Showing posts with label Virus Corona. Show all posts
Showing posts with label Virus Corona. Show all posts

WHO Menyatakan Virus Corona Menular Lewat Udara, Tip Untuk Mencegahnya

One Be 7/10/2020
WHO Menyatakan Virus Corona Menular Lewat Udara, Tip Untuk Mencegahnya

BlogPendidikan.net
- Temuan teranyar menunjukkan Virus Corona penyebab Covid-19 mampu bertahan di udara dan dapat menulari orang. Meski harus diteliti lebih lanjut, Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui fakta mengkhawatirkan itu dan meminta setiap individu mengambil langkah pencegahan.

Dalam hasil penelitian 239 ilmuwan yang disampaikan kepada WHO, dijelaskan Virus Corona dapat tetap berada di udara selama berjam-jam dan menginfeksi orang ketika mereka menghirupnya. Risiko penularan paling tinggi terjadi di ruang tertutup dengan ventilasi yang buruk.

Virus yang menyebar di udara inilah yang dapat membantu menjelaskan peristiwa infeksi massal yang dilaporkan di pabrik pengemasan daging, gereja, dan restoran.

Meski begitu, belum jelas seberapa sering orang tertular akibat Virus Corona di udara dalam bentuk aerosol ini dibandingkan dengan droplet atau percikan air yang dikeluarkan ketika orang batuk atau bersin. Demikian juga dibandingkan dengan kontak dengan permukaan yang terkontaminasi, kata Linsey Marr, seorang ahli aerosol di Virginia Tech.

Aerosol dilepaskan bahkan ketika seseorang tanpa gejala menghembuskan napas, berbicara atau bernyanyi, menurut Marr dan lebih dari 200 ahli lainnya, yang telah menjabarkan bukti dalam surat terbuka kepada WHO.

Yang jelas, kata para ahli itu, orang-orang harus mempertimbangkan meminimalkan waktu berada di dalam ruangan dengan orang-orang bukan keluarga mereka. Sekolah, panti jompo, dan bisnis harus mempertimbangkan untuk menambahkan filter udara baru yang kuat dan lampu ultraviolet yang dapat membunuh virus di udara.

Lantas bagaimana antisipasi yang dapat kita lakukan untuk menghindari penularan Virus Corona melalui udara? 

Tetap Jaga Jarak

Untuk virus yang ditularkan melalui udara berarti ia dapat dibawa melalui udara dalam bentuk yang sangat kecil. Bagi sebagian besar patogen, ini adalah skenario ya atau tidak. HIV misalnya, terlalu halus untuk bertahan hidup di luar tubuh, dan tidak bisa mengudara. Sedangkan virus campak bisa mengudara, dan sangat berbahaya karena bisa bertahan di udara hingga dua jam.

Untuk Virus Corona, penjelasannya lebih rumit. Para ahli sepakat bahwa virus tidak melakukan perjalanan jarak jauh atau tetap hidup di luar ruangan. Tetapi bukti menunjukkan itu dapat melintasi suatu ruangan dan, dalam satu pengaturan kondisi percobaan, Virus Corona mampu bertahan paling lama tiga jam.

Aerosol adalah droplet, sebaliknya, tetesan adalah aerosol - mereka tidak berbeda kecuali dalam ukuran. Para ilmuwan terkadang menyebut tetesan berdiameter kurang dari lima mikron sebagai aerosol. Sebagai perbandingan, sel darah merah berdiameter sekitar lima mikron; rambut manusia selebar 50 mikron.

Dari awal pandemi, WHO dan organisasi kesehatan masyarakat lainnya telah memfokuskan pada kemampuan virus untuk menyebar melalui tetesan besar yang dikeluarkan ketika orang yang gejalanya batuk atau bersin.

Tetesan ini berat dan jatuh dengan cepat ke lantai atau ke permukaan yang mungkin disentuh orang lain. Inilah sebabnya mengapa lembaga kesehatan masyarakat merekomendasikan menjaga jarak setidaknya 1,8 meter dari orang lain, dan sering mencuci tangan.

Tetapi beberapa ahli telah mengatakan selama berbulan-bulan, orang yang terinfeksi juga melepaskan aerosol ketika mereka batuk dan bersin. Lebih penting lagi, mereka mengeluarkan aerosol bahkan ketika mereka bernapas, berbicara atau bernyanyi, terutama dengan sedikit tenaga.

Para ilmuwan tahu sekarang bahwa orang dapat menyebarkan virus meskipun tanpa gejala - tanpa batuk atau bersin - dan aerosol mungkin menjelaskan fenomena itu.

Karena aerosol lebih kecil, mengandung lebih sedikit virus daripada tetesan. Tetapi karena mereka lebih ringan, mereka dapat berlama-lama di udara selama berjam-jam, terutama karena tidak adanya udara segar. Dalam ruang tertutup yang padat, satu orang yang terinfeksi dapat melepaskan cukup virus aerosol dari waktu ke waktu untuk menulari banyak orang.

Ventilasi Udara Penting

Jarak fisik masih sangat penting. Semakin dekat Anda dengan orang yang terinfeksi, semakin banyak aerosol dan tetesan yang mungkin terpapar pada Anda. Sering-sering mencuci tangan adalah langkah yang bagus.

Apa yang baru adalah bahwa kedua hal itu mungkin tidak cukup. "Kita harus lebih menekankan masker dan ventilasi seperti yang kita lakukan dengan mencuci tangan," kata Dr. Marr. "Sejauh yang kami tahu, ini sama pentingnya, jika tidak lebih penting."

Petugas kesehatan mungkin perlu memakai masker N95, yang menyaring sebagian besar aerosol. Saat ini, mereka disarankan untuk melakukannya hanya ketika terlibat dalam prosedur medis tertentu yang dianggap menghasilkan aerosol.

Bagi masyarakat, masker masih akan sangat mengurangi risiko, selama kebanyakan orang memakainya. Di rumah, ketika Anda dengan keluarga Anda sendiri atau dengan teman sekamar yang Anda tahu harus berhati-hati, masker tidak diperlukan.

Sedangkan untuk berapa lama aman dalam suatu ruangan, itu sulit ditentukan. Tergantung pada apakah ruangan terlalu ramai untuk memungkinkan jarak aman dari orang lain dan apakah ada udara segar yang mengalir melalui ruangan.

Jangan Terlalu Lama dalam Ruangan Ber-AC

Lakukan sebanyak yang Anda bisa di luar ruangan. Meskipun banyak foto orang di pantai, bahkan pantai yang agak ramai, terutama pada hari berangin, kemungkinan lebih aman daripada pub atau restoran indoor dengan udara daur ulang dari mesin pendingin udara atau AC.

Jangan lupa tetap memakai masker jika Anda cenderung dekat dengan orang lain untuk waktu yang lama.

Ketika di dalam ruangan, satu hal sederhana yang dapat dilakukan orang adalah "membuka jendela dan pintu mereka jika memungkinkan," kata Dr. Marr.

Anda juga dapat meningkatkan filter di sistem pendingin udara rumah Anda, atau menyesuaikan pengaturan untuk menggunakan lebih banyak udara luar daripada udara daur ulang.

Bangunan umum dan bisnis mungkin ingin berinvestasi dalam pembersih udara dan lampu ultraviolet yang dapat membunuh virus. Jika tidak ada hal-hal itu yang mendesak dan penting, cobalah untuk meminimalkan waktu yang Anda habiskan di dalam ruangan, terutama tanpa masker. Semakin lama Anda menghabiskan waktu di dalam, semakin besar dosis virus yang mungkin Anda hirup.

