Showing posts with label Virus Corona. Show all posts
Showing posts with label Virus Corona. Show all posts

Baru Satu Sekolah Saja, Sudah 8 Guru Terpapar Virus CRONA

Admin 8/20/2020
Baru Satu Sekolah saja, Sudah 8 Guru Terpapar Virus CRONA

BlogPendidikan.net
- Kasus Covid-19 di Kalimantan Barat bertambah 15 kasus, Kamis (20/8/2020). Dari 15 kasus tersebut, delapan di antaranya merupakan guru di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Total sampai saat ini ada 10 guru yang terkonfirmasi positif Covid-19 dan semuanya berada di Kabupaten Mempawah. 

"Mempawah potensi jadi zona merah. Bilang ke ibu bupati, baru satu sekolah saja sudah delapan orang positif dan itu guru," kata Kapala Dinas Kesehatan Kalimantan Barat Harisson kepada wartawan, Kamis.


Untuk itu Harisson meminta Pemerintah Kabupaten Mempawah tidak lengah dan terus melakukan testing, tracing, dan sosialisasi protokol kesehatan Covid-19. Selain kasus positif, juga ada 14 orang dinyatakan sembuh.

Mereka masing-masing berasal dari Kabupaten Landak berjumlah enam orang, Kabupaten Ketapang tiga orang, Kota Pontianak tiga orang; Kabupaten Kapuas Hulu satu orang, dan Kabupaten Kubu Raya satu orang. 


"Kemudian ada 105 orang yang hasil uji swabnya negatif," ujar Harisson. Sampai dengan Kamis, di Kalbar terdapat 471 kasus positif Covid-19. Dari angka itu, 424 orang dinyatakan sembuh, enam meninggal, dan sisanya masih menjalani perawatan. "Tingkat kesembuhan 90,02 persen," ujar Harisson.

Artikel ini juga telah tayang di Kompas.com

Baru Sehari Belajar Tatap Muka, 3 Sekolah Tutup Lagi, 6 Guru Terpapar CORONA

Admin 8/15/2020
Baru Sehari Belajar Tatap Muka, 3 Sekolah Tutup Lagi, 6 Guru Terpapar CORONA

BlogPendidikan.net
- Pemerintah Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, menutup kembali sekolah tingkat menengah pertama setelah satu hari belajar secara tatap muka.

Kebijakan penutupan kembali terpaksa diambil Pemerintah Kota Padang Panjang, menyusul ditemukannya kasus baru Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang Panjang, M. Ali Thabrani, berdasarkan informasi dari Gugus Tugas COVID-19 Sumatera Barat, ada enam warga Padang Panjang yang terkonfirmasi positif COVID-19. Keenamnya adalah guru sekolah dengan rincian, empat guru SMPN 4 dan dua guru SMPN 3 Kota Padang Panjang.


Keenam guru itu diketahui positif COVID-19 setelah pengambilan swab pada sekolah SMP sebelum pembelajaran tatap muka dilakukan.

"Enam orang guru ini diketahui positif dari hasil swab tes gelombang kedua. Di SMPN 4 Kota Padang Panjang terkonfirmasi positif satu guru perempuan dan tiga guru laki-laki. Sedangkan yang dari SMPN 3 Kota Padang Panjang terdapat dua orang yang positif. Mereka adalah mahasiswa praktik lapangan yang berasal dari UNP," ujar M. Ali Thabrani, Jumat, 14 Agustus 2020.

Menurut Ali, guru perempuan yang dimaksud setelah menjalani swab tes belum pernah masuk ke kelas untuk mengajar ataupun bertatap muka dengan pelajar. Sementara tiga orang laki-laki yang dimaksud terdiri dari, satu guru perpustakaan dan dua guru mata pelajaran.

"Dua orang guru mata pelajaran ini sudah pernah masuk kelas dan bertatap muka dengan para siswa, namun tidak kontak erat dengan siswa-siswi. Karena sekolah memberlakukan peraturan pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang ketat," kata Ali. 

