Showing posts with label Strategi Pembelajaran. Show all posts
Showing posts with label Strategi Pembelajaran. Show all posts

Terapkan 6 Strategi dan Model Pembelajaran Ini Yang Cocok Untuk Generasi Milenial

Terapkan 6 Strategi dan Model Pembelajaran Ini Yang Cocok Untuk Generasi Milenial

BlogPendidikan.net
- Generasi milenial memiliki karakter dan keunikan tersendiri hal ini secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap gaya belajar mereka dikelas. 

Mereka generasi yang terlahir dengan teknologi yang berkembang dengan pesat, yang mereka beranggapan teknologi bukan barang mewah lagi kita sebagai seorang guru harus mengikuti alur mereka dalam pembelajaran. 

konsentrasi terhadap pembelajaran dikelas pada generasi milenial cenderung lebih singkat jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Menurut Shatto dan Erwin rata-rata rentang perhatian mereka hanya 12 detik sehingga untuk mempertahankan konsentrasi generasi ini guru harus mengemas pembelajaran semenarik mungkin dengan menerapkan beberapa kali jeda atau diselingi dengan game, atau lelucon agar mereka tetap fokus.
Melihat berbagai macam permasalahan tersebut maka strategi dan model pembelajaran harus segera di desain ulang untuk mencapai tujuan pembelajaran disekolah karena generasi ini merupakan generasi yang melek terhadap teknologi maka sudah sewajarnya guru harus mengupgrade keilmuannya dan strategi dan model pembelajaran yang digunakan dikelas.

Berikut 6 Strategi dan Model Pembelajaran Yang Cocok Untuk Generasi Milenial:

1. Model Pembelajaran terbimbing

Salah satu karakter pada generasi ini ketidaksukaannya terhadap pembelajaran yang difokuskan hanya membaca dan menyimak (metode ceramah). Generasi ini lebih tertarik kepada pengamatan dan pembelajaran langsung (praktek) dan 
mereka memiliki kemampuan yang cepat dalam mengakses informasi atau materi pembelajaran, namun ada sisi kelemahan yang harus diperhatikan generasi
ini kurang dalam menganalisis validasi sebuah informasi makanya guru perlu memberikan bimbingan ataupun arahan mengenai informasi yang mereka
temukan. Dalam hal ini berarti guru harus menjadi fasilitator bagi para siswanya.
2. Pembelajaran Berbasis Visual dan Menyenangkan

Generasi ini memiliki struktur otak yang lebih mengedepankan pada perkembangan aspek Visual, maka dari itu pembelajaran harus di sajikan dalam
bentuk visual. Hal ini dilakukan karena generasi ini sangat mudah memahami segala sesuatu yang disajikan dalam bentuk gambar. 

Metode pembelajaran berbasis visual merupakan penggunaan metode edutainment dikelas. Metode ini merupakan metode yang memangkas teknik mengajar konfensional seperti ceramah, catat dan sebagainya. Metode ini menggabungkan antara materi pembelajaran secara visual, bersifat narasi, pembelajaran dengan permainan dan pengajaran menggunakan gaya informal.

3. Mengoptimalkan Pembelajaran dengan Aplikasi dan Media Sosial

Generasi milenial merupakan generasi yang tidak bisa lepas dari media sosial yang hampir semua aplikasi ada pada gedjetnya. Berdasarkan hasil survei diketahui generasi ini menggunakan 79% waktunya perhari digunakan untuk berinteraksi dengan Smartphone nya. Sedangkan akses mereka terhadap media sosial  minimal 10 kali dalam satu hari baik Facebook, twitter, Whatshapp dan liannya. 
Melihat tingginya interaksi generasi ini terhadap media sosial tidak ada salahnya kita sebagai guru mencoba memanfaatkan dan memaksimalkan media sosial sebagai media dalam pembelajaran. Banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan ada google class room, elearning, Zoom Cloud metting, Learnign Management Sistem (LMS) ini semua merupakan media sosial yang
dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran daring atau online.

4. Pembelajaran berorientasi pada Entrepreneurship dan kreatifitas

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya tentang karakter generasi milenial ini yakni jiwa entrepreneurship dan kreativitasnya. Pendapat ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Sing dan Dangmei menyebutkan generasi ini bersifat Entrepreneur, dapat dipercaya, generasi yang realistis terhadap menyikapi permasalahan dan generasi yang optimis untuk menatap masa depan. Jadi tidak
mengherankan jika generasi ini memiliki Side Job diluar aktivitas belajar seperti desain grafis, content creator, youtuber, dan lain-lainnya.
Berbicara tentang kreativitas pembelajaran jika dihuhungkan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam umpamanya guru bisa mengajak atau
mengarahkan siswa untuk membuat blog pribadi atau akun youtube untuk memposting kajian-kajian islami (ceramah pendek) yang itu nantinya akan
meningkatkan jiwa kreativitas anak.

5. Mengoptimalkan Pembelajaran dalam kelompok

Mintasih mengatakan generasi ini cenderung senang bekerjasama dengan rekan sejawatnya karena mereka  punya rasa percaya diri yang tinggi ini menjadi modal
utama bagi mereka untuk unjuk diri menyalurkan ide dan gagasannya kepada teman sejawatnya.

Kerja kelompok ini tidak hanya dalam situasi yang nyata tetapi juga pada dunia maya artinya generasi ini menyukai kerja sama dengan fasilitas teknologi
seperti Video Conference dan media lainnya. Ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Scawbel yang menyatakan 53% generasi ini menyenangi komunikasi secara pribadi dengan menggunakan teknologi informasi Instan messaging dan konferensi dengan video. Intinya generasi ini menyenangi kerja
kelompok dengan sistem kolaborasi.

6. Menerapkan Sistem Blanded Learning

Sistem pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran daring (Online). Artinya pembelajaran dalam satu
semester dapat di rencanakan dengan dua jenis pertemuan konvensional dan daring dengan penggabungan ini diharapkan dapat mengenai sasaran
pembelajaran untuk generasi ini.
Blanded Learning erat kaitannya dengan pembelajaran berbasis teknologi maka perlunya guru untuk memanfaatkan dan mengupgrade pengetahuannya
sesuai dengan perkembangan zaman yakni tentang ilmu pengetahuan dan teknologi. Contohnya dalam pembelajaran guru dapat memanfaatkan WhatsApp
group guru tinggal membagikan link materi atau tugas yang dapat diakses oleh siswa untuk dipelajari.

