Showing posts with label Motivasi. Show all posts
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Keadaan Tersulit Yang Dihadapi Seorang Guru Dalam Menekuni Profesinya, Meski Gaji Tak Seberapa

Keadaan Tersulit Yang Dihadapi Seorang Guru, Meski Gaji Tak Seberapa

Blogpendidikan.net - Kita adalah sorang pendidik yang tak luput perhatian dari semua orang, kita mengajarkan benda yang bernyawa membentuknya menjadi manusia yang berkarakter, cerdas dan berakhla mulia, jika melakukan kesalahan sedikitpun menjadi sesuatu hal yang sangat berat untuk diperbaiki. Berikut sebuah tulisan yang dikutip dari brilio.net sangat menarik untuk di simak.

Sejak dulu istilah 'pahlawan tanpa tanda jasa' melekat erat pada profesi guru, sang pendidik generasi muda. Meski sekarang sudah jarang orang menyebutkan bahwa guru adalah seorang pahlawan, tetap saja jasa seorang guru sangat besar untuk siapapun yang mengenyam bangku pendidikan.

Menjadi seorang guru bisa dikatakan sebuah keputusan hebat, karena tidak semua orang bisa menjadi guru. Pengalaman menjadi seorang guru tidak akan pernah didapatkan oleh orang yang menekuni profesi lain. Ada banyak sekali hal-hal unik yang bahkan di luar ekspektasimu.

Mereka yang bukan berprofesi seorang guru tentunya juga tidak akan pernah merasakan bagaimana sulitnya menjadi seorang guru. Mungkin sebagian dari mereka melihat hal itu sangat sepele, namun ketika dijalani tidak semudah itu. Nah berikut ini situasi tersulit menjadi seorang guru, seperti apa?

Berikut keadaan tersulit yang dihadapi seorang guru dalam menekuni profesinya;
1. Guru harus memikul beban emosional karena harus membantu siswa melewati kesulitan.
Menjadi sorang guru memang bukan suatu yang mudah. Seorang guru harus menjadi orangtua kedua bagi murid-muridnya, segala kesulitan muridnya mereka harus bisa mengatasinya. Mulai dari menjaga mood murid-muridnya agar tetap bagus, mendengar keluh-kesah muridnya dan lain sebagainya.
Seorang guru juga merasa gagal jika ada muridnya yang tidak bisa mengikuti berbagai pelajaran dengan baik atau mendapat nilai ujian jelek. Beban ini akan terus mereka rasakan sampai sampai ada solusi untuk mengatasinya.
Baca juga; Menjadi Guru Itu Berat, Seberat Kamu Menerima Upahnya! Sudah Siap Kah Kamu Menjadi Guru?
Baca Juga; Inilah Keistimewaan Guru Honorer Pahlawan Tanpa Tanda Jasa Meski Gaji Tak Seberapa 
Baca Juga; 5 Kelebihan Wanita Yang Berprofesi Guru, Maka Bersyukurlah Jika Istrimu Seorang Guru
Baca Juga; Fakta Unik dan Menyenagkan Menjadi Guru SD Bikin Awet Muda 
2. Guru harus berurusan dengan orangtua siswa.
Ada hal yang cukup sulit lainnya yang kerap dihadapi oleh seorang guru, di mana mereka harus berhadapan langsung dengan orangtua murid. Persoalan yang terberat adalah karena tak jarang orangtua menyalahkan guru atas perilaku buruk anaknya.
Padahal seperti yang diketahui, guru tak mendapatkan pelatihan khusus untuk menghadapi orangtua siswa. Mereka hanya mengetahui bagaimana caranya mengajarkan sesuatu atau pelajaran kepada siswanya, tanpa terpikirkan akan berhadapan dengan orangtua siswa.
3. Menjaga kepercayaan murid terhadap dirinya.
Hal ini merupakan sangat sulit, namun perlu dilakukan. Pasalnya menjaga kepercayaan murid-muridnya agar tetap percaya dan nyaman dengan caranya mengajar merupakan salah satu keberhasilan yang perlu dicapai seorang guru. Dengan cara ini, murid-murid bisa dengan mudah menyerap materi dan proses belajar mengajar menjadi lebih menyenangkan.
4. Kurangnya disiplin siswa membuat guru begitu terbebani.
Kedisiplinan merupakan faktor penentu keberhasilan pembelajaran, mulai dari disiplin terhadap waktu, tugas yang diberikan dan disiplin terhadap proses pembelajaran. Jika tingkat kedisiplinan murid-muridnya terjaga, ini akan menjadi cukup menyenangkan bagi seorang guru. Namun jika ada siswanya yang tak peduli terhadap kedisiplinan, maka ini akan menjadi tugas yang cukup berat bagi seorang guru.
5. Administrasi yang banyak.
Siapa bilang pekerjaan seorang guru hanya fokus pada mengajar saja? Pekerjaan seorang guru bisa dikatakan cukup panjang, selain menjadi pengajar, mereka juga masih harus menyelesaikan beberapa administrasi. Misalnya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, mengoreksi pekerjaan siswa, membuat grafik kemajuan belajar, dan lain-lain.
Belum lagi seorang guru harus melaksanakan pelatihan-pelatihan di luar jam mengajar. Tentunya ini sangat menyita waktu bukan? Bahkan tak jarang mereka juga harus lembur.
6. Gaji terkadang tak seberapa.
Tentunya ini sudah menjadi rahasia umum bahwa gaji seorang guru tidak bisa dibilang tinggi, terutama jika kamu belum menjadi guru pegawai negeri. Hal ini terkadang membuat beberapa guru merasa cukup sedih. Namun jika kamu seorang guru, makanya ingat kembali tujuan utama kamu. Jasa seorang guru tidak akan dilupakan sampai kapanpun.

