaksin Anak

Sekolah Dilarang Meminta TandaTangan Orang Tua Surat Pernyataan Bersedia Menanggung Resiko Vaksin Anak

BlogPendidikan.net
- Presiden Joko Widodo melarang sekolah meminta orang tua murid menandatangani surat pernyataan bersedia menanggung risiko vaksinasi anak. Perintah Jokowi itu disampaikan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden Abraham Wirotomo.

Menurut Abraham, KSP menerima sejumlah aduan dari masyarakat soal surat tersebut. Aduan itu pun telah disampaikan ke Jokowi dalam rapat terbatas, Minggu (16/1).

"Presiden memerintahkan jangan ada lagi sekolah yang meminta tanda tangan orang tua/wali murid yang menyatakan sekolah tidak bertanggung jawab bila terjadi hal-hal tertentu akibat vaksin anak," kata Abraham dalam keterangan tertulis, Senin (17/1).

Abraham menjelaskan seluruh kejadian ikutan pascaimunisasi (KIPI) adalah tanggung jawab negara. Negara pun menanggung seluruh biaya yang diperlukan jika warga negara mengalami KIPI.

Dia meminta orang tua siswa tidak khawatir. Hingga saat ini, Komisi Nasional KIPI belum ada laporan gejala pascavaksin yang berujung kematian.

"Bila ada temuan, orang tua/wali diharapkan melapor ke puskesmas atau RS terdekat," ujar Abraham

Sebelumnya, pemerintah melaksanakan vaksinasi Covid-19 untuk 26,5 juta anak usia 6-11 tahun. Pemerintah menargetkan vaksinasi Covid-19 untuk anak rampung pada Maret 2022.

Sumber : cnnindonesia.com

7 Strategi Pembelajaran Dengan Kelebihan dan Kekurangannya

7 Strategi Pembelajaran Dengan Kelebihan dan Kekurangannya

BlogPendidikan.net
- Strategi pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting dalam implementasi program pendidikan karena menurut tugas-tugas atau kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru maupun siswa dalam proses pembelajaran di sekolah.

Strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk di dalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran. Strategi pembelajaran disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Strategi pembelajaran di dalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik.

1. Strategi Pembelajaran Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan strategi proses penyampaian materi secara verbal dari guru terhadap siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran yang optimal.

Kelebihan :
  • Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, guru dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
  • Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai cukup luas dan waktu terbatas.
  • Melalui strategi ini siswa dapat mendengar melalui penuturan tentang materi pelajaran sekaligus mengobservasi melalui demonstrasi.
  • Strategi ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dengan kelas besar.
Kekurangan :
  • Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dilakukan terhadap siswa dengan kemampuan mendengar dan menyimak yang baik.
  • Strategi ini tidak mungkin melayani perbedaan kemampuan belajar pengetahuan, minat, bakat dan gaya belajar individu.
  • Karena lebih banyak dengan ceramah, strategi ini sulit mengembangkan kemampuan sosialisasi siswa.
  • Keberhasilan strategi ini tergantung pada kemampuan yang dimiliki guru.
  • Gaya komunikasi pada strategi ini satu arah, jadi kesempatan mengontrol kemampuan belajar siswa terbatas.
2. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Strategi pembelajaran berbasis masalah mengutamakan proses belajar, di mana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya di dalam tingkat berpikir lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah termasuk bagaimana belajar.

Kelebihan :
  • Terjadi interaksi yang dinamis di antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa.
  • Siswa memiliki keterampilan mengatasi masalah.
  • Siswa memiliki kemampuan mempelajari peran orang dewasa.
  • Siswa dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan independent.
  • Siswa memiliki keterampilan berfikir tingkat tinggi.
Kekurangan :
  • Memungkinkan siswa menjadi jenuh karena harus berhadapan langsung dengan masalah.
  • Memungkinkan siswa kesulitan dalam memproses sejumlah data dan informasi dalam waktu singkat, sehingga pembelajaran berbasis masalah ini membutuhkan waktu yang relatife lama.
3. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Strategi pembelajaran CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Kelebihan :
  • Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
  • Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan.
  • Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari.
  • Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada guru.
  • Menumbuhkan kemampuan dalam bekerja sama dengan teman yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
  • Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dan kegiatan pembelajaran.
Kekurangan :
  • Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran, tidak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya, karena siswa tidak mengalami sendiri.
  • Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik siswa karena harus menyesuaikan dengan kelompoknya.
  • Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lainnya. Karena siswa yang tekun merasa harus bekerja lebih daripada siswa yang lain dalam kelompoknya.7
4. Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)

Strategi inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung, peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.

Kelebihan :
  • SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
  • SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  • SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
  • Strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Kekurangan :
  • Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  • Strategi ini sulit merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  • Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
  • Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
5. Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya, yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Kemampuan sikap afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berupa tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya  diri, jujur, menghargai pendapat orang lain dan kemampuan mengendalikan diri.

Kelebihan :
  • Dalam pelaksanaan pembelajaran afektif akan dapat membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
  • Mengembangkan potensi peserta didik dalam hal nilai dan sikap.
  • Menjadi sarana pembentukan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
  • Peserta didik akan lebih mengetahui hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berharga atau tidak berguna (sikap negatif).
  • Dengan pelaksanaannya strategi pembelajaran afektif akan memperkuat karakter bangsa Indonesia, apalagi apabila diterapkan ada anak sejak dini.
  • Dengan pelaksanaan pembelajaran afektif siswa dapat berperilaku sesuai dengan pandangan yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
Kekurangan :
  • Kurikulum yang berlaku selama ini cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual (kemampuan kognitif) di mana anak diarahkan kepada menguasai materi tanpa memperhatikan pembentukan sikap dan moral.
  • Sulitnya melakukan control karena banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.
  • Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera, karena perubahan sikap dilihat dalam rentang waktu yang cukup lama.
  • Pengaruh kemampuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara yang berdampak pada pembentukan karakter anak.
6. Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa. Tujuan pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

Kelebihan :
  • Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa lain.
  • SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata – kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
  • SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  • SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  • SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan mengatur waktu dan sikap positif terhadap masalah.
  • Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
  • SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
  • Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
Kekurangan :
  • Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat pembelajaran kooperatif. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
  • Ciri utama SPK adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa pembelajaran yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
  • Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
  • Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-kali penerapan strategi ini.
  • Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan individual. Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam SPK memang bukan pekerjaan yang mudah.
7. Strategi Peningkatan Kemampuan Berfikir

Strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah model pembelajaran yang bertumpu pada perkembangan berfikir siswa melalui telaah fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajukan.

