Showing posts with label Pembelajaran Jarak Jauh. Show all posts
Showing posts with label Pembelajaran Jarak Jauh. Show all posts

Berikut Daftar Aplikasi dan Laman PJJ Yang Dapat Diakses Dari Bantuan Kuota Kemendikbud

Admin 9/22/2020
Berikut Daftar Aplikasi dan Laman PJJ Yang Dapat Diakses Dari Bantuan Kuota Kemendikbud

BlogPendidikan.net
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemenndikbud) telah memastikan jadwal penyaluran kuota internet gratis bagi siswa, mahasiswa, guru dan dosen serta pendidik. Kuota internet gratis tersebut akan mulai disalurkan Selasa, 22 September 2020 selama empat bulan hingga Desember mendatang.

Rinciannya, total peserta didik PAUD akan mendapatkan 20 GB per bulan dan peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah 35 GB per bulan. Lalu, pendidik pada PAUD dan jenjang pendidikan dasar dan menengah sebanyak 42 GB per bulan. Sedangkan, mahasiswa dan dosen akan mendapatkan total 50 GB per bulan.


Namun demikian, dari total kuota internet gratis tersebut ada dua jenis, terdiri dari kuota umum dan kuota belajar. Dari dua jenis kuota itu, setiap penerima paket internet gratis akan menerima masing-masing 5 GB untuk kuota umum.

Kuota umum 5 GB ini, dapat digunakan untuk mengakses semua situs laman dan aplikasi.

Sisanya, kuota belajar hanya dapat digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi tertentu yang telah ditetapkan Kemendikbud.

Berikut Rincian Jumlah Paket Kuota Internet yang diterima:

* Peserta didik PAUD : 20 GB per bulan. 
Rincian: 5 GB untuk kuota umum dan kuota belajar 15 GB.

* Peserta didik jenjang pendidikan dasar dan menengah : 35 GB per bulan
Rincian : 5 GB untuk kuota umum dan kuota belajar 30 GB.

* Pendidik pada PAUD dan jenjang pendidikan dasar dan menengah : 42 GB per bulan
Rincian : 5 GB kuota umum dan 37 GB kuota belajar.

* Mahasiswa dan dosen : 50 GB per bulan
Rincian : 5 GB kuota umum dan 45 GB kuota belajar.

Fungsi Jenis Kuota

Melansir laman kuota-belajar.kemdikbud.go.id, dijelaskan bahwa fungsi kuota umum dapat digunakan untuk mengakses seluruh laman dan aplikasi. Sedangkan, kuota belajar hanya dapat digunakan untuk mengakses laman dan aplikasi pembelajaran.

Kemendikbud juga telah merinci jenis laman dan aplikasi yang dapat diakses untuk kuota belajar tersebut.

Terdapat 19 aplikasi dan laman belajar, di antaranya:

1. Aplikasi dan website Aminin
2. Aplikasi dan website Ayoblajar
3. Aplikasi dan website Bahaso
4. Aplikasi dan website Birru
5. Aplikasi dan website Cakap
6. Aplikasi dan website Duolingo
7. Aplikasi dan website Edmodo
8. Aplikasi dan website Eduka system
9. Aplikasi dan website Ganeca digital
10. Aplikasi dan website Google Classroom
11. Aplikasi dan website Kipin School 4.0
12. Aplikasi dan website Microsoft Education
13. Aplikasi dan website Quipper
14. Aplikasi dan website Ruang Guru
15. Aplikasi dan website Rumah Belajar
16. Aplikasi dan website Sekolah.Mu
17. Aplikasi dan website Udemy
18. Aplikasi dan website Zenius
19. Aplikasi Whatsapp.

Aplikasi Video Conference:

1. Cisco Webex
2. Google Meet
3. Microsoft Teams
4. U Meet Me
5. Zoom

Website:

1. aksi.puspendik.kemdikbud.go.id/membacadigital
2. bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id
3. bse.kemdikbud.go.id
4. buku.kemdikbud.go.id
5. cambridgeenglish.org
6. elearning.gurudaringmilenial.id
7. guruberbagi.kemdikbud.go.id
8. icando.co.id
9. indihomestudy.com
10. infomedia.co.id
11. kelaspintar.id
12. lms.seamolec.org
13. mejakita.com
14. melajah.id
15. pijarmahir.id
16. pijarsekolah.id
17. rumahbelajar.id
18. setara.kemdikbud.go.id
19. suaraedukasi.kemdikbud.go.id
20. tve.kemdikbud.go.id
21. www.indonesiax.co.id
22. www.wekiddo.com

Sumber: kuota-belajar.kemdikbud.go.id.

Kuota Internet PJJ: Telkomsel 10 GB Rp 10, XL 55 GB Rp 1 dan Indosat 30 GB Rp 1

Admin 9/02/2020
Kuota Internet PJJ: Telkomsel 10 GB Rp 10, XL 55 GB Rp 1 dan Indosat 30 GB Rp 1

BlogPendidikan.net
- Para operator telekomunikasi sedang gencar menghadirkan promo paket data internet murah untuk mendukung belajar jarak jauh atau belajar online (PJJ) yang diselenggarakn oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD).

Indosat

Terbaru adalah Indosat yang menghadirkan paket pintar IMClass yang memberikan paket data 30GB seharga Rp 1. Paket data ini berlaku selama 30 hari. Paket data ini bisa dinikmati pelanggan prabayar maupun pascabayar.


Paket data ini bisa digunakan untuk mengakses aplikasi belajar online seperti Ruangguru, Quipper, Zenius, Rumah Belajar, Sekolahmu dan 300 lebih portal e-learining dan situs resmi dari universitas-universitas di Indonesia.


Untuk mendapatkan paket data ini cukup mendaftarkan nomor IM3 Ooredoo yang dimiliki ke sekolah atau kampus, dan selanjutnya diverifikasi untuk bisa langsung mendapatkan bantuan kuota pembelajaran jarak jauh dari pemerintah, seperti dikutip dari keterangan resmi Indosat, Rabu (2/9/2020)

Telkomsel

Telkomsel juga tak mau kalah. Anak usaha Telkom ini meluncurkan Kuota Belajar 10GB senilai Rp 10. Paket data ini berlaku selam 30 hari dan paket ini bisa dinikmati hingga 31 Desember 2021.

Paket data ini bisa digunakan untuk menggakses sejumlah platform aplikasi belajar daring seperti Rumah Belajar, Zenius, Quipper, Udemy, Duolingo, Sekolah.mu, Cakap, Bahaso, Cambridge, AyoBlajar, Zoom, CloudX, UMeetMe, Microsoft Teams, Cisco Webex, Google Meet, Google Classroom, dan ratusan situs belajar daring yang dikelola kampus dan sekolah hingga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.


Paket Kuota Belajar dapat diakses khusus oleh pengguna layanan prabayar Telkomsel melalui aplikasi MyTelkomsel atau UMB *363*844#.

XL

XL Axiata menghadirkan paket internet murah 55GB seharga Rp 1. Paket data ini berlaku selam 24 jam yang terdiri darai kuota utama 15GB dan kuota chat 40GB. Program ini berlaku selama September hingga Desember 2020.

Untuk mendapatkan paket ini pelajar dan mahasiswa harus mendaftarkan nomor ponsel ke sekolah dan kampus sebelum 11 September 2020. Bila nomor terkonfirmasi dan terdaftar di Kemendikbud bisa memanfaatkan paket data ini.