Sumber; liputan6.com

Ternyata Virus Corona Bisa Menempel di Handphone Selama 5 Hari Waspada!

One Be 6/17/2020
Ternyata Virus Corona Bisa Menempel di Handphone Selama 5 Hari Waspada!

Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Edward Faisal meminta agar masyarakat tidak menggunakan handphone atau gawai saat berada di ruang publik serta transportasi umum. Sebab, virus corona (Covid-19) bisa menempel di handphone selama 5 hari.

Demikian diungkapkan Dokter Edward Faisal saat mengikuti Talk Show Info Corona dalam bahasan Rombongan Pengguna Kereta (Roker) Mantul yang Santuy Antri dan Anti Kuman, yang digelar Badan Nasional Penangggulan Bencana (BNPB) lewat akun resmi Youtube-nya.


"Handphone itu kan bahan materialnya plastik atau metal ya, nah saat virus nempel di gawai kita bisa bertahan sampai 5 hari," ujar Edward Faisal, Rabu (17/6/2020).

Menurut Edward, masyarakat memang tidak bisa lepas dalam menggunakan handphone di kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaan handpone di ruang publik atau moda transportasi sangat berisiko menularkan virus corona.

Ihwal kebiasaan menggunakan handphone saat berada di moda transportasi juga diamini oleh salah seorang pengguna kereta api, Rachmi Rini. Rachmi mengakui masih banyak yang menggunakan handphone saat berada di dalam kereta api, termasuk dirinya.

"Jadi, kalau di kereta itu pasti megang HP. Ada yang nonton Youtube, main game, Whatsapp-an. Tapi kalau untuk bercakap-cakap udah jarang. Kalau saya biasanya buka juga. Tapi kalau ada yang menghubungi, saya tidak angkat," ujar Rachmi dalam acara yang sama.

"Itu mungkin tantangan kami untuk tidak menggunakan handphone di kereta. Tapi dari petugasnya sendiri juga belum ada aturan untuk tidak boleh menggunakan handphone," sambungnya.

Dokter Edward meminta agar sebaiknya maayarakat tidak menggunakan handphone saat berada di transportasi umum. Bahayanya, jika saat bermain handphone ada droplet Orang Tanpa Gejala (OTG) yang menempel di handphone tersebut.

"Apalagi kalau ada orang ngomong bisa nambah lagi tuh (droplet virus) di handphone kita. Jadi selain risiko buat diri kita, tapi buat orang dirumah kita saja. Sebaiknya jangan keluarkan handphone," pungkasnya. (Sumber; okezone.com)

111 Anak di Sumsel Terpapar Virus Corona, Penerapan Sekolah Dibuka Kembali Perlu Ditinjau

One Be 6/09/2020
111 Anak di Sumsel Terpapar Virus Corona, Penerapan Sekolah Dibuka Kembali Ditinjau

Komisi Perlindungan Anak Daerah Indonesia (KPAID) Sumatera Selatan (Sumsel) meminta kebijakan untuk kembali memulai Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah selama masa pandemi Covid-19 atau Virus Corona.

KPAID Sumsel berharap, keputusan tersebut dikaji secara mendalam.

Hal ini karena menyusul tingginya jumlah kasus Covid-19 pada anak-anak di Sumsel. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, saat ini ada 111 anak di Sumsel yang terpapar Virus Corona.

"Jumlah kasus ini termasuk tinggi karena hampir 20 persen dari total jumlah kasus Covid-19 yang menyerang anak-anak di Indonesia yang lebih dari 580 kasus," kata Ketua KPAID Sumsel, Eko Wirawan Zainuddin, Selasa (09/06/2020).

Menurut Eko, tingginya kasus Covid-19 yang menyerang anak-anak di Sumsel justru terjadi pada masa sekolah sedang libur.

Dengan adanya rencana dimulainya lagi kegiatan belajar mengajar di sekolah, dia mengkhawatirkan potensi penularan akan semakin tinggi.

"Bila sekolah belum siap dengan protokol pencegahan Covid-19 maka kami khawatir akan muncul klaster baru dalam penularan Covid-19. Jadi, harus hati-hati," ujarnya.

Selain itu, jelas Eko, KPAID Sumsel juga mengimbau Dinas Pendidikan baik tingkat provinsi ataupun kota bersama stakeholder terkait untuk bermusyawarah merancang formulasi protokol Covid-19 saat masa KBM di sekolah.

Hal ini mengingat belum adanya protokol kesehatan standar untuk kegiatan pendidikan.

"Saat ini belum ada satupun negara yang sudah menemukan formula pencegahan Covid-19 oleh karena itu alangkah baiknya kita mencari solusi ini dengan duduk bersama," terangnya.

Eko juga menjelaskan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada Gubernur Sumsel untuk berkoordinasi dengan instansi terkait dalam rangka mempersiapkan protokol pencegahan Covid-19 menuju fase kehidupan baru atau new normal khususnya untuk kegiatan di sekolah.

"Kita tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir. Yang pasti kami berharap secepatnya masalah ini dibicarakan karena pada akhirnya nanti mau tidak mau siswa harus segera bersekolah." jelasnya.

Artikel ini juga telah tayang di tribunnews.com

Kemendikbud: Siapkah Sekolah Dibuka?

One Be 6/07/2020
Kemendikbud: Siapkah Sekolah Dibuka

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menetapkan Tahun Ajaran baru 2020/2021 akan dimulai pada pertengahan Juli 2020. Dalam pelaksanaannya, Kepala Biro Kerja sama dan Humas Evy Mulyani menegaskan bahwa dimulainya tahun ajaran baru tersebut tidak sama dengan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah.

“Tentunya yang menjadi prioritas kami adalah kesehatan dan keselamatan warga sekolah (siswa, guru dan orang tua) sehingga pembukaan kembali sekolah di wilayah zona hijau tidak serta merta dibuka, tetapi akan dilakukan dengan sangat hati-hati, dan tetap mengikuti protokol kesehatan,” demikian disampaikan Evy pada diskusi Zoom With Primus yang disiarkan secara langsung di BeritaNews Channel, di Jakarta, pada Jumat (05/06/2020).

Sementara itu sekolah yang berada di zona merah dan kuning, kata Evy, sistem pembelajaran jarak jauh masih menjadi pilihan utama Pemerintah dalam menerapkan model pembelajaran Tahun Ajaran baru 2020/2021.

“Seringkali kita masih temukan kerancuan terkait tahun ajaran baru masih disamakan dengan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah. Saat ini model pembelajaran jarak jauh akan menjadi pilihan utama sehingga bagi sebagian besar sekolah akan melanjutkan pembelajaran jarak jauh seperti yang sudah dilakukan 3 bulan terakhir,” jelas Evy.

Evy melanjutkan, pembukaan kembali sekolah khususnya di wilayah zona hijau, akan dibahas Kemendikbud bersama Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, sedangkan protokol kesehatan di bidang pendidikan akan dibahas bersama Kementerian Kesehatan. “Sekolah yang berada di zona hijau tidak langsung bisa dibuka secara otomatis, tetapi melalui prosedur izin syarat yang ketat. Misalnya sebuah sekolah berada di zona hijau, tetapi berdasarkan penilaian keseluruhan prosedur dan syarat, ternyata tidak layak untuk dibuka kembali. Tentu ini harus tetap menjalankan pendidikan jarak jauh,” jelas Evy.