Kelebihan :
  • Melatih daya pikir siswa dalam penyelesaian masalah yang ditemukan dalam kehidupannya.
  • Siswa lebih siap menghadapi setiap persoalan yang disajikan oleh guru.
  • Siswa diprioritaskan lebih aktif dalam proses pembelajaran.
  • Memberikan kebebasan untuk mengeksplor kemampuan siswa dengan berbagai media yang ada.
Kekurangan :
  • Membutuhkan waktu yang relatif banyak, sehingga jika waktu pelajaran singkat maka tidak akan berjalan dengan lancar.
  • Siswa yang memiliki kemampuan berpikir rendah akan kesulitan untuk mengikuti pelajaran, karena siswa selalu akan diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah yang diajukan.
  • Guru atau siswa yang tidak memiliki kesiapan akan membuat proses pembelajaran tidak dapat dilaksanakan sebagai mana seharusnya, sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak dapat terpenuhi.
  • Strategi ini hanya dapat diterapkan dengan baik pada sekolah yang sesuai dengan karakteristik strategi itu sendiri.
Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Game Ice Breaking Dalam Pembelajaran

Game Ice Breaking Dalam Pembelajaran

BlogPendidikan.net
- Proses pembelajaran yang serius kaku tanpa sedikit pun ada nuansa kegembiraan tentulah akan sangat cepat membosankan. Apalagi diketahui bahwa berdasarkan penelitian kekuatan rata-rata manusia untuk terus konsentrasi dalam situasi yang monoton hanyalah sekitar 15 menit saja Selebihnya pikiran akan segera beralih kepada hal-hal lain yang mungkin sangat jauh dari tempat di mana ia duduk mengikuti suatu kegiatan tertentu.

Dengan demikian sangatlah penting bagi guru untuk menguasai berbagai teknik ice breaking dalam upaya untuk terus menjaga “stamina” belajar para siswanya.


Berikut, berbagai Game Ice Breaking Dalam Pembelajaran :

1. Badai Berhembus (The Great Wind Blows)

Strategi ini merupakan ice breaking yang dibuat cepat yang membuat para peserta latihan bergerak tertawa. Strategi tersebut merupakan cara membangun team yang baik dan menjadikan para peserta lebih mengenal satu sama lain.

Langkah-langkah :
  • Aturlah kursi –kursi ke dalam sebuah lingkaran. Mintalah peserta untuk duduk di kursi yang telah disediakan.
  • Jelaskan kepada peserta aturan permainan, untuk putaran pertama pemandu akan bertindak sebagai angin.
  • Pemandu sebagai angin akan mengatakan, angin berhembus kepada yang memakai – misal : kacamata‟ (apabila ada beberapa peserta memakai kacamata).
  • Peserta yang memakai kacamata harus berpindah tempat duduk, pemadu sebagai angin ikut berebut kursi.
  • Akan ada satu orang peserta yang tadi berebut kursi, tidak kebagian tempat duduk. Orang inilah yang menggantikan pemandu sebagai angin.
  • Lakukan putaran kedua, dan seterusnya. Setiap putaran yang bertindak sebagai angin harus mengatakan „angin berhembus kepada yang …………. (sesuai dengan karakteristik peserta, misal : baju biru, sepatu hitam, dsb)
2. Lempar spidol

Permainan ini bertujuan untuk menghangatkan suasana dan menghilangkan kekakuan antar peserta dan pemandu dan antar peserta sendiri . Pelajaran yang bisa dipetik dari permainan ini adalah perlunya sikap hati–hati dan cepat tanggap.

Langkah–langkah :
  • Mintalah semua peserta berdiri bebas di depan tempat duduk masing-masing.
  • Minta peserta bertepuk tangan ketika Anda melemparkan spidol ke udara, dan pada saat spidol Anda tangkap lagi dengan tangan, semua peserta serta merta diminta berhenti bertepuk tangan. Ulangi sampai beberapa kali.
  • Ulangi proses ke-2 dengan tambahan selain bertepuk tangan juga bersenandung. ( bergumam ) : “Mmmmm….!”.
  • Ulangi proses ke–3 ini beberapa kali, dan setiap kali semakin cepat gerakannya, kemudian akhiri dengan satu anti klimaks : spidol Anda tidak dilambungkan, tapi hanya melambungkan tangan seperti akan melambungkannya ke atas (gerak tipu yang cepat !). amati : apakah peserta masih bertepuk tangan dan bergumam atau tidak ?
  • Mintalah tanggapan dan kesan, lalu diskusikan dan analisa bersama kemudian simpulkan.
3. Sepatu Lapangan

Permainan ini bermanfaat untuk mendorong proses kerjasama Tim, bahwa dalam sebuah Tim setiap orang akan belajar mendengar pendapat orang lain dan merekam masing-masing pendapat secara cermat dalam pikirannya, sebelum memutuskan pendapat apa yang terbaik menurut kelompok.

Langkah-langkah :
  • Bagilah peserta ke dalam kelompok – kelompok kecil ( 5 – 6 orang ), 1 orang akan menjadi pembicara kelompok.
  • Mintalah setiap kelompok untuk mendiskusikan tentang sepatu lapangan apa yang cocok untuk bekerja di „lapangan‟ dan peralatan apa lagi yang dibutuhkan (waktunya sekitar 5 menit)
  • Mintalah pembicara kelompok untuk mengingat pendapat yang berbeda dan pendapat yang sama dari setiap orang di kelompoknya masing-masing.
  • Mintalah pembicara kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi ini sekaligus memperkenalkan nama anggota kelompoknya dan apa pendapat orang – orang tersebut mengenai topik diskusi di atas.
  • Setelah semua kelompok selesai, kemudian diskusikan : Apakah pembicara telah menyampaikan pendapat semua anggota kelompoknya secara tepat ? Apa yang dikurangi? Apa yang ditambah ? Apa yang tidak tepat.
4. Kompak

Permainan ini bermanfaat untuk menghangatkan suasana dan membentuk suasana kerja dalam Tim.

