Showing posts with label Siswa. Show all posts
Showing posts with label Siswa. Show all posts

Stempel Cap Nilai Emoji Keterangan dan Penjelasannya.

Stempel Cap Nilai Emoji Keterangan dan Penjelasannya.

BlogPendidikan.net
- Memberikan nilai kepada siswa dengan emoji bisa menjadi cara yang kreatif untuk memberikan umpan balik atau mengekspresikan penilaian terhadap kinerja mereka. Namun, perlu diingat bahwa emoji mungkin bisa diartikan dengan berbagai cara oleh siswa dan orang lain, jadi pastikan untuk memilih emoji yang sesuai dan dapat dipahami dengan baik. 

Berikut beberapa contoh emoji yang bisa Anda gunakan untuk memberikan nilai kepada siswa:

Emoji: 😃
Penjelasan: Nilai sangat baik!
Angka: 95-100

Emoji: 👍
Penjelasan: Pekerjaan yang bagus, terus pertahankan!
Angka: 88-94

Emoji: 😀
Penjelasan: Hasil yang memuaskan!
Angka: 80-87

Emoji: 😊
Penjelasan: Kerja keras terlihat, tetap semangat!
Angka: 75-79

Emoji: 😌
Penjelasan: Perlu sedikit perbaikan, tetapi Anda sedang dalam jalur yang benar.
Angka: 60-74

Emoji: 😐
Penjelasan: Tugas ini memerlukan perhatian lebih. Silakan perbaiki.
Angka: 50-59

Emoji: 😕
Penjelasan: Tampaknya masih ada kebingungan. Kami harap Anda bisa memahami materi lebih baik.
Angka: 40-49

Emoji: 😔
Penjelasan: Hasilnya masih belum memuaskan. Diperlukan perbaikan yang signifikan.
Angka: 30-39

Emoji: 🙁
Penjelasan: Kami prihatin dengan hasil ini. Silakan cari bantuan jika Anda mengalami kesulitan.
Angka: 20-29

Emoji: 😢
Penjelasan: Kami tahu Anda bisa lebih baik dari ini. Cari cara untuk meningkatkan hasil Anda.
Angka: 10-19

😀 = A
😄 = A-
😊 = B+
😌 = B
😐 = B-
😕 = C+
😟 = C
😞 = C-
😢 = D
😭 = F

😃👍 = A (Sangat Baik)
🙂👍 = B (Baik)
😐🤔 = C (Cukup)
😟👎 = D (Kurang)
😭👎 = F (Gagal)

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

5 Kemampuan Yang Harus Dimiliki Siswa Abad 21

5 Kemampuan Yang Harus Dimiliki Siswa Abad 21

BlogPendidikan.net
- Kemampuan siswa abad 21 adalah kemampuan atau keterampilan yang harus dimiliki dan dibutuhkan siswa dimasa depan untuk sukses di dunia kerja abad 21. Kemampuan ini mencakup berpikir kritis, pemecahan masalah, kolaborasi, komunikasi, dan kreativitas.

Berikut adalah 5 kemampuan siswa abad 21:

1. Berpikir kritis. 

Siswa abad 21 dapat berpikir kritis untuk menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan membuat keputusan yang rasional. Mereka juga mampu mengidentifikasi masalah dan mengembangkan solusi.

2. Memecahkan masalah. 

Siswa abad 21 dapat memecahkan masalah dengan cara yang kreatif dan inovatif. Mereka juga mampu mengidentifikasi masalah dan mengembangkan solusi.

3. Kolaborasi.

Siswa abad 21 dapat bekerja sama dengan orang lain secara efektif untuk mencapai tujuan bersama. Mereka juga dapat menghargai pendapat dan kontribusi orang lain.
4. Komunikasi. 

Siswa abad 21 dapat berkomunikasi secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis. Mereka juga dapat memahami dan menanggapi pertanyaan dengan jelas dan ringkas.

5. Kreativitas.

Siswa abad 21 dapat berpikir kreatif untuk menghasilkan ide-ide baru dan inovatif. Mereka juga mampu memecahkan masalah dengan cara yang baru dan berbeda.

Kemampuan abad 21 penting untuk dimiliki siswa dan bagaimana kita sebagai pendidik menanamkan, agar siswa mampu memiliki kemampuan tersebut untuk mempersiapkan mereka di era yang sangat maju.

Ada banyak cara untuk mengembangkan kemampuan abad 21, termasuk:

1. Mengambil kelas atau kursus yang berfokus pada pengembangan keterampilan abad 21.
2. Mengerjakan proyek atau tugas yang mengharuskan Anda menggunakan keterampilan abad 21.
3. Bersosialisasi dengan orang yang memiliki keterampilan abad 21.
4. Membaca buku dan artikel tentang keterampilan abad 21.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Cara Membuat Kesepakatan Kelas Beserta Contohnya

Cara Membuat Kesepakatan Kelas Beserta Contohnya

BlogPendidikan.net
- Kesepakatan kelas adalah aturan yang dibuat oleh guru dan siswa bersama-sama untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif. Kesepakatan kelas ini penting karena dapat membantu siswa untuk:

1. Mengembangkan karakter yang baik, seperti menghormati, bertanggung jawab, dan bekerja sama.
2. Belajar dengan lebih efektif dan efisien.
3. Merasa nyaman dan aman di kelas.
4. Berkontribusi secara positif pada kelas.

Kesepakatan kelas ini penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif. Dengan mengikuti kesepakatan ini, siswa dapat belajar dengan lebih efektif dan efisien. 

Selain itu, kesepakatan ini juga dapat membantu siswa untuk mengembangkan karakter yang baik, seperti menghormati, bertanggung jawab, dan bekerja sama.

Ada beberapa cara untuk membuat kesepakatan kelas, yaitu:

1. Dapatkan masukan dari siswa. 

Siswa harus merasa bahwa mereka memiliki suara dalam membuat kesepakatan kelas. Ini akan membuat mereka lebih mungkin untuk mengikuti kesepakatan tersebut.

2. Buat kesepakatan yang singkat dan jelas. 

Kesepakatan yang terlalu panjang dan rumit akan sulit untuk diingat dan diikuti.

3. Buat kesepakatan yang realistis. 

Kesepakatan yang tidak realistis akan sulit untuk dicapai.

4. Evaluasi kesepakatan secara berkala. 

Kesepakatan kelas harus dievaluasi secara berkala untuk memastikan bahwa masih relevan dan efektif.

Berikut adalah contoh kesepakatan kelas yang dapat Anda buat:

1. Kami akan hadir tepat waktu dan siap belajar.
2. Kami akan mendengarkan dengan baik saat guru berbicara.
3. Kami akan menghormati pendapat teman-teman kami.
4. Kami akan bekerja sama dalam kelompok.
5. Kami akan menjaga kebersihan kelas.
6. Kami akan bertanggung jawab atas milik kami.
7. Kami akan bersenang-senang dan belajar bersama!

Dengan membuat kesepakatan kelas, Anda dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif. Hal ini akan membuat siswa Anda belajar dengan lebih efektif dan efisien.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Ada Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Nilai Siswa

Ada Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Nilai Siswa

BlogPendidikan.net
- Penilaian siswa adalah proses evaluasi kinerja dan kemajuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Ini melibatkan pengukuran dan penilaian terhadap pemahaman, keterampilan, dan pengetahuan siswa dalam berbagai mata pelajaran atau bidang studi.