Demikian semoga tulisan ini bermanfaat dan bisa berbagi bagaimana Keadaan Tersulit Yang Dihadapi Seorang Guru, Meski Gaji Tak Seberapa.
Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Menjadi Guru SD Itu Berat Tapi Menyenangkan, Berikut 9 Suka Duka Menjadi Guru SD

Menjadi Guru SD Itu Berat Tapi Mengasyikan, Awet Muda, Selalu Belajar dan Diingat Murid

BlogPendidikan.net
- Menentukan pilihan dan cita-cita menjadi seorang guru SD membutuhkan komitmen yang tegas, bukan asal ikut-ikutan saja demi mengejar rupiah.

Menjadi guru SD itu pilihan dan benar-benar membutuhkan komitmen yang kuat. Kenapa? karena guru itu harus mengajar di depan murid yang notabenenya adalah anak orang lain yang harus kita didik. 

Guru harus memberikan contoh-contoh dan pengajaran yang baik pula kepada para muridnya untuk menghasilkan murid-murid yang baik secara akademik dan karakter.
karena guru harus memiliki banyak topeng, di mana ketika guru ada masalah keluarga ataupun masalah lainnya, mereka harus tetap tegar, tersenyum dan sepenuhnya mengajar para murid di sekolah. 

Namun menjadi seorang guru SD itu memang berat tapi juga asyik. 

Berikut 9 suka duka menjadi seorang guru SD:

1. Memiliki banyak relasi

Menjadi seorang guru atau pendidik, tentunya kita akan berhubungan dengan banyak murid dan juga orang tua murid, dan hal itu merupakan hal yang baik karena akan menambahkan relasi bagi seorang guru. 

2. Menghadapi hal-hal lucu dengan para murid

Banyak hal lucu yang akan terjadi di kelas, hal ini akan dialami bagi guru TK, SD, SMP, SMA maupun perguruan tinggi. Terlebih anak-anak playgroup hingga SD, mereka sering kali melakukan hal lucu seperti memberikan hadiah kepada guru, memberikan perhatian kepada guru dengan hal-hal yang lucu dan lain sebagainya. Bagi guru SMP dan SMA hal lucu yang akan mereka jumpai adalah ketika si murid mulai curhat menganai masalah pribadi mereka, terlebih mengenai masalah cinta mereka yang complicated. 

