Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran. Show all posts

Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6

Materi dan Media Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6

BlogPendidikan.net
 - Dalam menyajikan pembelajaran yang menarik salah satunya dengan memanfaatkan Aplikasi MS Powerpoint, selain menjadi media pembelajaran juga sangat tepat untuk mempresentasikan pembelajaran melalui aplikasi tersebut. Siswa secara langsung akan antusias dalam menerima pembelajaran dengan media yang menarik.

Membuat pembelajaran dengan format PPT tentunya lebih efisien dan lebih terarah dalam penyampaian materi serta menumbuhkan motivasi siswa dalam belajar setiap hari.

Baca Juga: Contoh Format Jurnal Harian Per Tema Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6

Powerpoint adalah perangkat presentasi yang paling popular pada saat ini, dengan powerpoint Anda dapat membuat presentasi dengan praktis dan cepat dengan tampilan yang professional.

Pengertian Power Point

Microsoft Power Point adalah program komputer yang dikhususkan untuk presentasi. Microsoft Power Point ini merupakan pengembangan dari microsoft lainnya. Aplikasi Microsoft Power Point ini pertama kali dikembangkan oleh Bob Gaskin dan Dennis Austin sebagai presentator untuk perusahaan bernama Forethought, Inc yang kemudian mereka ubah namanya menjadi Power Point.

Pada 1987, Power Point versi 1.0 dirilis dan komputer yang didukungnya adalah Apple Macintosh. Power Point kala itu masih menggunakan warna hitam/putih, yang mampu membuat halaman teks dan grafik untuk transparasi overheadprojector (OHP). Setahun kemudian, versi baru dari Power Point muncul dengan dukungan warna, setelah Macintosh berwarna muncul ke pasaran.
Kelebihan dan Kekurangan Media Power Point

Hujair AH. Sanaky, mengemukakan bahwa aplikasi power point mempunyai keunggulan, diantaranya adalah :
  1. Praktis, dapat digunakan untuk semua ukuran kelas.
  2. Memberikan kemungkinan tatap muka dan mengamati respon dari penerima pesan.
  3. Memberikan kemungkinan pada penerima pesan untuk mencatat.
  4. Memiliki variasi teknik penyajian dengan berbagai kombinasi warna atau animasi.
  5. Dapat digunakan berulang-ulang.
  6. Dapat dihentikan pada setiap sekuens belajar karena kontrol sepenuhnya pada komunikator.

Menurut Hujair AH. Sanaky, mengatakan bahwa selain mempunyai kelebihan, power point juga memiliki kelemahan, diantaranya adalah :

  1. Pengadaan alat mahal dan tidak semua sekolah memiliki.
  2. Memerlukan perangkat keras (komputer) dan LCD untuk memproyeksikan pesan.
  3. Memerlukan persiapan yang matang.
  4. Diperlukan keterampilan khusus dan kerja yang sistematis untuk menggunakannya.
  5. Menuntut keterampilan khusus untuk menuangkan pesan atau ide yang baik pada desain program komputer power point sehingga mudah dicerna oleh penerima pesan.
  6. Bagi pemberi pesan yang tidak memiliki keterampilan menggunakan, memerlukan operator atau pembantu khusus.
Berikut BlogPendidikan.net akan berbagi tentang Materi Pembelajaran PowerPoint SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 yang bisa Anda manfaatkan dalam proses pembelajaran. Untuk materi silahkan Anda unduh pada tautan dibawah ini.

Berikut Materi Pembelajaran PowerPoint SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6:

Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 6 : DISINI
Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 5 : DISINI
Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 4 : DISINI
Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 3 : DISINI
Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 2 : DISINI
Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 1 : DISINI

Demikian tentang Materi Pembelajaran PowerPoint (PPT) SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6, semoga bermanfaat dan bisa menjadi referensi Anda dalam Proses pembelajaran di Kelas. Terima kasih dan jangan lupa tuk berbagi,

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEW

Format dan Aplikasi Buku Kerja Guru, Perangkat Pembelajaran Guru dan Administrasi Kelas Lengkap UNDUH

Buku Kerja Guru dan Perangkat Pembelajaran Guru

BlogPendidikan.net
 - Format dan Aplikasi Buku Kerja Guru, Perangkat Pembelajaran Guru dan Administrasi Kelas Lengkap yang bisa Anda UNDUH pada artikel ini. Mempersiapkan baik perangkat pembelajaran dan adminisrasi kelas guru menjelang tahun ajaran baru.

Perangkat pembelajaran yang memuat buku kerja guru menjadi skenario pembelajaran yang penting untuk dipersiapkan, yang tujuannya untuk membantu menciptakan guru yang berkompeten dibidangnya masing-masing yang akan membantunya menjadi fasilitator yang handal dan berkualitas.

Buku Kerja Guru

Buku kerja guru dipersiapkan oleh guru sebagai panduan guru dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai seorang pendidik dan seorang fasilitator bagi siswa di sekolah.
Seorang fasilitator tentunya harus melengkapi persiapan mengajar yang baik dan terstruktur untuk anak didiknya sehingga tercipta proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 dan mendapatkan hasil pembelajaran seperti yang ditargetkan pada standar kompetensi lulusan (SKL). 