Saat ini, keenam orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 itu menjalani perawatan isolasi di RSUD Kota Padang Panjang.

Sebagai langkah pencegahan lanjutan, kata Ali, maka kegiatan belajar tatap muka di SMPN 4, SMPN 3, dan SMPN 2 Kota Padang Panjang untuk sementara waktu dihentikan. SMPN 2 sebelumnya digunakan sebagai tempat tes swab.

Sementara itu, SMPN 1, SMPN 5, SMPN 6 Padang Panjang dan SMP swasta lainnya, tetap melaksanakan proses belajar mengajar tatap muka seperti yang direncanakan, dengan 50 persen melalui daring dan 50 persen melalui luring..

"Kami berharap masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19 yang telah ditetapkan. Kita berharap proses pembelajaran dapat berjalan lancar sesuai keinginan kita semua," tuturnya. (*)

Artikel ini juga telah tayang di viva.co.id

Astaga, Ratusan Pelajar dan Guru Positif Corona, Klaster Penyebaran Virus di Sekolah Bermunculan

Admin 8/13/2020
Astaga, Ratusan Pelajar dan Guru Positif Corona, Klaster Penyebaran Virus di Sekolah Bermunculan

BlogPendidikan.net
- Pemerintah mesti lebih bijak. Baru beberapa hari siswa bersekolah di zona hijau dan kuning, sudah muncul klaster.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat, setidaknya puluhan siswa dari berbagai daerah Indonesia dinyatakan positif Covid-19 pasca dikeluarkannya izin belajar tatap muka di sekolah.

Padahal, menurut Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti, belum genap satu bulan izin tatap muka di sekolah diberikan. Ia bahkan sudah mengatongi rincian data siswa terpapar korona itu.


"Di Jawa Timur, 51 santri positif Covid-19, di Pondok Pesantren Gontor 2 Ponorogo. Kemudian ada lima guru Ponpes di Karawaci, Kota Tangerang, Banten (positif covid-19)," kata Retno di Jakarta, Rabu, 12 Agustus.

Berdasarkan catatan KPAI, sebanyak 35 santri Ponpes Sempon, Jawa Tengah juga dinyatakan positif korona. Hal yang sama dialami 35 santri ponpes di Kecamatan Margoyoso, dan satu siswa di Tegal.

"Di Jawa Timur seorang guru SD di Lumajang yang sempat melakukan aktivitas guru sambang atau kunjung, juga dinyatakan positif korona," ujarnya.

Sebanyak 38 pembina dan seorang santri di Pondok Pesantren Parbek, Agam, Sumatra Barat, juga positif Covid-19 usai pesantren dibuka. Seorang guru dan seorang operator sekolah di Pariaman, Sumbar, juga terinfeksi.

"Sekolah di Pariaman ini, buka sekolah 13 Juli 2020, dan ditutup kembali 20 Juli 2020," imbuhnya.

Sementara itu, di Kalimantan Barat, pihaknya juga menemukan kasus baru. Sebanyak delapan guru dan 14 pelajar dinyatakan terinfeksi dari hasil pemeriksaan rapid test sebelum membuka sekolah.

Pengetesan massal itu dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dalam rangka persiapan pembukaan sekolah. Beruntung, pihak Pemda belum memberi izin sekolah untuk kembali menggelar tatap muka.

"Pembukaan sekolah di berbagai sekolah di zona hijau sebelumnya, tidak didahului dengan pemeriksaan rapid test terhadap seluruh guru dan sampel siswa. Padahal tes ini penting sebagai upaya pencegahan," tuturnya.

Menurut Retno, kasus-kasus tersebut menunjukkan bukti bahwa pembukaan sekolah tanpa adanya persiapan yang jelas. Hal itu akan sangat membahayakan kesehatan. Utamanya, keselamatan anak-anak, guru, kepala sekolah, dan warga sekolah lainnya.