Dalam pemberian nilai siswa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar proses penilaian menjadi adil, akurat, dan objektif. 

Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian Nilai Siswa:

1. Kriteria Penilaian yang Jelas.

Tentukan kriteria penilaian dengan jelas sebelumnya, baik berupa rubrik penilaian, skala penilaian, atau indikator penilaian yang akan digunakan. Kriteria ini harus relevan dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan dan dijelaskan dengan baik kepada siswa sebelum tugas atau ujian dilakukan.
2. Transparansi.

Pastikan siswa memahami bagaimana mereka akan dinilai dan apa yang diharapkan dari mereka. Jelaskan kepada siswa mengenai bobot penilaian setiap aspek yang dinilai dan berikan contoh-contoh kriteria yang baik.

3. Penggunaan Beragam Instrumen Penilaian.

Gunakan beragam instrumen penilaian seperti tes tertulis, tugas proyek, presentasi, observasi kinerja, atau diskusi kelompok. Hal ini akan membantu menggambarkan kemampuan siswa secara lebih komprehensif daripada hanya menggunakan satu jenis penilaian saja.

4. Pertimbangkan Berbagai Aspek Kemampuan.

Saat memberikan nilai, perhatikan berbagai aspek kemampuan siswa, termasuk pengetahuan, pemahaman konsep, penerapan, analisis, sintesis, kreativitas, kerjasama, dan kemampuan komunikasi. Jangan hanya fokus pada satu aspek saja, tetapi pertimbangkan keseluruhan kemampuan siswa.

5. Konsistensi.

Penting untuk memberikan penilaian yang konsisten kepada seluruh siswa. Gunakan standar yang sama dalam penilaian untuk menghindari bias atau perlakuan yang tidak adil. Periksa kesamaan kualitas dalam penilaian antara siswa satu dengan siswa lainnya.
6. Perhatikan Perkembangan Siswa.

Selain memberikan nilai akhir, perhatikan juga perkembangan siswa dari waktu ke waktu. Berikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu siswa meningkatkan kemampuan mereka. Pertimbangkan penggunaan penilaian formatif yang memberikan informasi tentang kekuatan dan kelemahan siswa secara terus-menerus.

7. Keterbukaan terhadap Diskusi.

Jika siswa memiliki pertanyaan atau keberatan mengenai penilaian, berikan kesempatan untuk berdiskusi dan memberikan klarifikasi. Jaga komunikasi terbuka dengan siswa untuk menghindari ketidakpuasan yang mungkin timbul.

8. Pertimbangkan Konteks Individu.

Ketahui konteks individu siswa, termasuk latar belakang, kebutuhan khusus, atau tantangan yang mereka hadapi. Ini dapat membantu dalam memahami dan menilai kemajuan siswa secara lebih holistik.

9. Catatan dan Dokumentasi.

Pastikan untuk mencatat dan mendokumentasikan hasil penilaian dengan cermat. Ini akan membantu dalam memberikan umpan balik kepada siswa, memberikan bukti penilaian yang adil, dan memfasilitasi pelaporan kemajuan siswa kepada orang tua atau pihak yang berkepentingan lainnya.
10. Evaluasi Diri.

Melibatkan siswa dalam proses penilaian diri mereka sendiri dapat memberikan wawasan yang berharga tentang pemahaman mereka terhadap materi dan kemajuan mereka. Berikan kesempatan bagi siswa untuk merefleksikan pencapaian mereka dan membuat rencana untuk meningkatkan prestasi mereka di masa depan.

Semua hal ini akan membantu menciptakan proses penilaian yang adil, transparan, dan bermakna bagi siswa dalam upaya meningkatkan pembelajaran mereka

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

15 Teknik Membuka dan Memulai Pembelajaran Agar SIswa Antusias dan Bersemangat

15 Teknik Membuka dan Memulai Pembelajaran Agar SIswa Antusias dan Bersemangat

BlogPendidikan.net
- Teknik membuka pembelajaran merupakan metode atau strategi yang digunakan oleh seorang pendidik untuk memulai sesi pembelajaran agar siswa tertarik, bersemangat, dan siap untuk belajar.

Tujuan dari teknik membuka pembelajaran adalah untuk menciptakan suasana belajar yang positif, membangkitkan minat siswa, dan mempersiapkan mereka secara mental dan emosional untuk menerima materi pembelajaran.

Berikut ini adalah 15 teknik yang dapat Anda gunakan untuk membuka dan memulai pembelajaran agar siswa antusias dan bersemangat:

1. Buat suasana menyambut yang positif

Sambut siswa dengan senyuman dan ucapan hangat saat mereka masuk ke dalam kelas. Buatlah lingkungan yang menyenangkan dengan musik latar yang menenangkan atau bahan dekorasi menarik.
2. Icebreaking atau permainan penghangat

Mulailah pembelajaran dengan permainan sederhana atau aktivitas icebreaker yang dapat memancing antusiasme siswa. Ini membantu memecah kekakuan awal dan membantu siswa merasa lebih santai dan terlibat.

3. Hubungkan materi dengan kehidupan nyata

Jelaskan kepada siswa mengapa materi yang akan mereka pelajari penting dan relevan dalam kehidupan sehari-hari. Bawakan contoh-contoh yang menarik atau cerita yang memperlihatkan aplikasi praktis dari konsep yang akan diajarkan.

4. Variasi metode pengajaran

Gunakan berbagai metode pengajaran seperti ceramah singkat, diskusi kelompok, presentasi, demonstrasi, atau kegiatan praktik langsung. Menggunakan variasi metode pengajaran membantu menjaga minat siswa dan mencegah kebosanan.

5. Tampilkan antusiasme dan energi

Tunjukkan antusiasme Anda terhadap materi yang diajarkan. Siswa cenderung lebih tertarik dan antusias jika mereka melihat bahwa guru mereka juga bersemangat tentang topik tersebut.

6. Berikan tantangan

Buatlah tantangan atau proyek menarik yang memotivasi siswa untuk belajar. Hal ini dapat melibatkan kompetisi sehat atau pemberian hadiah kecil untuk prestasi atau usaha siswa.
7. Kenali minat dan kebutuhan siswa

Coba kenali minat dan kebutuhan siswa secara individu. Sesuaikan pembelajaran dengan minat mereka dan berikan kesempatan bagi siswa untuk berkontribusi dan berbagi ide mereka.

8. Berikan umpan balik positif

Selalu berikan umpan balik positif kepada siswa tentang usaha mereka dan kemajuan yang mereka buat. Hal ini mendorong dan membangun kepercayaan diri siswa.

9. Libatkan siswa secara aktif

Berikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Ajak mereka untuk berdiskusi, bertanya, atau berbagi pendapat mereka. Ini membantu meningkatkan keterlibatan dan antusiasme siswa.

10. Jadikan pembelajaran menyenangkan

Integrasikan elemen-elemen kreatif, seperti permainan pendidikan, video pendek yang menarik, atau aktivitas praktis yang menarik untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan menarik bagi siswa.