Nadiem: Resiko Menyeramkan Selama PJJ, Terjadinya Krisis Pembelajaran dan Lost Generation

Admin 8/31/2020
Nadiem: Resiko Menyeramkan Selama PJJ, Terjadinya Krisis Pembelajaran dan Lost Generation

BlogPendidikan.net
- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim menyatakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) via daring (online) adalah cara belajar yang tidak ideal. Ada risiko besar yang berbahaya bagi anak-anak generasi pandemi COVID-19.

"Ada risiko krisis pembelajaran dan lost generation, ini risiko yang cukup menyeramkan," kata Nadiem dalam webinar 'Sistem Pendidikan di Tengah Pandemi COVID-19' yang diselenggarakan oleh DPD Taruna Merah Putih Jawa Tengah, Minggu (30/8/2020) malam.

Dalam diksusi ini, hadir Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi, serta Ketua Umum DPP Taruna Merah Putih Maruarar Sirait. Hadir pula para guru, orang tua murid, hingga siswa sekolah.

Nadiem menjelaskan perihal risiko pembelajaran tatap muka dan juga risiko pembelajaran jarak jauh. Soal pembelajaran jarak jauh, risiko terbesarnya adalah anak-anak bakal keteteran belajar. Bukan hanya satu atau dua anak saja yang keteteran belajr, tapi satu generasi.

"Nggak ada yang pernah membicarakan risiko satu generasi masyarakat Indonesia yang pembelajarannya ketinggalan," kata Nadiem.

Dampak nyata dari satu generasi yang terpotong fase belajarnya tidak bisa langsung dirasakan. Dampaknya baru nyata terasa pada tahun-tahun mendatang, saat generasi yang terpotong itu mulai tumbuh dewasa.

"Apa itu dampaknya? Kita tidak tahu karena baru setelah bertahun-tahun ke depan kita akan tahu. Tapi yang pasti, risiko itu sangat besar, semua badan riset sekarang menyebut itu juga," kata Nadiem.

Risiko PJJ itu tak hanya membayangi Indonesia, namun juga semua negara yang dilanda pandemi COVID-19. "Apalagi di daerah di mana tidak ada fasilitas teknologi, internet, dan lain-lain," kata Nadiem.

Selama ini, sekolah yang menggelar PJJ mengeluhkan banyak kesulitan. Keluhan bukan hanya dari pihak sekolah saja namun juga dari orang tua murid. PJJ bukan situasi ideal.

"Prioritas kami di Kemdikbud yang terpenting adalah bagaimana mengembalikan ke sekolah tatap muka seaman mungkin. Itu adalah prioritas kita. Prioritasnya bukan untuk memperpanjang PJJ, tapi prioritas yang terpenting adalah bagaimana kita bisa secara aman mengembalikan anak-anak kita ke pembelajaran tatap muka. (*)

Modul Pembelajaran Kurikulum Darurat Untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6

Admin 8/08/2020
Modul Pembelajaran Kurikulum Darurat Untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6
BlogPendidikan.net
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) telah menerbitkan kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) tingkan SD, SMP, dan SMA sederajat, dalam kurikulum darurat tersebut memaparkan Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD) yang dapat di gunakan oleh guru serta mudul pembelajaran kurikulum darurat untuk proses pembelajaran dimasa pandemi Covid-19.

Kurikulum darurat (dalam kondisi khusus) yang disiapkan oleh Kemendikbud merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Pada kurikulum tersebut dilakukan pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk kelanjutan pembelajaran di tingkat selanjutnya.


Kemendikbud juga menyediakan modul-modul pembelajaran untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD) yang diharapkan dapat membantu proses belajar dari rumah dengan mencakup uraian pembelajaran berbasis aktivitas untuk guru, orang tua, dan peserta didik. “Dari opsi kurikulum yang dipilih, catatannya adalah siswa tidak dibebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan, dan pelaksanaan kurikulum berlaku sampai akhir tahun ajaran,” tegas Mendikbud.

Untuk jenjang pendidikan SD modul belajar mencakup rencana pembelajaran yang mudah dilakukan secara mandiri oleh pendamping baik orang tua maupun wali. “Modul tersebut diharapkan akan mempermudah guru untuk memfasilitasi dan memantau pembelajaran siswa di rumah dan membantu orang tua dalam mendapatkan tips dan strategi dalam mendampingi anak belajar dari rumah,” ucap Mendikbud.


Untuk membantu siswa yang terdampak pandemi dan berpotensi tertinggal, Mendikbud mengimbau guru perlu melakukan asesmen diagnostik. Asesmen dilakukan di semua kelas secara berkala untuk mendiagnosis kondisi kognitif dan non-kognitif siswa sebagai dampak pembelajaran jarak jauh.

Asesmen non-kognitif ditujukan untuk mengukur aspek psikologis dan kondisi emosional siswa, seperti kesejahteraan psikologi dan sosial emosi siswa, kesenangan siswa selama belajar dari rumah, serta kondisi keluarga siswa.


Asesmen kognitif ditujukan untuk menguji kemampuan dan capaian pembelajaran siswa. Hasil asesmen digunakan sebagai dasar pemilihan strategi pembelajaran dan pemberian remedial atau pelajaran tambahan untuk peserta didik yang paling tertinggal.

Berikut Modul Pembelajaran Kurikulum Darurat Untuk SD Bisa Anda Dapatkan Disini:

Modul SD kelas 1: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 1 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 2: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 2 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 3: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 13- Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 3 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 4: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 4 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 5: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 5 – Minggu 5 >>> DISINI

Modul SD kelas 6: Modul Belajar Siswa, Pendamping bagi Guru, Pendamping bagi Orang Tua.

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 1 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 2 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 3 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 4 >>> DISINI

Sekolah dasar (SD) kelas 6 – Minggu 5 >>> DISINI

Mata Najwa: Nadiem Semakin Menegaskan Orang Tua Boleh Minta Pulsa di Sekolah

Admin 8/06/2020
Mata Najwa: Nadiem Semakin Menegaskan Orang Tua Boleh Minta Pulsa di Sekolah

BlogPendidikan.net
- Proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) akibat pandemi Covid-19 pun terus menuai pro dan kontra.

Banyak keluhan dari orangtua peserta didik atas penerapan PJJ yang sudah berlangsung sejak Maret 2020.

Keluhan utama adalah beban pembelian kuota pulsa internet untuk menunjang agar proses pembelajaran dari rumah tetap berjalan.

Lantas bagaimana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menjawab semua keluhan dari orangtua, peserta didik, termasuk para guru?


Di Mata Najwa bertajuk 'Kontroversi Mas Menteri', Rabu (5/8/2020) tadi malam, ketika ditanya Najwa Shihab berbagai keluhan masyarakat atas pembelajaran jarak jauh, Nadiem Makarim mengakui situasi yang dihadapi saat ini sangat menantang.

Ia pun menerima semua keluhan-keluhan tersebut dan merasa bersimpati dan berempati kepada orangtua, murid-murid, guru-guru, dan kepala sekolah.

"Harus dalam sekejap mereka terpaksa beradaptasi terhadap suatu format yang berbeda total dengan anggaran yang mungkin pas-pasan dan harus segera melaksanakannya secara cepat. Pada saat saya dapat menerima banyak kritik mengenai PJJ, pertama saya harus mengklarifikasi bahwa ini bukan kebijakan yang kami inginkan. Kami terpaksa melakukan PJJ,"kata mantan CEO GoJek ini.

