Showing posts with label Belajar Dari Rumah. Show all posts
Showing posts with label Belajar Dari Rumah. Show all posts

Tips Agar Proses Belajar Dari Rumah Bisa Maksimal Dilaksanakan Oleh Siswa dan Guru

Admin 8/05/2020
Tips Agar Proses Belajar Dari Rumah Bisa Maksimal Dilaksanakan Oleh Siswa dan Guru

BlogPendidikan.net
- Pandemi corona memaksa para siswa bersekolah secara online dari rumah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pun menyiapkan tiga tips agar kegiatan pembelajaran jarak jauh (PPJ) lebih maksimal. 

Pertama, orang tua perlu memantau siswa selama kegiatan PJJ berlangsung dan membangun interaksi yang positif dengan para guru. Hal itu tercantum dalam Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19.


Para orang tua dapat memanfaatkan aplikasi pesan singkat WhatsApp agar tetap terkoneksi dengan guru dan para orang tua siswa lainnya. Orang tua siswa dan guru bisa berdiskusi terkait penyampaian progres pembelajaran online siswa di rumah.

Pada kegiatan PJJ, peranan orang tua menjadi penting untuk memastikan proses berjalan dengan baik sehingga adaptive learning bisa menjadi optimal.

Kedua, orang tua harus membimbing para siswa untuk menggunakan berbagai fitur teknologi pada platform atau aplikasi yang digunakan selama PJJ. 

Aplikasi pembelajaran maupun video meeting biasanya memiliki fitur kamera, microphone, kolom komentar, hingga merekam proses diskusi belajar yang dapat dimanfaatkan oleh siswa. 

Namun, tak semua siswa mahir menggunakan fitur-fitur tersebut. "Bapak dan ibu (siswa) harus membiasakan anak untuk berbicara di depan kamera, cara menggunakan fitur mute, dan sebagainya. Itu harus dipelajari bersama-sama," ujar Yasser. 

Ketiga, para guru perlu mendorong kegiatan belajar yang menyenangkan bagi siswanya. Konsultan Psikologi & Coach Trainer Achsinfina H. Sinta mengatakan salah satu permasalahan dalam PPJ yaitu suasana yang tidak kondusif karena belajar dari rumah. 

"Peran guru sangat penting untuk menciptakan suasana yang kondusif melalui inovasi ataupun metode pembelajaran yang baru, misalnya lewat kegiatan belajar sambil bermain," ujar Achsinfina. 


Seperti diketahui, pandemi Covid-19 menyebabkan kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan dari rumah dengan dibantu aplikasi digital. Setidaknya terdapat 4.183.591 guru/dosen yang mengajar melalui metode pembelajaran jarak jauh. 

Dari jumlah tersebut, para guru Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiah paling banyak mengajar dari rumah. Jumlahnya mencapai 1.702.377 guru. 

Kemudian pengajar Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah diikuti dengan 895.799 guru. Pembelajaran jarak jauh menekankan pada tatap muka virtual antara pengajar dengan murid. (Sumber; katadata.co.id)

Modul Pembelajaran Daring dan Luring PJOK Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD)

Admin 7/27/2020
Modul Pembelajaran Daring dan Luring PJOK Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD)

BlogPendidikan.net
 - Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai 13 juli 2020, para guru dan siswa harus bersiap untuk menghadapi proses pembelajaran yang dilangsungkan dari rumah baik daring ataupun luring. 

Khusus daerah yang berada di zona merah, oranye dan kuning harus belajar dari rumah, sesuai surat edaran yang telah diterbitkan oleh Kemendikbud. Belajar dari rumah (BDR) atau bahasa terkini Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang akan dilaksanakan oleh guru dengan menggunakan model pembelajaran secara daring atau luring harus berdasarkan kondisi daerah tersebut, apakah menunjang untuk fasilitas belajar daring atau luring.

Guru harus lebih kreatif dalam membangun proses pembelajaran yang menarik agar selama belajar dari rumah anak-anak tidak merasa jenuh dengan beban tugas yang berat dan proses pembelajaran yang monoton. 

Salah satu penunjang adalah ketersediaan buku pelajaran yang akan diberikan pada anak didik, yang sesuai dengan kondisi keadaan saat ini.

Berikut BlogPendidikan.net akan berbagi referensi buku/modul pembelajaran PJOK yang bisa dilakukan secara daring atau luring yang berisi materi dan soal-soal latihan lengkap dari kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) sesuai dengan kurikulum 2013, dapat dibagikan kepada anak didik. modul ini dalam bentuk PDF.

Berikut Modul Pembelajaran Daring dan Luring PJOK Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) Berdasarkan Kurikulum 2013:

1. Modul PJOK Kelas 1 SD/MI >>> LIHAT DISINI
2. Modul PJOK Kelas 2 SD/MI >>> LIHAT DISINI
3. Modul PJOK Kelas 3 SD/MI >>> LIHAT DISINI
4. Modul PJOK Kelas 4 SD/MI >>> LIHAT DISINI
5. Modul PJOK Kelas 5 SD/MI >>> LIHAT DISINI
6. Modul PJOK Kelas 6 SD/MI >>> LIHAT DISINI

Demikian, Informasi tentang modul pembelajaran daring dan luring PJOK Untuk SD, semoga apa yang dibagikan BlogPendidiakn.net bermanfaat dan bisa menjadi referensi anda dalam proses pembelajaran dari rumah. Terima kasih dan jangan lupa berbagi. (*)

Materi dan Jadwal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu ke Tiga 27-02 Agustus 2020 Paud, SD, SMP, dan SMA

Admin 7/27/2020
Materi dan Jadwal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu ke Tiga 27-02 Agustus 2020 Paud, SD, SMP, dan SMA

Blogpendidikan.net - 
Materi dan jadwal belajar dari rumah TVRI Minggu ke Tiga 27-02 Agustus 2020 tahun ajaran 2020/2021 untuk PAUD, SD, SMP dan SMA sederajat telah di rilis oleh Kemendikbud.

Program Belajar dari Rumah (selanjutnya disebut BDR) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan alternatif kegiatan pembelajaran selama anak belajar di rumah karena terdampak masa pandemik COVID-19. 

Tayangan dalam program BDR meliputi tayangan untuk anak usia PAUD dan sederajat, SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA/SMK dan sederajat, dan program keluarga dan kebudayaan.

Pembelajaran dalam BDR ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi.