"Penyiapan tidak hanya urusan infrastruktur seperti wastafel, sabun, disinfektan dan lain-lain, namun juga perlu nyiapkan kenormalan baru saat pembelajaran tatap muka akan dilakukan," katanya.

Retno berharap, keputusan pemerintah mengizinkan pembukaan sekolah pada zona kuning harus disertai persiapan yang matang. Persiapan sekolah yang tidak maksimal dalam pemenuhan kriteria pencegahan Covid-19 akan berpotensi membahayakan anak.

"Melindungi anak bukan dengan zona, tapi dengan persiapan pencegahan bahaya penularan yang ketat. Oleh karena itu, KPAI telah mulai melakukan pengawasan langsung kesiapan sekolah di zona apapun untuk melakukan pembelajaran tatap muka," terangnya. (*)

Artikel ini juga telah tayang di fajar.co.id

Baru Persiapan Belajar Tatap Muka, 8 Orang Guru dan 14 Siswa Terpapar COVID-19

Admin 8/10/2020
Baru Persiapan Belajar Tatap Muka, 8 Orang Guru dan 14 Siswa Terpapar COVID-19
BlogPendidikan.net
- Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat menunda kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka. Hal ini dikarenakan ada 23 warga sekolah yang terkonfirmasi atau positif Covid-19.

"Jadi, jumlah guru yang positif Covid-19 ada delapan orang, satu orang pendamping lab di SMA, untuk siswa ada 14 orang yang positif Covid-19," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, dr. Harisson Mkes, Senin (10/8/2020).

Ia menerangkan, pelajar dan guru serta pendambing lab (warga sekolah) yang terkonfirmasi Covid-19 ini dominan berasal dari luar Kota Pontianak. Mereka yang dinyatakan positif Covid-19 ini setelah hasil laboratorium uji swabs-nya keluar.


"Jadi, untuk mempersiapkan proses belajar mengajar tatap muka, Dinkes Kalbar dan dibantu dinkes kabupaten/kota melakukan swabs dan rapid test terhadap guru dan pelajar di Kalimantan Barat," jelasnya.

Harisson merinci, ada 604 sample swabs dari guru dan petugas sekolah lainnya yang dimasukkan ke laboratorium RS Untan Pontianak. "Hasilnya, ada delapan guru yang positif Covid-19. Serta 1 orang pendamping laboratorium di SMA. Jadi, persentasenye 1,5 persen," jelas Harisson.

Sedangkan untuk murid, ada 495 sampel swabs yang diperiksa di RS Untan. "14 murid diantaranya, dinyatakan terkonfirmasi Covid-19. Persentasenya, 2,8 persen dari murid," terangnya.

Lanjut Harisson menerangkan, pihaknya akan melakukan kontak tracing kepada keluarga dan orang terdekat para pasien ini. "Kita akan ambil swabs-nya dan diperiksakan di RS Untan," tuturnya.

Harisson menegaskan, para pasien ini tertular dari transmisi lokal atau masyarakat sekitar. "Masyarakat kan sekarang sudah melakukan aktivitas seperti biasa. Tapi terkadang tidak menerapkan protokol kesehatan. Ini yang meningkatkan risiko untuk tertular," terangnya.


Sebelumnya, Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji akan membuat kebijakan belajar tatap muka yang mulai 1 Agustus 2020. Sebelum proses belajar mengajar dimulai terlebih dahulu pelajar dan guru menjalani swab test.

"Kita swab seluruh guru, jika hasilnya di bawah 3 persen sekolah tetap dilanjutkan. Jika ada yang positif, sekolah dan belajar kita tutup dulu sementara," tuturnya. (Sumber; news.okezone.com)

Semakin Mengkhawatirkan, Hari ini Bertambah 2.473, Kasus COVID-19 di Indonesia Mencapai 121.226

Admin 8/07/2020
Semakin Mengkhawatirkan, Hari ini Bertambah 2.473, Kasus COVID-19 di Indonesia Mencapai 121.226
BlogPendidikan.net
- Satuan Tugas Penanganan Covid-19 memberikan data terbaru mengenai perkembangan jumlah kasus dan data pasien penyakit yang disebabkan virus corona di Indonesia.