3. Awet muda

Kalian sadar ngga sih kalau guru kalian, terutama guru TK, SD kalian itu keliatannya kaya waktu kalian TK dan SD dulu? mereka kaya ngga berubah gitu…nah, itu menjadi salah salah satu hal positif buat guru yang akan selalu keliatan muda.
4. Kreatifitas terasah

Sebagai guru, terutama di era saat ini kreatifitas sangat dijunjung tinggi, karena siswa saat ini sudah beda dengan jaman dulu yang cukup dengan penjelasan di papan tulis saja. Sekarang dengan adanya teknologi yang semakin maju maka guru pun harus kreatif mengolah pembelajarannya baik dengan e-learning ataupun dengan games supaya siswa senang, dan happy tapi pelajaran tetap mereka terima. 

5. Selalu belajar

Ilmu pengetahuan saat ini semakin maju dan sebagai guru juga harus terus belajar dan hal itu akan mengasah otak guru untuk tetap pintar dan cerdas. 

6. Selalu diingat siswa

Nah, sebagai guru akan selalu diingat oleh muridnya. Guru mungkin saja melupakan muridnya tapi seorang murid tidak akan melupakan gurunya. Kalian juga pasti masih ingat sama guru-guru kalian kan?

7. Siap-siap stress dan memiliki topeng banyak

Setiap anak memiliki keunikannya masing-masing dan karakter yang berbeda satu sama lain di dalam kelas, sehingga seorang guru harus memiliki mental dan jiwa yang kuat untuk menghadapi kelakuan setiap muridnya. Siap stres dan harus tetap setia dengan pekerjaannya. Selain itu, guru harus memiliki topeng yang banyak, misalkan saja ketika guru ada masalah pribadi, guru harus tetap terlihat tegar di hadapan para murid, guru harus terlihat semangat dan ceria. 
8. Administrasi banyak

Guru tidak hanya mengajar di dalam kelas, namun guru juga harus menyelesaikan administrasinya seperti membuat RPP, Prota, Promes dan lain sebagainya, belum lagi guru harus membuat soal ulangan dan mengkoreksinya. Pekerjaan tersebut bisa saja sampai dibawa pulang.

9. Selalu ceria bila bertemu siswa

Setibanya disekolah penat, beban yang dirasakan dari rumah hilang seketika bertemu siswa yang selalu ceria memberi suasana yang gembira dan ceria dalam proses pembelajaran. Guru akan merasakan kenyamanan disaat berada ditengah-tengah siswa yang penuh keceriaan.

Menjadi guru SD memang berat dan penuh tantangan, tapi asyik juga lho menjadi guru karena menjadi guru sama dengan membantu anak untuk mencapai cita-cita mereka dan sebagai guru juga ikut serta dalam mencerdaskan anak bangsa. 

Guru harus sayang terhadap muridnya, dan bagi kamu yang memiliki pasangan seorang guru, kalian harus bangga karena mereka saja menyayangi murid-murid mereka, apalagi kamu sebagai pasangannya.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

5 Akibat Yang Akan Dialami Siswa Jika Menekan Dengan Kata-kata Merendahkan

Ingat! Jangan Menekan Siswa Dengan Kata BODOH

BlogPendidikan.net
- Memang tidak bisa dipungkiri, seorang guru pasti lebih mengenal siswanya antara satu dan lainnya, ada klasifikasi antara siswa yang mampu dalam hal kognitif dan yang tidak. Hal ini wajar ada pada diri siswa. Bodoh dan pintar adalah hanya kata khiasan untuk membedakan siswa yang mampu dengan kata 'Pintar' dan yang tidak mampu dengan kata 'Bodoh'.

Selama ini mungkin guru sering membedakan siswa-siswa yang ada di sekolah dalam dua hal tersebut, yaitu "siswa yang bodoh atau pintar". Pendapat kita tentang hal ini memang bukanlah sebuah kesalahan, namun hal itu sangat perlu diluruskan. Karena sejatinya tak ada kata bodoh dalam diri seorang siswa.
Dari pernyataan di atas, kita bisa berfikir bahwasannya tidak ada kata "bodoh" yang melekat pada diri siswa. Melainkan siswa tersebut tidak bisa memanfaatkan apa yang telah dianugrahkan  Salah satu buktinya yaitu adanya rasa malas yang selalu melekat dalam diri siswa. Hal inilah yang membuat klasifikasi siswa itu bodoh.