Langkah–langkah :
  • Jelaskan kepada peserta aturan permainan ini
  • Bagilah peserta ke dalam 5 – 6 kelompok, yang penting satu kelompok terdiri dari 6 orang.
  • Mintalah masing-masing kelompok untuk membuat lingkaran dan satu orang anggota dari masing-masing kelompok untuk berdiri di tengah-tengah kelompoknya.
  • Katakana bahwa permainan ini untuk menguji kita , apakah di antara teman-teman dalam kelompok itu saling percaya kepada TIM KERJA KITA. Yang berdiri di tengah harus menutup matanya, dengan ditutup kain, kemudian menjatuhkan diri secara bebas kearah mana saja.
  • Sementara itu teman-teman dalam kelompoknya melingkar dan harus bertanggungjawab atas keselamatan teman yang di tengah tadi, karena permainan ini bisa-bisa akan memakan korban, maka jika yang di tengah menjatuhkan diri kepadanya dia harus siap dan bertanggungjawab untuk menahan dan melemparkannya kepada teman yang lain. Begitu seterusnya, dan minta siapa yang di tengah bisa bicara dengan cara bergiliran.
5. Bercermin

Langkah–langkah :
  • Minta setiap peserta untuk berpasangan, 1 orang menjadi bayangan di cermin dan 1 orang menjadi seseorang yang sedang berdandan di depan cermin.
  • Bayangan harus mengikuti gerak-gerik orang yang berdandan.
  • Keduanya harus bekerja sama agar bisa bergerak secara kompak dengan kecepatan yang sama.
  • Minta peserta untuk mendiskusikan apa pesan dalam permainan ini.
6. Memasukkan Spidol ke Botol

Langkah–langkah :
  • Jelaskan kepada peserta bahwa sebelum membahas modul, akan dimulai dengan permainan memasukkan pensil ke dalam botol. Sebelum permainan dimulai siapkan terlebih dahulu sebuah botol yang bisa dimasuki pensil. Sebuah pensil yang diikat oleh 4 utas tali rapia, dengan panjang masing-masing 2 meter. Tali rapia tersebut harus bisa ditarik ke empat arah yang berbeda.
  • Mintalah 8 orang peserta sebagai sukarelawan, sedangkan peserta lain menjadi pengamat.
  • Tugaskan 8 orang peserta tersebut untuk berpasangan (menjadi 4 pasang), pasangan-pasangan tersebut berdiri membentuk lingkaran dimana di tengah-tengah lingkaran diletakkan sebuah botol. Salah seorang dari setiap pasangan ditutup matanya dan bertugas untuk memegang tali rapia yang mengikat pensil. Pasangan yang tidak ditutup matanya, berdiri di belakang yang ditutup matanya dan memberikan perintah (aba-aba) untuk memasukkan pensil tersebut ke dalam botol.
  • Apabila peserta belum berhasil memasukkan pensil ke dalam botol, mintalah mereka untuk mencoba beberapa kali sampai berhasil.
  • Setelah selesai permainan, tanyakan kepada peserta :
  • Mengapa mereka memilih pasangannya masing-masing?
  • Cukup mudahkah atau susah untuk memasukkan pensil ke dalam botol?
  • Kalau mudah apa saja faktor yang mempengaruhi hal tersebut menjadi mudah?
  • Apabila susah, apa saja yang membuat hal tersebut menjadi susah?
  • Apa yang dirasakan oleh pasangan yang matanya ditutup?
  • Adakah interaksi atau komunikasi antara pasangan yang satu dengan pasangan yang lain?
  • Tanyakan kepada para pengamat, apa yang mereka amati selama proses permainan berlangsung?
Dari pertanyaan tersebut temukan kata kunci dari peserta : untuk dapat berhasil memasukkan pensil ke dalam botol, memerlukan kerjasama di antara mereka, tanpa kerjasama akan sulit untuk mencapai tujuan bersama.
Bahas bersama peserta faktor–faktor yang bisa mempengaruhi dan menghambat kerjasama.

7. Menghitung Mundur

Dalam pendampingan terhadap kelompok belajar di tengah masyarakat atau siswa, kita sudah biasa menganggap bahwa masyarakat atau siswa hanyalah penerima informasi, dan bukan pemberi atau sumber informasi. Mengubah kebiasaan atau cara pandang yang sudah lama kita miliki, merupakan hal sulit. Kita biasanya selalu menggunakan kacamata kita. Kita menggunakan bahasa, simbol, gambar, informasi dan teknologi yang berasal dari kebudayaan‟ kita. Kita tidak memperhatikan apa kesulitan yang dialami masyarakat atau siswa untuk menerima hal-hal yang tidak biasa bagi mereka. Sebenarnya, program yang kita kembangkan perlu dinilai menurut kacamata masyarakat atau siswa, berdasarkan apa yang mereka butuhkan, dengan cara yang mudah diterima mereka.

Langkah-langkah :
  • Minta peserta untuk berdiri mambentuk suatu lingkaran. Setiap peserta menghitung secara bergiliran mulai dari 1 sampai 50 (atau sejumlah peserta)
  • Pada saat menghitung, minta peserta memenuhi peraturan : setiap angka „tujuh‟ atau „ kelipatan tujuh‟, angka itu tidak disebutkan, melainkan diganti dengan tepuk tangan.
  • Apabila ada peserta yang salah melaksanakan tugasnya, maka permainan dimulai dari awal.
  • Sesudah 3 – 4 ronde, permainan tahap 1 selesai
  • Permainan tahap – 2 dimulai dengan cara yang sama seperti di atas, tetapi hitungannya dimulai dari angka 50 mundur terus sampai dengan angka 1. Peraturan yang diterapkan juga sama, yaitu setiap angka „tujuh‟ atau angka „kelipatan tujuh‟ , angka itu tidak disebutkan, melainkan diganti dengan tepuk tangan.
  • Setelah 3-4 ronde, permainan selesai.
  • Minta peserta untuk mendiskusikan : (1) Manakah yang lebih baik banyak terjadi kesalahan, cara 1 atau cara 2 ? (2) Mengapa demikian ? (3) Kira-kira, apa hubungannya permainan ini dengan cara kerja kita dalam kelompok belajar atau di tengah – tengah kehidupan masyarakat kita (apakah mudah mengganti kebiasaan pendekatan dari atas dengan yang dari bawah)
Demikian Artikel tentang berbagai Game Ice Breaking Dalam Pembelajaran, semoga dapat memberikan manfaat dan menjadi bahan referensi Anda dalam memulai proses pembelajaran yang menyenanggkan.