11. Pertanyaan Awal

Guru dapat memulai pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan yang menarik dan relevan terkait topik yang akan dipelajari. Pertanyaan ini bertujuan untuk merangsang pemikiran siswa dan membuat mereka berpikir secara aktif.

12. Cerita Pendek atau Anekdot

Guru dapat memulai pembelajaran dengan menceritakan kisah pendek atau anekdot yang terkait dengan topik pembelajaran. Cerita tersebut dapat memancing minat dan perhatian siswa serta mempersiapkan mereka untuk memahami konsep yang akan diajarkan.
13. Demonstrasi atau Percobaan

Guru dapat melakukan demonstrasi atau percobaan yang menarik untuk memperkenalkan konsep pembelajaran. Hal ini dapat membangkitkan rasa ingin tahu siswa dan membuat mereka terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran.

14. Gambar atau Visualisasi

Guru dapat menggunakan gambar, grafik, atau visualisasi lainnya untuk menggambarkan konsep yang akan dipelajari. Ini membantu siswa memahami materi secara visual dan mengaktifkan imajinasi mereka.

15. Aktivitas Kelompok atau Diskusi

Mengadakan aktivitas kelompok atau diskusi ringan sebelum memulai materi pembelajaran dapat membantu siswa saling mengenal, merasa nyaman, dan membangun keterlibatan. Ini juga membantu menciptakan suasana kolaboratif dalam kelas.

Dengan menggunakan teknik-teknik tersebut, diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman pembelajaran yang lebih bermakna dan efektif.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Contoh Kata-kata Penguatan Sebagai Catatan Motivasi di Rapor Siswa

Contoh Kata-kata Penguatan Sebagai Catatan Motivasi di Rapor Siswa

BlogPendidikan.net
- Penerimaan rapor biasanya merujuk pada proses di mana siswa menerima rapor akhir yang memperlihatkan hasil belajar mereka selama suatu periode, seperti semester atau tahun ajaran.

Penerimaan rapor adalah proses di mana siswa menerima laporan hasil belajar mereka yang biasanya diberikan oleh sekolah. 

Rapor memberikan informasi tentang prestasi akademik siswa, penilaian kinerja, serta kemajuan mereka dalam berbagai aspek pembelajaran.
Penerimaan rapor merupakan momen penting bagi siswa dan orang tua untuk mengevaluasi perkembangan belajar siswa dan melakukan refleksi serta perencanaan ke depan. Hal ini juga merupakan kesempatan untuk merayakan prestasi dan memotivasi siswa dalam perjalanan pendidikan mereka.

Berikut adalah beberapa contoh kata-kata penguatan yang dapat digunakan dalam catatan di rapor siswa:

1. Bravo! Prestasi yang luar biasa!

2. Selamat! Kerja kerasmu telah membuahkan hasil yang membanggakan.

3. Luar biasa! Terus pertahankan semangat belajarmu.

4. Keren! Hasil kerjamu menunjukkan dedikasi dan keunggulan.

5. Bagus sekali! Terus tingkatkan prestasimu di masa mendatang.

6. Sangat membanggakan! Kemajuanmu dalam belajar sangat luar biasa.

7. Hebat! Pantas mendapatkan penghargaan atas prestasi yang kamu peroleh.

8. Teruslah berusaha! Potensimu sangat besar, dan kamu dapat mencapai lebih banyak lagi.

9. Apresiasi yang tinggi! Belajar dengan sungguh-sungguh telah membuahkan hasil yang baik.

10. Mantap! Siswa yang sangat berdedikasi dan tekun dalam belajar.

11. Selamat atas prestasi yang gemilang! Terus tunjukkan kualitas dirimu di bidang ini.

12. Tidak ada kata lain selain "luar biasa"! Tetap semangat dan jadilah inspirasi bagi teman-teman sekelasmu.

13. Fantastic! Prestasi yang kamu raih merupakan bukti kerja keras dan ketekunanmu.

14. Prestasi yang membanggakan! Teruslah berkarya dan tunjukkan kemampuanmu yang luar biasa.

15. Bravo! Selalu memberikan yang terbaik dalam segala hal yang kamu lakukan.

16. Hebat sekali! Kamu sudah menunjukkan kemajuan yang luar biasa.

17. Aku sangat bangga dengan kerja kerasmu dan dedikasimu.

18. Teruskan usahamu! Kamu sedang membuat kemajuan yang signifikan.

19. Kamu memiliki potensi yang luar biasa. Aku yakin kamu bisa menghadapi tantangan ini.

20. Bravo! Kamu telah menyelesaikan tugas dengan sangat baik.

21. Terima kasih atas usahamu yang sungguh-sungguh. Aku menghargainya.

22. Kamu memiliki kemampuan yang luar biasa. Terus tunjukkan bakatmu!

23. Kamu adalah siswa yang cerdas dan kreatif. Teruslah berinovasi!

24. Selamat! Prestasi yang kamu raih merupakan hasil kerja kerasmu yang tak terbantahkan.

25. Kamu adalah contoh yang menginspirasi bagi teman-temanmu. Teruslah menjadi panutan yang baik.
Pastikan untuk menggunakan kata-kata yang sesuai dengan pencapaian siswa dan memberikan penguatan positif yang memotivasi mereka untuk terus berkembang.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Inilah Langkah-langkah Yang Tepat Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PBL) Guru dan Siswa

Inilah Langkah-langkah Yang Tepat Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning (PBL) Guru dan Siswa

BlogPendidikan.net
- Model pembelajaran Project-Based Learning (PBL) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada pengerjaan proyek nyata atau tugas kompleks yang memerlukan pemecahan masalah, kerjasama antar siswa, dan penerapan pengetahuan dan keterampilan dalam konteks nyata. 

Dalam model ini, siswa belajar melalui pengalaman langsung dalam menjalankan proyek-proyek yang relevan dengan materi pelajaran yang dipelajari.

PBL mengharuskan siswa untuk mengidentifikasi, merencanakan, dan melaksanakan proyek atau tugas yang berbasis pada pertanyaan atau masalah yang dihadapi. 

Mereka harus mengumpulkan informasi, menganalisis data, dan membuat presentasi atau produk akhir yang menunjukkan pemahaman mereka terhadap materi pelajaran. 
Selama proses ini, guru berperan sebagai fasilitator atau mentor yang membantu siswa dalam merumuskan pertanyaan, mengembangkan keterampilan, dan memberikan umpan balik yang konstruktif.

Berikut ini adalah langkah-langkah penerapan model pembelajaran Project Based Learning (PBL) bagi guru dan siswa:

1. Pilihlah topik atau proyek yang relevan

Guru dan siswa dapat bersama-sama memilih topik atau proyek yang relevan dengan materi pelajaran atau minat siswa. Proyek tersebut haruslah memiliki keterkaitan yang kuat dengan dunia nyata agar siswa dapat melihat kaitan antara pembelajaran di kelas dengan kehidupan sehari-hari.

2. Bentuklah tim proyek

Siswa dapat dibagi ke dalam tim-tim kecil yang terdiri dari beberapa anggota. Setiap tim akan bertanggung jawab untuk menyelesaikan proyek yang telah ditetapkan. Pastikan setiap anggota tim memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas agar kerjasama dalam tim dapat terjaga.