Buku kerja merupakan desain pembelajaran yang disusun secara terstruktur serta mengikuti kurikulum yang berlaku  pada saat ini dan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang maksimal untuk siswa, guru, orang tua dan pihak sekolah.
Adanya revisi terbaru kurikulum 2013, para guru harus menyesuaikan dalam pembuatan dan penyusunan Buku Kerja Guru. Format, komponen dan sistematika tiap-tiap instrumen pada buku kerja tersebut mengalami sejumlah perubahan.

Instrumen yang mengalami perubahan yang sangat signifikan adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran atau RPP, Standar Kompetensi Lulusan atau SKL dan Silabus Pembelajaran.
Berdasarkan peraturan yang telah ditetapkan, berikut ini adalah Buku Kerja Guru yang terdiri atas 1, 2, 3, dan 4 Kurikulum 2013 :

Buku Kerja Guru 1 Terdiri Atas :

1. Analisis SKL, KI dan KD
2. Silabus
3. RPP
4. KKM

Buku Kerja Guru 2 Terdiri Atas : 

1. Kode Etik Guru
2. Ikrar Guru
3. Tata Tertib Guru
4. Pembiasaan Guru
5. Kalender Pendidikan
6. Analisis Alokasi Waktu
7. Program Tahunan
8. Program Semester
9. Jurnal Agenda Guru

Buku Kerja Guru 3 Terdiri Atas :

1. Daftar Hadir Siswa
2. Daftar Nilai Siswa
3. Penilaian Sikap Spiritual dan Sosial
4. Analisis Hasil Penilaian
5. Program Remedial dan Pengayaan
6. Daftar Buku Pegangan Guru dan Siswa
7. Jadwal Mengajar Guru
8. Daya Serap Siswa
9. Kumpulan Kisi-kisi Soal
10. Kumpulan Soal
11. Analisis Butir Soal
12. Perbaikan Soal

Buku Kerja Guru 4 Terdiri Atas :

1. Daftar Evaluasi Diri Kerja Guru
2. Program Tindak Lanjut Kerja Guru

Perangkat Pembelajaran Guru

Secara umum, administrasi guru ada 20 jenis yang meliputi: (1) Kalender  Pendidikan, (2) Program Semester (PROMES), (3) Program Tahunan (PROTA), (4) Silbus, (5) Analisis SK/KD, (6) Prosedur Penilaian, (7) RPP, (8) KKM, (9)  Jurnal/Agenda Guru, (10) Buku Presensi, (11) Daftar Nilai, (12) Buku Pegangan  (Buku Paket, modul, dan LKS), (13) Bahan Ajar, (14) Kisi-kisi  Soal, (15) Kartu  Soal, (16) Analisis Hasil Ulangan, (17) Program Remidial, (18) Program  Pengayayaan, (19) Kumpulan Soal/Bank Soal, dan (20) Penelitian Tindakan Kelas (PTK). 
Lebih lanjut, administrasi guru dapat berupa: uraian tugas dan kewajiban guru,  tata tertib kelas/sekolah, data siswa, data orang tua siswa, jadwal pelajaran dan alokasi waktu pelajaran, pembagian kelompok belajar, kalender pendidikan, hari efektif belajar, menghitung jam belajar efektif semester ganjil, menghitung jam belajar efektif semester genap, daftar umur siswa menurut bulan lahir, daftar  jumlah siswa menurut tahun lahir, 
Daftra berat dan tinggi badan siswa, daftar riwayat kesehatan siswa, denah tempat duduk siswa, data bakat dan minat siswa pada bidang seni budaya dan  olah raga, data kegiatan ekstrakurikuler, data rekapitulasi jumlah siswa, data  prestasi yang dicapai siswa, daftar riwayat kelakuan siswa, data kegiatan studi tour, data pekerjaan orang tua, daftar inventaris kelas, buku tamu kelas, buku tamu sekolah, data buku pegangan guru, data buku paket, bukti pemeriksaan administrasi kelas, rekapitulasi presensi siswa tiap semester, data bimbingan, data konsultasi/kunjungan guru ke orang tua siswa, hasil rata-rata/pencapaian target dan taraf serap ulangan tengah/akhir semester.
Selanjutnya rekapitulasi nilai rapor per semester, data beasiswa dan pembagian bantuan dana, daftar pengambilan SKHUN dan ijazah, daftar mutasi siswa, grafik presensi siswa, grafik pencapaian target kurikulum, grafik taraf belajar siswa per mata pelajaran, grafik agama yang dianut siswa, analisa evaluasi belajar, program remidial, program perbaikan, program pengayaan,    rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), KKM, silabus, pemetaan SK dan KD, program semester, program tahunan, pelaksanaan program bimbingan, kisi-kisi  penulisan soal, pedoman penskoran, kartu soal pilihan ganda, kartu soal uraian teori dan praktik, jadwal tematik, dan lain-lain. 

Untuk Lebih jelasnya tentang Kumpulan Buku Kerja Guru dan Perangkat Administrasi Kelas bisa Anda download pada link dibawah ini :

Buku Kerja Guru 1, 2, 3, dan 4 Kurikulum 2013 >>> DISINI
Aplikasi Daftar Perangkat Pembelajaran guru >>> DISINI
Daftar Perangkat Administrasi Guru Kelas Lengkap Untuk Jenjang SD/MI >>> UNDUH
Daftar Perangkat Administrasi guru >>> DISINI

Demikian artikel tentang Buku Kerja dan Perangkat Pembelajaran Guru, semoga bermanfaat, dan jangan lupa tuk berbagi. Terima kasih

Hindari 7 Hal Ini Yang Menjadi Kekeliruan Guru Dalam Mengajar

Hindari 7 Hal Ini Yang Menjadi Kekeliruan Guru Dalam Mengajar

BlogPendidikan.net
- Hampir satu jam pelajaran seorang guru menghabiskan waktunya untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswanya. Tentu saja materi yang ia sampaikan adalah materi yang telah ia persiapkan pada malam harinya. 

