Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Mengenal Karakteristik Siswa SD Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

Mengenal Karakteristik Siswa SD Kelas Rendah dan Kelas Tinggi

BlogPendidikan.net
 Tingkatan kelas di sekolah dasar dapat dibagi menjadi dua, yaitu kelas rendah dan kelas tinggi. Kelas rendah terdiri dari kelas satu, dua, dan tiga, sedangkan kelas-kelas tinggi terdiri dari kelas empat, lima, dan enam.

Di Indonesia, rentang usia siswa SD, yaitu antara 6 atau 7 tahun sampai 12 tahun. Usia siswa pada kelompok kelas rendah, yaitu 6 atau 7 sampai 8 atau 9 tahun. Siswa yang berada pada kelompok ini termasuk dalam rentangan anak usia dini. 


Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu, pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan berkembang secara optimal. 

Untuk itu, hal yang pertama harus dilakukan oleh guru ketika mengajar adalah mengenali dan memahami karakteristik siswa. Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru akan mudah dipahami siswa jika disampaikan menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan gaya belajar siswa. 

Usia siswa SD berada dalam akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari usia 6 sampai 12 tahun (Yusuf). Menurutnya, perkembangan individu sejak lahir sampai masa kematangan terdiri dari:
  • Masa usia pra sekolah (0 – 6 ) tahun
  • Masa usia sekolah dasar (6 – 12) tahun
  • Masa sekolah menengah (12 – 18) tahun
  • Masa usia mahasiswa (18 – 25) tahun. 
Masa usia Sekolah Dasar (SD) dibagi ke dalam dua jenjang yaitu masa kelas rendah dan masa kelas tinggi dengan karakteristik sebagai berikut:

Masa Kelas Rendah

Masa usia siswa pada jenjang ini adalah 6 – 10 tahun memiliki karakteristik:
  1. Kondisi jasmani dan prestasi sangat berhubungan
  2. Sikap mematuhi aturan-aturan permainan tradisional menguat
  3. Kecenderungan memuji diri sendiri
  4. Suka membanding-bandingkan dirinya dengan anak lain
  5. Cenderung mengabaikan soal yang dianggap sulit karena merasa tidak penting
  6. Menginginkan nilai yang baik tanpa mengingat apakah prestasinya pantas diberi nilai baik atau tidak.
Masa Kelas Tinggi

Masa usia siswa pada jenjang ini adalah 10 – 13 tahun memiliki karakteristik:
  1. Adanya minat terhadap aktivitas yang melibatkan sesuatu yang konkret
  2. Cenderung membandingkan aktivitas-aktivitas praktis
  3. Sangat realistis
  4. Rasa ingin tahu tinggi
  5. Kemauan belajar tinggi
  6. Menjelang akhir masa ini, sudah ada minat kepada hal-hal dan mata pelajaran khusus
  7. Sampai sekitar umur 11 tahun memerlukan guru atau orang dewasa lainnya untuk menyelesaikan tugas dan memenuhi keinginannya
  8. Memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajar di sekolah
  9. Senang membentuk kelompok sebaya umumnya agar dapat bermain bersama.
Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

Berikut 13 Kata-kata Mutiara dan bijak khusus untuk guru untuk membangkitkan motivasi dan derajat seorang guru. Sososk Yang Dicintai dan Dihormati
 :

"Kerja seorang guru tidak ubah seperti kerja seorang petani yang sentiasa membuang duri serta mencabut rumput yang tumbuh di celah- celah tanamannya." (Imam Al Ghazali)

"Seorang majikan dapat memberitahumu apa yang ia harapkan darimu, Tapi seorang Guru membangkitkan pengharapanmu sendir." (Patricia Neal)

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Perananmu sebagai pemimpin itu jauh lebih penting dari apa yang kau bayangkan. Kau (guru) memiliki kekuasaan untuk membantu orang menjadi juara." (Ken Blanchard)

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Aku bukan seoarang Guru hanya sesama musafir yang kau tanyai arah, Aku menujuk ke arah depan kedepan diriku sendiri dan ke depan dirimu." (George Bernard Shaw)

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Guru yang baik tidak pernah Mengatakan muridnya bodoh; tapi guru yang baik selalu mengatakan 'Muridku belum menguasai."