3. Identifikasi tujuan pembelajaran

Tentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai melalui proyek tersebut. Tujuan ini harus spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan dapat waktu (SMART). Misalnya, meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep matematika melalui penerapan dalam proyek desain bangunan.
4. Rencanakan langkah-langkah proyek

Bersama dengan siswa, buatlah rencana yang jelas mengenai langkah-langkah yang harus diambil dalam proyek tersebut. Langkah-langkah ini bisa mencakup riset, pengumpulan data, eksperimen, desain, dan pelaksanaan proyek. Pastikan rencana tersebut mengikuti alur logis dan mempertimbangkan waktu yang tersedia.

5. Dorong siswa untuk melakukan riset dan eksplorasi

Berikan siswa akses ke sumber daya yang relevan, seperti buku, jurnal, internet, dan ahli di bidang terkait. Dorong mereka untuk melakukan riset dan eksplorasi secara mandiri untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang topik atau proyek yang mereka kerjakan.

6. Bimbing siswa dalam proses pembelajaran

Guru memiliki peran penting dalam membimbing siswa selama proses pembelajaran. Berikan bimbingan, dorongan, dan dukungan kepada siswa saat mereka menghadapi kendala atau kesulitan dalam proyek mereka. Selain itu, berikan umpan balik yang konstruktif untuk membantu mereka meningkatkan kualitas proyeknya.

7. Implementasikan proyek

Biarkan siswa mengerjakan proyek mereka sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Guru dapat memberikan arahan tambahan atau bantuan teknis jika diperlukan. Pastikan siswa terlibat aktif dalam pelaksanaan proyek dan melibatkan semua anggota tim.

8. Evaluasi dan refleksi

Setelah proyek selesai, lakukan evaluasi terhadap hasil yang dicapai oleh siswa. Evaluasi dapat dilakukan melalui presentasi, laporan tertulis, diskusi, atau bentuk penilaian lainnya. Selain itu, dorong siswa untuk merefleksikan proses pembelajaran yang mereka alami, mengidentifikasi apa yang telah dipelajari, dan mengenali kemungkinan perbaikan di masa depan.
9. Presentasikan proyek

Berikan kesempatan kepada setiap tim untuk mempresentasikan hasil proyek mereka kepada kelas atau audiens lainnya. Proses ini membantu siswa memperoleh pengalaman berbicara di depan umum dan berbagi pengetahuan yang telah mereka peroleh selama proses pembelajaran.

10. Lanjutkan pembelajaran

Setelah proyek selesai, jangan biarkan pembelajaran berakhir di situ. Gunakan proyek tersebut sebagai dasar untuk melanjutkan pembelajaran lebih lanjut. Buatlah kaitan dengan materi pelajaran lainnya dan dorong siswa untuk menghubungkan pengalaman proyek dengan kehidupan nyata.

Model PBL bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang mendalam, keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan pemecahan masalah siswa. Dengan terlibat dalam proyek yang relevan dan bermakna, siswa dapat mengalami pembelajaran yang lebih autentik dan terkait langsung dengan dunia nyata.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Menjadi Guru Yang Tegas Tapi Menyenangkan Bagi Siswanya

Menjadi Guru Yang Tegas Tapi Menyenangkan Bagi Siswanya

BlogPendidikan.net
- Guru yang tegas tapi menyenangkan mengacu pada pendekatan pengajaran yang menciptakan keseimbangan antara ketegasan dalam menjaga disiplin dan aturan dengan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan menarik bagi siswa. Pendekatan ini memadukan kebijaksanaan dalam menegakkan aturan dengan kehangatan dan kesenangan dalam interaksi dengan siswa.

Seorang guru yang tegas memegang teguh aturan dan harapan yang telah ditetapkan. Mereka menetapkan batasan yang jelas dan konsisten, serta mengkomunikasikan konsekuensi dari pelanggaran aturan. Mereka memberikan penjelasan yang tegas tentang apa yang diharapkan dari siswa dan bertindak dengan konsisten ketika aturan dilanggar.
Namun, seorang guru yang tegas tapi menyenangkan juga mengutamakan pendekatan yang positif dalam menghadapi siswa. Mereka menggunakan penguatan positif, pujian, dan penghargaan sebagai cara untuk memotivasi siswa dan menguatkan perilaku yang diinginkan. Guru ini menciptakan lingkungan belajar yang ramah dan menyenangkan dengan mengintegrasikan elemen kreatif, seperti permainan, musik, cerita, dan aktivitas menarik lainnya, dalam proses pembelajaran.

Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk menggabungkan kedisiplinan yang tegas dengan iklim belajar yang positif dan memotivasi. Guru yang tegas tapi menyenangkan ingin memastikan bahwa siswa menghormati aturan dan belajar dengan sungguh-sungguh, namun tetap merasa terlibat, terinspirasi, dan senang dalam proses pembelajaran.

Dengan pendekatan ini, guru menciptakan hubungan yang baik dengan siswa, membangun kepercayaan, dan memfasilitasi pembelajaran yang efektif. Guru yang tegas tapi menyenangkan mampu mengelola kelas dengan baik, mempertahankan otoritas, dan tetap menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh siswa dalam memenuhi kebutuhan akademik dan pengembangan pribadi mereka.
Penting untuk dicatat bahwa setiap guru memiliki gaya pengajaran yang berbeda dan sesuai dengan konteks dan kebutuhan siswa mereka. Pendekatan "tegas tapi menyenangkan" bukanlah satu-satunya pendekatan yang efektif, tetapi dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam membangun lingkungan belajar yang seimbang antara kedisiplinan dan kesenangan.

Menjadi guru yang tegas tapi menyenangkan adalah tantangan yang bisa dihadapi dengan beberapa pendekatan berikut:

1. Tetaplah konsisten dengan aturan dan harapan

Sediakan aturan kelas yang jelas dan tegas, dan pastikan bahwa semua siswa memahaminya. Berikan penjelasan yang jelas tentang konsekuensi jika aturan dilanggar. Jika ada pelanggaran aturan, lakukan tindakan yang konsisten dengan konsekuensi yang telah ditetapkan.

2. Gunakan pendekatan yang positif

Fokus pada penguatan positif daripada hukuman atau penegakan aturan yang terlalu keras. Pujian, penghargaan, dan pengakuan atas prestasi anak dapat menjadi alat yang efektif untuk membangun kepercayaan diri dan motivasi mereka.

3. Jadikan pembelajaran menyenangkan

Ciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dengan menggabungkan kegiatan yang menarik dan interaktif. Gunakan permainan, musik, kreativitas, dan cerita untuk membuat pembelajaran lebih menarik dan menghibur bagi anak-anak.
4. Jadilah pendengar yang baik

Luangkan waktu untuk mendengarkan anak-anak dengan penuh perhatian. Berikan mereka ruang untuk berbagi pendapat, masalah, dan pengalaman mereka. Ini akan membantu membangun hubungan yang kuat antara guru dan murid, dan menunjukkan bahwa Anda peduli terhadap kebutuhan dan perasaan mereka.