Untuk menunjang pembelajaran jarak jauh ini, Kemendikbud telah merekomendasikan 23 laman yang bisa digunakan peserta didik sebagai sumber belajar dalam menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh. Selain itu warga satuan pendidikan, khususnya peserta didik dapat memanfaatkan berbagai layanan yang disediakan oleh Kemendikbud antara lain program belajar dari rumah melalui TVRI, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak serta alat peraga dan media belajar dari benda dan lingkungan sekitar.

“Saat ini, kita mempunyai pembelajaran jarak jauh yang memang memerlukan internet akses jadi online based, kemudian juga ada television based, radio based, dan juga sebenarnya banyak tersedia berbagai modul yang dapat dipergunakan atau dipelajari secara mandiri. Tentunya ini sangat memerlukan kolaborasi yang sangat baik antara guru dan orang tua terkait pembelajaran jarak jauh ini,” terang Evy.

Evy menambahkan, aktivitas dan tugas pembelajaran pada sistem pembelajaran jarak jauh bisa dilakukan bervariasi disesuaikan dengan minat siswa, serta akses atau fasilitas belajar di rumah. Pembelajaran jarak jauh ini hadir untuk memberi pengalaman belajar yang bermakna tanpa harus membebani guru dan siswa dalam menyelesaikan kurikulum untuk kenaikan kelas atau kelulusan.

“Aktivitas dan tugas pembelajaran juga dapat bervariasi antar siswa kemudian disesuaikan juga dengan minat dan kondisi masing-masing termasuk juga mempertimbangkan kesenjangan akses atau fasilitas belajar di rumah,” tutur Evy.

Meskipun sampai saat ini masih ditemui sejumlah kendala dalam pembelajaran jarak jauh, Evy mengatakan masih ada hal positif yang dapat diambil diantaranya tumbuhnya kolaborasi orang tua dengan guru. “Orang tua mulai melihat dan memahami bahwa tidak mudah menjadi seorang guru. Pada masa pandemi ini dibutuhkan keterlibatan langsung orang dalam proses pembelajaran,” papar Evy.

Berdasarkan kalender akademik, Tahun Ajaran Baru 2020/2021 akan segera dimulai sesuai dengan jadwal yang telah tetapkan seperti tahun sebelumnya yaitu Minggu ke-3 Juli 2020.  

Pada diskusi dengan tema “Siapkah Sekolah Dibuka?” ini, turut hadir narasumber lain yaitu Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI), Unifah Rosyidi, dan Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Erna Mulati.

Pada kesempatan ini, Seto Mulyadi mengapresiasi Kemendikbud yang telah mengeluarkan kebijakan bahwa tahun ajaran baru bukan berarti siswa harus masuk sekolah di tengah pandemi Covid-19. “Kami memberikan apresiasi terhadap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah menegaskan dengan jelas bahwa tahun ajaran baru bukan berarti harus sudah masuk sekolah. Jadi sekolah itu tidak harus juga keluar rumah, tergantung situasi dan kondisi,” papar pria yang akrab dipanggil Kak Seto.

Pembukaan kembali sekolah hendaknya disesuaikan dengan tingkat penyebaran serta kemampuan pemerintah dalam mengelola bidang pendidikan di era kenormalan baru. Oleh karena itu, sejalan dengan Evy, Kak Seto juga mengatakan hal yang paling penting adalah kesehatan dan keselamatan hidup dari para peserta didik. “Jangan sampai anak-anak mengejar supaya bisa ketemu teman-temannya justru membuat korban tambah banyak. Saya kira itu harus diperhitungkan semua,” ungkap Kak Seto.  

Menurutnya, semua kebijakan yang ditetapkan pemerintah hendaknya menghargai hak dari keluarga seperti anak-anak dan juga orang tua. “Kalau memang masih takut, masih penuh pertimbangan dan sebagainya sehingga belum juga datang ke sekolah, tetap perlu diapresiasi. Mesikupun daerahnya berada di zona hijau,” ungkap Kak Seto.

Untuk mendukung pendidikan jarak jauh, Kak Seto mengatakan modul-modul pembelajaran yang disiapkan pemerintah harus tetap disosialisasikan kepada masyarakat, khususnya menyangkut standar kompetensi yang harus dicapai dan juga kelulusan. “Orang tua harus dilibatkan sehingga ada komunikasi dengan para guru. Hal ini akan membuat anak jauh lebih nyaman belajar di rumah,” jelasnya.

Kendati demikian, Kak Seto mengatakan masa pandemi Covid-19 dapat menjadi momentum untuk mengajarkan etika yang bisa langsung dipraktikkan anak di dalam keluarga. Anak-anak bisa langsung mempraktikkan cara menghormati orang tua, saudara, asisten rumah tangga serta belajar bekerja sama dan membantu orang lain. “Pendidikan tidak semata harus berada di sekolah, tetapi di mana saja. Pendidikan jalur formal, dan nonformal, saling melengkapi dan menggantikan sehingga saat ini tidak perlu ada kebingungan,” ucapnya.

Senada dengan Kak Seto, Unifah Rosyidi juga turut mengapresiasi Kemendikbud dalam menata dan terus memperbaiki kebijakan di bidang pendidikan selama masa Covid-19. Salah satunya adalah dengan menetapkan tahun ajaran baru pada Juli mendatang dengan tetap menerapkan kebijakan belajar dari rumah. “Itu menjadi poin utama bagi PGRI sejak awal. Keselamatan, keamanan bagi guru, warga sekolah lainnya dan orang tua harus menjadi pertimbangan utama,” jelas Unifah.

Pelaksanaan pendidikan selama masa Covid-19 ini, Unifah mengatakan seharusnya menjadi momentum untuk melakukan transformasi pendidikan. “Bagi guru, situasi saat ini hendaknya menjadi kesempatan untuk melakukan transformasi pendidikan melalui kebiasaan-kebiasaan baru dalam pendidikan yang tidak pernah dilakukan sebelumnya,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Erna Mulati mengatakan dalam menjaga keselamatan dan keamanan anak, guru dan orang tua dalam proses pembelajaran di sekolah, Kemenkes bersama Kemendikbud akan membuat protokol kesehatan dalam pelaksanaan pembelajaran di era kenormalan baru. Protokol kesehatan di sekolah saat ini sedang disusun dan akan dibahas bersama pihak terkait pekan depan.

"Protokol kesehatan ini nanti bicara secara rinci. Tentunya protokol ini difokuskan pada wilayah zona hijau, tidak terkait dengan zona merah dan kuning," terang Erna.(*)

Sekolah di DIY Belajar 3,5 Jam Tanpa Istrahat, Menyongsong New Normal

One Be 6/05/2020
Sekolah di DIY Belajar 3,5 Jam Tanpa Istrahat, Menyongsong New Normal

Menyongsong penerapan tata kehidupan new normal pascapandemi Covid-19, Pemda DIY berencana menerapkan skema pendidikan tatap muka dengan sistem sift. Proses pendidikan tatap muka, maksimal dilakukan 3,5 jam tanpa jeda istirahat dan selanjutnya bergiliran siswa lainnya.

Hal itu dinyatakan Sekertaris Daerah DI Yogyakarta, Kadarmanta Baskara Aji, usai rapat koordinasi persiapan pemberlakuan new normal di DIY, Kamis (04/06/2020).

Baskara Aji mengatakan, untuk menerapkan pendidikan tatap muka dengan sistem sif, dibutuhkan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) khusus.

Selain itu, sebagai langkah awal, lanjut Sekda, perlu dilakukan pendataan bagi guru dan siswa termasuk alamat domisili dan riwayat sehatnya, hingga kemampuan ekonomi orang tua, sebagai pra pelaksanaan new normal di bidang pendidikan.