Terlebihnya bagi seorang pendidik sangat berhati-hati sekali jika menekan siswa, apalagi dengan mengeluarkan kata-kata 'Bodoh' , tanpa disadari tekanan tersebut akan berdampak psikologis pada siswa, dan yang lebih parahnya lagi siswa tersebut akan merasa dibedakan dan asing bagi teman-teman lainnya.

Dalam situasi dimana siswa tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan sesuatu hal atau menjawab pertanyaan secara tepat, guru sering mengungkapkan kekecewaannya atas situasi tersebut dengan melontarkan kata-kata seperti ‘Kamu Bodoh’, atau kata-kata sejenis. Ada guru yang tidak merasa bersalah ketika mengatakan demikian.


Fenomena semacam ini pada umumnya disebabkan oleh ketidaktahuan akan dampak yang mungkin ditimbulkan oleh kata-kata tersebut. Ada juga karena telah ada kesepakatan sebelumnya dengan siswa, manakala mereka tidak bisa melakukan, tidak bisa mengerjakan, atau tidak bisa menjawab, maka mereka akan dikatakan bodoh.

Apa akibat yang ditimbulkan menekan siswa dengan kata-kata yang merendahkan:

1. Kepercayaan diri akan menurun

Kata-kata yang dikeluarkan oleh guru membuat siswa merasa bahwa itu adalah dirinya. Contoh sederhana saja, ketika guru berkata bodoh pada siswa tentu ia sakit hati dan berpikir bahwa hal itu mencerminkan dirinya. Tapi di sisi lain, alasan guru mengatakan itu karena kesal atau emosi. 

Hal tersebut membuat rasa percaya diri siswa menurun. Ia merasa bahwa hanya kekurangan saja yang ada dalam dirinya. Padahal seharusnya, guru yang lebih bijaksana dalam memilih kata untuk siswa. Jangan asal ucap tapi beri dia sedikit pengertian. 


2. Takut akan penolakan

Seorang siswa akan yang mendapat didikan yang buruk jika, guru tidak mampu bersikap dan berkata-kata dengan baik. Hal sederhana yang guru lakukan yaitu, berkata kasar pada siswa dan berdampak pada karakternya. 

Dan hasilnya, ia menjadi anak yang takut akan penolakan. Tapi ketika penolakan terjadi pada siswa maka, ia dapat melukai dirinya sendiri akibat merasa tidak layak untuk hidup. Jadi sebelum terjadi guru sebaiknya lebih dahulu mencegah. 

3. Pergaulan tidak akan terarah

Kunci utama siswa akan sukses dan memiliki karakter yang baik dimulai dari keluarga. Didikan orangtua sangat penting dalam membentuk perilaku dan pola pikir anak, selanjutnya pendidikan di sekolah juga sangat menentukan. 

Tapi jika orangtua atau guru sering berkata kasar pada anak, pasti ia akan mencari kesenangan di luar rumah. Sehingga, ia akan masuk dalam pergaulan yang salah dan mendidiknya menjadi orang yang sulit diatur.

4. Melatih memiliki sifat dendam

Ketika orangtua atau guru merasa bahwa anak terluka lebih baik segera minta maaf. Tapi tidak dengan maksud memanjakan anak dan tetap beritahu kesalahannya. Ini bertujuan agar hubungan orangtua dan anak akan semakin baik dan tidak ada rasa dendam. 

Pasalnya, terkadang orangtua atau guru sulit meminta maaf dan menganggap semua baik-baik saja. Padahal anak sudah menyimpan dendam akibat sakit hati. Jika sudah menjadi kebiasaan maka, anak akan sulit memaafkan orang sekitarnya.


5. Menjadi pendiam dan tertutup

Anak yang berubah menjadi pendiam dan tertutup bisa jadi karena orangtua atau guru sering berkata kasar padanya. Hal ini justru membuat anak tidak dekat dengan orangtua maupun gurunya dan merasa hidup sendiri. Sehingga, kita tidak dapat mendidik anak dengan baik. Sebelum hal ini berlanjut hingga sampai ia dewasa maka, cari tahu akar permasalahannya dan berusaha untuk dekat pada anak.