Selain untuk memperkuat kompetensi literasi dan numerasi, tujuan lain program BDR adalah untuk membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.

Untuk masukan dan saran mengenai program ini, dapat mengisi survei di s.id/surveibdr, mengunjungi website http://ult.kemdikbud.go.id/, atau mengirim surat elektronik ke pengaduan@kemdikbud.go.id.

Untuk yang di daerah 3T, dapat mengirim SMS gratis dengan mengetik BDR dan kirim ke 93456. Tetap belajar dari rumah, jaga jarak, rajin cuci tangan, dan pakai masker agar kita mencegah penyebaran COVID-19.

Berikut Materi dan Jadwal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu ke Tiga 27-02 Agustus 2020 Paud, SD, SMP, dan SMA Sederajat; LIHAT DISINI

Diakui Atau Tidak, Pembelajaran Daring Faktanya Memunculkan Banyak Masalah

Admin 7/23/2020
Diakui Atau Tidak, Pembelajaran Daring Faktanya Memunculkan Banyak Masalah
gambar ilustrasi

BlogPendidikan.net
- Suara keresahan dan kegelisahan para orang tua di tengah penerapan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) makin terdengar nyaring. Dalam sepekan terakhir, tepatnya saat tahun ajaran baru kembali dimulai, suara-suara itu jelas kentara. Tak hanya terdengar di kamar-kamar rumah, luapan keresahan itu juga terlihat di dinding-dinding media sosial.

Tugas dari guru bertubi-tubi, kuota cepat ludes, handphone dan laptop terbatas, pengajaran monoton, link sulit diakses, sinyal susah, dan lelah di depan layar adalah di antara sederet persoalan serius yang kini dihadapi orang tua. 

Kerepotan bertambah karena mereka juga dituntut untuk membangkitkan semangat dan mengatur ritme belajar anak sebaik mungkin meski tidak di ruang kelas.

Di saat para orang tua sudah mulai banyak beraktivitas di luar rumah lagi seiring pelonggaran-pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online adalah kerepotan baru yang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Para orang tua maupun anak-anak mereka seolah ingin berontak melawan kebijakan itu. Namun, apa daya, tak ada kuasa untuk menghadapinya.

Diakui atau tidak, pembelajaran online faktanya memunculkan banyak masalah dan dalam kondisi darurat. Ironisnya, hingga kini belum ada kebijakan terpadu yang mengatur soal pendidikan jarak jauh ini. Hal inilah membuat model PJJ menjadi beragam dan tak beraturan. 

Di tengah kondisi ini, hakikatnya tak hanya orang tua yang menjadi korban. Anak-anak yang mestinya menimba ilmu dengan cara menyenangkan justru setiap hari seolah dihadapkan dengan pembelajaran yang membingungkan.

Adanya data 32% peserta didik yang tidak memiliki akses belajar di rumah saat PSBB sebagaimana hasil penelitian Wahana Visi Indonesia menguatkan potret pendidikan kala pandemi makin miris. Alih-alih mendapat pendidikan berkualitas, PJJ justru seolah sekadar regulasi formalitas.

Data Wahana Visi Indonesia yang menyebutkan bahwa ada 11% anak mengalami keresahan fisik saat pembelajaran online ini juga patut menjadi perhatian. Data itu mestinya menjadi bahan evaluasi berharga bahwa pendidikan online jangan sebatas berpijak pada proses transfer pengetahuan semata, namun juga perlu mempertimbangkan kesehatan anak didik.

Kompleksnya persoalan pendidikan di era pandemi ini perlu segera dicarikan solusi. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) serta Kementerian Agama (Kemenag) perlu bekerja cepat merumuskan model pembelajaran yang adaptif dengan kondisi Covid-19. 

Model ini mungkin tidak ideal, namun setidaknya akan menjadi panduan baru bagi guru, murid, orang tua, dan stakeholder lainnya guna menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi semua orang.

Kurikulum khusus pandemi sebagaimana yang direncanakan oleh pemerintah juga perlu segera diwujudkan. Pengalaman-pengalaman pahit yang dialami para orang tua maupun murid pada sepekan awal tahun ajaran baru ini jangan sampai terjadi berlarut-larut. 

Benar memang pernyataan Mendikbud Nadiem Makarim tiga pekan lalu bahwa partisipasi orang tua sangat penting dalam kesuksesan PJJ ini. Namun, persoalannya tidak sesederhana itu. Nyatanya, tidak semua orang tua memiliki kesempatan dan kemampuan lagi untuk mendampingi anak-anaknya langsung saat PJJ. 

Untuk itu, pola PJJ yang atraktif dan menyenangkan adalah sebuah keharusan. Jika memang orang tua tak lagi memiliki kelonggaran waktu seperti saat awal-awal pandemi lalu, setidaknya anak-anak tetap bisa mandiri. PJJ juga hakikatnya pendidikan mahal. Tak salah kiranya, akses kuota murah khusus pendidikan perlu makin dipermudah. (*)

Jangankan Internet TVRI Saja Tidak Ada, Presiden Jokowi Dapat Pesan Dari Siswa di NTT, Internet Itu Apa Pak?

Admin 7/21/2020
Jangankan Internet TVRI Saja Tidak Ada, Presiden Jokowi Dapat Pesan Dari Siswa di NTT, Internet Itu Apa Pak?
Beberapa siswi SDI Taga Laga Buru menunjukkan tulisan berisi permintaa kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), Sabtu (18/7/2020). (Kompas.com/Nansianus Taris)

BlogPendidikan.net
- Di desa itu hingga kini belum terjamah listrik dan sinyal internet. Para siswa bingung cara mendapatkan ilmu pengetahuan. Sementara para murid yang tinggal di perkotaan lebih mudah belajar, baik melalui daring ataupun dengan menonton TVRI.

Salah satu siswa SDI Taga laga Buru, Velisiana Sribunda Nogo menuturkan, pernah satu kali ia menonton berita di televisi dan melihat anak-anak kota belajar lewat ponsel pintar. Mereka belajar daring melalui internet.

Di berita itu juga para siswa mempunyai ponsel sendiri pemberian orangtua.

"Kami di sini bingung itu internet apa, hanya tahu nama saja. Modelnya seperti apa tidak tahu. Bagaimana mau tahu, handphone kami tidak punya. Di sini juga listrik dan sinyal tidak ada," tutur Velisia ditemui Kompas.com saat belajar kelompok di rumah warga, Sabtu (18/7/2020).