Data Satgas Covid-19 memperlihatkan bahwa penularan virus corona masih terjadi di masyarakat hingga Jumat (7/8/2020). Hal ini menyebabkan jumlah kasus Covid-19 terus bertambah. 

Data hingga Jumat pukul 12.00 WIB memperlihatkan ada penambahan 2.473 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan kini ada 121.226 kasus Covid-19 di Tanah Air, terhitung sejak kasus pertama yang diumumkan pada 2 Maret 2020.


Informasi ini disampaikan Satgas Covid-19 melalui situs Covid19.go.id yang di-update pada Jumat sore. Sebanyak 2.473 kasus baru itu didapatkan setelah pemerintah melakukan pemeriksaan 30.159 spesimen dari 15.599 orang yang diambil sampelnya dalam sehari. 

Pemerintah secara akumulasi sudah melakukan pemeriksaan 1.663.315 spesimen dari 951.910 orang yang diambil sampelnya. Artinya, satu orang bisa menjalani lebih dari satu kali pemeriksaan spesimen.

Pasien sembuh dan meninggal Meski jumlah kasus terus bertambah, pemerintah menumbuhkan harapan dengan kabar bahwa semakin banyak pasien Covid-19 yang sembuh. 

Data yang sama memperlihatkan bahwa ada penambahan 1.912 pasien Covid-19 yang sembuh. 

Mereka dinyatakan sembuh setelah dua kali pemeriksaan dengan metode polymerase chain reaction (PCR) memperlihatkan hasil negatif virus corona. Sehingga, total pasien Covid-19 yang sembuh kini mencapai 77.557 orang. Angka ini mencapai 64 persen dari keseluruhan kasus Covid-19 yang sudah terkonfirmasi.

Akan tetapi, pemerintah juga memperlihatan kabar duka dengan masih adanya penambahan pasien Covid-19 yang meninggal dunia. 

Pada periode 6 - 7 Agustus 2020, diketahui ada penambahan 72 pasien Covid-19 yang tutup usia. Dengan demikian, angka kematian akibat Covid-19 mencapai 5.593 pasien sejak awal pandemi terjadi di Indonesia.


Perubahan data mengenai jumlah kasus, serta perubahan angka pasien sembuh dan meninggal menyebabkan kini masih ada 38.076 pasien Covid-19 dalam perawatan. Selain itu, tercatat ada 80.200 orang yang berstatus suspek. 

Saat ini kasus Covid-19 di Indonesia tercatat di 34 provinsi, atau semua provinsi dari Aceh hingga Papua. Secara khusus, sudah ada 479 kabupaten/kota dari 34 provinsi yang terdampak penularan virus corona.

Artikel ini juga telah tayang di Kompas.com 

Kabar Baik Buat Bunda, Pemerintah Akan Berikan Pinjaman Tanpa Bunga

Admin 8/06/2020
Kabar Baik Buat Bunda, Pemerintah Akan Berikan Pinjaman Tanpa Bunga

BlogPendidikan.net
- Pemerintah akan memberikan pinjaman tanpa bunga untuk rumah tangga (RT) sebagai bagian dari rangkaian stimulus percepatan pemulihan ekonomi.

Staf Khusus Menteri Keuangan Yustinus Prastowo menyebut skema pinjaman tanpa bunga tengah digodok pemerintah agar dapat diakses secara mudah dan murah oleh masyarakat saat menghadapi tekanan corona. 

Namun, ia belum dapat menyebut kapan dan berapa besar pinjaman ini akan diberikan.


"Direncanakan akan ada skema pinjaman untuk rumah tangga tanpa bunga agar bisa diakses lebih murah dan mudah," katanya lewat video conference, Kamis (6/8).