12 Langkah Yang Harus Dilakukan Guru Sebagai Sumber Belajar

Guru Sebagai Sumber Belajar dalam Pembelajaran, Ada 12 Hal Yang Perlu Diperhatikan

BlogPendidikan.net
- Tugas utama guru sebagai pengajar yakni memberitahu atau menyampaikan materi pembelajaran. Sejak adanya kehidupan, guru telah melaksanakan pembelajaran. 

Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar menjadi sumber belajar yang bertugas memberikan kemudahan belajar. 

Sebagai pengajar, guru harus memiliki tujuan yang jelas, membuat keputusan secara rasional agar siswa memahami ketrampilan yang dituntut oleh pembelajaran.

Ada 12 hal yang perlu dilakukan guru sebagai sumber belajar dalam pembelajaran, antara lain :

1. Membuat ilustrasi

Pada dasarnya ilustrasi menghubungkan sesuatu yang sedang dipelajari Siswa dengan sesuatu yang telah diketahuinya, dan pada waktu yang sama memberikan tambahan pengalaman kepada mereka.

2. Mendefinisikan

Meletakkan sesuatu yang dipelajari secara jelas dan sederhana, dengan menggunakan latihan dan pengalaman serta pengertian yang dimiliki oleh Siswa.

3. Menganalisis

Membahas masalah yang telah dipelajari bagian demi bagian, sebagaimana orang mengatakan: ”cuts the learning into chewable bites”

4. Mensintesis

Mengembalikan bagian-bagian yang telah dibahas ke dalam suatu konsep yang utuh sehingga memiliki arti, hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain nampak jelas, dan setiap masalah itu tetap berhubungan dengan keseluruhan yang lebih besar.

5. Bertanya

Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan tajam agar apa yang dipelajari menjadi lebih jelas.

6. Merespon

Menanggapi pertanyaan siswa

7. Mendengarkan

Memahami siswa, dan berusaha menyederhanakan setiap masalah.

8. Menciptakan kepercayaan

Siswa akan memberikan kepercayaan terhadap keberhasilan guru dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi dasar.

9. Memberikan pandangan yang bervariasi

Melihat bahan yang dipelajari dari berbagai sudut pandang, dan melihat masalah dalam kombinasi yang bervariasi.

10. Menyediakan media untuk mengkaji materi standar

Memberikan pengalaman yang bervariasi melalui media pembelajaran, dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi standar.

11. Menyesuaikan metode pembelajaran

Menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik serta menghubungkan materi baru dengan sesuatu yang telah dipelajari.

12. Memberikan nada perasaan

Membuat pembelajaran menjadi lebih bermakna, dan hidup melalui antusias  dan semangat. Sebagai pengajar, guru harus memiliki tujuan yang jelas, membuat keputusan secara rasional agar peserta didik memahami ketrampilan yang dituntut dalam pembelajaran.

Demikian tentang Guru Sebagai Sumber Belajar dalam Pembelajaran, Ada 12 Hal Yang Perlu Diperhatikan, semoga bermanfaat dan terima kasih.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

10 Bentuk Metode Pembelajaran Masa Kini Yang Melibatkan Teknologi dan Informasi

10 Bentuk Metode Pembelajaran Masa Kini Yang Melibatkan Teknologi dan Informasi

BlogPendidikan.net
- Pada zaman sekarang terjadi perubahan strategi dan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru  dari cara yang tradisional kini mengarah pada pendekatan digital yang dirasa lebih relevan dalam memenuhi kebutuhan siswa. 

Akan tetapi proses transisi dari lingkungan kelas yang menerapkan cara tradisional ke cara digital sangat bervariasi tergantung  pada cara guru dan sekolah yang bersangkutan dalam merespon dan mengaplikasikannya. 


Berikut ini ada 10 Bentuk Metode Pembelajaran Masa Kini Yang Melibatkan Penggunaan Teknologi dan Informasi yang cocok diterapkan pada siswa masa kini, sebagai berikut:

1. Presentation (Presentasi)

Pada kegiatan presentasi, guru atau siswa menyebarkan informasi yang diperoleh melalui sumber informasi berupa guru, siswa, buku teks, internet, audio, video, dan lain sebagainya. Presentasi interaktif melibatkan pertanyaan dan komentar  di antara guru dan siswa sebagai anggota keseluruhan kelas atau dalam kelompok kecil. 

Bentuk integrasi metode presentasi dapat dilihat melalui sejumlah sumber daya  teknologi yang digunakan dapat meningkatkan kualitas penyajian informasi. Sebagai  contoh siswa dapat menggunakan aplikasi microsoft power point untuk menampilkan  hasil rangkuman hasil tulisan taks dan menyajikan video maupun gambar sekaligus  dalam satu tampilan presentasi. 

2. Demontrastion (Demonstrasi)

Pada metode demonstrasi, siswa mempelajari pandangan dari suatu  keterampilan atau prosedur yang harus dipelajari. Demonstrasi dapat diterapkan pada  seluruh anggota kelas, kelompok kecil, atau individu yang membutuhkan sedikit  penjelasan tambahan tentang bagaimana melakukan suatu tugas. Tujuan demonstrasi  bagi siswa adalah untuk meniru kinerja fisik, seperti menggunakan alat ukur angin digital, atau untuk mengadopsi sikap yang dicontohkan guru sebagai bentuk  keteladanan. 


Demonstrasi mengizinkan siswa untuk bertanya dan menjawab  pertanyaan selama pembelajaran aktif berlangsung. Bentuk integrasi metode demonstrasi dapat ditingkatkan melalui penggunaan peralatan teknologi seperti  kamera digital. Kamera video digital dapat digunakan untuk merekam demonstrasi  selama atau sebelum kelas berlangsung.

3. Drill and Practice (Latihan terus menerus dan Praktik) 

Peserta didik menyelesaikan latihan latihan untuk menyegarkan atau  meningkatkan kapasitas isi pengetahuan dan keterampilan. Strategi penggunaan drill and practice ini mengasumsikan bahwa siswa telah menerima beberapa instruksi  tentang konsep, prinsip, atau prosedur tertentu dari guru sebelumnya. Agar efektif  latihan terus menerus dan praktik harus diikuti umpan balik untuk menguatkan  jawaban benar dan memperbaiki jawaban salah yang mungkin dilakukan siswa.

Bentuk integrasi dari metode ini dengan penggunaan teknologi adalah banyak aplikasi  komputer yang ditawarkan kepada siswa memberikan kesempatan untuk mengingat  kembali dan melakukan praktik atas pengetahuan maupun keterampilannya. 