Menurutnya, dengan adanya kondisi pandemi yang mengakibatkan krisis kesehatan memberikan dua pilihan, yakni masih ada pembelajaran walaupun diakui tidak optimal atau tidak ada pembelajaran sama sekali.

Namun, jika pembelajaran dihentikan akan memberikan risiko yang sangat besar untuk negara.

Najwa Shihab kemudian menimpali, kalau awal pandemi Covid-19, mungkin saja kebijakan PJJ bisa mendapat pemakluman.

Namun, jika sudah berlangsung berbulan-bulan, tentu akan menjadi pertanyaan apa yang telah dilakukan pemerintah dalam hal ini Kemendikbud untuk mengatasi masalah ini.

"Yang pertama kita lakukan adalah Dana BOS yang dikirim langsung pemerintah pusat ke masing-masing rekening sekolah untuk pertama kalinya dibebaskan untuk memberikan fleksibilitas khusus untuk PJJ. Jadinya boleh tanpa batas digunakan untuk alat TIK dan pulsanya bukan hanya pulsa guru, pulsa murid artinya pulsa orangtua. 


Jadi mohon ditekankan lagi banyak orang yang tidak tahu semua dana BOS diberikan kewenangan untuk kepala sekolah menggunakan anggarannya untuk pulsa murid, peralatan TIK seperti tablet ataupun laptop,"jelas Nadiem.

Diskresi Kepala Sekolah

Najwa Shihab pun mengungkapkan di lapangan, banyak kepala sekolah yang takut menggunakan Dana BOS untuk keperluan PJJ karena takut dianggap korupsi, namun ada juga yang tidak terkontrol.

Nadiem Makarim juga mengakui hal itu. Menurutnya, banyak kepala sekolah yang was-was dalam penggunaan Dana BOS.

Ia pun berkoordinasi dengan seluruh kepala dinas pendidikan untuk mensosialisasikan kebijakan tersebut.

Tak hanya untuk keperluan TIK ataupun pulsa, Nadiem Makarim juga menyebut Dana BOS bisa digunakan untuk guru honorer tanpa pembatasan anggaran, yang dulunya dibatasi maksimal 50 persen.

"Tapi ini adalah diskresi kepala sekolah sebagai pemimpin unit pendidikan yang mengetahui sebenarnya kebutuhan sekolah apa,"katanya.

Najwa Shihab pun menuntut jawaban konkrit Nadiem Makarim, apakah saat ini orangtua meminta pulsa kepada kepala sekolah?

"Bisa, tentunya sesuai dengan kebutuhan kepala sekolah. Mohon semua kepala sekolah, guru, dan orangtua tahu Dana BOS boleh digunakan untuk pulsa murid dan pelajaran PJJ.

Rp 3 Triliun untuk Sekolah Swasta

Pada kesempatan tersebut, Nadiem Makarim juga mengungkapkan, Kemendikbud juga mengeluarkan anggaran sekira Rp 3 triliun dari Dana BOS afirmasi dan BOS Kinerja untuk 'mensubsidi' sekolah swasta.

"Kami mendengar jeritan sekolah-sekolah swasta di seluruh Indonesia. Selama ini kan, sekolah swasta itu dengan banyak orangtua tidak mampu membayar SPP karena kondisi ekonomi,"katanya.

Nadiem Makarim mengaku, anggaran Dana BOS afirmasi dan kinerja yang semula hanya untuk sekolah negeri, untuk pertama kalinya juga digunakan untuk sekolah swasta.

Siswa Kurang Mampu

Dikutip dari Kompas.tv, penggunanaan dana BOS tergantung ketentuan pihak sekolah.

Penggunaan dana BOS untuk keperluan pembelian kouta internet  sudah mulai diterapkan di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Hal ini setidaknya berlaku di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 9 Banjarmasin.

Namun, tidak semua siswa mendapatkannya.

Dana bos untuk pembelian kuota internet ini diperuntukkan bagi siswa kurang mampu sesuai kategori yang telah ditentukan oleh sekolah.

Sebanyak 15  mendapatkan bantuan sebanyak Rp 75.000 perbulan untuk pengadaan kuota internet.

Sementara masih ada siswa  lainnya yang dalam tahap pendataan.

Pihak sekolah   menganggarkan penggunaan dana bos tersebut untuk kouta gratis selama tiga bulan kedepan, menyesuaikan keberlangsungan pandemi covid 19 di Kota Banjarmasin. 

Penggunaan dana bos untuk pembelian kuota internet   selama pandemi mengacu pada surat edaran nomor 4 tahun 2020 tentang penggunaan dana bos untuk penanggulangan covid 19.

Penyaluran  dana bos untuk keperluan pembelian kouta internet  diharapkan menunjang   kelancaran para siswa mengikuti pembelajaran jarak jauh datau dalam jejaring  yang   diterapkan  akibat masa pandemi. (*)


Artikel ini telah tayang di tribun-timur.com

Modul Pembelajaran Daring dan Luring PJOK Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD)

Admin 7/27/2020
Modul Pembelajaran Daring dan Luring PJOK Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD)

BlogPendidikan.net
 - Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai 13 juli 2020, para guru dan siswa harus bersiap untuk menghadapi proses pembelajaran yang dilangsungkan dari rumah baik daring ataupun luring. 

Khusus daerah yang berada di zona merah, oranye dan kuning harus belajar dari rumah, sesuai surat edaran yang telah diterbitkan oleh Kemendikbud. Belajar dari rumah (BDR) atau bahasa terkini Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang akan dilaksanakan oleh guru dengan menggunakan model pembelajaran secara daring atau luring harus berdasarkan kondisi daerah tersebut, apakah menunjang untuk fasilitas belajar daring atau luring.

Guru harus lebih kreatif dalam membangun proses pembelajaran yang menarik agar selama belajar dari rumah anak-anak tidak merasa jenuh dengan beban tugas yang berat dan proses pembelajaran yang monoton. 

Salah satu penunjang adalah ketersediaan buku pelajaran yang akan diberikan pada anak didik, yang sesuai dengan kondisi keadaan saat ini.

Berikut BlogPendidikan.net akan berbagi referensi buku/modul pembelajaran PJOK yang bisa dilakukan secara daring atau luring yang berisi materi dan soal-soal latihan lengkap dari kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) sesuai dengan kurikulum 2013, dapat dibagikan kepada anak didik. modul ini dalam bentuk PDF.

Berikut Modul Pembelajaran Daring dan Luring PJOK Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) Berdasarkan Kurikulum 2013:

1. Modul PJOK Kelas 1 SD/MI >>> LIHAT DISINI
2. Modul PJOK Kelas 2 SD/MI >>> LIHAT DISINI
3. Modul PJOK Kelas 3 SD/MI >>> LIHAT DISINI
4. Modul PJOK Kelas 4 SD/MI >>> LIHAT DISINI
5. Modul PJOK Kelas 5 SD/MI >>> LIHAT DISINI
6. Modul PJOK Kelas 6 SD/MI >>> LIHAT DISINI

Demikian, Informasi tentang modul pembelajaran daring dan luring PJOK Untuk SD, semoga apa yang dibagikan BlogPendidiakn.net bermanfaat dan bisa menjadi referensi anda dalam proses pembelajaran dari rumah. Terima kasih dan jangan lupa berbagi. (*)

Guru Yang Hebat dan Bertanggung Jawab Tak Akan Keluhkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

Admin 7/27/2020
Guru Yang Hebat dan Bertanggung Jawab Tak Akan Keluhkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)

BlogPendidikan.net
- Sekolah online atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) memang membikin pusing orang tua, anak, bahkan para guru. Namun, guru yang hebat akan tertantang untuk kreatif.