Bagaimana Strategi Yang Harus Dilakukan Guru Kelas Menghadapi Siswa Yang Malas Belajar

Bagaimana Strategi Yang Harus Dilakukan Guru Kelas Menghadapi Siswa Yang Malas Belajar

BlogPendidikan.net
- Kompetensi kepribadian adalah kompetensi yang berkaitan dengan tingkah laku pribadi guru itu sendiri yang kelak harus memiliki nilai-nilai luhur sehingga terpantul dalam perilaku sehari-hari. Maka dalam pandangan seorang guru siswa yang malas belajar adalah tergolong perilaku manusiawi, semua pribadi manusia mengalaminya. 

Namun demikian, ada rasa  malas belajar yang berlebih-lebihan dan menetap secara rutinitas akan mempengaruhi kecerdasan peserta didik.
Bukan hanya itu, rasa malas pun akan membunuh kreativitas siswa. Permasalahan ini juga akan memberi dampak negatif terhadap interaksi belajar mengajar di kelas. Karena itu, perlu dilakukan strategi untuk mengatasi siswa yang malas belajar.

Berikut akan diuraikan bagaimana Strategi Yang Harus Dilakukan Guru Kelas Menghadapi Siswa Yang Malas Belajar:

1. Menciptakan kesiapan belajar

Dalam kondisi apapun kesiapan belajar sangat penting. Peserta didik yang berada dalam kondisi siap akan merasa tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran di kelas. Secara fisik misalnya, memeriksa peralatan-peralatan belajar sebelum proses pembelajaran dimulai dan secara psikis, pendidik dapat menciptakan kesiapan belajar dengan memberikan pencerahan atau penyadaran.
2. Memberikan motivasi

Dalam proses pembelajaran di Sekolah selalu ada pemberian motivasi kepada peserta didik dilakukan secara verbal dan non-verbal. Misalnya menghargai apa yang dilakukan peserta didik ketika pembelajaran sedang berlangsung walaupun hanya dengan memuji tulisannya. Selain itu, para pendidik Sekolah tersebut suka
membaca buku-buku yang bertemakan motivasi sehingga dari situlah pendidik bisa memotivasi peserta didik.

3. Mengurangi marah yang berlebihan

Ketika seorang guru menghadapi peserta didik yang bermasalah dengan cara marah apalagi sampai berlebihan (kurang manusiawi dan tidak mendidik) hanya akan memperparah keadaan dan hanya akan menambah rasa malas peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran di kelas bahkan dapat membuat peserta didik ketakutan dan pada akhirnya mereka tidak mau lagi datang ke sekolah.
4. Menciptakan keharmonisan

Keharmonisan pendidik dengan peserta didik merupakan syarat  penting dalam proses pembelajaran di kelas, keharmonisan bisa tercipta jika seorang pendidik mampu menempatkan dirinya dalam kondisi kejiwaan peserta didik. Simpati dan empati merupakan dua unsur kejiwaan yang sangat penting untuk memunculkan keharmonisan. Canda tawa pendidik dengan peserta didiknya merupakan hal selalu dilakukan oleh guru-guru di sekolah agar dapat menghilangkan rasa lelah dan jenuh peserta didik terutama pada jam terakhir dalam proses pembelajaran di kelas.

5. Memberikan bimbingan seperlunya

Pendidik adalah pembimbing, dan ada tiga materi penting ketika para guru membimbing peserta didik yaitu membimbing dalam hal penguasaan aspek keilmuan, membimbing dalam hal penguasaan aspek psikomotorik dan membimbing dalam hal penerapan aspek sikap (afektif). 
Pendidik sebagai pembimbing tidak akan pernah diam di kursinya. Pendidik tipe ini akan bergerak ke arah peserta didik, baik secara individu maupun kelompok. Ketika peserta didik mengalami kesulitan mengerjakan tugas. Jika pendidik tidak melakukan bimbingan yang memadai maka kesulitan akan memunculkan rasa malas untuk belajar.

6. Menyelipkan jenaka sebagai transisi pembelajaran

Belajar mengajar merupakan seni, kemampuan dan kreativitas pendidik sangat dituntut ketika melaksanakan pembelajaran. Saat ini, tugas pendidik bukan cuma mengajar tetapi membelajarkan peserta didik. Membelajarkan berarti mengajak peserta didik untuk berpikir dan bertindak dan  dalam prosesnya ini bukanlah suatu yang mudah, banyak sekali tantangan yang dihadapi pendidik.

7. Membangkitkan efek rasa malu

Efek rasa malu dinilai sangat perlu dalam dunia pendidikan. Namun, efek ini hanya akan digunakan untuk hal-hal yang edukatif. Misanya, menyebutkan nama siswa yang tidak atau belum mengumpulkan tugas, strategi ini cukup efektif apabila dilakukan secara rutin setiap pembelajaran di kelas dan peserta didik
lebih tertantang untuk belajar dan mengerjakan berbagai tugas atau latihan
yang diberikan oleh guru.
8. Memberikan hadiah

Strategi selanjutnya yang dilakukan oleh guru untuk menghadapi peserta didik yang malas belajar adalah memberikan hadiah menarik bagi siapa saja yang mampu menyelesaikan tugas atau latihan tepat waktu dan memperoleh nilai seratus atau jawabannya benar semua.

Demikian artikel tentang Strategi Yang Harus Dilakukan Guru Kelas Menghadapi Siswa Yang Malas Belajar, semoga memberikan manfaat.

Unduh artikel Bagaimana Strategi Yang Harus Dilakukan Guru Kelas Menghadapi Siswa Yang Malas Belajar >>> DISINI

Ini 9 Strategi Jitu Buat Guru Mengatasi Siswa Yang Malas Belajar

Ini Strategi Jitu Buat Guru Mengatasi Siswa Yang Malas Belajar

BlogPendidikan.net
- Menjadi guru banyak kesan yang dialami ketika didalam kelas, karakteristik siswa yang berbeda-beda membuat guru selalu mencari trik dan tips agar proses pembelajaran berjalan dengan terarah dan mencapai hasil yang dirancang sebelumnya.
Ada siswa yang antusias cepat dan tanggap dalam menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, ada juga yang dengan santainya mengerjakan tugas-tugas padahal anak tersebut sudah paham, lebih parahnya lagi ada siswa yang malas mengerjakan dan kurang paham. Ini yang membat guru harus berpikir keras mencari solusi dengan hal tersebut. 
Guru dalam setiap proses pembelajaran pasti akan menerapkan strategi pembelajaran untuk mengatasi hal-hal tersebut terkhususnya pada anak yang malas belajar.