Velisia meminta kepada Presiden agar membawa listrik dan jaringan telepon juga internet ke Desa Golo Nderu.

Kakak tolong sampaikan pesan saya kepada Bapak Presiden, kami di sini butuh listrik dan sinyal. Siapa tahu listrik dan sinyal sudah ada, orangtua kami bisa beli handphone," ungkap Velisia.

Harapan serupa juga disampaikan Velisia Efrsia Nuna. belajar dari rumah, ia terkadang bingung mau belajar apa.

"Kami dengar orang ngomong di kota anak sekolah belajar di televisi dan internet. Itu kami dengar saja. Kami di sini mau seperti itu, tetapi listrik dan jaringan internet tidak ada. Sinyal telepon saja susah," ungkap Velisia.

Saat malam tiba, penerangan hanya dibantu lampu pelita. Kondisi itu pun sudah dianggap biasa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Timur Basilius Teto menjelaskan, selama Covid-19, para guru tetap mendampingi siswa dengan kunjungan ke rumah.

Kunjungan itu terjadwal dan mengikuti protokol kesehatan, yakni memakai masker dan menjaga jarak.

"Guru-guru pakai jadwal kunjung ke rumah siswa untuk memberikan materi. Guru juga rutin memberikan tugas rumah kepada siswa," ujar Basilius saat dihubungi Kompas.com, Selasa pagi.

Basilius menambahkan, sejak pekan lalu, semua sekolah di Kabupaten Manggarai Timur sudah berjalan normal dengan sistem sif.

Meski menerapkan sistem sif, guru dan siswa tetap memperhatikan protokol kesehatan, yakni memakai masker, jaga jarak, cuci tangan, dan mengecek suhu sebelum masuk kelas.

Terkait siswa-siswi SDI Taga Laga Buru yang belum masuk sekolah, Basilius menyebut bahwa mereka belum mendapatkan jadwal.

Artikel ini juga telah tayang di Tribunwow.com 

Viral Aksi Orang Tua Siswa Memakai Seragam SD Saat Menjemput Tugas di Sekolah Selama BDR

Admin 7/21/2020
Viral Aksi Orang Tua Siswa Memakai Seragam SD Saat Menjemput Tugas di Sekolah Selama BDR

BlogPendidikan.net
- Jagat maya dibuat heboh oleh aksi orang tua peserta didik di SD Negeri 20 Rambah Lanai, Nagari Sontang Cubadak, Kecamatan Padanggelugur, Kabupaten Pasaman, Senin (20/7/2020). Orang tua murid tersebut diketahui bernama Candra (42). 

Dia datang ke sekolah menjemput tugas belajar anaknya di rumah untuk seminggu ke depan dengan mengenakan seragam SD lengkap dengan dasi, topi, tas ransel dan celana panjang merah. 

Sontak, aksi nyeleneh dan tak biasa dari ayah tiga orang anak ini mengundang gelak tawa dari para guru dan orang tua yang juga datang untuk kepentingan yang sama, yaitu menjemput tugas sekolah untuk anak-anaknya belajar di rumah. 

Tak butuh waktu lama, aksi Candra berpakaian seragam SD itu pun viral di sejumlah media sosial, salah satunya facebook. 

Perlu diketahui, tingkat pendidikan dasar (SD, MI, SMP dan MTs) menerapkan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) Luring. "Kebetulan saya yang foto aksi beliau berpakaian seragam SD itu tadi, lalu saya upload ke facebook," ungkap Erman, kerabat Candra saat dihubungi harianhaluan.com.

Dari keterangan Candra, kata Erman, tidak ada maksud lain dari aksinya tersebut. Aksinya itu melainkan hanya untuk menyemangati anak sekolah yang terpaksa belajar dari rumah (BDR) akibat dampak pandemi Covid-19. 

"Maksud dan tujuannya cuma untuk menyemangati anak-anak yang sekolah. Tidak ada maksud lain, itu ia lakukan secara spontan. Itu saya tanyakan langsung tadi ke beliau," ungkap Erman.

Candra, kata dia, memiliki anak yang kini duduk di kelas empat di SD itu. Akibat pandemi Covid-19, Candra, demikian pula dengan orang tua siswa lainnya harus rela datang ke sekolah, menjemput tugas belajar bagi anak-anaknya di rumah. Pembelajaran yang biasanya dilakukan di sekolah diubah menjadi di rumah. 

Orang tua peserta didik menjemput bahan ajar BDR ke sekolah untuk dikerjakan anak di rumah, mendampingi anak belajar di rumah dan mengantarkan hasil pekerjaan anak kembali ke sekolah untuk dinilai guru sesuai dengan waktu yang ditetapkan dengan wajib mematuhi protokoler kesehatan aman Covid-19. Era normal baru ini, setiap satuan pendidikan diharuskan menerapkan PJJ Luring (luar jaringan) maupun daring (dalam jaringan). (harianhaluan.com)

Guru Pusing Belajar Daring, Siswa Tak Punya Smartphone

Admin 7/20/2020
Guru Pusing Belajar Daring, Siswa Tak Punya Smartphone

BlogPendidikan.net
- Sejak sekolah diliburkan dan diganti dengan kegiatan belajar mengajar secara daring, keluhan kerap muncul.

Tidak hanya dari siswa, tetapi juga dari guru karena banyak siswa absen karena tidak memiliki ponsel pinyar atau android.

Seperti diungkapkan Putri, salah satu guru di SD Negeri Pekanbaru, menurutnya dari 40 siswa yang di dalam kelas yang diasuhnya, hanya 24 sisa saja yang memiliki smartphone Android.

Itupun merupakan smartphone milik orangtuanya.

"Akibatnya banyak orangtua mengeluh karena mereka juga bekerja membutuhkan HP (handphone, Red). Sementara anak-anak mau belajar melalui HP," ungkap Putri kepada RiauOnline.co.id, Minggu 19 Juli 2020.

Putri mengaku telah berupaya mencari solusi, dari kesepakatan bersama orang tua siswa, pembelajaran dilakukan pada malam hari. Hal itu dilakukan agar orangtua bisa mendampingi anaknya.

"Namun setelah kami lakukan daring, ternyata terkendala lagi dengan jaringan yang tidak bersahabat. Akibatnya penyampaian materi tidak lancar. Beberapa orangtua siswa juga curhat paket datanya cepat habis," ungkap Putri.