Untuk mengantisipasi penularan virus Covid-19 di masa sekolah aktif kembali, DI Yogyakarta akan menerapkan sistem pergantian sif dengan tujuan pembatasan jumlah siswa dalam kelas.

“Satu sif  3,5 jam tanpa istirahat, diganti sifh siswa lainnya agar satu bangku hanya dihuni satu anak. Protokolnya tetap sama, wajib masker, cuci tangan dan jaga jarak, sekolah dibolehkan menambah SOP sendiri, termasuk pembalajaran online, karena masing-masing jenjang berbeda-beda penerapannya,”katanya.

Dikatakan, sampai 13 Juli, mendatang siswa masih belajar di rumah, namun untuk penerapan sekolah tatap muka, Pemda DIY masih harus melihat situasi.

“Kalau kita siap masuk fase new normal, maka pendidikan yang paling belakang, karena keselamatan siswa itu yang utama. Setelah itu akan ada uji publik termasuk sektor lainnya, kita undang sosiasi-asosiasi,” tegasnya.

Terpisah, Kabid Perencanaan dan Pengembangan Mutu Pendidikan, Disdikpora DIY, Didik Wardaya mengatakan, skema new normal di bidang pendidikan membutuhkan persiapan dan perencanaan protokol kesehatan yang ketat.

Oleh karena itu, ‎Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIY sedang mempersiapkan Standar Operasional Prosedur (SOP) seandainya nanti new normal akan diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.‎

Selain itu juga menunggu rambu-rambu dari Kementerian Pendidikan, sebelum memutuskan untuk memberlakukan new normal.

Sekolah juga diwajibkan mengidentifikasi atau menginventarisasi mana yang bisa masuk dan tidak. Begitu pula dengan gurunya, seandainya ‎tidak memungkinkan untuk diberlakukan new normal maka akan dilakukan pembelajaran daring seperti yang selama ini sudah berjalan.

Sekolah juga diminta untuk menjadwalkan ulang jam pelajaran. Karena KBM tidak mungkin dilakukan secara penuh sejak pagi hingga siang seperti pada biasanya.‎ Karena pembelajaran maksimal hanya 3 jam sampai 3,5 jam dalam satu hari dan tidak ada waktu istirahat.‎‎

Didik menambahkan, pemberlakuan new normal di DIY kemungkinan belum akan diterapkan dalam waktu dekat, terkait surat edaran (SE) Gubernur DIY dan SE Disdikpora DIY yang mengatakan bahwa proses pembelajaran di sekolah tetap dilaksanakan melalui proses pembelajaran jarak jauh atau online mulai 2-26 Juni 2020.

Sedangkan untuk awal tahun ajaran baru 2020/2021 apabila mengacu pada kalender akademik yang sudah ada akan dimulai pada 13 Juli 2020. Namun apakah saat awal tahun ajaran baru nanti ‎di sekolah akan menerapkan new normal atau tidak pihaknya masih nunggu.

Jaga Kesehatan dan Jangan Bepergian, Karena Biaya Rapid Test Mahal

One Be 6/04/2020
Jaga Kesehatan, Karena Biaya Rapid Test Mahal

Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) bersiap menerapkan new normal di tengah pandemi. Salah satu kebijakannya adalah setiap masyarakat yang akan bepergian meninggalkan suatu daerah atau kota wajib membawa surat hasil rapid test maupun PCR. Lalu Apa itu Rapid test dan biaya tes Covid-19?

Hal ini sejalan dengan Surat Edaran (SE) Gugus Tugas nomor 4 tahun 2020 tentang kriteria pembatasan perjalanan orang dalam rangka percepatan penanganan Covid-19.

"Setiap orang yang berpergian harus menunjukan surat rapid tes kadaluarsa 3 hari dan PCR 7 hari baik di bandara, pelabuhan, atapun cek point termasuk kereta api," ujar Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COvid-19 Doni Munardo.

Lalu apa itu Rapid test? 

Rapid test merupakan salah satu tes untuk mendeteksi secara cepat SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Covid-19. Berbeda dengan metode selama ini yang menggunakan real time polymerase chain reaction (RT-PCR) yang mengambil usapan lendir dari hidung atau tenggorokan, rapid test akan dilakukan dengan mengambil sampel darah pasien positif Covid-19.

Proses pemeriksaan Ini tidak membutuhkan sarana laboratorium pada bio-security level dua. Artinya, lanjut dia, pemeriksaan bisa digunakan di hampir semua laboratorium kesehatan yang ada di semua rumah sakit di seluruh Indonesia.

Doni menambahkan Rapid test sering tidak akurat sehingga perlu dilakukan segera tes PCR. "RT (rapid test) sering tidak akurat. Tes PCR swab 97 persen akurat," ujar Doni dikutip dari detikcom.

Menuliskan perbedaan RT-PCR dan rapid test Covid-19 dari sisi sampel hingga biaya yang dibutuhkan. Berikut adalah penjelasannya sebagaimana dikutip CNBC Indonesia:

Sampel yang digunakan

RT-PCT menggunakan sampel usapan lendir dari hidung atau tenggorokan. Lokasi ini dipilih karena menjadi tempat virus bereplikasi. Sementara itu, rapid test menggunakan sampel darah.

Cara kerja

Virus yang aktif memiliki material genetika yang bisa berupa DNA maupun RNA. Pada virus corona, material genetiknya adalah RNA. Nah, RNA inilah yang diamplifikasi dengan RT-PCR sehingga bisa dideteksi.

Rapid test bekerja dengan cara yang berbeda. Virus corona tidak hidup di darah, tetapi seseorang yang terinfeksi akan membentuk antibodi yang disebut immunoglobulin, yang bisa dideteksi di darah. Immunoglobulin inilah yang dideteksi dengan rapid test.

Simpelnya, RT-PCR mendeteksi keberadaan virus sedangkan rapid test mendeteksi apakah seseorang pernah terpapar atau tidak. Terkait cara kerja, RT-PCR harus dikerjakan di laboratorium dengan standar biosafety level tertentu. Rapid test lebih praktis karena bisa dilakukan di mana saja.

Kurasi

Ahmad Rusdan Handoyo Utomo PhD, Principal Investigator, Stem-cell and Cancer Research Institute, menjelaskan rapid test bisa memberikan hasil 'false negative' yakni tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi bila tes dilakukan pada fase yang tidak tepat.

"Data antibodi tidak selalu bersamaan dengan data PCR. Ketika data PCR menunjukkan virus RNA terdeteksi, kadang-kadang antibodi belum
terbentuk," jelasnya.

Kemungkinan false negative ini juga disinggung oleh Yuri.

"Hanya masalahnya bahwa yang diperiksa immunoglobulin-nya maka kita butuh reaksi immunoglobulin dari seseorang yang terinfeksi paling tidak seminggu karena kalau belum seminggu terinfeksi atau terinfeksi kurang dari seminggu pembacaan immunoglobulin-nya akan menampilkan gambaran negatif," kata Yuri.

Lama waktu pemeriksaan

RT-PCR jelas membutuhkan waktu lebih lama. Belum termasuk waktu pengiriman sampel karena pemeriksaan virus corona sempat dipusatkan hanya di laboratorium Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) di Jakarta. Rapid test bisa dilakukan kapan saja dan hanya butuh waktu 15-20 menit untuk mendapatkan hasilnya.

"Untuk skrining di bandara misalnya, rapid diagnostik cukup menjanjikan karena hanya 20 menit," kata Ahmad.