Semoga anak didik kita, bisa terjaga dengan baik dengan membentuk karakter mereka menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa, serta membahagiakan kedua orang tua dan gurunya.

Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

Berikut 9 Tips Menjadi Guru Dambaan Siswa dan Menyenangkan

Kiat Menjadi Guru Yang Menyenagkan

BlogPendidikan.net
- Guru yang baik pada dasarnya adalah manusia yang baik. Mereka memiliki kepribadian penyayang, baik, hangat, sabar, tegas, luwes dalam perilaku, bekerja keras, serta berkomitmen pada pekerjaan mereka. 

Pusat perhatian mereka bukanlah pada buku teks atau kurikulum, tetapi pada anak! 

Mereka sangat menyadari beragamnya cara anak-anak belajar, perbedaan antar anak-anak dan pentingnya metode beragam untuk mendorong siswa mampu belajar. Anak-anak yang belajar dengan guru semacam itu tidak perlu lagi mengeluarkan uang tambahan untuk mengikuti les sepulang sekolah.


Tidak mudah menjadi guru yang baik, menyenangkan, dikagumi dan dihormati oleh anak didik, masyarakat sekitar dan rekan seprofesi. 

Berikut beberapa tips yang perlu dilakukan oleh seorang guru untuk berperan menjadi guru yang menyenangkan dan menjadi dambaan siswa.

1. Berusahalah tampil di muka kelas dengan prima

Kuasai betul materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Jika perlu, ketika berbicara di muka kelasa tidak membuka catatan atau buku pegangan sama sekali. 

Berbicaralah yang jelas dan lancar sehingga terkesan di hati siswa bahwa kita benar-benar tahu segala permasalahan dari materi yang disampaikan.

2. Berlakulah bijaksana

Sadarilah bahwa siswa yang kita ajar, memiliki tingkat kepandaian yang berbeda-beda. Ada yang cepat mengerti, ada yang sedang, ada yang lambat dan ada yang sangat lambat bahkan ada yang sulit untuk bisa dimengerti. 

Jika kita memiliki kesadaran ini, maka sudah bisa dipastikan kita akan memiliki kesabaran yang tinggi untuk menampung pertanyaan-pertanyaan dari anak didik kita. 

Carilah cara sederhana untuk menjelaskan pada siswa yang memiliki tingkat kemampuan rendah dengan contoh-contoh sederhana yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari walaupun mungkin contoh-contoh itu agak konyol.


3. Berusahalah selalu ceria di muka kelas

Jangan membawa persoalan-persoalan yang tidak menyenangkan dari rumah atau dari tempat lain ke dalam kelas sewaktu kita mulai dan sedang mengajar.

4. Kendalikan emosi

Jangan mudah marah di kelas dan jangan mudah tersinggung karena perilaku siswa. Ingat siswa yang kita ajar adalah remaja yang masih sangat labil emasinya. 

Siswa yang kita ajar berasal dari daerah dan budaya yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya dan berbeda dengan kebiasaan kita, apalagi mungkin pendidikan di rumah dari orang tuanya memang kurang sesuai dengan tata cara dan kebiasaan kita. 

Marah di kelas akan membuat suasana menjadi tidak enak, siswa menjadi tegang. Hal ini akan berpengaruh pada daya nalar siswa untuk menerima materi pelajaran yang kita berikan.

5. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa

Jangan memarahi siswa yang yang terlalu sering bertanya. Berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan siswa dengan baik. Jika suatu saat ada pertanyaan dari siswa yang tidak siap dijawab, berlakulah jujur. 

Berjanjilah untuk dapat menjawabnya dengan benar pada kesempatan lain sementara kita berusaha mencari jawaban tersebut. Janganlah merasa malu karena hal ini. Ingat sebagai manusia kita mempunyai keterbatasan. Tapi usahakan hal seperti ini jangan terlalu sering terjadi. 


Untuk menghindari kejadian seperti ini, berusahalah untuk banyak membaca dan belajar lagi. Jangan bosan belajar. Janganlah menutupi kelemahan kita dengan cara marah-marah bila ada anak yang bertanya sehingga menjadikan anak tidak berani bertanya lagi. 