Kondisi ini jelas putri memang membuat dilema, apalagi anak-anak banyak yang absen karena tidak memiliki HP Android.

Disisi lain orangtua juga mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli paket data agar anaknya tetap bisa belajar.(*) RiauOnline.co.id

Bulan Agustus, Semua Jenjang Sekolah Akan Dibuka dan Belajar Tatap Muka

Admin 7/20/2020
Bulan Agustus, Semua Jenjang Sekolah Akan Dibuka dan Belajar Tatap Muka

BlogPendidikan.net
- Sistem pembelajaran tatap muka untuk semua jenjang sekolah di Kota Tegal direncanakan akan dimulai lagi Agustus mendatang. Namun sebelumnya, akan lebih dulu digelar rapat koordinasi bersama jajaran terkait untuk membahasnya.

Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono mengatakan setelah memasuki zona hijau, sebetulnya SMP dan SMK sudah diperbolehkan melakukan pembelajaran tatap muka. Namun, dari hasil survey, sebanyak 91 persen orang tua khawatir anaknya untuk pergi ke sekolah.


"Sebetulnya memang tanggal 13 kemarin kita sudah diperbolehkan membuka tatap muka. Namun, karena hasil survey sebagian besar orang tua menolak karena khawatir sehingga ditunda," katanya.
Menurut Dedy Yon, Pemkot Tegal juga sudah menggelar rapat untuk menerapkan sistem ganjil genap. Namun, itu justru akan mempersulit untuk pengaturan jam belajar.

Rencananya, kata Dedy, untuk pembelajaran tatap muka akan dibuka Agustus mendatang. Itu untuk semua sekolah dari mulai TK, SD, SMP, dan SMK. "Akhir bulan ini akan dirapatkan kembali. Bulan Agustus berangkat semua," tandasnya.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri mengatakan sistem pembelajaran jarak jauh menjadi pengawasan Panitia Kerja (Panja) yang sudah merekomendasi ada banyak kendala. Baik orang tua, guru, siswa, kesiapan menghadapi daring dan kondisi psikis.

"Orang tua tidak siap masuk sekolah. Secara nasional 80 persen khawatir, sedangkan Kota Tegal 91 persen. Sementara Siswa mau ketemu teman-teman, guru," ujar Fikri.
Menurut Fikri, sekolah-sekolah pada zona hijau memang diperbolehkan membuka sekolah. Sedangkan di Kota Tegal belum memulai karena ada masukan dari orang tua.


"Ini menguatkan rekomendasi kita di Pamdemi Covid-19 untuk pendidikan diserahkan kepada Pemerintah daerah. Sehingga daerah bisa berekspresi bahkan sampai kurikulum,"ujar Fikri.

Menurutnya, di Kota Tegal ada opsi sampai tekhnis menggunakan local area network. Tidak harus melalui aplikasi yang kadang servernya ada di luar negeri.

"Saya kira di Kota Tegal ini bisa jadi percontohan bagi daerah lainnya," pungkasnya.

(Sumbe; radartegal.com)

Mantap, Sekolah Ini Terapkan Belajar Dari Rumah Tanpa Kuota Internet

Admin 7/20/2020
Mantap, Sekolah Ini Terapkan Belajar Dari Rumah Tanpa Kuota Internet
PARA orang tua murid mengantre mengambil bahan pembelajaran di MTS Attaqwa Babelan, Kabupaten Bekasi, Minggu (19/7/2020). Setelah dikonversi menjadi dvd, orang tua kini tidak perlu khawatir dengan borosnya kuota internet

BlogPendidikan.net
- Pembelajaran jarak jauh (PJJ) alias belajar dari rumah bagi pelajar menimbulkan sejumlah persoalan.

Salah satunya adalah kebutuhan kuota internet yang cukup besar. Sebab, PJJ bisa berlangsung berbulan-bulan.

Bagi sebagian orang, anaknya yang PJJ tidak hanya satu orang. Di sisi lain, SPP masih jalan terus.

Salah satu sekolah di Bekasi, Jawa Barat, tepatnya di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Attaqwa 3 Babelan, Kabupaten Bekasi, bisa melaksanakan PJJ tanpa kuota internet.
Pada Minggu 19 Juli 2020, para orang tua datang untuk mengambil materi ajar untuk anak-anak yang telah disusun dalam bentuk DVD.

Dengan piringan kaset itu, para orang tua murid kini tidak perlu khawatir kuota internetnya jebol.

"Alhamdulillah meringankan, bisa mengurangi beban saya sebagai orang tua buat beli kuota. Udah gitu juga bisa dipindahin ke HP. Tata caranya juga udah dikasih tau sama gurunya," kata Sulasmi (40) salah seorang orang tua murid yang datang mengambil materi ajar.

Sulasmi mengaku senang akan terobosan yang dibuat sekolah dengan memasukkan materi pengajaran melalui DVD.
Selain itu, para murid juga diberi buku pelajaran untuk melengkapi materi yang ditayangkan melalui video maupun powerpoint di dalam DVD tersebut.
"Iya tadi juga ngambil materi berbentuk CD juga dibarengin sama buku-buku pelajaran," kata orang tua murid di kelas VIII ini, seperti dikutip PORTAL JEMBER dari Pikiran-Rakyat.com.

Wakil Kepala MTs Attaqwa 3 Babelan Abeng Hakim mengatakan, penyusunan materi ajaran dengan menggunakan DVD dilakukan untuk memudahkan murid sekaligus orang tuanya dalam membimbing belajar.

Soalnya selama tiga pembelajaran melalui daring, banyak orang tua yang mengeluh kuota internet yang digunakan borong. Belum lagi pelajaran kerap terganggu lantaran koneksi internet yang lemah.
"Selama ini saat belajar di rumah selama tiga bulan lalu ada masukan dari wali murid bahwa wali murid ada kesulitan dan keberatan dengan kuota internetnya. Karena mereka tidak hanya punya anak satu tapi ada yang punya anak dua, tiga dan pada sekolah," kata dia.

Selain menghemat kuota internet, media DVD pun dapat memudahkan murid mengulang pelajaran karena dapat dilakukan secara offline.