13 Kata-kata Mutiara Untuk Guru, Sososk Yang Dicintai dan Dihormati

"Apa yang ingin dipelajari murid, Sama pentingnya dengan apa yang ingin diajarkan Guru." (Lois E.LeBar)

"Teknologi hanya sebuah alat. Dalam hal membuat murid bekerja sama dan menjadikan mereka bermotivasi, gurulah yang paling utama." (Bill Gates)

"Saya percaya bahwa guru terhebat adalah seniman terhebat dan saya percaya hanya sedikit sekali seniman yang hebat. Mengajar mungkin adalah seni terhebat karena medianya adalah jiwa dan akal manusian." (John Steinback)

"Salah satu hal terpenting yang boleh dilakukan seorang guru adalah mengirim pulang seorang murid di siang hari  dalam keadaan sedikit lebih menyukai dirinya sendiri daripada ketika ia datang di pagi hari." (Ernest Melby)

"If kids come to us from strong, healthy functioning families, it makes our job easier.If they do not come to us from strong, healthy, functioning families, it makes our job more important." (Barbara Colorose )

"Teachers affect eternity; no one can tell where their influence stops." (Henry Brooks Adams)

"Students don't care how much you know until they know how much you care." (Nonymous)

"The test of a good teacher is not how many questions he can ask his pupils that they will answer readily, but how many questions he inspires them to ask him which he finds it hard to answer." (Alice Wellington Rollins)

Demikian semoga bisa menambah motivasi buat Bapak/Ibu Guru di sekolah saat PTM Terbatas.

5 Akibat Yang Akan Dialami Siswa Jika Menekan Dengan Kata-kata Merendahkan

Ingat! Jangan Menekan Siswa Dengan Kata BODOH

BlogPendidikan.net
- Memang tidak bisa dipungkiri, seorang guru pasti lebih mengenal siswanya antara satu dan lainnya, ada klasifikasi antara siswa yang mampu dalam hal kognitif dan yang tidak. Hal ini wajar ada pada diri siswa. Bodoh dan pintar adalah hanya kata khiasan untuk membedakan siswa yang mampu dengan kata 'Pintar' dan yang tidak mampu dengan kata 'Bodoh'.

Selama ini mungkin guru sering membedakan siswa-siswa yang ada di sekolah dalam dua hal tersebut, yaitu "siswa yang bodoh atau pintar". Pendapat kita tentang hal ini memang bukanlah sebuah kesalahan, namun hal itu sangat perlu diluruskan. Karena sejatinya tak ada kata bodoh dalam diri seorang siswa.


Dari pernyataan di atas, kita bisa berfikir bahwasannya tidak ada kata "bodoh" yang melekat pada diri siswa. Melainkan siswa tersebut tidak bisa memanfaatkan apa yang telah dianugrahkan  Salah satu buktinya yaitu adanya rasa malas yang selalu melekat dalam diri siswa. Hal inilah yang membuat klasifikasi siswa itu bodoh.

Terlebihnya bagi seorang pendidik sangat berhati-hati sekali jika menekan siswa, apalagi dengan mengeluarkan kata-kata 'Bodoh' , tanpa disadari tekanan tersebut akan berdampak psikologis pada siswa, dan yang lebih parahnya lagi siswa tersebut akan merasa dibedakan dan asing bagi teman-teman lainnya.

Dalam situasi dimana siswa tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan sesuatu hal atau menjawab pertanyaan secara tepat, guru sering mengungkapkan kekecewaannya atas situasi tersebut dengan melontarkan kata-kata seperti ‘Kamu Bodoh’, atau kata-kata sejenis. Ada guru yang tidak merasa bersalah ketika mengatakan demikian. 


Fenomena semacam ini pada umumnya disebabkan oleh ketidaktahuan akan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kata-kata tersebut. Ada juga karena telah ada kesepakatan sebelumnya dengan siswa, manakala mereka tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan, atau tidak bisa menjawab, maka mereka akan dikatakan bodoh.

Apa akibat yang ditimbulkan menekan siswa dengan kata Bodoh :

1. Kepercayaan diri akan menurun

Kata-kata yang dikeluarkan oleh guru membuat siswa merasa bahwa itu adalah dirinya. Contoh sederhana saja, ketika guru berkata bodoh pada siswa tentu ia sakit hati dan berpikir bahwa hal itu mencerminkan dirinya. Tapi di sisi lain, alasan guru mengatakan itu karena kesal atau emosi. 