Berikut strategi yang tepat buat guru untuk mengatasi siswa yang malas belajar :

1. Menciptakan kesiapan belajar

Dalam kondisi apapun kesiapan belajar sangat penting. Peserta didik yang berada dalam kondisi siap akan merasa tertarik untuk mengikuti proses pembelajaran di kelas. Secara fisik misalnya, memeriksa peralatanperalatan belajar sebelum proses pembelajaran dimulai dan secara psikis, pendidik dapat menciptakan kesiapan belajar dengan memberikan pencerahan atau penyadaran.
2. Menciptakan proses pembelajaran yang aktif

Dalam hal ini proses pembelajaran sangat menetukan siswa, apakah berhasil dalam pembelajaran atau tidak. Proses pembelajaran yang di terapkan oleh guru haruslah pembelajaran yang aktif, yang dapat membangkitkan keaktifas siswa dalam pembelajaran, bukan monoton saja gurunya yang aktif siswanya pada diam semua.
3. Memberikan motivasi

Dalam proses pembelajaran di Sekolah selalu ada pemberian motivasi kepada peserta didik dilakukan secara verbal dan non-verbal. Misalnya menghargai apa yang dilakukan peserta didik ketika pembelajaran sedang berlangsung walaupun hanya dengan memuji tulisannya. Selain itu, para pendidik Sekolah tersebut suka membaca buku-buku yang bertemakan motivasi sehingga dari situlah pendidik bisa memotivasi peserta didik.
4. Mengurangi marah yang berlebihan

Ketika seorang guru menghadapi peserta didik yang bermasalah dengan cara marah apalagisampai berlebihan (kurang manusiawi dan tidak mendidik) hanya akan memperparah keadaan dan hanya akan menambah rasa malas peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran di kelas bahkan dapat membuat peserta didik ketakutan dan pada akhirnya mereka tidak mau lagi datang ke sekolah.

5. Menciptakan keharmonisan

Keharmonisan pendidik dengan peserta didik merupakan syarat penting dalam proses pembelajaran di kelas, keharmonisan bisa tercipta jika seorang pendidik mampu menempatkan dirinya dalam kondisi kejiwaan peserta didik. Simpati dan empati merupakan dua unsur kejiwaan yang sangat penting untuk memunculkan keharmonisan. 
Canda tawa pendidik dengan peserta didiknya merupakan hal selalu dilakukan oleh guru-guru di sekolah agar dapat menghilangkan rasa lelah dan jenuh peserta didik terutama pada jam terakhir dalam proses pembelajaran di kelas.

6. Memberikan bimbingan seperlunya

Pendidik adalah pembimbing, dan ada tiga materi penting ketika para guru membimbing peserta didik yaitu membimbing dalam hal penguasaan aspek keilmuan, membimbing dalam hal penguasaan  aspek psikomotorik dan membimbing dalam hal penerapan aspek sikap (afektif). Pendidik sebagai pembimbing tidak akan pernah diam di kursinya. Pendidik tipe ini akan bergerak ke arah peserta didik, baik secara individu maupun kelompok. Jika pendidik tidak melakukan bimbingan yang memadai maka kesulitan akan memunculkan rasa malas untuk belajar.
7. Menyelipkan jenaka sebagai transisi pembelajaran

Belajar mengajar merupakan seni, kemampuan dan kreativitas pendidik sangat dituntut ketika melaksanakan pembelajaran. Saat ini, tugas pendidik bukan cuma mengajar tetapi membelajarkan peserta didik. Membelajarkan berarti mengajak peserta didik untuk berpikir dan bertindak da.

8. Membangkitkan efek rasa malu

Efek rasa malu dinilai sangat perlu dalam dunia pendidikan. Namun, efek ini hanya akan digunakan untuk  hal-hal yang edukatif. Misanya, menyebutkan nama siswa yang tidak atau belum mengumpulkan tugas, strategi ini cukup efektif apabila dilakukan secara rutin setiap pembelajaran di kelas dan peserta didik lebih tertantang untuk belajar dan mengerjakan berbagai tugas atau latihan yang diberikan oleh guru.
9. Memberikan hadiah

Strategi selanjutnya yang dilakukan oleh guru untuk menghadapi peserta didik yang malas belajar adalah memberikan hadiah menarik bagi siapa saja yang mampu menyelesaikan tugas atau latihan tepat waktu dan memperoleh nilai seratus atau jawabannya benar semua.

Berikut 22 Jenis Strategi Pembelajaran Yang Patut Diketahui

Berikut 22 Strategi Pembelajaran Yang Patut Diketahui

BlogPendidikan.net
- Strategi pembelajaran adalah membelajarkan siswa dengan cara yang menarik dengan berbagai variasinya sehingga siswa terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. Walhasil, pembelajaran menjadi sesuatu yang mengesankan bagi siswa. 

Strategi juga dapat berarti cara kongkret yang dipakai saat proses pembelajaran berlangsung. Guru dapat berganti- ganti strategi meskipun dalam koridor metode yang sama. Satu metode dapat diaplikasikan melalui berbagai strategi pembelajaran
22 Strategi Pembelajaran tersebut adalah:

1. Team Quiz (Quiz Kelompok)

Strategi ini dapat dikombinasikan dengan metode ceramah. Bermain quiz atau dikenal dengan Strategi Team Quiz adalah kegiatan tanya jawab antar kelompok. Dalam kegiatan bertanya dan menjawab akan terjadi proses belajar yang tidak membosankan. Keterampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan pendapat yang menyatakan “berpikir itu sendiri adalah bertanya”. Bertanya adalah ucapan verbal yang meminta respon orang yang dikenai. Respon yang diberikan dapat berupa pengetahuan, sampai dengan hal-hal yang memerlukan pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong berpikir.

2. Listening Team (Tim Pendengar)

Listening Team adalah strategi lainnya yang dapat dikombinasikan dengan metode ceramah. Strategi ini dimaksudkan untuk mengaktifkan seluruh peserta didik dengan membagi siswa menjadi beberapa kelompok dan memberikan tugas yang berbeda-beda kepada masing-masing kelompok. Tujuannya agar pembelajaran tidak monoton dan membosankan serta siswa hanya bersikap pasif. Strategi ini membantu siswa untuk tetap konsentrasi dan terfokus pada materi yang disampaikan dengan cerama.
3. Critical Incident (Pengalaman Penting)

Strategi ini tepat digunakan untuk memulai pembelajaran (apersepsi), dengan tujuan untuk melibatkan siswa sejak awal dengan menanyakan pengalaman mereka terkait materi. Critical incident dapat diartikan sebagai kejadian penting, pengalaman yang membekas dalam ingatan. Belajar dengan menggunakan strategi ini bertujuan untuk melibatkan siswa dalam pembelajaran dengan merefleksikan pengalaman mereka.

4. Information Search (Mencari Informasi)

Strategi ini dapat diterapkan pada materi-materi yang padat, monoton dan membosankan. Materi dapat diambil dari buku ajar, kliping koran, dst.