Sebagian besar siswa sama sekali tidak merasa tertarik dengan materi pelajaran yang disampaikannya. Karena mereka merasa bahwa apa yang disampaikan sang guru sama persis dengan apa yang ada didalam buku yang telah mereka pelajari dirumah.

Siswa merasa guru tidak mampu mengajar, karena ia hanya menyampaikan informasi yang sebetulnya sudah merasa mereka kuasai. Oleh sebab itu, ketika bel berbunyi tanda pelajaran berakhir, baik guru maupun siswa seakan-akan keluar dari mimpi buruk yang menegangkan. 
Siswapun bersorak kegirangan menyambut bunyi bel, sementara guru keluar dari kelas dengan langkah gotal karena kecapaian.

Maka Hindari 7 Hal Ini Yang Menjadi Kekeliruan Guru Dalam Mengajar:

1. Tidak Ada Persiapan Ketika Mengajar

Adakah diantara teman-teman pendidik yang merasa melatih dengan baik diruang belajar walaupun tanpa persiapan sama sekali? Tentu tidak. Seharusnya, teman-teman pendidik tidak jarang kali mempersiapkan segala urusan sebelum mengajar, mulai dari RPP (Rencana Persiapan Pengajaran),perlengkapan atau media pembelajaran., hingga bahan-bahan penilaian materi. Teman-teman pendidik mesti tidak jarang kali ingat bahwa melatih tampa persiapan adalah tindakan yang bisa merugikan pertumbuhan siswa.

Tentu solusinya ialah buatlah persiapan yang matang sebelum teman-teman pendidik melatih di kelas. Seorang guru dalam merancang pembelajaran pun harus semakin terampil dalam mengelola ruang belajar sesuai dengan ciri khas peserta didik untuk menjangkau akhir dari destinasi materi yang diajarkan. Ingatlah bahwa dalam proses pembelajaran, tidak terdapat pembelajaran yang sukses tanpa persiapan yang benar.

2. Guru tidak berusaha untuk mengetahui kemampuan awal siswa

Seorang yang profesional dalam bidangnya, sebelum ia melakukan tindakan akan didahului dengan langkah diagnosis, sehingga langkah ini merupakan bagian dari langkah profesionalnya. Kemudian bagaimana dengan guru seperti cerita di atas.
Tampaknya ia tidak melakukan langkah diagnosis  tentang keadaan siswa, sehingga tidak mengetahui apakah siswa sudah membaca buku yang ia baca.

Jangan-jangan siswa lebih paham dari gurunya tentang materi pelajaran yang akan diajarkan, karena selain siswa membaca buku yang menjadi rujukan guru, siswa pun membaca buku lain yang relevan.

3. Memaksa Peserta Didik Harus Bisa Memahami Materi yang Kita Ajarkan

Sejujurnya, pengarang pernah mengeluh laksana itu. Penulis pernah beranggapan egosentris terhadap peserta didik yang tidak paham pelajaran yang diajarkan. Dan ketika itu, rasanya jengkel sekali. Rasa kejengkelan tersebut dapat berimbas untuk peserta didik lainnya lho. Target pelajaran menjadi tidak tercapai sebab keegoisan guru untuk menciptakan satu atau dua peserta didik itu harus paham pelajaran yang diajarkan. Tentu ini kekeliruan paling fundamental tetapi tidak cukup disadari oleh kita. Adakah diantara teman-teman pendidik merasakan hal yang sama dengan penulis?

4. Guru tidak pernah mengajak siswa berpikir

Dalam pembelajaran, bukan hanya menyampaikan materi pelajaran akan tetapi melatih kemampuan siswa untuk berpikir, menggunakan struktur kognitifnya secara penuh dan terarah. Materi pelajaran mestinya digunakan sebagai alat untuk melatih kemampuan berpikir bukan tujuan. 

Mengajar yang hanya menyampaikan informasi akan membuat siswa kehilangan motivasi dan konsentrasinya. 
Mengajar adalah mengajak siswa berpikir, sehingga melalui kemampuan berpikir akan terbentuk siswa yang cerdas dan mampu memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya.

5. Guru tidak berusaha memperoleh umpan balik

Proses pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh seorang guru seharusnya mengarah pada pencapaian tujuan. Apa bedanya seorang guru dengan seorang penjual obat?  

Ya, perbedaannya terletak pada tujuan yang ingin dicapai. Walau keduanya sama-sama bicara , tapi bicaranya penjual obat berbeda dengan bicaranya guru. 

Apa yang keluar dari mulut penjual obat, tidak lebih dari keinginannya untuk menarik perhatian orang, sedangkan apa yang keluar dari mulut seorang guru selalu diarahkan untuk mencapai tujuan belajar yakni perubahan tingkah laku..

6. Guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran

Dewasa ini berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi setiap orang bisa memperoleh pengetahuan lewat berbagai media. Dengan demikian kalau sekarang ini ada guru yang menganggap dirinya paling pintar, paling menguasai sesuatu, itu sangat keliru.
Di era informasi seperti sekarang ini seharusnya telah terjadi perubahan peranan guru. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar, akan tetapi lebih berperan sebagai pengelola pembelajaran . dalam posisi semacam ini bisa terjadi guru dan siswa saling membelajarkan.