Untuk kebutuhan massive screening dan menemukan lebih banyak kasus, rapid test berbasis antibodi dinilai sebagai pilihan yang tepat.

Biaya Rapid test & PCR

Rapid test diklaim lebih ekonomis dibanding RT-PCR. Dalam sebuah wawancara, Kepala Balitbangkes Siswanto, memberikan perkiraan biaya RT-PCR.

"Per orang rata-rata total unit cost mulai dari ambil spesimen, transport, pemeriksaan PCR sekitar Rp 1,5 juta," ujarnya.

Kapan Waktu Yang Tepat Anak Kembali Kesekolah dan Bagaimana Strategi KEMENDIKBUD

One Be 6/03/2020
Kapan Waktu Yang Tepat Anak Kembali Kesekolah dan Bagaimana Strategi KEMENDIKBUD

Kapan Waktu Tepat Anak Kembali ke Sekolah

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyarankan sekolah membuka kegiatan belajar secara langsung pada Desember 2020. Usulan ini berdasarkan pada kondisi saat ini di mana masih terus bertambahnya jumlah kasus Covid-19. Pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) memungkinkan terjadinya lonjakan kedua.

"Dengan mempertimbangkan antisipasi lonjakan kasus kedua, sebaiknya sekolah tidak dibuka setidaknya sampai bulan Desember 2020," kata Ketua Umum IDAI Dr dr Aman Pulungan SpA(K) FAAP, FRCP(Hon) dalam keterangan resminya.

Pembukaan sekolah bisa dipertimbangkan jika jumlah kasus Covid-19 di Indonesia mengalami penurunan. Selama sekolah masih tutup, IDAI menganjurkan agar kegiatan belajar mengajar dilaksanakan lewat skema pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Hal yang sama disampaikan Ikatan Guru Indonesia (IGI). IGI sangat mendukung penundaan new normal di dunia pendidikan dan meminta Mendikbud Nadiem Makarim sesegera mungkin menyampaikan hal tersebut secara terbuka. Hal ini mengingat begitu banyak Disdik saat ini yang sudah bersiap-siap menjalankan pembelajaran tatap muka mulai 13 Juli 2021.

Ketua Umum IGI, Muhammad Ramli Rahim, mengatakan pihaknya tetap menolak adanya keinginan banyak pihak untuk mendorong pembelajaran tatap muka meskipun dengan protokol kesehatan yang ketat, termasuk memperpendek waktu belajar menjadi hanya 4 jam tanpa istirahat.

"IGI sangat yakin, sekolah yang saat ini digawangi oleh sekitar 60 persen guru non-PNS dengan mayoritas pendapatan hanya Rp 250.000 per bulan tak akan sanggup menjalankan protokol kesehatan secara ketat bagi anak mulai dari masuk pagar sekolah hingga menanggalkan pagar sekolah, ini belum termasuk protokol kesehatan diantar sekolah dan rumah," ujar Ramli.

"Memang akan ada sekolah, terutama sekolah swasta bonafide atau mantan sekolah unggulan yang mampu menjalankannya dengan baik tapi itu tak layak menjadi alasan untuk menerapkan pembelajaran tatap muka secara keseluruhan," sambung dia.

Dia khawatir potensi penularan Covid-19 kepada anak atau dari anak sangat besar meskipun belajar hanya 1 jam di sekolah. Oleh karenanya, Kemendikbud harus bersikap tegas sesuai arahan Presiden.

Ditambahkan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, penerapan new normal harus benar-benar hati-hati terutama di sektor pendidikan. Imbauan itu dilakukan Dasco setelah mendapat keluhan banyak orang tua mengenai penerapan new normal di sekolah.

"Masih didetailkan karena menyangkut berbagai aspek, salah satunya ya aspek keamanan anak-anak. Saya mendapatkan banyak pertanyaan dan keluhan terkait hal ini," kata Dasco di Jakarta, Selasa (2/6).

Dasco menyarankan agar Kemendikbud bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika membuat aplikasi pembelajaran jarak jauh, sehingga meski new normal diterapkan, anak tidak perlu datang ke sekolah.

"Membuat jaringan khusus pendidikan. Interaksi sekolah tetap berlangsung seperti biasa tapi jarak jauh," ujar dia.

"Buat aplikasi khusus sekolah dan buat jalur koneksi internet tersendiri yang stabil. Setiap murid diberikan ID khusus untuk bisa akses ke aplikasi," tambahnya.

Politisi Gerindra itu juga mengingatkan nanti aplikasi itu diterapkan secara gratis. Sebab menurut dia, tidak semua orang tua murid mampu membeli kuota internet untuk mengakses aplikasi.

Strategi Kemendikbud

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menegaskan tahun ajaran baru 2020/2021 akan diterapkan sesuai dengan jadwal atau dengan kata lain tidak dimundurkan. Diperkirakan tahun ajaran baru dimulai pada 13 Juli.

"Kita tidak memundurkan tahun ajaran baru ke Januari 2021. Kalau dimundurkan, maka akan ada beberapa konsekuensi yang harus disinkronkan," ujar Plt Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Kemendikbud, Hamid Muhammad, dalam telekonferensi di Jakarta, Kamis (28/5).

"Mengapa 13 Juli, karena memang awal tahun ajaran baru itu minggu ketiga Juli dan hari Senin," ujar dia.

Dia menambahkan, ada beberapa alasan mengapa tahun ajaran baru tidak dimundurkan. Pertama, kelulusan siswa SMA dan SMP sudah diumumkan dan sebentar lagi pengumuman kelulusan SD.

Artinya, lanjut Hamid, kalau lulus dan tahun ajaran baru digeser maka anak yang lulus tersebut mau dikemanakan jika tahun ajaran baru diundur.

"Termasuk juga perguruan tinggi yang sudah melakukan seleksi. Ada SNMPTN yang sudah berlangsung dan awal Juli mendatang SBMPTN," kata dia.

Meski masa tahun ajaran baru tidak berubah, Kemendikbud memastikan pola pembelajarannya akan berbeda. Disesuaikan dengan kondisi saat ini, di mana Indonesia sedang dilanda pandemi Covid-19.

Pembelajaran akan dilakukan tergantung zona yang ada di daerah itu. Jika zona hijau, maka pembelajaran tatap muka dapat diselenggarakan. Sementara zona kuning dan merah maka akan melanjutkan pembelajaran daring.

"Nah untuk zona hijau, menurut Gugus Tugas ada sekitar 108 kabupaten/kota yang selama dua bulan terakhir, belum ada satupun kasus Covid-19," ucap dia.

Namun, dia menegaskan, penetapan zona hijau, kuning dan merah ditetapkan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 dan Kementerian Kesehatan. Pemerintah daerah tidak bisa menetapkannya sendiri. Kalau pun diperbolehkan pembelajaran tatap muka, harus tetap mengikuti protokol kesehatan.

"Untuk mekanismenya, kita menunggu keputusan Mendikbud pekan depan. Itu seperti apa nanti akan dijelaskan. Kemungkinan untuk zona yang ada Orang Dalam Pengawasan (ODP) dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau zona kuning dan merah, tetap menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh," kata dia.

Dalam kesempatan itu, dia juga menegaskan bahwa tahun ajaran baru bukan berarti sekolah kembali dibuka untuk semua daerah.

"Kadang-kadang ini menjadi rancu, tahun ajaran baru dikira dimulainya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. Itu tidak benar. Tahun ajaran baru yang dimaksud adalah dimulainya tahun pelajaran baru 2020/2021. Untuk pembukaan sekolahnya tergantung zona dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19" kata Hamid lagi.