5. Reading Guide (Pemandu Bacaan)

Sering terdapat kejadian bahwa materi tidak dapat diselesaikan dalam kelas dan harus diselesaikan di luar kelas karena banyaknya materi yang harus diselesaikan. Dalam kondisi semacam itu, strategi ini dapat digunakan secara optimal. Strategi ini memiliki kesamaan dengan strategi information search. 
Bedanya, strategi ini tepat digunakan untuk pekerjaan rumah, dengan meminta mereka membaca di rumah dan jawabannya dapat disampaikan secara lisan pada pertemuan berikutnya. Jawaban secara lisan dimaksudkan agar siswa tidak hanya memindahkan jawaban dari buku cetak ke buku tulis mereka.

Karena sesungguhnya apa yang ditanyakan, jawabannya ada dalam teks bacaan tersebut. Bila siswa diminta menuliskan jawaban, yang terjadi bisa saja hanya proses pemindahan pengetahuan dari buku cetak ke buku tulis mereka, bukan ke otak mereka.

6. Jigsaw Learning (Belajar Model Gergaji)

Jigsaw Learning adalah strategi pembelajaran kooperatif dimana siswa, bukan guru, yang memiliki tanggung jawab lebih besar dalam melaksanakan pembelajaran. Tujuan Jigsaw adalah mengembangkan kerja tim, keterampilan belajar koopenatif, dan menguasai pengetahuan secara mendalam yang tidak mungkin diperoleh apabila mereka mencoba untuk mempelajari semua materi sendirian. Model pembelajaran Jigsaw menggunakan teknik “pertukaran dari kelompok ke kelompok” (group to group exchange) dimana setiap peserta didik mengajarkan sesuatu kepada peserta didik yang lainnya. 
Dalam proses pengajaran itu terjadi diskusi. Dalam diskusi pasti ditemukan beberapa perbedaan pendapat yang dikarenakan oleh perbedaan pemahaman atas materi yang dipelajari oleh masing-masing peserta didik. Oleh karena itu, setiap kali seorang peserta didik mengajarkan sesuatu kepada yang lainnya berdasarkan apa yang telah dipelajarinya, akan terjadi timbal balik dari pihak pembelajar berdasarkan materi yang dipelajarinya pula

7. Small Group Discussion (Diskusi Kelompok Kecil)

Strategi ini dimaksudkan agar siswa dapat memahami materi bersama temannya dalam suatu kelompok kecil. Dengan strategi ini diharapkan siswa membangun kerja sama individu dalam kelompok, kemampuan analitis dan kepekaan sosial serta tanggung jawab individu dalam kelompok.

8. Active Debate (Debat Aktif)

Debat bisa menjadi satu strategi diskusi yang dapat mendorong pemikiran dan perenungan, terutama bila siswa diharapkan dapat mempertahankan pendapat yang bertentangan dengan keyakinan mereka sendiri. Strategi ini tepat digunakan bila ada dua isu atau permasalahan yang bersifat kontroversial


9. Point Counter Point (Tukar Pendapat)

Strategi ini sangat baik digunakan untuk melibatkan mahasiswa dalam mendiskusikan isu-isu kompleks secara mendalam. Strategi ini mirip dengan debat, hanya saja menggunakan berbagai sudut pandang (perspektif).

10. Snowballing (Bola Salju 1-2-4-8-16- dst)

Strategi ini diawali dengan melakukan aktivitas baik itu kegiatan mengamati maupun membaca yang dilakukan secara individu. Kegiatan perorangan ini kemudian dilanjutkan dengan kegiatan kelompok kecil yang terdiri dari dua orang berkembang menjadi empat orang, delapan orang, enam belas orang, dan seterusnya hingga berakhir pada pembagian dua kelompok besar dalam satu kelas.

11. Socio Drama (Drama Sosial)

Strategi ini tepat digunakan untuk mengajarkan materi yang menekankan aspek afektif (pembentukan sikap, karakter dan kepribadian siswa). Strategi ini tepat untuk mengajarkan materi Pendidikan Kewarganegaan dan akhlak seperti sikap terpuji dan sikap tercela yang dalam kehidupan sehari-hari anak melihat dan bahkan mengalaminya.

12. Role Play (Bermain Peran)

Strategi ini baik dipakai untuk mengajarkan materi yang menekankan aspek afektif (pembentukan sikap, karakter dan kepribadian siswa. Strategi ini memiliki kesamaan dengan strategi Sosio drama. Bedanya skenario, peran dan setting cerita disesuaikan dengan materi. Sedangkan dialiog dipersiapkan oleh siswa dengan cara menyesuaikan dengan alur cerita. Strategi ini tepat digunakan untuk mengajarkan materi sejarah, baik sejarah nasional maupun Sejarah Peradaban Islam. Selain itu, dapat pula digunakan untuk mengajarkan materi bahasa Indonesia maupun bahasa asing.

13. Poster Comment (Komentar Gambar)

Strategi ini tepat untuk menstimulasi dan meningkatkan kreativitas dan mendorong penghayatan siswa terhadap suatu permasalahan. Melalui strategi ini siswa didorong untuk mengungkapkan pendapatnya.

14. Poster Session (Pembahasan Gambar)

Poster Session merupakan strategi yang tepat untuk menggali apa yang sedang dipikirkan dan dibayangkan siswa tentang materi serta melatih mereka untuk mengekspresikan apa yang mereka fikirkan dan rasakan.

15. Prediction Guide (Tebak Pelajaran)

Strategi ini dapat dikombinasikan dengan metode ceramah. Artinya guru menggunakan metode ceramah, dan pada saat yang sama menggunakan strategi ini. Strategi ini dapat melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran dari awal sampai akhir. Sebelum menyampaikan materi dengan metode ceramah, di awal siswa diminta untuk menebak apa yang akan muncul dalam topik yang akan disajikan. Selama penyampaian materi siswa diminta untuk mencocokkan hasil tebakan mereka dengan materi yang disampaikan oleh guru.

16. The Power of Two (Kekuatan Berdua)

Strategi ini digunakan untuk mendorong siswa memiliki kepekaan terhadap pentingnya bekerja sama. Filosofi metode ini adalah “berpikir berdua lebih baik dari pada berpikir sendiri”.

17. Question Students Have (Pertanyaan Siswa)

Strategi belajar ini merupakan cara yang aman untuk mengetahui kebutuhan dan harapan-harapan siswa. Strategi ini merupakan salah satu cara yang dapat mendatangkan partisipasi siswa melalui tulisan dari pada secara lisan.

18. Card Sort (Kartu Sortir)

Strategi ini merupakan kolaboratif yang bisa digunakan untuk mengajar konsep, karakteristik, klasfikasi, fakta tentang objek, atau mereviu informasi. Gerakan fisik yang dominan dalam strategi dapat membantu mendinamisasi kelas yang kelelahan.

19. Everyone is a Teacher Here (Setiap Orang Adalah Guru)

Strategi ini sangat tepat untuk mendapatkan partisipasi kelas secara keseluruhan dan secara individual. Strategi ini juga memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk berperan sebagai guru bagi siswa lainnya.