7. Tidak Peka dengan Perilaku Peserta Didik yang Membanggakan Ketika Sedang Belajar

Dalam pembelajaran di kelas, teman-teman pendidik berhadapan dengan sebanyak peserta didik yang semuanya hendak diperhatikan. Mereka senang andai mendapat pujian dari guru dan merasa kecewa andai kurang diperhatikan. Betul? Namun, sayangnya banyak sekali diantara anda sering melalaikan perkembangan jati diri peserta didik, serta lupa menyerahkan pujian untuk mereka yang melakukan baik dan tidak menciptakan masalah saat sedang belajar di kelas.

Biasanya guru lebih sering menyerahkan perhatian untuk peserta didik saat ribut, istirahat di kelas, ataupun tidak menyimak pelajaran. Kondisi tersebut tidak jarang kali menemukan tanggapan yang salah dari peserta didik. Mereka berpikir bahwa guna mendapatkan perhatian dari guru, maka peserta didik mesti melakukan salah, burbuat gaduh, menggangu atau mengerjakan tindakan tidak disiplin lainnya.

Kita butuh sekali belajar untuk menciduk perilaku positif yang ditunjukkan oleh semua peserta didik, kemudian segera memberi hadiah atas perilaku itu dengan pujian dan perhatian. Kedengarannya urusan ini sederhana. tetapi membutuhkan upaya betul-betul untuk tetap menggali dan memberi hadiah atas perilaku-perilaku positif peserta didik, baik secara kumpulan maupun individual.

Disisi lain, teman-teman pendidik pun harus menyimak perilaku-perilaku peserta didik yang negatif dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut supaya tidak terulang kembali. Teman-teman pendidik dapat mencontohkan sekian banyak  perilaku peserta negatif, misalnya melewati ceritera dan ilustrasi, serta menyerahkan pujian untuk mereka sebab tidak mengerjakan perilaku negatif tersebut. Kita pun usahakan memutuskan rules yang jelas dalam proses pembelajaran. Agar suasana ruang belajar menjadi kondusif dan peserta didik ikut belajar guna disiplin, komitmen, dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas.

Demikian artikel ini tentang 7 hal yang harus dihindari, yang menjadi kekeliruan guru dalam mengajar, semoga bermanfaat.

Bagaimana Menerapkan Pendekatan Saintifik Pada Proses Pembelajaran

Bagaimana Menerapkan Pendekatan Saintifik Pada Proses Pembelajaran

BlogPendidikan.net
- Dalam merancang perencanaan pembelajaran (RPP) tentunya memiliki tahapan atau langkah-langkah yang terdapat dalam komponen RPP pada kegiatan pembelajaran meliputi tiga kegiatan pokok, yaitu kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan bertujuan untuk menciptakan suasana awal pembelajaran yang efektif yang memungkinkan siswa dapat mengikuti proses pembelajaran dengan baik.

Sebagai contoh ketika memulai pembelajaran, guru menyapa anak dengan nada bersemangat dan gembira (mengucapkan salam), mengecek kehadiran para siswa dan menanyakan ketidakhadiran siswa apabila ada yang tidak hadir. Dalam metode saintifik tujuan utama kegiatan pendahuluan adalah memantapkan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep yang telah dikuasai yang berkaitan dengan materi pelajaran baru yang akan dipelajari oleh siswa.
Dalam kegiatan ini guru harus mengupayakan agar siswa yang belum paham suatu konsep dapat memahami konsep tersebut, sedangkan siswa yang mengalami kesalahan konsep, kesalahan tersebut dapat dihilangkan. Pada kegiatan pendahuluan, disarankan guru menunjukkan fenomena atau kejadian “aneh” atau “ganjil” (discrepant event) yang dapat menggugah timbulnya pertanyaan pada diri siswa.

Kegiatan inti merupakan kegiatan utama dalam proses pembelajaran atau dalam proses penguasaan pengalaman belajar (learning experience) siswa. Kegiatan inti dalam pembelajaran adalah suatu proses pembentukan pengalaman dan kemampuan siswa secara terprogram yang dilaksanakan dalam durasi waktu tertentu. Kegiatan inti dalam metode saintifik ditujukan untuk terkonstruksinya konsep, hukum atau prinsip oleh siswa dengan bantuan dari guru melalaui langkah-langkah kegiatan yang diberikan di muka.
Kegiatan penutup ditujukan untuk dua hal pokok. Pertama, validasi terhadap konsep, hukum atau prinsip yang telah dikonstruksi oleh siswa. Kedua, pengayaan materi pelajaran yang dikuasai siswa.

Lantas Bagaimana Menerapkan Pendekatan Saintifik Pada Proses Pembelajaran ?