4. Tutorial 

Tutorial merupakan metode pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja sama  dengan orang lain yang lebih ahli, atau perangkat lunak komputer tercetak khusus yang  menyajikan konten/isi, mengajukan pertanyaan atau masalah, meminta tanggapan  peserta, menganalisis tanggapan, memberikan umpan balik yang sesuai, dan  memberikan latihan sampai pelajar menunjukkan tingkat kemandirian yang telah  ditentukan. 


Siswa belajar melalui latihan dengan pemberian umpan balik setelah setiap  bagian kecil selesai dilakukan. Integrasi dari bentuk metode ini dengan teknologi  adalah pengaturan tutorial termasuk instruktur untuk pelajar, pelajar untuk pelajar,  komputer untuk pelajar, cetak untuk pelajar

5. Discussion (Diskusi)

Sebagai sebuah strategi pembelajaran, tutorial melibatkan pertukaran ide dan  pendapat di antara siswa atau di antara siswa dan guru. Diskusi akan efektif bila  dilakukan dengan cara mengenalkan topik pembicaraan yang baru atau lebih mendalam  sampai konsep dasar. Integrasi antara metode diskusi dengan teknologi adalah  teknologi mendukung diskusi menjadi metode yang dikenal di kelas seperti saat ini  seperti metode yang memperluas percakapan di luar kelas.

6. Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

Merupakan sebuah strategi kelompok dimana siswa bekerja sama untuk saling  membantu dalam belajar. Integrasi dari metode ini adalah siswa dapat belajar tidak  hanya berdiskusi maslah materi task dan menonton media, tapi juga menghasilkan  media. Sebagai contoh siswa dapat mendesain dan menghasilkan sebuah podcast,  video, atau powerpoint atau prezi presentasi.

7. Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)

Melalui penggunaan pembelajaran berbasis masalah, siswa secara aktif akan  mencari solusi untuk masalah-masalah terstruktur atau tidak terstruktur yang terletak  di dunia nyata. Masalah terstruktur memberikan siswa pemahaman yang jelas tentang apa yang mungkin menjadi jawaban atas permasalahan yang ada. Integrasi dari metode  ini dengan teknologi adalah banyaknya aplikasi komputer yang menyediakan dan  mendukung pembelajaran berbasis masalah. Sebagai contoh aplikasi microsoft access dan excel yang mengizinkan siswa untuk mengembangkan dan menjelajahi data sets  untuk menemukan jawaban menggunakan rumus fungsi. 


8. Games (Permainan)

Permainan pendidikan menyediakan sebuah lingkungan yang kompetitif  di mana siswa mengikuti aturan yang ditentukan saat mereka berusaha untuk mencapai  tujuan yang menantang dan menghadirkan siswa dengan pemahaman yang jelas  tentang apa yang mungkin merupakan jawaban yang tepat. Permainan seri meminta  siswa untuk menggunakan ketrampilan memecahkan masalah dalam mencari solusi atau untuk mendemonstrasikan penguasaan konten spesifik yang menuntut tingkat  akurasi dan efisiensi yang tinggi. Integrasi dari metode ini dengan teknologi adalah  beberapa permainan menggunakan tujuan pendidikan, seperti permainan puzzle dan  sudoku.

9. Simulations (Simulasi)

Metode simulasi mengizinkan siswa untuk berada pada situasi nyata. Integrasi  dari metode simulasi dengan teknologi adalah kemampuan interpersonal dan  percobaan laboratorium pada fisika ilmu pengetahuan alam merupakan contoh subjek simulasi.

10. Discovery (Penemuan)

Strategi penemuan digunakan sebuah induktif, atau penemuan mandiri.  Integrasi dari metode discovery dengan teknologi adalah ada beberapa variasi cara  bahwa teknologi instruksional dan media dapat membantu mengenalkan discovery  maupun inkuiri. 

3 Cara Efektif Menarik Perhatian Siswa Dalam Pembelajaran

3 Cara Efektif Menarik Perhatian Siswa Dalam Pembelajaran

BlogPendidikan.net
- Dalam proses pembelajaran, guru memegang peranan yang amat penting dalam usaha menimbulkan atau meningkatkan perhatian dari siswa. Sehingga siswa akan melakukan aktivitas pembelajaran dengan lebih baik, baik pada proses maupun hasil pembelajaran. 

Oleh karena itu, guru selalu mengusahakan agar siswa senantiasa memberikan perhatian yang besar terhadap kegiatan pembelajaran. 

Rangsangan-rangsangan yang diberikan guru hendaknya dapat menarik perhatian siswa dengan cara antara lain menggunakan metode mengajar, menggunakan media dan alat bantu, menggunakan gaya mengajar yang baik, menciptakan suasana lingkungan belajar yang menyenangkan, dan sebagainya.


Ada banyak cara yang dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa, yang lebih sering digunakan oleh guru untuk menarik perhatian siswa dalam proses pembelajaran ada 3 cara antara lain seperti berikut:

1. Gaya mengajar guru

Guru hendaknya memvariasikan gaya mengajarnya agar dapat menimbulkan perhatian siswa. Misalnya guru memilih posisi di kelas dan memilih kegiatan yang berbeda dari yang biasanya dia kerjakan dalam membuka pelajaran. 

Kali ini ia berdiri di tengah-tengah kelas sambil bertanya pada siswa tentang kegiatan siswa di rumah yang mungkin ada hubungannya dengan materi yang akan diajarkan.


Pada kesempatan lain mungkin guru berdiri di belakang atau di muka kelas lalu bercerita dengan ekspresi wajah yang meyakinkan dan nada suara yang menunjukkan rasa bangga.

2. Penggunaan alat-alat bantu mengajar.

Guru dapat menggunakan alat-alat bantu mengajar seperti gambar, model, skema, dan sebagainya untuk menarik perhatian siswa. Alat-alat bantu mengajar selain dapat menarik perhatian siswa, dapat pula menimbulkan motivasi dan memungkinkan terjadi kaitan antara hal-hal yang telah diketahui dengan hal-hal baru yang akan dipelajari.

3. Pola interaksi yang bervariasi

Variasi pola interaksi guru siswa yang biasa, seperti guru menerangkan siswa mendengarkan, atau guru bertanya siswa menjawab, hanya dapat menimbulkan rangsangan permulaan saja. Siswa belum sepenuhnya dapat memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang akan dipelajari. 