Jika siswa sudah tidak berani bertanya, jangan harap pendidikan/pengajaran kita akan berhasil. 

6. Memiliki rasa malu dan rasa takut

Untuk menjadi guru yang baik, maka seorang guru harus memiliki sifat ini. Dalam hal ini yang dimaksud rasa malu adalah malu untuk melakukan perbuatan salah, sementara rasa takut adalah takut dari akibat perbuatan salah yang kita lakukan. 

Dengan memiliki kedua sifat ini maka setiap perbuatan yang akan kita lakukan akan lebih mudah kita kendalikan dan dipertimbangkan kembali apakah akan terus dilakukan atau tidak.

7. Harus dapat menerima hidup ini sebagai mana adanya

Di negeri ini banyak semboyan-semboyan mengagungkan profesi guru tapi kenyataannya negeri ini belum mampu/mau menyejahterakan kehidupan guru. 

Kita harus bisa menerima kenyataan ini, jangan membandingkan penghasilan dari jerih payah kita dengan penghasilan orang lain/pegawai dari instansi lain. 

Berusaha untuk hidup sederhana dan jika masih belum mencukupi berusaha mencari sambilan lain yang halal, yang tidak merugikan orang lain dan tidak merugikan diri sendiri. 

Jangan pusingkan gunjingan orang lain, ingatlah pepatah “anjing menggonggong bajaj berlalu.”


8. Tidak sombong

Tidak menyombongkan diri di hadapan murid/jangan membanggakan diri sendiri, baik ketika sedang mengajar ataupun berada di lingkungan lain. 

Jangan mencemoohkan siswa yang tidak pandai di kelas dan jangan mempermalukan siswa (yang salah sekalipun) di muka orang banyak. 

Namun panggillah siswa yang bersalah dan bicaralah dengan baik-baik, tidak berbicara dan berlaku kasar pada siswa.

9. Berlakulah adil

Berusahalah berlaku adil dalam memberi penilaian kepada siswa. Jangan membeda-bedakan siswa yang pandai/mampu dan siswa yang kurang pandai/kurang mampu Serta tidak memuji secara berlebihan terhadap siswa yang pandai di hadapan siswa yang kurang pandai.

Mengapa Laki-laki Jarang Bahkan Tidak Ada Menjadi Guru TK, Ini Alasannya

Mengapa Laki-laki Jarang Bahkan Tidak Ada Menjadi Guru TK, Ini Alasannya
Aktivitas mengajar Miftag Farid, guru TK yang viral di TikTok. Source image: MURIANEWS.com

BlogPendidikan.net - Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa guru merupakan salah satu indikator yang menentukan kualitas pendidikan. Bagus tidaknya kualitas pendidikan akan terlihat dari kinerja dan kompetensi guru sebagai pendidik yang melaksanakan proses pembelajaran.
Guru profesional merupakan penampilan seorang guru yang sesuai dengan tuntutan yang seharusnya. 

Seorang guru TK yang profesional mampu mengenali karakteristik dan kebutuhan anak TK, sehingga pencapaian tujuan pendidikan di TK dapat tercapai secara optimal. 

Apabila saudara memiliki kemampuan sebagai guru yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan bahkan lebih baik, maka seorang guru TK yang profesional sudah menjelma pada diri saudara. Semoga dengan adanya tulisan ini kompetensi Anda sebagai guru TK dapat terwujud dan lebih baik lagi

Profesi guru sering dinobatkan sebagai salah satu pekerjaan yang mulia karena selalu memberikan ilmu dan pengetahuan untuk orang banyak. Profesi guru juga termasuk salah satu profesi yang cukup populer di Indonesia. 
Masing-masing guru pun memiliki karakter dan image-nya tersendiri. Ada yang terkenal galak, tegas dan juga baik hati karena jarang memberikan hukuman.

Di antara jenjang pendidikan di Indonesia, kamu sadar nggak sih kalau jarang banget ada guru laki-laki yang mengajar di Taman Kanak-kanak (TK)? Dari dulu lingkungan PAUD dan TK pasti didominasi oleh guru perempuan yang sering dipanggil ‘bu guru’. 