"Makanya kami cari materi pembelajaran yang tidak harus diakses dari online tapi juga dapat diakses secara offline. Jadi dengan dvd ini kemudian dibuka di komputer kapanpun tanpa harus memiliki kuota internet," ucapnya.
Abeng mengatakan, dalam satu keping DVD itu terdapat 17 materi pembelajaran. Di dalamnya tertuang materi berbasis video dan juga presentasi. Selain materi DVD, diberikan juga buku sebagai pelengkap.

Baca Juga: Jika Sidik Jari Terlacak, Polisi Siap Ungkap Pelaku Pembunuhan Editor Metro TV Yodi Prabowo

"DVD ini berisi sekitar 17 materi pembelajaran. Dan di dalam ini kami buat dalam bentuk PowerPoint dan video. Khususnya di madrasah ini ada dua golongan yakni pelajaran umum dan agama.

Total keduanya 17 pelajaran. Ini sengaja dibuat agar memudahkan para siswa dan wali murid untuk mencari materi ajar yang didapatkan di sekolah," ucapnya.

Meski begitu, diakui Abeng, metode ini baru digunakan pada ajaran terbaru. Sebanyak 450 murid dari 20 rombel diberikan materi untuk dipelajari di rumah.

"Maka dari itu tadi para wali murid datang untuk membawa materinya. Kami bagi per kelas sesuai dengan protokol kesehatan.
Walaupun ini terbilang lebih efektif, harapan kami pandemi segera berakhir, virus ini ditemukan antivirusnya, supaya kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan secara normal. Murid dan guru bisa tatap muka di kelas," ucap dia.

Tak Punya Smartphone dan Kuota Belajar Daring, Risma: Belajar Tatap Muka di Balai RW Saja

Admin 7/19/2020
Tak Punya Smartphone dan Kuota Belajar Daring, Risma: Belajar Tatap Muka di Balai RW Saja

BlogPendidikan.net
- Sekolah online di masa pandemi nyatanya mendatangkan berbagai permasalahan di Surabaya. Ada siswa yang curhat ke Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mereka tak punya smartphone untuk ikut pembelajaran online. 

Ada juga yang curhat ayahnya hanya punya satu ponsel buat tiga anak di waktu belajar bersamaan. Ada juga yang tak punya biaya bila harus terus menerus membeli paket internet.

Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Risma mengupayakan solusi dengan menjadikan balai RW dan Broandband Learning Center (BLC) yang sudah ada di Surabaya sebagai tempat belajar baru anak-anak kurang mampu. 

“Karena kita semua belum tahu anak-anak ini belajar virtual sampai kapan, maka nanti akan lebih memaksimalkan fungsi balai RW dan BLC untuk belajarnya anak-anak,” ujar Wali Kota Risma, Sabtu (18/7). 

Oleh karena itu, kata Risma, nantinya semua balai RW yang sudah dilengkapi fasilitas internet, akan lebih dimaksimalkan supaya koneksi internet makin lancar. Bahkan jika memang dibutuhkan nanti akan ditambahkan fasilitas router di tiap balai RW tersebut. 

“Di Balai RW itu kan sudah ada PC yang kami berikan, sehingga nanti tinggal ditambahi kertas dan printer ya. Bahkan, nanti anak-anak akan didampingi langsung oleh staf-staf Dinas Perpustakaan,” jelasnya.

Karena nanti akan ada pendampingnya, maka anak-anak tersebut akan dibagi sesuai jarak rumahnya. Bagi anak-anak yang dekat dengan fasilitas BLC, maka bisa langsung ke BLC.  
Begitu pula sebaliknya, jika lebih dekat dengan balai RW, maka nanti belajarnya di balai RW. 

“Tapi sekali lagi ini khusus anak-anak yang kurang mampu. Sedangkan anak-anak yang mampu, tolong tetap belajar di rumah seperti biasanya karena saya tidak ingin nantinya balai RW itu jadi sekolah baru bagi mereka, itu justru dapat menimbulkan masalah baru. Jadi, intinya akan dibatasi nanti yang belajar di balai RW,” tukasnya. 

Risma juga mengungkapkan, penambahan beberapa fasilitas hingga pendampingan sangat penting karena ke depannya Dinas Pendidikan Surabaya akan menyiapkan pengajaran melalui YouTube dan Email. Nah, ketika pembelajaran itu melalui email maka bisa langsung di-print di balai RW atau BLC tersebut.

“Makanya saya sediakan printer supaya anak-anak ini bisa langsung cetak saat itu juga,” imbuhnya.

Selain itu, Wali Kota Risma mengaku juga akan bekerjasama dengan televisi swasta untuk menyiapkan pola pengajaran baru yang efektif dan menarik di tengah pandemi ini. Sehingga anak-anak itu tidak bosan dengan pembelajaran yang hanya via online itu. 

Materi dan Jadwal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu ke Dua 20-26 Juli 2020 Paud, SD, SMP, dan SMA

Admin 7/18/2020
Materi dan Jadwal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu ke Dua 20-26 Juli 2020 Paud, SD, SMP, dan SMA

Blogpendidikan.net -
Materi dan jadwal belajar dari rumah TVRI minggu ke dua tanggal 20 - 26 juli 2020 tahun ajaran 2020/2021 untuk PAUD, SD, SMP dan SMA sederajat telah di rilis oleh Kemendikbud.

Program Belajar dari Rumah (selanjutnya disebut BDR) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyediakan alternatif kegiatan pembelajaran selama anak belajar di rumah karena terdampak masa pandemik COVID-19. 

Tayangan dalam program BDR meliputi tayangan untuk anak usia PAUD dan sederajat, SD dan sederajat, SMP dan sederajat, SMA/SMK dan sederajat, dan program keluarga dan kebudayaan.

Pembelajaran dalam BDR ini tidak mengejar ketuntasan kurikulum, tetapi menekankan pada kompetensi literasi dan numerasi.

Selain untuk memperkuat kompetensi literasi dan numerasi, tujuan lain program BDR adalah untuk membangun kelekatan dan ikatan emosional dalam keluarga, khususnya antara orang tua/wali dengan anak, melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan serta menumbuhkan karakter positif.

Untuk masukan dan saran mengenai program ini, dapat mengisi survei di s.id/surveibdr, mengunjungi website http://ult.kemdikbud.go.id/, atau mengirim surat elektronik ke pengaduan@kemdikbud.go.id.

Untuk yang di daerah 3T, dapat mengirim SMS gratis dengan mengetik BDR dan kirim ke 93456. Tetap belajar dari rumah, jaga jarak, rajin cuci tangan, dan pakai masker agar kita mencegah penyebaran COVID-19.