Oleh karena itu, agar siswa dapat tertarik perhatiannya, guru hendaknya mengadakan pola interaksi yang bervariasi dalam menyelenggarakan pembelajaran. 

Seperti misalnya guru  memberi perintah siswa mengerjakan perintah itu, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, guru atau siswa yang lainya menjawab pertanyaan itu, siswa berinteraksi dengan siswa lainnya dalam diskusi kelompok kecil (buzzgroups) atau dalam suatu eksperimen, guru mengemukakan masalah yang menarik ke seluruh kelas lalu siswa-siswa diminta mengemukakan pendapat mereka, atau guru menunjukkan barang yang bisa ditonton seperti model-model yang ada manfaatnya lalu siswa diminta untuk melihatnya secara bergiliran baik secara kelompok atau sendiri-sendiri.

Mendidik dan Mengajar, Apa Bedanya!

Dua Kata Melekat Pada Diri Guru "Mendidik dan Mengajar" Apa Bedanya

BlogPendidikan.net
- GURU adalah faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran yang berkualitas. Sehingga berhasil tidaknya pendidikan mencapai tujuan selalu dihubungkan dengan kiprah para guru. Oleh karena itu, usaha-usaha yang dilakukan dalam meningkatkan mutu pendidikan hendaknya dimulai dari peningkatan kualitas guru. Guru yang berkualitas diantaranya adalah mengetahui dan mengerti peran dan fungsinya dalam proses pembelajaran.

GURU merupakan profesi atau jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus. Tugas guru sebagai profesi antara lain meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Dengan kata lain, guru dituntut mampu menyelaraskan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik dalam pembelajaran.

Hal tersebut sesuai dengan amanat pasal 1 ayat 1 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dalam undang-undang ini disebutkan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Mendidik

Guru sebagai seorang pendidik tidak hanya tahu tentang materi yang akan diajarkan. Akan tetapi, ia pun harus memiliki kepribadian yang kuat yang menjadikannya sebagai panutan bagi para siswanya. Hal ini penting karena sebagai seorang pendidik, guru tidak hanya mengajarkan siswanya untuk mengetahui beberapa hal. 

Guru juga harus melatih keterampilan, sikap dan mental anak didik. Penanaman keterampilan, sikap dan mental ini tidak bisa sekedar asal tahu saja, tetapi harus dikuasai dan dipraktikkan siswa dalam kehidupan sehari-harinya.

Mendidik adalah menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap materi yang disampaikan kepada anak. Penanaman nilai-nilai ini akan lebih efektif apabila dibarengi dengan teladan yang baik dari gurunya yang akan dijadikan contoh bagi anak. 

Dengan demikian diharapkan siswa dapat menghayati nilai-nilai tersebut dan menjadikannya bagian dari kehidupan siswa itu sendiri. Jadi peran dan tugas guru bukan hanya menjejali anak dengan semua ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) dan menjadikan siswa tahu segala hal. Akan tetapi guru juga harus dapat berperan sebagai pentransfer nilai-nilai (transfer of values).

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru sebagai pendidik, yaitu :
  1. Guru harus dapat menempatkan dirinya sebagai teladan bagi siswanya. Teladan di sini bukan berarti bahwa guru harus menjadi manusia sempurna yang tidak pernah salah. Guru adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan. Tetapi guru harus berusaha menghindari perbuatan tercela yang akan menjatuhkan harga dirinya.
  2. Guru harus mengenal siswanya. Bukan saja mengenai kebutuhan, cara belajar dan gaya belajarnya saja. Akan tetapi, guru harus mengetahui sifat, bakat, dan minat masing-masing siswanya sebagai seorang pribadi yang berbeda satu sama lainnya.
  3. Guru harus mengatahui metode-metode penanaman nilai dan bagaimana menggunakan metode-metode tersebut sehingga berlangsung dengan efektif dan efisien.
  4. Guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang tujuan pendidikan Indonesia pada umumnya, sehingga memberikan arah dalam memberikan bimbingan kepada siswa.
  5. Guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang materi yang akan diajarkan. Selain itu guru harus selalu belajar untuk menambah pengetahuannya, baik pengetahuan tentang materi-materi ajar ataupun peningkatan keterampilan mengajarnya agar lebih profesional.
Mengajar

Peran guru sebagai pengajar, kadang diartikan sebagai menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Dalam posisi ini, guru aktif menempatkan dirinya sebagai pelaku imposisi yaitu menuangkan materi ajar kepada siswa. 

Sedangkan di lain pihak, siswa secara pasif menerima materi pelajaran yang diberikan tersebut sehingga proses pengajaran bersifat monoton. Padahal, peran guru sebagai pengajar bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi masih banyak kegiatan lain yang harus dilakukan guru agar proses pembelajaran mencapai tujuan dengan efektif dan efisien.

Mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan secara sengaja dalam upaya memberikan kemungkinan bagi siswa melakukan proses belajar sesuai dengan rencana yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan pengajaran. Jadi tugas guru sebagai pengajar adalah bagaimana caranya agar siswa belajar. 