Mereka akan mencari cara agar pembelajaran bisa tetap berjalan. Sebaliknya, guru yang ”biasa-biasa saja” akan selalu mencari-cari alasan saat mendapatkan kesulitan dalam mengajar.

Wasekjen PGRI Jejen Musfah menegaskan, PGRI memastikan bahwa pada prinsipnya kegiatan belajar-mengajar (KBM) harus tetap berlangsung. Apa pun caranya. Bagi guru hebat, PJJ bisa menjadi tantangan untuk mencari cara bagaimana menyampaikan materi pendidikan kepada siswa di rumah. ”Mereka akan belajar secara mandiri melalui berbagai media sehingga menemukan cara-cara terbaik untuk PJJ,” ujarnya.

Menurut Jejen, guru tidak akan mempermasalahkan ada tidaknya jaringan internet dalam PJJ. Bila terpaksa berlangsung dalam kondisi jaringan internet lemah atau bahkan tidak ada sama sekali, PJJ tetap bisa dilaksanakan. Lewat modal faktual yang ada di daerah masing-masing. Yang terpenting, tanggung jawab mengajar siswa bisa tetap terlaksana.

Meskipun demikian, Jejen mengakui, masih ada guru-guru biasa yang mencari-cari alasan saat mendapatkan kesulitan dalam mengajar. Karena itu, kuncinya adalah kreatif dalam mengajar. Bila memutuskan memakai sistem dalam jaringan (daring) alias online, kepala sekolah wajib memastikan semua guru dan siswa memiliki dan mampu mengakses perangkat teknologi. Bila tidak, bisa mencari alternatif lain.

Jejen mengungkapkan, di berbagai daerah, masih ada guru-guru yang belum melek teknologi. PGRI melalui jaringannya di daerah berupaya memastikan KBM tetap bisa dilakukan. ”Sebagian murni PJJ. Sebagian tatap muka dengan waktu yang dikurangi dan menjalankan protokol kesehatan,” lanjutnya.

Pihaknya selalu berkoordinasi dengan jajaran di bawah untuk memastikan semua sekolah mampu menyiasati situasi yang ada. Apalagi, pemerintah sudah memberikan kelenturan kurikulum dan evaluasi. Tinggal bagaimana sekolah dan para guru kreatif menjalankannya di lapangan.

Meskipun demikian, tetap masih ada aspirasi para guru yang perlu diperhatikan pemerintah. Misalnya memberikan kelonggaran agar dana BOS bisa digunakan untuk membeli kuota internet, membayar guru honorer tanpa syarat NUPTK, dan membeli alat-alat pendukung kesehatan di sekolah. Para guru juga berharap tunjangan profesi tetap diberikan di masa pandemi. Begitu pula THR dan gaji ke-13.

Sekolah Perlu Petakan Siswa

Sementara itu, keluhan-keluhan selama PJJ terus masuk ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Komisioner KPAI Bidang Pendidikan Retno Listyarti menyatakan, jam belajar yang lama dan berbagai tugas sekolah yang berat masih dirasakan para siswa. ”Beban guru, siswa, dan orang tua sebagai pendamping anak belajar belum dikurangi,” katanya kemarin. Padahal, PJJ merupakan hal baru bagi anak, orang tua, maupun sekolah.

Berdasar hasil survei yang dilakukan KPAI, sebanyak 77,8 persen responden siswa mengeluhkan kesulitan belajar dari rumah. Orang tua juga ikut tertekan saat mendampingi anak-anaknya. ”Beban orang tua dan anak saat PJJ dapat diringankan jika Kemendikbud segera memberlakukan kurikulum adaptif yang sudah disederhanakan,” tutur Retno.

KPAI merekomendasikan agar Kemendikbud segera menyederhanakan kurikulum di semua jenjang pendidikan. Selain itu, Kementerian Kominfo diminta membuat kebijakan penggratisan internet selama enam bulan ke depan. KPAI juga mendorong sekolah agar memetakan siswa yang bisa melakukan pembelajaran daring, hanya bisa luar jaringan (luring) alias offline, atau bisa daring dan luring. Dengan begitu, sekolah bisa menyiapkan jadwal pembelajaran dan membuat modul untuk anak-anak yang tidak bisa daring. Terutama untuk para siswa SMK yang membutuhkan praktik keterampilan.

Lalu bagaimana pengalaman para guru selama PJJ? Guru SMPN 1 Nagrek Iwan A. Priyana menuturkan, guru dituntut punya inovasi selama PJJ. Iwan menceritakan, pada awal PJJ dirinya melakukan pemetaan kondisi siswa. Terutama terkait dengan fasilitas untuk berselancar di dunia maya. ”Kebetulan dapat arahan dinas Kabupaten Bandung untuk melakukan program guru kunjung,” ungkapnya kemarin.

Seusai pemetaan, Iwan punya banyak informasi tentang kendala siswa. Salah satunya adalah soal sinyal internet. Di wilayahnya banyak sekali pegunungan. Selain itu, ada permasalahan ekonomi yang mengakibatkan tidak tersedianya handphone untuk anak. ”Waktu ujian, saya galang dana dan dibelikan handphone. Satu handphone digunakan bergantian,” ungkapnya.

Untuk pembelajaran biasa, Iwan membuat materi yang dibedakan berdasar kondisi muridnya. Ada materi untuk siswa yang daring penuh, yang kesulitan sinyal atau kuota, yang memiliki handphone tapi digunakan bersama anggota keluarga lain, dan yang tidak memiliki handphone sama sekali. Jadi, dia mengombinasikan pembelajaran online dengan offline.

Kesulitan juga dialami Wilfridus Kado. Guru SMKN 7 Ende itu tak bisa sepenuhnya mengadakan PJJ. Sebab, sinyal internet di daerahnya yang berada di pesisir Pulau Flores, NTT, tak begitu bagus. Selain itu, karena kondisi ekonomi, banyak yang tak punya gawai. Akhirnya dia harus mengunjungi murid-muridnya. 

”Waktu ke rumah murid, mereka tidak belajar, tapi membantu orang tua di kebun,” katanya. Frid (sapaan Wilfridus Kado) memaklumi kondisi tersebut. Sebab, anak-anak itu membantu orang tuanya yang kesulitan menjual hasil kebun sejak pandemi merebak. (*)

Ini Dampak Buruk Yang Akan Terjadi Selama Pembelajaran Jarak Jauh, Jika Tidak Disiapkan Dengan Matang

Admin 7/23/2020
Ini Dampak Buruk Yang Akan Terjadi Selama Pembelajaran Jarak Jauh, Jika Tidak Disiapkan Dengan Matang

BlogPendidikan.net
- Pemerhati pendidikan Najeela Shihab menggarisbawahi bahaya jangka menengah dan jangka panjang yang tengah menghantui dunia pendidikan di Indonesia dengan kondisi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang masih belum optimal. 

Baginya, perpanjangan PJJ tak hanya berdampak pada kesusahan orangtua dan anak untuk menyesuaikan dengan metode pembelajaran daring, namun juga ada banyak dampak lainnya baik dari sisi murid, pengajar, dan pengelola sekolah.