5. Jadikan humor sebagai bagian dari pembelajaran

Gunakan humor secara bijaksana dalam kelas. Humor dapat membantu meredakan ketegangan dan menciptakan suasana yang santai. Pastikan humor yang Anda gunakan tetap sopan dan tidak menyakiti perasaan anak-anak.

6. Jadilah teladan yang baik

Tunjukkan sikap dan perilaku yang positif yang ingin Anda lihat dari anak-anak. Jadilah contoh yang baik dalam menjaga disiplin, kerja sama, etika kerja, dan sikap yang baik. Anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di sekitar mereka.

7. Gunakan pendekatan yang variatif

Selalu mencoba pendekatan dan metode yang berbeda untuk memenuhi kebutuhan belajar dan gaya belajar yang berbeda. Setiap anak memiliki keunikan dan cara belajar yang berbeda. Dengan mencoba variasi dalam metode pengajaran, Anda dapat menarik minat dan perhatian anak-anak yang beragam.
8. Berikan tantangan yang sesuai

Anak-anak juga butuh tantangan untuk tumbuh dan berkembang. Berikan tugas dan aktivitas yang memicu pikiran dan memperluas pemahaman mereka. Tetap berada dalam zona perkembangan mereka, tetapi dorong mereka untuk mengatasi batas-batas mereka dengan dukungan dan bimbingan.

Menggabungkan ketegasan dengan kesenangan membutuhkan keseimbangan yang baik antara batasan yang jelas dan pendekatan yang ramah. Yang terpenting, tetaplah fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan anak-anak dalam setiap situasi.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Kenali Metode Pembelajaran Menghitung Yang Tepat di Kelas Rendah

Kenali Metode Pembelajaran Menghitung Yang Tepat di Kelas Rendah

BlogPendidikan.net
- Metode pembelajaran di kelas rendah mengacu pada pendekatan dan strategi yang digunakan oleh guru untuk mengajar siswa di tingkat pendidikan awal, seperti TK dan SD. 

Tujuan utama dari metode pembelajaran di kelas rendah adalah memfasilitasi pemahaman dan pengembangan keterampilan siswa dalam berbagai bidang, termasuk matematika, membaca, menulis, dan keterampilan sosial.

Pengertian metode pembelajaran di kelas rendah melibatkan pendekatan yang berpusat pada siswa, di mana guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran dan siswa aktif terlibat dalam proses belajar-mengajar.
Ada beberapa metode pembelajaran yang efektif untuk mengajarkan penghitungan kepada siswa di kelas rendah. Berikut adalah beberapa metode yang dapat Anda pertimbangkan:

1. Metode Manipulatif

Menggunakan manipulatif fisik seperti balok bilangan, koin, atau kartu angka dapat membantu siswa memvisualisasikan konsep matematika. Misalnya, Anda dapat menggunakan balok bilangan untuk mengajarkan penjumlahan dengan meminta siswa untuk menggabungkan balok-balok tersebut.

2. Pembelajaran Bermain 

Menggunakan permainan matematika interaktif dapat membuat belajar menghitung menjadi menyenangkan bagi siswa. Misalnya, Anda dapat menggunakan permainan papan atau aplikasi matematika yang menyenangkan yang melibatkan penghitungan.
3. Metode Cerita

Menggunakan cerita atau situasi kehidupan nyata dapat membantu siswa memahami konsep matematika dengan cara yang lebih kontekstual. Misalnya, Anda dapat memberi siswa tugas untuk menghitung jumlah apel di sebuah pohon dalam sebuah cerita, atau meminta mereka untuk menghitung jumlah anak-anak di sebuah keluarga dalam sebuah teka-teki matematika.

4. Metode Bermain Peran

Mengajak siswa untuk bermain peran dalam situasi matematika dapat membantu mereka melihat penggunaan praktis dari penghitungan. Misalnya, Anda dapat meminta siswa berperan sebagai kasir di sebuah toko mainan dan menghitung uang kembalian yang harus diberikan kepada pelanggan.
5. Penggunaan Media Interaktif

Memanfaatkan teknologi seperti perangkat lunak matematika interaktif, aplikasi, atau situs web dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan penghitungan. Ada banyak sumber daya matematika yang interaktif dan menyenangkan yang tersedia secara online.

6. Latihan dan Pembiasaan

Memberikan latihan yang berulang-ulang dan memperkenalkan konsep penghitungan secara bertahap dapat membantu siswa memperoleh pemahaman yang kuat. Mulailah dengan konsep penghitungan dasar seperti penjumlahan dan pengurangan, dan secara bertahap tambahkan konsep-konsep matematika yang lebih kompleks seiring kemajuan siswa.

Selain metode di atas, penting juga untuk memberikan umpan balik positif dan memotivasi siswa selama proses pembelajaran. Pastikan juga untuk menyediakan lingkungan belajar yang mendukung, di mana siswa merasa nyaman untuk berpartisipasi dan bertanya jika mereka mengalami kesulitan.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Bagaimana Cara Mengenal dan Memahami Kemampuan Awal Siswa SD

Bagaimana Cara Mengenal dan Memahami Kemampuan Awal Siswa SD

BlogPendidikan.net
- Kemampuan awal siswa di SD merujuk pada keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang dimiliki oleh siswa sebelum memasuki tingkat pendidikan dasar (SD). 

Kemampuan awal ini mencakup berbagai aspek yang membentuk dasar bagi pembelajaran siswa di SD.

Untuk mengenal dan memahami kemampuan awal siswa di SD, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan, antara lain:

1. Observasi

Perhatikan perilaku dan interaksi siswa di kelas. Amati bagaimana mereka berinteraksi dengan teman sebaya, tingkat partisipasi dalam aktivitas kelas, dan tingkat pemahaman mereka terhadap instruksi guru.

2. Percakapan

Ajak siswa untuk berbicara tentang minat, pengetahuan, dan pengalaman mereka. Berbicaralah dengan mereka secara informal untuk memperoleh wawasan tentang minat mereka dalam berbagai subjek, serta pemahaman mereka tentang topik tertentu.

3. Evaluasi awal

Gunakan instrumen evaluasi awal untuk mengukur pemahaman awal siswa terhadap konsep-konsep dasar. Ini dapat berupa tes tertulis, tugas proyek, atau kegiatan lain yang sesuai dengan mata pelajaran yang akan diajarkan.

4. Portofolio

Meminta siswa untuk membuat portofolio karya mereka. Ini dapat mencakup contoh tulisan, proyek seni, atau catatan ilmiah. Portofolio akan membantu Anda melihat kemampuan siswa dalam berbagai area dan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang perkembangan mereka.

5. Kolaborasi dengan guru sebelumnya

Jika siswa telah mengenyam pendidikan di SD sebelumnya, komunikasikan dengan guru mereka sebelumnya untuk mendapatkan informasi tentang kemampuan dan perkembangan siswa. Ini akan membantu Anda memahami latar belakang siswa dan mempersiapkan strategi pembelajaran yang sesuai.

6. Diskusi kelompok kecil

Lakukan diskusi kelompok kecil dengan siswa untuk mengeksplorasi pemahaman mereka tentang topik tertentu. Ini akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk saling belajar dan membantu Anda mengidentifikasi tingkat pemahaman mereka.