Beberapa hal yang harus dilakukan guru agar siswa belajar sebagaimana disebutkan oleh (E Mulyasa), adalah sebagai berikut :
  1. Membuat ilustrasi: pada dasarnya ilustrasi menghubungkan sesuatu yang sedang dipelajari peserta didik dengan sesuatu yang telah diketahuinya, dan pada waktu yang sama memberikan tambahan pengalaman kepada mereka.
  2. Mendefinisikan: meletakkan sesuatu yang dipelajari secara jelas dan sederhana dengan menggunakan latihan dan pengalaman serta pengertian yang dimiliki oleh peserta didik.
  3. Menganalisis: membahas masalah yang telah dipelajari bagian demi bagian, sebagaimana orang mengatakan: ‘Cuts the learning into chewable bites’
  4. Mensintesis: mengembalikan bagian-bagian yang telah dibahas ke dalam suatu konsep yang utuh sehingga memiliki arti, hubungan antara bagian yang satu dengan yang lain nampak jelas dan setiap masalah itu tetap berhubungan dengan keseluruhan yang lebih besar.
  5. Bertanya: mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan tajam agar apa yang telah dipelajari menjadi lebih jelas.
  6. Merespon: mereaksi atau menanggapi pertanyaan peserta didik. Pembelajaran akan lebih efektif jika guru dapat merespon setiap pertanyaan peserta didik.
  7. Mendengarkan: memahami peserta didik dan berusaha menyederhanakan setiap masalah, serta membuat kesulitan nampak jelas baik bagi guru maupun bagi siswa.
  8. Menciptakan kepercayaan: peserta didik akan memberikan kepercayaan terhadap keberhasilan guru dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi dasar.
  9. Memberikan pandangan yang bervariasi: melihat bahan yang dipelajari dari berbagai sudut pandang dan melihat masalah dalam kombinasi yang bervariasi.
  10. Menyediakan media untuk mengkaji materi standar: memberikan pengalaman yang bervariasi melalui media pembelajaran dan sumber belajar yang berhubungan dengan materi standar.
  11. Menyesuaikan metode pembelajaran dengan kemampuan dan tingkat perkembangan peserta didik serta menghubungkan materi baru dengan sesuatu yang telah dipelajari.
  12. Memberikan nada perasaan: membuat pembelajaran lebih bermakna dan hidup melalui antusias dan semangat.
Dua pengertian antara Mendidik dan Mengajar selalu searah dalam proses pembelajaran. Mendidik berarti menanamkan nilai-nilai karakter yang terkandung setiap materi pembelajaran. Mengajar menyampaikan pesan pengetahuan kepada siswa dengan melalui perencanaan dan tujuan pembelajaran.

Nah... itu dia perbedaan Mendidik dan Mengajar. Terima kasih.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan). Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Anak Sekolah Dapat Lagi Bansos PKH 4,4 Juta, Cek Segera Daftar Nama Penerimanya

Anak Sekolah Dapat Lagi Bansos PKH 4,4 Juta, Cek Segera Daftar Nama Penerimanya

BlogPendidikan.net
- Pemerintah kembali lagi menyalurkan bantuan sosial (Bansos) PKH ditahun 2022 ini, bantuan ini dikhususkan kepada Anak Sekolah jenjang SD, SMP dan SMA. Bantuan PHK Rp. 4,4 juta bagi siswa bisa dicek nama penerima bantuan sosial melalui laman cekbansos.kemensos.go.id.

Bansos PKH menjadi salah satu program pos perlindungan yang kembali digelontorkan tahun 2022 ini. Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 414 triliun untuk Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun 2022.

Pos perlindungan masyarakat sendiri mendapat bagian sebesar Rp 153 triliun, termasuk di dalamnya untuk 10 juta KPM PKH, 18,8 juta KPM Kartu Sembako/BPNT, 2,9 juta penerima Kartu Prakerja, BLT Dana Desa dan lainnya.

Berarti anak sekolah SD, SMP, SMA bagian dari peserta PKH akan dapat bantuan Rp 4,4 juta lagi di tahun 2022 ini.

Bansos PKH sendiri sebenarnya program reguler dari Kementerian Sosial untuk mengentaskan kemisikinan di tanah air, sehingga ada tidak adanya Covid-19, Bansos PKH akan terus berjalan yang sudah dimulai sejak 2007 silam.

Sedangkan untuk proses penyaluran bantuan PKH sedianya sudah dijadwalkan melalui empat tahap penyaluran dalam setahun.

Diperkirakan penyaluran tahap pertama Bansos PKH kepada anak sekolah SD, SMP, SMA sebesar Rp 4,4 juta dilaksankan mulai Januari hingga Maret 2022. Adapun selain dari pelajar SD, SMP, SMA yang mendapat Rp 4,4 juta per tahun ini, ada juga golongan lain yang dapat sokongan bantuan dari pemerintah, golongan itu adalah:

1. Anak sekolah SD/MI Rp900 ribu per tahun atau Rp225 ribu per bulan
2. Anak sekolah SMP/MTs Rp1,5 juta per tahun atau Rp375 ribu per bulan
3. Anak sekolah SMA/SMK/MA nerima Rp2 juta per tahun atau Rp500 ribu per bulan
4. Ibu hamil Rp3 juta per tahun atau Rp750 ribu per bulan
5. Anak balita Rp3 juta per tahun atau Rp750 ribu per bulan
6. Lansia Rp2,4 juta per tahun atau Rp600 ribu per bulan
7. Difabel Rp2,4 juta per tahun atau Rp600 ribu per bulan

Golongan masyarakat di atas bisa mengambil bantuan Bansos PKH senilai dengan yang sudah ditentukan jika nama memang terdaftar di laman cekbansos.kemensos.go.id. 

Untuk memastikan diri sebagai penerima bisa lakukan verifikasi dengan langkah berikut:

1. Buka link cekbansos.kemensos.go.id
2. Masukkan Provinsi, Kabupaten, Kecamatan, dan Desa/Kelurahan
3. Masukkan nama PM (Penerima Manfaat) sesuai KTP
4. Ketikkan 8 huruf kode (dipisahkan spasi) yang tertera dalam kotak kode
5. Jika huruf kode kurang jelas, klik icon untuk mendapatkan huruf kode baru
6. Klik tombol CARI DATA
7. Lalu Sistem Cek Bansos Kemensos akan mencari Nama PM (Penerima Manfaat) sesuai Wilayah yang Anda input.

Demikian informasi ini tentang Anak Sekolah Dapat Lagi Bansos PKH 4,4 Juta, Cek Segera Daftar Nama Penerimanya. Terima kasih, semoga informasi ini bermanfaat.

Ada 3 Cara Mengenal Gaya Belajar Siswa

Ada 3 Cara Mengenal Gaya Belajar Siswa

BlogPendidikan.net
- Ada berbagai cara untuk mengenali gaya belajar siswa, dalam artikel ini akan dijelaskan 3 cara mengenal gaya belajar siswa serta gaya belajar apa saja yang dimiliki siswa yang harus diketahui oleh seorang guru.

Cara mengenali gaya belajar siswa

Dengan pengamatan langsung, observasi secara mendetail, atau dengan memberikan angket kepada siswa tetapi untuk kelas tinggi saja. Observasi secara mendetail terhadap siswa bisa dilakukan dengan melalui penggunaan berbagai metode pembelajaran di kelas antara lain : 

1. Menggunakan metode ceramah, guru dapat memperhatikan siswa yang mendengarkan dengan tekun. Siswa yang antusias atau kuat mendengarkan ini merupakan gaya pembelajar auditorial.