Berikut Materi dan Jadwal Belajar Dari Rumah TVRI Minggu ke Dua 20-26 Juli 2020 Paud, SD, SMP, dan SMA Sederajat; LIHAT DISINI

Curhatan Bunda: Dari Belajar Daring Menjadi Darting Akhirnya Pusing

Admin 7/18/2020
Curhatan Bunda: Dari Belajar Daring Menjadi Darting Akhinrnya Pusing

BlogPendidikan.net
- Belajar daring tahun tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai, orang tua mulai berkeluh kesah. Bahkan tidak sedikit jadi darting alias darah tinggi dan pusing kepala. Apalagi punya anak lebih dari satu orang. Mana tahan!  Mendampingi satu anak saja bikin gigi rapat dan mata melotot. Syukur-syukur tangan bukan ahli cubit. Kalau enggak apes bener nasib jadi anak sekolah musim virus corona dicubitin melulu.

Para ibu mulai menorehkan emosi jiwanya di media sosial. Dari mulai merasa keteteran, tidak bisa mengikuti pelajaran anak, hingga mengeluh harus beli ekstra pulsa untuk belajar online. Tadinya guru yang bertanggung jawab lebih besar untuk pendidikan anak, berubah menjadi butuh peran penting orang tua. Mau tidak mau orang tua tidak hanya beradaptasi sama protokol kesehatan, tetapi juga membiasakan diri sekaligus menjadi guru.

Belajar Daring Kok Malah Bikin Darting

Belajar secara daring dari rumah itu mejadi tidak mudah, karena orang tua harus ikut juga. Orang tua harus mengetahui apa yang diajarkan kepada anak-anaknya. Ayah dan Bunda harus bisa menjadi pengganti guru di sekolah. Jika sebelum masa Pandemi COVID-19 cukup menanyakan bagaimana pembelajaran di sekolah, kini harus ikut memikirkan jawaban dari tugas yang diberikan oleh para guru.

Enggak kebayang kan harus ikut membaca buku dan belajar semua pelajaran anak-anak. Iya kalau anaknya bisa mengerti, ini malah ngambek enggak mau belajar atau malah menangis sesegukan. Ibunya lebih galak dari guru di sekolah Ujung-ujungnya kepala menjadi pusing dan mulai darting. Enggak kuat rasanya ingin memarahi anak.

Belum lagi, orang tua harus mengingatkan berkali-kali agar anak mau belajar dan menyelesaikan tugas sekolah. Meski, itu sama saja menyuruh diri sendiri mengerjakan PR. Jadi deh, orang tua harus lebih pintar dan bisa memahami materi pembelajaran daring. Bertanya kepada guru rasanya sama saja dengan bohong, toh orang tua juga yang harus menyelesaikan tugas.

Metode pembelajaran yang berubah membuat anak-anak seolah belajar satu arah. Tidak ada komunikasi dengan guru yang intens seperti di sekolah, malah terkesan terus-menerus diberikan tugas. Guru menjadi tidak bisa membangun kedekatan dengan siswanya. Bukan hanya metode belajarnya saja jarak jauh, anak pun semakain jauh secara emosional dengan pengajar mereka.

Kalau bulan pertama belajar daring, pemerintah bilang masa pandemi adalah waktu yang tepat bagi orang tua semakin dekat dengan anak-anak. Faktanya tidak seperti itu, orang tua semakin darah tinggi dan pasrah sama keadaan. Tahun ajaran baru sebulan sudah bikin stres sendiri, bagaimana kalau sampai enam bulan kedepan.

Sementara itu, Pak Menteri terus mengingatkan agar belajar dari rumah dilakukan dengan penuh kegembiaraan. Nah, apakah Ayah dan Bunda merasa gembira selama mendampingi anak-anak belajar dari rumah?

Ndiem, Dengarkan Keluhan Siswa! Jangan Cuman Nyuruh Belajar Online, Kuota Internet Tolong Disubsidi

Admin 7/18/2020
Ndiem, Dengarkan Keluhan Siswa! Jangan Cuman Nyuruh Belajar Online, Kuota Internet Tolong Disubsidi

BlogPendidikan.net
- Pandemik virus corona baru (Covid-19) mengharuskan siswa sekolah tetap tinggal di rumah dengan tetap melakukan proses belajar secara daring.

Namun, internet yang belum merata masih menjadi persoalan yang belum menemukan solusi.

Hal inilah yang menjadi sorotan Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana Yusuf, yang meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim memenuhi kebutuhan internet untuk siswa kurang mampu.

“Selama belajar daring, listrik, AC dan air sekolah tidak terpakai. Mestinya Mendikbud pahami ini, seharusnya bisa dianggarkan pulsa gratis untuk siswa,” ujar Gde Siriana, Jumat (17/7).

Layanan internet gratis di masa pandemik corona mau tidak mau harus ditangani pemerintah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat, terkhusus untuk siswa kurang mampu yang terkendala proses belajar daring dari rumah.

“Kewajiban negara sediakan fasilitas belajar. Pulsa atau paket internet saat Covid, juga termasuk fasilitas belajar yang harus disediakan negara,” ungkap Gde Siriana.

Menurut Board Member of Bandung Innitiaves Network ini, pemerintah tidak bisa lepas tangan dengan menyerahkan kepada orang tua terkait kebutuhan internet bagi siswa.

Karena secara psikologis, anak dari keluarga yang tak mampu mengalami tekanan jika harus memikirkan uang untuk membeli kuota internet.

“Anak-anak yang peka dengan kondisi ekonomi keluarganya kan berat hati untuk minta uang ke orang tua yang juga sedang susah karena tidak ada penghasilan. Akhirnya semua dipendam persoalan, tidak fokus belajar, nilai turun,” katanya.

“Adalah keanehan besar jika pekerja saja diberikan subisidi dengan program pelatihan, bahkan uang saku dalam Kartu Prakerja. Sedangkan siswa tidak dibantu gratis pulsa atau paket internetnya,” sambungnya.

Oleh karena itu, Gde Siriana berharap kepada Mendikbud menunjukkan political will untuk kebijakan khusus bantuan fasilitas belajar daring.

Sebagai contoh solusi yang ditawarkannya adalah dengan membuat program khusus seperti halnya Kartu Prakerja.