Berikut akan dijelaskan bagaimana menerapkan pendekatan saintifik pada tahapan atau langkah-langkah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) diantaranya Kegiatan Pendahuluan, Kegiatan Inti dan Kegiatan Penutup :

Kegiatan Pendahuluan :
  1. Mengucapkan salam
  2. Guru mengingatkan kembali tentang konsep-konsep yang telah dipelajari oleh siswa yang berhubungan dengan materi baru yang akan dibelajarkan. Sebagai contoh dalam mapel IPA, guru menanyakan konsep tentang larutan dan komponennya sebelum pembelajaran materi asam-basa. Untuk IPS, misalnya menggunakan apersepsi tentang bencana banjir yang kerap terjadi. Di mana, kapan, dan mengapa bisa terjadi, siapa yang sering menjadi korban, apa yang dilakukan oleh masyarakat korban banjir ketika menghadapi bencana tersebut.
  3. Menyampaikan tujuan pembelajaran.
Kegiatan Inti :

1. Mengamati:

Dalam mapel IPA, guru meminta siswa untuk mengamati suatu fenomena. Sebagai contoh dalam mapel IPA guru meminta siswa untuk mengamati sifat larutan yang diperoleh dari ekstrak buah belimbing atau tomat. Fenomena yang diberikan dapat juga dalam bentuk video. Dalam mapel IPS contohnya adalah fenomena yang diamati adalah gambar-gambar (foto-foto, slide) tentang hutan yang gundul, hujan deras, orang membuang sampah sembarangan, sungai meluap, banjir besar. slide, atau video klip seputar bencana banjir di suatu tempat.
2. Menanya:

Dalam mapel IPA, siswa mengajukan pertanyaan tentang suatu fenomena. Sebagai contoh siswa mempertanyakan “Mengapa larutan ekstrak buah belimbing atau tomat memiliki rasa manis dan asin”. Sebagai contoh di mapel IPS adalah “Apakah sebab dan akibat banjir bisa terjadi di ruang dan waktu yang sama atau berbeda?

3. Menalar untuk mengajukan hipotesis:

Sebagai contoh, dalam mapel IPA siswa mengajukan pendapat bahwa rasa manis dan masam pada larutan ekstrak buah belimbing atau tomat disebabkan oleh adanya zat yang memiliki rasa manis dan zat yang memiliki rasa asam. Pendapat siswa ini merupakan suatu hipotesis. Contoh hipotesis dalam mapel IPS adalah Banjir (akibat) dan penggundulan hutan (sebab) bisa: a) Terjadi di tempat yang sama b) Terjadi di tempat berbeda.

4. Mengumpulkan data:

Dalam mapel IPA, siswa mengumpulkan data atau guru memberikan data tentang komponen-komponen yang terdapat dalam larutan ekstrak buah belimbing atau buah tomat.
5. Menganalisis data:

Siswa menganalisa data yang diberikan oleh guru. Analisis data dalam IPS, misalnya siswa diajak untuk membaca buku siswa halaman 2-6 tentang konsep ruang, waktu, konektivitas, dan interaksi sosial. Konsep-konsep ini dihubungkan dengan informasi atau data awal, pertanyaan dan hipotesis, serta data yang terkumpul.

6. Menarik kesimpulan

Dalam mapel IPA, siswa menarik kesimpulan berdasar hasil analisis yang mereka lakukan. Sebagai contoh siswa menyimpulkan bahwa rasa manis pada larutan ekstrak buah belimbing atau buah tomat disebabkan oleh adanya gula, sedangkan rasa masam disebabkan oleh adanya asam. Contoh bentuk kesimpulan yang ditarik dalam IPS misalnya hujan di Bogor menyebabkan banjir di Jakarta menunjukkan adanya keterkaitan antarruang dan waktu.

7. Mengomunikasikan:

Pada langkah ini, siswa dapat menyampaikan hasil kerjanya secara lisan maupun tertulis, misalnya melalui presentasi kelompok, diskusi, dan tanya jawab.

Kegiatan Penutup:
  1. Dalam mapel IPA, misalnya guru meminta siswa untuk mengungkapkan konsep, prinsip atau teori yang telah dikonstruksi oleh siswa. Dalam mapel IPS, misalnya siswa diminta untuk menjelaskan contoh keterkaitan antarruang dan waktu, misalnya hubungan antar desa dan kota.
  2. Dalam mapel IPA maupun mapel lain, guru dapat meminta siswa untuk meningkatkan pemahamannya tentang konsep, prinsip atau teori yang telah dipelajari dari buku-buku pelajaran yang relevan atau sumber informasi lainnya. Contoh dalam mapel IPA di atas juga dapat digunakan dalam mapel IPS.
  3. Dalam mapel IPA, mapel IPS, dan mapel lain, guru dapat memberikan beberapa situs di internet yang berkaitan dengan konsep, prinsip atau teori yang telah dipelajari oleh siswa, kemudian guru meminta siswa untuk mengakses situs-situs tersebut.
Langkah-langkah diatas pada kegiatan pembelajaran adalah contoh penerapan pendekatan saintifik dalam proses pembelajaran. Untuk Anda bisa menjadikan referensi dalam menyusun rencana pembelajaran dengan pendekatan saintifik. Semoga artikel ini bermanfaat dan jangan lupa berbagi. Terima kasih

12 Tupoksi Guru dan Kinarja Profesional Guru Dalam Pembelajaran

12 Tupoksi Guru dan Kinarja Profesional Guru Dalam Pembelajaran

BlogPendidikan.net
- Pengertian Tugas Pokok adalah tugas yang paling utama dari sebuah jabatan atau 
organisasi. Tugas pokok memberi gambaran tentang ruang lingkup atau kompleksitas jabatan atau organisasi tersebut. Sedangkan, pengertian fungsi adalah perwujudan tugas di bidang tertentu yang dilaksanakan dalam rangka mencapai tujuan tertentu. 