20. Index Card Match (Mencari Pasangan)

Metode ini merupakan cara yang menyenangkan dan mengaktifkan siswa saat ingin meninjau ulang materi pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya. 

21. Planted Question (Pertanyaan Rekayasa)

Strategi ini dapat digunakan untuk meningkatkan minat dan motivasi siswa yang selama ini dikenal guru kurang berminat dan kurang termotivasi dalam belajar atau kurang memiliki rasa percaya diri. Strategi ini membantu guru untuk mempresentasikan informasi dalam bentuk respon terhadap pertanyaan yang telah ditanamkan/diberikan sebelumnya kepada siswa tertentu. Sekalipun guru memberikan pembelajaran seperti biasa, namun siswa melihat guru seolah-olah sedang melaksanakan sesi tanya jawab.

22. Modelling the Way (Membuat Contoh Praktek)

Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan keterampilan spesifik yang dipelajari di kelas melalui demonstrasi. Siswa diberi waktu menciptakan skenario sendiri dan menentukan bagaimana mereka mengilustrasikan keterampilan dan teknik yang baru saja dijelaskan.

Terapkan 6 Strategi Mengajar Ini Kepada Siswa Generasi Milenial

Terapkan 6 Strategi Mengajar Ini Kepada Siswa Generasi Milenial

BlogPendidikan.net
- Strategi dan metode pembelajaran harus segera di desain ulang untuk mencapai tujuan pembalajran disekolah karena generasi sekarang ini merupakan generasi yang melek terhadap tekhnologi maka sudah sewajarnya guru harus mengupgrade keilmuannya dan strategi pembelajaran yang digunakan dikelas. 

Berikut bebrapa strategi yang dapat dilakukan oleh guru dalam pembelajran dikelas untuk generasi milenial adalah :

1. Gunakan Model Pembelajaran Terbimbing

Salah satu karakter pada generasi ini ketidaksukaannya terhadap pembelajaran yang difokuskan hanya membaca dan menyimak (metode ceramah). Generasi ini lebih tertarik kepada pengamatan dan pembelajaran langsung (praktek) dan  mereka memiliki kemampuan yang cepat dalam mengakses informasi atau materi pembelajaran, namun ada sisi kelemahan yang harus diperhatikan generasi ini kurang dalam menganalisis validasi sebuah informasi makanya guru perlu memberikan bimbingan ataupun arahan mengenai informasi yang mereka temukan. Dalam hal ini berarti guru harus menjadi fasilitator bagi para siswanya.
2. Pembelajaran Berbasis Visual dan Menyenangkan

Generasi ini memiliki struktur otak yang lebih mengedepankan pada perkembangan aspek Visual, maka dari itu pembelajaran harus di sajikan dalam bentuk visual. Hal ini dilakukan karena generasi ini sangat mudah memahami segala sesuatu yang disajikan dalam bentuk gambar. 

Metode pembelajaran berbasis visual merupakan penggunaan metode edutainment dikelas. Metode ini merupakan metode yang memangkas teknik mengajar konfensional seperti ceramah, catat dan sebagainya. Metode ini menggabungkan antara materi pembelajaran secara visual, bersifat narasi, pembelajaran dengan permainan dan pengajaran menggunakan gaya informal.
3. Mengoptimalkan Pembelajaran dengan Aplikasi dan Media Sosial

Generasi milenial merupakan ngenerasi yang tidak bisa lepas dari media sosial yang hampir semua aplikasi ada pada gedjetnya. Berdasarkan hasil survei diketahui generasi ini menggunakan 79% waktunya perhari digunakan untuk berinteraksi dengan Smartphone nya. Sedangkan akses mereka terhadap media sosial  minimal 10 kali dalam satu hari baik Facebook, twittwr, Whatshapp dan liannya. 
Melihat tingginya interaksi generasi ini terhadap media sosial tidak ada salahnya kita sebagai guru mencoba memanfaatkan dan memaksimalkan media sosial sebagai media dalam pembelajaran. Banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan ada google class room, elearning, Zoom Cloud metting, Learnign Management Sistem (LMS) ini semua merupakan media sosial yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran daring atau online.

4. Pembelajaran Berorientasi Pada Entrepreneurship dan Kreatifitas

Sing dan Dangmei menyebutkan generasi ini bersifat Entrepreneur, dapat dipercaya, generasi yang realistis terhadap menyikapi permasalahan dan generasi yang optimis untuk menatap masa depan. Jadi tidak mengherankan jika generasi ini memiliki Side Job diluar aktivitas belajar seperti desain grafis, content creator, youtuber, dan lain-lainnya.
Berbicara tentang kreativitas pembelajaran jika dihuhungkan dengan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam umpamanya guru bisa mengajak atau mengarahkan siswa untuk membuat blog pribadi atau akun youtube untuk memposting kajian-kajian islami (ceramah pendek) yang itu nantinya akan meningkatkan jiwa kreativitas anak.

5. Mengoptimalkan Pembelajaran dalam Kelompok

Mintasih mengatakan generasi ini cenderung senang bekerjasama dengan rekan sejawatnya karena mereka punya rasa percaya diri yang tinggi ini menjadi modal utama bagi mereka untuk unjuk diri menyalurkan ide dan gagasannya kepada teman sejawatnya. 
Kerja kelompok ini tidak hanya dalam situasi yang nyata tetapi juga pada dunia maya artinya generasi ini menyukai kerja sama dengan fasilitas tekhnologi seperti Video Conference dan media lainnya. Ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Scawbel yang menyatakan 53% generasi ini menyenangi komunikasi secara pribadi dengan menggunakan tekhnologi informasi Instan messaging dan konferensi dengan video. Intinya generasi ini menyenangi kerja kelompok dengan sistem kolaborasi.

6. Menerapkan Sistem Blanded Learning

Sistem pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran konvensional dengan pembelajaran daring (Online). Artinya pembelajaran dalam satu semester dapat di rencanakan dengan dua jenis pertemuan konvensional dan daring dengan penggabungan ini diharapkan dapat mengenai sasaran pembelajaran untuk generasi ini. 
Blanded Learning erat kaitannya dengan pembelajaran berbasis tekhnologi maka perlunya guru untuk memanfaatkan dan mengupgrade pengetahuannya sesuai dengan perkembangan zaman yakni tentang ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Contohnya dalam pembelajaran guru dapat memanfaatkan WhatsApp group guru tinggal membagikan link materi atau tugas yang dapat diakses oleh siswa untuk dipelajari. 