1. Ada dampak menengah dan panjang dari PJJ

Dalam Webinar Media dan Pendidikan Anak di Era Pandemik oleh Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Selasa (21/7/2020), Najeela mengatakan bahwa saat ini publik terlalu berfokus pada permasalahan jangka pendek yang diakibatkan dari PJJ ini. 

Padahal, sebenarnya ada bahaya jangka menengah dan jangka panjang yang tak kalah mengkhawatirkan. Seharusnya, pencegahan dampak jangka panjang bisa dicegah sejak saat ini.

“Orangtua yang harus beradaptasi dengan kebiasaan baru, kerja dari rumah, jadi fasilitator belajar anak, dan lainnya. Ini isu yang juga penting dan harus segera diselesai kan. Tapi sesungguhnya COVID-19 ini membawa efek yang jauh lbeih panjang dari sekedar periode beberapa bulan ini,” ujarnya.

2. Kesehatan mental anak terancam

Salah satu permasalahan jangka menengah hingga panjang yang dapat menjangkit murid adalah kesehatan mental. 

Saat masa PJJ, anak-anak akan berada sepenuhnya dalam pengawasan orangtua sehingga membutuhkan support system yang mendukung. Namun sayangnya, kondisi kesehatan mental orangtua yang juga terganggu akibat kecemasan masa pandemik akan berimbas banyak kepada anak-anak.

Selain itu akses pendidikan untuk anak dirasa masih belum penuh terutama untuk kegiatan tambahan yang tak kalah penting seperti pembelajaran olahraga, karyawisata, pelajaran agama, dan ekstrakulikuler. Apalagi kurangnya akses pendidikan akan sangat dirasakan bagi para anak-anak dengan kebutuhan khusus atau inklusif.

“Resiko putus sekolah juga meningkat berkali-kali lipat. Sebagian bisa dicegah tapi saya prediksi ada angka putus sekolah yang jauh lebih tinggi di banding tahun sebelumnya,” ungkapnya.

3. Masalah demotivasi pengajar hingga kebangkrutan sekolah

Permasalahan berikutnya yang tak kalah penting dialami oleh para guru atau tenaga pengajar. Tanpa adanya persiapan yang cukup matang, Najeela melihat bahwa tak sedikit guru saat ini gagap untuk menghadapi PJJ dan memberikan konten yang kreatif kepada murid. 

Akibatnya, beban kerja yang berlebihan secara terus menerus terhadap tenaga pengajar hingga menyebabkan demotivasi. Namun, Najeela di sini tidak menganggap kegagalan sepenuhnya berada di tangan guru, ia mengatakan bahwa kondisi saat ini merupakan cerminan atas kompetensi para pengajar yang dihasilkan sistem pendidikan di Indonesia.

“Kualitas pembelajaran PJJ sekarang yang beragam Ini bukan hanya cerminan guru dalam jangka pendek, tapi kompetensi guru sebelum pandemi pun kesulitan menghasilkan materi pembelajaran yang kreatif,” imbuhnya.

Bagi pihak sekolah salah satu ancaman nyata adalah berkurangnya pendapatan yang berujung pada pemutusan hubungan kerja karyawan-karyawannya. Apalagi Najeela memprediksi sekolah swasta dengan kemampuan finasial rendah akan banyak mengalami kondisi ini.

“Ini yang kapasitas rendah dan tidak punya cadangan abadi yag bisa menghidupi dalam jangka panjang,” ungkapnya.

4. Pencegahan bisa dilakukan mulai saat ini

Salah satu solusi yang ditawarkan oleh Najeela untuk mencegah terjadinya permasalahan dampak panjang tersebut adalah dengan melibatkan berbagai pihak untuk melihat celah-celah dalam pelaksanaan PJJ. 

Terutama bagi para orangtua agar bisa berperan aktif dalam memantau pendidikan anak sekaligus mengatasi kecemasan yang dimilikinya. Para guru juga harus mulai terbuka bahwa pembelajaran tak harus bertatap muka. Guru diharapkan bisa berinovasi untuk menciptakan konten pembelajaran yang kreatif dan disampaikan dalam dua arah.

“Saya selalu bilang, semua murid semua guru. Saya ingin sebanyak mungkin orang ambil peran dalam perbaikan ekosistem pendidikan maka situasi pandemik ini maupun dalam jangka waktu ke depan untuk memitigasi resiko jangka panjang menjadi sangat esensial ada kolaborasi antar pemangku kepentingan,” pungkasnya.

Artikel ini juga telah tayang di idntimes.com

Ndiem, Dengarkan Keluhan Siswa! Jangan Cuman Nyuruh Belajar Online, Kuota Internet Tolong Disubsidi

Admin 7/18/2020
Ndiem, Dengarkan Keluhan Siswa! Jangan Cuman Nyuruh Belajar Online, Kuota Internet Tolong Disubsidi

BlogPendidikan.net
- Pandemik virus corona baru (Covid-19) mengharuskan siswa sekolah tetap tinggal di rumah dengan tetap melakukan proses belajar secara daring.

Namun, internet yang belum merata masih menjadi persoalan yang belum menemukan solusi.

Hal inilah yang menjadi sorotan Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) Gde Siriana Yusuf, yang meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim memenuhi kebutuhan internet untuk siswa kurang mampu.

“Selama belajar daring, listrik, AC dan air sekolah tidak terpakai. Mestinya Mendikbud pahami ini, seharusnya bisa dianggarkan pulsa gratis untuk siswa,” ujar Gde Siriana, Jumat (17/7).

Layanan internet gratis di masa pandemik corona mau tidak mau harus ditangani pemerintah dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat, terkhusus untuk siswa kurang mampu yang terkendala proses belajar daring dari rumah.

“Kewajiban negara sediakan fasilitas belajar. Pulsa atau paket internet saat Covid, juga termasuk fasilitas belajar yang harus disediakan negara,” ungkap Gde Siriana.

Menurut Board Member of Bandung Innitiaves Network ini, pemerintah tidak bisa lepas tangan dengan menyerahkan kepada orang tua terkait kebutuhan internet bagi siswa.

Karena secara psikologis, anak dari keluarga yang tak mampu mengalami tekanan jika harus memikirkan uang untuk membeli kuota internet.

“Anak-anak yang peka dengan kondisi ekonomi keluarganya kan berat hati untuk minta uang ke orang tua yang juga sedang susah karena tidak ada penghasilan. Akhirnya semua dipendam persoalan, tidak fokus belajar, nilai turun,” katanya.

“Adalah keanehan besar jika pekerja saja diberikan subisidi dengan program pelatihan, bahkan uang saku dalam Kartu Prakerja. Sedangkan siswa tidak dibantu gratis pulsa atau paket internetnya,” sambungnya.

Oleh karena itu, Gde Siriana berharap kepada Mendikbud menunjukkan political will untuk kebijakan khusus bantuan fasilitas belajar daring.

Sebagai contoh solusi yang ditawarkannya adalah dengan membuat program khusus seperti halnya Kartu Prakerja.

“Harus jelas kebijakannya. Kebijakan beda dengan kebijaksanaan. Kebijakan harus ada payung hukumnya, terukur tujuan dan implementasinya, ada anggarannya. Pemerintah bisa buatkan program bantuan khusus siswa belajar daring, terdiri dari bantuan gratis paket internet. Negara bisa topup ke nomor HP siswa, atau dikasih sim card sudah terisi paket,” paparnya.