Dengan demikian, tugas pokok dan fungsi (tupoksi) adalah sasaran utama atau pekerjaan yang dibebankan kepada orang atau sekelompok orang untuk dicapai dan dilakukan. 
Istilah tupoksi menunjuk pada satu kesatuan yang saling terkait antara tugas pokok dan fungsi. Terkait tupoksi dan kinerja guru profesional,  tupoksi dan kinerja guru profesional menurut Mulyasa terbagi atas Dua belas (12) tupoksi dan kinerja guru profesional.

Berikut 12 Tupoksi Guru dan Kinarja Profesional Guru Dalam Pembelajaran, antara lan:

1. Guru sebagai Pendidik 

Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan, dan identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu yang mencakup tanggungjawab, wibawa, mandiri, dan disiplin.

2. Guru sebagai Pengajar 

Perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi, tidak menggantikan  semua peran dan fungsi guru. Tugas dan tanggungjawab guru tetaplah melaksanakan pembelajaran. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa di kota-kota besar, peran dan fungsi guru berubah menjadi fasilitator yang bertugas memberi kemudahan belajar. Hal ini terjadi karena para peserta didik memiliki berbagai sumber belajar di rumahnya
3. Guru sebagai Pelatih dan Pembimbing 

Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan keterampilan, baik intelektual maupun motorik. Untuk itu, seorang guru pun dituntut untuk bertindak sebagai pembimbing dan pelatih. Tanpa bimbingan dan latihan, seorang peserta didik tidak akan mampu menunjukkan penguasaan kompetensi dasar dan tidak akan mahir dalam berbagai keterampilan yang dikembangkan sesuai dengan materi yang harus dikuasai. Oleh karena itu, guru harus berperan sebagai pembimbing dan pelatih yang bertugas untuk membimbing dan melatih peserta didik dalam pembentukan kompetensi dasar, sesuai dengan potensi masing-masing. 

4. Guru sebagai Penasihat dan Pembaru

Guru adalah seorang penasihat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua, meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasihat. Peserta didik senantiasa berhadapan dengan kebutuhan untuk membuat keputusan. Dalam prosesnya, peserta didik akan bertanya kepada gurunya. Untuk itulah, menjadi guru pada tingkat manapun berarti menjadi penasihat dan menjadi orang kepercayaan. Makin efektif seorang guru menangani setiap permasalahan, makin banyak kemungkinan peserta didik berpaling kepadanya untuk mendapatkan nasihat dan kepercayaan diri. 

5. Guru sebagai Pribadi, Model dan Teladan

Sebagai pribadi yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kepribadian yang mencerminkan seorang pendidik. Guru sering dijadikan panutan oleh masyarakat. Guru adalah model dan teladan bagi peserta didik. Untuk itu, guru harus  mengenal nilai-nilai yang dianut dan berkembang di masyarakat, tempat melaksanakan tugas dan bertempat tinggal. Jika ada nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianutnya, seorang guru perlu melatih diri untuk menyikapinya dengan tepat supaya tidak terjadi benturan nilai antara guru dan masyarakat. 
6. Guru sebagai Pendorong Kreativitas dan Peneliti

Kreativitas adalah hal yang sangat penting dalam pembelajaran. Kreativitas ini ditandai dengan adanya kegiatan menciptakan sesuatu yang sebelumnya tidak ada dan tidak dilakukan oleh seseorang atau tidak adanya kecenderungan untuk menciptakan sesuatu. Dengan kata lain, usaha untuk mendorong kreativitas didukung oleh rasa ingin tahu, mencari, meneliti dan memotivasi dirinya sendiri agar mampu menemukan cara yang lebih baik dalam melayani peserta didik. Untuk itulah, guru dituntut agar mampu mendemonstrasikan dan menunjukkan proses kreativitas tersebut. Kreativitas menunjukkan bahwa apa yang akan dikerjakan oleh guru sekarang lebih baik dari yang telah dikerjakan sebelumnya dan apa yang dikerjakan di masa mendatang lebih baik dari sekarang.

7. Guru sebagai Pekerjaan Rutin

Guru bekerja dengan keterampilan, kebiasaan tertentu, dan jadwal kegiatan rutin. Jika tidak dikerjakan dengan baik, kegiatan tersebut dapat merusak efektivitas guru dan semua peranannya. Jika tidak disukai, kegiatan rutin tersebut bisa merusak dan berpotensi mengubah sikap guru dan peserta didik terhadap kegiatan pembelajaran.

8. Guru sebagai Pemindah Kemah

Guru adalah seorang pemindah kemah. Ia suka memindah-mindahkan dan membantu peserta didik untuk meninggalkan hal-hal yang lama dan mengenalkan sesuatu yang baru, yang dapat mereka alami. Guru berusaha keras untuk mengetahui masalah peserta didik, kepercayaan dan kebiasaan yang menghalangi kemajuan, serta membantu peserta didik untuk menjauhi dan meninggalkannya. Untuk menjalankan fungsi ini, guru harus memahami mana yang tidak bermanfaat dan barangkali membahayakan peserta didik sekaligus memahami mana yang bermanfaat. 
9. Guru sebagai Aktor

Untuk mengajar, guru harus memiliki gagasan dan pengalaman, serta harus menyadari bahwa orang lain pun berkesempatan untuk memilikinya. Untuk dapat mentransfer gagasan, ia harus mengembangkan pengetahuan yang telah dikumpulkan dan mengembangkan kemampuannya untuk mengkomunikasikan pengetahuan tersebut. Kemampuan berkomunikasi tersebut dikenal dengan istilah teknis, mengajar. Seorang guru dituntut untuk menguasai materi standar dalam bidang studi yang menjadi tanggungjawabnya, memperbaiki keterampilan, dan mengembangkannya agar pengetahuan yang dikuasainya dapat disampaikan dengan baik. 