2. Dengan memutarkan film atau menggunakan video, menunjukkan gambar atau poster, menunjukkan grafik, diagram, dan sejenisnya. Dengan ini guru dapat melihat siswa yang mempunyai kecenderungan belajar secara visual.

3. Dengan menggunakan praktik atau simulasi. Siswa dengan gaya belajar kinestetik akan sangat antusias dalam kegiatan pembelajaran yang seperti ini. Selain itu guru juga dapat memberikan tugas yang memungkinkan siswa dapat memilih cara mengerjakannya sesuai dengan gaya belajar mereka.

Baca Juga : Contoh Angket Penilaian Minat Siswa Terhadap Pembelajaran dan Aktifitas Guru

Dari cara-cara tersebut, dapat dilihat bahwa metode pengamatan langsung atau observasi mendetail hanya dapat dilakukan oleh guru pada saat sudah masuk pada kegiatan pembelajaran dan tidak dapat diterapkan pada siswa baru. Untuk metode angket, penilaian gaya belajar bisa dilakukan pada kelas tinggi.

Ada 3 Jenis Gaya Belajar Siswa/Anak Yang Harus Anda Ketahui :

1. VISUAL

Menitikberatkan pada ketajaman penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih
dahulu agar mereka paham. Gaya belajar seperti ini mengandalkan penglihatan atau melihat dulu buktinya untuk kemudian bisa mempercayainya. 

Ciri-ciri siswa/anak dengan gaya belajar Visual, yaitu:
  1. Posisi kepala terangkat ke atas ke arah orang yang sedang berbicara
  2. Eye accessing melihat ke atas
  3. Nafas pada dada bagian atas, tipis
  4. Posisi leher lurus dan tegak
  5. Penampilan rapi, warna serasi, teratur
  6. Mengingat dengan gambar
  7. Lebih suka membaca dari pada dibacakan
  8. Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh
  9. Menangkap detail
  10. Mengingat apa yang dilihat
  11. Selalu mengadakan kontak mata
  12. Berbicara cepat, hampir tanpa titik koma
  13. Menjaga jarak dengan orang lain supaya dapat melihat lebih jelas
  14. Berpikir selalu “gambar besarnya”
2. AUDITORIAL

Mengandalkan pada pendengaran untuk bisa memahami dan mengingatnya. Karakteristik gaya belajar seperti ini benar-benar menempatkan pendengaran sebagai alat utama menyerap informasi atau pengetahuan. Artinya, kita harus mendengar, baru kemudian kita bisa mengingat dan memahami informasi itu.

Ciri-ciri siswa/anak dengan gaya belajar Auditorial, yaitu:
  1. Posisi kepala menoleh ke arah orang yang sedang berbicara
  2. Eye accessing ke arah dan sejajar dengan telinga
  3. Nafas merata di seluruh permukaan dada
  4. Memandang jauh
  5. Menghindari kontak mata
  6. Perhatiannya mudah terpecah
  7. Berbicara dengan pola berirama
  8. Selalu mengulang apa yang baru mereka dengar
  9. Belajar dengan cara mendengarkan dan menggerakkan bibir/bersuara saat membaca
  10. Berdialog secara internal dan eksternal
  11. Sikap tubuh lemah lembut dan mengalir
  12. Berdiri dekat dengan orang lain supaya dapat mendengar jelas
  13. Mudah terganggu oleh kebisingan
  14. Cara berpikir kronologi
3. KINESTETIK

Mengharuskan individu yang bersangkutan menyentuh sesuatu yang memberikan informasi tertentu agar ia bisa mengingatnya. Tentu saja ada karakteristik gaya belajar seperti ini yang tidak semua individu bisa melakukannya. Karakteristik yang khas bagi siswa yang memiliki gaya belajar kinestetik, yaitu menempatkan tangan sebagai alat penerima informasi utama agar bisa terus mengingatnya. Hanya dengan memegangnya saja, siswa yang memiliki gaya belajar ini bisa menyerap  informasi tanpa harus membaca penjelasannya.

Ciri-ciri siswa/anak dengan gaya belajar Kinestetik, yaitu:
  1. Posisi kepala dan dahi agak menunduk
  2. Eye accessing menunduk atau menunduk ke arah kanan
  3. Nafas dalam, di daerah diafragma
  4. Jarang mengadakan kontak mata
  5. Suara nada rendah, tempo lambat
  6. Sering berjeda ketika berbicara
  7. Berdiri berdekatan
  8. Banyak bergerak
  9. Suka sentuhan, merasakan informasi
  10. Belajar dengan melakukan
  11. Cenderung asosiasi dengan pengalaman mereka sendiri
  12. Menunjuk tulisan saat membaca
  13. Menanggapi secara fisik
  14. Mudah terganggu oleh emosi sendiri
Setiap guru harus mengetahui gaya belajar semua siswanya. Gaya belajar mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran, prestasi, dan hasil belajar siswa. Untuk itulah tenaga pendidik (terutama guru) harus berupaya mengenali gaya belajar peserta didiknya, dan akhirnya kita implementasikan dalam proses pembelajaran.

Demikian penjelasan dalam artikel ini tentang bagaimana seorang guru mengenal gaya belajar siswanya serta cara mengenali gaya belajar yang dimiliki siswa untuk mengetahui kemampuannya dalam menyerap materi pembelajaran. Semoga artikel ini bermanfaat dan  terima kasih.

Contoh Angket Penilaian Siswa Terhadap Kepribadian Guru

Contoh Angket Penilaian Siswa Terhadap Kepribadian Guru

BlogPendidikan.net
- Penilaian terhadap guru juga harus dilakukan oleh siswa terutama kepribadian seorang guru. Penilaian ini dilakukan siswa terhadap guru melalui format penilaian yang telah disusun oleh guru bersangkutan guna menilai sampai sejauh mana sikap dan kepribadian guru tersebut selama proses pembelajaran berlangsung.


penilaian dalam bentuk angket yang bisa di lakukan per semester atau satu tahun pembelajaran. Penilaian melalui angket ini sangat bermanfaat buat guru dan juga siswa. Dari hasil penilaian angket tersebut diketahuilah kepribadian dan kemampuan guru tersebut.


Berikut Contoh Format Angket Penilaian Siswa Terhadap Kepribadian Guru :

Contoh Format Angket Penilaian Siswa Terhadap Kepribadian Guru (PDF) >>> LIHAT DISINI
Contoh Format Angket Penilaian Siswa Terhadap Kepribadian Guru (Ms Word) >>> LIHAT DISINI