Hal tersebut membuat rasa percaya diri siswa menurun. Ia merasa bahwa hanya kekurangan saja yang ada dalam dirinya. Padahal seharusnya, guru yang lebih bijaksana dalam memilih kata untuk siswa. Jangan asal ucap tapi beri dia sedikit pengertian. 


2. Takut akan penolakan

Seorang siswa akan yang mendapat didikan yang buruk jika, guru tidak mampu bersikap dan berkata-kata dengan baik. Hal sederhana yang guru lakukan yaitu, berkata kasar pada siswa dan berdampak pada karakternya. 

Dan hasilnya, ia menjadi anak yang takut akan penolakan. Tapi ketika penolakan terjadi pada siswa maka, ia dapat melukai dirinya sendiri akibat merasa tidak layak untuk hidup. Jadi sebelum terjadi guru sebaiknya lebih dahulu mencegah. 

3. Pergaulan tidak akan terarah

Kunci utama siswa akan sukses dan memiliki karakter yang baik dimulai dari keluarga. Didikan orangtua sangat penting dalam membentuk perilaku dan pola pikir anak, selanjutnya pendidikan di sekolah juga sangat menentukan. Tapi jika orangtua atau guru sering berkata kasar pada anak, pasti ia akan mencari kesenangan di luar rumah. Sehingga, ia akan masuk dalam pergaulan yang salah dan mendidiknya menjadi orang yang sulit diatur.

4. Melatih memiliki sifat dendam

Ketika orangtua atau guru merasa bahwa anak terluka lebih baik segera minta maaf. Tapi tidak dengan maksud memanjakan anak dan tetap beritahu kesalahannya. Ini bertujuan agar hubungan orangtua dan anak akan semakin baik dan tidak ada rasa dendam. 

Pasalnya, terkadang orangtua atau guru sulit meminta maaf dan menganggap semua baik-baik saja. Padahal anak sudah menyimpan dendam akibat sakit hati. Jika sudah menjadi kebiasaan maka, anak akan sulit memaafkan orang sekitarnya.


5. Menjadi pendiam dan tertutup

Anak yang berubah menjadi pendiam dan tertutup bisa jadi karena orangtua atau guru sering berkata kasar padanya. Hal ini justru membuat anak tidak dekat dengan orangtua maupun gurunya dan merasa hidup sendiri. Sehingga, kita tidak dapat mendidik anak dengan baik. Sebelum hal ini berlanjut hingga sampai ia dewasa maka, cari tahu akar permasalahannya dan berusaha untuk dekat pada anak.

Semoga anak didik kita, bisa terjaga dengan baik dengan membentuk karakter mereka menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta membahagiakan kedua orang tua dan gurunya. 

Jangan Beranggapan Menjadi Guru Itu Mudah, 5 Hal Ini Yang Menjadikan Pekerjaan Guru Itu Sangan Berat

Jangan Beranggapan Menjadi Guru Itu Mudah, 4 Hal Ini Yang Menjadikan Pekerjaan Guru Itu Sangan Berat

BlogPendidikan.net
- Banyak yang megatakan menjadi guru adalah pekerjaan yang mudah, buka buku menjelaskan dan mengerjakan tugas hemmmm. Tapi mereka tidak tau bahwa berprofesi menjadi guru itu sangatlah sulit karena menghadapi benda hidup (manusia) membentuk akhlak dan karakter agar menjadi manusia yang berguna, bertanggungjawab, jujur dan berbakti pada orangtua dan negara.

Berikut ini ada beberapa hal mengapa menjadi guru itu sangat berat;

1. Karena harus digugu dan ditiru, guru harus pintar berpura-pura di depan peserta didik.

Guru juga manusia. Menjalani keseharian sebagai seorang guru di sekolah, berarti harus berani menyembunyikan perasaan susah, sedih, gundah gulana yang sedang ia rasakan. Di depan peserta didik semua harus terlihat baik-baik saja. Peserta didik tidak akan senang melihat wajah guru penuh dengan masalah di depan mereka. 