Selain itu, Yustinus menyebut pemerintah juga akan menambahkan nilai bantuan program bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH). Ke depan bantuan penerima PKH akan ditambah beras.

Ia menambahkan bantuan-bantuan tersebut diberikan untuk mengungkit daya beli masyarakat yang tengah tertekan corona. Sebagai informasi, pemerintah memang menggelontorkan banyak uang untuk membantu masyarakat dan dunia usaha dalam menghadapi tekanan virus corona.

Total anggaran yang digelontorkan mencapai Rp 695,2 triliun, Anggaran tersebuta digunakan untuk stimulus dan bansos  seperti diskon listrik PLN, bansos tunai, BLT dana desa, hingga semi bansos lewat program Kartu Pra Kerja.

Meski begitu,Yustinus mengaku tak seluruh program berjalan mulus. Hal itu salah satunya bisa dilihat dari lambatnya realisasi stimulus UMKM dalam program pemulihan ekonomi nasional.

Per 3 Agustus 2020, realisasi stimulus untuk UMKM sebesar Rp 32 triliun atau 25 persen dari total pagu Rp 123 triliun.

"Pemerintah menyadari ada yang belum optimal, namun memang tidak mudah membuat dan men-deliver kebijakan dengan cepat. Tapi pemerintah ingin hadir dan melayani masyarakat," ucapnya. (Sumber; CNNIndonesia.com)

Guru SMP Meninggal Positif Covid-19, Sempat Datang ke Sekolah Menyusun Materi Belajar Online

Admin 8/04/2020
Guru SMP Meninggal Positif Covid-19, Sempat Datang ke Sekolah Menyusun Materi Belajar Online
ILUSTRASI Ruang isolasi pasien Covid-19

BlogPendidikan.net
- Seorang guru SMP berinisial PR (59) meninggal karena terinfeksi virus corona. 
PR adalah guru SMPN 1 Dolopo, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.

Kepala SMPN 1 Dolopo, Arif Wardoyo mengatakan, awalnya PR dirawat di Rumah Sakit Sogaten Kota Madiun lantaran gangguan jantung, Kamis (30/7/2020).

Beberapa jam kemudian, PR dilarikan ke RSUD dr Soedono dan langsung dimasukkan ke ruang isolasi. Namun, Jumat (31/7/2020), PR meninggal dunia.

Pihak sekolah baru mengetahui bahwa PR terjangkit Covid-19 pada Sabtu (1/8/2020).

Sebelum meninggal PR pernah datang ke sekolah. Dia bertemu dengan beberapa guru mata pelajaran Bahasa Indonesia.


PR juga sempat berkomunikasi dengan salah satu guru yang menguasai aplikasi pembalajaran online .

“Kebetulan saat itu korban datang ke sekolah karena ada jadwal pembelajaran daring mata pelajaran Bahasa Indonesia,” ungkap Arif saat dihubungi, Senin (3/8/2020).

Karena itu seluruh seluruh guru dan karyawan SMPN 1 Dolopo menjalani rapid test.

Dari 67 pegawai yang menjalani rapid test, tidak ada satupun yang hasilnya reaktif, termasuk empat guru yang sempat melayat PR.

"Semua pegawai SMPN 1 Dolopo dinyatakan non-reaktif. Namun, seluruh pegawai sekolah tetap harus karantina mandiri di rumah masing-masing," kata Arif.


Arif meminta seluruh karyawan SMPN 1 Dolopo untuk tidak takziah sampai mendapatkan kejelasan penyebab meninggalnya PR.

Petugas dari BPBD Kabupaten Madiun juga sudah menyemprot disinfektan untuk sterilisasi seluruh ruangan SMPN 1 Dolopo.