“Harus jelas kebijakannya. Kebijakan beda dengan kebijaksanaan. Kebijakan harus ada payung hukumnya, terukur tujuan dan implementasinya, ada anggarannya. Pemerintah bisa buatkan program bantuan khusus siswa belajar daring, terdiri dari bantuan gratis paket internet. Negara bisa topup ke nomor HP siswa, atau dikasih sim card sudah terisi paket,” paparnya.

“Bantuan teknis bagi siswa yang masih kesulitan belajar daring alias gaptek, datang ke sekolah bergiliran untuk dapat bimbingan teknis. Ingat Indonesia luas, tidak semua mampu beli HP yang canggih, beli pulsa yang mahal. Jangan heran jika tidak semua paham belajar daring,” ujar Gde Siriana.

(Sumber: jambiekspres.co.id)

Mas Nadiem, Belajar Daring Sama Saja Menyiksa Orang Miskin Bila Tanpa Internet Gratis

Admin 7/18/2020
Mas Nadiem, Belajar Daring Sama Saja Menyiksa Orang Miskin Bila Tanpa Internet Gratis

BlogPendidikan.net
- Pandemik virus corona baru (Covid-19) mengharuskan siswa sekolah tetap tinggal di rumah dengan tetap melakukan proses belajar secara daring. Namun, internet yang belum merata masih menjadi persoalan yang belum menemukan solusi.

Hal inilah yang menjadi sorotan Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana Yusuf, yang meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim memenuhi kebutuhan internet untuk siswa kurang mampu. "Selama belajar daring, listrik, AC dan air sekolah tidak terpakai. Mestinya Mendikbud pahami ini, seharusnya bisa dianggarkan pulsa gratis untuk siswa," ujar Gde Siriana kepada Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (17/7).

Layanan internet gratis di masa pandemik corona mau tidak mau harus ditangani pemerintah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat, terkhusus untuk siswa kurang mampu yang terkendala proses belajar daring dari rumah. "Kewajiban negara sediakan fasilitas belajar. Pulsa atau paket internet saat Covid, juga termasuk fasilitas belajar yang harus disediakan negara," ungkap Gde Siriana. 

Menurut Board Member of Bandung Innitiaves Network ini, pemerintah tidak bisa lepas tangan dengan menyerahkan kepada orang tua terkait kebutuhan internet bagi siswa. Karena secara psikologis, anak dari keluarga yang tak mampu mengalami tekanan jika harus memikirkan uang untuk membeli kuota internet. 

"Anak-anak yang peka dengan kondisi ekonomi keluarganya kan berat hati untuk minta uang ke orang tua yang juga sedang susah karena tidak ada penghasilan. Akhirnya semua dipendam persoalan, tidak fokus belajar, nilai turun," katanya. "Adalah keanehan besar jika pekerja saja diberikan subisidi dengan program pelatihan, bahkan uang saku dalam Kartu Prakerja. 

Sedangkan siswa tidak dibantu gratis pulsa atau paket internetnya," sambungnya. Oleh karena itu, Gde Siriana berharap kepada Mendikbud menunjukkan political will untuk kebijakan khusus bantuan fasilitas belajar daring. Sebagai contoh solusi yang ditawarkannya adalah dengan membuat program khusus seperti halnya Kartu Prakerja.

"Harus jelas kebijakannya. Kebijakan beda dengan kebijaksanaan. Kebijakan harus ada payung hukumnya, terukur tujuan dan implementasinya, ada anggarannya. Pemerintah bisa buatkan program bantuan khusus siswa belajar daring, terdiri dari bantuan gratis paket internet. 

Negara bisa topup ke nomor HP siswa, atau dikasih sim card sudah terisi paket," paparnya. "Bantuan teknis bagi siswa yang masih kesukitan belajar daring alias gaptek, datang ke sekolah bergiliran untuk dapat bimbingan teknis. Ingat Indonesia luas, tidak semua mampu beli HP yang canggih, beli pulsa yang mahal. Jangan heran jika tidak semua paham belajar daring," demikian Gde Siriana.

Artikel ini juga telah tayang di politik.rmol.id

Modul Pembelajaran Daring/Luring Pendidikan Agama Islam Untuk SD/MI Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013

Admin 7/17/2020
Modul Pembelajaran Daring/Luring Pendidikan Agama Islam Untuk SD/MI Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013

BlogPendidikan.net
 - Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai 13 juli 2020, para guru dan siswa harus bersiap untuk menghadapi proses pembelajaran yang dilangsungkan dari rumah baik daring ataupun luring. 

Khusus daerah yang berada di zona merah, oranye dan kuning harus belajar dari rumah, sesuai surat edaran yang telah diterbitkan oleh Kemendikbud. Belajar dari rumah (BDR) atau bahasa terkini Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang akan dilaksanakan oleh guru dengan menggunakan model pembelajaran secara daring atau luring harus berdasarkan kondisi daerah tersebut, apakah menunjang untuk fasilitas belajar daring atau luring.


Guru harus lebih kreatif dalam membangun proses pembelajaran yang menarik agar selama belajar dari rumah anak-anak tidak merasa jenuh dengan beban tugas yang berat dan proses pembelajaran yang monoton. 

Salah satu penunjang adalah ketersediaan buku pelajaran yang akan diberikan pada anak didik, yang sesuai dengan kondisi keadaan saat ini.

Berikut BlogPendidikan.net akan berbagi referensi buku/modul pembelajaran yang bisa dilakukan secara daring atau luring yang berisi materi dan soal-soal latihan lengkap Pendidikan Agama Islam (PAI) dari kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) sesuai dengan kurikulum 2013, dapat dibagikan kepada anak didik. modul ini dalam bentuk PDF.

Berikut Modul Pembelajaran Daring dan Luring Pendidikan Agama Islam (PAI) Untuk SD/MI Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013:

1. Modul PAI Kelas 1 SD/MI >>> LIHAT DISINI
2. Modul PAI Kelas 2 SD/MI >>> LIHAT DISINI
3. Modul PAI Kelas 3 SD/MI >>> LIHAT DISINI
4. Modul PAI Kelas 4 SD/MI >>> LIHAT DISINI
5. Modul PAI Kelas 5 SD/MI >>> LIHAT DISINI
6. Modul PAI Kelas 6 SD/MI >>> LIHAT DISINI

Demikian, semoga apa yang dibagikan BlogPendidiakn.net bermanfaat dan bisa menjadi referensi anda dalam proses pembelajaran dari rumah. Terima kasih dan jangan lupa berbagi.