7. Observasi individual

Selain mengamati siswa secara keseluruhan, luangkan waktu untuk mengamati siswa secara individual. Ini akan memungkinkan Anda untuk melihat kekuatan dan kelemahan siswa secara lebih rinci.

8. Catatan perkembangan

Selalu catat perkembangan siswa secara berkala. Ini akan membantu Anda melacak kemajuan mereka dari waktu ke waktu dan membuat penyesuaian instruksi yang diperlukan.

Ingatlah bahwa memahami kemampuan awal siswa adalah proses yang berkelanjutan. Melalui pengamatan, evaluasi, dan komunikasi yang terus-menerus, Anda akan dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang kemampuan siswa dan dapat merancang strategi pembelajaran yang sesuai.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Apa Saja Kemampuan Yang Harus Dimiliki Siswa SD

Apa Saja Kemampuan Yang Harus Dimiliki Siswa SD

BlogPendidikan.net
- Kemampuan awal siswa merujuk pada keterampilan, pengetahuan, dan pemahaman yang dimiliki oleh siswa sebelum memasuki tingkat pendidikan tertentu. 

Kemampuan ini mencakup berbagai aspek yang membentuk dasar bagi pembelajaran dan perkembangan siswa di tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Kemampuan awal siswa dapat beragam dan dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti latar belakang pendidikan sebelumnya, pengalaman hidup, lingkungan keluarga, dan faktor genetik. 
Setiap siswa memiliki kombinasi unik dari kemampuan dan potensi yang mereka bawa ke dalam lingkungan pembelajaran.

Berikut adalah beberapa kemampuan awal yang umumnya diharapkan dari siswa SD:

1. Literasi dan keterampilan bahasa

Siswa SD seharusnya mampu membaca dengan pemahaman dasar, menulis kalimat sederhana, dan memahami kosakata dasar. Mereka juga diharapkan mampu mendengarkan dan berbicara dengan baik.

2. Matematika

Kemampuan dasar matematika termasuk pemahaman konsep angka dan operasi matematika dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian sederhana, dan pembagian sederhana. Siswa juga diharapkan mengenal pola, bentuk geometri dasar, dan memahami pengukuran sederhana.

3. Keterampilan sosial dan emosional

Siswa diharapkan memiliki keterampilan sosial dasar seperti berbagi, bekerja sama, menghormati pendapat orang lain, dan mengatasi konflik secara positif. Mereka juga diharapkan mampu mengelola emosi mereka sendiri dan memiliki kemampuan dasar untuk beradaptasi dalam lingkungan sosial.
4. Sains dan pengetahuan alam

Siswa SD seharusnya memiliki pemahaman dasar tentang dunia alam sekitar mereka, seperti mengenal tumbuhan, binatang, lingkungan, dan fenomena sederhana seperti cuaca.

5. Pengetahuan sosial dan sejarah

Siswa diharapkan memiliki pengetahuan dasar tentang masyarakat, budaya, dan sejarah di sekitar mereka, seperti pengenalan tentang keluarga, komunitas, pahlawan lokal, dan peristiwa sejarah penting.

6. Keterampilan motorik halus dan kasar

Kemampuan motorik halus mencakup keterampilan menulis, menggambar, memotong, dan menggunting. Sementara itu, keterampilan motorik kasar melibatkan keterampilan seperti berjalan, berlari, melompat, dan bermain bola.

7. Kreativitas dan ekspresi seni

Siswa diharapkan memiliki kesempatan untuk berekspresi secara kreatif melalui seni, musik, drama, dan aktivitas lainnya. Mereka dapat mengeksplorasi imajinasi mereka dan mengembangkan keterampilan kreatif.
Harap diingat bahwa kemampuan awal siswa dapat bervariasi secara signifikan, dan setiap siswa memiliki kecepatan perkembangan yang berbeda. Penting untuk memahami kebutuhan dan potensi setiap siswa secara individual, dan memberikan dukungan dan bimbingan yang sesuai dengan tingkat perkembangan mereka.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

Hindari 7 Hal Ini Yang Menjadi Kesalahan Guru Saat Mengajar

Hindari 7 Hal Ini Yang Menjadi Kekeliruan Guru Dalam Mengajar

BlogPendidikan.net
- Hampir satu jam pelajaran seorang guru menghabiskan waktunya untuk menyampaikan materi pelajaran kepada siswanya. Tentu saja materi yang ia sampaikan adalah materi yang telah ia persiapkan pada malam harinya. 

Sebagian besar siswa sama sekali tidak merasa tertarik dengan materi pelajaran yang disampaikannya. Karena mereka merasa bahwa apa yang disampaikan sang guru sama persis dengan apa yang ada didalam buku yang telah mereka pelajari dirumah.

Siswa merasa guru tidak mampu mengajar, karena ia hanya menyampaikan informasi yang sebetulnya sudah merasa mereka kuasai. Oleh sebab itu, ketika bel berbunyi tanda pelajaran berakhir, baik guru maupun siswa seakan-akan keluar dari mimpi buruk yang menegangkan. 
Siswapun bersorak kegirangan menyambut bunyi bel, sementara guru keluar dari kelas dengan langkah gotal karena kecapaian.

Maka Hindari 7 Hal Ini Yang Menjadi Kekeliruan Guru Dalam Mengajar:

1. Tidak Ada Persiapan Ketika Mengajar

Adakah diantara teman-teman pendidik yang merasa melatih dengan baik diruang belajar walaupun tanpa persiapan sama sekali? Tentu tidak. Seharusnya, teman-teman pendidik tidak jarang kali mempersiapkan segala urusan sebelum mengajar, mulai dari RPP (Rencana Persiapan Pengajaran),perlengkapan atau media pembelajaran., hingga bahan-bahan penilaian materi. Teman-teman pendidik mesti tidak jarang kali ingat bahwa melatih tampa persiapan adalah tindakan yang bisa merugikan pertumbuhan siswa.

Tentu solusinya ialah buatlah persiapan yang matang sebelum teman-teman pendidik melatih di kelas. Seorang guru dalam merancang pembelajaran pun harus semakin terampil dalam mengelola ruang belajar sesuai dengan ciri khas peserta didik untuk menjangkau akhir dari destinasi materi yang diajarkan. Ingatlah bahwa dalam proses pembelajaran, tidak terdapat pembelajaran yang sukses tanpa persiapan yang benar.

2. Guru tidak berusaha untuk mengetahui kemampuan awal siswa

Seorang yang profesional dalam bidangnya, sebelum ia melakukan tindakan akan didahului dengan langkah diagnosis, sehingga langkah ini merupakan bagian dari langkah profesionalnya. Kemudian bagaimana dengan guru seperti cerita di atas.
Tampaknya ia tidak melakukan langkah diagnosis  tentang keadaan siswa, sehingga tidak mengetahui apakah siswa sudah membaca buku yang ia baca.

Jangan-jangan siswa lebih paham dari gurunya tentang materi pelajaran yang akan diajarkan, karena selain siswa membaca buku yang menjadi rujukan guru, siswa pun membaca buku lain yang relevan.