Artikel ini juga telah tayang di kompas.com

Karena Tak Mampu Beli Ponsel Untuk Belajar Dari Rumah, Siswi Ini Akhiri Hidupnya Dengan Membakar Diri

Admin 7/24/2020
Karena Tak Mampu Beli Ponsel Untuk Belajar Dari Rumah, Siswi Ini Akhiri Hidupnya Dengan Membakar Diri

BlogPendidikan.net
- Sejak pandemi corona melanda, pemerintah dari sejumlah negara menerapkan kebijakan belajar di rumah secara online.

Namun, kebijakan ini tak melulu menimbulkan kesan positif bagi para siswa. Pasalnya, tidak semua siswa memiliki ponsel atau laptop disertai dengan akses internet yang baik, untuk belajar daring.

Sebagian besar siswa mungkin bisa lega karena punya ponsel dan laptop canggih, serta fasilitas lainnya yang lengkap. Namun, ada beberapa siswa yang justru tak punya ponsel atau laptop untuk belajar di rumah.

Seorang anak bernama Devika, berusia 14 tahun dari Kerala, India nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bakar diri pada Juni 2020 lalu, diduga karena tak bisa mengikuti sistem pembelajaran yang ditetapkan di masa pandemi, yaitu belajar daring.

Dilansir dari Al-Jazeera, Devika awalnya dilaporkan hilang oleh pihak keluarga. Selang beberapa waktu kemudian, dia ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tubuh terbakar.

Di dekat jasadnya, ditemukan sebotol minyak tanah kosong yang diduga disiramkannya ke tubuhnya lalu kemudian membakar dirinya sendiri. Dia diduga nekat melakukan bunuh diri, karena himpitan kondisi dan keuangan.

Sang ayah siswa tersebut diketahui tidak memiliki penghasilan, selama pemerintah India memberlakukan lockdwon.

Ayahnya menuturkan, di rumah mereka hanya ada satu unit TV dalam keadaan rusak. Sayangnya, ia tak memiliki uang untuk memperbaiki TV tersebut dan membelikan anaknya ponsel.
"Saya tak bisa memperbaiki TV itu, juga tak mampu membeli ponsel untuknya. Saya bilang mari kita cari cara lain setelah pergi ke rumah teman. Saya tak tahu mengapa dia melakukan itu," ungkap ayahnya.
Beban keluarga tersebut semakin berat, karena sang ibu baru saja melahirkan. Kondisi ini membuat mereka benar-benar masuk dalam jurang kesulitan ekonomi.
"Keluarga itu sangat kesulitan dan gadis itu khawatir pendidikannya terpengaruh. "Laporan awal menunjukkan dia kesal karena tak memiliki akses ke TV atau kelas online sejak dimulai," ungkap seorang pejabat senior kepolisian dilansir dari NDTV.
Sejak kematian Devika, Menteri pendidikan setempat meminta laporan dari pejabat pendidikan. Insiden ini bahkan membuat aktivis mahasiswa turun kejalan di Kerala untuk melakukan protes.

Mereka menyoroti ketidaseteraan yang terjadi antara murid-murid di daerah miskin dan pedesaan, yang kecil kemungkinan untuk belajar online di tengah pandemi.
"Seharusnya siswa miskin dapat memperoleh komputer atau ponsel dengan pinjaman tanpa bunga untuk menghindari kasus serupa di masa depan," ujar salah satu pengunjuk rasa.
Artikel ini juga telah tayang di indozone.id

Seorang Guru dan Delapan Siswa SD di Kota Jambi Harus Isolasi Mandiri

Admin 7/21/2020
Seorang Guru dan Delapan Siswa SD di Kota Jambi Harus Isolasi Mandiri

BlogPendidikan.net
- Seorang tenaga pengajar dan delapan siswa di sebuah sekolah dasar di Kota Jambi terpaksa melakukan proses belajar-mengajar secara daring.

Hal itu karena suami dari guru di SDN 47 Kota Jambi tersebut reaktif setelah menjalani rapid test beberapa waktu lalu.

Juru bicara satuan tugas penanganan Covid-19 Kota Jambi, Abu Bakar menjelaskan, dari data dari Dinas Pendidikan Kota Jambi, suami tenaga pengajar berstatus ASN itu bekerja di Petrochina dan menjalani rapid test beberapa waktu lalu.