10. Guru sebagai Emansipator

Guru harus mampu memahami potensi peserta didik, menghormatinya, dan menyadari bahwa banyak peserta didik yang menjadi “budak” stagnasi kebudayaan. Ketika masyarakat mengungkapkan rasa tidak senangnya kepada peserta didik tertentu, guru harus meyakini bahwa peserta didik tetap membutuhkan pengalaman, pengakuan, dan dorongan. Ketiganya seringkali membebaskan peserta didik dari gambaran diri yang tidak menyenangkan, kebodohan, perasaan ditolak, dan rendah diri. Dalam hal ini, guru harus mampu melihat potensi peserta didik

11. Guru sebagai Evaluator

Evaluasi atau penilaian adalah aspek pembelajaran yang paling kompleks karena melibatkan banyak latar belakang, hubungan, dan variabel lain. Penilaian adalah proses menetapkan kualitas hasil belajar atau proses untuk menentukan tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik. Tidak ada pembelajaran tanpa evaluasi atau penilaian. 

12. Guru sebagai Kulminator

Kehidupan guru berhubungan erat dengan kehidupan masyarakat yang beraneka ragam. Untuk itu, guru harus dibekali dengan kemampuan yang bersifat personal maupun sosial untuk mendampingi kemampuan profesionalnya. Dengan kata lain, belajar di kelas tidak bersifat insidental, melainkan terencana dan sangat selektif. Guru harus mampu menghentikan kegiatannya pada suatu unit tertentu dan kemudian maju ke unit berikutnya. Dalam hal ini, diperlukan kemampuan untuk menciptakan suatu kulminasi pada unit tertentu dari suatu kegiatan belajar. Kemampuan ini tampak dalam bentuk menutup pembelajaran, menarik atau membuat kesimpulan bersama peserta didik, melaksanakan penilaian, dan kenaikan kelas. 

Rujukan:
Makalah ilmiah "Tupoksi dan Kinarja Guru Profesional" Universitas Idraprasta PGRI.

Ini 11 Metode Pembelajaran Matematika Yang Efektif Digunakan

Ini 11 Metode Pembelajaran Matematika Yang Efektif Digunakan

BlogPendidikan.net
- Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. Pembelajaran matematika perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru, serta lebih menekankan pada interaksi peserta didik. Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran matematika.

Berikut 11 Metode Pembelajaran Matematika Yang Efektif Digunakan:

1. Metode Ceramah

Metode ceramah merupakan metode mengajar yang paling banyak dipakai, terutama untuk bidang studi non eksakta. Hal ini mungkin dianggap oleh guru sebagai metode mengajar yang paling mudah dilaksanakan. Jika bahan pelajaran dikuasai dan sudah ditentukan urutan penyampaiannya, guru tinggal menyajikannya di depan kelas. Murid-murid memperhatikan guru berbicara, mencoba menangkap apa isinya dan membuat catatan. 

Gambaran pengajaran matematika dengan metode ceramah adalah sebagai berikut. Guru mendominasi kegiatan belajar mengajar. Definisi dari rumus diberikannya. Penurunan rumus atau pembuktian dalil dilakukan sendiri oleh guru. Diberitahukannya apa yang harus dikerjakan dan bagaimana menyimpulkannya. Contoh-contoh soal diberikan dan dikerjakan pula oleh
guru. Langkah-langkah guru diikuti dengan teliti oleh murid. Mereka meniru cara kerja dan cara penyelesaian yang dilakukan oleh guru.
2. Metode Ekspositori

Metode ekspositori sama seperti metode ceramah dalam hal terpusatnya kegiatan kepada guru sebagai pemberi informasi (bahan pelajaran). Tetapi pada metode ekspositori dominasi guru banyak berkurang, karena tidak terus-menerus berbicara. ia berbicara pada awal pelajaran, menerangkan materi dan contoh soal, dan pada waktu-waktu yang diperlukan saja. Murid tidak hanya mendengar dan membuat catatan. Tetapi juga membuat soal latihan dan bertanya kalau
tidak mengerti.

cara mengerjakan matematika yang pada umumnya digunakan para guru matematika adalah lebih tepat dikatakan sebagai menggunakan metode ekspositori daripada ceramah. Yang biasa dinamakan mengajar matematika dengan metode ceramah (seperti yang tercantum dalam satuan pelajaran) menurut penjelasan di atas sebenarnya adalah metode ekspositori, sebab guru memberikan pula soal-soal latihan untuk dikerjakan murid di kelas. 

3. Metode Demonstrasi

Melalui metode demonstrasi, guru dapat memperlihatkan suatu proses, peristiwa, atau cara kerja suatu alat kepada peserta didik. Demonstrasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sekadar memberikan pengetahuan yang sudah diterima begitu saja oleh peserta didik, sampai pada cara agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah.

4. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab merupakan cara menyajikan bahan ajar dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan. Umumnya pada tiap kegiatan belajar mengajar selalu ada tanya jawab. Namun, tidak pada setiap kegiatan belajar mengajar dapat disebut menggunakan metode tanya jawab. 