Apalagi latar belakang keluarga mereka juga berbeda-beda. Kalau mereka datang dari keluarga mainstream, tidak akan ada masalah baru. Tapi kebanyakan peserta didik sekarang berasal dari keluarga antimainstream. Jadi, guru tidak boleh tampil penuh masalah karena akan berdampak menambah masalah.

2. Menjadi guru bukan hanya soal mengajar di kelas, administrasi dan tugas tambahan juga menggunung.

Tantangan sebagai seorang guru bukan hanya ketika mengajar di kelas, struktur organisasi di sekolah mentakdirkan guru untuk mengemban tugas tambahan, entah itu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, pembina OSIS, wali kelas, pembina ekstrakurikuler, operator sekolah, dan lain-lain dengan tidak meninggalkan kewajiban mengajar di kelas. 

Ketika dihadapkan dengan tugas tambahan ini, mau tidak mau guru harus pintar mengatur mana yang harus didahulukan, mengajar di kelas atau menyelesaikan deadline tugas tambahan. Bahkan menyelesaikan semua tugas ini tidak cukup hanya menggunakan jam kerja ketika di sekolah, alhasil berlanjut di rumah.

3. Sistem penggajian 1 minggu untuk 1 bulan

Kalau ingin kaya harta, hindarilah pekerjaan guru. Menjadi guru tidak akan menjadikan seseorang kaya harta, melainkan kaya pengalaman. Sampai saat ini jam mengajar guru di sekolah tidak dihitung setiap kali mengajar, namun 1 minggu mengajar untuk perhitungan 1 bulan. 

Misalkan seorang guru dibayar 50.000 untuk 1 jam pelajaran (45 menit), seminggu mengajar 20 jam, maka gaji yang diterimanya mengajar selama 1 bulan adalah 1.000.000 (50.000 x 20 jam), tidak dikali 4 minggu. Tidak heran, banyak guru yang harus mencari tambahan dengan mengajar privat di luar jam mengajar sekolah. 

Semua demi penghidupan yang layak. Dan jangan takjub dengan guru yang membawa mobil ke sekolah. Mereka bisa seperti itu karena memang berasal dari keluarga kaya atau mempunyai bisnis lain selain menjadi guru.

4. Idealisme di kampus keguruan akan tumbang oleh kenyataan di dunia kerja

Kenyataan di dunia kerja pelan-pelan akan menyadarkan seorang guru bahwa idealisme di kampus tidak bisa mutlak diberlakukan. Misalkan rencana pembelajaran yang dibuat begitu sempurna ketika di kampus, tidak akan berlaku ketika diterapkan di sekolah. 

Beberapa faktor penyebabnya karena sarana prasarana yang tidak mendukung, ataupun godaan bertindak curang karena idealisme tidak sebanding dengan upah yang diterima.

5. Orientasi nilai, remidi berkali-kali guru tetap harus mengkatrol nilai.

Deadline administrasi dan tugas tambahan menyebabkan guru tidak fokus mencari ide kreatif yang bisa diterapkan dalam pembelajaran di kelas. Orientasi belajar masih menuntut nilai yang tinggi. 

Alhasil, beberapa peserta didik yang lemah di bidang akademik akan sempat merasakan remidial berkali-kali dan terakhir guru harus mengkatrol nilai. Apapun yang terjadi, semua demi nilai tinggi di rapor atau ijazah. Padahal kenyataannya mencapai nilai KKM saja tidak bisa.

Semoga isi dari tulisan ini bermanfaat dan tidak ada lagi orang beranggapan menjadi guru itu mudah. Terima kasih salam pendidikan.

8 Tips Agar Anak Menyukai dan Mudah Memahami Matematika

Tips Agar Anak Menyukai dan Mudah Memahami Matematika

BlogPendidikan.net
- Setiap orang tua ataupun guru pasti menginginkan anak-anaknya pandai dan cerdas dalam belajar. Khususnya pada mata pelajaran matematika, yang konon katanya adalah pelajaran yang sukar, membosankan dan dibenci sebagian anak/siswa.

Padahal jika dipahami secara benar bagaimana karakteristik pelajaran matematika tentunya akan mudah menerapkannya kepada anak/siswa. Semua bergantung pada pendekatan yang dilakukan oleh Guru/Orang tua bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan agar anak menyukai dan tertarik belajar matematika.

Selanjutnya bagaimana tips yang dilakukan para guru dan orang tua agar anak/siswa menyukai dan mudah memahami pelajaran matematika. 