3. Memaksa Peserta Didik Harus Bisa Memahami Materi yang Kita Ajarkan

Sejujurnya, pengarang pernah mengeluh laksana itu. Penulis pernah beranggapan egosentris terhadap peserta didik yang tidak paham pelajaran yang diajarkan. Dan ketika itu, rasanya jengkel sekali. Rasa kejengkelan tersebut dapat berimbas untuk peserta didik lainnya lho. Target pelajaran menjadi tidak tercapai sebab keegoisan guru untuk menciptakan satu atau dua peserta didik itu harus paham pelajaran yang diajarkan. Tentu ini kekeliruan paling fundamental tetapi tidak cukup disadari oleh kita. Adakah diantara teman-teman pendidik merasakan hal yang sama dengan penulis?

4. Guru tidak pernah mengajak siswa berpikir

Dalam pembelajaran, bukan hanya menyampaikan materi pelajaran akan tetapi melatih kemampuan siswa untuk berpikir, menggunakan struktur kognitifnya secara penuh dan terarah. Materi pelajaran mestinya digunakan sebagai alat untuk melatih kemampuan berpikir bukan tujuan. 

Mengajar yang hanya menyampaikan informasi akan membuat siswa kehilangan motivasi dan konsentrasinya. 
Mengajar adalah mengajak siswa berpikir, sehingga melalui kemampuan berpikir akan terbentuk siswa yang cerdas dan mampu memecahkan setiap persoalan yang dihadapinya.

5. Guru tidak berusaha memperoleh umpan balik

Proses pembelajaran adalah proses yang bertujuan. Oleh sebab itu, apa yang dilakukan oleh seorang guru seharusnya mengarah pada pencapaian tujuan. Apa bedanya seorang guru dengan seorang penjual obat?  

Ya, perbedaannya terletak pada tujuan yang ingin dicapai. Walau keduanya sama-sama bicara , tapi bicaranya penjual obat berbeda dengan bicaranya guru. 

Apa yang keluar dari mulut penjual obat, tidak lebih dari keinginannya untuk menarik perhatian orang, sedangkan apa yang keluar dari mulut seorang guru selalu diarahkan untuk mencapai tujuan belajar yakni perubahan tingkah laku..

6. Guru menganggap bahwa ia adalah orang yang paling mampu dan menguasai pelajaran

Dewasa ini berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama teknologi informasi setiap orang bisa memperoleh pengetahuan lewat berbagai media. Dengan demikian kalau sekarang ini ada guru yang menganggap dirinya paling pintar, paling menguasai sesuatu, itu sangat keliru.
Di era informasi seperti sekarang ini seharusnya telah terjadi perubahan peranan guru. Guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber belajar, akan tetapi lebih berperan sebagai pengelola pembelajaran . dalam posisi semacam ini bisa terjadi guru dan siswa saling membelajarkan.

7. Tidak Peka dengan Perilaku Peserta Didik yang Membanggakan Ketika Sedang Belajar

Dalam pembelajaran di kelas, teman-teman pendidik berhadapan dengan sebanyak peserta didik yang semuanya hendak diperhatikan. Mereka senang andai mendapat pujian dari guru dan merasa kecewa andai kurang diperhatikan. Betul? Namun, sayangnya banyak sekali diantara anda sering melalaikan perkembangan jati diri peserta didik, serta lupa menyerahkan pujian untuk mereka yang melakukan baik dan tidak menciptakan masalah saat sedang belajar di kelas.

Biasanya guru lebih sering menyerahkan perhatian untuk peserta didik saat ribut, istirahat di kelas, ataupun tidak menyimak pelajaran. Kondisi tersebut tidak jarang kali menemukan tanggapan yang salah dari peserta didik. Mereka berpikir bahwa guna mendapatkan perhatian dari guru, maka peserta didik mesti melakukan salah, burbuat gaduh, menggangu atau mengerjakan tindakan tidak disiplin lainnya.

Kita butuh sekali belajar untuk menciduk perilaku positif yang ditunjukkan oleh semua peserta didik, kemudian segera memberi hadiah atas perilaku itu dengan pujian dan perhatian. Kedengarannya urusan ini sederhana. tetapi membutuhkan upaya betul-betul untuk tetap menggali dan memberi hadiah atas perilaku-perilaku positif peserta didik, baik secara kumpulan maupun individual.

Disisi lain, teman-teman pendidik pun harus menyimak perilaku-perilaku peserta didik yang negatif dan mengeliminasi perilaku-perilaku tersebut supaya tidak terulang kembali. Teman-teman pendidik dapat mencontohkan sekian banyak  perilaku peserta negatif, misalnya melewati ceritera dan ilustrasi, serta menyerahkan pujian untuk mereka sebab tidak mengerjakan perilaku negatif tersebut. Kita pun usahakan memutuskan rules yang jelas dalam proses pembelajaran. Agar suasana ruang belajar menjadi kondusif dan peserta didik ikut belajar guna disiplin, komitmen, dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran di kelas.

Demikian artikel ini tentang 7 hal yang harus dihindari, yang menjadi kekeliruan guru dalam mengajar, semoga bermanfaat.

Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS

13 Jenis Pendekatan Dalam Pembelajaran Yang Patut Diktahui

13 Jenis Pendekatan Pembelajaran Yang Patut Dikenali

BlogPendidikan.net
- Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Istilah pendekatan merujuk kepada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum.

Berikut 13 Jenis Pendekatan dalam Proses Pembelajaran:

1. Pendekatan Informasi

Memberi dorongan internal siswa untuk memahami dunia dengan menggali dan mengorganisasikan data, memecahkan masalah, dan mampu mengungkapkan. Yang termasuk dalam pendekatan ini adalah :
  • Pendekatan Pembelajaran berpikir induktif (khusus – umum)
  • Pendekatan Pembelajaran Inquiry (melatih siswa dalam penelitian)
  • Pendekatan Pembelajaran Pengembangan Kognitif (menyesuaikanproses pembelajaran terhadap kematangan siswa dan merancang cara-cara meningkatkan kecepatan perkembangan kognitif terutama kemampuan beargumentasi).
  • Pendekatan Peranan Awal (kemampuan mengolah informasi).
  • Pendekatan Memory (kemampuan mengingat).
2. Pendekatan Personal

Mengembangka kepribadian siswa dengan cara siswa mengoranisasikan pengalaman pribadinya. Pendekatan yang termasuk ked ala jenis ini adalah: 
  • Pendekatan Pembelajaran Tanpa Arah : Guru sebagai konselor dan menitikberatkan persahabatan dengan siswa.
  • Pendekatan Latihan Kesadaran : Mendorong timbulnya refleksi hubungan antar individu, citra, eksperimentasi dan keterampilan diri.
  • Pendekatan Sinetiks : Membantu siswa untuk mampu merancang suatu topic dan melaksanakan prosedur.
3. Pendekatan Interaksi Sosial

Mengembangkan kemampuan siswa dalam berinteraksi dengan kelompok sosialnya. Di dalam pendekatan ini ada pendekatan investigasi kelompok, pendekatan latihan laboratorium, dan lain-lain.

4. Pendekatan Sistem Perilaku

Mengubah perilaku nyata yang tampak dalam kaitannya dengan tugas yang dikerjakan. Dalam pendekatan ini ada pendekatan belajar control diri dan pendekatan latihan keterampilan dan pengembangan konsep.

5. Pendekatan Konstektual

Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. 