Lakukan Strategi Ini Agar Siswa Nyaman dan Betah Saat Belajar di Kelas

Lakukan Strategi Ini Agar Siswa Nyaman dan Betah Saat Belajar di Kelas

BlogPendidikan.net
- Pada dasarnya, kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan megelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan sebagai upaya menggiatkan siswa mencapai tujuan pembelajaran seperti melalui proses menelaah kebutuhan siswa, menyusun rencana pembelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada siswa, mengajukan pertanyaan kepada siswa dan menilai kemajuan siswa.

Kegiatan mengelola kelas dimaksudkan sebagai proses menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan pembelajaran terasa nyaman dan siswa betah serta fokus menerima pelajaran.


Banyak guru mengajar terkadang tidak memahami tentang manajemen dalam kegiatan belajar mengajar dikelas dalam minsdsetnya hanya berkutat pada cara yang tepat untuk menyampaikan materi sebagai tanggung jawab moral dalam mencerdaskan siswanya.

Perilaku ini terus mengakar turun temurun sehingga menyebabkan pola pembelajaran dan kegiatan pembelajaran yang tersistem sedemikian rupa tanpa ada keinginan untuk mengubah dan berusaha untuk melakukan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan konsep dasar manajemen pengelolaan kelas untuk terciptanya kelas yang nyaman, kondusif, efektif dan efisien karena proses pendidikan yang dilaksanakan disekolah, didominasi oleh kegiatan belajar mengajar (90 % dari seluruh waktu yang ada disekolah ada pada proses pembelajaran).


Apa yang harus dilakukan guru agar siswa merasa nyaman dan betah saat menerima pelajaran? Berikut strategi yang harus dilakukan guru :

1. Mulailah pelajaran tepat waktu

2. Mulailah salam dan tersenyum

3. Tentukan metode dan model pambelajaran yang aktif

4. Tentukan media pembelajaran yang selaras dengan materi

5. Tentukan tujuan pembelajaran yang akan dicapai

6. Menata tempat duduk yang tepat dengan cara menyelaraskan antar format dan tujuan pembelajaran, misalnya untuk pembelajaran dengan menggunakqn model diskusi, bangku siswa di bentuk setengah lingkaran, atau model U.

7. Membuat suasana kelas menjadi aktif

8. Sesekali selipkan bahasa-bahasa lelucon yang berhubungan dengan materi

9. Meminimalisir gangguan dari luar kelas

10. Menetapkan aturan dan prosedur dengan jelas dan dapat dilaksanakan dengan konsisten

11. Peralihan yang mulus antarsegmen pembelajaran

12. Menegur siswa yang berbicara pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

13. Pemberian pekerjaan rumah

14. Mempertahankan momentum selama pelajaran

15. Downtime, kelebihan waktu yang dimiliki oleh siswa pada saat melakukan tugas-tugas dalam proses belajar mengajar.

16. Mengakhiri pelajaran dengan membangkitkan kembali motivasi siswa.

Demikian beberapa hal yang harus dilakukan guru agar proses pembelajaran terasa nyaman dan siswa betah duduk di kelas menerima materi pelajaran.

7 Strategi Pembelajaran Dengan Kelebihan dan Kekurangannya

7 Strategi Pembelajaran Dengan Kelebihan dan Kekurangannya

BlogPendidikan.net
- Strategi pembelajaran merupakan suatu hal yang sangat penting dalam implementasi program pendidikan karena menurut tugas-tugas atau kegiatan yang perlu dilakukan oleh guru maupun siswa dalam proses pembelajaran di sekolah.

Strategi pembelajaran merupakan suatu serangkaian rencana kegiatan yang termasuk di dalamnya penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya atau kekuatan dalam suatu pembelajaran. Strategi pembelajaran disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Strategi pembelajaran di dalamnya mencakup pendekatan, model, metode dan teknik pembelajaran secara spesifik.

1. Strategi Pembelajaran Ekspositori

Strategi pembelajaran ekspositori adalah strategi pembelajaran yang menekankan strategi proses penyampaian materi secara verbal dari guru terhadap siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pembelajaran yang optimal.

Kelebihan :
  • Guru bisa mengontrol urutan dan keluasan materi pembelajaran, guru dapat mengetahui sejauh mana siswa menguasai bahan pelajaran yang disampaikan.
  • Strategi pembelajaran ekspositori dianggap sangat efektif apabila materi pelajaran yang harus dikuasai cukup luas dan waktu terbatas.
  • Melalui strategi ini siswa dapat mendengar melalui penuturan tentang materi pelajaran sekaligus mengobservasi melalui demonstrasi.
  • Strategi ini bisa digunakan untuk jumlah siswa dengan kelas besar.
Kekurangan :
  • Strategi pembelajaran ini hanya mungkin dilakukan terhadap siswa dengan kemampuan mendengar dan menyimak yang baik.
  • Strategi ini tidak mungkin melayani perbedaan kemampuan belajar pengetahuan, minat, bakat dan gaya belajar individu.
  • Karena lebih banyak dengan ceramah, strategi ini sulit mengembangkan kemampuan sosialisasi siswa.
  • Keberhasilan strategi ini tergantung pada kemampuan yang dimiliki guru.
  • Gaya komunikasi pada strategi ini satu arah, jadi kesempatan mengontrol kemampuan belajar siswa terbatas.
2. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Strategi pembelajaran berbasis masalah mengutamakan proses belajar, di mana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai keterampilan mengarahkan diri. Pembelajaran berdasarkan masalah penggunaannya di dalam tingkat berpikir lebih tinggi, dalam situasi berorientasi pada masalah termasuk bagaimana belajar.

Kelebihan :
  • Terjadi interaksi yang dinamis di antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa.
  • Siswa memiliki keterampilan mengatasi masalah.
  • Siswa memiliki kemampuan mempelajari peran orang dewasa.
  • Siswa dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan independent.
  • Siswa memiliki keterampilan berfikir tingkat tinggi.
Kekurangan :
  • Memungkinkan siswa menjadi jenuh karena harus berhadapan langsung dengan masalah.
  • Memungkinkan siswa kesulitan dalam memproses sejumlah data dan informasi dalam waktu singkat, sehingga pembelajaran berbasis masalah ini membutuhkan waktu yang relatife lama.
3. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)

Strategi pembelajaran CTL adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Kelebihan :
  • Pembelajaran lebih bermakna, artinya siswa melakukan sendiri kegiatan yang berhubungan dengan materi yang ada sehingga siswa dapat memahaminya sendiri.
  • Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena pembelajaran CTL menuntut siswa menemukan sendiri bukan menghafalkan.
  • Menumbuhkan keberanian siswa untuk mengemukakan pendapat tentang materi yang dipelajari.
  • Menumbuhkan rasa ingin tahu tentang materi yang dipelajari dengan bertanya kepada guru.
  • Menumbuhkan kemampuan dalam bekerja sama dengan teman yang lain untuk memecahkan masalah yang ada.
  • Siswa dapat membuat kesimpulan sendiri dan kegiatan pembelajaran.
Kekurangan :
  • Bagi siswa yang tidak dapat mengikuti pembelajaran, tidak mendapatkan pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan teman lainnya, karena siswa tidak mengalami sendiri.
  • Perasaan khawatir pada anggota kelompok akan hilangnya karakteristik siswa karena harus menyesuaikan dengan kelompoknya.
  • Banyak siswa yang tidak senang apabila disuruh bekerja sama dengan yang lainnya. Karena siswa yang tekun merasa harus bekerja lebih daripada siswa yang lain dalam kelompoknya.7
4. Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)

Strategi inkuiri menekankan kepada proses mencari dan menemukan. Materi pelajaran tidak diberikan secara langsung, peran siswa dalam strategi ini adalah mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.