Berikut 8 tips yang bisa diterapkan orang tua dan guru agar anak menyukai dan mudah memahami pelajaran matematika :

1. Perkenalkan matematika sambil bermain

Kenalkan kepada anak pelajaran matematika sambil bermain misalnya “Ibu membeli sepuluh buah jeruk lalu ibu akan membaginya tiga kepada anak, lalu berapa sisa ibu memiliki buah jeruk?”. Anak diminta untuk berpikir dan menghitung sehingga otaknya tidak merasa jenuh dalam mempelajari matematika.

2. Tanamkan pemahaman kepada anak bahwa matematika itu mudah

Daripada memaksa anak untuk menyukai matematika terus menerus, memberinya pemahaman adalah cara terbaik untuk anak. Caranya berikan pemahaman bahwa “Matematika itu mudah, tidak sesulit apa yang kamu bayangkan”. Berikan senyuman sembari mengucapkannya, hal ini membantu meyakinkan mereka bahwa ucapan itu benar setelah orang tua mengajari anak dalam mempelajari atau mengerjakan soal matematika untuk anak.

3. Ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan

Hal yang paling mudah dilakukan adalah menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan ketika mempelajari matematika. Maksud bermain disini bukan menyediakan alat permainan ketika belajar, namun guru dan orang tua menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

4. Selama proses pembelajaran, jangan pernah ada paksaan sama sekali

Jika kita saja sebagai orang dewasa akan merasa kurang nyaman saat ada pemaksaan, apalagi dengan anak-anak. Mereka pasti akan merasa tertekan dan stress, jika kamu paksa untuk menyukai pelajaran yang satu ini.

Daripada memaksanya, lebih baik kamu menggunakan pendekatan secara persuasif. Tidak hanya itu, kamu sebagai orang tua juga harus rela dan mau, jika anak-anak meminta ditemani untuk belajar. Jangan sampai menolak dan banyak alasan-alasan yang enggak jelas.

5. Gunakan media pembelajaran yang sesuai dan menarik

Untuk membantu daya serap anak didik dalam mempelajari materi pelajaran matematika, orang tua atau guru seharusnya menggunakan media, metode atau strategi yang menarik. Misalnya cara atau rumus cepat dan alat-alat peraga. Tetapi pastikan media atau metode tersebut sesuai dengan materi dan kebutuhan anak.

6. Memberi motivasi pada anak

Jika Anda hanya fokus pada penyampaian materi kemudian mengerjakan soal, maka hal itu akan membuat anak semakin jenuh. Orang tua seharusnya memberi motivasi kepada anak agar lebih giat lagi untuk menggapai masa depan yang cerah, beri tahu manfaat dan tujuan mempelajari matematika dalam kehidupan sehari-hari, ceritakan kisah tokoh-tokoh matematika dunia sehingga anak dapat bersemangat dalam mempelajari matematika.

7. Jangan bersikap kaku

Matematika adalah pelajaran yang dianggap rumit dan membosankan bagi anak, untuk itulah jangan menambah kebosanan mereka dengan ekspresi dan sikap kaku. Anak bisa tegang dan tidak paham jika orang tua dan guru terlalu galak dalam mengajari matematika. Seharusnya, lebarkan senyuman dan bersikaplah lebih humoris, ini akan membantu untuk meringankan beban pikiran anak didik saat belajar matematika.

8. Gunakan teknologi sebagai media agar anak menyukai matematika

Saat ini teknologi sudah sangat pesat dan hampir semua lini pasti menggunakan teknologi. Makanya, kita harus bisa memanfaatkan teknologi sebagai media untuk belajar anak-anak.  Contohnya anak-anak bisa bermain games yang mempunyai hubungannya dengan matematika atau anak-anak juga bisa melihat video-video tentang belajar matematika yang menyenangkan. 

8 tips di atas semoga bisa bermanfaat dan dapat diterapkan baik bagi orang tua ataupun guru di sekolah dalam proses pembelajaran. Terima kasih

Mungkinkah Guru Menghadapi Masalah Dalam Proses Pembelajaran ?

Mungkinkan Guru Menghadapi Masalah Dalam Proses Pembelajaran ?