Dalam konteks ini siswa perlu mengerti apa makna belajar, manfaatnya, dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. Dengan ini siswa akan menyadari bahwa apa yang mereka pelajari berguna sebagai hidupnya nanti.

Sehingga, akan membuat mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal yang bermanfaat untuk hidupnya nanti dan siswa akan berusaha untuk menggapainya. Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting yaitu Mengaitkan, Mengalami, Menerapkan, Kerjasama, dan Mentransfer.

6. Pendekatan Konstrutivisme

Merupakan pendekatan dalam pembelajaran yang lebih menekankan pada tingkat kreatifitas siswa dalam menyalurkan ide-ide baru yang dapat diperlukan bagi pengembangan diri siswa yang didasarkan pada pengetahuan. Peran guru hanya sebagai pembimbing dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran. 

Oleh karena itu, guru lebih mengutamakan keaktifan siswa dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyalurkan ide-ide baru yang sesuai dengan materi yang disajikan untuk meningkatkan kemampuan siswa secara pribadi. Secara umum yang disebut konstruktivisme menekankan kontribusi seseorang pembelajar dalam memberikan arti, serta belajar sesuatu melalui aktivitas individu dan sosial.

7. Pendekatan Deduktif

Pendekatan yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Pendekatan deduktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai pendekatan pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum dan diikuti dengan contoh contoh khusus atau penerapan aturan, prinsip umum ke dalam keadaan khusus. 

Contohnya : Seorang guru memberikan materi tentang volume balok kepada siswa. Pada awal pembelajaran guru memberikan definisi dan konsep mengenai balok dan rumus volume balok. Kemudian guru menerapkan rumus volume tersebut pada beberapa contoh soal. Selanjutnya guru memberikan beberapa tugas kepada siswa yang sesuai contoh yang telah diberikan. Tugas ini bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa mengenai materi yang telah disampaikan.

8. Pendekatan Induktif

Menekankan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum. Pendekatan induktif merupakan proses penalaran yang bermula dari keadaan khusus  menuju keadaan umum. 

Contohnya : Diawal pembelajaran guru menyuruh siswa untuk membuat persegi panjang dengan menggunakan alat peraga berupa kertas. Siswa dituntut untuk membentuk kertas tersebut menjadi sebuah bangun persegi panjang. Siswa diperintah untuk berdiskusi tentang sifat – sifat bangun persegi panjang. Kemudian pada akhir pembelajaran siswa dan guru sama – sama saling menyimpulkan mengenai sifat – sifat bangun persegi panjang.

9. Pendekatan Konsep

Pendekatan yang mengarahkan peserta didik meguasai konsep secara benar dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan konsep (miskonsepsi). Konsep adalah klasifikasi perangsang yang memiliki ciri-ciri tertentu yang sama. 

Konsep merupakan struktur mental yang diperoleh dari pengamatan dan pengalaman. Pendekatan Konsep merupakan suatu pendekatan pengajaran yang secara langsung menyajikan konsep tanpa memberi kesempatan kepada siswa untuk menghayati bagaimana konsep itu diperoleh. Kondisi-kondisi yang dipertimbangkan dalam kegiatan belajar mengajar dengan pendekatan konsep adalah:
  • Menanti kesiapan belajar, kematangan berpikir sesuai denaan unsur lingkungan.
  • Mengetengahkan konsep dasar dengan persepsi yang benar yang mudah dimengerti.
  • Memperkenalkan konsep yang spesifik dari pengalaman yang spesifik pula sampai konsep yang komplek.
  • Penjelasan perlahan-lahan dari yang konkret sampai ke yang abstrak.
10. Pendekatan Proses 

Merupakan pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghayati proses penemuan atau penyusunan suatu konsep sebagai suatu keterampilan proses. Pendekatan proses adalah pendekatan yang berorientasi pada proses bukan hasil. Pendekatan ini penting untuk melatih daya pikir atau mengembangkan kemampuan berpikir dan melatih psikomotor peserta didik. 

Dalam pendekatan proses peserta didik juga harus dapat mengilustrasikan atau memodelkan  dan bahkan melakukan percobaan. Evaluasi pembelajaran yang dinilai adalah proses yang mencakup kebenaran cara kerja, ketelitian, keakuratan, keuletan dalam bekerja dan sebagainya. Contohnya : Dalam suatu pembelajaran guru akan mengajarkan materi tentang “ Teorema Phytagoras”. Pada awal pembelajaran guru memberikan rumus Teorema Phytagoras yaitu a² + b² = c². Kemudian siswa diminta untuk menemukan proses perolehan rumus tersebut.

11. Pendekatan Sains, Teknologi dan Masyarakat

Memandang STM sebagai the teaching and learning of science in thecontext of human experience. STM dipandang sebagai proses pembelajaran yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM mempunyai beberapa perbedaan jika dibandingkan dengan cara biasa. 

Perbedaan tersebut ada pada aspek : kaitan dan aplikasi bahan pelajaran, kreativitas, sikap, proses, dan konsep pengetahuan. Melalui pendekatan STM ini guru dianggap sebagai fasilitator dan informasi yang diterima siswa akan lebih lama diingat. Sebenarnya dalam pembelajaran dengan menggunakan pendekatan STM ini tercakup juga adanya pemecahan masalah, tetapi masalah itu lebih ditekankan pada masalah yang ditemukan sehari – hari, yang dalam pemecahannya menggunakan langkah – langkah.

12. Pendekatan Saintifik

Proses pembelajaran harus menyentuh tiga ranah, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah, ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘mengapa’. Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘bagaimana’. 

Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik tahu tentang ‘apa’. Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. 

Pendekatan ilmiah (saintifik appoach) meliputi menggali informasi melaui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.  Prinsip-prinsip dalam pembelajaran dengan pendekatan saintific antara lain :
  • Pembelajaran berpusat pada siswa
  • Pembelajaran membentuk student’s self concept 
  • Pembelajaran memberikan kesempatan pada siswa untuk mempelajari, menganalisis, menyimpulkan konsep, pengetahuan, dan prinsip.
  • Pembelajaran mendorong terjadinya peningkatan kemampuan berpikir siswa.
  • Pembelajaran meningkatkan motivasi
13. Pendekatan Realistik 

Sebuah pendekatan pendidikan yang berusaha menempatkan pendidikan pada hakiki dasar pendidikan itu sendiri (Sofyan, 2007:8) sedangkan menurut Sudarman Benu, (2000: 405) “Pendekatan realistik adalah pendekatan yang menggunakan masalah situasi dunia nyata atau suatu konsep sebagai titik tolak dalam belajar matematika”. Matematika Realistik yang telah diterapkan dan dikembangkan di Belanda teorinya mengacu pada matematika harus dikaitkan dengan realitas dan matematika merupakan aktifitas manusia. Terdapat 5 prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik, yaitu: 
  • Menggunakan konsep atau situasi
  • Menggunakan model : "model of" dan "model for"
  • Menggunakan hasil pemikiran siswa sendiri.
  • Interactivity
  • Intertwinning (saling mengaitkan suatu konsep dengan konsep lainnya).
Ikuti dan baca artikel lainnya BlogPendidikan.net di GOOGLE NEWS