Dalam metode tanya jawab, pertanyaan-pertanyaan bisa muncul dari guru, bisa juga dari peserta didik, demikian pula halnya jawaban yang dapat muncul dari guru maupun peserta didik. Oleh karena itu, dengan menggunakan metode ini siswa menjadi lebih aktif daripada belajar mengajar dengan metode ekspositori. Meskipun aktivitas siswa semakin besar, namun kegiatan dan materi pelajaran masih ditentukan oleh guru.
5. Metode Penugasan

Metode ini biasa disebut dengan metode tugas. Pada metode ini guru memberikan
seperangkat tugas yang harus dikerjakan peserta didik, baik secara individual maupun secara kelompok. Tugas yang paling sering diberikan dalam pengajaran matematika adalah pekerjaan rumah yang diartikan sebagai latihan menyelesaikan soal-soal. Kecuali ini, dapat pula menyuruh murid mempelajari lebih dulu topik yang akan dibahas. Metode tugas mensyaratkan adanya pemberian tugas dan adanya pertanggungjawaban dari murid. Tugas ini dapat berbentuk suruhan-suruhan guru. Tetapi dapat pula timbul atas insiatif murid setelah disetujui oleh guru.

6. Metode Eksperimen

Metode eksperimen merupakan suatu bentuk pembelajaran yang melibatkan peserta didik bekerja dengan benda-benda, bahan-bahan, dan peralatan laboratorium, baik secara perorangan maupun kelompok. Eksperimen merupakan situasi pemecahan masalah yang di dalamnya berlangsung pengujian suatu hipotesis, dan terdapat variabel-variabel yang dikontrol secara ketat. Hal yang diteliti dalam suatu eksperimen adalah pengaruh variabel tertentu terhadap
variabel yang lain.

7. Metode Drill dan Metode Latihan

Banyak alat yang dapat membantu orang untuk dapat berhitung cepat dan cermat. Daftar kuadrat, daftar akar, dekak-dekak, dan kalkulator misalnya. Tetapi berhitung cepat dan cermat tanpa alat di sekolah tetap diperlukan. Karena itu dalam kegiatan belajar ini akan dibicarakan pula metode drill dan metode latihan. Dalam banyak hal kata “drill” dan “latihan” merupakan sinonim. Namun di sini kedua kata itu akan dibedakan artinya. 
Sesudah murid memahami penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian bilangan bulat positif sampai 100, akhirnya mereka dituntut untuk dapat mengerjakannya dengan cepat dan cermat. Kemampuan mengenai fakta-fakta dasar berhitung ini tergantung pada ingatan.

Cepat mengingat, kemampuan mengingat kembali dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat lisan merupakan hal-hal yang perlu untuk “hafal”. Kemampuan-kemampuan demikian merupakan tujuan dari metode drill.

8. Metode Penemuan

Penemuan (discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. Pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses daripada hasil belajar. Dalam metode ini tidak berarti sesuatu yang ditemukan oleh peserta didik (siswa) benar-benar baru sebab sudah diketahui oleh orang yang lain.

9. Metode Inquiri

Mengajar dengan penemuan biasanya dilakukan dengan ekspositori dalam kelompok-kelompok kecil (di laboratorium, bengkel, atau kelas). Tetapi mengajar dengan metode inquiri dapat dilakukan melalui ekspositori, kelompok, dan secara sendiri-sendiri. Dalam metode penemuan hasil akhir yang harus ditemukan siswa merupakan sesuatu yang baru bagi dirinya sendiri, tetapi sudah diketahui oleh guru. Tetapi dalam metode inquiri, hal yang baru itu juga belum dapat diketahui oleh guru. 

10. Metode Permainan

Permainan matematika adalah suatu kegiatan yang menggembirakan yang dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional pengamatan matematika. Tujuan ini dapat menyangkut aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.

Walaupun permainan matematika menyenangkan, penggunaannya harus dibatasi.
Barangkali sekali-kali dapat juga diberikan untuk mengisi waktu, mengubah suasana yang tegang / “tekanan tinggi”, menimbulkan minat, dan sejenisnya. Seharusnya direncanakan dengan tujuan instruksional yang jelas, tepat penggunaannya, dan tepat pula waktunya.
Permainan yang mengandung nilai-nilai matematika dapat meningkatkan keterampilan, penanaman konsep, pemahaman, dan pemantapannya; meningkatkan kemampuan menemukan, memecahkan masalah, dan lain-lainnya. Yang begini harus banyak dipakai, terpadu dengan kegiatan belajar mengajar. Ketika anak-anak mulai belajar koordinat, permainan yang menyangkut koordinat dapat diberikan.
 
11. Metode Pemecahan Masalah

Menurut Gagne (1985), kalau seorang peserta didik dihadapkan pada suatu masalah, pada akhirnya mereka bukan hanya sekedar memecahkan masalah, tetapi juga belajar sesuatu yang baru.

Pemecahan masalah memegang peranan penting dalam pembelajaran matematika. Hal ini bertujuan agar pembelajaran dapat berlangsung secara fleksibel. Para ahli mengemukakan berbagai langkah dalam melakukan pemecahan masalah, tetapi pada hakekatnya cara yang ditemukan adalah sama.

Demikian artikel tentang Ini Metode Pembelajaran Matematika Yang Efektif Digunakan Oleh Guru Saat Mengajar. Semoga artikel ini bermanfaat.