Dikutip dari berbagai sumber, berikut 4 alasan mengapa laki-laki jarang bahkan tidak ada menjadi Guru TK atau PAUD :

1. Stereotip terhadap guru laki-laki masih melekat di masyarakat

Nggak bisa dimungkiri kalau masih banyak stereotip yang melekat di masyarakat khususnya di Indonesia. Mungkin ini yang jadi alasan kenapa jarang banget ada guru laki-laki yang mengajar di TK. 
Laki-laki yang mengajar TK jadi terkesan laki-laki yang nggak ‘macho’ atau bahkan bisa muncul stereotip negatif yang terkesan memiliki niat buruk ke anak-anak.

Alasan ini juga yang membuat keberadaan guru perempuan di lingkungan TK jadi lebih mendominasi. Padahal guru laki-laki punya peran penting di TK untuk mengenalkan jenis identitas kelamin ke anak-anak. 

Karena di TK muridnya nggak cuma anak perempuan aja, tapi juga ada murid laki-laki.

2. Orang tua merasa lebih nyaman menitipkan sang anak ke guru perempuan karena dinilai lebih merangkul dan ‘telaten’

Kepercayaan dan rasa nyaman orang tua juga jadi salah satu alasan kenapa jarang banget ada guru laki-laki di TK. 

Orang tua murid cenderung lebih nyaman dan percaya kalau menitipkan anaknya ke guru perempuan karena dianggap lebih telaten, sabar dan bisa merangkul anak-anak.
Mungkin juga banyak orang tua yang masih memegang prinsip ‘ibu adalah madrasah pertama untuk anaknya’ dan para ibu juga kadang nggak sepenuhnya yakin kalau sang anak diasuh oleh ayahnya karena ada aja hal nyeleneh yang terjadi. 

Mungkin ini juga yang jadi alasan para orang tua merasa lebih aman menitipkan anaknya ke guru perempuan daripada guru laki-laki.

3. Guru TK sering mendampingi anak untuk bernyanyi dan menari dengan gestur yang lucu dan ceria

Seperti yang kita semua tahu kalau anak TK belum bisa belajar intens seperti pelajar di jenjang pendidikan lainnya. Anak-anak TK lebih banyak melakukan kegiatan fisik seperti bernyanyi sambil menari. 

Mungkin hal ini juga yang menjadi pertimbangan laki-laki ketika ingin menjadi guru TK. Laki-laki cenderung segan untuk melakukan kegiatan tersebut dengan gestur yang lucu dan ceria.
Mungkin ke depannya akan semakin banyak kesempatan untuk guru laki-laki bisa mengajar pelajaran olahraga atau pelajaran lainnya sehingga peran guru laki-laki tetap ada.

4. Pertimbangan gaji karena laki-laki akan menjadi kepala keluarga yang harus menafkahi keluarga

Permasalahan gaji mungkin akan berbeda di tiap sekolah dan lokasi mengajar. Tapi mungkin hal ini juga yang menjadi pertimbangan para laki-laki ketika ingin mengajar sebagai guru TK. 

Laki-laki akan menjadi kepala keluarga yang harus menafkahi keluarganya sehingga perlu mencari pekerjaan yang memiliki pendapatan lebih besar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Demikian 4 alasan mengapa laki-laki jarang bahkan tidak pernah/ada menjadi Guru TK/PAUD. Adakah laki-laki menjadi guru TK/PAUD?

8 Tips Bagi Guru Agar Siswa Menyukai dan Senang Belajar Matematika

Tips Agar Anak Menyukai dan Mudah Memahami Matematika

BlogPendidikan.net
- Setiap orang tua ataupun guru pasti menginginkan anak-anaknya pandai dan cerdas dalam belajar. Khususnya pada mata pelajaran matematika, yang konon katanya adalah pelajaran yang sukar, membosankan dan dibenci sebagian anak/siswa.

Padahal jika dipahami secara benar bagaimana karakteristik pelajaran matematika tentunya akan mudah menerapkannya kepada anak/siswa. Semua bergantung pada pendekatan yang dilakukan oleh Guru bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan agar anak menyukai dan tertarik belajar matematika.