“Bantuan teknis bagi siswa yang masih kesulitan belajar daring alias gaptek, datang ke sekolah bergiliran untuk dapat bimbingan teknis. Ingat Indonesia luas, tidak semua mampu beli HP yang canggih, beli pulsa yang mahal. Jangan heran jika tidak semua paham belajar daring,” ujar Gde Siriana.

(Sumber: jambiekspres.co.id)

Modul Pembelajaran Daring/Luring Pendidikan Agama Islam Untuk SD/MI Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013

Admin 7/17/2020
Modul Pembelajaran Daring/Luring Pendidikan Agama Islam Untuk SD/MI Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013

BlogPendidikan.net
 - Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai 13 juli 2020, para guru dan siswa harus bersiap untuk menghadapi proses pembelajaran yang dilangsungkan dari rumah baik daring ataupun luring. 

Khusus daerah yang berada di zona merah, oranye dan kuning harus belajar dari rumah, sesuai surat edaran yang telah diterbitkan oleh Kemendikbud. Belajar dari rumah (BDR) atau bahasa terkini Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang akan dilaksanakan oleh guru dengan menggunakan model pembelajaran secara daring atau luring harus berdasarkan kondisi daerah tersebut, apakah menunjang untuk fasilitas belajar daring atau luring.


Guru harus lebih kreatif dalam membangun proses pembelajaran yang menarik agar selama belajar dari rumah anak-anak tidak merasa jenuh dengan beban tugas yang berat dan proses pembelajaran yang monoton. 

Salah satu penunjang adalah ketersediaan buku pelajaran yang akan diberikan pada anak didik, yang sesuai dengan kondisi keadaan saat ini.

Berikut BlogPendidikan.net akan berbagi referensi buku/modul pembelajaran yang bisa dilakukan secara daring atau luring yang berisi materi dan soal-soal latihan lengkap Pendidikan Agama Islam (PAI) dari kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) sesuai dengan kurikulum 2013, dapat dibagikan kepada anak didik. modul ini dalam bentuk PDF.

Berikut Modul Pembelajaran Daring dan Luring Pendidikan Agama Islam (PAI) Untuk SD/MI Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013:

1. Modul PAI Kelas 1 SD/MI >>> LIHAT DISINI
2. Modul PAI Kelas 2 SD/MI >>> LIHAT DISINI
3. Modul PAI Kelas 3 SD/MI >>> LIHAT DISINI
4. Modul PAI Kelas 4 SD/MI >>> LIHAT DISINI
5. Modul PAI Kelas 5 SD/MI >>> LIHAT DISINI
6. Modul PAI Kelas 6 SD/MI >>> LIHAT DISINI

Demikian, semoga apa yang dibagikan BlogPendidiakn.net bermanfaat dan bisa menjadi referensi anda dalam proses pembelajaran dari rumah. Terima kasih dan jangan lupa berbagi.

Masih Banyak Sekolah Tidak Memiliki Jaringan Listrik dan Internet, Sekolah Pelosok Tidak Mampu Gelar PJJ

Admin 7/17/2020
Masih Banyak Sekolah Tidak Memiliki Jaringan Listrik dan Internet, Sekolah Pelosok Tidak Mampu Gelar PJJ

BlogPendidikan.net
- Pembelajaran jarak jauh (PJJ) masih diterapkan hampir semua sekolah di Indonesia, terutama yang tidak berada di zona hijau, pada tahun ajaran baru 2020/2021. Hari pertama sekolah telah dimulai pada hari ini, Senin (13/7/2020). 

Kegiatan hari pertama sekolah pun berlangsung tak seperti tahun-tahun sebelumnya, saat situasi sebelum pandemi virus corona. Berbagai tantangan pun harus dihadapi. Permasalahan yang harus dihadapi terutama terkait dengan infrastruktur, seperti listrik dan jaringan internet. 

Selain itu, tidak sedikit keluarga yang tidak memiliki gawai sebagai sarana untuk mengikuti PJJ. Bagaimana catatan untuk pelaksanaan pembelajaran jarak jauh pada tahun ajaran baru ini? Pengamat pendidikan Darmaningtyas menilai, PJJ tidak akan mungkin berjalan dengan baik. 

Oleh karena itu, sejak jauh-jauh hari ia berpendapat bahwa tahun ajaran baru sebaiknya ditunda. "Sudah dapat dipastikan tidak akan bisa berjalan baik, omong kosong kalau ada pejabat Kemendikbud bilang PJJ dapat berjalan baik. Pasti asal jalan atau asal-asalan saja," kata Darmaningyas saat dihubungi Kompas.com, Senin (13/7/2020). 

Ia mengusulkan, seharusnya awal mulai tahun ajaran baru diganti menjadi Januari agar periode Juli-Desember 2020 ini bisa digunakan untuk menuntaskan pembelajaran yang belum selesai pada semester genap Januari-Juni 2020. "Sedangkan yang harus masuk ke kelas 1 (SD/MI), SMP/MTs, maupun SMA/SMK/MA baru mulai pembelajaran Januari 2021 nanti," kata Darmaningtyas. 

Ia juga menyebut sejumlah tantangan yang harus dihadapi oleh dunia pendidikan, baik bagi siswa maupun guru.

Tantangan itu di antaranya:
  • Masih banyak sekolah yang tidak memiliki jaringan listrik dan internet. 
  • Tidak banyak yang memiliki komputer/laptop sehingga proses pembelajaran PJJ hanya dilakukan dengan menggunakan ponsel. Tentu saja ponsel banyak memiliki keterbatasan, terutama fitur-fiturnya untuk menunjang pembelajaran dan kameranya yang terlalu kecil. 
  • Banyak yang ponselnya sudah usang, sekadar bisa untuk WhatsApp, tetapi tidak bisa untuk mengunduh materi dan sejenisnya. 
  • Tidak semua orang memiliki uang untuk mengisi kuota internet sesuai dengan kebutuhan. 
  • Bagi golongan menengah ke bawah, ponsel mereka terbatas, sementara anaknya yang bersekolah lebih dari satu. 
Hal ini jelas akan jadi persoalan, mana yang harus dapat prioritas. Menurut Darmaningtyas, sederet kendala yang menyulitkan itu seharusnya membuat Kemendikbud sadar bahwa pelaksanaan PJJ tidak mungkin optimal. Namun, menurut dia, selama ini usulan dari lapangan tidak pernah didengar oleh Menteri Pendidikan. 

"Ya menterinya tidak mau dengerin masukan dari lapangan, ya biarin saja amburadul," kata Darmaningtyas.

Sekolah Pelosok Tidak Mampu Gelar PJJ

Mengutip harian Kompas, Senin, 13 Juli 2020, pembelajaran jarak jauh bagi para siswa tidak dapat terlaksana di daerah-daerah pelosok. Lebih dari 47.000 satuan pendidikan tak memiliki akses listrik serta internet. Di Papua, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Papua mendata ada 14 daerah yang sama sekali tidak melaksanakan kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19. 

Daerah-daerah itu meliputi Puncak, Puncak Jaya, Yalimo, Mamberamo Tengah, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Lanny Jaya, Nduga, Asmat, Boven Digoel, Yahukimo, Pegunungan Bintang, dan Mamberamo Raya. ”Sebanyak 14 daerah ini minim infrastruktur internet,” kata Kepala LPMP Provinsi Papua Adrian Howay, Minggu (12/7/2020) di Jayapura. Oleh karena itu, PJJ praktis hanya bisa dilaksanakan di kota besar, seperti Jayapura dan Mimika. 