Setelah tracing contact, diketahui guru tersebut sudah berkontak dengan delapan siswa.

Kendati begitu, proses belajar di sekolah saat ini masih berlangsung dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

"Delapan siswa dan satu ASN itu saja yang untuk sementara waktu diliburkan, sambil menunggu hasil swab-nya," ujarnya, Senin (20/7/2020) malam.

Diliburkan di sini dimaksudkan agar guru dan para siswa itu bisa melakukan isolasi mandiri.

Dia menambahkan, tujuan diliburkannya para siswa dan tenaga pengajar itu guna menghindari kontak fisik dan mengantisipasi penyebaran Covid-19 di kalangan siswa lainnya.

Selain itu juga, agar bisa lebih konsentrasi untuk isolasi mandiri, sembari menunggu hasil swab.

(Sumber; jambi.tribunnews.com)

Terlanjur Mengajar Tatap Muka, Guru dan Operator Terpapar Virus Corona, Ratusan Siswa Swab Test dan Sekolah Ditutup

Admin 7/21/2020
Terlanjur Mengajar Tatap Muka, Guru dan Operator Terpapar Virus Corona, Ratusan Siswa Swab Test dan Sekolah Ditutup

BlogPendidikan.net
- Seorang guru dan operator di Kota Pariaman, Sumatera barat (Sumbar), dinyatakan positif Covid-19. Guru tersebut diketahui terlanjur mengajar secara tatap muka. Akibatnya, sekolah tersebut ditutup dan ratusan siswa serta karyawan menjalani tes swab.

Untuk sementara, kegiatan belajar mengajar di wilayah tersebut kembali dilakukan secara online. Seperti diketahui, Pariaman merupakan satu dari empat wilayah yang dinyatakan zona hijau di Sumbar.

Berikut ini fakta lengkapnya:

Terlanjur mengajar secara tatap muka

Kepala Dinas Pendidikan Kota Pariaman Kanderi mengatakan, guru dan operator sekolah tersebut diketahui positif Covid-19 setelah dilakukan tes swab massal terhadap 1.500 guru yang ada di Kota Pariaman.

"Tes massal ini dilakukan pada Jumat lalu dan hasilnya diketahui dua orang positif pada Minggu kemarin," kata Kanderi.

Setelah itu, menurut Kanderi, guru tersebut ternyata diketahui telah terlanjur mengajar secara tatap muka.

Para siswa dan karyawan di sekolah guru tersebut segera dilakukan tracing.

"Dia sudah sempat mengajar di kelas secara tatap muka.

Tim gugus tugas sudah melakukan tracing untuk siswa dan guru yang melakukan kontak," ujar Kanderi.

Sekolah ditutup sementara

Menurut Kanderi, sekolah tersebut memiliki 580 siswa.

Dugaan sementara, ada 130 orang yang sempat melakukan kontak dengan guru tersebut.

"Ada sekitar 90 siswa yang diajar secara tatap muka oleh guru itu. Kemudian 40 orang guru dan karyawan sekolah," kata Kanderi.

Saat ini, kata Kanderi, sekolah tersebut sudah ditutup dari segala aktifitas. 

Berada di zona hijau

Menurut Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Sumbar Jasman Rizal, Kota Pariaman sebelumnya adalah satu dari empat daerah di Sumbar yang masuk zona hijau selain Pesisir Selatan, Kota Sawahlunto dan Pasaman Barat.

Oleh sebab itu, Kota Pariaman membuka sekolah mulai dari kelas IV SD hingga SMA secara tatap muka.

Namun, setelah kasus positif terungkap, pihak sekolah kembali melakukan kegiatan secara online.

"Karena ditemukan dua kasus baru maka di daerah itu sekolah kembali ditutup secara tatap muka," kata Jasman.

Artikel ini juga telah tayang di kompas.com