Saat ini, Kemendikbud sedang mematangkan aturan kegiatan belajar mengajar selama masa pandemi Covid-19.

"Sudah (disiapkan)," kata Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (PAUD Dikdasmen), Hamid Muhammad saat dikonfirmasi Liputan6.com, Selasa (2/6).

Hamid enggan menyebut garis besar isi dari aturan tersebut. Dia hanya mengatakan Mendikbud Nadiem Makarim yang akan memutuskan aturan tersebut. "Nanti setelah diputuskan oleh Mendikbud," ungkapnya.

Daftar Kabupaten dan Kota Yang Masuk Dalam Zona Hijau Covid-19, Bersiap Terapkan New Normal

One Be 5/31/2020
Daftar Kabupaten dan Kota Yang Masuk Dalam Zona Hijau Covid-19, Bersiap Terapkan New Normal

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Nasional Doni Monardo mengungkapkan Presiden Joko Widodo memerintahkan daerah yang masuk zona hijau menerapkan masa kenormalan baru atau new normal.

Kawasan zona hijau Covid-19 tersebut merupakan wilayah yang belum terdampak virus corona atau Covid-19.

"Kemarin tanggal 29 Mei 2020 bahwa Presiden Jokowi memerintahkan Ketua Gugus Tugas untuk pemerintah kabupaten kota yang saat ini berada dalam zona hijau untuk melaksanakan kegiatan masyarakat produktif dan aman Covid-19," ujar Doni Monardo di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (30/5/2020).

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, saat ini terdapat 102 kabupaten yang masuk dalam zona hijau.

Meski begitu, Doni menegaskan agar new normal dijalani dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Menurutnya, masyarakat dan pemerintah daerah harus tetap mewaspadai penyebaran virus corona.

"Berdasarkan protokol kesehatan yang ketat dengan kehati-hatian serta tetap waspada terhadap Covid-19 dan seterusnya," ucap Doni.

Selain itu, daerah tersebut juga diharuskan melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap masyarakatnya.

"Setiap daerah juga harus memperhatikan ketentuan tentang testing yang masih tracing, yang agresif, isolasi yang ketat, serta treatment yang dapat menyembuhkan pasien," ujar Doni.

11 Indikator

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 telah membagi kategori daerah sesuai dengan tingkat risiko penyebaran virus corona.

Pakar Informatika Penyakit Menular dan Epidemiologi pada Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan ada 11 indikator untuk menentukan sebuah wilayah masuk zona hijau.

Saat ini, ada 102 kabupaten kota yang masuk dalam zona hijau. "Menggunakan indikator tersebut sudah terdapat 102 kabupaten kota yang tidak terdampak sampai dengan hari kemarin," ujar Dewi di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu (30/5/2020).

Berdasarkan arahan Presiden Joko Widodo, 102 kabupaten kota tersebut telah dapat menjalankan kehidupan kenormalan baru atau new normal.

Berikut daftar 102 Kabupaten yang telah masuk dalam zona hijau:

Sumatera Utara
1. Nias Barat
2. Pakpak Bharat
3. Samosir
4. Tapanuli Utara
5. Nias
6. Padang Lawas Utara
7. Labuhanbatu Selatan
8. Kota Sibolga
9. Tapanuli Selatan
10. Humbang Hasundutan
11. Nias utara
12. Mandailing Natal
13. Padang Lawas
14. Kota Gunungsitoli
15. Nias selatan

Aceh
1. Pidie Jaya
2. Aceh Singkil
3. Bireuen
4. Aceh Jaya
5. Nagan Raya
6. Kota Subulussalam
7. Aceh Tenggara
8. Aceh Tengah
9. Aceh Barat
10. Aceh Selatan
11. Kota Sabang
12. Kota Langsa
13. Aceh Timur
14. Aceh besar

Jambi
1. Kerinci

Bengkulu
1. Rejang Lebong

Lampung
1. Lampung Timur
2. Mesuji

Kepulauan Riau
1. Natuna
2. Lingga
3. Kepulauan Anambas

Riau
1. Rokan Hilir
2. Kuantan Singigi

Sumatera Selatan
1. Kota Pagar Alam
2. Penukal Abab Lematang Ilir
3. Ogan Komering Ulu Selatan
4. Empat Lawang

Papua
1. Yakuhimo
2. Mappi
3. Dogiyai
4. Kepulauan Yapen
5. Paniai
6. Tolikara
7. Yalimo
8. Deiyai
9. Puncak Jaya
10. Mamberamo Raya
11. Nduga
12. Pegunungan Bintang
13. Asmat
14. Supiori
15. Lanny Jaya
16. Puncak
17. Intan Jaya

Maluku
1. Kota Tual
2. Malukur Tgr. Barat
3. Maluku Tenggara
4. Kepulauan Aru
5. Maluku Barat Daya

Papua Barat
1. Kalimana
2. Tambrauw
3. Sorong Selatan
4. Maybrat
5. Pegunungan Arfak

Maluku Utara
1. Halmahera Tengah
2. Halmahera Timur

Sulawesi Utara
1. Bolaang Mongondow TImur
2. Kep. Siau Tagulandang Biaro

Sulawesi Selatan
1. Toraja Utara

Sulawesi Tenggara
1. Buton Utara
2. Buton Selatan
3. Buton
4. Konawe Utara
5. Konawe Kepulauan

Sulawesi Tengah
1. Donggala
2. Tojo Una-una
3. Banggai Laut

Sulawesi Barat
1. Mamasa

Gorontalo
1. Gorontalo Utara

NTT
1. Ngada
2. Sumba Tengah
3. Sumba Barat Daya
4. Alor
5. Sumba Barat
6. Lembata
7. Malaka
8. Rote Ndao
9. Manggarai Timur
10. Timor Tengah Utara
11. Sabu Raijua
12. Kupang
13. Belu
14. Timor Tengah Selatan

Kalimantan Tengah
1. Sukamara

Kalimantan Timur
1. Mahakam Ulu

Jawa Tengah
1. Tegal

Kep. Bangka Belitung
1. Belitung Timur

Artikel ini telah tayang di tribunnews.com

Prihatin, 77 Anak di NTB Positif COVID-19

One Be 5/28/2020
Prihatin, 77 Anak di NTB Positif COVID-19

Kepala Dinas Kesehatan Nusa Tenggara Barat (NTB) dr Nurhandini Eka Dewi mengungkapkan ada 77 anak yang dinyatakan positif COVID-19. Ada tiga anak-anak yang telah meninggal dunia.

"Dari jumlah positif COVID-19 di NTB, 77 orang di antaranya anak-anak. Didominasi bayi dan balita, bahkan tiga di antaranya meninggal dunia," ujarnya saat memberikan keterangan pers di Mataram, Rabu (27/5/2020), seperti dilansir Antara.

Dokter Eka--sapaan akrabnya--menjelaskan kasus anak positif COVID-19 di NTB bahkan tertinggi kedua di Indonesia, setelah Provinsi Jawa Timur (Jatim).

"Kenapa kasus anak-anak meningkat, karena secara tubuh bayi dan balita secara imunitas belum sempurna, sehingga gampang tertular," katanya.

Ia mencontohkan dalam kasus pasien balita asal Desa Jeringo, Kabupaten Lombok Barat. Dia mengatakan balita tersebut tertular COVID-19 tidak melalui kedua orang tuanya, melainkan akibat diajak ke pasar.