Kelebihan :
  • SPI merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna.
  • SPI dapat memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka.
  • SPI merupakan strategi yang dianggap sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
  • Strategi pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata. Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar bagus tidak akan terhambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Kekurangan :
  • Jika SPI digunakan sebagai strategi pembelajaran, maka akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.
  • Strategi ini sulit merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
  • Kadang-kadang dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu yang telah ditentukan.
  • Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan siswa menguasai materi pelajaran, maka SPI akan sulit diimplementasikan oleh setiap guru.
5. Strategi Pembelajaran Afektif

Strategi pembelajaran afektif adalah strategi yang bukan hanya bertujuan untuk mencapai dimensi yang lainnya, yaitu sikap dan keterampilan afektif berhubungan dengan volume yang sulit diukur karena menyangkut kesadaran seseorang yang tumbuh dari dalam. Kemampuan sikap afektif berhubungan dengan minat dan sikap yang dapat berupa tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya  diri, jujur, menghargai pendapat orang lain dan kemampuan mengendalikan diri.

Kelebihan :
  • Dalam pelaksanaan pembelajaran afektif akan dapat membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
  • Mengembangkan potensi peserta didik dalam hal nilai dan sikap.
  • Menjadi sarana pembentukan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab.
  • Peserta didik akan lebih mengetahui hal yang berguna atau berharga (sikap positif) dan tidak berharga atau tidak berguna (sikap negatif).
  • Dengan pelaksanaannya strategi pembelajaran afektif akan memperkuat karakter bangsa Indonesia, apalagi apabila diterapkan ada anak sejak dini.
  • Dengan pelaksanaan pembelajaran afektif siswa dapat berperilaku sesuai dengan pandangan yang dianggap baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku.
Kekurangan :
  • Kurikulum yang berlaku selama ini cenderung diarahkan untuk pembentukan intelektual (kemampuan kognitif) di mana anak diarahkan kepada menguasai materi tanpa memperhatikan pembentukan sikap dan moral.
  • Sulitnya melakukan control karena banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan sikap seseorang.
  • Keberhasilan pembentukan sikap tidak bisa dievaluasi dengan segera, karena perubahan sikap dilihat dalam rentang waktu yang cukup lama.
  • Pengaruh kemampuan teknologi, khususnya teknologi informasi yang menyuguhkan aneka pilihan program acara yang berdampak pada pembentukan karakter anak.
6. Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)

Strategi pembelajaran kooperatif merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antar siswa. Tujuan pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

Kelebihan :
  • Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber, dan belajar dari siswa lain.
  • SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata – kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
  • SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
  • SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
  • SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan sosial, termasuk mengembangkan rasa harga diri, hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain, mengembangkan keterampilan mengatur waktu dan sikap positif terhadap masalah.
  • Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.
  • SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
  • Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir. Hal ini berguna untuk proses pendidikan jangka panjang.
Kekurangan :
  • Untuk memahami dan mengerti filosofis SPK memang butuh waktu. Sangat tidak rasional kalau kita mengharapkan secara otomatis siswa dapat mengerti dan memahami filsafat pembelajaran kooperatif. Untuk siswa yang dianggap memiliki kelebihan, contohnya mereka akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat mengganggu iklim kerja sama dalam kelompok.
  • Ciri utama SPK adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa pembelajaran yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.
  • Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
  • Keberhasilan SPK dalam upaya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang dan hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-kali penerapan strategi ini.
  • Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting untuk siswa, akan tetapi banyak aktivitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampuan individual. Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama, siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri. Untuk mencapai kedua hal itu dalam SPK memang bukan pekerjaan yang mudah.
7. Strategi Peningkatan Kemampuan Berfikir

Strategi peningkatan kemampuan berfikir adalah model pembelajaran yang bertumpu pada perkembangan berfikir siswa melalui telaah fakta-fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajukan.

Kelebihan :
  • Melatih daya pikir siswa dalam penyelesaian masalah yang ditemukan dalam kehidupannya.
  • Siswa lebih siap menghadapi setiap persoalan yang disajikan oleh guru.
  • Siswa diprioritaskan lebih aktif dalam proses pembelajaran.
  • Memberikan kebebasan untuk mengeksplor kemampuan siswa dengan berbagai media yang ada.
Kekurangan :
  • Membutuhkan waktu yang relatif banyak, sehingga jika waktu pelajaran singkat maka tidak akan berjalan dengan lancar.
  • Siswa yang memiliki kemampuan berpikir rendah akan kesulitan untuk mengikuti pelajaran, karena siswa selalu akan diarahkan untuk memecahkan masalah-masalah yang diajukan.
  • Guru atau siswa yang tidak memiliki kesiapan akan membuat proses pembelajaran tidak dapat dilaksanakan sebagai mana seharusnya, sehingga tujuan yang ingin dicapai tidak dapat terpenuhi.
  • Strategi ini hanya dapat diterapkan dengan baik pada sekolah yang sesuai dengan karakteristik strategi itu sendiri.
Ikuti BlogPendidikan.net pada Aplikasi GOOGLE NEWS : FOLLOW (Dapatkan berita terupdate tentang guru dan pendidikan) Klik tanda  (bintang) pada aplikasi GOOGLE NEWS.

10 Bentuk Metode Pembelajaran Masa Kini Yang Melibatkan Teknologi dan Informasi

10 Bentuk Metode Pembelajaran Masa Kini Yang Melibatkan Teknologi dan Informasi

BlogPendidikan.net
- Pada zaman sekarang terjadi perubahan strategi dan metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru  dari cara yang tradisional kini mengarah pada pendekatan digital yang dirasa lebih relevan dalam memenuhi kebutuhan siswa. 

Akan tetapi proses transisi dari lingkungan kelas yang menerapkan cara tradisional ke cara digital sangat bervariasi tergantung  pada cara guru dan sekolah yang bersangkutan dalam merespon dan mengaplikasikannya. 