Dalam tulisan berikut, BlogPendidikan.net sedikit berbagi tentang permasalahan yang dihadapi guru pada saat proses pembelajaran. Tulisan ini dibuat yang dikutip dari hasil wawancara antar sesama guru, dan dalam isi wawancara dan deskripsinya semata-mata hanya memberikan motivasi dan tidak ada unsur atau maksud apapun. 🙏🙏

Seperti ini wawancara yang dilakukan :

Pertanyaan 1 : Selama Ibu mengajar, ada tidak kendala yang dihadapi dalam proses belajar mengajar
Jawaban 1 : Sudah tentu saja ada dan bahkan beragam kendala dihadapi tiap tahunnya.

Pertanyaan 2 : Lalu seperti apa kendala yang Ibu hadapi pada tahun ini?
Jawaban 2 : Setiap angkatan siswa pasti memiliki karakter yang beragam, jika tahun lalu kelas III ini lebih mudah mengajarnya karena kognitif siswanya lebih siap dan matang ketika masuk ke kelas III, berbeda dengan tahun sekarang, masih banyak siswa yang secara kognitifnya belum siap untuk berada di kelas III, misalnya masih ada siswa yang belum lancar membaca, ini merupakan kendala yang dapat membuat kita menjadi lebih berpikir keras supaya tujuan pembelajaran yang ingin kita sampaikan ini tercapai.

Pertanyaan 3 : Ada tidak sikap siswa yang jelas-jelas bisa menganggu proses pembelajaran?
Jawaban 3 : Tentu saja ada, siswa kelas III merupakan siswa kelas rendah dan sikapnya pun masih kekanak-kanakan, tidak sedikit siswa yang suka mengangis di kelas. Itu bisa disebabkan berbagai factor, misalnya perkelahian sesame siswa yang awalnya cuma bercanda lalu lama kelamaan akhirnya mereka berkelahi. Karena tangisannya ini kelancaran proses belajar mengajarpun terganggu. Selain itu, anak kelas III masih sangat senang bermain, terkadang walaupun pembelajaran sedang berlangsungpun mereka tetap saja gaduh dan bermain sesuka mereka, ketika ditegur mereka akan diam, tetapi selang beberapa menit kemudian kondisi gaduh tersebut akan kembali terdengar. Hal ini bisa mengganggu penyampaian materi yang dilakukan oleh guru.

Sikap-sikap siswa yang biasanya dapat mengganggu jalannya pembelajaran diantaranya :

1. Gaduh
2. Mencari-cari perhatian teman atau guru
3. Bertengkar dengan teman
4. Sering pergi ke toilet
5. Mengantuk
6. Dll.

Jika dibuat secara garis besar, permasalah dalam proses pembelajaran adalah berdasarkan faktor penyebabnya dibedakan menjadi 4, diantaranya :

A. Siswa

Banyak hal yang bisa membuat hasil belajar siswa di kelas kurang memuaskan bahkan tidak jarang jauh dari harapan guru dan orang tua, berikut ini adalah beberapa hal yang dapat menyebabkan hasil belajar siswa kurang memuaskan, diantaranta :

1. Latar belakang siswa yang beragam bisa membuat pembelajaran menjadi lebih rumit dan sulit.
2. Kurangnya motivasi siswa dalam belajar menyebabkan hasil pembelajaran kurang memuaskan.
3. Pengaruh teman sepermainan begitu dominan terhadap kegiatan belajar siswa tersebut.
4. Tingkat intelegensi masing-masing siswa bisa mempengaruhi keberhasilan belajar siswa.

B. Guru 

Bisa juga dikatakan guru merupakan faktor yang sangat menentukan dalam keberhasilan sebuah kegiatan pembelajaran, banyak hal yang bisa dilakukan guru untuk meningkatan kualitas pembelajaran. Tetapi dibalik itu semua, ada banyak hal juga yang dapat mengurangi keberhasilan seorang guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa, diantaranya :

1. Motivasi guru sangat menentukan terhadap totalitas guru tersebut dalam mengajar. 
Seberapa sibuknyapun dia, jika motivasi untuk menghasilkan anak didik yang berkualitas, maka seorang guru akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengajar sebaik yang dia bisa lakukan.