"Kedua orang tuanya pas diperiksa negatif. Kuat dugaannya anaknya terkena saat dibawa oleh orang tuanya sering ke pasar," katanya.

Ia menjelaskan cara terbaik menghindarkan anak-anak terpapar COVID-19 adalah para orang tua tidak mengajak anak-anak keluar dari rumah, tapi harus tetap di dalam rumah.

"Meski anak-anak dilengkapi masker, seyogianya tidak diajak ke luar rumah, apalagi masih bayi. Maksimal anak-anak itu memakai masker hanya satu jam, lebih dari itu tidak boleh. Kenapa tidak boleh berlama-lama pakai masker, karena napas bayi pendek tidak seperti orang dewasa," kata Eka.

Eka menyatakan, meski kasus anak positif COVID-19 tertinggi kedua di Indonesia, setelah Jatim, NTB menjadi model contoh nasional merujuk rekomendasi pemerintah pusat melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Ia menjelaskan semua anak yang kena pnemonia dimasukkan ke dalam pasien dalam pengawasan (PDP) sehingga ditangani intensif oleh tenaga medis serta dimasukkan ke ruang isolasi.

"Dengan demikian, mereka akan ditangani secara medis dan perawatannya dilakukan di ruang isolasi di semua fasilitas kesehatan di NTB," ucap Eka.

Pihaknya mengimbau masyarakat tetap mematuhi protokol COVID-19 dengan tidak keluar dari rumah, memakai masker, mencuci tangan, dan menerapkan jaga jarak.

"Selain itu, diharapkan masyarakat tidak menganggap remeh COVID-19 maupun abai terhadap anjuran pemerintah. Hal ini tidak lain untuk mencegah lebih banyak lagi masyarakat, termasuk di dalamnya anak-anak, terpapar COVID-19," katanya.

Hingga Selasa (26/5), jumlah pasien positif COVID-19 di Provinsi NTB 537 orang, dengan rincian 272 orang sudah sembuh, sembilan meninggal dunia, serta 256 orang masih positif dan dalam keadaan baik.

Artikel ini telah tayang di news.detik.com

New Normal, 25 Daftar Kabupaten dan Kota Yang Dijaga TNI dan POLRI

One Be 5/27/2020
New Normal, 25 Daftar Kabupaten dan Kota Yang Dijaga TNI dan POLRI

Pasukan TNI dan Polri dikerahkan ke 1.800 titik di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota untuk mendisiplinkan masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan demi menuju kondisi normal baru atau new normal.

Presiden Jokowi mengatakan, pengerahan pasukan TNI dan Polri dimulai Selasa (26/5).

"Mulai hari ini akan digelar oleh TNI dan Polri, pasukan untuk berada di titik-titik keramaian dalam rangka mendisiplinkan, lebih mendisiplinkan masyarakat agar mengikuti protokol kesehatan sesuai PSBB. 

Akan digelar di 4 provinsi dan 25 kabupaten kota mulai hari ini," kata Presiden Jokowi, di Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Selasa.

Presiden Jokowi meninjau Stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat dan Mal Summarecon, Bekasi, Selasa, untuk meninjau kesiapan penerapan prosedur standar new normal di sarana publik dan sarana perniagaan.

Berikut adalah daftar provinsi, kabupaten dan kota yang akan dijaga 340 ribu pasukan TNI/Polri:

Provinsi:
1. DKI Jakarta
2. Jawa Barat
3. Sumatera Barat
4. Gorontalo.

Kabupaten/kota
1. Kota Pekanbaru
2. Kota Dumai
3. Kabupaten Kampar
4. Kabupaten Pelalawan
5. Kabupaten Siak
6. Kabupaten Bengkalis
7. Kota Palembang
8. Kota Prabumulih
9. Kota Tangerang
10. Kota Tangerang Selatan
11. Kabupaten Tangerang
12. Kota Tegal
13. Kota Surabaya
14. Kota Malang
15. Kota Batu
16. Kabupaten Sidoarjo
17. Kabupaten Gresik
18. Kabupaten Malang
19. Kota Palangkaraya
20. Kota Tarakan
21. Kota Banjarmasin
22. Kota Banjar Baru
23. Kabupaten Banjar
24. Kabupaten Barito Kuala
25. Kabupaten Buol

"Kita harapkan kurva dari penyebaran COVID ini akan semakin menurun, kita melihat R0 (Reproduction Number, Red) di beberapa provinsi sudah di bawah 1 dan kita harap semakin hari makin turun dengan digelarnya pasukan dari TNI dan Polri di lapangan," kata Presiden Jokowi.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto mengatakan pelaksanaan pendisiplinan protokol kesehatan itu akan dilaksanakan bertahap.

"Seperti saat ini di tempat lalu lintas masyarakat, stasiun kereta, kemudian siang nanti rencananya Presiden juga akan meninjau adalah tempat niaga khususnya 'food hall' di Bekasi dan tempat-tempat untuk mendukung kepentingan masyarakat, seperti apotek, penjualan obat terus kita awasi," kata Hadi.

Pada tahap pertama, pasukan TNI-Polri rencananya akan mengatur kapasitas tempat-tempat publik tersebut agar hanya diisi setengah pengunjung.

Misalnya mal dengan kapasitas 1.000 orang hanya akan diizinkan untuk 500 orang saja dan diawasi, kemudian tempat makan dari kapasitas 500 orang hanya untuk 200 orang.

"Yang kita laksanakan adalah pertama harus seluruh masyarakat kita awasi supaya tetap memakai masker, kedua dalam berkegiatan harus menjaga jarak aman, kemudian kita sediakan tempat mencuci tangan atau hand sanitizer, mudah-mudahan dengan kegiatan ini tahap pertama bisa berjalan dengan baik," kata Hadi pula. (Sumber; JPNN.com)

Jokowi: Siap-siap Masyarakat Indonesia Menjalani Kehidupan Era Normal Baru

One Be 5/19/2020
Jokowi: Siap-siap Masyarakat Indonesia Menjalani Kehidupan Era Normal Baru

Virus corona hingga kini masih mewabah hampir di seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, kasus positif virus corona sudah menginjak angka 17 ribu orang. 

Meski segala upaya sudah dilakukan, seperti imbauan untuk di rumah aja hingga PSBB, tetapi tetap saja belum ada perubahan berarti.

Namun, di tengah kepanikan masyarakat yang tak kunjung mendapatkan kepastian soal kapan pandemi ini berakhir, Presiden Jokowi malah meminta masyarakat untuk menghadapi era normal baru.

Apa itu era normal baru?

Mengutip dari Kompas.com, kondisi ketika masyarakat bisa kembali beraktivitas secara normal, tetapi harus tetap memperhatikan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19.

"Bapak Presiden menekankan pentingnya kita harus bersiap siaga untuk menghadapi era normal baru, kehidupan normal baru," kata Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy usai rapat dengan Presiden, Senin (18/05).

"Di mana kita akan berada dalam situasi yang beda dengan normal sebelumnya," tutur dia.
Muhadjir mengakui, dalam rapat tersebut dibahas upaya untuk melakukan relaksasi atau pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Relaksasi ini dilakukan dalam rangka untuk meningkatkan atau memulihkan produktivitas ekonomi. Namun, belum diputuskan kapan relaksasi akan dilaksanakan.

"Untuk itu, kemudian Bapak Presiden telah menetapkan perlunya ada kajian yang cermat dan terukur, dan melibatkan banyak pihak untuk mempersiapkan tahapan-tahapan pengurangan PSBB," ucap Muhadjir.