Berikut ini ada 10 Bentuk Metode Pembelajaran Masa Kini Yang Melibatkan Penggunaan Teknologi dan Informasi yang cocok diterapkan pada siswa masa kini, sebagai berikut:

1. Presentation (Presentasi)

Pada kegiatan presentasi, guru atau siswa menyebarkan informasi yang diperoleh melalui sumber informasi berupa guru, siswa, buku teks, internet, audio, video, dan lain sebagainya. Presentasi interaktif melibatkan pertanyaan dan komentar  di antara guru dan siswa sebagai anggota keseluruhan kelas atau dalam kelompok kecil. 

Bentuk integrasi metode presentasi dapat dilihat melalui sejumlah sumber daya  teknologi yang digunakan dapat meningkatkan kualitas penyajian informasi. Sebagai  contoh siswa dapat menggunakan aplikasi microsoft power point untuk menampilkan  hasil rangkuman hasil tulisan taks dan menyajikan video maupun gambar sekaligus  dalam satu tampilan presentasi. 

2. Demontrastion (Demonstrasi)

Pada metode demonstrasi, siswa mempelajari pandangan dari suatu  keterampilan atau prosedur yang harus dipelajari. Demonstrasi dapat diterapkan pada  seluruh anggota kelas, kelompok kecil, atau individu yang membutuhkan sedikit  penjelasan tambahan tentang bagaimana melakukan suatu tugas. Tujuan demonstrasi  bagi siswa adalah untuk meniru kinerja fisik, seperti menggunakan alat ukur angin digital, atau untuk mengadopsi sikap yang dicontohkan guru sebagai bentuk  keteladanan. 


Demonstrasi mengizinkan siswa untuk bertanya dan menjawab  pertanyaan selama pembelajaran aktif berlangsung. Bentuk integrasi metode demonstrasi dapat ditingkatkan melalui penggunaan peralatan teknologi seperti  kamera digital. Kamera video digital dapat digunakan untuk merekam demonstrasi  selama atau sebelum kelas berlangsung.

3. Drill and Practice (Latihan terus menerus dan Praktik) 

Peserta didik menyelesaikan latihan latihan untuk menyegarkan atau  meningkatkan kapasitas isi pengetahuan dan keterampilan. Strategi penggunaan drill and practice ini mengasumsikan bahwa siswa telah menerima beberapa instruksi  tentang konsep, prinsip, atau prosedur tertentu dari guru sebelumnya. Agar efektif  latihan terus menerus dan praktik harus diikuti umpan balik untuk menguatkan  jawaban benar dan memperbaiki jawaban salah yang mungkin dilakukan siswa.

Bentuk integrasi dari metode ini dengan penggunaan teknologi adalah banyak aplikasi  komputer yang ditawarkan kepada siswa memberikan kesempatan untuk mengingat  kembali dan melakukan praktik atas pengetahuan maupun keterampilannya. 

4. Tutorial 

Tutorial merupakan metode pembelajaran yang melibatkan siswa bekerja sama  dengan orang lain yang lebih ahli, atau perangkat lunak komputer tercetak khusus yang  menyajikan konten/isi, mengajukan pertanyaan atau masalah, meminta tanggapan  peserta, menganalisis tanggapan, memberikan umpan balik yang sesuai, dan  memberikan latihan sampai pelajar menunjukkan tingkat kemandirian yang telah  ditentukan. 


Siswa belajar melalui latihan dengan pemberian umpan balik setelah setiap  bagian kecil selesai dilakukan. Integrasi dari bentuk metode ini dengan teknologi  adalah pengaturan tutorial termasuk instruktur untuk pelajar, pelajar untuk pelajar,  komputer untuk pelajar, cetak untuk pelajar

5. Discussion (Diskusi)

Sebagai sebuah strategi pembelajaran, tutorial melibatkan pertukaran ide dan  pendapat di antara siswa atau di antara siswa dan guru. Diskusi akan efektif bila  dilakukan dengan cara mengenalkan topik pembicaraan yang baru atau lebih mendalam  sampai konsep dasar. Integrasi antara metode diskusi dengan teknologi adalah  teknologi mendukung diskusi menjadi metode yang dikenal di kelas seperti saat ini  seperti metode yang memperluas percakapan di luar kelas.

6. Cooperative Learning (Pembelajaran Kooperatif)

Merupakan sebuah strategi kelompok dimana siswa bekerja sama untuk saling  membantu dalam belajar. Integrasi dari metode ini adalah siswa dapat belajar tidak  hanya berdiskusi maslah materi task dan menonton media, tapi juga menghasilkan  media. Sebagai contoh siswa dapat mendesain dan menghasilkan sebuah podcast,  video, atau powerpoint atau prezi presentasi.

7. Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah)

Melalui penggunaan pembelajaran berbasis masalah, siswa secara aktif akan  mencari solusi untuk masalah-masalah terstruktur atau tidak terstruktur yang terletak  di dunia nyata. Masalah terstruktur memberikan siswa pemahaman yang jelas tentang apa yang mungkin menjadi jawaban atas permasalahan yang ada. Integrasi dari metode  ini dengan teknologi adalah banyaknya aplikasi komputer yang menyediakan dan  mendukung pembelajaran berbasis masalah. Sebagai contoh aplikasi microsoft access dan excel yang mengizinkan siswa untuk mengembangkan dan menjelajahi data sets  untuk menemukan jawaban menggunakan rumus fungsi. 


8. Games (Permainan)

Permainan pendidikan menyediakan sebuah lingkungan yang kompetitif  di mana siswa mengikuti aturan yang ditentukan saat mereka berusaha untuk mencapai  tujuan yang menantang dan menghadirkan siswa dengan pemahaman yang jelas  tentang apa yang mungkin merupakan jawaban yang tepat. Permainan seri meminta  siswa untuk menggunakan ketrampilan memecahkan masalah dalam mencari solusi atau untuk mendemonstrasikan penguasaan konten spesifik yang menuntut tingkat  akurasi dan efisiensi yang tinggi. Integrasi dari metode ini dengan teknologi adalah  beberapa permainan menggunakan tujuan pendidikan, seperti permainan puzzle dan  sudoku.

9. Simulations (Simulasi)

Metode simulasi mengizinkan siswa untuk berada pada situasi nyata. Integrasi  dari metode simulasi dengan teknologi adalah kemampuan interpersonal dan  percobaan laboratorium pada fisika ilmu pengetahuan alam merupakan contoh subjek simulasi.

10. Discovery (Penemuan)

Strategi penemuan digunakan sebuah induktif, atau penemuan mandiri.  Integrasi dari metode discovery dengan teknologi adalah ada beberapa variasi cara  bahwa teknologi instruksional dan media dapat membantu mengenalkan discovery  maupun inkuiri.