Bahkan, di kota pun, tak semua orangtua mampu menyediakan kuota internet atau membelikan gawai bagi anak untuk mengikuti PJJ. Tidak hanya di Papua, PJJ pun sulit diterapkan di Maluku. Selain tidak semua wilayah terjangkau akses internet, sebagian keluarga kesulitan untuk membelikan gawai sebagai sarana belajar anak-anak. 

”Di Dobo (ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru), sinyal internet lemah, apalagi di kampung-kampung. Di kampung, sinyal untuk telepon pun susah,” ujar Mila Ganobal, tokoh pemuda Kepulauan Aru. Kepulauan Aru terdiri atas 547 pulau. Di wilayah ini ada 117 desa yang tersebar di 10 kecamatan dengan jumlah penduduk sekitar 113.000 jiwa. 

Sebagian warganya hidup di bawah garis kemiskinan, terlebih selama pandemi, ekonomi masyarakat sangat terpukul. Kondisi serupa dialami siswa di Pulau Seira, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku. Untuk siswa SD, setiap guru ditugaskan mendatangi rumah siswa satu per satu. ”Siswa SMP dan SMA ini agak susah diatur pembelajarannya. 

Yang jauh dari sekolah diharapkan belajar sendiri di rumah. Tidak ada interaksi dengan guru,” tutur Pendeta Devi P Lopulalan, tokoh agama di Seira. Sementara itu, di Lampung, Kepala SMK Penerbangan Raden Intan Bandar Lampung Suprihatin menyampaikan, tak semua siswa mempunyai gawai untuk PJJ. 

Padahal, sebagian besar kegiatan belajar dilakukan melalui aplikasi WhatsApp atau Zoom. Siswa yang tidak mempunyai gawai diminta datang ke sekolah untuk mengambil tugas dari guru. Siswa lalu mengirimkan tugas melalui surel.

Modul Pembelajaran Daring dan Luring Untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013

Admin 7/16/2020
Modul Pembelajaran Daring dan Luring Untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013

BlogPendidikan.net
- Tahun ajaran baru 2020/2021 baru saja dimulai 13 juli 2020, para guru dan siswa harus bersiap untuk menghadapi proses pembelajaran yang dilangsungkan dari rumah baik daring ataupun luring. 

Khusus daerah yang berada di zona merah, oranye dan kuning harus belajar dari rumah, sesuai surat edaran yang telah diterbitkan oleh Kemendikbud. Belajar dari rumah (BDR) atau bahasa terkini Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang akan dilaksanakan oleh guru dengan menggunakan model pembelajaran secara daring atau luring harus berdasarkan kondisi daerah tersebut, apakah menunjang untuk fasilitas belajar daring atau luring.


Guru harus lebih kreatif dalam membangun proses pembelajaran yang menarik agar selama belajar dari rumah anak-anak tidak merasa jenuh dengan beban tugas yang berat dan proses pembelajaran yang monoton. 

Salah satu penunjang adalah ketersediaan buku pelajaran yang akan diberikan pada anak didik, yang sesuai dengan kondisi keadaan saat ini.

Berikut BlogPendidikan.net akan berbagi referensi buku/modul pembelajaran yang bisa dilakukan secara daring atau luring yang berisi materi dan soal-soal latihan lengkap dari kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Sekolah Dasar (SD) sesuai dengan kurikulum 2013, dapat dibagikan kepada anak didik. modul ini dalam bentuk PDF.

Berikut Modul Pembelajaran Daring dan Luring Untuk SD Kelas 1, 2, 3, 4, 5 dan 6 Kurikulum 2013:

1. Modul Tematik Kelas 1 SD/MI >>> LIHAT DISINI
2. Modul Tematik Kelas 2 SD/MI >>> LIHAT DISINI
3. Modul Tematik Kelas 3 SD/MI >>> LIHAT DISINI
4. Modul Tematik Kelas 4 SD/MI >>> LIHAT DISINI
5. Modul Tematik Kelas 5 SD/MI >>> LIHAT DISINI
6. Modul Tematik Kelas 6 SD/MI >>> LIHAT DISINI

Demikian, semoga apa yang dibagikan BlogPendidiakn.net bermanfaat dan bisa menjadi referensi anda dalam proses pembelajaran dari rumah. Terima kasih dan jangan lupa berbagi.

PJJ Tidak Permanen Tetapi Platform Saja, Tegas Kemendikbud

Admin 7/07/2020
PJJ Tidak Permanen Tetapi Platform Saja, Tegas Kemendikbud

BlogPendidikan.net
- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memastikan bahwa belajar dari rumah tidak akan permanen. Sementara yang akan dipermanenkan adalah platform pembelajaran jarak jauh (PJJ), bukan metode PJJ itu sendiri.

Hal ini disampaikan guna menjernihkan kesimpangsiuran informasi di masyarakat yang menyatakan PJJ atau belajar dari rumah akan dibuat menjadi permanen.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikbud, Iwan Syahril mengungkapkan, PJJ hanya akan dilakukan pada satuan pendidikan di zona kuning, oranye, serta merah, dan tidak akan permanen.

“Yang akan permanen adalah tersedianya berbagai platform PJJ, termasuk yang bersifat daring dan luring seperti Rumah Belajar, yang akan terus dilangsungkan guna mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar,” tegasnya di Jakarta, pada Senin (06/07/2020), dikutip dari Kompas.com.

Tatap Muka Bertahap

Iwan menegaskan sesuai Surat Keputusan Bersama Empat Kementerian pada Juni lalu, satuan pendidikan yang berada pada zona hijau dan memenuhi berbagai persyaratan ketat lainnya dapat melaksanakan metode pembelajaran secara tatap muka.

Jumlah daerah yang melakukan pembelajaran tatap muka akan terus meningkat seiring dengan waktu.

Iwan menjelaskan bahwa Kemendikbud hanya akan mempermanenkan ketersediaan berbagai platform Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), baik yang bersifat daring maupun luring, yang selama ini telah ada untuk mendukung siswa dan guru dalam proses belajar mengajar selama masa pandemi.

Adapun metode pembelajaran yang diberikan kepada siswa akan tetap ditentukan berdasarkan kategori zona pandemi.

Pembelajaran Berbasis kombinasi

Iwan menambahkan, terkait pemanfaatan berbagai platform pendidikan berbasis teknologi yang telah tersedia, Kemendikbud mendorong pembelajaran dengan model kombinasi (hybrid).

“Saya yakin model pembelajaran berbasis kombinasi pembelajaran ini akan terbukti efektif meningkatkan kemampuan dan kompetensi siswa dalam bersaing di dunia global saat ini,” jelas Iwan.
Melalui pembelajaran dengan model kombinasi, guru dan siswa akan terus melanjutkan penerapan teknologi yang dikombinasikan dengan tatap muka sebagai metode pembelajaran terpadu.

Dengan begitu, alat bantu pembelajaran tidak hanya berupa buku teks saja, namun berbagai platform teknologi yang telah dimanfaatkan dalam PJJ selama pandemi.

“Yang paling penting adalah peran guru tidak akan tergantikan teknologi dalam pembelajaran. Namun, untuk mengakselerasi kompetensi siswa peran teknologi akan sangat mendukung,” jelas Iwan.

Iwan menjelaskan, teknologi hanyalah alat, sehingga kunci utama terletak pada kualitas dan kompetensi para pendidik dalam memanfaatkan teknologi sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang efektif kepada murid-muridnya.