3. Tingkat intelegensi dan kreatifitas guru. 
Guru yang mempunyai intelegensi tinggi dapat menguasai materi yang akan diajarkan siswa lebih detail dan ketika siswa memberikan pertanyaan, maka guru tersebut dapat menjawab pertanyaan tersebut dengan benar. Ketika kreatifitas guru tersebut tinggi, walaupun dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki siswa maupun sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah, maka guru tersebut dapat mengatasi hal tersebut dengan mencari jalan keluar dengan keterampilan dan kreatifitas yang ia miliki. Kemampuan guru menggunakan media dan alat peragapun termasuk didalamnya yang menjadi kendala banyak guru di Indonesia.

4. Disiplin dan profesionalisme guru tersebut. 
Jika seorang guru mempunyai tingkat disiplin yang tinggi, bukan tidak mungkin rencana pembelajaran yang ia buat akan dilaksanakan sesuai dengan harapan dan keinginannya sehingga hasil yang diperolehpun akan memuaskan.

C. Sekolah

Peran sekolah dalam meningkatkan kualitas belajar siswa sangatlah besar, berikut merupakan hal yang bisa mempengaruhi berhasil tidaknya proses belajar :

1. Kebijakan sekolah dalam meningkatkan kualitas sekolah bisa jadi merupakan penentu keberhasilan belajar siswa. Ketika sekolah mengeluarkan kebijakan yang longgar atau seolah-olah tidak peduli dengan prestasi siswa, maka siswapun kemungkinan tidak akan memiliki motivasi yang tinggi untuk meningkatkan prestasinya. Artinya perhatian sekolah terhadap murid-murid yang memiliki prestasi akan meningkatkan motivasi seluruh siswa lainnya untuk ikut berprestasi.
2. Pengadaan sarana dan prasarana. Keterbatasan sarana dan prasarana akan menjadikan masalah mana kala kegiatan pembelajaran membutuhkan sarana yang lengkap tetapi penyedia sarananya sendiri (sekolah) tidak memiliki sarana tersebut. Maka prestasi siswa tidak akan berkembang karena sarana yang seharusnya bisa mengeksplorasi kreatifitas siswa tidak bisa digunakan.
3. Tata tertib sekolah yang longgar akan mengakibatkan siswa bertindak semaunya, tetapi jika tata tertib terlalu ketatpun tidak akan baik, bisa jadi anak merasa kebebasannya sebagai siswa dihilangkan bukan tidak mungkin anak akan melakukan perlawanan/pemberontakan.
4. Kurikulum yang terus menerus berubah menimbulkan kebingungan terhadap siswa. Materi pelajaran menjadi kacau dan sulit untuk dipahami secara menyeluruh oleh siswa.

D. Keluarga 

Satu lagi faktor yang tidak bisa dihilangkan dalam keberhasilan proses belajar siswa yaitu keluarga, berikut adalah hal yang bisa mempengaruhi keberhasilan belajar dari faktor keluarga :

Perhatian keluarga terhadap anak begitu menentukan. Banyak keluarga di daerah-daerah yang tidak begitu peduli terhadap pendidikan anaknya sendiri, hal ini akan membuat anak menjadi liar. Karena proses belajar anak sebagian besar berada di luar sekolah (keluarga dan lingkungannya). 

Jika orang tua sudah sibuk dengan pekerjaanya masing-masing maka anak akan terlantar belajarnya. Itu akan menjadikan masalah yang serius jika tidak segera ditanggulangi. Banyak anak yang karena tidak diperhatikan oleh orang tuanya malah mengekspresikan dengan teman-teman yang tidak baik, merokok, minum-minuman keras, atau bahkan mungkin 

Pertanyaan 4 : Jadi yang paling besar pengaruhnya dalam keberhasilan belajar siswa itu siapa? Apakah siswa sendiri? Guru? Sekolah? Atau keluarga?
Jawaban 4 : Kalau ditakanyakan seperti itu, maka kita sebagai pendidik harusnya mawas diri, keberhasilan belajar siswa di sekolah dengan berbagai masalah yang mengelilinginya merupakan tanggung jawab guru. Jadi faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap keberhasilan siswa selama belajar di sekolah adalah guru. 

Ketika guru kurang memberikan motivasi kepada siswa, kurang profesionalisme, tidak disiplin, kemampuan yang kurang memadai, tidak punya rencana dan tujuan belajar yang jelas, akan mempengaruhi kemampuan siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai hasil belajar maksimal.