Hidup pada era normal baru sebelumnya juga sempat disampaikan langsung oleh Jokowi.
Kepala Negara menegaskan bahwa masyarakat harus hidup berdampingan dengan Covid-19 karena sampai saat ini vaksin belum ditemukan.

Tak ada yang mengetahui pasti kapan pandemi akan berakhir.

"Kebutuhan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini. Itu keniscayaan, itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru," kata Presiden pada Jumat pekan lalu.

Hingga Minggu (17/05), jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia tercatat mencapai 17.514 kasus. Dari jumlah itu, 4.129 orang dinyatakan sembuh dan 1.148 orang lainnya meninggal dunia.

Sekolah Akan Dibuka Kembali, Inilah Panduan Bagi Guru dan Siswa Mencegah COVID-19

One Be 5/19/2020
Sekolah Akan Dibuka Kembali, Inilah Panduan Bagi Guru dan Siswa Mencegah COVID-19

Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) berencana sekolah akan dibuka di tahun ajaran baru, bulan Juli mendatang. Kemendikbud memastikan tak melakukan pengunduran tahun ajaran baru sekolah. Di sisi lain, pandemi virus corona Covid-19 belum tampak akan berakhir.

Oleh karena itu, jika kebijakan membuka kembali sekolah dan proses pembelajaran di kelas, maka perlu sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Epidemiolog dr Dicky Budiman M.Sc.PH, PhD (Cand) Global Health Security CEPH Griffith University mengatakan, pelaksanaan pola hidup baru dan pola kehidupan lainnya di berbagai sektor dan tingkatan selama pandemi Covid-19 harus mulai disosialisasikan.

Hal tersebut penting mengingat potensi besar bahwa pandemi ini akan berlangsung lama, bahkan cenderung menjadi endemik.


"Sekaligus saya tidak sependapat dengan adanya pernyataan salah satu lembaga survey pemilu yang menyatakan pandemi ini akan selesai Juni," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2020).

Dicky yang telah terlibat dalam penanganan pandemi hampir 18 tahun sejak wabah SARS, HIV, dan flu burung ini menuturkan, penerapan pola kerja baru dan sekolah baru haruslah dipersiapkan dengan matang.

Dia menambahkan, pelaksanaannya baru bisa atau boleh dilakukan jika kesiapan perangkat dan prosedur skrining telah dipenuhi.

"Bila belum dilakukan skrining maka sangat tidak dianjurkan untuk dipaksakan karena berbahaya," ujar dia.

Dicky mengungkapkan, potensi penularan Covid-19 dapat terjadi baik pada orang dewasa muda dan anak-anak. Bahkan, hal ini dapat berakibat fatal atau kematian.

Dicky pun memberikan panduan umum pelaksanaan pola sekolah baru dan kerja baru di tengah pandemi yang saat ini terjadi.

Panduan umum pelaksanaan pola sekolah baru:

1. Proses skrining kesehatan bagi guru dan karyawan sekolah

Karyawan dengan obesitas, diabetes, penyakit jantung, paru dan pembuluh darah, kehamilan, kanker, atau daya tahan tubuh lemah atau menurun, tidak disarankan untuk mengajar atau bekerja di sekolah. Golongan-golongan tersebut dapat diberikan opsi work from home (WFH).

2. Skrining zona lokasi tempat tinggal
Melakukan identifikasi zona tempat tinggal guru dan karyawan. Jika tinggal di zona merah disarankan bekerja di lokasi sekolah dekat tempat tinggalnya.

3. Lakukan test Covid-19
Test disarankan dengan metode RT-PCR sesuai standar WHO.
Jika secara teknis terdapat keterbatasan biaya atau reagen maka dapat dilakukan opsi pooling test dengan jumlah sampel kurang dari 30

4. Guru dan karyawan yang telah lolos tahapan skrining diberi tanda
Bagi guru dan karyawan yang telah lolos tahapan skrining untuk Covid-19, maka dapat diberikan tanda.

5. Sosialisasi virtual
Seminggu sebelum kegiatan belajar mengajar diberlakukan, lakukan sosialisasi virtual pola baru ke orang tua, siswa, guru, dan staf sekolah.

6. Atur waktu kegiatan belajar mengajar
Waktu kegiatan belajar diatur agar tidak bersamaan dengan waktu padat lalu lintas dan dikurangi durasi di sekolah.

7. Data dan cek kondisi
Guru kelas terpilih wajib mendata dan cek kondisi siswa dan orang tua siswa secara virtual sebagai skrining awal. Siswa atau orang tua siswa yang sakit diberikan keringanan tetap belajar di rumah hingga dokter menentukan sehat.

8. Posisi duduk
Pengaturan posisi duduk di ruang kelas dan ruang guru minimal berjarak 1,5 meter. Bila memungkinkan pakai pembatas plastik.

9. Guru tidak berpindah kelas
Guru kelas diupayakan tetap atau tidak berpindah kelas.

10. Menjaga jarak
Guru tetap menjaga jarak dari siswa dan tidak mobile.

11. Skrining harian
Skrining harian sebelum berangkat untuk guru, siswa dan karyawan lewat handphone. Jika suhu di atas 38 derajat, batuk, pilek, gangguan kulit, mata, muntah, diare, tidak selera makan atau keluhan lain, maka jangan ke sekolah. Fasilitasi kontak puskesmas, klinik, atau RS terdekat.

12. Tidak berkumpul
Pengantar atau penjemput berhenti di lokasi yang ditentukan dan di luar lingkungan sekolah, serta dilarang menunggu atau berkumpul. Hanya berhenti, turunkan, kemudian pergi tinggalkan sekolah.

13. Skrining fisik
Di pintu masuk sekolah, lakukan skrining fisik untuk guru, siswa, atau karyawan yang meliputi suhu, harus bermasker kain dan tidak tampak sakit.

14. Penerapan aturan pola sekolah baru
Penerapan aturan pola sekolah baru yang mengadopsi upaya pencegahan Covid-19. Aturan pola baru meliputi selalu wajib bermasker, pengaturan jarak, tidak menyentuh, membiasakan cuci tangan, penyediaan wastafel dan hand sanitizer pada beberapa lokasi sekolah. Selain itu, tidak ada pedagang luar atau kantin dan siswa dapat membawa bekal sendiri dari rumah.

15. Informasi pencegahan corona
Pemasangan informasi pencegahan Covid seperti di gerbang sekolah dan kelas.

16. Disinfektan
Menjaga kebersihan kelas, meja dan kursi belajar dengan disinfektan setiap hari

17. Tutup tempat bermain
Meniadakan atau menutup tempat bermain atau berkumpul

18. WFH bagi yang bepergian
Guru, karyawan atau siswa yang pulang bepergian ke luar kota dan luar negeri, diberi waktu WHF atau belajar dari rumah selama 14 hari

19. Disiapkan dukungan UKS dan psikologis harian di sekolah
Pemerintah daerah wajib menurunkan petugas medis secara berkala ke sekolah, juga secara reguler dilakukan pemeriksaan secara sampling di sekolah.

Sementara itu, aturan spesifik lain disesuaikan dengan lokasi dan kondisi.
"Kegiatan belajar mengajar relatif aman dilakukan jika seluruh tahapan ini dilakukan. Jika belum siap maka tidak boleh dipaksakan," tegas Dicky.

Artikel ini juga telah tayang di tribunnews.com
Source; https://pontianak.tribunnews.com/2020/05/19/siswa-kembali-masuk-sekolah-ini-panduan-mencegah-murid-dan-guru-tertular-corona-covid-19