Laman Guru Berbagi

Untuk itu, Kemendikbud telah melakukan beberapa hal, antara lain, menciptakan laman Guru Berbagi.

“Kami telah menciptakan sebuah ekosistem belajar buat guru, yang sifatnya gotong royong yaitu laman Guru Berbagi,” ujar Iwan.
Data per 3 Juli 2020 menunjukkan akses laman Guru Berbagi telah mencapai 5,9 juta akses dengan 950 ribu lebih pengunjung.

Sebanyak 1,2 juta unduhan di antaranya materi dan Rencana Proses Pembelajaran (RPP) baik untuk PAUD, SD, SMP, SMA dan SLB yang bersifat dalam jaringan (daring) maupun luar jaringan (luring).

Senada dengan itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbang dan Perbukuan) Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan pandemi COVID-19 memberikan hikmah positif terutama pada akselerasi pemanfaatan teknologi.

“Bagi dunia pendidikan, walaupun menghadirkan berbagai tantangan besar, pandemi COVID-19 memunculkan pembelajaran positif, salah satunya adalah pemanfaatan teknologi dengan skala besar yang begitu cepat guna mendukung proses pembelajaran,” kata Totok.

“Sumber pembelajaran yang dilakukan oleh guru sangat terbuka ada Rumah Belajar, modul, Buku Sekolah Elektronik, dan sebagainya. Tidak ada kebijakan untuk mengarahkan ke produk tertentu. Apapun itu yang bisa meningkatkan pembelajaran silakan diunduh,” pungkas Totok.

Artikel ini juga telah tayang di kompas.tv
Source; https://www.kompas.tv/article/92001/kemendikbud-tegaskan-belajar-dari-rumah-tidak-permanen-hanya-platform-saja

Episode PJJ Permanen: Akankah Peran Guru Mengajar Tatap Muka Akan Digantikan Teknologi? IGI Bisa Kewalahan Kita

Admin 7/06/2020
Episode PJJ Permanen: Akankah Peran Guru Mengajar Tatap Muka Akan Digantikan Teknologi? IGI Bisa Kewalahan Kita

BlogPendidikan.net
- Dikutip dari laman tribunnnews.com menuliskan bahwa ketua umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menjelaskan maksud pembelajaran daring akan permanen setelah pandemi Covid-19.

Menurut Ramli, pembelajaran tidak bisa 100 persen dilaksanakan tanpa tatap muka.

"Mas Menteri harus menafsirkan terkait arti pembelajaran daring yang akan dipermanenkan. Kalau permanen tanpa tatap muka lagi, ya bisa kewalahan kita," ujar Ramli, Sabtu (4/7/2020).

Ramli menyebut pihaknya sudah tegas menolak apabila ada wacana 100 persen pembelajaran daring.

"Kalau yang dimaksud pembelajaran daring ini dilakukan 100 persen ya tidak bisa, guru-guru menolak, tetap dibutuhkan pertemuan," kata dia.

Memprioritaskan PJJ Daring 100 persen sama saja menggantikan peran guru bertatap muka di kelas, mengajar, dan mendidik anak serta membangun karakter anak, berbalik dengan ucapan artikel dengan judul "Peran Guru Tidak Akan Bisa Tergantikan Oleh Teknologi"

Saat rapat kerja bersama Komisi X DPR, Kamis (2/7/2020) lalu, Mendikbud Nadiem Makarim mengatakan, metode pembelajaran jarak jauh nantinya bisa diterapkan permanen usai pandemi Covid-19.

Analisis Kemendikbud mengungkapkan pemanfaatan teknologi dalam kegiatan belajar-mengajar akan menjadi hal yang mendasar.

"Pembelajaran jarak jauh, ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajaran jarak jauh pure saja, tapi hybrid model. Adaptasi teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi," kata Nadiem.

"Pendidikan tidak 100 persen ada di sana, aspek pedagogi atau proses pembelajaran, kemampuan keilmuan mungkin terpenuhi. Akan tetapi dari sisi pendidikan dan pembangunan karakter, pembelajaran daring dinilai sangat kurang. Bahkan bisa disebut tidak ada," Ketum IGI, Ramli mempertegas.

Komisi X DPR RI juga tak sepakat dengan wacana pembelajaran jarak jauh (PJJ) diterapkan secara permanen dan hybrid yang diungkap Nadiem Makarim.

Komisi X juga meminta wacana itu dijelaskan secara gamblang.

"Ya saya kira kalau PJJ (permanen) itu di level perguruan tinggi nggak masalah lah, tapi kalau untuk SD, SMP, SMA, saya kira saya nggak setuju. Karena tentu nggak semua mata pelajaran bisa di-PJJ-kan," kata Ketua Komisi X DPR, Syaiful Huda.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf meminta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan segera membuat petunjuk teknis (juknis) pembelajaran jarak jauh.

Menurut Dede, juknis ini sangat diperlukan sebagai pedoman guru dalam memberikan pembelajaran jarak jauh.

"Sampai saat ini pun kami masih mendesak Kemendikbud agar memiliki satu juknis petunjuk teknis untuk melakukan pembelajaran jarak jauh," ujar Dede dalam diskusi webinar The Yudhoyono Institute beberapa waktu lalu.

Menurut Dede, Kemendikbud harus memberikan pedoman agar jangan sampai guru memberikan pembelajaran jarak jauh yang monoton kepada siswa.

"Jangan sampai akhirnya setiap sekolah atau setiap guru menerjemahkan cara memberikan pelajaran jarak jauh hanya dengan memberikan tugas-tugas," tutur Dede.

Ketum IGI Ramli Rahim menambahkan, kelas daring atau virtual school bisa dilakukan untuk mengatasi keterbatasan ruang kelas.

Ramli mengungkap kembali, pihaknya sudah tegas menolak apabila ada wacana 100 persen pembelajaran daring.

"Kalau yang dimaksud (Mendikbud) pembelajaran daring ini dilakukan 100 persen ya tidak bisa, guru-guru menolak, tetap dibutuhkan pertemuan," ungkap Ramli.

Ramli menyebut setuju jika pembelajaran daring digabung dengan pertemuan tatap muka.

"Kalau blended, gabungan antara pembelajaran tatap muka dan jarak jauh, itu udah lama dilakukan sebelum pandemi," kata Ramli.

Nadiem dalam raker tersebut mengatakan, pemanfaatan teknologi ini akan memberikan kesempatan bagi sekolah melakukan berbagai macam modeling kegiatan belajar.

"Kesempatan kita untuk melakukan berbagai macam efisiensi dan teknologi dengan software dengan aplikasi dan memberikan kesempatan bagi guru-guru dan kepala sekolah dan murid-murid untuk melakukan berbagai macam hybrid model atau school learning management system itu potensinya sangat besar," tuturnya.

Hal ini katanya lagi terbukti dalam pelaksanaan pembelajaran jarak jauh selama pandemi Covid-19.

Nadiem menilai, para guru dan orang tua akhirnya mencoba beradaptasi dan bereksperimen memanfaatkan teknologi untuk kegiatan belajar.

"Walau sekarang kita semua kesulitan beradaptasi dalam PLJ, tapi belum pernah dalam sejarah Indonesia kita melihat jumlah guru dan kepala sekolah yang bereksperimen dan orang tua juga bereksperimen beradaptasi dengan teknologi," ucapnya.

"Jadi ini merupakan sebuah tantangan dan ke depan akan menjadi suatu kesempatan untuk kita," ujar Nadiem.