Masih Banyak Sekolah Tidak Memiliki Jaringan Listrik dan Internet, Sekolah Pelosok Tidak Mampu Gelar PJJ

Admin 7/17/2020
Masih Banyak Sekolah Tidak Memiliki Jaringan Listrik dan Internet, Sekolah Pelosok Tidak Mampu Gelar PJJ

BlogPendidikan.net
- Pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih diterapkan hampir semua sekolah di Indonesia, terutama yang tidak berada di zona hijau, pada tahun ajaran baru 2020/2021. Hari pertama sekolah telah dimulai pada hari ini, Senin (13/7/2020). 

Kegiatan hari pertama sekolah pun berlangsung tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat situasi sebelum pandemi virus corona. Berbagai tantangan pun harus dihadapi. Permasalahan yang harus dihadapi terutama terkait dengan infrastruktur, seperti listrik dan jaringan internet. 

Selain itu, tidak sedikit keluarga yang tidak memiliki gawai sebagai sarana untuk mengikuti PJJ. Bagaimana catatan untuk pelaksanaan pembelajaran jarak jauh pada tahun ajaran baru ini? Pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai, PJJ tidak akan mungkin berjalan dengan baik. 

Oleh karena itu, sejak jauh-jauh hari ia berpendapat bahwa tahun ajaran baru sebaiknya ditunda. "Sudah dapat dipastikan tidak akan bisa berjalan baik, omong kosong kalau ada pejabat Kemendikbud bilang PJJ dapat berjalan baik. Pasti asal jalan atau asal-asalan saja," kata Darmaningyas saat dihubungi Kompas.com, Senin (13/7/2020). 

Ia mengusulkan, seharusnya awal mulai tahun ajaran baru diganti menjadi Januari agar periode Juli-Desember 2020 ini bisa digunakan untuk menuntaskan pembelajaran yang belum selesai pada semester genap Januari-Juni 2020. "Sedangkan yang harus masuk ke kelas 1 (SD/MI), SMP/MTs, maupun SMA/SMK/MA baru mulai pembelajaran Januari 2021 nanti," kata Darmaningtyas. 

Ia juga menyebut sejumlah tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan, baik bagi siswa maupun guru.

Tantangan itu di antaranya:
  • Masih banyak sekolah yang tidak memiliki jaringan listrik dan internet. 
  • Tidak banyak yang memiliki komputer/laptop sehingga proses pembelajaran PJJ hanya dilakukan dengan menggunakan ponsel. Tentu saja ponsel banyak memiliki keterbatasan, terutama fitur-fiturnya untuk menunjang pembelajaran dan kameranya yang terlalu kecil. 
  • Banyak yang ponselnya sudah usang, sekadar bisa untuk WhatsApp, tetapi tidak bisa untuk mengunduh materi dan sejenisnya. 
  • Tidak semua orang memiliki uang untuk mengisi kuota internet sesuai dengan kebutuhan. 
  • Bagi golongan menengah ke bawah, ponsel mereka terbatas, sementara anaknya yang bersekolah lebih dari satu. 
Hal ini jelas akan jadi persoalan, mana yang harus dapat prioritas. Menurut Darmaningtyas, sederet kendala yang menyulitkan itu seharusnya membuat Kemendikbud sadar bahwa pelaksanaan PJJ tidak mungkin optimal. Namun, menurut dia, selama ini usulan dari lapangan tidak pernah didengar oleh Menteri Pendidikan. 

"Ya menterinya tidak mau dengerin masukan dari lapangan, ya biarin saja amburadul," kata Darmaningtyas.

Sekolah Pelosok Tidak Mampu Gelar PJJ

Mengutip harian Kompas, Senin, 13 Juli 2020, pembelajaran jarak jauh bagi para siswa tidak dapat terlaksana di daerah-daerah pelosok. Lebih dari 47.000 satuan pendidikan tak memiliki akses listrik serta internet. Di Papua, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Papua mendata ada 14 daerah yang sama sekali tidak melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19. 

Daerah-daerah itu meliputi Puncak, Puncak Jaya, Yalimo, Mamberamo Tengah, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Lanny Jaya, Nduga, Asmat, Boven Digoel, Yahukimo, Pegunungan Bintang, dan Mamberamo Raya. ”Sebanyak 14 daerah ini minim infrastruktur internet,” kata Kepala LPMP Provinsi Papua Adrian Howay, Minggu (12/7/2020) di Jayapura. Oleh karena itu, PJJ praktis hanya bisa dilaksanakan di kota besar, seperti Jayapura dan Mimika. 

Bahkan, di kota pun, tak semua orangtua mampu menyediakan kuota internet atau membelikan gawai bagi anak untuk mengikuti PJJ. Tidak hanya di Papua, PJJ pun sulit diterapkan di Maluku. Selain tidak semua wilayah terjangkau akses internet, sebagian keluarga kesulitan untuk membelikan gawai sebagai sarana belajar anak-anak. 

”Di Dobo (ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru), sinyal internet lemah, apalagi di kampung-kampung. Di kampung, sinyal untuk telepon pun susah,” ujar Mila Ganobal, tokoh pemuda Kepulauan Aru. Kepulauan Aru terdiri atas 547 pulau. Di wilayah ini ada 117 desa yang tersebar di 10 kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 113.000 jiwa. 

Sebagian warganya hidup di bawah garis kemiskinan, terlebih selama pandemi, ekonomi masyarakat sangat terpukul. Kondisi serupa dialami siswa di Pulau Seira, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Untuk siswa SD, setiap guru ditugaskan mendatangi rumah siswa satu per satu. ”Siswa SMP dan SMA ini agak susah diatur pembelajarannya. 

Yang jauh dari sekolah diharapkan belajar sendiri di rumah. Tidak ada interaksi dengan guru,” tutur Pendeta Devi P Lopulalan, tokoh agama di Seira. Sementara itu, di Lampung, Kepala SMK Penerbangan Raden Intan Bandar Lampung Suprihatin menyampaikan, tak semua siswa mempunyai gawai untuk PJJ. 

Padahal, sebagian besar kegiatan belajar dilakukan melalui aplikasi WhatsApp atau Zoom. Siswa yang tidak mempunyai gawai diminta datang ke sekolah untuk mengambil tugas dari guru. Siswa lalu mengirimkan tugas melalui surel.