Selanjutnya bagaimana tips yang dilakukan para guru dan orang tua agar anak/siswa menyukai dan mudah memahami pelajaran matematika. 
Berikut 8 tips yang bisa diterapkan oleh guru agar siswa menyukai, senang belajar matematika dan mudah memahami pelajaran matematika :

1. Perkenalkan matematika sambil bermain

Kenalkan kepada anak pelajaran matematika sambil bermain misalnya “Ibu membeli sepuluh buah jeruk lalu ibu akan membaginya tiga kepada anak, lalu berapa sisa ibu memiliki buah jeruk?”. Anak diminta untuk berpikir dan menghitung sehingga otaknya tidak merasa jenuh dalam mempelajari matematika.

2. Tanamkan pemahaman kepada anak bahwa matematika itu mudah

Daripada memaksa anak untuk menyukai matematika terus menerus, memberinya pemahaman adalah cara terbaik untuk anak. Caranya berikan pemahaman bahwa “Matematika itu mudah, tidak sesulit apa yang kamu bayangkan”. 
Berikan senyuman sembari mengucapkannya, hal ini membantu meyakinkan mereka bahwa ucapan itu benar setelah orang tua mengajari anak dalam mempelajari atau mengerjakan soal matematika untuk anak.

3. Ciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan

Hal yang paling mudah dilakukan adalah menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan ketika mempelajari matematika. Maksud bermain disini bukan menyediakan alat permainan ketika belajar, namun guru dan orang tua menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan.

4. Selama proses pembelajaran, jangan pernah ada paksaan sama sekali

Jika kita saja sebagai orang dewasa akan merasa kurang nyaman saat ada pemaksaan, apalagi dengan anak-anak. Mereka pasti akan merasa tertekan dan stress, jika kamu paksa untuk menyukai pelajaran yang satu ini.
Daripada memaksanya, lebih baik kamu menggunakan pendekatan secara persuasif. Tidak hanya itu, kamu sebagai orang tua juga harus rela dan mau, jika anak-anak meminta ditemani untuk belajar. Jangan sampai menolak dan banyak alasan-alasan yang enggak jelas.

5. Gunakan media pembelajaran yang sesuai dan menarik

Untuk membantu daya serap anak didik dalam mempelajari materi pelajaran matematika, orang tua atau guru seharusnya menggunakan media, metode atau strategi yang menarik. 

Misalnya cara atau rumus cepat dan alat-alat peraga. Tetapi pastikan media atau metode tersebut sesuai dengan materi dan kebutuhan anak.

6. Memberi motivasi pada anak

Jika Anda hanya fokus pada penyampaian materi kemudian mengerjakan soal, maka hal itu akan membuat anak semakin jenuh. Orang tua atau guru seharusnya memberi motivasi kepada anak agar lebih giat lagi untuk menggapai masa depan yang cerah, beri tahu manfaat dan tujuan mempelajari matematika dalam kehidupan sehari-hari, ceritakan kisah tokoh-tokoh matematika dunia sehingga anak dapat bersemangat dalam mempelajari matematika.

7. Jangan bersikap kaku

Matematika adalah pelajaran yang dianggap rumit dan membosankan bagi anak, untuk itulah jangan menambah kebosanan mereka dengan ekspresi dan sikap kaku. 
Anak bisa tegang dan tidak paham jika orang tua dan guru terlalu galak dalam mengajari matematika. Seharusnya, lebarkan senyuman dan bersikaplah lebih humoris, ini akan membantu untuk meringankan beban pikiran anak didik saat belajar matematika.

8. Gunakan teknologi sebagai media agar anak menyukai matematika

Saat ini teknologi sudah sangat pesat dan hampir semua lini pasti menggunakan teknologi. Makanya, kita harus bisa memanfaatkan teknologi sebagai media untuk belajar anak-anak.  

Contohnya anak-anak bisa bermain games yang mempunyai hubungannya dengan matematika atau anak-anak juga bisa melihat video-video tentang belajar matematika yang menyenangkan. 

8 tips di atas semoga bisa bermanfaat dan dapat diterapkan baik bagi orang tua ataupun guru di sekolah dalam proses pembelajaran matematika.